Keajaiban Tahajud
Jarum jam dinding tua di kamar Danu menunjuk angka 03.15, pagi yang dingin menerpa tubuhnya. Gerimis yang mengetuk kaca jendela berpadu dengan gemuruh di dadanya membangunkannya tiba-tiba. Kecemasan yang telah menyiksanya selama tiga bulan terakhir telah meluruhkan gairah hidupnya. Esok hari adalah batas akhir pelunasan biaya pengobatan ibunya, dan saat ini Danu sedang berada di titik nadir, ia tak punya uang sepeser pun untuk membayar biaya itu. Semua yang ia usahakan rasanya sudah tertutup rapat.
Dengan sisa-sisa semangat dari tubuh dan pikirannya yang lelah, Danu memaksakan diri bangkit, bangun dari tidurnya. Dinginnya air wudu menusuk kulit tak menghalanginya. Ia membentangkan sejadah usang di sudut kamar.
Saat takbir pertama terucap, sunyi malam langsung menyergapnya. Danu tenggelam dalam keheningan Tahajud. Ia begitu khusu' menghadap-Nya.
Pada rakaat-rakaat itu, tidak ada ego yang tersisa. Ketika dahinya menyentuh sajadah pada sujud terakhir, pertahanannya runtuh. Air matanya luruh tanpa bisa dibendung. Danu memasrahkan semuanya pada Sang Maha Tahu.
Dalam sujud yang panjang itu, Danu tidak lagi sekadar meminta, dia menyerahkan seluruh hidupnya, ibunya, dan segala kerumitan dunia kepada Dzat yang memegang jiwanya.
"Yaa Hayyu Yaa Qayyum, jika esok adalah akhir dari ikhtiarku, maka jadikanlah ketetapan-Mu sebagai kedamaian untuk hatiku," bisiknya lirih di antara isak tangis, sambil mengangkat dua telapak tangannya sejajar dengan wajahnya.
Ada rasa hangat yang aneh mengalir di dadanya usai salam. Beban berat yang tadinya menghimpit pundaknya seolah menguap bersama malam yang kian larut. Dia tidak tahu bagaimana hari esok akan berjalan, tetapi anehnya, hatinya merasa sangat tenang. Keajaiban pertama Tahajudnya malam itu bukanlah uang, melainkan kedamaian jiwa yang tak peenah dirasakan sebelumnya.
Matahari pagi menyembul malu-malu di balik sekumpulan awan putih ketika ponsel Danu bergetar di atas meja kerja di kamarnya. Nomor tidak dikenal tertera di layar.
"Halo, benar ini dengan Pak Danu?" suara seorang wanita di seberang telepon terdengar formal namun ramah.
"Iya, benar. Ini siapa, ya?"
"Saya sekretaris dari Yayasan Cinta Bunda. Kami ingin mengabarkan bahwa seluruh biaya pengobatan sisa dan perawatan berjalan untuk Ibu Yati telah dilunasi oleh program CSR dan donatur anonim kami. Semua berkas sudah selesai diproses, Bapak bisa segera mengurus administrasi kepulangan atau perawatan lanjutan tanpa beban biaya lagi."
Danu terpaku. Lidahnya mendadak kelu, air matanya terjatuh, kali ini bukan karena kecemasan, melainkan rasa tidak percaya apa yang baru saja dialaminya. Seketika Danu sujud syukur. Dadanya yang terasa sesak selama tiga bukan ini berubah lapang. Tangisnya pecah.
Ia memandangi sejadah yang masih terlipat rapi di sudut kamar. Di sepertiga malam tadi, saat semua pintu dunia terkunci, pintu langit justru terbuka lebar tanpa sekat. Pertolongan Allah datang dari arah yang sama sekali tidak pernah dia duga.
Dan ia tidak menyangka, doanya cepat dikabulkan. Pertolongan Allah begitu dekat.
Segera saja ia mengambil langkah cepat ke rumah sakit. Sampai di sana ia langsung ke ruang administrasi, mengurus semuanya.
"Pak Danu, ibunya boleh pulang hari ini. Nanti bisa berobat jalan sampai sembuh. Seluruh biaya sudah diselesaikan oleh seorang donatur."
"Kalau boleh saya tahu. Siapa donatur itu, Bu?" tanya Danu pada petugas layanan administrasi.
"Sebenarnya saya tak mau memberitahu orangnya. Tapi sudah banyak pasien yang dibantu. Jadi tidak ada salahnya bukan kalau saya kasih tahu orangnya."
Danu tersenyum, sesang mendengar penjelasan petugas itu.
"Siapa, Bu, orangnya?"
"Pak Danu bisa menemuinya di taman bagian tengah rumah sakit ini. Dia biasa ada di sana setiap jam segini," kata petugas itu.
"Baik, Bu. Sekali lagi saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas bantuan Ibu dan rumah sakit ini."
Petugas itu berdiri diikuti Danu, keduanya berjabat tangan.
"Dijaga baik-baik ibunya ya. Bapak beruntung masih memiliki seorang Ibu. Karna semua kebaikan berawal dari kita berbuat pada seorang ibu, dari situ langkah kita akan diiringi doanya."
Benar sekali, hidup kita akan baik-baik saja jika doa ibu selalu mengiringi.
Danu melangkah mantap ke kamar tempat ibunya di rawat.
"Ibu sudah boleh pulang hari ini. Ada yang melunasi sisa biaya rumah sakit," ucap Danu sesaat setelah sampai di kamar dan mencium punggung tangan ibunya.
"Alhamdulillah, siapa Danu yang sudah membantu Ibu?"
"Danu belum tahu, Bu. Petugas administrasi bilang orang yang membantu biasanya ada di taman di tengah rumah sakit ini."
"Kalau gitu kita mampir ke sana saja, Danu."
Danu bersama ibunya yang duduk di atas kursi roda bertolak dari kamar rawat ke taman. Keduanya ingin mengucapkan terima kasih pada orang yang telah membantunya.
Sampai di taman, tidak ada orang kecuali seorang dokter yang masih mengenakan jas putih lengkap dengan stateskop yang tergantung di lehernya.
"E-e maaf, Dok..." ragu Danu menyapa.
Dokter itu menoleh, ia tersenyum, "ya, pak, ada apa?"
"Apa benar dokter yang telah melunasi sisa biaya rumah sakit Ibu saya?"
Dokter itu terkekeh. "Bukan saya, Pak."
"Lalu siapa, Dok, saya tidak melihat orang lain di taman ini." Danu celingukan memastikan, pun dengan ibunya. Memang tidak ada orang lain selain mereka bertiga.
"Ada. Ada yang lain, Pak."
Danu terpaku, bingung dengan ucapan dokter itu.
Hening beberapa saat. Lalu dokter itu menghampirinya. "Saya hanya perantara, Pak. Semuanya karna.." Dokter itu melihat ke atas. "Semuanya karna izin Allah. Dia yang telah menitipkan sedikit harta itu ke saya. Mungkin saja ini jawaban dari doa-doa yang sudah Bapak langitkan," ucap dokter berlalu sambil menepuk bahunya.
Dokter itu berhenti, lalu berbalik. "Oiya, Pak. Jaga selalu Ibu anda, jangan lupa luangkan waktu setiap hari untuk menemaninya."
Danu mengangguk tegas. Lalu melihat ke atas, "terima kasih ya Allah."
Tahajud itu memang ajaib. Danu berjanji akan mengerjakannya setiap malam. Kesembuhan ibunya adalah keajaiban Tahajud yang ia kerjakan semalam. Dan Allah mengabulkan doanya dengan cara yang misterius, tidak ada yang bisa menyangkanya.
***