Disukai
0
Dilihat
838
1/2 Nakal & 1/2 Polos (Tetangga Ku)
Slice of Life

Aku baru pulang dari pendidikan di salah satu sekolah kedinasan, rumahku berada di salah satu Kabupaten yang jauh dari tempat sekolahku, mungkin perlu waktu yang lama untuk ketempat sekolahku, kali iniku sedang cuti akademik untuk naik ke tingkat kelas, ayahku bekerja sebagai pegawai di salah satu bank dan ibuku ibu rumah tangga mungkin sudah dua tahun aku tidak pulang.

"Akhirnya kamu pulang Den, ibu sudah masakin makanan kesukaanmu loh, ibu masak opor ayam sama tumis kangkung," ucap ibu sambil memelukku.

"Iya bu makasih sudah masakin makanan kesukaanku," ucapku sembari memandang Ibu.

Rumah kami yang awal nya hanya satu didalam komplek ini ternyata dalam dua tahun sudah ada rumah lainnya lagi, memang waktu berjalan dengan cepat sekali dalam dua tahun. Bapakku baru datang dari kantornya kemudian menghampiriku.

"Nak bagaimana perjalananmu lancar saja kan ?" ucap ayah wajah senyum bahagia.

"Tentu saja lancar dan tanpa hambatan yah," ucapku tersenyum.

Kemudian Ibu keluar dari rumah menyiram tanaman dan ternyata ibu berteriak dari luar rumah.

"Aaaaaaa, dasar anak nakal kenapa kau cabut bunga nya lagi," ucap ibuku.

"Tante bunga harus dipetik karena nanti bisa dibikin hiasan seperti kalung dan gelang seperti ini, menunjukkan gelang yang dibuat dari rangkaian bunga," ucap anak kecil yang bernama Lili.

Lili ternyata adalah tetangga rumahku yang baru saja pindah dan dia memang sudah terkenal nakal dan tidak paham dengan apa yang orang rasa yang penting dia bahagia saja, wajah nya yang polos membuat orang-orang tidak tega untuk menegurnya.

"Bu siapa anak kecil ini tetangga kita kah ?" ucapku memperhatikan Lili.

"Kaka ini siapa ? orang baru pindah kah ? atau numpang disini ?" ucap lili.

Aku hanya terdiam karena wajahnya yang polos meski aku merasa kesal kepadanya, kemudian dia duduk teras rumahku, mulai berbaring dan berputar-putar di terasku, Ayah hanya terdiam melihatnya tidak menanggapi sama sekali.

Aku kemudian menghampiri Lili dan bertanya "De kamu tetangga sebelah rumahku yah," ucapku sambil berjongkok.

"Benar sekali kak, " ucap Lili memegang wajahku dan malah menarik hidungku.

"Kak aku kira hidung kaka palsu, ternyata asli yah hahahahah," ucap Lili tertawa pergi kepekarangan sambil berlari kemudian menuju pohong jambu yang ada di seberang rumahku.

Lili menggoyang pohon itu dengan tangan nya kemudian buah berjatuhan, aku hanya memperhatikan dan benar saja buah yang jatuh itu langsung di masukkan dalam kantong celana kemudian membawanya ke padaku, "nih ka jambunya," ucap lili tidak beranjak pergi.

"Apa yang kau tunggu ini untukku kan ?" ucapku dengan wajah heran.

"Cucikan ka itu kotor lohhh, aku mau memakannya ka, jangan lama yah aku mau makan," ucap Lili dengan wajah polos.

Aku pun mencucinya meski sedikit kesal, ibu dan ayahku hanya tertawa melihat tingkah laku Lili yang aktif dan polos, aku pun bertanya dengan ibuku kenapa Lili sering bermain didekat rumah kami, ternyata Lili memang kesepian karena orang tua nya bekerja sampai malam dan untuk makan biasa ada orang yang antarkan makanan pagi sampai malam tapi terkadang Lili juga sering ikut makan bersama ibu dan ayah jadi mereka sudah biasa melihat tingkahnya yang nakal dan polos.

"Jadi kalo malam hari Lili baru pulang kerumahnya atau bagaimana bu ?" ucapku dengan wajah heran.

"Iyah dia pulang kalo sudah malam Deden, dia kesepian kalo dirumah sendiri jadi orang tuanya juga sering menitipkan ke ibu untuk melihat apa yang dilakukan nya" ucap Ibu.

Lili kemudian masuk kedalam rumahku, dia keluar sambil membawa robot-robotan yang biasaku mainkan dulu sewaktu kecil dan benar saja dia memainkanya sendiri "Ka liat boneka nya bisa terbang ,melempar boneka kearahku," ucap Lili sambil bermain.

"Menghindar lemparan, hampir saja kena, heyyy bocah hati-hati kalo bermain," ucapku.

Lili berlari kebelakang ibuku bersembunyi sambil menjulurkan lidah.

"Bweeeee kaka pemarah nanti cepat tua ka dan gak bakalan nikah," ucap lili menjulurkan lidahnya.

Aku hanya terdiam dengan wajah yang kesal, baru pertama kali saja sudah menyebalkan tidak terbayangkan tetanggaku sekarang adalah bocah yang nakal dengan wajah polos seperti boneka yang rupa bagus tapi memiliki suara yang cempreng.

Ayahku kemudian mengajakku dan Lili untuk melihat sapi yang ada dibelakang rumah, karena ayahku juga ada memelihara sapi, Lili dan aku ikut, Lili sambil memegang kayu kecil yang di gunakan untuk memukul tanah atau daun karena Lili yang masih kecil jadi dia melihat semua besar dan tinggi.

"Ayah seharunya tidak usah ajak Lili,biar dia dengan ibu saja, nanti malah merepotkan kita loh," ucapku memperhatikan Lili.

'Lili sudah sering ayah ajak ke kandang, jadi dia bisa bermain dan melihat anak-anak sapi dari pada dia merusak bunga ibumu baiknya dia ikut ayah sajah," ucap ayah dengan wajah tersenyum.

Kami pun sampai di kandang, Lili langsung berlari dan masuk ke dalam kandang, seperti rumahnya saja dan benar dia langsung mengelus anak-anak sapi yang ada tiga ekor, aku kaget dia begitu akrab dengan sapi-sapi itu.

"Ayah akan melihat bagaimana makanan dan minuman sapi-sapi dewasa," ucap ayah pergi menjauh.

"Lili dengar yah, kamu di sini saja jangan kemana-mana, aku mau liat makanan dan minuman buat anak sapi ini, tunggu saja di sini yah," ucapku menunjuk tempat berdirinya Lili.

"Di mana tempat makannya harusnya ada di sini," ucapku mencari-cari.

"Menyerahkan tempat makan, nih ka," ucap Lili.

"Menerima nya, terima kasih yah ehh tunggu dulu bukannyaku bilang untuk tetap di kandang saja tadi kok ada di sini sih," ucapku.

Lili menunjuk arah kandang dan benar saja anak-anak sapi itu sedang berjalan-jalan di sekitar kandang, aku kaget dan langsung berlari mendekati anak-anak sapi, malah sapinya berlari dan tidak mendekatiku, Lili kemudian membawa mangkok berisi makanan ke arah kandang anak-anak sapi tadi malah mengikuti Lili seperti mendatangi pawang-pawang di sirkus aku heran dia lebih tau caranya dan tidak panik sama sekali.

"Lili jadi kau tau cara mengarahkan mereka?" ucapku.

"Kaka saja yang tidak tau baik kaka pulang temani tante saja sana," ucap Lili sambil menunjuk ke arah rumah.

Aku kesal sekali melihat sikap nya yang sombong itu seakan-akan dia bos yang mengaturku, setelah itu dia bermain-main di kandang dengan anak sapi, Ayah pun datang dan mengajak kami pulang karena hari sudah menjelang malam.

Lili ikut dengan kami dan benar saja dia mandi dan makan di rumah kami bersama ibuku, aku hanya aneh melihat tetangga kecilku yang akrab sekali dengan ibuku yang bawel dan lebaynya minta ampun, aku pun rebahan dekat tv saat aku menonton dia malah memindah-mindah chanel tv sembarang saja, aku pun pindah lagi keruang kerja dia kesana juga sambil mencoret-coret buku gambarku dulu.

"Lili tunggu dulu, kemana aku pergi kau selalu ikut apa kau tidak bosan?" ucap ku.

"Kaka ini melakukan hal aneh, jadi aku ikuti takutnya orang jahat yang merusak rumah ini," ucap Lili menatapku.

"Menghela napas, sudahku bilang aku tinggal di rumah ini dan biasa di rumah ini," ucapku.

"Lili tidak percaya dan akan ikutin kaka ke mana pun," ucap Lili dengan tegas wajah yang polos.

"Terserah lah kalo gitu, mau apa kah," ucapku.

Hari semakin malam hingga terdengar suara mobil di rumah sebelah, benar saja ayah dan ibu Lili pulang, Lili pun berlari keluar rumah dan langsung mendatangi ayah dan ibunya kemudian masuk ke dalam rumah, heran sekali aku kenapa tetanggaku anak kecil yang nakal dan polos. mungkin karena masih bocah jadi belum mengerti tentang semuanya.

Pagi hari aku terbangun dengan suara orang mengetuk pintu kamarku dan benar Lili lagi yang mengetuk sambil gaya rambutnya yang dikepang dan baju yang loreng-loreng seperti tentara."Hari ini kita akan berlatih prajurit muda," ucap Lili menoleh ke atas menatapku.

"Astaga Lili lagi, ibu liat Lili sudah ada saja di rumah kita, kan ini masih jam enam pagi bu masa harus berurusan denganya," ucapku berteriak.

"Biar saja, orang tuanya sudah pergi bekerja jadi dia perlu teman Deden, kamu kan gak ada kerjaan karena sedang cuti jadi layani saja yah," ucap Ibu dengan wajah yang bahagia karena bukan ibu lagi yang diusili tapi aku.

Kemudian Lili berjalan sambil langkah seperti tentara saja, aku yang baru bangun pun duduk di depan teras, Lili pun melakukan senam pagi seperti aktivitas kami di asrama, aku hanya tersenyum melihatnya sekarang kalo dilihat-lihat dia hanya tetangga kecilku yang kesepian karena tidak ada tetangga lain yang seumuran dengannya, dia menghampiriku dan memberikanku batu.

"Kaka lempar batu itu ke pohon yang di sana karena Lili lihat ada orang yang bersembunyi mungkin saja mata-mata ka," ucap lili.

"Kau berhayal kah Lili, di situ hanya pohon kemudian melempar batu," ucapku malah ada kucing berlari keluar.

Lili berlari mengejar kucing tadi sambil membawa tongkat kecil, kemudian dia yang malah dikejar kucing tadi, aku hanya tertawa melihat tingkah nya memang anak yang unik apakah aku dulu seperti itu yah.

Ibu pergi kepasar dan bilang kepadaku untuk menjaga rumah dan Lili. "Iya bu hati-hati yah di jalan," ucapku melihat Lili yang dikejar-kejar kucing.

"Oh iya ada makanan kecil di kamar," ucapku dan memanggil Lili yang masih bermain dengan kucing tadi.

"Lili kesini ada snack loh tapi kau harus diam yah duduk di sini," ucapku memberikan snack.

Lili yang melihat langsung berlari ke arahku mengambil snack tadi duduk di sampingku makan snack. "Kaka kok baru pulang sekarang, kata tante kaka gak pulang sebelum selesai sekolah," ucap Lili aku terdiam tidak berbicara dan hanya berpikir kapan aku pernah bicara seperti itu.

Mungkin dulu aku pernah berbicara seperti itu, tapi itu bukan lah hal yang perluku pikirkan sekeras ini tapi saatku dengarnya sendiri seakan-akan aku tidak ingin pulang kerumah. "Yahhhh aku harus pulang karena ini rumahku Lili," ucapku memandang Lili.

"Lili kan punya rumah di sebelah ka tapi Lili rasanya rumah sepi ka tidak ada orang ka jadi Lili harus cari tempat yang ramai ka karena nanti Lili sedih ka," ucap Lili dengan wajah yang polos.

"Kalau sepi yah ke rumah ini saja Lili kan ibu juga senang ada Lili di sini jadi rame tapi jangan nakal yah," ucap ku.

Lili kemudian mengambil bunga yang ada di tanaman ibu, dia ambil lagi tanaman ibu pasti ibu akan marah tapi yasudah lah karena dia ada niat baik memberiku bunga.

"Kaka bisa merayap kaya tentara kah? coba ka coba supaya Lili ikut," ucap Lili menggoyang bahuku dan memasang muka memelas.

Aku pun mencontohkan cara merayap di teras lantaiku, orang-orang yang lewat hanya heran melihatku, aku merasa malu tapi Lili yang meminta dia juga merayap di sebelahku sambil memegang tongkat kecil nya. Ayah pun datang pulang kerja sambil memperhatikan kami berdua dia hanya tertawa saja dan masuk ke dalam rumah, aku merasa malu karena tingkah lakuku tapi namanya bermain-main pastinya menyenangkan.

"Lili kayanya kita harus istirahat badanku cape," ucapku kemudian duduk.

"Kakak lemah deh, baru saja sebentar sudah cape saja sih, lagi lah kita hampir selesai loh," ucap Lili dengan wajah kesal kemudian turun dari teras rumah dan berbaring di tanah karena kesal.

Aku kaget melihat tingkahnya kemudian langsung mendatanginya dan mencoba menghiburnya yang rebahan di tanah tadi kemudian dia berdiri dan benar saja bajunya sudah berdebuh tidak jelas dengan wajah nya yang coklat karena debu tanah.

"Lili ini ada permen nah kamu diam dan ayo masuk ke rumah mandi badanmu sudah kotor jadi kita bersihkan dulu yah?" ucapku dengan nada merayu.

"Enggak mau Lili mau di sini saja, ada meong dan guguk yang bisa di ajak bermain kaka gak mau main sama Lili, mengembungkan pipinya," ucap lili dengan cetus.

Ternyata anak kecil susah untuk dibujuk yah ucapku di dalam hati. "Yaudah kalo gitu kaka tarik selang air ajah yah supaya siram Lili dengan air mancur," ucapku.

"Ide yang bagus ka kita main air mancur ajah yah hore main air-main air menggoyangkan badan," ucap Lili.

Aku pun menarik selang dari samping rumah kemudian mengikat di tiang rumah supaya kelihatan seperti air mancur dan Lili bermain-main seperti hal nya air mancur di kolam renang, aku tidak habis pikir anak kecil bisa begitu senang dengan hal-hal seperti ini sedangkan orang dewasa akan senang jika melakukan hal-hal logis sesuai yang diharapkan tapi jika aku berpikir Lili dengan hal yang sederhana bisa bahagia seperti itu.

"Aku harus banyak berpikir dengan sederhana dan bersyukur atas apa yang sudahku dapat dan jalani tentunya," ucapku di dalam hati.

Ibu pun datang dari pasar melihat pekerjaanku dia hanya tersenyum, kemudian masuk ke dalam rumah tanpa berkata apa-apa, aku heran ayah dan ibu terlihat senang jika melihat Lili sedang bermain dan membiarkan seakan-akan hal itu lumrah bagi mereka.

Lili pun selesai mandi. "Kaka aku cape mau bobo, yuk bobo kah sambil menguap," bertanya kepadaku.

"Lili kalo cape tidur saja di kamarku, lagian aku belum cape ni mau nonton tv," ucapku.

Lili masuk ke dalam kamar, aku kira dia sudah tidur di kamar ternyata dia membawa bantal dan tidur di sebelah ku yang sedang menonton tv. "Cape sekali kalo di lihat Lili ini, ya karena dia bermain dari tadi sih," ucapku memandang Lili.

"Kelihatanya kau cocok dengan Lili yah Deden," ucap ayah keluar dari kamar.

"Yah mungkin karena aku jarang bermain dengan anak-anak jadi kurang paham," ucapku.

"Tidak masalah kau paham apa tidak yang penting kau menjaga Lili seperti adikmu karena dia selalu merasa sedih saat sendirian di rumahnya meski dia tetangga saja bagimu," ucap ayah pergi keluar rumah.

Apa yang dibilang ayah membekas dibenakku, memang dulu aku pernah berharap memiliki adik perempuan tapi tidak terwujud karena ibu sudah beberapa kali keguguran. "Yah tidak masalah yang penting kami sekeluarga sehat-sehat saja," ucapku.

Lili pun terbangun karena mendengar suara dengkuranku yang keras kemudian dia memencet hidungku hingga susah bernapas, aku kaget dia sedang memencet hidungku sambil bergaya utuk diam dengan jari telunjuk ada di tengah bibirnya, aku melepaskan tangannya dari hidungku.

"Lili tidak boleh menggangu orang tidur, apalagi seperti tadi," ucapku masih mengantuk.

"Kaka yang ribut Lili sedang tidur tau ka," ucap Lili dengan tegas.

Aku memegang dahiku dan bersandar di sofa. "Memang luar biasa bocah ini kata-katanya pedas juga yah," ucapku.

Terdengar suara dari luar memanggil Lili. "Lili Lili ayo pulang hari sudah mau malam," ucap ibu Lili menunggu di depan rumah.

"Ka aku dipanggil, besok kita main lagi yah jangan bolos," ucap Lili berlari keluar rumah.

Tenyata ibu Lili pulang cepat karena sedang tidak terlalu banyak kerjaan sama sekali jadi Lili bisa pulang, malam pun tiba. "Kok sepi yah malam ini, biasanya ada yang ribut atau berlari-lari di dalam rumah," ucapku, ayah dan ibu sedang duduk di depan tv.

"Yah itu lah kalo Lili tidak ada dirumah ini jadi sepi karena tidak ada yang lari-lari atau berbicara menanyakan banyak hal, kami sebenarnya sangat senang saat dia ada di rumah Den karena dia membuat kami bahagia," ucap Ibu menoleh Ayah.

"Bocah kecil seperti itu bisa membuat kebahagian yah di rumah ini, pantesan saja ibu dan ayah senang jika ada Lili dirumah kan?" ucapku tersenyum.

Aku keluar rumah karena sepi, saat aku lihat ke rumah Lili, ternyata Lili sedang menyalakan kembang api dua buah ditangannya kemudian memutar-mutarnya meski sudah di rumah nya sendiri dia masih nakal saja. "Namanya juga Lili, pasti ada-ada saja kelakuannya," ucapku tersenyum.

Pagi harinya aku berencana jogging, malah ada Lili yang sudah mencangkul tanah dengan sekop kecilnya. "Lili sedang apa?" ucapku menghampirinya.

"Lili mau tanam pohon kacang ajaib ka, supaya raksasa bisa turun ka," ucap Lili dengan terus mencangkul.

"Untuk apa raksasa turun, memang Lili mau ketemu raksasa?" ucapku dengan wajah heran.

"Supaya bisa digendong raksasa ka, kan mereka tinggi ka jadi Lili bisa lihat semua orang dari atas, Lili tambah besar ka," ucap Lili dengan semangat.

Lili menutup lubang yang digalinya setelah memasukkan bibit yang dia bawa di saku celananya, kalau dilihat-lihat itu tanaman kecambah yang dimasak ibu tadi apa dia ambil untuk ditanam yah. "Aku heran, pasti ayah yang cerita tentang raksasa yang turun dari pohon kacang ajaib, ayah memang masih berbakat mendongeng," ucapku tersenyum. Aku pun mulai Jogging sekitar komplek karena terlalu jauh untuk menuju stadion dari rumah.

Saat pulang aku sudah melihat ibu menyiapkan air sirup untukku, aku bertambah semangat karena ibu sudah buatkan, aku segera berlari satu putaran lagi, saat aku sampai depan rumah, sudah ada Lili yang duduk santai sambil minum sirup yang disiapkan untukku, aku kesal dan menghampiri Lili.

"Lili air sirupnya habis apa belum?" ucapku dengan wajah yang geram.

"Iya ka sudah habis ibu lagi buat kan ka, katanya nambah lagi deh," ucap Lili dengan polos.

"Menepuk dada, sabar-sabar Lili anak kecil-Lili anak kecil jadi orang dewasa mengalah," ucapku menenangkan diri.

Ibu pun datang membawa sirup satu teko untukku karena ibu tau Lili pasti menghabiskan nya, aku pun minum sirup bersama Lili dan Ibu, Ibu melihat jam dan bilang ibu mau ke tempat temannya karena ada janji arisan bulanan.

"Ibu keluar dulu yah sore ini ada arisan di tempat teman ibu yah, Deden tolong jaga Lili yah." ucap ibu dan masuk ke dalam rumah.

"Ka, Lili kok rasa panas di tenggorokan yah," ucap Lili dengan polos.

"Perasaan Lili saja mungkin," ucapku memegang dahinya.

Dahi Lili tidak terasa panas, apa Lili sedang panas dalam banyak pertanyaan muncul di kepala ku, ibu pun pergi ke tempat temannya untuk arisan. "Den ayahmu pulang malam ini jadi tunggu saja, oh iya katanya orang tua Lili sedang ada dinas di luar kota jadi Lili akan menginap," ucap ibu kemudian pergi.

Aku memandang Lili, Lili tiba-tiba masuk ke dalam kamar. "Lili mau kemana?" ucapku dengan wajah yang heran. Aku duduk di depan tv namun pikiranku aneh karena biasanya Lili akan keluar kamar dan membawa bantalnya rebahan di sebelahku malah tetap di kamar. "Aku harus melihat apa yang dilakukan Lili," ucapku berjalan dan membuka pintu, benar saja Lili sedang tertidur namun ada keringat di wajah dan dahinya.

"Kok dia berkeringat kan kipas nya menyala apa kurang kencang yah, memegang dahi Lili, astaga panasnya tinggi sekali pantasan dia berkeringat," ucapku berpikir mau menelpon ibu tapi ibu sedang ada acara kemudian terdengar suara mobil dan benar saja ayah datang aku menggendong Lili dan membawanya menuju ayah.

"Ayah, Lili sepertinya demam sebaiknya kita bawa ke dokter saja, memasukkan Lili ke mobil," ucapku.

Ayah tidak terlihat panik dan tetap tenang, aku yang khawatir dengan keadaan Lili meski dia hanya tetanggaku yang setengah nakal dan setengah polos tetapi Lili sudahku anggap seperti adik sendiri harusku jaga, kami pun sampai di dokter praktek, Lili diperiksa oleh dokter.

"Tenang saja pak, ade nya hanya kecapean saja dan perlu istirahat untuk memulihkan tubuhnya jadi saran saya besok dia istirahat dan jangan ada beraktivitas yang berat yah," ucap dokter.

Kami pun pulang bersama ayah, aku terus menoleh ke arah Lili siapa tau dia terbangun tapi dia nyenyak sekali tidur sampai di rumah, ibu sudah menyiapkan tempat tidur untuk Lili, aku pun berjaga di sebelahnya hingga pagi.

Ke esokan paginya Lili bangun dan memegang kepalaku. "Kaka sudah bangun, Lili sudah sehat ka jadi kita bisa bermain lagi," ucap Lili tersenyum dengan wajah nya yang masih pucat.

"Lili istirahat saja dulu hari ini, biar kaka yang temenin di sini," ucapku tersenyum.

"Iya kaka temenin yah, jangan ke mana-mana Lili takut sendirian," ucap Lili kembali tidur lagi sambil tersenyum.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Tidak ada komentar
Rekomendasi