Disukai
1
Dilihat
18
Motovloger Apes
Komedi
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Di era gempuran digitalisasi dan globalisasi ini, di mana anak-anak balita sudah bisa menghasilkan jutaan rupiah hanya dengan me- review mainan plastisin, aku, seorang pemuda bernama Heru dengan gaji UMR yang dipotong utang koperasi, merasa sudah saatnya aku bangkit dari jurang kemiskinan.

Aku tidak mau lagi menjadi sel melarat di dalam tubuh peradaban. Aku ingin kaya! Aku ingin terkenal! Aku ingin di-endorse oli mesin dan helm SNI! Dan setelah melakukan riset mendalam melalui meditasi di atas kloset kosan selama tiga hari tiga malam, aku menemukan satu jalan ninja menuju kesuksesan finansial: Menjadi Seorang Motovlogger.

Coba kalian pikirkan. Modalnya cuma motor, kamera, dan kemampuan bacot sepanjang jalan sambil mengkritisi pengendara lain. Sangat mudah! Aku punya motor, aku punya mulut yang tidak bisa diam, dan aku benci semua orang di jalan raya. Ini adalah passion-ku yang tertunda!

Maka, dimulailah "Proyek Heru Motovlog: Menuju 1 Juta Subscribers".

Tentu saja, realita finansialku tidak mengizinkan aku membeli kamera GoPro seri terbaru seharga cicilan motor matic setahun. Sebagai kaum mendang-mending, aku mengaduk-aduk grup Facebook "Forum Jual Beli Barang Bekas & Gaib". Di sanalah aku menemukan sebuah action cam bermerek tidak jelas, tulisannya B-Pro tapi logonya bergambar buah pir digigit separuh. Harganya seratus lima puluh ribu rupiah, fullset tapi minus baterai gampang drop dan layarnya bergaris ungu. Sempurna!

Masalah kedua: Helm. Helmku adalah helm cetok yang kacanya sudah buram seperti dilapisi selaput katarak. Karena aku tidak punya dudukan kamera (mounting), aku menggunakan lakban hitam industri. Aku melilitkan lakban itu memutari helmku dan kameranya berkali-kali sampai kameranya menempel permanen di atas jidat helm. Efek sampingnya, kaca helmku tidak bisa ditutup rapat, dan pandangan mataku terhalang setengah oleh lilitan lakban. Tapi tak apa, pengorbanan adalah harga dari sebuah karya seni!

Masalah ketiga: Audio. Motovlog tanpa suara bacotan adalah video CCTV amatir. Kamera seratus lima puluh ribu ini mikrofon bawaannya hanya merekam suara angin. Jadi, aku harus merakit mikrofon eksternal (Mic Clip-On). Aku mengambil headset HP bawaan dari zaman purba yang kabelnya sudah mengelupas dan kusambung pakai selotip bening. Aku memotong earphone-nya, menyisakan bagian lubang mikrofonnya saja. Aku menempelkan lubang mikrofon itu di bagian dalam moncong helm menggunakan double tape, tepat di depan mulutku. Ujung jack 3.5mm-nya aku colokkan ke lubang mic di samping action cam.

Sebuah mahakarya rekayasa teknologi (engineering) kelas wahid telah tercipta di kamar kos ukuran 3x3 meter yang sumpek ini!

 

Hari Minggu sore. Matahari Jakarta sedang berwarna jingga kemerahan akibat polusi karbon monoksida yang tebal. Aku mengenakan jaket parasut andalanku yang ada tulisan "Panitia Qurban 2023" di punggungnya, memakai sarung tangan rajut tukang bangunan yang bolong di bagian jempol, dan memasang helm cyberpunk rakitanku.

Kudanya? Tentu saja sang legenda: Honda Supra X tahun 2004. Motor ini bukan sekadar alat transportasi. Ia adalah mesin pemisah nyawa dari raga. Getaran mesinnya jika digas melebihi 40 km/jam bisa membuat batu ginjalmu hancur menjadi debu halus. Suara knalpotnya berbunyi ngok-ngok-krotok-krotok, bagaikan helikopter Perang Dunia II yang baling-balingnya tersangkut dahan pohon.

Aku menekan tombol RECORD di kamera atas kepalaku. Lampu indikator merah berkedip. ACTION!

Aku menaiki motor, melipat standar. Karena starter elektrik motorku sudah wafat sebelum era Presiden SBY turun tahta, aku harus menggunakan kick-starter (selahan kaki).

Ngoook... Mati. Aku mulai bermonolog dengan suara sangat keras dan penuh energi, mencoba mengalahkan suara bising jalanan. Aku memoncongkan mulutku ke arah mikrofon headset di dalam helm.

"YOW YOW YOW! WHATS UP NGABERS! KEMBALI LAGI BERSAMA GUE, HERU SANG RAJA ASPAL IBU KOTA! DI VLOG PERDANA KALI INI, KITA BAKAL NIGHT RIDE SANTAI MENIKMATI SENJA JAKARTA! JANGAN LUPA SUBSCRIBE, LIKE, AND COMMENT, KARENA GRATIS NGGAK DIPUNGUT BIAYA BPJS!"

Aku menginjak selahan motor dengan sekuat tenaga. BBRRRMMMM! TENG-TENG-TENG-TENG! Asap knalpot putih mengepul dari knalpot Supra-ku, menandakan ring sehernya sudah bocor parah. Tapi di kepalaku, itu adalah efek kabut (smoke gun) dramatis layaknya pembalap MotoGP yang keluar dari paddock!

"OOKEEEYYY GUYS! MESIN UDAH PANAS! MARI KITA GASPOL REM BLONG!" teriakku histeris ke dalam helm. Urat leherku menonjol keluar.

Aku memutar tuas gas. Supra X-ku melesat... dengan kecepatan 25 km/jam. Rantai motorku yang kendor berbunyi kletek-kletek-kletek menyapu penutup rantai, menciptakan backsound horor yang mencekam.

Aku melaju membelah kemacetan jalan raya. Angin sore menerpa wajahku dari celah kaca helm yang tidak bisa ditutup rapat karena terganjal lakban hitam.

"Yoo, Ngabers! Kalian lihat jalanan Jakarta sore ini? Padat merayap bagaikan isi dompet gue di tanggal tua! Hahaha!" Aku tertawa garing mengomentari leluconku sendiri. "Di channel ini, gue nggak cuma mau pamer riding. Gue mau ngasih edukasi safety riding buat kalian semua. Ingat, safety first, baru safety gear!" (Logika kalimatku berantakan, tapi biarlah, motovlogger sejati harus terdengar sok filosofis).

 

Baru lima belas menit berjalan, sebuah momen emas (Golden Moment) untuk konten YouTube-ku muncul.

Di perempatan lampu merah depan, dari arah gang sempit di sebelah kiri, muncul sebuah motor matic berwarna pink. Pengendaranya adalah sesosok entitas yang melampaui segala hukum fisika dan rambu lalu lintas: Seorang Emak-emak berdaster motif macan tutul, tidak pakai helm, dan membawa belanjaan sayur kangkung di keranjang depan.

Yang paling mengerikan: Lampu sein kiri motor matic itu berkedip menyala terang. Tik-tok. Tik-tok.

"Wah wah wah, Ngabers! Warning! Warning! Radar bahaya Heru Motovlog mendeteksi ancaman level Avengers!" teriakku panik tapi girang, karena ini pasti bakal FYP (For You Page). "Lihat ke depan, Guys! Emak-emak sein kiri! Insting survival gue mengatakan dia pasti bakal belok kanan! Kita harus manuver menghindar!"

Dan benar saja. Tanpa menoleh ke belakang, tanpa melihat kaca spion (karena spionnya menghadap ke wajahnya sendiri buat ngaca), Emak-emak itu membanting setang motornya patah ke arah KANAN!

Jarak kami hanya tersisa tiga meter! Kecepatan Supra-ku sedang menyentuh angka maut 35 km/jam! Jika aku menabraknya, secara hukum tata negara jalanan, AKULAH YANG AKAN SALAH DAN DIHAKIMI MASSA!

"ASTAGFIRULLAHALADZIM, MAAAKK!!!" raungku ke dalam helm, memutar otak dan kemudi secara ekstrem.

Aku menarik rem depan dan menginjak rem belakang secara bersamaan. Kampas rem motorku yang tipis menjerit ngeri. CIIIIIIITTTT!!!! Ban belakangku mengunci, membuat ekor motorku membuang ke samping (sliding/nge-drift). Agar tidak jatuh, aku menurunkan kedua kakiku yang memakai sepatu pantofel lungsuran ke aspal, menjadikannya sebagai rem tambahan ala Fred Flintstone! Gesekan sol sepatu dan aspal menimbulkan asap tipis dan bau karet terbakar.

Motor Supra-ku berhenti tepat SATU SENTIMETER dari knalpot motor matic Emak-emak itu. Aku berhasil melakukan pengereman absulut yang melanggar hukum Newton!

Emak-emak itu menoleh ke belakang, melotot garang padaku seolah aku yang mau merampoknya. "HEH! BAWA MOTOR MATANYA DIPAKE! KALO NABRAK SAYUR KANGKUNG SAYA GIMANA?!" omelnya tanpa dosa, lalu kembali melaju santai membelah jalanan memotong arus mobil.

Aku mematung dengan kaki gemetar. Keringat dingin sebesar biji kelengkeng meluncur di dahiku. Tapi sedetik kemudian, aku sadar kamera masih merekam. Aku harus membuat reaction yang epic!

Aku menepuk dada jaket "Panitia Qurban"-ku dengan gaya sok macho. "FIUUUHHH! Kalian lihat itu, Ngabers?! GILA! Manuver Drifting tingkat dewa dari Heru Sang Penakluk Aspal! Kalau bukan karena skill balap gue yang udah setara Valentino Rossi pas lagi diare, kita udah masuk rumah sakit, Guys!"

Aku menarik napas panjang, menatap lurus ke arah lensa kamera yang menempel di jidatku hingga mataku juling ke atas. "Di sinilah letak edukasinya, Guys. Menghadapi ras terkuat di bumi itu nggak boleh pakai emosi. Kita harus pakai Heart. Kita harus banyak istighfar. Jangan pernah klaksonin Emak-emak, karena doa mereka nembus langit ketujuh. Kalau mereka belok, kita yang ngalah. Gila, konten gue hari ini deep banget pesannya. Pasti trending nomor satu di YouTube nih!"

Aku menepuk-nepuk batok supraku, merasa bangga luar biasa. Aku membayangkan video klip slow-motion saat aku nge-drift tadi ditambah soundtrack musik Phonk atau musik jedag-jedug DJ Opus. Pasti keren parah!

 

Perjalanan dilanjutkan. Hari semakin sore, langit mulai gelap. Lampu jalanan menyala. Aku berhenti di barisan paling depan sebuah lampu merah besar. Di sebelah kananku, berhenti sebuah motor sport fairing 150cc yang knalpot racing-nya berbunyi Brum... Brum... Brum... sangat berisik dan memekakkan telinga.

Pengendaranya adalah seorang remaja "Jamet" (Jawa Metal) dengan rambut dicat pirang highlight, memakai jaket varsity kekecilan, celana pensil yang ketatnya bisa menghentikan aliran darah ke betis, dan helm half-face yang dipakai miring.

Remaja itu melirik ke arahku. Dia melihat helmku yang dilakban hitam muter-muter dengan kamera di pucuknya. Dia tersenyum meremehkan, lalu menggeber-geber knalpot racing-nya ke arahku. BRRRMMMM!!! PLETTAK! BARRRR!!! Asap knalpotnya menyembur tepat ke celana bahan hitamku.

Ego kelelakianku mendidih. Ini adalah tantangan! Sebuah duel klasik di atas aspal! Motovlogger vs Jamet Racing! Ini materi konten yang akan mendatangkan jutaan views!

Aku mendekatkan bibirku ke mikrofon headset di dalam helm. Aku berbisik dengan nada misterius dan penuh dendam layaknya Dominic Toretto di Fast & Furious.

"Oke, Ngabers... Kalian lihat bocah di sebelah kanan gue ini? Dia baru aja ngajak perang. Dia pikir motor sport cicilan emaknya bisa ngalahin sang legenda Supra Getar 2004 ini? Dia belum tahu kekuatan V-TEC dari sayap mengepak ini." (Aku tahu Supra nggak pakai V-TEC, biarin aja biar kelihatan keren).

Aku menundukkan badanku hingga dadaku lebih rendah dari stang. Posisi aerodinamis maksimal. Aku memegang kopling (yang sebenarnya tidak ada, aku cuma meremas angin di stang kiri), lalu menahan tuas gigi satu di kaki kiriku. Aku ikut menggeber motorku!

Ngoook... Ngoooook... Krotok-krotok-krotok!! Suara mesin Supra-ku terdengar seperti orang tua yang sedang batuk berdahak akut. Saking getarnya mesin itu, pandanganku melalui kaca helm menjadi buram karena kameranya ikut bergetar hebat.

Lampu merah berpindah ke kuning. Tiga... Dua... Satu... HIJAU!

Remaja Jamet itu melepas kopling, motor sport-nya standing sedikit (wheelie), dan melesat maju seperti anak panah lepas dari busurnya! WUUUUZZZZZ!!! Dalam dua detik, dia sudah berada lima puluh meter di depanku.

Lalu, bagaimana denganku? Aku melepaskan tuas gigi kakiku dengan semangat 45! CTAK! Gigi masuk.

Tapi, karena beban berat badanku, usia rantai motor yang sudah sepuh, dan kampas kopling ganda yang sudah aus... Supra-ku malah merespons dengan tarikan yang sangat melankolis. Ngoooooooooookkkkkkk..........

Supra-ku maju dengan kecepatan setara keong balap yang sedang sembelit. Tukang ojek online, tukang sayur, bahkan bapak-bapak yang membawa rombong bubur ayam yang jalan belakangan... semuanya menyalipku dengan mudah. Wusss... Wusss... Aku tertinggal sendirian di barisan belakang, sementara si Jamet sudah hilang di telan lampu merah berikutnya.

Kalah telak. Harga diriku hancur lebur di aspal.

Tapi ingat! Seorang konten kreator sejati tidak akan pernah kehabisan kata-kata untuk memutarbalikkan fakta (spin the narrative)!

Aku kembali menegakkan badanku dari posisi aerodinamis. Aku menepuk dada lagi, berbicara ke kamera dengan nada seorang guru spiritual yang sangat bijaksana.

"Gila, Ngabers... Kalian lihat kan betapa berbahayanya bocah tadi? Dia mancing-mancing gue buat balapan! Tapi... apakah Heru terpancing? TENTU TIDAK!"

Aku menggelengkan kepala dengan dramatis. "Sebagai motovlogger panutan yang beretika, gue memilih untuk MENGALAH. Gue biarkan dia menang ego, karena kemenangan sejati adalah sampai ke rumah dengan selamat! Buat apa gue ladenin balapan liar di jalan umum? Nanti kalau ada apa-apa, yang repot keluarga! Coba kalian comment di bawah, menurut kalian keputusan gue mengalah tadi udah bener belum? Respect buat kalian semua yang selalu mengutamakan keselamatan!"

Sumpah, alasan ngeles tingkat dewaku barusan terdengar sangat meyakinkan di telingaku sendiri. Penonton pasti akan memujiku sebagai pelopor keselamatan berlalu lintas. Mereka tidak perlu tahu kalau kampas koplingku hangus!

 

Malam pun tiba. Lampu-lampu jalanan ibu kota menyala terang benderang. Aku melaju di atas jalan layang (flyover) Casablanca. Udara malam sedikit mendinginkan mesin Supra-ku yang sudah kepanasan. Pemandangan lampu-lampu gedung pencakar langit di sisi kiri dan kananku terlihat sangat sinematik.

Ini adalah momennya. Setiap motovlogger terkenal pasti punya satu segmen di mana mereka bermonolog (Deep Talk) sambil riding malam. Membahas soal kehidupan, cinta, dan kerasnya dunia. Sebuah sentuhan emosional untuk meningkatkan engagement dan AdSense.

Aku memelankan laju motorku ke angka 20 km/jam, mengambil lajur paling kiri agar tidak diomeli orang. Aku menarik napas panjang. Mengatur mood. Membayangkan semua penderitaan hidupku, utang koperasiku, dan saldo ATM-ku yang hanya tersisa lima puluh ribu rupiah.

"Hhh... Ngabers..." suaraku mulai kubuat serak-serak basah penuh tekanan batin. "Malam ini... anginnya dingin banget ya. Sedinding pelukan dari orang yang kita sayang... tapi sayang, gue nggak punya siapa-siapa."

Aku sengaja memberi jeda. Efek dramatis. "Kalian lihat lampu-lampu gedung tinggi di sekitar kita ini? Indah banget kan? Tapi tahu nggak, di balik keindahan lampu itu... ada banyak orang-orang kecil kayak gue yang berjuang mati-matian cuma buat makan besok."

Air mata benar-benar mulai menggenang di pelupuk mataku. Menjadi miskin memang selalu berhasil memicu emosi asliku.

"Gue... gue ini cuma admin gudang gajihan UMR, Guys... Dipotong bayar kosan, dipotong bayar cicilan pinjol karena dulu khilaf beli skin di game... Sumpah, hidup ini keras banget. Tadi siang aja gue makan mi instan sebungkus, bumbunya gue bagi tiga, mienya gue tambahin nasi sama kuah air panas yang banyak biar kenyang..."

Suaraku mulai bergetar. Hidungku mampet karena ingus mulai turun. "Belum lagi... masalah cinta, Guys..." Aku teringat pada mantan gebetanku yang jadian sama Personal Trainer Gym berbadan raksasa waktu itu. "Cewek yang gue suka... yang gue perjuangin mati-matian, ternyata lebih milih cowok yang badannya segede kulkas dua pintu. Emang ya... cowok modal humor dan tulus itu bakal selalu kalah sama cowok yang dompetnya tebal dan berotot..."

Aku mulai menangis sesenggukan di dalam helm. Tangisan asli seorang jomblo ngenes yang dipadukan dengan bakat akting tertunda.

"Hiks... hiks... Gue cuma mau sukses lewat YouTube ini, Guys... Gue mau buktiin ke mereka semua kalau Heru si cowok Supra ini bisa sukses... Hooeeekk..." (Aku tersedak ingusku sendiri yang masuk ke mulut karena napasku tidak beraturan).

Aku mengusap kaca helmku dari luar (yang mana percuma karena air matanya ada di dalam). "Tolong bantu support channel ini ya, Ngabers... Satu subscribe dari kalian, berarti banget buat beli kampas rem motor gue yang udah tipis ini... Hiks... Makasih udah nemenin deep talk gue malem ini. See you on top, guys..."

Aku menekan tombol merah STOP RECORD di kamera atasku. Sempurna. Sempurna! Sebuah mahakarya audiovisual berdurasi empat puluh menit telah lahir! Ada action nge-drift menghindari emak-emak, ada ketegangan menolak balap liar, dan ditutup dengan monolog sedih yang dijamin bikin satu Indonesia menangis darah!

Ini dia! Ini tiketku menuju kekayaan! Atta Halilintar, Jess No Limit, pewdiepie, Mister beast,  minggir kalian semua! Heru Motovlog akan merajai trending!

Satu jam kemudian, aku tiba di kamar kosku yang sempit, lembap, dan beraroma kapur barus campur pelembab pakaian murahan.

Aku melepaskan jaket dan helmku. Kaos oblongku basah kuyup oleh keringat. Tapi aku tidak peduli dengan bau badanku sendiri. Adrenalinku sedang memuncak tinggi! Aku tidak sabar melihat hasil karya seniku!

Aku membuka laptop ASUS keluaran tahun 2012 milikku. Laptop ini booting sangat lambat, layarnya bergaris hijau di pinggir, dan kalau kipasnya menyala suaranya mirip mesin fogging nyamuk deman berdarah. Butuh waktu lima belas menit hanya untuk masuk ke tampilan Desktop.

Aku melepaskan MicroSD dari action cam murahanku, memasukkannya ke dalam card reader yang sudah retak, dan mencolokkannya ke lubang USB laptop. Lampu USB berkedip. File terdeteksi.

VID_001_HERUMOTOVLOG_MASTERPIECE.mp4 Ukurannya 4 GigaByte! Besar sekali! Ini pasti video berkualitas tinggi (HD)!

Dengan tangan bergetar penuh rasa haru dan antisipasi, aku mengklik kanan file tersebut dan memilih "Open with VLC Media Player".

Layar pemutar video berwarna hitam sejenak, lalu... BAM! Video menyala! "Asyiiiik!!!" aku bersorak kegirangan di dalam kamar sendirian, mengepalkan tangan ke udara.

Visual video muncul. Sesuai dugaanku, gambar videonya bergetar sangat parah karena efek mesin Supra X dan dudukan lakban hitam di helmku. Gambar aspal, langit, spion, dan lampu jalanan berguncang seolah-olah terjadi gempa bumi skala 9 Richter secara konstan selama empat puluh menit. Siapa pun yang menonton video ini pasti akan terkena mabuk darat dan muntah-muntah dalam waktu lima menit pertama.

Tapi itu tidak penting! Yang penting adalah narasiku! Bacotan emasku yang akan menyihir para penonton! Konten adalah Raja! Aku membesarkan volume laptopku hingga 100%.

Aku menunggu suara teriakanku di awal video: "YOW YOW YOW! WHATS UP NGABERS!"

Tapi... Hening.

Aku mengerutkan kening. Mengapa tidak ada suaranya? Apakah volume laptopku rusak? Aku memutar volume di mixer Windows. Semuanya sudah full 100%.

Aku memajukan durasi video (fast forward) ke menit ke-15, di mana adegan aku nge-drift menghindari Emak-emak terjadi. Di layar, terlihat visual motor Supra-ku bergoyang liar menghindari motor pink, lalu berhenti. Kamera mengarah ke wajah Emak-emak itu yang sedang ngomel.

Tapi... tidak ada suara decitan rem. Tidak ada suara teriakan panikku. Tidak ada suara omelan Emak-emak. Hanya ada... keheningan kosmik yang absolut. Bahkan tidak ada suara statis atau desisan angin! Benar-benar BISU total layaknya film bisu Charlie Chaplin tahun 1920-an!

Keringat dingin sedingin es batu seukuran kepalan tangan balita mengucur deras di punggungku. Jantungku yang tadi berdegup kencang karena euforia, kini berhenti berdetak sesaat.

"N-nggak... nggak mungkin... Ini pasti nge-bug..." suaraku bergetar ngeri.

Aku mencabut card reader itu, mencolokkannya ke lubang USB yang lain, merestart laptop (yang memakan waktu 20 menit lagi), dan membuka file itu kembali. Hasilnya tetap sama. BISU MUTLAK.

Dengan napas yang mulai sesak, aku bangkit dari kursi plastikku. Aku berjalan mendekati helm cyberpunk yang kuletakkan di atas kasur. Aku meraba lilitan lakban hitam itu. Aku menelusuri kabel headset jelek yang kujadikan microphone clip-on dari dalam helm, mengikuti jalurnya yang menjalar ke arah action cam.

Mataku tertuju pada ujung kabel jack 3.5mm warna perak tersebut. Colokan itu... tertancap di lubang mic kamera. TAPI...

TAPI... COLOKAN ITU TIDAK MASUK SEPENUHNYA!

Ujung jack itu menggantung di luar sejauh satu milimeter karena terganjal oleh gulungan lakban hitam tebal yang kulilitkan di sekitar bodi kamera! Karena jack-nya kurang masuk sedikit, lempengan kuningannya tidak menyentuh konektor kuningan di dalam kamera! Kamera itu sama sekali tidak mendeteksi adanya mikrofon eksternal yang dicolokkan!

Dan karena sistem kamera murah itu dirancang bodoh, saat ia mendeteksi 'ada colokan' (meski kurang masuk), ia langsung MENONAKTIFKAN mikrofon bawaan internalnya!

Akibatnya? Kamera itu merekam video selama 40 menit tanpa merekam sumber audio mana pun! Kosong! Nol desibel!

Aku mundur selangkah. Kakiku menabrak keranjang baju kotor. Aku jatuh terduduk di atas ubin kosan yang lembap.

Empat puluh menit. Empat puluh menit aku berteriak-teriak layaknya orang kesurupan di sepanjang jalan Sudirman-Thamrin. Empat puluh menit aku mempertaruhkan nyawa nge-drift melawan Emak-emak penguasa aspal. Empat puluh menit aku mengarang alasan filosofis saat dipecundangi oleh Jamet Racing lampu merah.

Dan yang paling menyakitkan... sepuluh menit monolog tangisan air mata buaya yang kuperas dari relung jiwa terdalamku, hingga ingusku masuk tertelan ke dalam kerongkonganku sendiri... SEMUANYA TEREKAM TANPA SUARA! BISU TOTAL!

Siapa yang mau menonton video gempa bumi berdurasi empat puluh menit tanpa suara apa pun?! Orang bisu saja butuh teks terjemahan!

Duniaku runtuh. Mimpiku untuk mendapatkan AdSense puluhan juta, membeli rumah gedongan, dan membalas dendam pada mantan gebetanku itu... semuanya hancur lebur hanya karena SATU MILIMETER colokan kabel yang terganjal lakban hitam seharga lima ribu perak.

Air mata yang nyata, bukan air mata akting, kini menetes membasahi pipiku.

Aku mengangkat wajahku, menatap langit-langit kosan yang berjamur. Aku menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh sisa keputusasaan, kemarahan, dan penderitaan jiwa miskinku, lalu...

"TIDAAAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKK!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!"

Jeritanku menggelegar membelah keheningan malam kosan. Suaranya begitu keras, melengking, dan memilukan, hingga membuat bapak kos di kamar sebelah menggedor dinding kamarku dengan sapu ijuk.

"WOI HERU! BERISIK AMAT MALAM-MALAM! KESURUPAN LU YAA?!" teriak Bapak Kos garang.

Aku meringkuk di lantai memeluk lututku sendiri, menangis sesenggukan meratapi nasib menjadi seorang idiot paripurna.

Sang Raja Aspal Ibu Kota belum sempat bertahta, ia sudah lengser oleh kebodohannya sendiri di ruang editing. Tamatlah riwayat channel "Heru Motovlog".

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Komedi
Rekomendasi