Di dalam ekosistem rantai makanan jalanan ibu kota, ada kasta absolut yang tidak boleh dibantah oleh hukum tata negara manapun. Kasta tertinggi diduduki oleh emak-emak berdaster yang menyalakan lampu sein ke kiri tapi belok ke kanan. Kasta kedua diduduki oleh mobil SUV bongsor berwarna hitam pekat, bermesin diesel cumi-cumi darat, dan dilengkapi dengan lampu strobo silau serta sirene palsu ala pejabat ngawur.
Dan di manakah posisiku?
Aku berada di kasta plankton tanah. Menjadi seorang Office Boy bergaji UMR mepet yang harus membelah kejamnya aspal Jakarta menggunakan motor Honda Supra X keluaran tahun awal reformasi. Motorku ini bukan sekadar kendaraan; ia adalah monumen penderitaan. Bodi plastiknya diikat menggunakan kabel ties (kabel tis). Joknya sudah dilapisi lakban hitam karena dicakar kucing kosan. Dan jika aku melaju di atas kecepatan 40 km/jam, getaran dari sayap motor ini menghasilkan frekuensi akustik yang bisa membuat gigiku rontok perlahan.
Siang itu, matahari sedang melakukan simulasi siksa kubur. Suhunya menyentuh 38 derajat Celcius. Aku sedang dalam perjalanan pulang dari mengambil beberapa ATK. Jalur yang kulewati adalah sebuah jalan satu arah yang cukup sempit di daerah Jakarta Selatan.
Aku melaju dengan tenang, merapat di pinggir kiri. Di kepalaku, aku hanya memikirkan apakah sisa uang dua puluh ribu di dompetku cukup untuk membeli nasi padang lauk telor balado, atau aku harus puas dengan lauk kuah dan bumbu kremesan saja.
Namun, lamunan kulinernya hancur berkeping-keping.
Dari arah depan. ya, dari arah yang BERLAWANAN dengan arus jalan satu arah ini, muncul sebuah monster baja. Sebuah mobil SUV Pajero Sport hitam legam melaju dengan kecepatan ugal-ugalan. Lampu strobo biru-merahnya menyala menyilaukan mata, dan sirene tet-tot-tet-tot murahan meraung-raung menyuruh semua kendaraan minggir.
Jalanan ini terlalu sempit. Di sebelah kiriku ada selokan mampet, di kananku ada gerobak bubur ayam. Aku tidak punya ruang untuk menghindar. Mobil raksasa itu sama sekali tidak berniat mengerem.
BBRRAAAAKKK!!!
Bemper depan mobil itu menghantam ban depan Supra-ku. Benturannya tidak terlalu keras karena aku sempat mengerem mati, tapi cukup untuk menghilangkan keseimbangan.
"WAAAAH!" Aku terpelanting jatuh dari motor. Tubuhku menghantam aspal yang panasnya setara wajan martabak. Tanganku bergesekan dengan kerikil jalanan. Sementara itu, motor Supra-ku ambruk miring, dan secara tidak sengaja, pijakan kaki (footstep) besiku yang berkarat itu menggores dan merobek body kit bemper depan mobil mahal tersebut. Kreeeet.
Suasana mendadak hening sejenak. Aku meringis, mengusap sikuku yang berdarah, bersiap menenangkan diri. Dalam hati aku berharap orang ini akan turun, meminta maaf karena dia yang melawan arah, dan mungkin memberiku uang ganti rugi lima puluh ribu untuk beli betadine.
Pintu mobil terbuka. Harapanku hancur berkeping-keping.
Seorang pria paruh baya bertubuh tambun turun dari mobil. Dia memakai kemeja polo ketat merek ternama yang kancing perutnya nyaris meledak menahan tumpukan lemak, kacamata hitam Ray-Ban, dan jam tangan emas bertahtakan berlian (entah asli atau dari pasar loak).
Bukannya menolongku, wajah pria itu merah padam seperti kepiting rebus. Dia menatap bemper mobilnya yang tergores, lalu menatapku seolah aku adalah gumpalan kotoran dinosaurus.
"WOI! MATA LU TARUH DI MANA?!" raung pria itu dengan volume yang membuat tukang bubur di seberang jalan nyaris menjatuhkan mangkoknya.
Aku mengerjap bingung. Sambil memegangi sikuku yang berdarah, aku menunjuk rambu lalu lintas besar di ujung jalan. "M-maaf, Pak... T-tapi ini kan jalan satu arah... Bapak yang lawan arus..."
"HALAH! BANYAK BACOT LU, GEMBEL!" Pria itu menendang ban motor Supra-ku yang sudah terkapar hingga sepatbor depannya retak. "Lu tahu nggak ini mobil apaan?! Harga bempernya aja lebih mahal dari nyawa lu sama motor rongsokan lu ini digabung! Lawan arus apaan?! Gue ini lagi buru-buru ada urusan penting! Lu yang harusnya minggir pas lihat mobil gue lewat!"
Logika macam apa ini?! Dia yang melanggar rambu, dia yang menabrak, dia yang ngegas! Orang-orang di sekitar mulai berkerumun, tapi karena pria itu terlihat seperti orang kaya arogan yang punya banyak bekingan, tidak ada satu pun warga yang berani melerai. Tukang bubur bahkan pura-pura sibuk mengaduk panci kosong.
"L-lho... tapi kan tetep aja Bapak yang salah secara aturan..." aku mencoba membela diri dengan suara pelan.
"ATURAN GIGI LU MBRODOL!" Pria itu mencengkeram kerah kemeja kucelku dan menarikku berdiri dengan kasar. Bau mulutnya sangat menyengat, aroma cerutu mahal bercampur kopi pahit. "Sekarang lu ganti rugi! Gopeceng (Lima ratus ribu) sini buat poles body! Kalau nggak, gue panggilin bekingan gue, gue bikin lu nginep di sel malam ini juga!"
Di saat kerah kemejaku ditarik, di saat ludah pria arogan itu muncrat ke wajahku, dan di saat aku dipaksa mengganti rugi atas kesalahan yang tidak kulakukan... sebuah sakelar di dalam otakku berbunyi.
Klik.
Raut wajahku yang tadi memelas dan ketakutan mendadak lenyap. Ketakutanku menguap bersama panasnya aspal Jakarta. Waktu di sekitarku bergerak melambat (Slow Motion). Suara klakson kendaraan di kejauhan terdengar berdengung pelan. Retina mataku menyempit, menangkap setiap piksel, debu, dan gelombang cahaya di sekitarku.
Aku tidak membalas teriakannya. Aku membiarkan kerahku dicengkeram. Mataku justru mulai memindai setiap inci dari tubuh pria ini, mobilnya, dan barang bawaannya.
Pemindaian Dimulai.
Subjek: Pria arogan, usia sekitar 50 tahun.
Pakaian: Kemeja polo ketat, celana bahan kain linen mahal, sepatu loafers tanpa kaus kaki. Santai, tapi dipersiapkan untuk tempat mewah.
Fisik & Noda: Di kerah kemejanya (bagian kiri), ada noda tipis bedak warna rose-beige. Di pergelangan tangannya, ada sisa cap stempel ultraviolet transparan berbentuk segitiga terbalik yang biasa digunakan di klub malam elit atau lounge eksklusif.
Hidungku mulai bekerja. Aku menghirup partikel udara di sekitar kerahnya.
Penciuman: Aroma parfum Tom Ford Oud Wood (kuat, maskulin). Tapi tunggu. Ada lapisan aroma kedua yang saling bertabrakan. Aroma Vanilla dan Strawberry Body Mist wanita yang sangat manis, khas parfum Victoria's Secret varian Pure Seduction. Aroma wanita ini menempel kuat di pundak kanannya. Dia habis berpelukan atau bersandar dengan seorang wanita muda.
Pandanganku beralih menembus kaca mobilnya yang sedikit terbuka.
Interior Mobil: Di atas jok penumpang depan (dashboard), terdapat sebuah kotak kue tart berukuran sedang dari Bakehouse Platinum (toko roti termahal di Jakarta Selatan). Kotak itu diikat dengan pita pink. Di kursi belakang, tergolek sebuah paper bag dari butik Lingerie terkenal.
Pelacakan Spasial (Mobil): Ban mobilnya menempel sedikit lumpur kapur putih kekuningan di sela-sela tapaknya. Di Jakarta Selatan, lumpur jenis kapur putih (limestone mud) saat musim kemarau begini hanya berasal dari satu proyek galian besar yang sedang bocor pipa airnya... yaitu proyek pembangunan di depan Grand Nirvana Hotel & Executive Lounge.
Mataku kembali ke kaca depan mobil. Terdapat sebuah stiker akses parkir VIP kecil berwarna emas dengan huruf 'GNH'. Akses masuk VIP Grand Nirvana Hotel.
Kalkulasi Deduksi:
- Pria ini sudah berumur, tapi membawa kue tart pink, parfum wanita muda menempel di tubuhnya, dan paper bag lingerie.
- Dia tidak membawa istrinya. Pria normal yang membawa istri tidak akan memakai parfum tumpuk dengan aroma Pure Seduction murahan, dan tidak akan panik buru-buru melawan arah di siang bolong kecuali dia sedang mengejar waktu check-in atau reservasi rahasia.
- Lumpur kapur di ban dan stiker VIP menunjukkan habitat habitat bermainnya.
- Jam tangan Rolex-nya menunjukkan pukul 13.45 WIB. Waktu check-in standar hotel eksklusif adalah pukul 14.00 WIB.
Kesimpulan Absolut: Pria bajingan ini sedang buru-buru melawan arah karena dia ada janji check-in jam dua siang dengan wanita simpanan (sugar baby) atau pacar gelapnya di Grand Nirvana Executive Lounge. Dia sangat panik terlambat karena mungkin si wanita sudah merengek menunggu di sana bersama kue ulang tahunnya.
Pemindaian selesai dalam waktu empat detik.
Aku mengedipkan mata, mengembalikan ekspresiku menjadi pemuda kucel yang ketakutan dan super ngenes. "A-ampun, Pak... S-saya ini cuma OB. Gaji saya sebulan cuma cukup buat makan nasi tempe... Saya nggak punya uang lima ratus ribu, Pak..." aku merengek dengan nada paling menyedihkan sejagat raya, bahkan tanganku sampai gemetar memegang kerahnya sendiri.
Pria itu mendengus jijik, melepaskan kerahku dengan dorongan keras hingga aku terhuyung ke belakang. "Cih! Najis gue pegang gembel! Dasar miskin nyusahin orang aja lu! Berdoa lu hari ini gue lagi in a good mood dan lagi buru-buru! Kalau nggak, udah gue gilas lu pakai ban Pajero gue!"
Pria itu meludah ke aspal, lalu merogoh dompetnya. Dia menarik selembar uang sepuluh ribu rupiah yang lecek, meremasnya menjadi gumpalan bulat, dan melemparnya tepat ke wajahku. Gumpalan uang itu memantul di hidungku dan jatuh ke aspal.
"Nih! Buat beli obat merah! Minggirin motor rongsokan lu, gue mau lewat!" raungnya.
Aku menunduk. Dengan tangan bergetar, aku memungut gumpalan uang sepuluh ribu itu. Aku menuntun motor Supra-ku yang sepatbor depannya retak ke pinggir got, membiarkan sang penguasa jalanan itu kembali masuk ke mobilnya.
Mobil Pajero Sport itu mengaum keras, menginjak gas dalam-dalam, menyemburkan asap knalpot hitam pekat yang langsung menyelimuti wajahku, lalu melesat pergi meninggalkan lokasi kejadian.
Warga sekitar yang tadi diam, mulai berbisik-bisik prihatin. Tukang bubur mendekatiku. "Sabar ya, Mas. Emang orang kaya gitu suka seenak jidat. Mas mending ke puskesmas dulu gih obatin sikunya."
Aku berdiri tegak. Aku merapikan kerah kemejaku yang kusut. Aku menatap uang sepuluh ribu di tanganku, lalu menatap kepulan asap knalpot yang menghilang di ujung jalan.
Tidak ada raut kesedihan di wajahku. Senyum miring yang sangat dingin dan asimetris perlahan merekah di bibirku. Sebuah senyuman predator yang baru saja mengunci targetnya.
"Nggak perlu puskesmas, Bang," ucapku pelan, suaraku berat dan kosong. "Saya mau main ke hotel bentar."
Jarak dari lokasi kejadian ke Grand Nirvana Hotel hanya sepuluh menit jika jalanan lancar. Aku menaiki motor Supra-ku, menahan rasa perih di siku, dan melaju menyusuri aspal Jakarta.
Aku tiba di depan kompleks Grand Nirvana Hotel & Executive Lounge. Sebuah bangunan megah dengan pilar-pilar Romawi dan air mancur besar di depannya. Tentu saja, motor Supra bututku tidak mungkin lolos masuk ke lobi. Aku memarkirkan motorku di sebuah warung kopi (warkop) kecil di seberang jalan raya, memesan es teh manis, dan duduk di bangku plastik menghadap langsung ke arah pintu keluar-masuk parkiran VIP hotel tersebut.
Aku menyedot es teh manisku perlahan. Mataku menyapu area pelataran parkir VIP yang terbuka namun dibatasi pagar beton berukir. Di sanalah dia. Mobil Pajero Sport hitam legam dengan bemper kiri yang tergores panjang. Mobil itu terparkir cantik di slot khusus VIP, tertutupi sebagian oleh kanopi pepohonan.
Aku melirik jam tangan murahan di pergelanganku. Pukul 14.10 WIB. Pria itu pasti sudah berada di dalam kamar hotel atau lounge, sedang bersenang-senang meniup lilin kue tart bersama simpanan rahasianya, tanpa merasa bersalah sedikit pun telah menabrak dan menghina orang kecil.
"Urusan langit biar malaikat yang balas. Urusan di bumi, gue yang jadi panitianya," gumamku mengunyah es batu..
Aku mulai menganalisis sistem keamanan parkiran VIP tersebut dari kejauhan.
- Posisi Satpam: Ada dua satpam di pos utama, namun mereka sibuk memeriksa mobil yang masuk. Jarak pos satpam ke mobil Pajero itu sekitar 30 meter. Terhalang oleh deretan mobil sedan mewah lainnya.
- Kamera CCTV: Terdapat satu kamera CCTV tipe PTZ (Pan-Tilt-Zoom) yang menempel di pilar lampu tepat di atas area mobil Pajero.
Aku membuka aplikasi stopwatch dari handphone bututku. Aku mulai menghitung pola pergerakan (panning) kamera CCTV tersebut. Kamera berputar ke kiri selama 15 detik, diam 2 detik, lalu berputar ke kanan menyapu area parkir lain selama 15 detik, diam 2 detik. Total jeda waktu di mana kamera CCTV membelakangi (blind spot) area mobil Pajero adalah tepat 17 detik.
Tujuh belas detik. Bagi orang normal, itu hanya cukup untuk mengikat tali sepatu. Bagiku? Itu adalah waktu yang lebih dari cukup untuk membongkar mesin mobil.
Sekarang, alat eksekusi. Aku tidak membawa bahan peledak. Aku tidak punya C4. Aku hanyalah seorang OB yang memuja ilmu pengetahuan. Aku berjalan mendekati tempat sampah di dekat warkop. Aku memungut sebuah botol plastik bekas air mineral berukuran sedang. Lalu, aku berjalan ke arah belakang warkop tempat abang penjual gorengan membuang sisa minyak jelantahnya yang sudah menghitam. Aku merogoh saku kargoku, mengambil sebuah kantong plastik bening bekas bungkus cabai (plastik es mambo), dan mengisinya dengan minyak jelantah sisa gorengan tersebut hingga penuh. Aku mengikatnya kuat-kuat. Minyak jelantah memiliki titik nyala (flash point) yang sangat baik jika dipanaskan secara ekstrem.
Terakhir, aku mengambil sebungkus rokok kosong dari asbak warkop. Aku merobek kertas foil aluminium berwarna perak di dalam bungkus rokok itu, memilinnya memanjang menjadi sebuah kabel konduktor darurat yang sangat tipis namun reaktif.
Bahan baku siap. Waktunya bekerja.
Aku merapatkan kerah kemejaku, memakai topi hitam yang kutarik hingga menutupi sebagian wajah, dan memakai masker medis.
Aku menyeberang jalan raya dengan langkah santai, membaur dengan beberapa tukang ojek online yang sedang mangkal. Aku berjalan menyusuri pagar luar parkiran VIP.
Aku berhenti tepat di balik tembok pembatas yang sejajar dengan letak mobil Pajero tersebut. Aku berjongkok, menempelkan punggungku ke tembok.
Aku melirik ke atas pilar lampu. Kamera CCTV sedang mengarah ke arahku. Aku menahan napas. 15 detik berlalu. Kamera berdengung kecil, berputar ke arah kanan, membelakangi posisiku.
BLIND SPOT DIMULAI. 17 Detik.
Detik ke-1: Aku melompat melewati tembok beton setinggi pinggang dengan gerakan seringan kucing assassin. Aku mendarat langsung di sebelah ban depan kanan Pajero Sport tersebut.
Detik ke-3: Mobil-mobil mewah memiliki ground clearance (jarak terendah ke tanah) yang cukup tinggi. Aku langsung meluncur tidur telentang dan menyelinap masuk ke kolong bawah mobil Pajero (Undercarriage).
Detik ke-5: Di bawah mobil, gelap, kotor, dan panas sisa mesin. Tapi mataku mencari satu komponen vital: Alternator (Dinamo Ampere) dan Exhaust Manifold (Leher Knalpot). Letaknya saling berdekatan di bawah kap mesin bagian depan.
Detik ke-8: Leher knalpot terbuat dari logam tebal yang akan mencapai suhu ratusan derajat Celcius hanya dalam waktu lima menit setelah mesin mobil dinyalakan. Aku menyelipkan kantong plastik es mambo berisi minyak jelantah (minyak goreng bekas) itu TEPAT di atas pipa melengkung knalpot tersebut. Aku menjepitnya kuat di antara celah blok mesin.
Hukum Kimia Termodinamika: Saat mobil dinyalakan, panas knalpot akan langsung melelehkan plastik tipis itu dalam hitungan menit. Minyak jelantah akan tumpah mengguyur pipa knalpot panas, menghasilkan uap bahan bakar yang sangat mudah terbakar (Vaporized Flammable Fluid).
Namun, minyak di atas knalpot panas hanya akan menghasilkan asap putih tebal, bukan api besar. Ia butuh percikan api absolut (Ignition Spark).
Detik ke-12: Di sinilah foil aluminium dari bungkus rokok bekerja. Aku meraih kabel tebal kutub positif yang terhubung ke Alternator. Aku tidak memutus kabelnya. Aku hanya menempelkan satu ujung foil aluminium tipis itu ke terminal kabel positif, dan ujung satunya lagi ku-kaitkan melayang tipis (hanya berjarak satu milimeter) dari blok mesin berbahan logam yang berfungsi sebagai Ground (Massa negatif). Keduanya tepat berada sejajar di atas area kantong minyak jelantah tadi.
Hukum Listrik Arus Pendek (Short Circuit Arc): Saat mesin starter diputar, Alternator akan menghasilkan lonjakan listrik yang besar. Lonjakan ini akan melompat (arcing) melewati celah satu milimeter pada foil aluminium, menciptakan percikan api listrik terus-menerus (Spark) akibat korsleting skala mikro.
Percikan api bertemu uap minyak goreng di atas knalpot bersuhu ratusan derajat. Hasilnya? Bom waktu pembakaran spontan.
Detik ke-15: Konstruksi mekanis mematikan selesai. Aku langsung meluncur keluar dari kolong mobil menggunakan sikuku.
Detik ke-16: Aku melompat kembali melewati tembok beton pembatas.
Detik ke-17: Kamera CCTV berputar kembali menghadap ke area mobil Pajero. Tidak ada siapa-siapa. Tidak ada yang berubah. Bemper mobil masih penyok. Semuanya terlihat normal. Bayangan sang Office Boy telah lenyap menyatu kembali dengan lalu lalang trotoar Jakarta.
Waktu menunjukkan pukul 16.30 WIB. Aku masih duduk manis di warkop seberang jalan. Aku sudah menghabiskan dua gelas es teh manis. Lukaku di siku sudah kubersihkan dengan air keran.
Tiba-tiba, pintu kaca lobi VIP Grand Nirvana Hotel terbuka. Targetku, sang pria paruh baya arogan, berjalan keluar. Kali ini langkahnya jauh lebih santai. Dia merapikan kerah kemejanya. Wajahnya berseri-seri, senyumnya mengembang lebar. Sepertinya acara "potong kue tart" di kamar hotel tadi berjalan sangat memuaskan baginya.
Di belakangnya, mengekor seorang wanita muda (yang usianya mungkin seumuran denganku, atau bahkan lebih muda). Wanita itu memakai dress merah ketat, menenteng tas branded, dan tertawa genit sambil memeluk lengan pria tua tersebut.
Aku menyedot sisa es teh manisku dengan tenang. Pria itu berjalan mendekati mobil Pajero-nya. Dia menekan remote alarm. Pip-pip. Kaca spion membuka otomatis. Dia membukakan pintu untuk wanita simpanannya dengan gaya gentleman yang menjijikkan, lalu dia berjalan memutari mobil. Sebelum masuk, dia sempat melirik jijik ke arah bemper depan mobilnya yang tergores akibat ulahku tadi siang. Dia mendengus kesal, menendang ban mobilnya sendiri, lalu masuk ke kursi kemudi dan menutup pintu.
Aku menyilangkan kakiku di kursi plastik warkop. Menopang dagu dengan tangan kananku. "Satu... dua... tiga..." aku menghitung dalam hati.
Dari kejauhan, aku bisa melihat lampu belakang mobil menyala. Pria itu sedang memutar kunci kontak untuk menyalakan mesin. Krk-krrrk-VROOOOMMM. Suara mesin diesel Pajero menderu kuat.
Di dalam kap mesin yang gelap dan tertutup, hukum alam mulai menjalankan tugas eksekusinya. Saat mesin menyala, Alternator mulai berputar menghasilkan listrik. Arus liar mengalir menembus foil aluminium tipis yang kupasang. BZZZT... CROT... Percikan api listrik biru kecil mulai meletik konstan menghantam blok mesin besi.
Secara bersamaan, leher knalpot (Exhaust Manifold) mulai memanas dengan sangat cepat. Suhunya menembus seratus derajat. Plastik es mambo tipis yang berisi minyak jelantah mulai meleleh. Tess... Tesss... SSSHHH!
Minyak jelantah pekat menetes mengguyur logam knalpot yang mendidih. Uap minyak yang pekat, putih, dan sangat mudah terbakar menguar memenuhi ruang kap mesin yang sempit.
Percikan api listrik + Uap Minyak Panas + Suhu Ruang Ekstrem. "Selamat menikmati barbeque sore, Bos," bisikku sambil tersenyum simetris.
BFFFWOOOOOOSSSSHHHHHH!!!!!!!!!!!!!!!
Sebuah letupan api berwarna oranye kemerahan menyala terang menyembur dari bawah kap mesin mobil Pajero tersebut! Suaranya seperti hembusan naga yang mengamuk. Api berkobar seketika melahap seluruh ruang mesin depan, membakar kabel-kabel plastik, selang karet, dan spons pelindung kap mesin. Asap hitam legam yang sangat tebal langsung mengepul tinggi ke udara menutupi sebagian kanopi pepohonan hotel!
"WAAAAAAAAAHHHHH!!!" Jeritan histeris dari dalam mobil terdengar menembus kaca.
Wanita bergaun merah itu adalah yang pertama melompat keluar dari pintu penumpang. Dia berlari kocar-kacir menjauhi mobil dengan sepatu hak tinggi yang nyaris patah, berteriak-teriak ketakutan sambil memegangi tas mahalnya.
Sedetik kemudian, pintu pengemudi didobrak terbuka dengan kasar. Pria arogan bertubuh tambun itu melompat keluar. Dia terbatuk-batuk hebat menghirup asap beracun yang mulai masuk ke kabin melalui AC blower.
"MOBIL GUEEE!!! MOBIL GUEEE KEBAKAAARRR!!!" raung pria itu dengan keputusasaan yang melengking hingga nyaris merobek pita suaranya.
Dia berlari ke depan mobilnya dengan panik. Melihat api yang berkobar semakin liar dari kisi-kisi grill depan mobil yang harganya ratusan juta itu, mental arogansinya hancur lebur menjadi debu.
Pria yang tadi siang merasa memiliki jalanan dan bisa merendahkan martabat orang kecil itu, kini jatuh berlutut di aspal parkiran. Dia menjambak rambutnya sendiri, menangis histeris. "TOLOOOONG! AIRRR! BAWAIN APAR! MOBIL GUEEE BISA MELEDAK!! TOLONG!!!"
Satpam hotel yang tadinya berjaga di pos, langsung berlarian panik membawa tabung pemadam api merah kecil. Tapi api yang dipicu oleh minyak jelantah dan kelistrikan tidak akan padam dengan mudah oleh satu tabung APAR kecil. Asap hitam semakin pekat membubung ke langit Jakarta Selatan, menjadi tontonan gratis puluhan pengendara ojek online dan warga yang berkerumun.
Sang Penguasa Jalanan menangis sejadi-jadinya di atas aspal. Harga dirinya terbakar habis bersama dengan mesin mobil status symbol yang sangat ia banggakan itu. Belum lagi, keributan ini menarik perhatian publik dan manajemen hotel; skandal perselingkuhan check-in siang harinya dengan wanita muda bergaun merah kini menjadi tontonan publik yang memalukan.
Aku duduk bersandar di kursi plastik warkop. Menonton pertunjukan seni instalasi kembang api senilai ratusan juta rupiah itu dengan hati yang sangat damai dan tenteram.
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat ngenes telah ditegakkan dengan paripurna. Tidak ada jejak. Tidak ada bukti sidik jari yang bertahan dari suhu kobaran api. Pihak asuransi atau kepolisian hanya akan menyimpulkan bahwa penyebab kebakaran adalah korsleting listrik fatal (Electrical Short Circuit) yang memang sering terjadi pada mobil-mobil modifikasi.
Aku merogoh saku celanaku. Mengeluarkan selembar uang sepuluh rupiah yang lecek, yang kompensasi yang dilemparkan pria itu ke wajahku tadi siang.
Aku bangkit berdiri. Aku berjalan ke arah gerobak warkop dan meletakkan uang lecek itu di atas etalase kaca. "Bang," panggilku pada abang warkop yang sedang asyik merekam mobil terbakar itu pakai handphone-nya. "Es teh manis 2."
Aku berjalan menuju motor Honda Supra X kesayanganku. Sepatbor depannya memang retak, tapi jiwanya adalah milik seorang ksatria jalanan sejati. Aku mengayunkan kaki, menekan tuas kick starter. Ngoooook-Broommm. Mesin tuanya menyala setia.
Aku memacu motorku dengan santai meninggalkan lokasi kejadian. Membiarkan suara sirene pemadam kebakaran yang meraung-raung dari kejauhan menggantikan alunan musik klasik di sore hari.
Mungkin aku miskin, mungkin aku sering diremehkan. Tapi satu hal yang pasti: Jangan pernah mencoba menggores hati (dan motor) seorang pria yang tidak memiliki apa pun lagi untuk hilang, karena dia akan membakar surgamu tanpa harus menyalakan korek api.