Minggu pagi yang cerah. Burung berkicau, matahari bersinar, dan Hanif sedang menyisir rambut di depan cermin dengan gaya narsis level dewa. Dia mematut diri, memutar kepalanya ke kiri dan ke kanan, mengagumi rambutnya yang (katanya) mirip Oppa Korea, padahal lebih mirip Oppa-Oppa yang kelamaan antre BLT.
Tiba-tiba, keheningan pagi itu pecah.
"AAAAAARRGGGHHHH!!!"
Teriakan Hanif begitu melengking, penuh penderitaan, seolah-olah dia baru saja melihat hantu atau dompetnya jatuh ke selokan. Aku yang sedang memotong kuku di kasur langsung melompat kaget. Gunting kuku terlempar entah ke mana.
"Kenapa, Yang?! Ada kecoak terbang?! Ada maling?!" tanyaku panik sambil berlari menghampirinya.
Hanif berbalik. Wajahnya pucat pasi. Matanya berkaca-kaca. Dia menunjuk kepalanya sendiri dengan jari telunjuk yang gemetar.
"Feb... Liat ini, Feb..." suaranya bergetar, seperti orang yang baru divonis sisa hidup tinggal 5 menit.
Aku mendekat, menyipitkan mata. "Apaan sih? Ketombe?"
"BUKAN! Liat yang bener! Di sela-sela rambut hitamku yang indah ini... ada pengkhianat!"
Aku menyingkap rambutnya. Dan di sanalah dia berada. Sebatang rambut. Satu helai. Warnanya putih perak berkilauan ditimpa lampu kamar. Uban.
"Oh, uban," komentarku datar. "Kirain apaan. Kirain kamu nemu kutu sebesar beras."
"OH, UBAN KATANYA?!" Hanif histeris. Dia memegang dadanya. "Feby, ini bukan sekadar uban! Ini adalah lonceng kematian masa mudaku! Ini tanda penuaan dini! Aku sudah tua, Feb! Bentar lagi kulitku keriput, gigiku ompong, terus aku bakal hobi nonton berita politik sambil marah-marah di depan TV! Aku bau tanah, Feb!"
Ya ampun. Dramatis sekali suamiku ini. Padahal usianya baru 30. Tapi, sebagai istri yang cerdas dan oportunis, aku melihat peluang di balik tragedi ini. Jiwa Chindo ku yang jago melihat peluang rupiah langsung berputar cepat.
"Tenang, Mas. Jangan nangis," kataku dengan nada menenangkan yang palsu. "Itu cuma satu kok. Belum nyebar jadi uban full kayak Ganjar Pranowo."
"Tapi ganggu banget, Feb! Itu bersinar terang banget kayak lampu mercusuar! Cabutin dong, Yang... Tolong..." rengek Hanif.
Yeaahh. Ikan memakan umpan.
"Eits, enak aja minta tolong gratisan," kataku sambil bersedekap. "Jasa profesional nih. Kamu tahu kan, mata aku minus? Butuh usaha ekstra buat nyari benang putih di tumpukan jerami hitam."
"Ya elah, sama suami sendiri itung-itungan," keluh Hanif.
"Bisnis is bisnis, Hanif. Satu uban, seribu rupiah. Deal?"
Hanif berpikir sejenak. Dia menatap uban itu lagi di cermin. Rasa insecure-nya mengalahkan rasa pelitnya. "Oke! Deal! Seribu per helai. Tapi harus bersih! Jangan sampe ada akarnya yang ketinggalan!"
Aku tersenyum lebar. Senyum penuh kemenangan. "Siap, Bos. Rebahan gih. Siapkan kepalamu untuk operasi pembersihan lahan."
Aku tidak tahu, keputusan ini akan menjadi awal dari bencana botak koin yang akan dikenang sepanjang sejarah rumah tangga kami.
Aku menyiapkan "Ruang Operasi" di sofa ruang tengah. Hanif berbaring dengan kepala di pangkuanku. Posisinya enak buat dia, tapi pegal buat aku. Makanya tarifnya harus mahal.
Aku membawa peralatan tempur:
- Pinset Alis (yang ujungnya agak karatan dikit dan tumpul, tapi tak apalah).
- Senter HP (untuk pencahayaan maksimal).
- Kaca Pembesar (bekas mainan detektif keponakan).
- Toples Kecil (untuk menampung hasil buruan sebagai bukti tagihan).
"Yang, itu pinsetnya kok serem amat?" tanya Hanif curiga saat melihat pinset besiku berkilau di bawah lampu.
"Ini pinset legendaris, Mas. Udah mencabut ribuan bulu ketiak. Ketajamannya teruji," jawabku santai.
"Jangan sakit-sakit ya. Kulit kepalaku sensitif. Aku ini tipe pria yang delicate."
"Iya, bawel. Diem. Jangan gerak. Kalau gerak nanti salah cabut."
Aku menyalakan senter HP, menaruhnya di bahuku, menyorot langsung ke batok kepala Hanif. Dunia di mataku berubah menjadi hutan belantara rambut yang berminyak (karena dia belum keramas dua hari). Baunya apek-apek sedap.
"Oke, Target Terkunci," gumamku ala sniper.
Aku melihat uban laknat itu. Dia berdiri tegak, putih, dan menantang. Seolah mengejekku: "Ayo cabut aku kalau bisa, Dasar Mata Rabun!"
Aku mendekatkan pinset. Tanganku sedikit gemetar. Maklum, pagi ini belum sarapan lontong sayur.
Cetut. Aku menjepit. Aku menarik dengan sentakan kuat.
"ADUUUUH!!!" Hanif menjerit.
Aku melihat ujung pinset. Kosong. Meleset.
"Dapet gak?" tanya Hanif sambil mengusap kepalanya.
"Belum. Licin banget uban kamu, kayak belut dikasih oli," alibiku.
"Sakit tau! Tadi yang ketarik kulitnya doang!"
"Sabar! Namanya juga pemanasan. Udah diem!"
Percobaan kedua. Aku fokus. Mataku melotot. Aku menjepit lagi. Kali ini aku pastikan ada rambut yang tergenggam di antara besi pinset. Tarik! Cesss!
"AAARGHHHH! SAKIT FEB! ITU SAKIT BANGET!" Hanif berontak, mau bangun.
"Diem!" Aku menahan kepalanya. Aku melihat ujung pinset. Ada tiga helai rambut. Masalahnya: Tiga-tiganya Hitaaaam!
Uban sasarannya masih berdiri tegak di sana, melambai-lambai mengejekku.
"Mana? Liat?" Hanif meminta bukti.
Dengan kecepatan tangan pesulap, aku membuang tiga rambut hitam itu ke lantai dan menyembunyikan pinset. "Lepas, Yang. Putus di tengah," dustaku.
"Kok sakitnya kayak dijambak setan?"
"Perasaan kamu aja. Uban tuh akarnya emang lebih kuat, dia kan rambut tua yang keras kepala. Makanya sakit. Udah sini lagi!"
Setelah sepuluh menit, skor sementara: Uban tercabut: 0. Rambut Hitam tercabut: 15 helai. Kesehatan Mental Hanif: Menipis.
Aku mulai frustasi. Kenapa uban satu ini susah banget ditangkep?! Setiap kali mau dicabut, dia kayak punya sense buat menghindar. Dia ngumpet di balik rambut hitam lainnya.
Lama-lama, aku kehilangan kesabaran. Prinsip "Satu Uban Seribu Rupiah" berubah menjadi "Yang Penting Itu Uban Mati, Persetan dengan Kerusakan Lingkungan Sekitarnya".
Aku mulai membabibuta. Cetut! Tarik! "Aduh!" Cetut! Tarik! "Sakit Feb!" Cetut! Tarik! "WOY! UDAHAN!"
Hanif mencoba bangkit. Dia tidak kuat lagi. "Udah, Feb! Gak jadi! Biarin aja aku ubanan! Aku rela jadi Gandalf! Lepasin aku!"
Tidak bisa. Jiwa kompetitifku sudah terbakar. Aku tidak bisa membiarkan satu helai rambut putih ini mengalahkan egoku.
"DIAM DI TEMPAT, HANIF!" Aku melakukan manuver gulat. Aku menjepit kepala Hanif di antara ketiak dan lenganku. Teknik Headlock. Kaki kananku menahan dadanya supaya dia tidak bisa bangun.
"Feb! Ini KDRT! Tolong! Tetanggaaa!" suara Hanif teredam di ketiakku (untung aku pakai deodoran).
"Diem! Dikit lagi kena nih! Aku udah liat biang keroknya!" teriakku.
Dalam posisi terkunci itu, aku kembali beroperasi. Karena Hanif terus meronta kayak ikan koi yang ditaruh di darat, akurasiku makin hancur. Targetku bukan lagi presisi, tapi area. Area bombing.
Aku menjepit sekumpulan rambut di sekitar uban itu. Pikirku: Kalau aku cabut sepuluh-sepuluhnya, pasti si uban itu ikut keangkat kan? Logika matematika sederhana.
"Bismillah!" Aku menarik sekuat tenaga. KREK! (Bunyi akar rambut yang tercabut massal).
"HWUAAAAAAA!!!" Hanif melolong. Lolongannya pilu, menembus dinding, mungkin didengar oleh kucing-kucing garong di luar sana.
Aku buru-buru mengecek pinset. Di sana, ada gumpalan rambut. Sekitar 20 helai. Dan... YES! Di tengah-tengah rambut hitam itu, terselip satu helai uban putih!
"DAPET!" teriakku girang. "DAPET YANG! MATI KAU UBAN SIALAN!"
Aku melepaskan kuncian headlock. Hanif terengah-engah. Matanya merah. Rambutnya acak-acakan. Dia terlihat seperti korban selamat dari bencana angin puting beliung.
"Mana?" tanyanya lemah. "Mana ubannya?"
Aku menunjukkan pinset itu dengan bangga. "Nih! Liat! Putih kan? Mati dia!"
Hanif menyipitkan mata. Dia melihat satu uban itu. Tapi matanya kemudian melebar ngeri saat melihat sembilan belas rambut hitam lainnya yang ikut gugur bersamanya. Gumpalan di ujung pinset itu terlihat tebal. Seperti kuas lukis kecil.
"Feb..." Hanif meraba kepalanya. "Itu... banyak banget temennya yang ikut?"
"Ya... namanya juga colleteral damage, Yang. Kerusakan tambahan dalam perang. Yang penting musuh utamanya tewas."
Hanif buru-buru bangun dan lari ke cermin.
Detik-detik Hanif menatap cermin adalah momen paling menegangkan dalam hidupku. Lebih tegang daripada nunggu pengumuman kelulusan.
Hanif mematung. Dia menyingkap rambut bagian atas kepalanya. Dan di sanalah... sebuah mahakarya tercipta.
Di tengah-tengah hutan rambut hitam Hanif yang lebat, kini terdapat sebuah area terbuka. Sebuah lahan kosong. Sebuah PITAK.
Ukurannya sebesat koin lima ratus rupiah lama. Kulit kepalanya yang putih mulus terekspos dengan jelas, memantulkan cahaya lampu, bersinar terang benderang. Licin. Mengkilap. Gersang.
Botak koin yang sempurna.
"Feby..." suara Hanif bergetar hebat. "Apa... apa yang kamu lakukan pada mahkotaku?"
Aku menggigit bibir, menahan tawa sekaligus rasa bersalah. "Itu... anu, Yang. Tadi kan ubannya ngumpet. Jadi aku harus melakukan... penggalian. Exploratory surgery gitu."
"PENGGALIAN KATANYA?!" Hanif berteriak histeris. "INI BUKAN PENGGALIAN! INI DEFORESTASI! INI GUNDUL, FEBY! PITAK! BOLONG!"
Hanif mendekatkan wajahnya ke cermin, meratapi nasib. "Ya Tuhan... Aku baru mau 31 tahun... Sekarang aku punya landasan helikopter di kepala... Gimana aku ke kantor besok? Gimana aku meeting? Orang-orang nggak bakal liat presentasiku, mereka bakal fokus liat lubang hitam di kepalaku ini!"
"Ya ampun, lebay banget sih," belaku. "Tinggal disisir ke samping, ditutupin rambut sebelahnya. Comb-over gitu. Kayak Donald Trump."
"AKU GAK MAU KAYAK DONALD TRUMP!"
Hanif merosot duduk di lantai, memeluk lutut. Dia menangis. Benar-benar menangis sesenggukan. "Uban satu ilang... tapi harga dirinya rambut item ikut ilang semua... Ngenes banget hidup gue..."
Aku merasa kasihan. Sedikit. Tapi aku juga butuh uang seribu rupiahku. "Jadi... seribunya tetep bayar kan? Kan ubannya udah kecabut?" tagihku tanpa dosa.
Hanif menatapku dengan tatapan tak percaya. "Kamu... istri durhaka. Udah bikin suami cacat penampilan, masih malak."
Merasa bersalah (dan takut tidak dikasih uang belanja), aku menawarkan solusi. Sebagai mantan seksi dekorasi saat SMA, aku punya ide brilian untuk menutupi aib di kepala suamiku.
"Yang, udah jangan nangis. Aku punya ide. Kita samarkan," kataku penuh semangat.
"Pake apa? Wig?" tanya Hanif pesimis.
"Bukan. Terlalu mahal. Kita pake teknik Camouflage. Kamu duduk sini."
Aku lari ke laci meja kerja. Mengambil sebuah benda ajaib: Spidol Permanen Warna Hitam (Boardmarker snowman yang bold).
"Kamu gila ya?!" Hanif mundur ketakutan saat melihat spidol itu. "Itu spidol buat nulis di kardus! Bukan di kulit kepala!"
"Percaya sama aku! Warnanya hitam pekat. Tahan air. Nanti pitak kamu bakal tersamarkan. Nggak bakal ada yang sadar kalau itu tinta. Orang bakal ngira itu rambut lebat."
Dengan bujuk rayu (dan sedikit paksaan fisik), Hanif akhirnya pasrah. Dia duduk lagi di kursi bak tawanan perang.
"Tahan napas ya, baunya agak nyengat," peringatku.
Aku mulai mewarnai kulit kepala Hanif yang botak itu. Sret... Sret... Sret... Bunyi spidol bergesekan dengan kulit kepala terdengar ngilu. Tinta hitam pekat mulai menutupi area putih yang gersang itu.
"Dingin, Feb..." keluh Hanif.
"Emang ada alkoholnya dikit. Tahan."
Aku mewarnai dengan teliti. Mengisi setiap pori-pori. Memastikan blok warnanya merata. Setelah selesai, aku mundur selangkah untuk mengagumi karyaku.
Secara visual: Pitaknya hilang. Tapi masalahnya: Area itu sekarang berwarna Hitam Mengkilat Kebiruan (khas spidol permanen). Sangat tidak natural. Berbeda jauh dengan tekstur rambut di sekitarnya. Itu terlihat seperti ada tumpahan oli di kepalanya.
Dan baunya... Astaga. Bau thinner spidol itu sangat menyengat. Hanif mulai pusing. "Feb... kok aku jadi fly ya? Baunya kenceng banget. Aku mabok spidol nih kayaknya."
Hanif berdiri, sempoyongan. Dia melihat ke cermin lagi. Dia melihat noda hitam legam di kepalanya.
"Feby..." desisnya. "Ini... ini kayak tompel raksasa..."
"Enggak kok! Kalo diliat dari jarak 50 meter sambil lari, nggak kelihatan!"
"JARAK 50 METER MAH GAK USAH DIWARNAIN JUGA GAK KELIHATAN!"
Hanif menggosok noda itu dengan tangannya. Tinta itu belum kering benar. Akibatnya: Tangan Hanif jadi hitam. Lalu dia tidak sengaja mengusap dahinya. Sekarang dahinya ada coretan hitam. Dia panik, mengusap pipi. Pipinya hitam.
Dalam waktu satu menit, Hanif berubah dari "Suami Pitak" menjadi "Suami yang Baru Keluar dari Pertambangan Batu Bara". Wajahnya cemong semua.
"HANCUR! MUKA GUE HANCUR!"
Senin pagi. Hanif harus berangkat kerja. Pitaknya masih ada. Spidolnya sudah dihapus (setelah digosok pakai minyak kayu putih sampai kulit kepalanya merah dan perih iritasi), tapi sisa-sisa warna kebiruan masih nempel di pori-pori. Rambut di sekitarnya masih belum tumbuh (ya iyalah, baru sehari).
Hanif berdiri di depan pintu, memakai kemeja rapi. Tapi di kepalanya... dia memakai Kupluk Rajut warna Abu-abu. Di Jakarta. Yang suhunya 34 derajat Celcius.
"Kamu yakin mau ngantor pake kupluk, Yang?" tanyaku menahan tawa. "Nanti dikira kamu lagi sakit keras atau lagi syuting video klip Hip Hop."
"Bodo amat," jawab Hanif ketus. "Daripada dikira kena penyakit kulit menular atau korban malpraktik salon."
Dia menatapku tajam. "Inget ya, Feb. Nggak ada lagi cabut-cabutan uban. Mulai sekarang, kalau ada uban, biarin aja. Kalo perlu aku semir putih semua biar kayak Kakashi."
"Iya, iya, maaf," kataku sambil menyalim tangannya.
Hanif melangkah keluar rumah dengan wajah suram. Kepala panas kepanasan di balik kupluk tebal itu.
Aku masuk kembali ke rumah. Melihat ke meja ruang tamu. Di sana, di dalam toples kecil, ada bukti prestasiku. Satu helai uban. Dan sembilan belas helai rambut hitam.
Aku mengambil uang koin seribu rupiah dari kantong recehan Hanif yang tertinggal di meja. "Lumayan," gumamku. "Satu uban, seribu. Tapi pengalaman bikin suami botak? Priceless."
Aku membuka HP, berniat browsing: "Jasa Tanam Rambut Murah". Siapa tahu nanti ulang tahun Hanif, aku bisa kasih kado voucher tanam rambut untuk menambal dosa-dosaku.
Tapi untuk sekarang, biarlah pitak itu menjadi monumen peringatan: Bahwa jangan pernah menyerahkan kepala anda pada istri yang mata duitan, meskipun dia menawarkan harga promo.