Jumat sore yang mendung. Langit seolah tahu nasibku akan segera kelabu. Aku sedang rebahan di sofa dengan posisi ternyaman sedunia, kaki di sandaran kepala, kepala menggantung ke bawah, sambil mengunyah keripik singkong pedas. Dasterku bolong sedikit di ketiak (ventilasi alami), dan rambutku dicepol asal-asalan menyerupai sarang burung manyar.
Tiba-tiba, Hanif keluar dari kamar sambil memegang HP. Wajahnya pucat, sepucat mayat yang baru bangkit dari kubur karena lupa mematikan kompor.
"Yang..." panggilnya lirih.
"Hmm?" jawabku tanpa mengubah posisi.
"Ibu telepon. Beliau sudah di stasiun. OTW ke sini. Mau nginep dua hari."
Hening. Keripik singkong di mulutku berhenti berderak. Duniaku runtuh. Gravitasi bumi seolah meningkat 100 kali lipat, menekan dadaku.
Ibu Mertua. Ibunda Kanjeng Ratu dari Solo. Wanita yang tutur katanya begitu halus sampai-sampai kalau beliau marah, kamu tidak sadar sedang dimaki, tapi batinmu hancur berkeping-keping. Standar kebersihan dan kesopanannya setingkat Keraton.
Aku langsung melompat dari sofa. Keripik berhamburan ke lantai. "KENAPA BARU BILANG SEKARANG, HANIF?!" teriakku histeris.
"Ibu mau bikin kejutan katanya!"
"Ini bukan kejutan! Ini serangan jantung! Liat rumah ini! Liat!" Aku menunjuk sekeliling. Rumah kami seperti kapal pecah. Ada celana dalam Hanif di atas TV (jangan tanya kenapa). Ada piring kotor menumpuk di wastafel setinggi Menara Pisa. Ada debu setebal bedak pengantin di atas lemari.
"Kita punya waktu 30 menit sebelum Ibu sampai! GERAK!"
Dalam 30 menit itu, aku dan Hanif melakukan speed run membersihkan rumah. Aku menyapu dengan kecepatan cahaya. Hanif melempar semua baju kotor ke dalam lemari dan menahannya dengan punggung agar pintunya bisa ditutup. Piring kotor kusembunyikan di dalam oven.
Tepat saat bel rumah berbunyi, aku sudah berganti kostum. Daster bolong sudah lenyap. Berganti dengan gamis rumahan yang sopan. Wajahku sudah kubedaki tipis. Senyumku sudah kusetel di mode: "Mantu Soleha yang Tidak Pernah Marah".
Pintu terbuka. Sosok itu berdiri di sana. Ibu Mertua. Aura kewibawaannya memancar lebih terang dari lampu teras.
"Assalamualaikum," ucapnya lembut, suaranya mengalun seperti gamelan Jawa.
"Waalaikumsalam, Ibuuu..." Aku menyalami tangannya, menciumnya takzim, lalu melakukan gestur sungkem tipis-tipis. "Sugeng rawuh, Bu. Masya Allah, Ibu kok repot-repot ke sini..."
(Dalam hati: Ya Allah, kuatkan hamba. Lindungi hamba dari komentar pedas berbalut gula.)
Masalah utama dari kedatangan Ibu bukan hanya soal kebersihan. Tapi soal Pencitraan. Di mata Ibu, istri yang baik adalah istri yang melayani suami bak raja. Istri yang suaranya tidak pernah melebihi volume bisikan angin.
Dan Hanif... si suami laknat itu... tahu betul celah ini.
Kami duduk di ruang tamu. Ibu sedang menginspeksi toples kue (yang untungnya sudah kusiapkan). Hanif duduk di sebelah Ibu, memasang wajah polos anak mama.
"Nak Feby," kata Ibu pelan. "Suamimu ini kelihatan kurusan ya. Apa kurang diperhatikan makannya?"
JEDER. Serangan pertama. Padahal Hanif kurusan karena dia diet sok-sokan mau punya perut six pack biar kayak aktor Korea, tapi gagal terus.
"Ah, mboten kok, Bu," jawabku dengan senyum manis yang mulai terasa kram. "Mas Hanif memang lagi jaga makan. Feby masakin terus kok tiap hari." (Padahal tiap hari GoFood).
Tiba-tiba, Hanif berdehem. Dia melirikku dengan tatapan licik. Tatapan yang berkata: Mumpung ada Ibu, aku berkuasa.
"Sayang..." panggil Hanif. Nadanya lembut, tapi matanya jahat. "Tolong ambilin Mas kopi dong. Gulanya dikit aja ya. Aduknya ke arah kiri 30 kali biar aromanya keluar."
Darahku mendidih. Biasanya dia bikin kopi sendiri. Aduk ke kiri 30 kali? Emangnya aku dukun lagi ngeracik ramuan?!
Tapi di depan Ibu, aku tidak bisa melempar bantal ke mukanya. "nggih, Mas..." jawabku dengan suara dibuat selembut sutra. "Sekedap nggih (sebentar ya)."
Aku berjalan ke dapur sambil menghentakkan kaki tanpa suara. Di dapur, aku mengaduk kopi itu dengan penuh emosi. Kling! Kling! Kling! "Awas lu ya, Nif. Awas lu. Tunggu tanggal mainnya," gumamku sambil membayangkan wajah Hanif ada di dalam cangkir.
Aku kembali membawa kopi. Menaruhnya pelan di meja. "Silakan, Mas Sayang."
"Makasih, Istriku," kata Hanif. Dia menyeruputnya sedikit. "Hmm... kurang panas dikit, Yang. Tapi nggak apa-apa deh, Mas minum aja. Kasihan kamu kalau bolak-balik."
AKTINGNYA OSCAR BANGET! Seolah-olah dia suami yang paling pengertian sedunia yang menerima kekurangan istri. Padahal airnya baru mendidih!
Ibu tersenyum. "Iya, istri itu harus telaten, Nak Feby. Kopi suami itu kunci keharmonisan."
"Inggih, Bu..." Aku menunduk, menyembunyikan mata yang sudah berkilat-kilat ingin mencakar sofa.
Belum selesai di situ. Lima menit kemudian. "Yang," panggil Hanif lagi. "Pundak Mas pegel nih, abis kerja keras seharian buat nafkahin keluarga. Pijitin dikit dong."
Kerja keras gundulmu! Seharian dia cuma main Mobile Legends di kantor karena bosnya cuti!
Aku bergeser ke belakang Hanif. Mulai memijat bahunya. Aku menyalurkan tenaga dalam lewat jempolku. Aku menekan titik sarafnya dengan kekuatan penuh. "Enak, Mas?" tanyaku manis.
"Aduh... aduh... kekencengen, Sayang. Yang lembut dong. Kayak sentuhan bidadari, jangan kayak tukang urut keliling," protes Hanif manja di depan ibunya.
Aku melonggarkan pijatan. "Maaf ya, Mas. Saking cintanya jadi terlalu bersemangat."
Ibu mengangguk-angguk. "Feby tangannya kuat ya. Bagus itu, bisa buat ngulek sambel."
Aku tersenyum kaku. Rahangku sakit karena menahan gemeretak gigi. Liat aja lu nanti malem, Nif. Gue pijit leher lu pake kaki.
Hari kedua. Tantangan terbesar: Memasak. Ibu Mertua ingin makan siang di rumah. "Ibu kangen masakan rumahan. Nak Feby masak apa hari ini?"
Aku panik. Keahlian memasakku terbatas pada merebus air, memasak mie instan, dan menggoreng telur (itu pun kadang kulitnya kebawa). Tapi gengsi dong kalau bilang nggak bisa masak.
"Mau masak Opor Ayam, Bu. Spesial resep... uh... leluhur," jawabku asal.
Aku mengusir Hanif dan Ibu dari dapur. "Biar Feby fokus ya, Bu." Segera aku buka YouTube. Tutorial Opor Ayam Kilat Enak Maknyus.
Bumbu-bumbu kumasukkan. Santan kumasukkan. Ayam kumasukkan. Tapi ada satu masalah. Aku tidak bisa membedakan antara Jahe, Lengkuas, dan Kunyit kalau sudah dikupas. Dan aku curiga, aku salah memasukkan sesuatu.
Aku mencicipi kuahnya. Rasanya... aneh. Rasanya gurih, tapi ada aftertaste pahit dan wangi yang tidak wajar. Seperti... campuran santan dan pewangi lantai rasa lemon. Ternyata aku kebanyakan memasukkan Serai. Bukan satu batang, tapi sepuluh batang (karena di resep bilangnya 'secukupnya', dan aku pikir makin banyak makin wangi). Dan aku salah memasukkan bubuk ketumbar, yang ternyata adalah bubuk jamu pegal linu milik Hanif yang toplesnya mirip.
"Mampus," bisikku. "Ini bukan Opor. Ini racun tikus."
Tapi waktu habis. Ibu sudah duduk di meja makan. Aku menyajikan mangkok besar itu dengan tangan gemetar. "Silakan, Bu. Mas."
Warna kuahnya agak kehijauan (efek jamu). Baunya tajam menusuk hidung.
Ibu menatap mangkok itu. Alisnya naik satu mili. "Unik ya warnanya. Opor ayam herbal ya?"
"Iya, Bu! Opor detoks! Bagus buat kesehatan!" jawabku panik.
Hanif mengambil sendok. Dia mencicipi kuahnya. Wajah Hanif berubah. Matanya melotot. Mulutnya terkunci rapat. Lehernya menegang. Wajahnya merah padam seolah menahan ledakan nuklir di mulutnya. Dia jelas ingin memuntahkannya, tapi dia melihat Ibu di sebelahnya.
Aku menatap Hanif dengan tatapan memohon. Tatapan yang mengirim sinyal telepati: "Telen, Nif! Telen! Kalau kamu lepeh, aku akan bongkar koleksi Gundam kamu dan kujual ke tukang loak! Telen atau mati!"
Hanif, dengan kepahlawanan yang luar biasa, menelan kuah itu. Glek. Matanya berair.
"Gimana, Hanif? Enak?" tanya Ibu.
Hanif terbatuk-batuk. "Ehem! E... enak, Bu. Unik banget. Rasanya... meledak di mulut."
"Coba Ibu cicip ya." Ibu mengangkat sendok.
JANTUNGKU BERHENTI. Kalau Ibu makan ini, tamat riwayatku sebagai menantu. Namaku akan dicoret dari Pohon Keluarga.
Tiba-tiba, Hanif melakukan manuver gila. Dia menarik mangkok besar itu ke hadapannya. "JANGAN BU!" seru Hanif.
Ibu kaget. "Lho? Kenapa?"
"Ini... ini enak banget, Bu! Hanif suka banget! Ini rasa favorit Hanif sejak kecil! Hanif lagi laper banget, Bu. Boleh nggak Hanif abisin semuanya sendiri? Ibu makan lauk yang lain aja ya? Ada kerupuk, ada sambel..."
"Lho, rakus amat kamu, Le. Masa Ibu nggak boleh nyicip?"
"Jangan Bu! Ini... ini guilty pleasure Hanif! Hanif mau mukbang Opor Istri Tercinta!" Tanpa babibu, Hanif mulai menyendoki opor laknat itu ke mulutnya dengan kecepatan tinggi. Hap! Hap! Hap!
Aku melihatnya dengan campuran rasa haru dan ngeri. Wajah Hanif mulai membiru. Keringat sebesar biji jagung mengucur deras. Dia makan sambil menahan napas agar tidak perlu mencicipi rasanya. Dia seperti peserta Fear Factor yang dipaksa makan usus kerbau mentah.
"Masya Allah, lahap banget," komentar Ibu senang. "Berarti Nak Feby pinter masak ya, sampe suami nggak mau bagi-bagi."
"Iya, Bu..." jawabku lemah.
Di bawah meja, kaki Hanif menendang kakiku. Keras sekali. Itu tendangan kode: "Gue sekarat. Tolong siapin ambulans."
Hari ketiga. Puncaknya penderitaan. Ibu punya kebiasaan bangun jam 3.30 pagi untuk Tahajud, lalu jam 4.30 pagi sudah menyapu halaman. Filosofi Ibu: "Rezeki itu dipatok ayam kalau bangun kesiangan. Wanita itu harus bangun sebelum matahari."
Aku? Aku biasanya bangun jam 7. Itu pun masih snooze alarm lima kali.
Tapi demi citra Mantu Teladan, aku memasang alarm jam 03.45 WIB. Alarm bunyi. Aku bangun dengan kondisi nyawa belum terkumpul. Mataku perih, rasanya ada pasirnya. Badanku remuk (efek tidur di sofa karena Hanif ngorok keras banget efek keracunan opor).
Aku mencuci muka, pakai mukena, pura-pura sudah segar bugar. Jam 04.30. Langit masih gelap gulita. Ayam pun kayaknya masih tidur dan mimpi indah.
Aku mengambil sapu lidi. Keluar ke halaman depan. Ibu sudah di teras, memegang tasbih, menikmati udara pagi. "Lho, Nak Feby sudah bangun? Rajin sekali," sapa Ibu.
"nggih, Bu. Sudah biasa kok," dustaku. Padahal biasanya jam segini aku masih ileran.
Aku mulai menyapu halaman. Masalahnya: Halaman kami bersih. Nggak ada pohon besar. Nggak ada daun gugur. Cuma paving block. Apa yang mau disapu?!
Tapi aku tidak boleh terlihat menganggur. Jadi aku menyapu... angin. Srek... srek... srek... Aku menyapu debu-debu mikroskopis. Aku menyapu bayanganku sendiri.
Hanif keluar rumah dengan wajah bantal, membawa kopi (yang dia bikin sendiri karena aku sibuk nyapu angin). "Rajin amat, Yang. Nyapu apa sih? Nyapu dosa masa lalu?" ledek Hanif sambil nyengir.
"Mas Hanif, bantuin istri dong," tegur Ibu.
"Eh, anu Bu. Hanif mau... mau lari pagi! Biar sehat!" Hanif langsung kabur lari (padahal cuma lari ke warkop depan komplek buat tidur lagi).
Tinggallah aku sendiri. Menyapu halaman yang sudah bersih selama satu jam penuh sampai matahari terbit. Tetangga yang lewat menatapku aneh. Mungkin mereka pikir aku lagi ritual pemanggil hujan.
Pinggangku encok. Tanganku kapalan memegang sapu lidi. "Demi Ibu... Demi Ibu..." rapalku seperti mantra.
Siang harinya, Ibu akhirnya pamit pulang. "Terima kasih ya, Nak Feby, Hanif. Ibu senang nginep di sini. Rumahnya bersih, mantunya rajin, masakannya enak (menurut Hanif)."
Aku mencium tangan Ibu dengan perasaan lega yang luar biasa. Rasanya seperti baru bebas dari penjara Alcatraz. "Hati-hati di jalan, Bu. Sering-sering mampir ya (tapi jangan taun ini)."
Taksi online Ibu melaju pergi. Hilang di tikungan.
Hening. Aku dan Hanif berdiri di pagar.
Perlahan, aku menoleh ke arah Hanif. Senyum manis "Mantu Soleha" di wajahku luntur seketika. Berganti dengan seringai psikopat. Aura gelap menyelimuti tubuhku. Langit mendadak mendung (hiperbola).
Hanif menelan ludah. Dia sadar perisainya sudah pergi. "Ya... Yang? Kamu kenapa liatin aku gitu? Hehe... Akting kita sukses kan?"
Aku tidak menjawab. Aku berjalan mendekatinya pelan-pelan. "Kopi... aduk ke kiri 30 kali..." bisikku. "Pijit... kayak bidadari..." "Opor... abisin..."
Hanif mundur ketakutan. "Yang, itu kan demi pencitraan! Demi nama baik kamu juga!"
"Masuk rumah," perintahku dingin.
"Mau ngapain?"
"Katanya kamu tadi pegel kan? Katanya kamu kerja keras kan? Katanya kamu butuh pelayanan istri soleha kan?"
Hanif mengangguk ragu. "I... iya?"
"Bagus. Hari ini aku akan melayanimu. SPESIAL."
EPILOG: SPA NERAKA ALA FEBY
Satu jam kemudian. Hanif terikat (secara metaforis, dia gak berani gerak) di kursi plastik di halaman belakang.
"Kita mulai perawatannya, Yang Mulia Raja Hanif," kataku sambil membawa baskom berisi ramuan berwarna hijau pekat.
"Itu... itu apa, Yang?" tanya Hanif gemetar.
"Ini masker wajah organik. Terbuat dari sisa opor ayam kemarin yang kublender sama pare mentah dan lidah buaya."
"JANGAN YANG! BAU!"
"Diem! Katanya mau kulit glowing kayak artis Korea?" PLOK! Aku menempelkan adonan hijau bau jamu itu ke wajah Hanif. Tebal sekali. Sampai dia susah napas.
"Sekarang, lulur badan." Aku mengeluarkan sikat cuci baju yang kasar. "Katanya tadi pijatanku kurang kerasa? Kurang mantep? Tenang, Sayang. Kali ini aku pake tenaga kuli pelabuhan."
"AMPUN YANG! KULIT AKU LECET!"
"Dinikmati dong, Mas. Ini tanda cinta istri." Srek! Srek! Srek! Aku menyikat punggungnya dengan penuh perasaan (perasaan dendam).
"Dan terakhir..." Aku mengeluarkan lakban hitam. "Layanan waxing dari istri tercinta"
"Gak usah! Aku cukur sendiri!"
"Nggak boleh nolak rejeki istri soleha!" Aku menarik kakinya. "Ups, kucabut dikit ya bulu kakinya. Ups..."
"ADUH! SAKIT! FEBYYY!"
Sore itu, komplek perumahan kami dihiasi oleh teriakan-teriakan "manja" dari suamiku tercinta. Dia mendapatkan apa yang dia minta: Pelayanan istri yang totalitas.
Malamnya, Hanif tidur meringkuk di pojokan kasur, wajahnya hijau bekas masker pare yang susah ilang, punggungnya merah-merah bekas sikat cuci, dan kakinya mulus tanpa bulu karena di-waxing lakban.
Aku? Aku tidur nyenyak sekali. Mertua senang, dendam terbalas. Hidup kembali seimbang.
Pesan moral: Jangan pernah memanfaatkan istri saat mertua datang, karena saat mertua pulang, istri akan berubah menjadi Godzilla.