Disukai
1
Dilihat
5
Perjalanan Singkat Satu Gerbong Bersamamu
Komedi
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Stasiun Gambir, Jumat sore. Langit Jakarta berwarna abu-abu, seabu-abu masa depanku kalau proyek kantor gagal. Tapi hari ini, aku tidak peduli. Aku, Devi, telah melakukan investasi terbesar bulan ini: Tiket Kereta Bima Luxury Sleeper. (Oke, hiperbola dikit, sebenernya cuma Eksekutif biasa, tapi bagi punggung jompo-ku, ini adalah Luxury).

Aku berjalan menyusuri peron dengan langkah mantap. Heels 5cm-ku mengetuk lantai dengan irama kemenangan. Gerbong 1. Kursi 9A. Window Seat. Jendela lebar. Colokan listrik berfungsi. Selimut wangi. Aku sudah membayangkan diriku duduk di sana, memandang senja, sambil memposting story IG dengan lagu Nadin Amizah. Estetik. Damai. Paripurna.

Pintu otomatis gerbong terbuka dengan desis halus. Sshhhh... Hawa dingin AC menyapa kulitku. Wangi parfum ruangan Lemongrass tercium. Aku melangkah masuk, menyeret koper kabinku. Mataku memindai nomor kursi. 7A... 8A...

Dan tibalah aku di 9A. Langkahku terhenti. Rahangku jatuh.

Di kursi 9A milikku, duduklah seorang Ibu-ibu paruh baya dengan daster batik yang ditutupi jaket jeans kedodoran. Dia sedang asyik mengupas jeruk, kulitnya ditaruh di meja lipat. Di sebelahnya, di kursi 9B (yang harusnya kosong atau milik orang lain), ada seorang anak kecil yang sedang loncat-loncat di atas jok beludru mahal itu sambil makan kerupuk yang remahannya kemana-mana.

Yang lebih parah: Bau minyak angin cap kapak bercampur bau jeruk menyengat, menodai kesucian udara gerbong eksekutif.

Aku menarik napas panjang. "Sabar, Dev. Mungkin dia salah gerbong. Mungkin dia rabun dekat."

Aku mendekat, memasang senyum SOP (Senyum Operasional Palsu). "Permisi, Ibu. Maaf ganggu sebentar."

Ibu itu menoleh. Mulutnya penuh jeruk. "Ya? Apa Neng? Mau minta jeruk?"

"Bukan Bu. Anu... ini kursi nomor 9A kan ya?"

"Iya, bener. Kenapa? Neng mau duduk? Penuh Neng. Cari bangku lain aja yang kosong. Tuh di belakang banyak."

Aku berkedip dua kali. Cari bangku lain? Dia pikir ini Metromini? "Maaf Bu, ini kereta api. Ada nomor kursinya. Ini tiket saya, 9A. Ibu tiketnya nomor berapa ya? Mungkin Ibu salah gerbong."

Si Ibu menatapku sinis. Dia tidak mengeluarkan tiket. Dia malah menyandarkan punggungnya lebih nyaman. "Halah, Neng. Ribet amat sih. Sama-sama bayar juga. Saya tadi dari gerbong belakang, AC-nya panas, sempit, anak saya sumpek. Di sini dingin, kursinya empuk, sepi lagi. Mubazir kalau kosong. Udah Neng ngalah aja sama orang tua. Neng kan masih muda, kuat berdiri atau duduk di kantin."

JEDER. Darahku mendidih. Jadi dia bukan salah kursi. Dia adalah PENYUSUP. Dia adalah penumpang kelas Ekonomi yang melakukan invasi ilegal ke wilayah Eksekutif demi kenyamanan gratisan. Ini bukan sekadar masalah kursi. Ini masalah kasta tiket dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat yang membayar mahal!

 

"Bu," suaraku mulai dingin dan tajam. "Ibu tiketnya Ekonomi kan? Gerbong belakang?"

"Eh! Sembarangan nuduh!" Si Ibu ngegas. "Saya bayar kok! Saya penumpang sah! Cuma saya pindah aja! Emang gak boleh? Kereta punya negara kan? Punya rakyat! Saya rakyat! Berarti ini kursi punya saya juga!"

Logika macam apa ini? Logika Komunisme sachet?

"Bu, kereta itu ada kelasnya. Saya bayar 600 ribu buat duduk di sini. Ibu bayar 150 ribu buat duduk di sana. Fasilitasnya beda. Ibu gak bisa dong nyerobot hak orang yang bayar lebih mahal cuma karena alesan 'punya rakyat'."

"Dasar anak muda jaman now! Matre! Perhitungan! Gak punya empati!" Si Ibu mulai main playing victim. Suaranya dikeraskan supaya penumpang lain dengar.

"Liat nih anak saya! Masih kecil! Dia butuh kenyamanan! Tega kamu nyuruh anak kecil desak-desakan di ekonomi?! Dimana hati nurani kamu?! Kamu pasti belum punya anak ya?! Pantesan hatinya keras kayak batu!"

Penumpang lain mulai menoleh. Beberapa berbisik-bisik. Si Bocil di sebelahnya berhenti loncat, lalu menatapku dan menjulurkan lidah. "Weee! Pelit!"

Aku mengepal tangan. Dia menyerang statusku (belum punya anak). Dia menyerang karakterku (pelit). Dia menginvasi wilayahku.

Biasanya, aku akan panggil Kondektur. Tapi, Kondektur sedang tidak terlihat. Dan kalau aku lapor sekarang, Si Ibu pasti akan drama nangis-nangis dan bikin aku terlihat jahat di mata satu gerbong. Aku harus menghancurkan dia dengan fakta. Aku harus membuktikan bahwa dia ILEGAL dan TAK PANTAS ada di sini, sehingga ketika dia diusir, semua orang akan tepuk tangan.

Aku memejamkan mata. Dunia melambat. Suara kunyahan jeruk si Ibu terdengar slow motion.

Aku membuka mata. Grid digital merah menyala di pandanganku. Mataku men-scan setiap inci penampilan dan barang bawaan si Ibu.

[VISUAL SCANNING START]

OBJEK 1: TIKET FISIK

Lokasi: Menyembul sedikit dari saku daster batiknya. Warna kertasnya oranye pudar.

Analisis: Tiket Eksekutif boarding pass-nya biasanya dicetak dengan tinta lebih tebal atau e-boarding pass. Kertas oranye tipis itu ciri khas tiket Go Show ekonomi lokal atau tiket diskon lansia subsidi.

Deduksi: TIKET SUBSIDI.

OBJEK 2: GELANG TANGAN (WRISTBAND)

Lokasi: Pergelangan tangan kanan anak, tertutup lengan jaket.

Analisis: Ada stiker kertas melingkar warna Kuning.

Database: Kereta Bima tidak memakaikan gelang. Tapi wahana "Kereta-keretaan" di stasiun ruang tunggu ekonomi tadi memakaikan gelang kuning.

Deduksi: Mereka menunggu di ruang tunggu biasa yang panas, bukan Executive Lounge.

OBJEK 3: BEKAL MAKANAN

Lokasi: Kantong kresek hitam di meja.

Isi: Nasi Bungkus karet merah (Nasi Rames) yang sudah dingin.

Analisis: Gerbong Eksekutif menyediakan menu restorasi yang bisa dipesan. Penumpang Eksekutif jarang bawa nasi bungkus karet merah. Nasi itu juga sudah berembun, artinya dibeli di luar stasiun sekitar 2 jam lalu.

Fakta Tambahan: Ada remah Tahu Sumedang di lantai. Tahu Sumedang hanya dijual oleh pedagang asongan yang mangkal di pintu masuk Ekonomi, pedagang asongan dilarang masuk area drop off Eksekutif.

Deduksi: Jalur masuk mereka adalah Pintu Selatan (Ekonomi).

OBJEK 4: KERINGAT & BEDAK

Lokasi: Dahi dan leher Ibu.

Analisis: Bedaknya luntur di bagian T-Zone. Keringatnya mengalir dari pelipis.

Fakta: Gerbong Eksekutif suhunya 20 derajat. Gerbong Ekonomi 24-26 derajat (kalau penuh). Jika dia sudah lama di sini, keringatnya harusnya kering. Tapi dia masih berkeringat.

Deduksi: Dia baru saja berjalan jauh. Kemungkinan besar berjalan dari Gerbong 8 atau 9 (Ekonomi Paling Belakang) menerobos gerbong makan untuk sampai ke Gerbong 1. Perjalanan sekitar 200 meter membawa beban.

 

 Aku tersenyum miring. Aku melangkah maju, berdiri tegak di tengah lorong agar suaraku terdengar jelas.

"Ibu bilang Ibu punya hak di sini?" tanyaku lantang.

"Iya dong! Saya manusia! Saya punya hak!" jawabnya ngegas.

"Baik. Mari kita bedah hak Ibu."

Aku menunjuk saku dasternya. "Kertas oranye di saku Ibu itu. Itu tiket Ekonomi Premium Subclass C. Harganya sekitar 200 ribu. Gerbongnya adalah Gerbong 8 atau 9 di ujung belakang rangkaian kereta."

Wajah si Ibu pucat sekilas. "K-kamu tau dari mana?!"

"Analisis, Bu. Dan..." Aku menunjuk sepatunya. "Di sepatu Ibu ada debu merah bata. Itu debu dari area konstruksi perbaikan peron di jalur 3 Stasiun Gambir, yang merupakan akses khusus penumpang Ekonomi saat ini. Penumpang Eksekutif lewat jalur 1 yang sudah dikeramik granit."

Penumpang lain mulai berbisik-bisik.

"Dan yang paling jelas," lanjutku tanpa ampun. "Ibu masih berkeringat deras padahal AC di sini 18 derajat. Itu artinya Ibu baru saja melakukan perjalanan jauh. Ibu berjalan kaki dari Gerbong 9, melewati Gerbong Makan, menyusup lewat pintu bordes yang mungkin tidak dikunci petugas, sampai ke Gerbong 1 ini. Itu jaraknya hampir 300 meter Bu. Pantas Ibu capek dan laper makan jeruk."

Si Ibu gelagapan. "Itu... itu saya tadi olahraga! Senam!"

"Senam di kereta? Kreatif." Aku menatapnya tajam. "Bu, tindakan Ibu ini namanya Pencurian Fasilitas. Ibu membayar untuk Ekonomi, tapi menikmati Eksekutif. Ini pidana ringan, tapi memalukan berat. Dan yang lebih parah..."

Aku menatap si Bocil yang masih makan kerupuk. "Ibu mengajarkan anak Ibu untuk mengambil hak orang lain sejak dini. Ibu mau anak Ibu gedenya jadi apa? Koruptor? Penyerobot tanah?"

Kalimat terakhir itu menohok telak. Ibu-ibu paling anti dibilang gagal mendidik anak. Wajahnya merah padam karena malu. Penumpang lain mulai menatapnya sinis. "Iuh, ternyata penyusup." "Parah banget, udah salah ngotot."

Tiba-tiba, pintu gerbong terbuka. Masuklah dua orang Polsuska (Polisi Khusus Kereta Api) yang gagah dengan seragam biru tua dan baret. Mereka sepertinya mendengar keributan (atau mungkin dipanggil oleh penumpang lain).

"Selamat sore. Ada masalah apa ini?" tanya Pak Polsuska.

Aku mundur selangkah, memberikan panggung pada fakta. "Pak, Ibu ini sepertinya tersesat. Tiketnya Ekonomi Gerbong 9, tapi beliau bersikeras ini kursi beliau. Mungkin Bapak bisa bantu antar beliau ke jalan yang benar?"

Pak Polsuska menatap si Ibu. "Boleh lihat tiketnya Bu?"

Si Ibu gemetar. Dia tidak bisa berkutik. Dia mengeluarkan tiket lecek itu. Pak Polsuska mengeceknya. "Bu... ini Gerbong 9. Ini Gerbong 1. Jauh sekali Bu nyasarnya. Ibu harus pindah sekarang. Kursi ini milik Mbak ini."

"Tapi Pak... anak saya..." Si Ibu mencoba drama air mata.

"Mari saya bantu bawa tasnya. Kalau Ibu tidak mau pindah, kami terpaksa menurunkan Ibu di stasiun Bekasi," kata Pak Polsuska tegas namun sopan.

Ancaman "Diturunkan di Bekasi" adalah ancaman paling efektif. Siapa yang mau diturunkan di planet lain?

Dengan wajah tertunduk malu, si Ibu berdiri. Dia menggeret anaknya yang masih ngunyah kerupuk. "Ayo Dek, kita diusir sama orang jahat," gumamnya pelan, masih mencoba denial.

Tapi tidak ada yang simpati. Penumpang satu gerbong menatapnya dengan tatapan "Syukurin". Mereka berjalan keluar gerbong dikawal Polsuska, melakukan Walk of Shame sepanjang lorong kereta.

Aku berdiri di samping kursiku. Menepuk-nepuk jok yang penuh remah kerupuk dan kulit jeruk.

 

Setelah kursi kubersihkan, aku akhirnya duduk. Ah... empuk. Dingin. Wangi.

Kereta mulai bergerak perlahan meninggalkan Stasiun Gambir. Pemandangan kota Jakarta yang macet terlihat di jendela. Aku merasa menang. Aku merasa di puncak rantai makanan. "Inilah hidup," gumamku sambil memasang headphone. Aku membuka Instagram. Memotret jendela dengan latar senja. Caption: "Goodbye Jakarta. Goodbye Drama. Saatnya Healing. Sendiri lebih baik."

Kereta melaju. Aku memejamkan mata, menikmati lagu Payung Teduh. Kursi di sebelahku (9B) masih kosong. Syukurlah. Mungkin yang punya tiket telat atau batal. Artinya aku bisa menguasai dua kursi sekaligus. Aku bisa tidur selonjoran! Rezeki anak sholehah.

Namun, kedamaian itu terusik saat kereta berhenti sebentar di Stasiun Jatinegara (untuk menaikkan penumpang terakhir). Pintu gerbong terbuka. Seseorang masuk dengan tergesa-gesa, membawa tas ransel besar. Dia berjalan menyusuri lorong, mengecek nomor kursi.

Dia berhenti tepat di sampingku. "Permisi... Maaf, kursi 9B..."

Suara itu. Aku kenal suara itu. Suara yang biasanya terdengar ragu-ragu di pantry kantor. Aku membuka mata perlahan. Menoleh ke kanan.

Di sana, berdiri seorang pria dengan kemeja flanel kotak-kotak, rambut agak berantakan kena angin, dan wajah yang basah oleh keringat (tapi wangi sabun bayi). Dia memegang tiket di tangan yang gemetar.

Itu Aryo. OB kantorku. Si Aryo yang rajin, yang suka buatin kopi, yang kemaren ngasih cokelat pas aku ultah.

Aryo menatapku. Aku menatap Aryo.

Mata Aryo membelalak lebar, seolah melihat hantu. Wajahnya langsung pucat pasi, lalu berubah merah padam dalam hitungan detik. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar. Dia freeze total.

Aku? Aku kaget, tapi kemudian tersenyum santai. Biasa aja. "Eh? Aryo? Loh, kamu naik kereta ini juga?" sapaku ramah, seolah bertemu teman lama di warteg.

"M... M... Mbak... Mbak Devi?" suaranya mencicit seperti tikus kejepit pintu. "I... iya Mbak. Pulang kampung... I... ini kursi saya..." Dia menunjuk kursi 9B dengan jari telunjuk yang gemetar hebat.

"Wah, kebetulan banget ya! Dunia sempit amat. Sini duduk, Yo. Masih kosong kok dari tadi. Kirain siapa." Aku menggeser tasku yang tadi kutauh di kursi 9B. "Duduk sini. Santai aja. Jangan kaku gitu, kayak lagi diwawancara Pak Bos. Kita lagi di luar kantor nih."

Aryo duduk dengan gerakan kaku seperti robot yang belum diminyaki. Dia duduk di ujung kursi, berusaha menyisakan jarak sebanyak mungkin antara kami, seolah-olah kalau bersentuhan dia bakal meledak atau kesetrum listrik tegangan tinggi. Dia memeluk tas ranselnya di dada sebagai tameng pertahanan diri.

"Kamu turun di Surabaya juga Yo?" tanyaku basa-basi sambil membuka snack keripik kentang.

"B-bukan Mbak..." jawabnya tanpa berani menoleh. Pandangannya lurus ke depan, menatap layar TV gerbong yang mati. "Saya... saya turun di Purwokerto. Asli sana Mbak."

"Oh, Purwokerto. Berarti nanti tengah malem ya sampenya. Masih lama. Yaudah, kalau mau tidur, tidur aja Yo. Atau mau keripik?"

"E-enggak Mbak. Makasih. Saya... saya puasa." (Padahal bukan bulan puasa).

Aku mengernyitkan dahi. "Puasa? Senin-Kamis? Ini kan Jumat, Yo."

"Ehh... Puasa... Puasa Daud Mbak. Eh bukan... Puasa ganti utang... Eh..." Aryo makin gelagapan. Keringat dingin sebesar biji jagung menetes di pelipisnya.

Aku tertawa kecil. "Aneh kamu Yo. Gugup banget kayak ketemu mertua. Santai aja kali. Yaudah, aku mau tidur dulu ya. Bangunin kalau ada pramugari lewat bawa nasi goreng."

"S-siap Mbak."

Aku sama sekali tidak curiga. Di pikiranku, Aryo gugup karena dia merasa sungkan duduk di sebelah "Atasan" atau senior di kantor. Wajar sih, budaya feodal kantor kami kan kuat. Mungkin dia takut aku laporin ke HRD kalau dia ngorok atau bau badan. Padahal mah aku santai orangnya.

Aku kembali memasang headphone, bersandar nyaman ke jendela, dan memejamkan mata. Akhirnya... kedamaian. Tidak ada ibu-ibu rese. Tidak ada bocil tantrum. Hanya Aryo yang diam seperti patung. Aman.

Aku mulai terhanyut dalam mimpi.

 

[SUDUT PANDANG: ARYO]

MATI AKU. MATI AKU. MATI AKU.

Jantungku berdetak 200 kali per menit. Aku rasa rusukku bakal patah dihajar jantungku sendiri. Ya Tuhan, dari sekian juta manusia di Indonesia, dari sekian ribu kursi kereta api, kenapa... KENAPA AKU DUDUK DI SEBELAH MBAK DEVI?!

Skenario macam apa ini Tuhan? Aku cuma mau pulang ke Purwokerto. Nengok Simbok. Aku nabung mati-matian buat naik Eksekutif biar bisa ngerasain jadi orang kaya sehari. Dan hadiahnya? Duduk di sebelah wanita yang fotonya kusimpan di dompet.

Aku melirik sedikit lewat ekor mata. Mbak Devi sudah tidur. Wajahnya tenang, damai. Cantik banget. Kepalanya miring sedikit ke arah jendela. Bau parfumnya... wangi vanilla lembut... tercium jelas. Mengalahkan bau AC kereta.

Aku menahan napas. Takut napasku yang bau kopi sachet ini mengganggu tidurnya. Tanganku yang memeluk tas ransel sudah basah kuyup oleh keringat. Mbak Devi tadi ngajak ngobrol santai banget. Dia gak tau. Dia gak tau kalau di sebelah dia ada gunung berapi yang siap meletus karena gugup.

"Tahan Aryo... Tahan..." bisikku dalam hati. "Purwokerto masih 5 jam lagi. Jangan pingsan. Jangan ngiler. Jangan kentut."

Tiba-tiba, kereta berguncang sedikit karena melewati wesel rel di daerah Cirebon. Kepala Mbak Devi oleng dari jendela. Dan... PLUK. Kepalanya jatuh bersandar di bahu kiriku.

AKU BERHENTI BERNAPAS. Darahku berhenti mengalir. Waktu berhenti. Bahuku... bahu Aryo si OB... sekarang menjadi bantal bagi Devi. Rambutnya menggelitik leherku. Hangat napasnya terasa di lengan kemejaku.

Aku kaku. Tidak berani bergerak satu milimeter pun. Rasanya seperti memikul beban dunia, tapi beban ini indah sekali. Dalam hati, aku berteriak tanpa suara: "SIMBOK!!! ANAKMU BAHAGIA!!! TAPI ANAKMU JUGA MAU MENINGGAL SAKING GROGINYA!!!"

Kereta Bima terus melaju menembus malam Jawa Tengah. Membawa satu wanita yang tidur nyenyak tanpa beban, dan satu pria yang sedang mengalami serangan jantung romantis terparah dalam sejarah hidupnya.

 

Bahu kiriku sudah mati rasa sejak 30 menit yang lalu. Kesemutan hebat mulai menjalar dari lengan atas sampai ke ujung jari kelingking. Rasanya seperti ada ribuan semut rangrang sedang tawuran di dalam pembuluh darahku.

Tapi, apakah aku bergerak? Tentu tidak. Jangankan bergerak, bernapas saja aku lakukan dengan teknik micro-breathing. Sedot dikit, tahan, keluarin dikit. Aku takut guncangan dari rongga dadaku akan membangunkan Tuan Putri.

"Tahan Aryo... Tahan..." batinku menjerit. "Ini adalah puncak pencapaian hidupmu. Bahumu sekarang adalah benda cagar budaya. Jangan dirusak."

Wangi sampo Mbak Devi, aroma vanilla bercampur stroberi, menusuk hidungku, memabukkan sistem limbik otakku. Aku merasa sedang high, tapi tanpa narkoba. Hanya bermodal bahu pegal dan cinta bertepuk sebelah tangan.

Tiba-tiba, kereta berguncang agak keras saat melintasi jembatan. Mbak Devi terusik. Dia menggeliat pelan, lalu mengangkat kepalanya dari bahuku. Matanya mengerjap-ngerjap lucu, mengumpulkan nyawa.

"Euhhh..." Dia menguap kecil (tutup mulut pake tangan, sopan banget). Lalu dia menoleh padaku. "Lho? Aryo? Aku ketiduran ya?"

Aku langsung pura-pura sibuk melihat jendela (yang gelap gulita). "Eh? Iya Mbak. Pules banget kayaknya."

"Aduh, maaf ya Yo. Aku nyender di bahu kamu ya tadi? Berat gak? Maaf banget, aku kebiasaan kalau tidur suka oleng."

"Enggak kok Mbak! Ringan! Sumpah! Ringan banget kayak kapas! Saya malah gak kerasa apa-apa!" dustaku. Padahal bahuku rasanya mau copot dari engselnya.

Devi tertawa kecil, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. "Kamu gak tidur Yo? Matamu merah tuh."

"Enggak Mbak. Saya... saya lagi jaga lilin. Eh maksudnya jaga barang."

Devi melihat jam tangannya. "Jam 8 malem. Pantesan perutku nyanyi. Yo, aku mau ke gerbong makan (restorasi). Mau ikut sekalian? Cari anget-anget?"

Deg. Diajak makan? Berdua? Di gerbong makan yang romantis (katanya)? Sebenarnya aku tidak lapar. Asam lambungku memang naik karena stress, tapi nafsu makanku hilang karena grogi. Dompetku juga sedang dalam mode hemat ekstrem. Tapi, menolak ajakan Devi adalah dosa besar. Kapan lagi aku bisa dinner (walau cuma makan nasi goreng kereta) bareng dia?

"Boleh Mbak. Kebetulan saya juga... butuh asupan."

Kami berdiri. Aku berjalan di belakang Devi menyusuri lorong gerbong. Aku berjalan seperti zombie. Kaki kaku, tangan gemetar. "Ayo Aryo, act cool. Jangan malu-maluin," bisikku pada diri sendiri.

Gerbong makan (Restorasi) Kereta Bima didesain cukup mewah. Lampu kekuningan, meja-meja bersih, dan aroma kopi yang kuat. Kami duduk berhadapan di salah satu meja kosong. Posisi ini... sangat intim. Lutut kami hampir bersentuhan di bawah meja. Aku menarik kakiku sejauh mungkin ke belakang sampai betisku kram.

Seorang prama (pelayan kereta) datang memberikan buku menu. "Silakan Kak."

Aku membuka menu. Devi membuka menu. Satu detik kemudian, kami berdua kompak melotot. Wajah Devi pucat. Wajahku lebih pucat.

Nasi Goreng Parahyangan Legend: Rp 45.000,- Bistik Daging Sapi: Rp 65.000,- Teh Manis Panas: Rp 15.000,-

Di dunia nyata (warteg), 45 ribu itu bisa buat makan 3 hari. Di sini, cuma dapet nasi goreng sepiring. Aku melihat Devi meraba-raba tasnya. Wajahnya tampak ragu. Aku tahu, Devi juga budak korporat yang gajinya sering numpang lewat. Apalagi ini akhir bulan. Dia pasti sedang berhitung, apakah nasi goreng ini layak ditukar dengan kuota internet seminggu.

Di sinilah jiwa ksatria (dan kebodohan finansial) Aryo muncul. Ini kesempatanku untuk Show Off. Menunjukkan bahwa Aryo mampu menjadi penyedia.

"Mbak Devi pesen apa? Pesen aja. Saya yang traktir," kataku impulsif.

Devi kaget. "Eh? Jangan Yo! Mahal lho ini. Kita bayar sendiri-sendiri aja."

"Gak papa Mbak! Santai! Saya abis... abis menang lotre. Eh maksudnya dapet bonus lemburan. Pesen aja Mbak, yang paling enak. Bistik? Atau Nasi Goreng?"

"Beneran Yo? Gak ngerepotin?"

"Enggak lah. Buat temen sendiri masa itungan." (Padahal dalam hati aku menangis darah. Selamat tinggal uang pegangan Purwokerto).

"Yaudah deh. Aku Nasi Goreng aja satu. Sama air mineral." Devi tersenyum lega.

"Mas, Nasi Goreng dua. Air mineral dua," pesanku pada prama. Total 100 ribu lebih. Oke Aryo. Kamu makan nasi goreng seharga emas hari ini. Nikmati.

Makanan datang. Kami mulai makan. Suasana hening sejenak, hanya terdengar suara sendok beradu dengan piring. Devi, yang dasarnya extrovert dan ramah, mencoba mencairkan suasana.

"Enak ya Yo nasinya. Bumbunya kerasa," kata Devi santai.

"Iya Mbak. Berasa... berasa nasi," jawabku kaku. Bodoh.

Devi tertawa. "Ya iya lah nasi. Maksudku, kamu asli Purwokerto kan? Di sana makanan khasnya apa sih? Mendoan ya?"

Ini pertanyaan mudah. Aku bisa menjawabnya dengan panjang lebar. Aku bisa cerita soal Mendoan, Soto Sokaraja, Getuk Goreng. Tapi karena yang nanya Devi, otakku buffering.

"Iya Mbak. Mendoan. Tempe. Digoreng. Tepung. Enak. Lembek." Jawaban macam apa itu? Kayak telegram jaman penjajahan.

Devi menatapku geli. "Kamu kenapa sih Yo? Kok tegang banget?"

"Enggak Mbak! Saya... saya cuma... menikmati pemandangan." Aku keceplosan. Aku menatap wajahnya saat bilang begitu.

Devi menoleh ke jendela yang gelap gulita (cuma ada pantulan wajah kami). "Pemandangan apa? Gelap gitu."

"Eh... maksudnya pemandangan interior kereta. Bagus ya kayunya. Estetik."

"Hahaha, kamu lucu ya Yo. Di kantor pendiem, ternyata aslinya random."

Dia bilang aku lucu. Poin plus! Atau poin minus karena dianggap badut? Entahlah. Yang penting dia ketawa. Kami melanjutkan makan. Aku mulai sedikit rileks. Devi bercerita soal Si Botak (Bos kami) yang rambutnya makin licin, soal kucingnya di kosan, soal drama teman-temannya. Aku hanya menjadi pendengar setia. Menatap bibirnya yang bergerak lincah saat bercerita, matanya yang berbinar. Aku sadar satu hal: Aku benar-benar jatuh cinta pada wanita ini. Bukan hanya karena dia cantik di mataku, tapi karena dia... hangat.

Setelah makan, Devi memesan kopi panas. "Biar melek Yo. Nanti turun Surabaya masih harus naik taksi."

Kopi datang. Cangkir kertas dengan tutup plastik. Kereta melaju kencang. Tiba-tiba, ada guncangan keras (mungkin pindah jalur). GUBRAK! Devi kaget. Tangannya menyenggol cangkir kopi. BYUUR! Kopi panas itu tumpah. Bukan ke Devi. Tapi muncrat ke arahku. Ke kemeja flanel bagian dada dan perut.

"ASTAGA! ARYO!" Devi panik.

"Panas! Panas!" Aku refleks berdiri, mengibas-ngibaskan baju.

Devi langsung berdiri, mengambil tisu, dan dengan sigap (dan tanpa sadar) mulai mengelap kemejaku. "Maaf Yo! Maaf banget! Sumpah aku gak sengaja! Panas ya? Kulit kamu melepuh gak?"

Wajah Devi berada tepat di depan dadaku. Tangannya mengusap-usap dadaku (meski terhalang baju). Jarak kami... nol sentimeter. Aku bisa merasakan napasnya yang panik di leherku. Aku bisa melihat pori-pori wajahnya yang halus. Aku bisa mencium wangi kopinya bercampur wangi parfumnya.

Otakku meledak. Jantungku bukan lagi berdetak, tapi sedang breakdance. DUG DUG TAK DUG DUG TAK! Sensasi panas kopi hilang, digantikan sensasi panas demam panggung. Wajahku memerah padam, keringat bercucuran deras seperti air terjun Niagara.

Devi mendongak, menatap wajahku. "Yo? Kamu kok merah banget? Kamu... kamu sesak napas? Atau alergi kopi? Muka kamu kayak kepiting rebus!"

"S-saya... saya gapapa Mbak... Cuma... Cuma kaget..." suaraku tercekat.

"Duh, kamu keringetan parah! Kamu sakit ya? Masuk angin?" Devi menempelkan punggung tangannya ke dahiku. Tangan Devi. Dingin. Lembut. Di jidatku.

SYSTEM OVERLOAD. SHUTTING DOWN. Aku mundur selangkah, hampir menabrak kursi orang lain. "S-saya ke toilet bentar Mbak! Bersihin baju!"

Aku lari ke toilet gerbong makan. Mengunci pintu. Menatap cermin. Wajahku memang merah padam. "Gila... Gila... Hampir mati gue..." Aku membasuh muka. "Tahan Aryo. Jangan pingsan. Jangan baper. Dia cuma ngelap kopi. Bukan minta dilamar."

 

Setelah insiden kopi, kami kembali ke kursi 9A dan 9B. Kereta mulai melambat. Pengumuman berbunyi: "Sesaat lagi kita akan tiba di Stasiun Cirebon. Kereta akan berhenti selama 10 menit."

Aku butuh udara segar. Berada di samping Devi dengan sisa aroma kopi di baju dan kenangan tangan dia di dadaku membuatku sulit bernapas. "Mbak, saya turun bentar ya. Cari angin. Jantung saya... eh maksudnya paru-paru saya butuh Oksigen Cirebon."

"Oke Yo. Jangan jauh-jauh ya. Nanti ditinggal."

Aku turun ke peron. Menghirup udara malam Cirebon yang agak panas tapi melegakan. Aku melakukan stretching kecil untuk menenangkan detak jantung.

Lima menit berlalu. Petugas mulai meniup peluit panjang. "Persiapan keberangkatan Kereta Bima..." Aku buru-buru naik kembali ke gerbong. Saat aku masuk ke bordes, aku melihat seorang bapak-bapak (penumpang gerbong kami) sedang panik bicara dengan Polsuska. "Pak! Istri sama anak saya belum balik! Tadi ke toilet stasiun katanya! Ini kereta udah mau jalan!"

Aku masuk ke dalam gerbong. Devi menatapku dengan wajah bertanya-tanya. "Ada apa Yo? Kok ribut?"

Aku duduk, menatap bapak yang panik itu. "Itu Mbak. Bapak di kursi 5C. Istri sama anaknya ketinggalan. Belum balik dari toilet stasiun."

Devi melongo. "Hah? Terus gimana? Kereta udah mau jalan lho ini. Kasian kalau sampai ketinggalan,"

"Apa aku tolong saja ya berdebat dengan kondektur agar kereta bisa ditunda sesaat"

"Jangan mbak" ucapku.

 "Tapi gimana? Kasian yo.."

Aku melihat jam. Kereta akan berangkat dalam waktu kurang dari 2 menit. Otakku berputar. Aku melihat ke luar jendela. Peron sepi. Toilet stasiun ada di ujung utara, sekitar 100 meter dari posisi gerbong kami (Gerbong 1).

Waktu melambat. Aku masuk ke dalam Mind Palace (Istana Pikiran) milikku.

[DATA INPUT]

Waktu Berhenti: 10 Menit.

Waktu Sekarang: Menit ke-9 detik 30.

Subjek: Ibu (30-an tahun) dan Anak (Balita).

Lokasi Terakhir: Toilet Stasiun (Ujung Utara).

Jarak: 100 meter.

Kecepatan Jalan Rata-rata Ibu bawa Anak: 0.8 meter/detik.

Hambatan: Antrean toilet wanita selalu panjang (Faktor X). Anak kecil jalannya lambat atau minta digendong (Faktor Y).

[SIMULATION START]

Jika Ibu itu lari dari toilet sekarang, dengan menggendong anak seberat 15kg, kecepatannya maksimal 2 meter/detik. Jarak 100 meter butuh 50 detik. Kereta akan bergerak dalam 30 detik. Conclusion: Mereka tidak akan sempat sampai di pintu Gerbong 1 (posisi kami). Mereka akan tertinggal.

KECUALI... Kecuali mereka masuk lewat pintu gerbong paling belakang (Gerbong 9 atau 8) yang posisinya lebih dekat dengan toilet. TAPI... Pintu otomatis kereta sudah mulai ditutup satu per satu oleh petugas.

Aku menatap Devi. Wajahku berubah serius. Bukan lagi Aryo si OB pemalu. "Mbak Devi. Dengerin saya."

"K-kenapa Yo? Kok serem?"

"Ibu dan anak itu masih lari dari arah toilet. Mereka gak bakal keburu sampe sini. Mereka butuh bantuan."

Aku berdiri. Adrenalin membanjiri tubuhku. "Mbak Devi, tolong berdiri di pintu bordes belakang (sambungan Gerbong 1 dan 2). Tahan pintunya jangan sampe ketutup otomatis atau dikunci petugas. Pura-pura aja lagi nelpon atau lagi muntah. Apapun. Tahan pintunya 1 menit."

"Hah? Kamu mau ngapain Yo?"

"Saya mau jemput mereka. Trust me."

Tanpa menunggu jawaban, aku lari. Aku turun dari kereta (mumpung pintu belum rapat). Aku menjejakkan kaki di peron Cirebon. Aku melihat ke arah utara. Benar saja. Di kejauhan, di bawah remang lampu peron, terlihat seorang Ibu berlari tergopoh-gopoh sambil menggendong anak yang menangis. Dia kepayahan. Tasnya melorot. Langkahnya berat. Jaraknya masih 80 meter. Peluit kereta berbunyi lagi. PRIITTT! Roda kereta mulai berdecit. Sreeeet... Kereta mulai bergerak sangat pelan.

"LARI BU! LARI!" teriakku sambil berlari sprint ke arah mereka.

Aku berlari secepat Usain Bolt dikejar anjing. Napasku memburu. Aku sampai di depan Ibu itu. "Bu! Sini anaknya! Biar cepet!"

Ibu itu kaget, tapi melihat seragamku (kemeja flanel sih, tapi tampangku meyakinkan), dia menyerahkan anaknya. "Tolong Mas! Tolong!"

Aku menggendong anak itu di dada kiri. "Ibu lari sekuat tenaga!" "LARI BU! KE PINTU ITU!" Aku menunjuk pintu gerbong yang terbuka di kejauhan, tempat Devi berdiri dengan wajah cemas.

Kami berlari. Kereta mulai menambah kecepatan. Jegjes... Jegjes... Langkahnya makin cepat. Ibu itu berlari di depanku (karena bebannya sudah kuambil). Dia berlari dengan kekuatan The Power of Kepepet.

"AYO BU! DIKIT LAGI!"

Devi di pintu gerbong berteriak sambil melambaikan tangan. "SINI BU! CEPETAN!" Devi menahan pintu dengan badannya, menghalangi Polsuska yang mau menutupnya. "Bentar Pak! Ada yang ketinggalan! Suami saya! (Dia bohong demi nyelamatin situasi, nice!)."

Si Ibu sampai di pintu. Devi dan Polsuska menarik tangan Ibu itu. HUP! Si Ibu berhasil naik. Selamat.

Sekarang giliran aku dan si anak. Kereta makin cepat. Aku berlari sejajar dengan pintu yang terbuka. Kakiku mulai terasa berat. Paru-paruku terbakar. Anak di gendonganku menangis kencang.

Kereta Bima tidak kenal ampun. Monster besi itu terus menambah kecepatan. Jegjes... JEGJES... JEGJES... Sekarang kecepatannya mungkin sudah 15 km/jam.

Aku berlari sejajar dengan pintu gerbong yang terbuka. Napasku seperti peluit ketel uap yang bocor. Kakiku yang terbiasa ngepel lantai, kini dipaksa lari sprint membawa beban hidup orang lain.

Aku melihat pintu yang terbuka itu. Jaraknya hanya satu meter di depanku, tapi rasanya seperti satu kilometer. Di bingkai pintu itu, ada wajah Devi yang panik, tangannya terulur. Ada Pak Polsuska yang siap menangkap.

Time Dilation: ON. (Waktu melambat secara ekstrem).

Suara deru kereta meredup, digantikan oleh suara detak jantungku sendiri yang seperti bom waktu. Dug... Dug... Dug... Mataku menyipit, memindai situasi dalam milidetik. Visualisasi data bermunculan di retinaku.

[SITUATIONAL ANALYSIS]

Kecepatan Kereta (V_train): 15 km/jam dan terus meningkat (akselerasi positif).

Kecepatan Lari Aryo (V_aryo): 15 km/jam (maksimal, betis sudah mau kram).

Beban Kiri (Payload): Balita gembul (± 15 kg) + Gaya gravitasi + Gaya rengekannya.

Kondisi Tangan Kanan (Grip): Berkeringat hebat

Target Pegangan (Handle): Besi stainless steel vertikal di pintu kereta. Kondisi: Dingin, licin karena embun malam Cirebon.

Dua skenario muncul di benakku, lengkap dengan persentase keberhasilan yang kejam.

[SCENARIO A: Mencoba Naik Bersama Anak]

Tindakan: Tangan kanan meraih pegangan besi sambil tangan kiri tetap mendekap anak. Menggunakan momentum lari untuk mengayunkan tubuh naik ke tangga.

Kalkulasi Risiko: Beban 15kg di kiri akan mengganggu pusat gravitasi. Keringat di tangan kanan akan mengurangi koefisien gesek pada besi licin sebesar 80%.

Simulasi: Tangan meraih -> SLIP -> Keseimbangan hilang -> Aku jatuh terseret di celah antara peron dan roda kereta -> Anak ikut jatuh.

Probabilitas:

Sukses Naik: 5%

Cedera Berat/Fatal Ganda: 95%

Outcome: Anak ini akan mendapatkan cidera fatal, meninggal dunia karena luka di kepala, atau minimal sekarat.

[SCENARIO B: Korbankan Diri Demi Anak Orang]

Tindakan: Lupakan pegangan besi. Fokuskan seluruh sisa tenaga untuk melempar/mengoper anak ke tangan Polsuska dan Devi yang sudah siap.

Kalkulasi Risiko: Perpindahan beban 15kg secara mendadak akan menghentikan momentum lariku seketika. Kecepatan kereta akan langsung meninggalkanku.

Simulasi: Oper anak -> Anak ditangkap (Aman) -> Aku kehilangan kecepatan -> Pintu menjauh -> Aku tertinggal di Cirebon sendirian kayak anak ilang.

Probabilitas:

Anak Selamat: 99.9%

Aryo Naik Kereta: 0.01%

Aryo Jadi Gembel Di Cirebon: 99.99%

Outcome: Kehilangan kesempatan duduk 4 jam lagi di samping Devi, tapi anak ini bisa berkumpul kembali dengan orang tuanya, dan bebas cidera.

Waktu kembali berjalan normal. SNAP!

Pilihan sudah dibuat. Otakku memilih Skenario B. Hatiku memilih Devi, tapi nuraniku memilih si Bocil. Maafkan aku, bahu kanan yang ingin disenderi Devi lagi. Malam ini kita berkorban.

"PAK! TANGKAP PAK!" teriakku.

Aku mengerahkan sisa tenaga terakhir. Bukan untuk melompat naik, tapi untuk mendorong si Bocil ke atas, ke arah tangan-tangan yang terulur itu. Anak itu melayang sebentar di udara, sebuah human projectile yang lucu.

HUP! Pak Polsuska menangkapnya dengan sempurna. Devi langsung memeluk anak itu. "DAPET!" teriak Devi.

Misi penyelamatan sukses. Anak aman. Tapi sesuai perhitungan Skenario B, momentumku habis. Kereta Bima melesat meninggalkanku. Ujung peron stasiun sudah mau habis, aku tidak akan ada waktu untuk memperlambat langkah kaki, dengan kecepatan lari segini, daripada aku cidera lebih parah karena jatuh keujung peron, jarak tanah berbatu tajam dan aspal peron cukup jauh, aku bisa minimal patah kaki atau kepala bocor. Aku memutuskan menjatuhkan diri sekarang.

Aku jatuh berguling di aspal peron. GUBRAK!

Aku mendongak. Pintu gerbong menjauh. Di sana, aku melihat wajah Devi. Matanya terbelalak horor. Mulutnya meneriakkan namaku. "ARYOOO!!!"

Pintu tertutup. Lampu belakang kereta berwarna merah mengecil di kejauhan. Menghilang di tikungan gelap.

Hening. Hanya suara napas ngos-ngosanku yang terdengar di Stasiun Cirebon yang sepi.

Aku mencoba tersenyum, senyum kuli bangunan yang baru saja menyelesaikan gedung pencakar langit tapi gak bisa masuk ke dalamnya. Aku mengangkat tangan kananku, memberikan hormat dua jari ala pramuka. Salut, Kapten Devi. Saya gugur di medan perang Cirebon.

Lampu belakang kereta berwarna merah mengecil di kejauhan, lalu menghilang ditelan tikungan gelap.

Kakiku lemas. Adrenalin habis. Aku ambruk. Jatuh terduduk di aspal peron yang dingin, dikelilingi keheningan Stasiun Cirebon yang sepi.

Aku sendirian. Tas ketinggalan. Kamera ketinggalan. Tapi, hei... setidaknya aku terlihat keren di detik-detik terakhir tadi kan? Semoga Devi sempat merekamnya di memori otaknya, bukan cuma di story IG yang hilang dalam 24 jam.

Ibu dan anak itu selamat. Misi berhasil.

Masalahnya sekarang: Mission Survival dimulai.

Aku meraba saku. HP? Ada. Dompet? Ada. Tiket kereta? Ada (tapi udah gak guna karena keretanya udah pergi). Tas ranselku? DI DALAM KERETA. Jaketku? DI DALAM KERETA. Kamera DSLR Mas Hanif? DI DALAM TAS RANSEL.

"Mati gue," gumamku.

Aku berjalan gontai keluar stasiun. Aku mengecek saldo ATM di HP. Sisa saldo: Rp 50.000,- (Kan tadi udah dipake traktir Devi 100 ribu lebih). Uang tunai di dompet: Rp 20.000,- Total Aset: Rp 70.000,-

Tiket kereta Cirebon - Purwokerto harganya minimal 150 ribu (ekonomi). Kurang. Opsi lain? Bus. Aku bertanya pada tukang ojek pangkalan. "Pak, bus ke Purwokerto ada?" "Waduh Mas, kalau jam segini (jam 9 malem) harus ke terminal Harjamukti. Tapi busnya adanya nanti tengah malem atau subuh. Tarifnya sekitar 60-70 ribu kalau ekonomi."

Pas. Ngepas banget. Berarti aku gak bisa makan. Gak bisa minum enak.

Aku naik angkot ke terminal (bayar 5 ribu). Sisa 65 ribu. Sampai di terminal, suasananya suram. Gelap, banyak preman, bau solar. Aku duduk di bangku beton terminal yang dingin. Perutku lapar lagi (nasi goreng mahal tadi sudah terbakar jadi energi lari). Aku membeli air mineral gelas (500 perak) dan satu bungkus roti kasur murah (2 ribu).

Aku duduk merenung. Mengunyah roti yang rasanya seperti gabus. "Nasib... nasib... Tadi makan bistik sama bidadari di kereta eksekutif. Sekarang makan roti gabus sama nyamuk di terminal Cirebon."

Jam 11 malam. Aku masih duduk memeluk lutut, menahan kantuk dan dingin. Tiba-tiba, HP-ku bergetar. Notifikasi WhatsApp. Nomor tidak dikenal. Foto profilnya... foto kucing lucu.

Aku membukanya.

[Unknown Number]: "Aryo? Ini Devi. Aku minta nomor kamu ke Mas Hanif barusan."

Jantungku melompat. Devi? Nge-chat aku? Dia usaha minta nomor ke Mas Hanif? Demi aku?

[Aryo]: "Eh, iya Mbak Devi. Ini Aryo. Maaf ya Mbak jadi ngerepotin."

[Devi]: "YA AMPUN YO! Kamu gapapa?! Sumpah aku shock banget tadi liat kamu jatuh! Kamu luka gak? Kamu di mana sekarang?"

Aku tersenyum membaca kepanikan di teksnya. Dia peduli.

[Aryo]: "Aman Mbak. Cuma lecet dikit. Saya di terminal Cirebon. Nunggu bus ke Purwokerto. Santai aja Mbak, saya strong kok."

Tiba-tiba masuk sebuah foto. Foto selfie Devi. Di foto itu, Devi tersenyum lebar sambil dirangkul Ibu yang tadi kutolong. Si anak kecil juga ada, sedang digendong Devi, tersenyum sambil memegang permen. Latar belakangnya kursi kereta kita.

[Devi]: "Liat nih Yo. Si Ibu sama anaknya udah tenang. Bapaknya juga udah ketemu (dia di gerbong lain ternyata). Mereka nitip salam hormat banget buat kamu. Si adek ini manggil kamu 'Om Superman'."

Aku tertawa kecil melihat foto itu. Aku tak peduli wajah sekitarnya aku hanya peduli pada wajah Devi. Dan melihat dia menggendong anak itu... hatiku hangat. Rasa capek, sakit, dan lapar hilang seketika. Ternyata jatuh guling-guling di aspal itu worth it.

[Devi]: "Terus tas kamu gimana Yo? Tas ransel kamu ada di sini. Aku jagain ya. Aku turunin di Purwokerto atau gimana?"

Otakku berpikir. Kalau diturunin di stasiun Purwokerto, nanti ilang kalau gak ada yang ambil. Aku sampe sana masih subuh naik bus.

[Aryo]: "Mbak, boleh minta tolong gak? Tasnya Mbak Devi titipkan saja dengan petugas untuk ditaruh di stasiun purwokerto, ambil saja kamera didalam tas saya. Nanti... nanti pas Mbak Devi balik ke Jakarta, atau pas saya balik ke Jakarta, saya ambil kameranya. Biar aman. Boleh?"

Ini taktik. Modus. Biar ada alesan ketemu lagi nanti pas di Jakarta. Biar ada alesan buat nge-chat lagi nanyain kamera.

[Devi]: "Oh, boleh banget! Aku bawa ya ke rumahku di Surabaya. Aman kok. Nanti pas di kantor aku balikin."

Yes. Rencana berhasil.

[Devi]: "Yo..."

[Aryo]: "Ya Mbak?"

[Devi]: "Makasih ya. Tadi itu... aksi terkeren yang pernah aku liat secara langsung. Kayak film action. Kamu hebat banget. Gak nyangka orang pendiem kayak kamu punya nyali segede itu. Hati-hati di jalan ya Pahlawan. See you in Jakarta."

Aku membaca pesan terakhir itu berulang-ulang. "Aksi terkeren..." "Kamu hebat banget..." "See you in Jakarta..."

Aku menatap layar HP sampai redup. Senyumku tidak bisa hilang. Aku duduk di terminal bus yang bau solar, dikelilingi nyamuk, dengan uang sisa recehan. Tapi rasanya? Rasanya aku adalah pria paling kaya di dunia.

Bus ekonomi jurusan Purwokerto datang dengan suara knalpot yang batuk-batuk. Aku berdiri, menepuk debu di celanaku. Aku naik ke bus itu dengan langkah ringan.

Aku mungkin tertinggal kereta eksekutif. Aku mungkin kehilangan momen duduk 4 jam lagi di sebelah Devi. Tapi malam ini, aku mendapatkan sesuatu yang lebih berharga: Rasa hormatnya. Nomor WhatsApp-nya. Dan janji untuk bertemu lagi.

"Jakarta, tunggu Aryo pulang," bisikku sambil menyandarkan kepala di kaca jendela bus yang bergetar. Perjalanan cintaku baru saja dimulai. Dan kali ini, aku tidak akan hanya jadi penonton. Semoga aku adalah pemeran utamanya.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Komedi
Rekomendasi