MITOS BATU KATANYA?

Setiap Orang pasti pernah merasakan rasa takut. Ketakutan akan hal apapun. Seperti yang Sumi alami. Entah itu pagi, siang, sore, atau malam, sumi selalu merasa takut jika rasa itu datang. Rasa mulas yang sangat mengkhawatirkan. Yang meneror dan mengubahnya menjadi rasa takut. Ya, sumi takut kebelet BAB! Kenapa? Karena dirumahnya tidak adaWC. Silahkan saja anggap dia miskin, karena memang kenyataannya kurang mampu. Jangankan Mobil, jangankan motor, apalagi ATM, WC saja dia tak punya.

Ketika rasa mulas itu melanda, sumi biasanya bergegas ke jamban. Itupun tidak semudah yang difikirkan. Biasanya ada saja rintangan yang harus sumi lalui. Dari perjalanan yang panjang karena tempatnya yang jauh. Bahkan jika musim hujan datang, sumi harus berjalan becek-becekan, malah terkadang menerjang banjir hanya untuk menemukan tempat untuk melegakan hidupnya.

Untungnya, sekarang ditempat sumi sudah dibangun toilet umum untuk menggantikan jamban tersebut.

Suatu ketika rasa mulas itu datang, Dan Sumi bergegas ke Toilet umum yang tempatnya jauh dari rumahnya. Sepanjang perjalanan dia menahan adrenalinnya yang bergejolak didalam diri. Harapannya hanya satu, semoga dia tidak mengantri.

Sialnya, Sampai di Toilet, Dia memang harus mengantri. Untungnya dia hanya mengantri seorang diri. Sambil khawatir Sumi mencoba bersabar. Sumi berkata dalam hati, "Aduh sudah kebelet sekali, sudah mau keluar ini!". Dalam kekhawatirannya dia teringat mitos dimasa kecil. Bahwa katanya, menggenggam batu disaat kebelet BAB akan menyembuhkan rasa mulas. Dan dia segera mempraktekannya waktu itu, Dia mencari batu kecil lalu menggenggamnya erat. Tidak ada reaksi apapun setelah itu, yang ada hanya Rasa mulas yang masih utuh, dan malah bertambah semakin tidak tertahankan.

Ketika sedang merasakan mulas-mulasnya, Sumi melihat temannya Darti berjalan cepat terlihat panik menuju Toilet umum itu. Sumi langsung pasang muka santai agar tidak terlihat paniknya.

"Sumi, lagi apa disini?" tanya Darti.

"Lagi belanja!" jawab Sumi bercanda kesal.

"Eh malah ngelawak," Saut Darti.

"Lagian kenapa nanya? Kamu sendiri mau ngapain kesini?" Tanya Sumi sengaja.

"Mau BAB aku."

"Ya udah sama!" Sumi ngegas.

"Masih lama nggak orang yang didalam?"

"Nggak tau?"

"Aduh aku udah mulas banget ini."

Kemudian tanpa sengaja Darti melihat batu yang digenggam erat oleh Sumi. Lalu Dartipun bertanya,

"Itu kamu ngenggam apa, kok kayak batu? Ngapain kamu nggenggam batu?"

Sumi yang sudah terlanjur ketahuan, dengan gengsi mengalihkan jawabannya,

"Oh ini, nggak buat apa-apa. Cuma buat ngusir kucing, tadi pada berantem disana."

Tiba-tiba Darti teringat,

"Oh iya yah, batu kan katanya bisa ngobatin mulas yah? Ah coba ah, aku mau nyoba!"

Dartipun mencari batu kecil dan mengenggamnya erat. Sumi hanya diam memahami yang sedang Darti rasakan, Pasti sekhawatir dirinya. Tapi setelah menggenggam batu kecil itu, Darti tidak merasakan reaksi apapun. Mulasnya masih utuh dan malah bertambah mulas.

"Mana nih? katanya bisa nyembuhin mulas, masih utuh kok?!!" Kata Darti Melempar batu karena kesal.

"Oh mungkin batunya kurang besar?" Tanya Darti dengan sendirinya.

Kemudian Darti dengan inisiatifnya mengambil batu besar, sebesar semangka, lalu dia duduki batu itu.

"Nah kalo ini benar, batu ini bisa buat ngobatin mulas. Lumayan buat ngganjel," Kata Darti.

Kemudian setelah itu Sumi dan Darti menunggu mengantri bersama. Dari perististiwa Itulah, keduanya jadi tau mitos batu yang sebenarnya.

7 disukai 720 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction