Disukai
0
Dilihat
24
Vocalist Ga Sadar Diri
Komedi
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Di dunia ini, ada tiga hal yang tidak bisa dipaksakan: cinta yang bertepuk sebelah tangan, resleting celana yang sudah rusak dipaksa naik saat perut buncit, dan bakat menyanyi.

Sayangnya, hukum alam yang ketiga itu sama sekali tidak berlaku di ekosistem perumahanku.

Namaku Heru. Pemuda dengan saldo ATM yang selalu berteriak minta tolong di pertengahan bulan. Sejak SMA, aku punya mimpi besar untuk menjadi seorang rockstar. Aku mengidolakan Flea dari Red Hot Chili Peppers, dan aku menguasai instrumen bass dengan groove yang tidak main-main (setidaknya menurut ibuku saat aku main gitar sapu di kamar).

Di komplek perumahanku, aku tidak sendirian. Aku memiliki tetangga-tetangga yang menganggur namun diberkahi talenta musik tingkat dewa. Ada Ujang, pemuda berambut gondrong yang kalau memegang gitar elektrik, jari-jarinya bisa meliuk-liuk meniru melodi Yngwie Malmsteen dengan mata tertutup. Lalu ada Aryo, tukang galon di ujung gang yang kalau sudah duduk di balik set drum, double pedal-nya bisa menyaingi kecepatan peluru kendali.

Kami bertiga adalah fondasi ritme yang sempurna. Sebuah Holy Trinity dari dunia musik underground komplek. Kami berencana membuat band. Kami punya skill, kami punya passion, kami punya tampang (pas-pasan).

Tapi, kami punya satu masalah fundamental yang sangat fatal: Kami miskin.

Untuk nge-band, kami butuh uang. Sewa studio musik paling murah di daerah kami adalah lima puluh ribu per jam. Belum lagi uang bensin, uang rokok, dan uang makan setelah latihan. Kalau kami patungan bertiga, kami mungkin cuma bisa sewa studio selama sepuluh menit dan hanya sempat check sound "Tes, tes, satu dua, low, high," lalu diusir penjaga studio.

Di tengah keputusasaan finansial itulah, datang sebuah mukjizat (yang ternyata adalah kutukan yang menyamar).

Namanya Mas Joni. Mas Joni adalah anak juragan material di blok depan. Secara finansial, dia adalah sultan. Dompetnya setebal kamus bahasa Inggris. Mas Joni mendengar kabar bahwa kami sedang mencari vokalis sekaligus (secara tersirat) donatur utama.

Mas Joni mengajukan diri. Dia berkata, "Biar gue yang jadi vokalisnya. Urusan billing studio, kopi, rokok, martabak, nasi padang abis latihan, semua gue yang cover. Lu pada tinggal mainin alat musiknya aja."

Mendengar janji surga penuh karbohidrat dan protein gratis itu, aku, Ujang, dan Aryo langsung sujud syukur. Kami menyetujuinya tanpa proses audisi. Sebuah kesalahan terbesar dalam sejarah umat manusia.

Sebab, saat latihan pertama kami dimulai... alam semesta langsung menjatuhkan azabnya.

 

Studio Musik "Bising Melodi", jam 8 malam.

Kami masuk ke dalam studio yang kedap suara dan berbau keringat campur karpet lembap. Ujang menyandang gitarnya, tuning dengan cepat. Aryo memutar-mutar stik drum layaknya ninja. Aku menyetel strap bass-ku dengan gaya cool.

Mas Joni berdiri di tengah ruangan. Dia tidak membawa alat musik. Dia hanya membawa ego dan outfit-nya. Mas Joni memakai kaos V-neck hitam yang belahannya turun sampai ke ulu hati, jaket kulit imitasi yang kebesaran, dan celana jeans ketat. Rambutnya dibelah pinggir persis ala frontman band NOAH.

Ya. Mas Joni adalah penganut sekte Ariel Noah garis keras. Dia bernapas, berjalan, dan bertutur kata seolah-olah dia adalah reinkarnasi Ariel Noah (padahal Ariel masih hidup).

"Oke, Bro. Kita bawain lagu Separuh Aku ya," kata Mas Joni, suaranya sengaja dibuat serak-serak basah dan berat. Dia memegang tiang mic, memiringkannya 45 derajat, dan menundukkan kepalanya, bersiap melakukan signature move sang idola.

"Siap, Bos!" jawab kami serempak. Aryo menghitung mundur dengan ketukan stik drum. Satu, dua, tiga, empat!

Intro lagu dimainkan. Ujang memetik gitarnya dengan nada minor yang sangat presisi dan melankolis. Dentuman bass-ku mengaliri ritme dengan mulus, dan beat drum Aryo mengikat semuanya menjadi sebuah harmoni magis. Musik kami terdengar luar biasa. Kami terdengar seperti musisi bayaran kelas atas.

Lalu... Mas Joni membuka mulutnya.

Mas Joni mengambil napas panjang yang mendesis (Hhhhaaaahh...), sebuah teknik breathing khas Ariel, dan mulai menyanyi. "Daan terjadiiiii laaagiiiii.... kisah laaaamaaaaa yang terulaaaang kembbaaallliiii..."

NGIIIIIIINNNNGGGG!!!! Telingaku rasanya seperti ditusuk paku payung berkarat. Otak kiriku korslet. Otak kananku menjerit minta tolong.

Mas Joni tidak hanya fales. Kata "fales" (sumbang) terlalu ringan untuk mendeskripsikan tragedi ini. Suaranya seperti kucing garong yang sedang dikawinkan paksa saat terjepit pintu kontrakan. Nadanya terbang melintasi dimensi. Kalau instrumen kami sedang bermain di kunci C Minor, suara Mas Joni berada di kunci Z Minus Kuadrat! Dia bernyanyi seolah sedang melawan arus gravitasi bumi.

Cengkoknya? Mengerikan! Dia mencoba meniru lengkingan Ariel, tapi yang keluar malah seperti suara klakson bus antar-provinsi yang kemasukan air hujan.

Aku menatap Ujang. Mata Ujang melotot, jari-jarinya yang tadinya lincah mendadak kaku seolah terkena stroke ringan. Aku menatap Aryo. Aryo memukul simbal drumnya sekeras mungkin, mencoba menutupi suara Mas Joni dengan kebisingan instrumen, tapi suara cempreng Mas Joni menembus segalanya!

"Kaarnaa separuh.... aku... dirimu!!!" Mas Joni terus berteriak, matanya terpejam penuh penghayatan, tangannya menunjuk-nunjuk ke arah dinding studio yang dilapisi busa telur.

Dinding busa itu seolah ikut menangis menyerap polusi audio ini. Nyamuk-nyamuk yang tadi beterbangan di dalam studio mendadak jatuh pingsan satu per satu ke lantai karena frekuensi audionya merusak sistem navigasi mereka.

Saat lagu selesai, Mas Joni membuka matanya. Dia menyisir rambutnya ke belakang dengan jemari tangan, tersenyum bangga, dan terengah-engah sok dramatis. "Gimana, Bro? Dapet kan feel Ariel-nya? Sengaja gue tambahin distorsi vokal sedikit di ujungnya biar lebih grunge."

Aku, Ujang, dan Aryo saling bertatapan dalam keheningan mutlak. Telinga kami berdenging (tinnitus) level dewa.

Aku membuka mulut, bersiap untuk mengkritiknya. 'Jon, lu sadar nggak suara lu barusan bikin gue pengen tutup kuping?' Tapi, sebelum kata-kata itu keluar...

Mas Joni merogoh saku celananya, mengeluarkan dompet kulitnya yang tebal, dan meletakkan dua lembar uang seratus ribuan di atas amplifier. "Nih, billing studio dua jam udah gue bayar. Tar habis ini kita makan Nasi Padang ya, lauknya bebas, gue yang handle."

Mulutku yang tadinya terbuka untuk melontarkan makian, mendadak tertutup rapat. Rahangku terkunci oleh kekuatan kapitalisme. Sebagai warga negara Indonesia yang menjunjung tinggi budaya "Nggak Enakan", apalagi dihadapkan pada tumpukan Nasi Padang gratis... aku menelan ludah.

"G-gila, Jon..." kataku memaksakan senyum yang bergetar. "V-vokal lu... di luar nalar. Unik banget. Avant-garde."

"Bener, Jon!" Ujang menimpali dengan suara parau menahan tangis. "Gue sampai merinding... saking... saking bedanya suara lu sama manusia normal."

"Aman lah, Bos! Lanjut!" teriak Aryo memukul snare drumnya untuk menutupi penderitaan batinnya.

Maka, terbentuklah band kami. Kami menamainya "PETER-PAIN" (Pain, yang berarti rasa sakit. Tentu saja Mas Joni mengira itu dari kata Peterpan).

 

Bulan-bulan berikutnya adalah neraka jahanam bagi kami bertiga. Latihan band rutin diadakan dua kali seminggu. Bagi Mas Joni, itu adalah jadwal mengasah bakat seninya. Bagi kami bertiga, itu adalah jadwal penyiksaan mental terstruktur dari Guantanamo.

Kami tidak pernah bisa memperbaiki vokal Mas Joni. Setiap kali Ujang mencoba memberi tahu nada yang benar, "Jon, nadanya di sini, Jon... Hmmmm," Mas Joni akan menjawab, "Ah, lu nggak ngerti karakter vokal gue, Jang. Ini namanya improvisasi mikro-tonal. Ariel juga sering gini kalau lagi live."

Iya, Ariel mungkin berimprovisasi. Tapi Ariel tidak pernah terdengar seperti mesin bor aspal yang kehabisan bensin!

Namun, karena setiap selesai latihan Mas Joni selalu membelikan kami martabak terang bulan special keju cokelat, mentraktir kami ayam bakar, dan membelikan senar gitar baru untuk Ujang... budaya "Nggak Enakan" kami semakin menebal menjadi benteng kepengecutan. Kami rela telinga kami diperkosa demi gizi gratis.

Sampai suatu malam, di Pos Ronda RT 04, sebuah tragedi besar diumumkan.

Mas Joni datang dengan wajah berseri-seri, membawa sekotak pizza ukuran large dan meletakkannya di tengah-tengah kami yang sedang main karambol.

"Kabar gembira, Bro-bro sekalian!" seru Mas Joni. "Gue baru aja ketemu Pak RT. Kebetulan panitia 17 Agustus lagi kurang performer buat Malam Tasyakuran. Dan tebak? Gue udah daftarin band kita, PETER-PAIN, buat tampil di panggung utama hari Minggu depan!"

PRAK! Jari Ujang yang sedang menyentil biji karambol meleset hingga kukunya patah. Stik drum yang sedang dimainkan Aryo di pahanya terjatuh. Jantungku serasa berhenti berdetak.

"L-L-Lho... M-manggung, Jon?!" suaraku mencicit. Keringat dingin langsung mengucur deras di punggungku. "Manggung di depan warga satu RW?!"

"Iya dong! Masa kita jago jagoan main di studio doang? Ini saatnya kita unjuk gigi! Biar janda-janda komplek dan cewek-cewek karang taruna pada meleleh lihat pesona gue!" Mas Joni menyisir rambutnya lagi dengan jari, membayangkan dirinya digilai massa. "Kita bawain tiga lagu NOAH! Separuh Aku, Topeng, sama Mungkin Nanti! Latihan harus di- push!"

Ujang menarik kerah kaosku, berbisik panik di telingaku dengan mata melotot. "Ru! Mati kita, Ru! Kalau warga denger suara Joni, kita bisa dirajam pakai batu koral di lapangan voli! Batalin, Ru! Batalin!"

Aku membalas bisikannya dengan wajah sama pucatnya. "Gimana cara batalinnya, Bego?! Dia baru aja beliin kita Pizza Meat Lover pinggiran keju! Bulan lalu dia bayarin kontrakan lu nunggak! Lu mau negur dia?!"

Ujang menatap pizza itu, lalu menelan ludah keputusasaan. Dia melepaskan kerahku. Kami terjebak. Kami adalah sandera dari kebaikan hati seorang vokalis tuna-nada.

Malam itu, kami memakan pizza tersebut dengan air mata yang menggenang di pelupuk mata. Kami sedang mengunyah hidangan terakhir sebelum jadwal eksekusi mati kami di panggung 17 Agustus.

 

Hari Minggu malam, puncak acara 17 Agustus tingkat RW tiba.

Panggung berukuran 4x6 meter didirikan di lapangan bulu tangkis komplek. Backdrop merah putih membentang dengan tulisan "DIRGAHAYU RI KE-81: WARGA KOMPAK, NEGARA KUAT". Ratusan warga duduk bersila di atas terpal. Bapak-bapak menghisap rokok sambil mengobrol, ibu-ibu sibuk membagikan lemper dan gelas air mineral (Aqua gelas), sementara anak-anak kecil berlarian ke sana kemari.

Di barisan paling depan, duduk jajaran petinggi perumahan: Pak RT, Pak RW, dan tokoh masyarakat. Suasana sangat meriah.

Kami berada di belakang panggung. Aku meremas strap bass-ku dengan tangan bergetar. Perutku mulas parah. Ini lebih mengerikan daripada sidang skripsi. Ujang sedang komat-kamit membaca ayat kursi di pojokan. Aryo meminum tolak angin tiga sachet berturut-turut karena masuk angin dadakan.

Hanya Mas Joni yang terlihat sangat on fire. Dia sudah membasahi rambutnya dengan air agar terlihat seperti sedang berkeringat sehabis konser. Dia memakai kacamata hitam di malam hari (sebuah kebodohan absolut), kaos V-neck andalannya, dan kalung rantai perak yang berkilau.

Sang MC naik ke panggung. "Baiklah, Bapak-Ibu sekalian! Untuk menghangatkan malam puncak kita, mari kita sambut penampilan spesial dari pemuda-pemuda berbakat Blok C! Inilah mereka... PETER-PAIN!!!"

Tepuk tangan meriah membahana. Warga bersorak. Kami naik ke atas panggung. Kakiku rasanya seperti terbuat dari agar-agar Swallow. Aku memasang jack kabel ke bass-ku. Aryo duduk di balik set drum pinjaman, wajahnya pucat pasi. Ujang menyalakan efek distorsinya.

Mas Joni melangkah ke tengah panggung, memegang stand mic dengan kedua tangannya, lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam. Warga bersorak makin kencang melihat gaya cool sang anak juragan material.

Mas Joni memberi kode ke Aryo. Tuk! Tuk! Tuk! Kami langsung menghantam intro lagu "Topeng".

JREEENGGG!!! DUNG-TAK-DUNG-TAK!!! Musik kami meledak dengan sangat sempurna! Sound system panggung malam itu lumayan bagus. Suara distorsi Ujang sangat gahar, dentuman bass-ku menggetarkan dada penonton, dan pukulan drum Aryo sangat tight (rapat).

Melihat permainan instrumen kami yang setara musisi profesional, wajah Pak RT dan Pak RW langsung berseri-seri. Ibu-ibu mengangguk-angguk menikmati irama. Anak-anak kecil mulai melompat-lompat di depan panggung. Ekspektasi warga melambung setinggi atmosfer.

Lalu... tibalah saatnya bait pertama. Mas Joni mengangkat kepalanya, menarik napas mendesis di depan mic.

"Kudapaat melintas bumi... kudapat merajai hari!!!"

NGIIIIIIIIIKKKKKKKKKKKKK!!!!!!!! Feedback melengking hebat dari speaker raksasa di kanan-kiri panggung, seolah-olah sistem audio itu sendiri berusaha menolak suara yang masuk!

Begitu suara fales Mas Joni membahana menembus udara malam... keajaiban seketika sirna. Ribuan hukum harmoni musik hancur lebur berkeping-keping. Suara Mas Joni di speaker besar sepuluh kali lipat lebih mengerikan daripada di studio! Nadanya meleset begitu jauh hingga menciptakan dissonansi absolut. Terdengar seperti suara orang yang jari kakinya sedang dilindas roda traktor.

Waktu seakan berhenti. Anak-anak kecil dan remaja yang tadinya melompat-lompat, tiba-tiba mematung, menutupi telinga mereka, dan satu per satu mulai menangis histeris meminta pulang. Ibu-ibu yang sedang mengunyah lemper, rahangnya terhenti di tengah kunyahan. Wajah mereka berkerut menahan rasa ngilu di gendang telinga. Pak RW yang sedang memegang gelas kopi, langsung tersedak hebat hingga kopinya menyembur ke kemeja batiknya.

"Buka dluu topenngggmuuu!!!! Buukaaa duluuuu topenggmuuuu!!!" Mas Joni berteriak dengan pitch (nada) yang membelah angkasa, sama sekali tidak menyadari kiamat yang sedang ia ciptakan. Dia berlari ke ujung panggung, mengacungkan mic ke arah penonton, berharap warga ikut bernyanyi (Sing along).

Hening. Tidak ada yang bernyanyi. Yang ada hanyalah raut wajah penderitaan massal dari seratus lebih warga komplek. Mereka menatap kami dengan tatapan marah, bingung, dan merasa terkhianati. Musik instrumen kami yang bagus sama sekali tidak bisa menyelamatkan kebusukan vokalnya.

Di atas panggung, aku menunduk sedalam mungkin, menyembunyikan wajahku di balik bayangan topi. Aku terus memetik bass-ku seperti mesin tanpa jiwa. Ujang bermain gitar sambil memejamkan mata rapat-rapat, air mata penyesalan mengalir di pipinya. Aryo memukul drum sambil terus menunduk seolah ingin masuk ke dalam snare drumnya sendiri.

"Biar kuuulihaaattt warnaaamuUUuuuuUU!!" Mas Joni memekik dengan falsetto (suara palsu) yang melengking parah layaknya sirine ambulans rusak.

Kesabaran warga akhirnya habis. Polusi suara ini dianggap sebagai bentuk invasi mental. Sebuah benda kecil melayang dari kegelapan penonton...

PLAK! Sebuah bungkusan daun pisang bekas lemper menghantam keras headstock bass-ku! Lalu disusul oleh benda lainnya. TAK! Sebuah gelas Aqua plastik yang airnya tinggal separuh mendarat tepat di dada Ujang, membasahi gitarnya!

"WOOOOYY!!! TURUN LU PADA!! KUPING GUE BERDARAH WOY!!" teriak seorang bapak-bapak dari barisan belakang.

"SUARA KAYA KENALPOT BOCOR AJA SOK MAU KONSER! TURUN! KASIAN ANAK SAYA NANGIS KETAKUTAN!!" jerit seorang ibu-ibu berdaster merah sambil mengacungkan sandal jepit Swallow hijaunya ke udara.

WUSSS! WUSSS! PLAK! BUK! Sandal jepit, kotak snack kosong, sedotan, gelas plastik, kulit kacang, semuanya mulai beterbangan menghujani panggung layaknya badai meteor! Kami sedang dilempari massa!

"JON! UDAHAN JON! KITA UDAH DIRAJAM PAKE SNACK!" teriak Ujang panik sambil menggunakan gitarnya sebagai tameng dari serangan sandal jepit terbang.

Tapi apa reaksi Mas Joni? Karena dia memakai kacamata hitam di malam hari, dan karena dia terlalu larut dalam ilusinya sebagai Ariel Noah... dia mengira lemparan benda-benda itu adalah BENTUK ANTUSIASME FANS! Dia mengira warga sedang melemparkan bunga dan hadiah ke panggung!

Sebuah gelas plastik mendarat di dahinya, airnya muncrat ke wajahnya. "YEAAAHHH!! COME ON JAKARTAAAHH!! MAKIN PANAS YA MALAM INIII!!" teriak Mas Joni ke mic, mengira air itu adalah keringat rockstar-nya yang epic. Dia bahkan melakukan gaya memutar mic stand dengan brutal.

Kami bertiga (aku, Ujang, Aryo) tidak punya pilihan lain. Kami memainkan tempo lagu secepat mungkin. Dari yang awalnya lagu Pop-Rock, kami mengubahnya menjadi ritme Speed Metal berkecepatan 250 BPM hanya agar lagu sialan itu cepat selesai!

JRENG-DUNG-TAK-JRENG-DUNG-TAK!!! Kami menyudahi lagu itu secara mendadak.

Begitu nada terakhir berbunyi, aku langsung mencabut kabel bass-ku. Tanpa menunggu MC naik lagi, tanpa memberikan salam penghormatan, aku, Ujang, dan Aryo langsung melompat turun dari belakang panggung dan berlari sekencang-kencangnya membelah kegelapan malam, kabur dari amukan massa, meninggalkan Mas Joni sendirian di panggung yang masih berteriak "TERIMA KASIH BLOK C! KALIAN LUAR BIASA!!" sambil dihujani sisa-sisa lemper.

 

Keesokan paginya. Senin yang suram.

Aku, Ujang, dan Aryo bersembunyi di dalam kamar masing-masing. Kami tidak berani keluar rumah karena takut digebuki ibu-ibu komplek yang anaknya masih trauma dan belum mau makan sejak semalam.

Ponselku berdering. Pesan WhatsApp masuk dari Mas Joni. "Bro, ngumpul di Pos Ronda sekarang. Ada panggilan mendadak."

Dengan jantung berdebar-debar, kami bertiga berjalan mengendap-endap menuju Pos Ronda. Di sana, sudah ada Pak RT, Pak RW, dan beberapa bapak-bapak pengurus komplek dengan wajah galak. Mas Joni sedang duduk di kursi kayu, wajahnya tertunduk lesu. Kacamata hitam dan V-neck kebanggaannya sudah tidak ada.

"Heru, Ujang, Aryo. Duduk kalian," perintah Pak RW dengan nada otoriter layaknya hakim agung.

Kami duduk berbaris layaknya tersangka korupsi.

"Bapak-bapak pengurus sudah mengadakan rapat darurat tadi pagi," Pak RW memulai pidatonya. "Terkait insiden semalam di panggung Tasyakuran. Kami menghargai niat baik kalian untuk menghibur warga. Musik kalian bertiga itu bagus, jujur saja. Tapi..."

Pak RW menatap tajam ke arah Mas Joni. "...vokalis kalian, si Joni ini. Ini bukan soal suara jelek lagi. Suara dia semalam itu masuk dalam kategori Pencemaran Kesenian Lingkungan dan Teror Mental Warga Pasal 1. Ada tiga balita yang semalam harus dibawa ke mantri karena demam tinggi kaget denger dia melengking. Ayam ternak Pak Haji Somad di blok ujung sampai nggak mau bertelur pagi ini!"

Mas Joni menunduk semakin dalam. Ego Ariel Noah-nya telah diremukkan oleh palu keadilan Pak RW.

"Oleh karena itu," lanjut Pak RT menimpali, "Bapaknya Joni, Pak Haji Juragan Material, sudah kami panggil juga. Beliau sangat malu. Mulai hari ini, Joni dilarang keras menyanyi di fasilitas umum komplek ini. Dan untuk hukuman tambahan, uang jajan Joni disita oleh bapaknya selama tiga bulan agar dia tidak bisa menyewa studio musik lagi untuk merusak pita suaranya!"

DENG!!! Kalimat terakhir Pak RT adalah lonceng kematian bagi eksistensi kami sebagai anak band. Uang jajan Joni disita? Funder kami bangkrut? Donatur Nasi Padang dan penyewa studio kami jatuh miskin seketika?!

Aku melirik Ujang dan Aryo. Mereka juga menatapku dengan tatapan kosong yang sama. Band kami tidak hancur karena konflik internal. Band kami hancur karena embargo ekonomi dari orang tua vokalis kami.

Sidang ditutup. Kami berjalan pulang dengan langkah gontai. Di pertigaan gang, Mas Joni menatap kami dengan mata berkaca-kaca. "Maafin gue, Bro," isaknya pelan. "Gue rasa... passion gue emang bukan di musik. Mulai besok, gue mau fokus nerusin usaha toko material bokap aja. Band kita... PETER-PAIN... resmi bubar."

Kami mengangguk pelan. Tidak ada rasa sedih kehilangan band. Sejujurnya, telinga kami bersorak kegirangan. Namun, lambung kamilah yang menangis sejadi-jadinya karena kehilangan suplai martabak gratis setiap minggu.

"Nggak apa-apa, Jon," kataku menepuk pundaknya dengan tulus. "Keputusan yang bijak. Lu emang lebih cocok jualan semen daripada jualan suara."

Dan begitulah akhir dari karir musikal singkatku di komplek perumahan ini. Heru si Bassist Ngenes, kembali menjadi pemuda pengangguran yang saldo ATM-nya kosong melompong. Aku pulang ke rumah, menggantungkan gitar bass-ku di dinding, dan bersiap menyeduh mie instan sisa kemarin. Setidaknya, hari ini, aku bisa makan dalam keadaan tenang tanpa harus mendengar suara Ariel Noah dari Dimensi lain.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Komedi
Rekomendasi