Disukai
0
Dilihat
60
Di Balik Kalender Merah dan Kepastian yang Tertunda
Slice of Life
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Namaku Aiko. Aku tinggal di salah satu sudut kota kecil di wilayah Konohamaru—kota yang tidak terlalu luas, namun lalu lintas dan permukimannya terbilang cukup padat. Saban hari, deru kendaraan dan hiruk-pikuk aktivitas warga menjadi latar belakang dari rutinitas harian yang kujalani. Saat ini, aku berstatus sebagai mahasiswa semester tiga di sebuah fakultas kesehatan. Menjadi mahasiswa kesehatan di tingkat tiga berarti harus siap berhadapan dengan ritme akademis yang kian melaju kencang. Hari-hariku didominasi oleh deretan jadwal kuliah, tugas laporan yang menumpuk, serta persiapan fisik maupun mental untuk menghadapi praktikum laboratorium.

Minggu ini terasa jauh lebih intens dibandingkan minggu-minggu sebelumnya. Kami dijadwalkan untuk melaksanakan ujian serta pengambilan nilai praktikum dari hampir seluruh mata kuliah yang ditempuh semester ini. Di antara sekian banyak subjek yang harus dikuasai, bagiku yang paling menguras pikiran adalah mata kuliah Keperawatan Dewasa yang mencakup sistem respiratori, hematologi, dan kardiovaskular. Sejak awal semester, aku harus jujur pada diri sendiri bahwa area keperawatan medikal bedah dan konsep penyakit dalam bukanlah ranah yang paling gampang kucerna. Memahami patofisiologi organ dalam, deretan angka laboratorium yang rumit, hingga manajemen intervensi klinis yang kompleks sering kali membuat kapala ini berdenyut lebih kencang. Namun, sebagai calon tenaga kesehatan, tidak ada opsi untuk menyerah; semua kerumitan itu tetap harus dipelajari dan ditaklukkan.

Hari itu jatuh tepat sehari sebelum sebuah peringatan hari besar nasional. Atmosfer di dalam ruang kelas yang biasanya diwarnai diskusi akademis perlahan bergeser menjadi ajang perdebatan antarmahasiswa. Di sela-sela pergantian jam kuliah, teman-temanku sibuk mengamati layar ponsel masing-masing sambil bertukar pandang penuh tanya. Pangkal persoalannya sederhana namun sangat vital bagi kehidupan mahasiswa: apakah esok hari perkuliahan diliburkan atau tidak.

Uniknya, ketidakpastian ini dipicu oleh perbedaan visual pada aplikasi kalender di gawai kami masing-masing. Mayoritas teman-temanku mendapati bahwa tanggal esok tertera dengan angka berwarna merah—menandakan hari libur nasional. Namun, sebagian lainnya justru mendapati angka tersebut tetap berwarna hitam seperti hari biasa.

"Besok libur ga ya? Di aku merah ini soalnya," ujar salah satu temanku sambil mengacungkan layar ponselnya ke udara, meminta penegasan dari seisi ruangan.

"Masa sih? Di aku kok malah hitam? Di kalender Google juga hitam. Kok bisa beda gitu ya?" sanggah teman di sebelah kirinya yang merasa heran melihat tampilan layar pintarnya sendiri.

"Lhaaa, mana bisa gitu, jir," sahut seorang teman cowok dari bangku belakang dengan nada spontan yang memancing tawa kecil dari beberapa orang di sekitarnya.

Perdebatan kecil mengenai kalender merah dan hitam itu terus berlanjut di sela-sela rehat, menjadi hiburan tersendiri di tengah kepungan materi kuliah yang berat. Kendati demikian, perkuliahan hari itu tetap berjalan sesuai jadwal hingga mencapai jam terakhir. Di sesi penghujung tersebut, ketenangan kelas kembali teruji. Dosen pengampu masuk dan tanpa basa-basi mengumumkan jadwal pengambilan nilai untuk minggu depan. Kejutan tersebut makin terasa berdesir di dada ketika namaku terdaftar di dalam gelombang pertama yang harus maju dites.

Ujian praktikum minggu depan bertujuan untuk menguji tingkat pemahaman dan keterampilan klinis kami dalam melakukan pemeriksaan Leopold—sebuah metode pemeriksaan palpasi pada perut ibu hamil untuk menentukan posisi janin di dalam kandungan—pada mata kuliah keperawatan maternitas. Setelah dosen memeragakan langkah-langkah pemeriksaan secara sistematis di depan kelas, aku memperhatikannya dengan saksama dari baris depan. Dari peragaan tersebut, alur penentuan tinggi fundus uteri hingga penentuan bagian terbawah janin sebenarnya terlihat cukup logis dan dapat dipahami.

"Semoga saja aku bisa lulus terkait praktik pengambilan nilai ini. Aamiin..." bisikku pelan dalam hati, mencoba menyuntikkan rasa percaya diri ke dalam diri sendiri sembari merapikan catatan.

Waktu bergulir tanpa terasa hingga jarum jam menunjukkan pukul tiga sore. Bel menandakan berakhirnya jam perkuliahan hari itu. Kami bergegas membereskan alat tulis, memasukkan buku-buku tebal ke dalam tas, dan bersiap kembali ke rumah masing-masing.

Sesampainya di rumah, setelah membersihkan diri dan beristirahat sejenak, aku membuka telepon genggamku. Notifikasi dari grup perpesanan kelas sudah menumpuk, memperlihatkan obrolan yang cukup ramai membicarakan kepastian agenda kuliah esok hari. Dari hasil konfirmasi sejauh ini, mayoritas dosen menyatakan bahwa perkuliahan akan tetap dilaksanakan secara daring (online). Namun, masih ada satu dosen pengampu mata kuliah utama yang belum memberikan jawaban sama sekali di dalam grup maupun lewat pesan pribadi penanggung jawab kelas. Keputusan beliau menjadi penentu akhir apakah kami harus bersiap penuh sejak pagi atau bisa bernapas sedikit lebih lega. Setelah berdiskusi di grup, kami akhirnya sepakat untuk tidak berspekulasi dan memilih menunggu keputusan dosen tersebut hingga malam makin larut—hingga sang dewi bulan tertidur di balik cakrawala.

Fajar pun menyingsing, memancarkan sinar keemasannya ke permukaan bumi. Pagi-pagi sekali, hal pertama yang kulakukan setelah bangun adalah mengecek ponsel untuk memastikan kelanjutan agenda hari ini. Aku segera menghubungi penanggung jawab mata kuliah untuk menanyakan apakah sudah ada pembaruan kabar. Jawaban yang kudapatkan ternyata masih sama: dosen yang bersangkutan belum memberikan kejelasan pasti. Ketidakpastian yang berlarut-larut ini mulai menyulut rasa jengkel di kalangan teman-teman kelas. Banyak yang merasa serba salah; jika perkuliahan mendadak dilangsungkan secara tatap muka atau meminta jadwal maju, kami akan kerepotan dalam melakukan persiapan.

Seiring berjalannya waktu, mata kuliah demi mata kuliah yang dijadwalkan secara daring pun terlalui satu per satu di depan layar gawai dan laptop. Hingga akhirnya, tersisa jeda waktu sekitar satu jam menuju jam perkuliahan dosen yang dinanti-nantikan tersebut. Setelah penantian panjang yang menguji kesabaran, penanggung jawab kelas akhirnya mengirimkan pesan beruntun yang mengabarkan bahwa dosen beliau baru saja mengonfirmasi perkuliahan akan dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom meeting.

Rasa lega langsung menyelimuti pikiran kami seketika. "Setelah sekian lama menunggu, akhirnya kepastian datang dengan sendirinya," ucapku batin, sambil menghembuskan napas panjang dan bergegas menyalakan laptop.

Singkat cerita, waktu yang dijadwalkan untuk mata kuliah tersebut pun tiba. Penanggung jawab kelas mulai sibuk mengoyak dan mengingatkan teman-teman di grup WhatsApp agar segera menekan tautan dan bergabung ke dalam ruang Zoom. Kami pun masuk satu per satu hingga Kuota peserta memenuhi ruangan virtual tersebut. Namun, cerita tidak berhenti di situ. Kami duduk diam di depan layar masing-masing, menunggu sang dosen memulai perkuliahan. Satu menit, sepuluh menit, hingga tak terasa 40 menit lamanya kami menunggu dalam ketidakpastian di dalam ruang Zoom yang hening.

Tiba-tiba, sebuah pesan masuk di kolom obrolan Zoom dari sang dosen. Beliau menyampaikan bahwa karena satu dan lain hal, mata kuliah hari ini tidak diisi dengan pemaparan materi langsung, melainkan diganti dengan diskusi mandiri serta pengerjaan tugas lain di luar ruang temu virtual.

Seketika itu juga, keheningan pecah. Rasa kesal yang ditahan sejak malam sebelumnya seperti menemukan pintu ledakannya. Hampir seluruh anggota kelas menyuarakan kekecewaan mereka, baik melalui pesan singkat maupun kekesalan di luar ruang Zoom.

"Hoalah, kenapa ga dari kemarin jawabnya," celoteh salah seorang teman cowokku dengan nada sangat jengkel.

"Tau gitu aku udah bisa jalan-jalan tadi... Dawg," timpal teman yang lain tak kalah gusar, menyesali waktu luang pagi hingga siang yang terbuang hanya untuk menunggu kepastian yang berujung pada tugas mandiri.

Rasa jengkel dan gemas memang tidak dapat dibendung lagi. Sungguh sebuah antiklimaks dari perjuangan menunggu kabar sejak dewi bulan tertidur hingga matahari menjulang tinggi. Namun, sebagai mahasiswa, kami tidak punya banyak pilihan selain menerima kenyataan tersebut. Satu per satu dari kami memilih keluar dari Zoom meeting, menutup laptop, dan melangkah pergi untuk melanjutkan sisa agenda kegiatan sehari-hari dengan helaan napas panjang.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Rekomendasi