Di sudut Gang Merpati yang tersembunyi dari hiruk-pikuk pusat kota, berdiri sebuah bangunan tua ber-arsitektur kolonial dengan papan kayu bertuliskan Perpustakaan Arsip Batavia. Bagi orang awam, tempat itu hanyalah gudang buku-buku berdebu yang sepi pengunjung. Namun bagi Danuar, perpustakaan tersebut adalah tempat transaksi paling berbahaya di kota itu: tempat penjualan dan pencurian kenangan.
Danuar bukanlah pustakawan biasa. Dia adalah seorang Kolektor Memori. Dengan kemampuannya, Danuar bisa mengekstrak kenangan paling emosional dari pikiran seseorang dan membukukannya ke dalam jilid ber-sampul kulit tua. Di rak-rak tinggi perpustakaan itu, berjejer ribuan buku yang berisi memori tentang cinta pertama, rasa duka kehilangan, ketakutan terbesar, hingga rahasia kejahatan yang ingin dilupakan pemiliknya.
Sore itu, ketika hujan gerimis mulai membasahi genteng tanah liat perpustakaan, lonceng di atas pintu kayu berdering pelan. Seorang gadis muda berpakaian serba hitam melangkah masuk. Wajahnya pucat, mata sembabnya menyiratkan kelelahan batin yang amat sangat.
Danuar menatapnya dari balik meja kasir tua, menurunkan kacamata berbingkai perak yang bertengger di hidungnya. "Selamat datang di Arsip Batavia. Apa yang ingin kau simpan, atau apa yang ingin kau lupakan?"
Gadis itu berjalan mendekat, jemarinya yang gemetar menggenggam erat tali tas kulitnya. "Namaku Kirana. Aku ingin... menghilangkan seluruh kenanganku tentang kakakku. Hapus semuanya dari pikiranku."
Danuar mengamati ekspresi Kirana dengan cermat. Sesuai aturan tak tertulis para Kolektor, menghapus memori secara total adalah tindakan yang berisiko tinggi. Memori manusia bagaikan pondasi rumah; jika satu tiang utama dicabut, seluruh kesadaran bisa runtuh.
"Menghapus kenangan bukan seperti menghapus tulisan pensil di atas kertas, Kirana," kata Danuar dengan suara rendah dan tenang. "Prosesnya membakar. Dan yang tersisa hanyalah ruang kosong yang hampa. Apakah kau yakin?"
Kirana mengepalkan tangannya di atas meja kayu. "Kakakku meninggal dalam kecelakaan dua bulan lalu. Setiap kali aku memejamkan mata, aku hanya melihat wajahnya yang tertutup kain putih. Rasa bersalah ini membunuhku perlahan. Aku tidak sanggup lagi bernapas jika harus mengingatnya setiap hari."
Danuar menghela napas panjang. Dia berdiri dari kursinya, mengambil sebuah tabung kaca kecil berukiran runik emas dan sebuah pena bulu berujung perak. Dia mengisyaratkan Kirana untuk duduk di kursi kayu di depannya.
"Pejamkan matamu," bisik Danuar lembut. "Bayangkan wajah kakakmu, panggil kenangan yang paling membuatmu menderita."
Kirana memejamkan mata. Butiran air mata mengalir perlahan melewati pipinya. Danuar menempelkan ujung pena bulu perak ke pelipis Kirana. Cahaya kebiruan tipis mulai memancar dari ujung pena, menyerap benang-benang cahaya perak yang keluar dari kepala gadis itu. Benang-benang cahaya itu meliuk-liuk di udara sebelum akhirnya terkumpul di dalam tabung kaca kecil.
Secara perlahan, ekspresi tegang di wajah Kirana mengendur. Kerutan di dahinya menghilang, digantikan oleh tatapan kosong yang tenang.
Danuar menuangkan cairan cahaya perak dari tabung itu ke atas lembaran kertas kosong di mejanya. Secara ajaib, tulisan-tulisan tinta hitam bermunculan dengan sendirinya, membentuk bab demi bab kisah hidup Kirana bersama sang kakak. Danuar menjilid kertas-kertas itu menjadi sebuah buku ber-sampul kulit cokelat tua, lalu mengukir judul di punggung buku: Jejak yang Hilang - Kirana.
"Sudah selesai," kata Danuar.
Kirana membuka matanya. Dia berkedip beberapa kali, menatap sekeliling ruangan perpustakaan dengan tatapan linglung.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Danuar.
Kirana menyentuh dadanya. "Aneh... rasanya sepi. Aku seperti kehilangan sesuatu yang sangat penting, tapi aku tidak ingat apa itu. Apakah aku punya keluarga?"
"Kau hidup mandiri," jawab Danuar bohong, menjalankan protokol keselamatan kolektor untuk mencegah guncangan mental pasien. "Buku memori ini akan disimpan di Rak Nomor 7. Jika suatu hari kau ingin mengambilnya kembali, pintu perpustakaan ini selalu terbuka."
Kirana mengangguk pelan, membayar dengan beberapa lembar uang kertas, lalu melangkah keluar perpustakaan dengan langkah datar—bebas dari rasa sakit, namun juga kehilangan separuh dari jiwanya.
Danuar berjalan ke bagian belakang perpustakaan, menuju Rak Nomor 7 yang menjulang tinggi hingga ke langit-langit. Di rak inilah disimpan memori-memori paling berharga dan tragis. Namun, saat Danuar hendak menyelipkan buku Kirana ke celah rak, matanya menangkap sesuatu yang aneh.
Di samping tempat buku Kirana, terdapat sebuah buku tua berpunggung perak yang tampak sangat familiar. Judul di punggung buku itu bertuliskan: Arsip Rahasia Kolektor - Danuar.
Jantung Danuar berdegup kencang. Dia mengambil buku perak itu dengan tangan gemetar. Sebagai seorang Kolektor, dia dilarang keras mengekstrak memorinya sendiri. Lantas, mengapa ada buku atas namanya di sini?
Dengan rasa penasaran yang memuncak, Danuar membuka halaman pertama buku tersebut.
Saat jarinya menyentuh tulisan tinta di dalamnya, sebuah kilatan cahaya perak menyambar kesadarannya. Ingatan yang selama ini terkunci rapat mendadak pecah dan menyembur masuk ke dalam pikirannya bagaikan air bah.
Dalam ingatan yang muncul kembali itu, Danuar melihat dirinya sendiri lima tahun lalu. Dia sedang berdiri di dalam laboratorium tua bersama seorang gadis kecil yang sangat mirip dengan Kirana. Gadis itu adalah adiknya sendiri!
Bencana terjadi saat eksperimen ekstraksi memori beruntun gagal. Untuk menyelamatkan nyawa adiknya dari ledakan energi elektromagnetik, Danuar menukar jiwanya dan mengorbankan memorinya sendiri, membuat Kirana terlempar ke keluarga angkat tanpa ingatan tentang kakak kandungnya. Danuar yang kehilangan ingatan kemudian terbangun sebagai penjaga perpustakaan ini, lupa akan identitas aslinya.
Ternyata, Kirana bukan hanya sekadar pengunjung biasa. Kirana adalah adik kandungnya yang selama ini dicarinya tanpa sadar! Dan baru saja, Danuar telah mengekstrak sisa-sisa kenangan terakhir Kirana tentang dirinya!
"Tidak... tidak mungkin!" seru Danuar panik.
Dia melihat buku kulit cokelat milik Kirana di tangan kirinya dan buku peraknya di tangan kanan. Jika kenangan Kirana tidak segera dikembalikan dalam waktu dua puluh empat jam, proses penghapusan itu akan menjadi permanen, dan Kirana akan menjadi hampa selamanya.
Tanpa membuang waktu, Danuar menyambar buku memori Kirana dan buku miliknya sendiri. Dia berlari keluar dari perpustakaan tua itu, menerobos hujan deras yang mengguyur jalanan kota yang dingin.
Di bawah remang lampu jalanan kilometer tiga, Danuar melihat figur Kirana yang berjalan perlahan dan linglung di atas trotoar. Gadis itu tampak bingung menentukan arah jalan pulang karena ingatan tentang rumahnya ikut terkikis.
"Kirana!" teriak Danuar, suaranya bersahut-sahutan dengan deru angin malam.
Gadis itu berhenti dan menoleh bingung. "Siapa kamu? Kenapa kamu memanggil namaku?"
Danuar berlutut di atas trotoar yang basah, membuka kedua buku di tangannya. Dia menggabungkan benang-benang cahaya dari buku miliknya dan buku Kirana menggunakan pena peraknya. Cahaya kebiruan menyilaukan membumbung tinggi, membelah kegelapan malam.
"Maafkan aku, Kirana," bisik Danuar dengan mata berkaca-kaca. "Aku tidak akan biarkan kamu melupakan aku lagi."
Danuar menempelkan pena perak itu kembali ke pelipis Kirana. Gelombang memori mengalir deras kembali ke dalam pikiran gadis itu. Tangisan pecah di tengah hujan deras saat seluruh ingatan masa kecil, kehangatan keluarga, dan rasa kasih sayang seorang kakak kembali memenuhi dada Kirana.
Kirana terduduk lemas di pangkuan Danuar, menggenggam erat jaket basah kakaknya. "Kak Danuar... ini benar-benar Kakak?"
Danuar memeluk adiknya erat-erat, membiarkan air matanya menyatu dengan rintik hujan. Malam itu, perpustakaan tua di Gang Merpati mungkin telah kehilangan satu buku arsipnya, tetapi dua jiwa yang sempat terpisah oleh waktu dan amnesia akhirnya berhasil kembali pulang.