Jarum jam dinding di sudut kamar menunjuk tepat ke angka sebelas. Suasana malam terasa makin hening, menyisakan derak halus kipas angin yang berputar konstan dan ketikan pelan dari jemariku di atas papan ketik laptop. Di luar, kota sudah tertidur lelap, tetapi panggung di dalam kepalaku justru baru saja memulai pertunjukannya. Aku masih terjaga, memandangi pantulan bayanganku sendiri di kaca jendela yang gelap.
Nama aku Gerax. Saat ini, aku duduk di bangku kuliah semester empat—sebuah fase pasca Ujian Tengah Semester yang biasanya diisi orang-orang dengan selebrasi kecil atau rekreasi melepas penat. Namun bagiku, tidak ada yang perlu dirayakan secara berlebihan. Di lingkungan kampus, aku dikenal sebagai sosok yang amat pendiam. Introvert, tertutup, atau julukan-julukan sejenisnya sudah menjadi label melekat yang dilemparkan orang-orang kepadaku. Mayoritas teman seangkatan bahkan menganggapku sebagai manusia penyendiri yang tidak memiliki teman sama sekali.
Anehnya, aku tidak pernah keberatan dengan anggapan itu. Aku justru merasa jauh lebih aman dan nyaman berada dalam lingkar kesendirian dibanding harus memaksakan diri berinteraksi di tengah kerumunan yang bising. Ruang sepiku adalah benteng pertahanan terbaik.
Lucunya, sebagian besar orang di kampus justru mengira hidupku sangat menyenangkan dan penuh kegembiraan tanpa beban. Ironis memang. Mereka mengambil kesimpulan itu hanya karena aku tidak pernah mengeluh atau menceritakan masalahku kepada siapa pun. Aku memang sengaja membangun dinding yang tebal. Bagi sudut pandangku, membagikan masalah pribadi kepada publik sama saja dengan membocorkan titik lemah diri sendiri kepada orang yang belum tentu peduli.
Prinsip protektif ini tidak muncul begitu saja. Ada luka lama yang membentuknya. Dulu, sewaktu masih mengenakan seragam putih-merah di tingkat akhir Sekolah Dasar, aku adalah anak yang sangat mudah bergaul dan terbuka. Hingga suatu hari, sebuah kalimat tajam terlontar dari mulut seorang teman saat aktivitas olahraga:
"Gerax, masa gitu aja enggak bisa sih? Kamu cowok apa bencong?"
Sekejap, kalimat sederhana itu menghantam bagian terdalam dari rasa percaya diriku. Rasa sakit hatinya terpatri akut hingga bertahun-tahun kemudian. Aku sadar betul bahwa aku memang tidak memiliki bakat atau minat pada aktivitas fisik dan olahraga seperti laki-laki pada umumnya. Arena permainanku bukan di lapangan terbuka, melainkan di ranah akademik, pemikiran teknis, analisis, dan perencanaan yang matang. Sejak insiden itu, aku menutup rapat-rapat pintu kepercayaan untuk orang luar. Aku belajar bahwa tidak semua orang siap menerima perbedaan, dan banyak orang justru menggunakan kerentanan kita sebagai bahan ejekan.
Meski begitu, ada satu hal dari diriku yang sengaja tidak pernah aku ubah: sifat ramah, baik, dan easy-going. Aku memilih untuk tetap memperlakukan semua orang dengan santun dan hangat. Walaupun tak jarang kebaikanku dibalas dengan air tuba atau sikap dingin, aku tidak ambil pusing. Sifat ramah itu aku jadikan tirai penyegar—sebuah topeng yang elegan untuk menutupi hal-hal pribadi yang seharusnya tidak perlu ikut campur tangan orang lain.
Lalu, takdir membawaku ke jenjang perkuliahan. Di tengah samudra manusia yang sibuk dengan urusannya masing-masing, aku bertemu dengan seorang teman. Satu-satunya orang yang pada akhirnya berani aku sebut sebagai real friend.
Kehadirannya terasa sangat berbeda. Dia adalah sosok yang selalu ada, mendampingi tanpa menuntut, hadir dalam suka maupun duka. Yang paling aku hargai darinya adalah dia tidak pernah memaksaku untuk menyukai hal-hal yang tidak aku gemari. Dia menghormati batasan-batasan yang aku bangun tanpa bersikap menghakimi. Aku merasa sangat beruntung dan bersyukur bisa dipertemukan dengan manusia seperti dirinya di tengah dunia yang makin individualis.
Lambat laun, dinding pertahananku yang kokoh mulai melunak di hadapannya. Aku memberanikan diri untuk membagikan serpihan-serpihan kecil dari kisah hidupku. Rasa nyaman tumbuh alami dalam ranah pertemanan kami. Sering kali kami bercanda lepas, bersikap konyol, hingga terkadang terlihat seperti hubungan bromance yang erat. Tentu saja kami bukan dalam hubungan romantis; kami hanya dua laki-laki yang sudah berada di frekuensi yang sama, saling memahami, dan saling mendukung satu sama lain.
Suatu sore di sudut kafe kecil dekat kampus, aku akhirnya memutuskan untuk membuka kotak pandora yang selama ini aku sembunyikan rapat-rapat. Aku menceritakan masalah-masalah kompleks yang selama ini menghantuiku: ketakutan akan kondisi ekonomi keluarga, kecemasan memikirkan masa depan yang penuh ketidakpastian, hingga tumpukan tuntutan tinggi yang dibebankan oleh orang tua sekaligus oleh diriku sendiri. Aku tahu, tuntutan-tuntutan itu diniatkan baik untuk membentuk masa depanku agar lebih tangguh. Namun, tidak bisa dimungkiri, beban itu terkadang terasa teramat berat untuk dipikul sendirian di usia awal dua puluhan ini.
Saat aku selesai bercerita dan mengatur napas yang sempat sesak, aku bersiap menghadapi respons terburuk. Aku bersiap jika dia akan menganggapku berlebihan. Namun, prasangka burukku runtuh sepenuhnya.
Dia tidak menghakimiku. Tidak ada kening yang berkerut sinis, tidak ada picingan mata yang meremehkan. Dia tidak melabeliku sebagai drama king, dan dia sama sekali tidak mengucapkan kalimat-kalimat racun seperti, "Gitu aja enggak bisa! Kurang cowok kamu tuh. Kebanyakan drama, cowok kok lebay."
Dia hanya mendengarkan dengan penuh empati, memberikan ruang bagi emosiku untuk bernapas tanpa merasa bersalah. Kejujuran dan penerimaannya membuatku sangat salut. Sebagai bentuk rasa terima kasih dan resiprokal dari hubungan pertemanan ini, aku selalu siap membantunya kapan pun dia mengalami kesulitan di bidang akademik atau hal teknis lainnya. Sebuah hubungan simbiotis mutualisme yang sangat sehat dan mendewasakan.
Terkadang, ketika duduk di kantin kampus sambil memperhatikan teman-teman lain yang asyik mengeluh tentang tugas kuliah yang menumpuk, pikiran kecilku sering melayang. Aku melihat mereka bebas berkeliaran rekreasi, jalan-jalan ke sana kemari tanpa beban berarti. Sementara itu, di luar jam kuliah, otaku terus berputar memantau perkembangan ekonomi, memutar otak bagaimana caranya hemat, serta menyusun strategi untuk hidup mandiri. Beban kami jelas berbeda.
Hiburan utamaku bukan pesta atau nongkrong hingga larut malam tanpa arah, melainkan menulis cerita, merancang sesuatu, atau melakukan aktivitas apa pun yang memberi nilai tambah bagi diriku. Meski begitu, aku bukan manusia robot. Jika kejenuhan sudah mencapai puncaknya, aku tetap meluangkan waktu untuk healing sejenak ke tempat-tempat yang tenang untuk menyegarkan pikiran.
Malam yang kian larut ini akhirnya membawaku pada sebuah perenungan mendalam. Kita sebagai manusia sering kali terlalu cepat menghakimi orang lain hanya karena mereka berjalan di lintasan yang berbeda dari kita. Padahal, kita tidak pernah tahu pertarungan apa yang sedang dihadapi seseorang di dalam sunyinya. Orang yang kita anggap aneh atau berbeda bisa jadi memiliki jiwa yang jauh lebih tangguh dari yang kita duga, atau justru sebaliknya.
Setiap orang memiliki pilihan dan jalurnya masing-masing dalam menempuh hidup. Yang kita butuhkan sebenarnya sangat sederhana: saling menghargai. Dan di atas semua itu, aku menyadari satu hal penting malam ini—bahwa memiliki dukungan dari seorang teman sejati, walau hanya satu orang, sudah lebih dari cukup untuk menjaga kewarasan kita di tengah kerasnya dunia.
Aku menarik napas panjang, merenggangkan jemariku, lalu menutup layar laptop perlahan. Keheningan kamar tidak lagi terasa menakutkan atau sepi. Di dalam senyap malam ini, aku tahu aku tidak benar-benar sendirian. Aku bersyukur atas diriku yang tidak pernah menyerah, dan aku bersyukur atas pertemanan tulus yang menguatkanku.
Dengan perasaan yang jauh lebih tenang, aku mematikan lampu meja, berbaring di atas kasur, dan membiarkan mataku terpejam menyambut mimpi.