Apakah kamu akan memberikan Novel ke ?
Berikan Novel ini kepada temanmu
Masukan nama pengguna
Novel ini masih diperiksa oleh kurator
Blurb
Di negeri ini, ayat suci dilantunkan dengan merdu, tapi kebijakan sering sumbang. Masjid penuh, doa panjang, tajwid rapi—namun ketika sampai di meja rapat, makna seolah ditinggal di rak sepatu.
Novel ini adalah dokumenter satir yang menelusuri 114 surat, bukan untuk menggurui, tapi untuk menguliti. Dari Al-Fatihah yang tiap hari dibaca tapi jarang direnungi, sampai An-Nas yang bicara tentang bisikan halus di dalam dada—semuanya disorot dalam konteks negeri yang religius di mulut, tapi sering pragmatis di tindakan.
Di sini, "jalan lurus" bukan cuma istilah spiritual, tapi bahan perbandingan dengan tikungan politik. "Hari pembalasan" bukan dongeng akhirat, tapi cermin untuk keputusan yang diambil seolah tak akan pernah dipertanyakan. "Tak ada keraguan dalam kitab" bertabrakan dengan rapat-rapat yang penuh abu-abu.
Buku ini tidak menyerang. Ia hanya menyalakan lampu di ruangan yang terlalu lama nyaman dalam redup. Ia bertanya, dengan nada jalanan yang sengaja dibuat santai: kalau kita baca kitab yang sama 17 kali sehari, kenapa negeri ini masih sering tersesat arah?
Setiap bab membuka satu surat. Setiap surat membuka satu luka. Dan di akhir perjalanan 114 bab, pembaca akan sadar—yang sedang diadili bukan hanya pemerintah, tapi juga diri sendiri.
Karena mungkin masalah terbesar bukan kita tidak tahu jalan lurus.
Tapi kita terlalu sering pura-pura tidak melihatnya.
Novel ini adalah dokumenter satir yang menelusuri 114 surat, bukan untuk menggurui, tapi untuk menguliti. Dari Al-Fatihah yang tiap hari dibaca tapi jarang direnungi, sampai An-Nas yang bicara tentang bisikan halus di dalam dada—semuanya disorot dalam konteks negeri yang religius di mulut, tapi sering pragmatis di tindakan.
Di sini, "jalan lurus" bukan cuma istilah spiritual, tapi bahan perbandingan dengan tikungan politik. "Hari pembalasan" bukan dongeng akhirat, tapi cermin untuk keputusan yang diambil seolah tak akan pernah dipertanyakan. "Tak ada keraguan dalam kitab" bertabrakan dengan rapat-rapat yang penuh abu-abu.
Buku ini tidak menyerang. Ia hanya menyalakan lampu di ruangan yang terlalu lama nyaman dalam redup. Ia bertanya, dengan nada jalanan yang sengaja dibuat santai: kalau kita baca kitab yang sama 17 kali sehari, kenapa negeri ini masih sering tersesat arah?
Setiap bab membuka satu surat. Setiap surat membuka satu luka. Dan di akhir perjalanan 114 bab, pembaca akan sadar—yang sedang diadili bukan hanya pemerintah, tapi juga diri sendiri.
Karena mungkin masalah terbesar bukan kita tidak tahu jalan lurus.
Tapi kita terlalu sering pura-pura tidak melihatnya.
Tokoh Utama
Kamu
Aku
#1
SURAT YANG DIBACA 17 KALI SEHARI, TAPI PALING SERING DIKHIANATI
#2
KITAB TANPA RAGU, NEGERI PENUH ALASAN
#3
IMAN DI PANGGUNG KEKUASAAN
#4
UNDANG-UNDANG LANGIT DI NEGERI YANG HOBI MENGAKALI PASAL
#5
MEJA PERJANJIAN DAN NEGERI YANG GEMAR MENGINGKARI
#6
TAUHID DI TENGAH PANGGUNG KEKUASAAN YANG GEMAR BERHALA
#7
PANGGUNG TINGGI, AKHIR YANG SAMA
#8
KETIKA KEMENANGAN DATANG, SIAPA YANG SEBENARNYA BERKUASA
#9
SURAT TANPA BASMALAH DAN NEGERI TANPA MALU
#10
KETIKA KEBENARAN DITUDUH, DAN KEKUASAAN MERASA AMAN
#11
SURAT YANG MEMBUAT NABI BERUBAN, DAN PENGUASA HARUSNYA GEMETAR
#12
DARI SUMUR KE ISTANA, DAN ISTANA YANG SELALU LUPA SUMUR
#13
PETIR YANG MENYAMBAR KEKUASAAN DAN HATI YANG TAK MAU BERUBAH
#14
DOA UNTUK NEGERI, DAN NEGERI YANG LUPA PADA DOA
#15
WAHAI KEKUASAAN, KEBENARAN TIDAK BUTUH IZINMU
#16
NEGERI YANG MENIKMATI NIKMAT, LALU MENUDUH LANGIT
#17
PERJALANAN MALAM DAN PERADABAN YANG TERLALU PERCAYA DIRI
#18
EMPAT UJIAN, EMPAT CERMIN, DAN HATI YANG DITANYA
#19
DOA DI SUNYI HARI, DAN KEKUASAAN YANG TAK PERNAH SUNYI
#20
TONGKAT, ISTANA, DAN SUARA YANG TAK BISA DIBUNGKAM
#21
SIRENE HISAB DI TENGAH PANGGUNG KEKUASAAN
#22
TAKBIR DI LISAN, KEADILAN DI UJUNG TANDA TANGAN
#23
PROFIL ORANG BERUNTUNG DAN NEGARA YANG MERASA SUDAH BENAR
#24
CAHAYA DI TENGAH SKANDAL DAN NEGARA YANG TERLALU GEMAR BISIKAN
#25
GARIS PEMISAH DAN WAJAH KEKUASAAN YANG ENGGAN BERKACA
#26
KETIKA AYAT JADI ATRIBUT, BUKAN AMANAT
#27
KERAJAAN RELIGIUS, RAKYAT SEMUT, DAN CINCIN KEKUASAAN: UNTUK NEGERI YANG GEMAR PENCITRAAN
#28
DARI ISTANA KE KORUPSI: QARUN, DINASTI, DAN ILUSI KEKEBALAN
#29
IDEALISME YANG DIUJI, IMAN YANG DIASINGKAN : TENTANG NEGERI YANG MERASA SUDAH KOKOH
#30
KIAMAT FITRAH: SANG PENGUASA DAN DOSA ABADI TERHADAP NURANI BANGSA!
#31
KETIKA TAUSIYAH JADI KOMODITAS, NASEHAT LUQMANAH JADI FATAMORGANA!
#32
KETIKA KEBANGKITAN HANYA JANJI KOSONG, DAN SUJUD JADI AKTOR POLITIK!
#33
KETIKA PARTAI JADI IDOLA, ULAMA SU' JADI CORONG KEBENARAN PALSU!
#34
SABA' DI CERMIN KITA, SAAT NIKMAT MENJADI KUTUKAN, DAN AMANAH DIBAKAR KESERAKAHAN!
#35
FATIR: MENGUKIR KEKOSONGAN DI ATAS JANJI-JANJI TUHAN
Ulasan kamu
Ulasan kamu akan ditampilkan untuk publik, sedangkan bintang hanya dapat dilihat oleh penulis
Apakah kamu akan menghapus ulasanmu?
Disukai
0
Dibaca
2.2k
Tentang Penulis
Ahmad Wahyudi
-
Bergabung sejak 2026-01-27
Telah diikuti oleh 22 pengguna
Sudah memublikasikan 28 karya
Menulis lebih dari 73,215 kata pada novel
Rekomendasi dari Religi
Novel
KITAB YANG DI BACA, NEGERI YANG LUPA
Ahmad Wahyudi
Novel
Mediating Islam (Indonesian Edition)
Bentang Pustaka
Flash
CAHAYA & SHABIR
Xielna
Novel
Kulabuhkan Cintaku di Hatimu
Imajinasiku
Novel
Sebelum Matahari Pulang
noeeyyy
Novel
Senandung Bukit Cinta
Dudun Parwanto
Novel
TAKDIR YANG TERPILIH
Lestari Zulkarnain
Novel
Siapa Sebenarnya Markesot?
Bentang Pustaka
Novel
No More Broken Heart
Mizan Publishing
Novel
Madah Rindu Maria
Hadis Mevlana
Novel
ketika namamu menjadi sebuah epilog cinta yang tak pernah usai
Ahmad Ihsan Prayoga
Novel
Kambing dan Hujan
Bentang Pustaka
Cerpen
Suara di Kuburan
Tin Miswary
Novel
Lentera Ukhuwah
Mizan Publishing
Flash
Selembar Tikar di Masjid Tua
Penulis N
Rekomendasi
Novel
Ayat-Ayat di Atas Aspal
Ahmad Wahyudi
Novel
KITAB YANG DI BACA, NEGERI YANG LUPA
Ahmad Wahyudi
Novel
Di Balik Merah Putih
Ahmad Wahyudi
Flash
Bronze
Bisikan dari Langit yang Tak Pernah Pergi
Ahmad Wahyudi
Cerpen
Bronze
Mengenal Tuhan Yang Mengurus Hidupmu
Ahmad Wahyudi
Cerpen
Ampunan Sering Datang Sebelum Kita Merasa Pantas
Ahmad Wahyudi
Cerpen
Bronze
Tidak Ada Yang Bisa Di Tawar di Akhirat
Ahmad Wahyudi
Novel
Di Bawah Cahaya Masjid
Ahmad Wahyudi
Novel
Di balik perjuangan menunggu
Ahmad Wahyudi
Novel
Bronze
Terakhir Kali Kita Tidak Jadi Asing
Ahmad Wahyudi
Novel
Kalau Hidup di Zaman Itu Aku Berdiri di Barisan Mana
Ahmad Wahyudi
Flash
Bismillah yang Kamu Lupakan di Kota Orang
Ahmad Wahyudi
Cerpen
Bronze
Hitung Untung Sampai Desimal, Hitung Nyawa Sampai Lupa
Ahmad Wahyudi
Cerpen
Bronze
Belajar Berserah dalam Doa yang Menguatkan
Ahmad Wahyudi
Cerpen
Bronze
Tiga tangan di balik setir
Ahmad Wahyudi