The Wizard

Matahari kian tenggelam. Kini, orang-orang sudah naik ke atas kuda. Ada yang bersama keluarga ada juga sebatang kara. Tujuan mereka sama-- bertemu si penyihir, begitu orang-orang mengatakannya. 

"Ayah, Ayah!" seorang anak kecil menarik-narik ujung baju ayahnya.

Lelaki yang dipanggil ayah itu tersenyum, membungkukkan badan, menatap wajah anaknya. 

"Kenapa kita meninggalkan rumah kita, Ayah?"

Lelaki itu mendekap bahu anaknya. 

" Kita akan pergi bertemu seseorang Nak,"

"Bertemu si penyihir itu?"

Lelaki itu terdiam beberapa saat sebelum menjawab. 

"Dia bukan penyihir bukan pula orang jahat,"

"Tapi mengapa orang-orang di desa kita memanggilnya dengan sebutan penyihir gila?"

"Karena yang mereka panggil penyihir itu mengajarkan jalan yang lurus, melarang menyembah patung,"

Lelaki itu mengelus rambut anaknya. Anak itu tersenyum lebar. Rombongan pun bersiap-siap berangkat menuju utusan Tuhan. Seorang utusan rahmat bagi seluruh alam.

10 disukai 1 komentar 5.4K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Lancar, mudah dipahami, dan inspiratif sekali.
Saran Flash Fiction