Prayitno terduduk lagi di sudut itu, mengunyah Nasi Padang paket 12 ribu Rupiah. Perlahan. Menikmati tiap suapan. Pelayan di Rumah Makan Padang ini asli dari Brebes, yang mengolah masakannya juga.
padingding, padingding... pa-ding-ding...!
Seorang anak perempuan, usianya sekitar 14 tahun, memakai t-shirt longgar warna coklat lusuh berhias robekan di beberapa sisi, serasi dengan warna kulitnya yang coklat kusam --tampak lebih gelap di bagian sudut pipi dan leher-- masuk ke Rumah Makan Padang Brebes membawa botol plastik kecil berisi butiran beras yang dia goyang-goyangkan untuk menghasilkan irama yang mudah-mudahan bisa disebut sebagai musik. Dia mencoba bernyanyi semampunya.
arapadingding... arapading... ding...!
Telur dadar ini terasa lebih enak, daun singkong ini terasa lebih sedap, tiap suapan nasi jadi lebih pulen saat melihatmu bernyanyi, dik, racau Prayitno dalam hati. Sayangnya, dia tidak punya receh untuk dirinya sendiri, apalagi untuk dibagi.
arapading... ding!
Prayitno masih terduduk di sudut itu, bukan sebagai pilihan, tapi karena hanya tempat itulah yang mau menerima janjinya. Janji manis untuk membayar di akhir Bulan. Untuk dua belas ribu Rupiah pun dia harus berjanji. Dia berharap untuk dimengerti. Syukurlah, Rumah Makan Padang Brebes itu mau mengerti. Apakah kamu mau mengerti, dik? batin Prayitno.
"Maaf dulu ya..." ujar Prayitno pelan sambil mengangkat tangan.
Ding! Ding! Ding!