Puisi yang Basah
Langit sore menggantung muram di atas kota yang tak pernah tidur, tapi jarang benar-benar peduli. Di ruas Jalan Sakanpari, Bramanta berdiri di depan toko roti yang lampunya temaram, bukan semata karena lapar, tapi karena aroma manis yang membangkitkan kenangan—tentang masa saat puisinya cukup dibayar untuk sepotong kue dan secangkir kopi.
Bogor menua, dan begitu juga ia. Dulu ia dijuluki “Bramanta si Penulis Hujan”—setiap puisinya seperti tetes gerimis yang menggenangi hati. Kini, hujan yang turun hanya jadi alasan untuk menundukkan kepala dan menyembunyikan air mata yang tak ingin dilihat siapa pun.
Bramanta duduk di bangku taman dengan saku jas yang kosong. Hujan baru saja turun, mengguyur puing-puing harinya yang sejak pagi sudah retak oleh penolakan. Puisinya ditolak lagi. Bukan karena buruk, tapi katanya: “Tak ada pasar untuk kesedihan.”
Ia hanya tersenyum kecut. Ia tahu, sejak awal, bahwa puisi memang tak pernah dijual di rak sebelah kopi sachet dan mi instan. Tapi apa boleh buat, hidup butuh makan, dan ia kehabisan makanan sejak kemarin.
Langit menggigil. Dedaunan meneteskan air seperti tangis yang malu-malu. Bramanta menggelar selembar kertas —satu dari sedikit yang tersisa. Ia menulis.
“Jika aku mati malam ini,
biarlah hujan yang jadi saksi
bahwa aku pernah berdoa,
meski tak pernah ada yang mendengar.”
Tangannya gemetar. Bukan karena dingin, tapi karena lapar yang berubah jadi nyeri di persendian.
Tiba-tiba, seorang anak kecil meng-hampirinya, membawa payung yang terlalu besar untuk tubuh mungilnya.
“Om nulis apa?” tanyanya polos.
“Puisi,” jawab Bramanta pelan.
“Kenapa Om kelihatan sedih banget?”
Bramanta menatap mata jernih itu dan nyaris berkata, "Karena dunia lebih suka cerita bahagia." Tapi ia urungkan. Ia hanya menyodorkan puisinya.
Anak itu membacanya lama. Lalu, tanpa berkata apa-apa, ia duduk di samping Bramanta. Meneduhi mereka berdua dengan payung kebesarannya.
Mereka diam. Hanya suara hujan dan tetesan air yang berguguran dari langit. Tapi di dada Bramanta, ada sesuatu yang hangat. Bukan dari tubuh, tapi dari harapan kecil yang tak sengaja mampir. Untuk pertama kalinya, puisinya tidak ditolak.
Hujan yang Membaca
Anak kecil itu duduk tepat di samping Bramanta. Hujan masih turun, tapi payung besar di tangan si bocah cukup untuk meneduhi mereka berdua. Bramanta, dengan jemari gemetar, menyodorkan lembar-lembar puisinya yang mulai lembap.
“Kalau kamu suka, ambil saja...”
Si anak menggeleng. “Enggak, Om. Ini kan punya Om. Om harus terus nulis.”
Bramanta ingin tertawa, ingin bilang kalau dunia tak lagi menunggu puisinya. Tapi suara bocah itu terlalu jernih, terlalu jujur untuk dibantah. Maka ia diam. Ia simpan kata-kata yang tersisa di dada.
Tak lama, suara klakson membuyarkan hening. Seorang wanita muda turun dari mobil. Rambutnya sebahu, matanya tajam tapi teduh. Ia menghampiri si bocah.
“Maaf, ini anak saya. Dari tadi nyariin dia…”
Bramanta berdiri. Hujan membuat tubuhnya menggigil, tapi ia berusaha tampak biasa saja.
Sebelum pergi, si anak menoleh dan berkata, “Om, namaku Elan. Aku bakal nunggu puisi Om di toko buku nanti.”
Wanita itu hanya tersenyum sopan, tak tahu siapa lelaki tua dengan rambut kusut dan jaket robek di depan mereka.
Mereka pergi.
Dan Bramanta kembali sendiri.
***
Malam turun pelan. Di bangku taman yang sama, di bawah lampu jalan yang redup, Bramanta duduk memeluk puisinya. Tangannya dingin, dadanya sesak oleh kenangan yang datang bersamaan dengan rintik-rintik hujan.
Ia menulis satu bait terakhir. Satu yang ia harap bisa bertahan lebih lama dari dirinya:
“Jika esok aku tak bangun,
bacalah aku di antara hujan.
Di sanalah aku,
tak pernah benar-benar hilang.
"Untuk Elan, yang membaca hujan."
Keesokan paginya, seorang petugas kebersihan menemukannya. Tertidur dalam posisi duduk, senyum tipis membeku di wajahnya. Tangannya masih memeluk selembar puisi, basah tapi terbaca. Ada tas kulit lusuh, isinya kertas-kertas usang yang berisi puisi dan catatan harian. Seperti ada amar dari langit yang turun memberi titah, Petugas itu merapikan dan menyimpannya.
Petugas kebersihan itu kemudian menelepon rumah sakit terdekat untuk mengirim ambulans. Tanpa identitas jelas, tanpa keluarga, jasad Bramanta terbaring di ruang jenazah. Si petugas kebersihan menawarkan diri untuk membiayai pemakaman.
Bramanta dimakamkan dalam prosesi sederhana di TPU Cirimekar, Cibinong. Dihadiri oleh Ustadz setempat, dua orang penggali kubur, dan Bapak petugas kebersihan.
* * *
Beberapa hari kemudian, kertas-kertas itu ditemukan oleh cucunya, seorang pelajar yang menyukai sastra. Si cucu membaca bait terakhir dengan hati yang gemetar, lalu memutuskan untuk mengunggah puisi itu ke laman blog-nya di internet, menuliskan: "Ditemukan puisi di tangan seorang pria tua yang telah tiada. Siapa pun dia, puisinya menyentuh jiwa saya."
Unggahan itu menjadi viral. Banyak yang membagikan, banyak yang bertanya, tapi tak ada yang benar-benar tahu siapa Bramanta.
Warisan Dari Hujan Di Masa Lalu
Elan melihat unggahan itu… bertahun-tahun kemudian. Saat itu ia sedang duduk di kursi kopi, mengenakan hoodie abu-abu yang sudah mulai berbulu—bekas jaket lama saat SMA, satu-satunya yang masih menyimpan hangat kenangan. Asyik menatap layar ponsel seperti biasa. Tapi pagi itu berbeda.
Sebuah puisi muncul di beranda media sosial saat sedang asyik menggulir, disertai ilustrasi artistik menggambarkan tangan tua yang menggenggam kertas basah.
Kalimat pertama puisi itu menghentikan detak langkah harinya. Kalimat terakhirnya membuat dadanya runtuh.
"Untuk Elan, yang membaca hujan."
Ia bergumam pelan, seperti mengucapkan doa yang tertunda: “Om…”
Dulu, setelah pertemuan singkat itu, Elan kecil mencoba mencari Bramanta. Ia bertanya ke ibunya, ke petugas taman, bahkan ke penjaga toko di sekitar lokasi mereka bertemu. Tapi tak ada jawaban jelas. Orang-orang yang tahu merasa tak cukup tega untuk memberi kabar yang sebenarnya kepada seorang bocah SD dengan mata jernih dan penuh binar.Setiap minggu ia datang ke taman itu. Duduk di bangku yang sama. Menunggu.
Tapi Bramanta tak pernah kembali.
Lalu waktu berjalan. Elan tumbuh, kesibukan mengalihkan, tapi ada ruang kosong yang tak kunjung terisi. Sampai pagi itu—ketika puisi itu muncul. Dan waktu akhirnya membalas kesabarannya.
***
Segera setelah melihat unggahan itu, Elan memulai pencariannya. Ia menelusuri komentar demi komentar, mencari siapa yang pertama kali mengunggah puisi itu.
Akhirnya ia menemukannya—akun bernama Dimas Raharja. Mahasiswa Sastra, sekarang sudah lulus, bekerja sebagai editor lepas.
Elan menghubunginya. Awalnya ragu. Tapi ketika ia mengatakan "Namaku, Elan. Si pembaca hujan.” Suara Dimas berubah.
Mereka bertemu di sebuah kedai buku kecil yang tenang. Mereka saling bertukar cerita perihal seorang penyair dan bait-bait puisi terakhirnya. Dimas membawa map coklat. Di dalamnya, ada kumpulan puisi dalam tulisan tangan yang nyaris pudar.
"Bukan cuma satu puisi," kata Dimas. "Kakekku, yang dulu kerja jadi mandor penjaga kebersihan taman itu… dia nemuin lebih banyak. Di dalam tas lusuh Bramanta waktu itu."
Elan memandangi lembar-lembar itu seperti seseorang menemukan kembali bagian tubuhnya yang hilang.
“Bolehkah aku... menyimpannya?” tanyanya pelan.
Dimas tersenyum. “Itu yang dia harapkan, aku rasa. Kamu tertulis di puisinya. Artinya, kamu adalah satu-satunya orang yang dipercaya.”
Elan menggenggam lembar-lembar itu. Kali ini, tak akan ia sia-siakan.
Sebelum berpisah, Elan meminta Dimas untuk mengantarkannya ke makam Bramanta di TPU Cirimekar. Di sana dia tak kuasa menahan air matanya. Serangkai doa tulus dia panjatkan untuk Almarhum.
***
Malamnya, Elan duduk menulis. Bukan puisi, tapi pengantar. Sebuah pengantar untuk buku puisi yang isinya ia kumpulkan dari bait-bait peninggalan seorang lelaki asing, yang sempat bertandang di hidupnya, meski hanya sejenak.
Air matanya jatuh. Bukan karena ke-hilangan, tapi karena sebuah janji kecil yang kini pulang kepadanya.
Bulan berikutnya, terbit sebuah buku puisi kecil dari penerbit kecil, tapi penuh cinta. Judulnya: "Senandung Hujan di Saku Kosong – Kumpulan Puisi Terakhir Bramanta." Dieditori oleh Elan.
Di halaman pertamanya, tertulis:
"Puisi ini pernah basah oleh hujan,
lalu mengering di hatiku."
SELESAI