Disukai
2
Dilihat
2,207
Bagus Piranti
Drama

Matahari senja sedang tidak pundung. Dia sudi menunjukkan keindahannya kepada para pengguna jalan yang larut dalam emosi jiwa karena carut-marut jalanan Jakarta. Panas mesin kendaraan dan bau asap lebih dominan daripada semburat jingga, yang berbaur sempurna dengan birunya langit dan putihnya awan. Mereka bertemu di satu titik, merekah perlahan, inci demi inci, sampai akhirnya rona merah jambu menyempurnakan senja.

Hampir tidak ada pengguna jalan yang menyadari betapa indahnya langit sore itu. Beberapa yang sempat menyaksikan, tidak peduli. Apa nikmatnya senja? Tidak bikin kenyang. Mungkin cibiran macam itu yang membuat matahari sering pundung.

Satu banding seribu, itu lah Bagus Piranti. Mungkin dia satu-satunya orang di kemacetan yang sempat terhenyak oleh senja. Dia menaikkan kaca helmnya, takjub. Dalam sekelebat detik, Bagus sudah khusyuk menikmati rona senja yang terhampar di cakrawala Jakarta. Mendadak matanya sembab, pikirannya terlempar ke sebuah waktu saat dia masih ingusan, namun sangat menghormati senja. Bagus hampir menangis, kalau saja motor di belakangnya tidak menghentaknya dengan klakson-klakson panjang, memberi komando untuk cepat jalan.

Sering kali saat sedang berada di tengah kemacetan, sambil kegerahan, ditambah bau asap, bau kopling, sesekali bau najis bangkai tikus, dan sambil terus melajukan motornya dalam ketukan gas-rem-gas-rem, pikiran Bagus melayang, mengandaikan banyak hal. Berbagai skenario kehidupan berseliweran di dalam benaknya.

Andai punya gaji dua digit, Bagus ingin sekali pindah dari kontrakan petak di Pasar Minggu, ke satu unit apartemen kelas menengah di bilangan Kalibata, atau di dekat Pasar Gembrong. Biar sering ngeliat mbak-mbak nakal, katanya seloroh.

Alasan lainnya adalah karena dia merasa tidak cocok dengan induk semangnya; seorang janda beranak satu yang punya banyak pacar, dan keranjingan judi kartu. Dari permainan kartu remi, sampai poker. Dari poker banting, sampai poker online. Sempat satu kali Bagus memutuskan untuk ikut bermain.

Iseng-iseng sambil nunggu sahur, katanya sok beralasan.

Hasilnya, dengan sangat mengejutkan dia menang banyak, menggasak habis pundi-pundi uang haram dari tiga musuhnya, sampai-sampai permainan harus dihentikan sebelum imsak. Merasa punya skill, Bagus langsung ketagihan. Esok malamnya dia main lagi. Esok malamnya juga main lagi. Esok malamnya masih main lagi. Begitu seterusnya sampai akhirnya dia berhutang bayar kontrakan dua bulan karena kalah. Saking traumanya, Bagus memasukkan judi kartu sebagai keputusan nomor dua yang sangat dia sesali. Nomor satunya adalah memutuskan Monika, mantan terindahnya semasa kuliah.

Selain ingin pindah tempat tinggal, Bagus juga ingin traveling ke Flores, Pulau Komodo, Sumba, Alor, Raja Ampat, dan banyak lagi, agar feed Instagramnya lebih berkonten. 

Selain traveling, Bagus juga ingin kredit mobil second agar tiap kencan pertama dia bisa mengantar pulang teman kencannya. Dia sempat berkesimpulan bahwa penyakit jomblo menahunnya itu disebabkan karena dia tidak memiliki mobil.

Bagus juga ingin membeli kamera mirrorless agar saat keinginannya untuk traveling terwujud, dia bisa mengambil gambar dengan apik.

Bagus juga ingin mengoleksi sneakers karena dia percaya kalau menjadi kolektor sneakers adalah bentuk lain dari investasi.

Bagus juga ingin mengoleksi piringan hitam karena dia suka musik.

Bagus juga ingin bisa datang ke sebuah pameran seni, dan pulang dengan membawa satu buah karya yang dipamerkan, karena dia adalah civilized society.

Bagus juga ingin beli iPhone.

Bagus juga ingin beli Macbook Air.

Bagus punya banyak kemauan, namun tidak punya kemampuan membeli. Dia adalah sosok sejati dari kelas menengah ngehek yang banyak mau, tapi hidup pas-pasan dari gaji ke gaji.

***

Bagus Piranti, seorang penulis yang--Alhamdulillah--sedang bekerja sebagai copywriter di sebuah agensi periklanan. Asli Kebumen, kuliah di Depok sampai lulus, sekarang tinggal mengontrak di Pasar Minggu, dan bekerja di Kelapa Gading. 

Sepak terjang Bagus di dunia kepenulisan sebenarnya agak mengkhawatirkan. Sepanjang karirnya, dia hanya pernah menuliskan satu buah skripsi jurusan Sejarah, dua artikel sejarah untuk media online, satu naskah film pendek untuk teman--yang tidak jadi diproduksi karena empunya projek harus fokus bikin skripsi, dan satu draft novel berjudul “Kucing-kucing Kampung”, yang proses penulisannya mangkrak. Tidak ada yang dapat dibanggakan dari portofolionya, namun Bagus yakin kalau dia adalah the chosen one. Seorang jenius yang nanti, pada suatu masa, akan keluar dari gua persembunyiannya untuk mengejutkan dunia sastra Indonesia.

Adapun prestasi tertingginya dalam dunia tulis-menulis adalah saat sinopsis draft novelnya dipuji habis-habisan oleh Joko Anwar, dalam sebuah workshop penulisan skenario gratis di kampusnya. Sepulang dari acara tersebut, wajah Bagus tak henti tersenyum. Jalan kaki ke stasiun kereta, dia tersenyum. Menunggu kereta, dia tersenyum. Di dalam kereta, dia tersenyum. Ditegur oleh sekelompok mbak-mbak hijab yang merasa takut, dia tersenyum. Malam itu, Bagus hampir ditahan petugas keamanan kereta dengan tuduhan cabul.

Sebagai pemuda yang hidup dalam usia produktif dan percaya kalau dirinya adalah the chosen one, Bagus hidup dalam kemewahan idealisme. Batinnya selalu mendapatkan asupan ego yang cukup. Pakaiannya yang itu-itu saja, motornya yang sudah sering batuk-batuk, dan ketidakmampuannya mengajak kencan lawan jenis, itu soal lain. Bukan hal primer, dan bukan hal yang patut ditanyakan kepada seorang seniman yang jiwanya meradang, karena sedang berusaha keras menjaga integritas idealisme yang dirinya sendiri sering meragukan.

***

Bagus menepikan motornya di sebuah parkiran kecil milik Kafe Batas Hati. Sebuah kafe mungil dan sepi di bilangan Setia Budi. Sudah dua bulan terakhir Bagus menjadikan Batas Hati sebagai goa pertapaannya.

Udara dingin dari penyejuk udara langsung menghambur dari pintu yang terbuka, memberikan sensasi surgawi pada tubuh Bagus yang bersimbah keringat pasca macet. Bau asap kendaraan seketika tergantikan oleh semerbak aroma biji-biji kopi yang baru selesai digiling. Pintu kaca bergambar ilustrasi pemandangan surealis tertutup rapat, menjaga agar bising perkotaan tidak semena-mena menyelusup masuk ke dalam kafe.

Hanya ada setengah lusin meja di sana, dan hanya ada Bagus sebagai pelanggan. Dua orang barista bergerak perlahan di balik mesin-mesin pengolahan kopi. Membuat bunyi-bunyi merdu yang memancing banyak padanan kata dan kalimat untuk turun ke bumi melalui tangan-tangan penulis.

Selesai memesan, buang air kecil, dan cuci muka, Bagus langsung memilih kursi yang selalu ia duduki selama dua bulan terakhir; di pojok kiri samping jendela. Tujuannya agar dia dapat mengamati keseluruhan kafe, dan di saat yang bersamaan juga dapat mengamati masyarakat Jakarta yang sedang berjuang di jalannya masing-masing melalui jendela.

Di meja pojok, jiwa dan raga Bagus terpaku pada layar laptop. Otaknya berusaha keras mengeluarkan beberapa patah kata untuk melanjutkan novelnya yang mangkrak. Tangannya bergeming, mulutnya mengencang, dan kakinya sibuk menginjak-injak lantai. Matanya menatap kursor yang berkedip-kedip seorang diri di hamparan putih laman perangkat lunak penulisan, tanpa tahu bagaimana caranya membuat kursor itu bergerak ke kanan. Imaji Bagus mandek, otaknya buntu, inspirasinya pergi bersama rasa lapar yang sudah lama tidak silaturahim. Writer’s block istilah kerennya.

Terjadi lagi… gumam Bagus.

Sudah bukan barang aneh bila di saat-saat tentram seperti ini, justru otak kirinya tidak berfungsi dengan baik, seakan mogok kerja. Seperti vespa butut yang penuh bensin, namun kurang oli samping. Seperti gang buntu di belakang pantat gedung-gedung tinggi; dekat, tapi tidak menuju kemana-mana.

Jakarta menyerap segalanya. Dari energi magis secangkir kopi yang seharusnya menginspirasi, sampai ke bulir-bulir kecut keringat para tukang ojek online yang sangat ingin pulang dengan selamat. Dari rasa sombong para pekerja kreatif yang dibombardir deadline, sampai dendamnya para seniman yang terlupakan. Dari syahdunya suara panggilan ibadah, sampai teriakan amarah para pendemo yang dibayar puluhan ribu rupiah. Jakarta menyerap segalanya, hingga tak tersisa satupun aksara untuk Bagus pergunakan malam ini. Padahal, menurut rumus kesenian yang berlaku, malam-malam syahdu seperti ini adalah saat yang tepat untuk membuahi keresahan dengan sperma diksi.

Mungkin malam ini sperma diksi milik Bagus sedang kurang jantan karena dirinya letih. Mungkin juga karena Bagus terlalu banyak onani. Sperma diksinya sudah habis. Dikeluarkan dengan paksa jadi sederetan omong-kosong yang bersanding dengan emoji-emoji tai anjing di kolom caption bermacam jenis media sosial.

Setelah beberapa menit duduk tegak, tegang sambil bengong di depan kursor yang mencibir, Bagus mengendorkan punggungnya; direbahkan pada sandaran kursi yang punya ergonomi apik. Tidak berhenti di situ, satu nafas panjang pun dihelanya, lalu membuang mata ke arah jendela--standar penulis frustasi yang sedang mencari-cari alasan. Di dalam Kafe Batas Hati yang ber-AC, sambil menyeruput ice americano, Bagus lindap mengawasi kehidupan di luar.

Lampu-lampu kendaraan saling kejar. Penjual pecel lele kaki lima kebanjiran pelanggan. Penjual gorengan sibuk produksi. Penjual minuman dingin terus melakukan promosi. Ahli reparasi jam fokus dengan proyek barunya. Penjaga parkir sigap melayani konsumen. Dan pengamen jalanan tampil dengan repertoire andalan.

Di balik jendela kaca Batas Hati, di tengah keriuhan kuliner pinggir jalan, di dalam antrian kendaraan yang belum juga lengang, Bagus melihat sepasang muda-mudi yang penuh romansa. Di atas motor, sedang berhenti karena macet, sang pria mengelus dengkul wanitanya tanpa aba-aba. Lalu wanitanya terlihat malu-malu, dia memukul pundak sang pria pelan. Seperti menyuruhnya untuk berhenti, namun tidak semerta-merta menolak.

Bagus tersenyum melihat pemandangan penuh romansa tersebut. Bukan senyum karena lucu atau karena menertawai pasangan-di-atas-motor, namun senyum pedih karena DULU, dia sering melakukan hal yang sama kepada Monika. Andai saja DULU Bagus berani untuk menahan egonya, dan tidak paranoid sendiri menuduh Monika berselingkuh, mungkin sekarang mereka sedang berdiskusi tentang tanggal lamaran. Mungkin sekarang mereka sedang meributkan soal bentuk cincin. Mungkin sekarang mereka sedang galau karena tabungan mereka berdua hanya cukup untuk menikah di masjid dekat rumah Monika, tidak di gedung seperti orang-orang.

Penyesalan memang selalu terlambat. Tepatnya, tiga jam setelah Bagus muntab karena merasa Monika selingkuh dengan dosen pembimbing--yang anak bungsunya saja sudah seusia dengan Bagus. Seperti mengalami trauma mendalam, Bagus sama sekali tidak ingat rentetan kalimat kasar apa saja yang dia lontarkan kepada wanita yang telah setia menjadi kekasihnya selama empat tahun, dua bulan, sembilan belas hari.

Di sisi lain, Monika ingat betul seluruh kalimat kasar Bagus sampai ke tiap titik, koma, petik, tanda pagar, kurung buka, tutup, titik dua, dan tanda pentung yang Bagus lontarkan dalam sambungan video call. Hingga detik ini, Monika sangat sangat sangat membenci Bagus. Bahkan mendengar, atau melihat kata good saja bisa membuat mood Monika berantakan. Iya, sebegitunya Monika membenci Bagus.

DULU, tepatnya tiga jam setelah muntab, Bagus sadar kalau dia baru saja melakukan hal paling bodoh selama dua puluh tiga tahun hidup sebagai manusia. Bagus buru-buru menghubungi Monika lagi untuk merevisi seluruh perkataan dan tuduhannya yang tidak manusiawi, dan berharap Monika masih mau memaafkannya. Bagai mencincang air, bagai menegakkan benang basah, bagai menggantang asap, hasrat Bagus memeluk gunung apa daya tangan tak sampai. Apa yang hendak Bagus lakukan tidak pernah terjadi. Sambungan video call penuh caci-maki adalah interaksi terakhir Bagus dengan Monika. Nila setitik, rusak susu sebelanga.

***

Awan-awan kumulonimbus terbang beriringan, memberi tekstur pada langit malam, menutupi sinar bulan sabit seperempat. Jam digital di handphonenya menunjukkan pukul 21:07, sudah dua jam dia di sana tanpa satu diksi pun yang berhasil ditulis, namun Bagus enggan beranjak pulang. Untuk memperpanjang masa melamunnya, Bagus memesan ice americano yang kedua.

Kenangannya pada Monika berhasil membuat laptopnya tak tersentuh. Alih-alih menulis, dia malah membuka Instagram di handphonenya, lalu mengetik nama pengguna, @mo.monika07, di kolom pencarian. Foto profil sang mantan-terindah langsung muncul. Lesung pipi Monika yang hadir dalam pixel seketika membuat Bagus merasa campur-aduk. Ada rasa bersalah, ragu, takut, kangen, penasaran, gengsi, dan sedikit malu. Semuanya bersatu-padu membuat sebuah lonjakan hormon yang membuat pelipis Bagus berkeringat walaupun sedang di dalam ruangan ber-AC.

Bagus menutup mata, lalu menekan foto profil Monika dengan jempolnya.

Bagus menghitung sampai sepuluh dalam hati, menyiapkan dirinya untuk segala kemungkinan, lalu membuka mata, melirik sedikit, dan langsung membuang handphone-nya ke meja setelah melihat foto Monika dan pasangan, di acara pertunangan mereka.

Bagus menatap langit mendung Jakarta, berharap agar hujan segera turun, dan menghapus ingatannya tentang Monika. Malam ini Jakarta tidak hanya menyerap seluruh inspirasi Bagus, namun juga menukarnya dengan sebuah tikaman di punggung, yang tepat menembus jantung, menggunakan trisula lancip bernama rindu.

***

Andai, andai, dan andai.

Kata bahaya itu muncul bertubi-tubi dalam kepala Bagus yang sekarang sedang menenggelamkan kepalanya ke meja kafe. Matanya fokus pada bulir keringat di gelas ice americano yang meluncur ke bawah, bulir demi bulir, sampai akhirnya mendarat juga di meja, sejajar dengan matanya.

Kalau patah hati dapat digolongkan sebagai penyakit, maka seharusnya Bagus sekarang sedang dibawa ambulans kebut-kebutan di jalanan Jakarta. Sirene yang memekakkan telinga digubris pengguna jalan perlahan dengan nyinyir di kiri-kanan. Sesampainya di rumah sakit, langsung masuk bilik di ruang UGD. Dokter dan suster panik. Mereka bergerak cepat-cepat untuk menyelamatkan nyawa Bagus. Selang-selang disiapkan, dua botol infus, satu tabung oksigen, dan satu suntikan senyawa coklat untuk menambal hati yang patah. Lalu beberapa jam kemudian, Bagus terbangun di kamar rawat dengan perasaan seperti baru dilahirkan kembali, namun sedikit pusing. Di meja samping kasur rawat, makanan rumah sakit sudah disiapkan di atas nampan kayu, terbungkus plastik bening agar tidak terkena debu atau dihinggapi lalat. Rasanya mungkin tidak enak, tapi penuh gizi dan asupan yang dibutuhkan oleh Bagus untuk memulihkan hatinya yang patah.

“Jangan khawatir, Mas Bagus. Kalau rajin istirahat, pasti kamu akan cepat sembuh. Hatimu yang patah akan segera pulih tanpa harus operasi. Hanya perlu istirahat dan banyak makan makanan penambal hati saja.” Ucap suster cantik berseragam merah jambu yang mengenakan bando kelinci.

Tapi itu semua hanya andai-andai seorang Bagus Piranti yang visualnya diperkuat oleh ice americano gelas kedua. Kenyataannya, Bagus harus menghadapi patah hatinya sendiri. Berobat sendiri, sembuh sendiri, lalu move on sendiri. Tak ada seorang pun yang bisa membantunya. 

“Kecuali kamu, Monika…” Bagus bergumam sendiri.

***

Dua tahun lalu, hari pemutusan…

Matahari sedang bersemangat. Sinar ultravioletnya dibagi-bagikan gratis untuk seluruh masyarakat Depok, yang ternyata tidak begitu menikmati berkah gratisan. Di sebuah sudut kota Depok yang terlupakan, Bagus Piranti sedang berjalan gontai menyusuri trotoar sempit yang berbatasan langsung dengan parit berbau amis. Mulutnya komat-kamit.

“Ada yang salah… Nggak bener nih… Perasaan gua ada yang salah nih sama Monika… Nggak bener nih… Tapi apa iya?

Iya! Pasti iya! Pasti perasaan gua bener! Yakin gua, yakin! Ada yang salah, pasti! Pasti! Gua cuma belom nemu buktinya aja…

Apa ya buktinya?

Pulang malem terus, begitu sampai kosan dia nggak mau ditelfon. Menghindar terus setiap gua ajak ketemu. Alesannya, ngerjain skripsi? BULLSHIT!

Gua yakin Monika ada apa-apa sama dosen pembimbingnya!

Keliatan kok dari mukanya!

Muka si dosen juga! Penjahat, anjing!

Brengsek!

Mereka berdua nusuk gua dari belakang.

Jahat banget kamu, Monika…”

Bagus menghentikan langkahnya. Dia melihat ke kanan-kiri, seperti mencari sesuatu yang entah apa itu.

Di sisi kanan, dia melihat parit hitam penuh sampah.

Di sisi kiri, di seberang jalan, dia melihat toko-toko kecil yang sepi pengunjung. Ada toko alat lukis, toko alat jahit, toko alat olahraga, toko alat musik, toko alat pertukangan, dan terakhir ada toko ikan hias.

Bagus memberhentikan kendaraan dengan tangannya. Dia menyebrang jalan tanpa sopan-santun. Beberapa klakson motor bersahutan, seperti sedang berteriak “pake mata kalo nyebrang, anjing!” Tapi siapa peduli? Bagus sudah di ujung patah-hati. Tak ada hukum dan norma yang bisa mengikatnya kecuali hukum rimba.

Bunyi gelembung-gelembung oksigen dari akuarium menyambut kehadiran Bagus, pelanggan pertama dalam beberapa hari belakangan. Ikan-ikan kecil berbagai warna berenang penuh keanggunan, dengan sangat gemulai mengepakkan sirip-sirip mereka seolah tahu bahwa mereka punya kesempatan dibeli, agar enyah dari toko suram ini.

Seorang lelaki tua duduk di meja kasir. Di depannya terdapat kipas angin tua berukuran kecil yang bergoyang-goyang tanpa meniupkan angin sama sekali. Dia menyapa Bagus, “Cari apa, Mas?”

“Anu, Pak, saya lagi cari ikan yang ukurannya segenggaman tangan.”

Alis lelaki tua itu berkerut. Permintaan macam apa ini? Apakah ini cara milenial mencari ikan? Berdasarkan ukuran tangan?

“Ikan jenis apa, Mas?”

“Apa saja, Pak, yang penting ukurannya segenggaman tangan. Jangan yang terlalu kecil, dan jangan terlalu besar juga.”

Tanpa banyak tanya lagi, lelaki tua itu menunjuk rak yang berisi belasan akuarium berukuran kotak.

“Yang mana, Pak?”

“Itu, yang itu.” Lelaki tua menjulurkan tangannya, seakan dapat memperjelas titik yang dia tunjuk.

Bagus melihat ke arah rak akuarium. Perhatiannya tertuju pada sebuah akuarium yang paling bersih diantara yang lain. Dia berjalan ke arah akuarium itu.

“Yang ini, Pak?”

Lelaki tua mengangguk.

Bagus memperhatikan ikan yang ada di dalam akuarium. Ukurannya benar segenggaman tangan, bentuknya seperti ikan hiu namun jauh lebih kecil, warnanya hitam, tubuhnya diselimuti sisik-sisik tajam, dan di bagian punggung, sirip, dan ekor, terdapat duri-duri halus yang terlihat berbahaya.

“Ini sisiknya berduri ya, Pak?”

“Ya.” Jawab lelaki tua singkat.

“Kalau kita terkena durinya, apa efeknya, Pak?”

“Berdarah doang palingan.” Nadanya makin ketus.

“Ini namanya ikan apa, Pak?”

“Sapu-sapu. Jadi beli?”

“Jadi!”

Bagus menggulung lengan jaket jeansnya, lalu tanpa permisi, dia mengobok akuarium, berusaha menangkap ikan sapu-sapu dengan tangan kosong.

Lelaki tua takjub dengan apa yang dia lihat. Selama tiga puluh tahun berjualan ikan hias, baru kali ini dia mendapatkan kastemer sesontoloyo ini. Lelaki tua pun beranjak dari singgasana reotnya, hendak menempeleng kepala belakang kastemer sontoloyo. Tapi terlambat, gerakannya tidak selincah dulu. Dia baru berhasil mengangkat pantatnya saat Bagus menyerahkan uang dua puluh ribu rupiah sambil menunjukkan ikan sapu-sapu yang menggelepar di genggaman tangannya.

“Kembaliannya ambil aja, Pak.” Kata Bagus dengan senyum dipaksa, lalu langsung pergi dari toko ikan tersebut. Meninggalkan lelaki tua setengah-berdiri-setengah-duduk seorang diri. Tokonya kembali sunyi. Hanya bunyi gelembung-gelembung oksigen yang terdengar.

***

Sapu-sapu terus menggelepar di genggaman tangan Bagus. Suhu kota Depok membuatnya semakin dekat dengan ajal. Sementara itu Bagus sedang berlari sambil menahan sakit akibat gesekan duri-duri ikan sapu-sapu di tangannya. Setelah merasa cukup jauh dari toko ikan hias, dia berhenti.

Bagus menatap sapu-sapu yang sedang berusaha menyelamatkan nyawanya. Hitam, basah, tajam. Darah di tangan Bagus mulai terlihat. Rasa perih yang sedari tadi dia tahan, sekarang semakin nyata. Namun dia masih diam, menatap ikan sapu-sapu.

Siang, tengah hari bolong, di pinggir jalan kota Depok yang ramai kendaraan, Bagus Piranti meremas ikan sapu-sapu yang menggelepar di tangannya sekuat tenaga. Sapu-sapu mulai berhenti bergerak saat organ dalamnya keluar dari mulut. Bagus terus meremas ikan itu sampai terdengar suara tulang patah. Semakin naik adrenalin Bagus, semakin kencang dia meremas. Sampai sisik kasar dan tebal dari ikan mulai tersobek, lalu dagingnya, lalu semakin dalam sobekannya, lalu badan ikan terbelah dua.

“Jahat banget kamu, Monika…” Bagus bergumam sendiri.

***

Malam pemutusan…

“PEREK LO, ANJING!!”

“Bagus?! Kamu ngomong apa sih??!!”

“ALAH DIEM LO, PEREK!! ANJING LO EMANG! BRENGSEK!

LO PIKIR, LO BISA NUSUK GUA DARI BELAKANG??

NGGAK BISA, NJING. NGGAK, BAKAL, BISA!!!!!”

Monika menangis sejadinya. Lidahnya kelu, nafasnya berantakan, jantungnya apalagi, dan yang paling kronis adalah hatinya; hancur-lebur, remuk-redam, luluh-lantak. Persis seperti kondisi keluarganya yang sedang kacau-balau, morat-marit, semrawut.

Monika tak habis pikir dengan tuduhan Bagus yang menurutnya tak beralasan. Toh Bagus juga tahu kalau alasan Monika rajin melakukan bimbingan skripsi dengan Pak Charles adalah agar dia bisa lulus bulan ini. Dia tidak punya waktu lagi. Dia harus mengakhiri kuliah secepatnya karena tidak bisa mengambil satu semester lagi hanya untuk skripsi. Dia tidak ingin uang semesterannya menjadi penyebab piring-piring di rumah kembali berterbangan. Kondisi ekonomi keluarga Monika siapa yang tahu selain dirinya sendiri?

Bagus tahu, dan sudah cukup membantunya dalam perkara biaya skripsi. Perlu nge-print? Bagus. Perlu pulsa internet? Bagus. Lapar tengah malam saat sedang skripsian? Bagus. Namun sayangnya, Bagus bukan orang yang bisa membantu Monika dalam urusan menulis skripsi. Untuk hal yang satu ini, hanya Pak Charles lah yang bisa. Itu alasannya kenapa hampir setiap sore Monika berkunjung ke rumah Pak Charles, dan baru pulang setelah malam. Terkadang malah pagi-pagi buta.

Awalnya Bagus tidak masalah dengan kegiatan Monika ini. Baru setelah dia tahu kalau Pak Charles itu sudah pisah ranjang hampir setahun dengan istrinya, Bagus merasa something wrong with this guy. Dan Bagus pun memilih untuk mempercayai intuisinya ketimbang mencari bukti terlebih dahulu. Mungkin karena dia seorang penulis.

***

 “KITA PUTUS!” Kata Bagus mengakhiri panggilan video call dengan Monika.

Sekarang giliran Bagus yang dihantam rasa sakit yang paling tidak ada obatnya dalam sejarah kehidupan manusia; patah hati.

Bulir keringat menitik-nitik di keningnya, matanya merah, nafasnya buyar, paru-parunya kembang-kempis dalam ketukan lagu metal, hatinya? Sehancur dan seberantakan itu, wahai para pembaca yang budiman.

Tidak ada yang salah dengan patah hati, namun bagaimana cara kita menyikapinya, itu perkara lain. Patah hati memang barang aneh. Tak berbentuk, namun pedihnya cenderung traumatis. Tidak sedikit pula yang gagal memulihkan diri setelah merasakan patah hati.

Mungkin patah hati adalah yang sepele, remeh-temeh, tidak perlu dibesar-besarkan, dan jangan disikapi berlebihan, karena pada suatu saat nanti, dia akan sembuh dengan sendirinya. Betul, namun patah hati selalu berangkat dari senyawa yang sama; cinta. Dan yang jadi masalah, makhluk paling indah dan paling berbahaya ciptaan Tuhan ini tidak punya formula, tidak ada rumusnya, dan bahkan, menurut film yang saya tonton, tidak terikat ruang dan waktu.

Lalu apa kesimpulannya?

Rasa amburadul yang sedang berkecamuk dalam hati dan pikiran Bagus, tidak ada formula penyembuhnya, tidak ada rumus kesembuhannya, dan bahkan, menurut film yang saya tonton, rasa sakitnya tidak terikat ruang dan waktu.

Masih di kamar kosan, Bagus masih merasa amburadul. Jauh lebih parah daripada tadi siang. Pikirannya kalang-kabut mencari cara untuk menghilangkan sensasi buruk yang sedang menjalari tubuhnya. Namun apa? Ke toko ikan hias lagi?

Bagus menoleh ke belakang. Di lantai kamar kosan, di samping lemari plastik, sebuah kotak kaca mika mirip akuarium peninggalan Monika mulai terlihat menjengkelkan. Di dalamnya, seekor hamster imut nan menggemaskan sedang bermain roda putar. Selama empat bulan terakhir, Bagus dan Monika merawat hamster itu. Memberikannya makan, memandikannya dengan pasir, memberikannya vitamin, dan bahkan memberikannya nama. Hamster berbulu merah muda itu adalah anak pertama Bagus dan Monika, dan mereka sepakat menamainya; Tobeli.

Malam itu, tidak ada lagi rasa sayang di dalam hati Bagus saat melihat Tobeli. Semakin cepat dia berlari di roda putar, semakin gelap hati Bagus, semakin hitam, semakin kelam. Sampai akhirnya tertutup seutuhnya. Sama persis seperti tadi siang, saat Bagus memandangi ikan sapu-sapu dalam genggaman tangannya yang berdarah.

Bagus bergerak cepat menuju kandang Tobeli. Roda putar berhenti seketika. Kini Tobeli dalam genggamannya. Bagus mengelus bulu-bulu halus Tobeli seraya memandangi betapa imutnya anak sulungnya ini. Polos dan menggemaskan. Tak mengerti apa-apa. Bahkan peperangan via video call dari kedua orang tuanya pun tak ia mengerti. Tahu apa Tobeli soal skripsi, pulang malam, dan selingkuh? Bahkan saat telungkup kedua tangan Bagus menggelapkan dunianya. Tobeli masih belum tahu apa-apa.

***

Tobeli sudah tak bernyawa di dalam kandang, di samping roda putar. Kondisinya sama mengenaskan dengan sapu-sapu. Namun rasa amburadul Bagus belum sirna. Dia masih senewen. Jantungnya masih perih, masih nyut-nyutan, masih membuat kepala Bagus seperti ingin meledak.

Bagus grasak-grusuk sendiri di kamar kosan. Mencari pelampiasan lain, namun tak ada lagi makhluk hidup yang bisa dia jadikan pelampiasan. Lalu tanpa pikir panjang, Bagus menyambar jaket jeans yang digantung di belakang pintu, mengenakannya, mencabut kunci kamar, keluar, menutup pintu, menguncinya, lalu menuju dapur kosan.

Bunyi sendal jepit usangnya bergema di lorong kosan. Seakan ingin memberitahu para penghuni kosan bahwa ada seorang psikopat yang sedang mencari korban, harap tutup pintu dan jendela rapat-rapat.

Sesampainya di dapur, Bagus membuka laci peralatan masak. Dia mengambil pisau paling lancip yang bisa dia temukan, lalu mengawasi sekitar, memastikan hanya ada dia di dapur dan tidak ada seorangpun melihatnya mengambil pisau. Merasa aman, Bagus langsung menyembunyikan pisau itu di kantong bagian dalam jaket jeansnya, lalu pergi ke arah pintu keluar kosan. Masih dengan suara sendal jepit yang bergema sepanjang lorong.

Suara adzan Isya memenuhi langit malam kota Depok. Mengiringi Bagus berjalan seorang diri, menyusuri jalanan komplek, rumah demi rumah, mencari pelampiasan selanjutnya.

Sebelum sapu-sapu dan hamster, sudah banyak hewan-hewan kecil yang menjadi korban jiwa bengis Bagus. Dari tikus got yang sering menyelinap ke dalam rumah orang tuanya, sampai burung perkutut peliharaan Pak RT. Belum lagi puluhan serangga yang mati di tangannya dengan cara aneh-aneh. Seperti saat Bagus dengan sengaja mengumpulkan belasan semut rang-rang hitam, dia sekap di dalam toples kaca, dan dia masukkan kertas tisu yang sudah dia bakar ke dalamnya, lalu dia tutup toplesnya. Api yang membakar tisu otomatis padam saat toples tertutup, meninggalkan kepulan asap tebal yang perlahan memenuhi toples. Bagus kecil menikmati pemandangan semut-semut yang panik. Dia lamat-lamat mengamati bagaimana satu per satu semut terkulai lemas, sampai akhirnya berhenti bergerak.

Awalnya kebiasaan laknat Bagus ini hanya sebatas hiburan, namun semakin dirinya dewasa, Bagus mulai menemukan fungsi lain dari kebiasaan laknatnya; sebagai pelampiasan. Bila orang-orang normal melampiaskan kegundahannya melalui olahraga, karaoke, minum-minum, narkoba, atau naik gunung, Bagus punya caranya sendiri.

Setelah berjalan cukup lama, Bagus tiba di jalanan komplek paling sepi. Pintu-pintu rumah seperti enggan membuka diri, jendela-jendela seperti terpejam, lampu-lampu teras seperti meredup, saat irama sendal jepit Bagus menyeret di jalanan itu. Sebuah jalan buntu, yang di ujungnya terdapat rumah panti asuhan.

Bagus berdiri di depan pagar panti. Melihat keadaan; sepi. Tidak ada keraguan sedikitpun di benak Bagus. Dia hanya belum yakin bagaimana caranya bisa masuk ke dalam tanpa dicurigai. Selagi Bagus mondar-mandir di depan pagar, pintu rumah panti terbuka. Dari dalam keluar seorang anak perempuan berumur sekitar enam atau tujuh tahun. Rambutnya basah, wajahnya sedikit cemong karena bedak yang dibalur asal-asalan. Anak perempuan itu keluar rumah sambil membawa kerupuk putih yang di bagian atasnya diolesi sambal botol. Dia duduk di kursi teras, asik mengunyah kerupuknya.

Bagus masih berdiri di depan pagar, dia tahu kalau pagar tidak digembok, dia bisa saja sewaktu-waktu masuk ke dalam, berlari menuju teras, menikam leher anak perempuan dengan pisau yang dibawanya, lalu merobeknya sampai putus. Namun dia tidak mau seperti itu. Bagus ingin lebih smooth.

“Adik manis, kamu lagi makan apa itu?” Kata Bagus.

Anak perempuan itu menoleh ke arah pagar. Dia baru menyadari kehadiran Bagus di sana. Agak takut, anak perempuan itu ingin masuk ke dalam.

“Eh, eh… Aku mau ke warung, mau beli kerupuk. Kamu mau juga?”

Anak perempuan itu tergoda.

“Kerupuk kamu udah mau habis, tuh. Mau aku beliin lagi nggak? Aku beliin yang banyak deh buat kamu.”

Anak perempuan itu masih bergeming di tepi pintu.

“Pintunya tutup dulu, Dik… Nanti nyamuk pada masuk loh.”

Anak perempuan itu menutup pintu panti. Membuat suara Bagus makin tidak terdengar ke dalam. Ditambah keriuhan anak-anak yang sedang asik makan malam, obrolan lembut Bagus seperti bunyi hembusan angin saja.

“Temenin aku ke warung, yuk? Kita beli kerupuk yang banyak.”

Anak perempuan itu berpikir sejenak.

Bagus mengeluarkan uang sepuluh ribu rupiah. “Nih, aku punya sepuluh ribu. Kalo beli kerupuk di warung, dapet berapa ya kira-kira?”

“Dapet dua puluh, Kak! Minggu kemaren aku nemenin Bu Siti ke warung belanja kerupuk. Beli sepuluh ribu, dapet dua puluh!”

“NAH! Yuk, kita beli kerupuk sepuluh ribu! Kamu mau nggak? Aku sepuluh, kamu sepuluh deh. Gimana? Mau nggak?”

Anak perempuan itu menghabiskan potongan terakhir kerupuknya, menyapu remah-remah kerupuk dari pinggir mulutnya, lalu berjalan ke arah pagar, menghampiri Bagus Piranti yang bolak-balik menyentuh kantong dalam jaket jeansnya, memastikan pisau yang dibawanya tetap dalam posisi siaga.

Dalam heningnya malam, suara seret sendal jepit mereka berdua jadi bebunyian paling horor. Selangkah demi selangkah, mereka perlahan menjauh dari panti. Sambil bergandengan tangan, Bagus membawa anak perempuan itu ke sebuah kebun pisang di belakang komplek.

***

Hujan deras membubarkan keramaian kaki lima di seberang Kafe Batas Hati. Bagus membalikkan tanda “tutup”, lalu mengunci pintu kafe. Suara hujan yang mendominasi sekitar membuat aksi Bagus kepada dua orang barista tidak terdengar siapa pun.

Di balik meja kasir, seorang barista sudah tak bernyawa. Matanya membelalak, dadanya penuh lubang tusukan pisau, darahnya mengalir, merah pekat, kontras dengan ubin tegel cafe yang berwarna putih kusam.

Di dapur, di dekat pintu kamar mandi, di atas genangan darahnya sendiri, barista nomer dua sedang merintih dalam tangis. Nyawanya yang sudah di depan tenggorokan, tapi dia masih berusaha memasukkan kembali organ pencernaannya ke dalam perut, walaupun selalu gagal karena licin.

Bagus Piranti berjalan tenang ke arah dapur sambil membawa secangkir kopi panas. Dia duduk di lantai, di hadapan korbannya yang sedang meregang nyawa. Menikmati detik demi detik proses tercabutnya nyawa dari seorang manusia.

“Bukan cuma kamu yang bisa bahagia, Monika…” Gumam Bagus setelah menyeruput kopi.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
@arieindienesia : Terima kasih sudah membaca!