"Kau kelihatan semakin kacau, Dan."
Ya. Aku menyadari hal itu. Aku pun tak mau begini. Aku udah berusaha menenggelamkan diri dalam banyak kegiatan, menenggak pil penenang, pergi ke psikolog bahkan langkah ekstrem, mencoba bunuh diri.
"Maaf, kalau aku lancang." Mata Riko dan mataku beradu tatap. "Kau sudah coba berdoa? Aku jarang melihatmu berdoa. Bagiku cara itu cukup membantu."
Itu lagi, itu lagi. Orang-orang selalu mencari Tuhan saat terdesak. Menurut mereka itu cara paling manjur setelah menemukan jalan buntu. Munafik. Aku bukan golongan itu.
"Tidak, tidak. Aku tidak mau." Aku menggeleng.
"Coba dulu. Atau aku juga bisa berdoa untukmu kalau kau mau."
"Tidak usah," ketusku, "Jangan paksa aku berdoa kepada tuhanmu itu, Ko. Aku ragu kalau dia sebaik yang kau kira."
Riko terkejut. Ia menyembunyikannya dengan mengubah sorot matanya yang lembut. Ia mendekat dan sepertinya ingin merangkulku.
"Stop! Kalau kau pikir aku seftrustrasi itu, kau salah," cegatku.
Riko memilih mengabaikan ocehanku. Dia semakin dekat. Sebelum ia benar-benar merangkulku, aku lebih dulu mendorongnya dengan kasar. Ia terjengkang.
"Ko, kau tidak mengerti. Bukannya aku tak mau berdoa. Aku sudah sering melakukannya, tetapi dia lebih suka kalau aku jadi orang jahat," bentakku.
"Maksudmu?"
"Jika aku mendoakan kau mati, itu akan benar-benar terjadi."