Tahun itu 2005, dan aku masih ingat persis bunyi terakhir yang pernah kudengar seumur hidupku: suara ibu memanggil namaku dari dapur, menyuruhku pulang sebelum magrib.
Namaku Kalam. Waktu itu umurku sepuluh tahun, dan aku tidak tahu bahwa panggilan itu—"Kalam, pulang, Nak!"—akan jadi kalimat terakhir yang pernah masuk ke telingaku dengan jelas, sebelum dunia perlahan menutup pintunya untukku selamanya.
Kalau ditanya suara apa saja yang paling kurindukan, aku bisa membuat daftar panjang tanpa perlu berpikir lama. Suara azan magrib dari musala kecil di ujung gang, yang menggema pelan lewat pengeras suara yang setengah rusak, terdengar sedikit berdengung tapi tetap menenangkan. Suara hujan jatuh di atap seng rumah kami, yang menurutku dulu terdengar seperti ribuan jari mengetuk-ngetuk minta dibukakan pintu. Dan yang paling kurindukan dari semuanya: suara ibu bersenandung sambil memasak di dapur, lagu-lagu lama yang tidak pernah kutahu judulnya, dinyanyikan dengan suara yang sedikit fals tapi selalu berhasil membuatku mengantuk lebih cepat setiap malam.
Aku tidak pernah sempat menghafal lagu itu sepenuhnya. Sekarang, setiap kali mencoba mengingatnya, yang tersisa hanya potongan-potongan melodi yang samar, seperti mencoba mengingat mimpi yang sudah terlalu lama berlalu.
Waktu itu rumah kami cuma punya satu radio transistor tua, ditaruh di rak dekat jendela dapur, dan setiap sore ibu akan menyalakannya sambil memasak, mendengarkan siaran sandiwara radio atau kabar berita dari kota. Aku suka duduk di lantai dekat kakinya, mendengarkan suara penyiar yang serak, sesekali diselingi derik statis yang timbul-tenggelam karena sinyal yang kurang bagus. Aku juga ingat suara sepeda ontel milik seorang lelaki yang tinggal serumah dengan kami, yang rodanya sedikit berdecit setiap kali dia pulang kerja sore hari—suara yang dulu jadi tanda bahwa hari sudah hampir gelap, saatnya aku berhenti main dan bersiap makan malam. Semua bunyi kecil itu, yang dulu terasa remeh dan tidak pernah kupikirkan dua kali, sekarang jadi harta yang kusimpan rapat-rapat di ingatan, karena aku tahu tidak akan pernah bisa mendengarnya lagi.
Semua berawal dari demam biasa. Setidaknya begitu kata orang-orang di kampung kami waktu itu. Panas tinggi selama tiga hari, lalu turun, lalu naik lagi, lalu turun lagi—ibuku sampai hafal betul pola demamnya, karena setiap malam dia duduk di sampingku dengan kompres basah, menempelkannya ke dahiku sambil bergumam doa yang tak pernah putus.
Puskesmas di desa kami cuma buka setengah hari, dan dokternya cuma satu, datang dua kali seminggu dari kota kecamatan. Ibu menggendongku ke sana dengan sarung yang dililitkan ke tubuhnya sebagai gendongan, meski aku sudah sebesar itu, karena kakiku terlalu lemas untuk berjalan.
"Ini cuma tipes, Bu," kata dokter itu waktu itu, memberi resep antibiotik seadanya.
Tapi bukan tipes. Baru bertahun-tahun kemudian aku tahu, dari seorang dokter di kota yang jauh lebih paham, bahwa itu kemungkinan besar meningitis—infeksi yang menyerang selaput otak, yang di desa kami tidak pernah terdiagnosis dengan benar karena tidak ada alat, tidak ada laboratorium, tidak ada siapa pun yang benar-benar tahu.
Yang aku ingat hanyalah, satu pagi aku terbangun, dan dunia sudah berbeda.
Awalnya aku pikir aku hanya kurang tidur. Suara-suara di sekitarku terasa jauh, seperti mendengar dari balik air. Aku bisa melihat mulut ibu bergerak, tapi suaranya sayup, semakin lama semakin menghilang, sampai akhirnya benar-benar tidak ada apa-apa.
Hening total.
Aku menangis waktu itu, bukan karena mengerti apa yang terjadi, tapi karena panik—bagaimana caranya memberi tahu orang lain kalau kau tiba-tiba tidak bisa mendengar suaramu sendiri menangis?
Ibu memelukku erat-erat, dan aku bisa merasakan getaran suaranya di dadanya saat dia bicara, meski tak satu kata pun sampai ke telingaku. Dia menangis juga. Aku tahu karena bahunya berguncang, dan air matanya jatuh ke rambutku.
Kami pergi ke kota kecamatan, lalu ke kota kabupaten, menghabiskan uang yang sebenarnya tidak kami punya untuk berkonsultasi ke dokter spesialis. Ruang tunggunya penuh kursi plastik yang berderit setiap kali ada yang bergeser duduk, dan aku menghabiskan waktu menghitung ubin lantai sambil menunggu giliran dipanggil—kebiasaan baru yang kupelajari tanpa sadar, karena aku tidak lagi bisa mendengar nama sendiri diteriakkan dari balik loket pendaftaran.
Dokter itu memeriksa telingaku dengan alat kecil yang dingin, lalu menuliskan sesuatu di kertas, menunjukkannya pada ibu sambil bicara panjang lebar yang tidak bisa kudengar sepatah pun. Aku hanya bisa membaca wajah ibu—bagaimana rahangnya mengeras, bagaimana matanya berkedip lebih cepat dari biasa, bagaimana dia menahan napas sebelum akhirnya mengangguk pelan.
Semua dokter bilang hal yang sama: gangguan pendengaran permanen, saraf pendengarannya sudah rusak, kemungkinan tidak bisa dipulihkan lagi. Ada alat bantu dengar, katanya, tapi harganya waktu itu setara dengan penghasilan ibuku berjualan kue selama hampir setahun penuh. Ada juga operasi implan koklea, tapi itu cuma ada di rumah sakit besar di ibu kota, dengan biaya yang bahkan tak pernah kami bayangkan dalam mimpi paling liar sekalipun.
Di perjalanan pulang naik bus antarkota, aku duduk menempel ke jendela, menonton sawah-sawah berlari ke belakang tanpa suara, sementara ibu menggenggam tanganku erat-erat sepanjang jalan, seolah takut aku juga akan hilang seperti suaraku.
"Kita akan cari cara," kata ibu, meski aku hanya bisa membaca gerak bibirnya. Aku tidak tahu apakah dia benar-benar percaya kata-katanya sendiri, atau hanya berusaha meyakinkan dirinya di depan anaknya yang baru saja kehilangan satu dari lima inderanya.
Dunia dalam kesunyian ternyata bukan dunia yang kosong. Justru sebaliknya—penuh dengan hal-hal yang harus kupelajari ulang dari nol.
Aku belajar membaca gerak bibir, meski sering salah tebak dan bikin orang tertawa, kadang bikin aku menangis di kamar sendirian karena lelah selalu menjadi yang paling lambat mengerti. Ibu belajar bahasa isyarat dari sebuah buku tipis yang dibelinya di kota, buku yang halamannya lecek karena terlalu sering dibuka, dilipat di sudut-sudut tertentu, ditandai dengan pensil di bagian yang menurutnya penting.
Buku itu judulnya sudah pudar di sampulnya, tapi aku masih ingat gambar-gambar tangan hitam putih di dalamnya, tercetak buram karena kualitas kertas yang murah. Ibu tidak pernah sekolah tinggi—dia berhenti setelah SMP untuk membantu neneknya berjualan di pasar—jadi belajar dari buku bukan hal yang biasa baginya. Aku sering melihatnya duduk sendirian di dapur setelah aku tidur, lampu minyak menyala redup, mengulang-ulang satu gerakan tangan di depan cermin kecil sampai dia yakin benar, sebelum berani mempraktikkannya padaku esok harinya.
Setiap malam, sebelum tidur, dia duduk di depanku, mempraktikkan satu-dua kata baru yang dipelajarinya siang itu. Kata "makan". Kata "sayang". Kata "maaf". Kata "besok". Tangannya kaku, gerakannya sering keliru, tapi dia terus mencoba, malam demi malam, seolah dia sedang belajar bahasa baru demi bisa terus bicara denganku—yang sebenarnya memang benar begitu adanya.
Anak-anak di kampung mulai menjauhiku. Bukan karena jahat, tapi karena bingung bagaimana caranya bermain dengan anak yang tidak bisa mendengar suara mereka memanggil, tidak bisa ikut tertawa saat mereka bercanda, tidak bisa ikut menyanyi lagu-lagu yang sedang populer waktu itu di radio-radio kampung.
Ada satu kejadian yang sampai sekarang masih kuingat jelas, meski sudah bertahun-tahun berlalu. Waktu itu ada acara tujuh belasan di kampung, lomba-lomba kecil di lapangan, dan aku ingin ikut lomba balap karung seperti biasanya. Tapi panitia—yang juga tetangga sendiri—memberi isyarat kikuk supaya aku menonton saja, katanya khawatir aku tidak dengar aba-aba peluit dan bisa membahayakan diri sendiri. Aku pulang hari itu dan menangis di kamar, bukan karena tidak ikut lomba, tapi karena untuk pertama kalinya aku merasa dunia sudah menganggapku sebagai orang yang harus dijaga jarak, bukan lagi anak biasa yang kebetulan tidak bisa mendengar.
Ibu tahu soal itu tanpa aku perlu menuliskannya. Katanya dari raut wajahku saja sudah cukup jelas. Malam itu dia duduk lebih lama dari biasanya, mengajariku isyarat kalimat baru yang tidak pernah dia ajarkan sebelumnya: Kau tidak kurang apa-apa. Dunia saja yang belum belajar caranya bicara denganmu.
Aku menghabiskan banyak waktu sendirian, memandangi dunia dari jendela kamar, mengamati mulut orang-orang bergerak tanpa suara, seperti menonton televisi yang volumenya sengaja dimatikan.
Tapi ibu tidak pernah membiarkanku benar-benar sendirian. Setiap sore, dia mengajakku duduk di teras, menunjuk-nunjuk benda di sekitar kami, mengajariku kata isyaratnya satu per satu. Pohon mangga. Ayam. Sepeda. Hujan. Pelangi. Kami membangun dunia kami sendiri, dunia yang penuh gerakan tangan dan ekspresi wajah, dunia yang perlahan terasa cukup, meski tidak pernah benar-benar menggantikan dunia yang hilang.
Bulan-bulan berlalu, dan sesuatu yang lain mulai berubah di rumah kami: perut ibu mulai membesar.
Aku sudah cukup besar untuk mengerti bahwa akan ada adik. Ibu menikah lagi setahun setelah ayahku meninggal karena kecelakaan kerja di tambang, dua tahun sebelum aku kehilangan pendengaranku—jadi bayi ini adalah anak dari ayah tiriku, seorang lelaki pendiam bernama Pak Hasan yang bekerja sebagai tukang kayu, dan yang meski canggung, selalu berusaha ikut belajar bahasa isyarat bersama ibu setiap malam, meski hasilnya jauh lebih buruk dari ibu.
Aku menempelkan telingaku ke perut ibu suatu sore, meski aku tahu aku tidak akan mendengar apa-apa. Tapi aku ingin merasakan getarannya, seperti dulu aku merasakan getaran suara ibu di dadanya waktu memelukku.
"Kau akan jadi kakak yang baik," kata ibu, kutebak dari gerak bibirnya, sambil mengusap kepalaku.
Aku menulis di buku kecil yang selalu kubawa untuk berkomunikasi dengan orang-orang yang tidak bisa bahasa isyarat: Aku ingin dengar dia nangis waktu lahir nanti.
Ibu membaca tulisanku, lalu tersenyum, meski matanya sedikit berkaca-kaca. Dia menulis balasannya di bawah tulisanku: Ibu akan ceritakan semuanya untukmu, sedetail mungkin, sampai kau merasa seperti benar-benar mendengarnya.
Bayi itu lahir di bulan November, di rumah, dibantu bidan kampung, karena rumah sakit terdekat berjarak dua jam perjalanan dan waktu itu sudah terlalu larut untuk berangkat ketika kontraksi ibu tiba-tiba datang begitu cepat.
Pak Hasan bukan ayah kandungku, dan selama bertahun-tahun aku memperlakukannya dengan jarak yang sopan tapi dingin—bukan karena dia berbuat salah, tapi karena aku belum siap memberi ruang bagi siapa pun untuk menggantikan posisi ayah di hatiku, meski ayah kandungku sendiri sudah lama tiada.
Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, aku melihatnya sebagai manusia yang sama rapuhnya denganku. Aku duduk di luar kamar bersamanya, wajahnya pucat pasi, tangannya gemetar memegang gagang pintu tanpa berani membukanya—seorang lelaki yang selama ini kuanggap dingin dan kaku, ternyata bisa setakut itu, sebegitu mencintai ibu hingga tak sanggup berkata apa-apa selain menunggu dalam diam. Aku tidak bisa mendengar apa pun dari dalam kamar—tidak jeritan ibu, tidak instruksi bidan, tidak tangis pertama bayi yang lahir. Semuanya berlangsung dalam kesunyian bagiku, meski aku tahu di baliknya sedang terjadi sesuatu yang penuh suara, penuh ketegangan, penuh doa yang diucapkan berkali-kali.
Bidan itu akhirnya keluar, wajahnya tegang, memberi isyarat pada Pak Hasan untuk segera masuk. Aku ikut berdiri, tapi seseorang—aku lupa siapa, mungkin tetangga yang datang membantu—menahan bahuku, menyuruhku tetap di luar.
Aku menulis di buku kecilku, tangan gemetar: Ada apa?
Tidak ada yang sempat menjawab.
Bayi itu selamat. Seorang bayi perempuan, sehat, dengan tangisan yang menurut semua orang sangat kencang—tangisan yang tidak akan pernah kudengar seumur hidupku.
Tapi ibu tidak selamat.
Pendarahan hebat, kata bidan itu kemudian, sesuatu yang di rumah sakit kota mungkin bisa ditangani, tapi tidak di kampung kami, tidak dengan peralatan seadanya, tidak dengan jarak dua jam yang tidak sempat ditempuh.
Aku tidak mendengar tangisan Pak Hasan malam itu. Aku tidak mendengar jerit tetangga-tetangga yang berdatangan. Aku tidak mendengar suara orang-orang membaca doa di sekeliling jenazah ibu yang dibaringkan di ruang tengah, tempat yang sama di mana dulu dia duduk setiap malam mengajariku kata-kata baru dalam bahasa isyarat.
Yang aku lihat hanyalah mulut-mulut bergerak tanpa suara, air mata yang jatuh tanpa isak yang bisa kudengar, dan wajah ibu yang begitu tenang, seolah dia hanya sedang tidur siang, seolah sebentar lagi dia akan bangun dan menuliskan sesuatu di buku kecilku, seperti biasa.
Aku duduk di sampingnya semalaman, menggenggam tangannya yang mulai dingin, menunggu sebuah kalimat yang aku tahu tidak akan pernah datang lagi: "Kalam, pulang, Nak."
Aku sudah pulang, Bu. Tapi kau yang pergi.
Bertahun-tahun setelah itu, aku sering bertanya-tanya, kalimat apa yang sebenarnya diucapkan ibu di menit-menit terakhirnya. Apakah dia memanggil namaku? Apakah dia berpesan sesuatu untuk adikku yang bahkan belum sempat dia gendong lama-lama? Apakah dia menyebut nama Pak Hasan, atau justru nama ayahku yang sudah lebih dulu pergi?
Aku tidak akan pernah tahu. Kesunyian yang merenggut telingaku juga merenggut kesempatan itu dariku—kesempatan untuk mendengar kata-kata terakhir orang yang paling kucintai di dunia ini.
Adikku, yang diberi nama Nara oleh Pak Hasan, tumbuh tanpa pernah mengenal suara ibunya sendiri. Aku, kakaknya, tumbuh tanpa pernah mendengar tangisan pertamanya. Dua kehilangan yang berbeda, terjadi di malam yang sama, di rumah yang sama, terpisah hanya oleh selembar pintu kayu yang tidak pernah sempat kubuka tepat pada waktunya.
Aku yang membesarkan Nara, lebih dari siapa pun. Pak Hasan bekerja dari pagi sampai petang, jadi akulah yang menggendongnya waktu kecil, menyuapinya, menemaninya belajar berjalan sambil merentangkan kedua tangan di depannya. Aku mengajarinya bahasa isyarat sejak dia masih bayi, jauh sebelum dia bisa bicara, karena aku ingin kami punya bahasa yang sama, bahasa yang tidak akan pernah membuat salah satu dari kami merasa tertinggal.
Yang lucu, Nara tumbuh menjadi anak yang fasih berbicara dan sekaligus fasih berisyarat, berpindah dari satu bahasa ke bahasa lain dengan begitu mudah, seolah dia tidak pernah menganggap itu sebagai dua dunia yang terpisah. Baginya, kesunyianku bukan sesuatu yang aneh atau perlu dikasihani—itu hanya cara lain keluarganya berkomunikasi, sama wajarnya dengan bernapas.
Suatu malam, waktu dia berumur enam tahun, dia menarik-narik bajuku, memberi isyarat: Ibu suaranya kayak apa?
Aku tidak tahu bagaimana menjawabnya. Aku sendiri hampir lupa. Yang tersisa hanya getaran samar di ingatanku, bukan suara yang jelas. Akhirnya aku menulis di buku kecil yang sudah kuwariskan padanya sejak dia bisa membaca: Suaranya lembut. Kalau dia bicara, kau akan merasa aman, seperti diselimuti waktu hujan.
Nara membaca tulisan itu berulang-ulang, lalu menyimpannya di kepalanya seperti sebuah dongeng—dongeng tentang ibu yang tidak pernah sempat dikenalnya, disampaikan oleh kakak yang juga tidak pernah benar-benar mendengarnya. Sejak malam itu, setiap kali melewati pohon mangga di halaman, Nara akan berhenti sejenak, menyentuh batangnya, seolah sedang menyapa seseorang yang hanya dikenalnya lewat cerita.
Aku menyimpan buku kecil itu sampai sekarang—buku yang penuh coretan tulisan tangan ibu, jawaban-jawabannya untuk setiap pertanyaan yang kutulis selama bertahun-tahun. Halamannya sudah menguning, sampulnya nyaris lepas dari jilidannya, tapi aku tidak pernah berani menjilidnya ulang, takut kehilangan sedikit pun dari bentuk aslinya—bentuk yang sama persis dengan waktu ibu terakhir memegangnya. Halaman terakhir yang ditulisnya adalah balasan tentang adik bayi yang belum lahir: Ibu akan ceritakan semuanya untukmu, sedetail mungkin, sampai kau merasa seperti benar-benar mendengarnya.
Dia tidak pernah sempat menepati janji itu. Tapi aku memilih untuk menepatinya sendiri, untuk Nara—setiap malam, aku menuliskan cerita tentang ibu untuknya, tentang suara yang tidak pernah bisa kudengar tapi selalu bisa kurasakan getarannya, tentang perempuan yang belajar bahasa isyarat demi anak laki-lakinya yang tiba-tiba hidup dalam kesunyian.
Sekarang aku mengajar di sebuah sekolah luar biasa di kota kecamatan, mengajarkan bahasa isyarat pada anak-anak yang dunianya, seperti duniaku dulu, tiba-tiba berubah sunyi. Setiap awal tahun ajaran, aku selalu memulai kelas dengan kalimat yang sama, kalimat yang dulu diajarkan ibu padaku di malam sehabis lomba tujuh belasan itu: Kau tidak kurang apa-apa. Dunia saja yang belum belajar caranya bicara denganmu. Aku melihat wajah anak-anak itu berubah setiap kali kalimat itu selesai kuisyaratkan—dari takut menjadi sedikit lebih tegak, seolah untuk pertama kalinya seseorang memberi tahu mereka bahwa kesunyian bukan aib yang harus disembunyikan. Setiap kali ada anak baru yang datang dengan mata ketakutan, tidak mengerti kenapa suara-suara di sekelilingnya menghilang, aku selalu ingat pada satu sore di teras rumah, seorang ibu muda menunjuk pohon mangga, mengajari anaknya kata isyarat pertama dalam dunia baru yang harus mereka bangun bersama.
Kesunyian, aku belajar, bukan berarti kekosongan. Ia hanya ruang yang menuntut kita mengisi dengan cara lain—dengan sentuhan, dengan gerakan tangan, dengan tulisan di buku kecil yang lecek di sudut-sudutnya.
Nara sekarang sudah dewasa, bekerja sebagai perawat di rumah sakit kota kecamatan yang dulu terlalu jauh untuk dijangkau tepat waktu malam itu. Kadang dia bercanda, katanya dia memilih profesi itu supaya tidak ada keluarga lain yang kehilangan seseorang hanya karena jarak dan waktu yang tidak berpihak. Aku tidak pernah bertanya apakah itu benar-benar alasannya, atau hanya caranya menutupi luka yang sama seperti lukaku, hanya dalam bentuk berbeda.
Setiap tanggal kematian ibu, kami berdua pulang ke kampung, membersihkan makamnya yang sekarang sudah dikelilingi pohon-pohon yang lebih besar dari yang kuingat. Nara selalu membawa bunga, aku selalu membawa buku kecil itu, meski halamannya sudah nyaris rapuh dimakan waktu.
Tahun lalu, untuk pertama kalinya, Nara duduk di depan makam itu dan mulai berisyarat—bukan padaku, tapi seolah bicara langsung pada nisan itu, mempraktikkan kalimat yang baru saja dipelajarinya dariku minggu sebelumnya: Aku baik-baik saja, Bu. Kakak menjagaku dengan baik.
Aku menangis waktu itu, untuk pertama kalinya di depan makam ibu setelah bertahun-tahun berusaha terlihat kuat di depan Nara. Bukan tangisan karena sedih semata, tapi tangisan karena akhirnya merasa lingkaran itu tersambung sempurna—ibu yang belajar bahasa isyarat demi anaknya yang tuli, dan sekarang anak itu yang sudah mengajarkannya pada adiknya, yang kemudian membawanya kembali pulang, ke tempat semuanya dimulai.
Dan di dalam kesunyian itu, yang tertinggal untukku bukan hanya kehilangan. Tapi juga seorang ibu yang memilih untuk terus bicara denganku, dengan caranya sendiri, sampai napas terakhirnya—meski aku tidak pernah benar-benar mendengar suaranya lagi sejak sore itu, saat dia memanggil namaku dari dapur, menyuruhku pulang sebelum magrib.
Aku pulang, Bu. Dan aku tidak pernah benar-benar pergi. Aku hanya belajar mendengarmu dengan cara lain—lewat getaran, lewat tulisan tangan yang memudar, lewat adik yang kini bisa berisyarat sefasih dia bicara, dan lewat anak-anak di kelasku yang setiap hari mengingatkanku bahwa suaramu, dengan caranya sendiri, masih terus hidup.