Disukai
2
Dilihat
19
Temu: Sebelum Fajar Tiba
Drama
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Rumah ini akan mulai dipasarkan minggu depan. Makelar yang mengurus penjualannya memintaku datang dulu, melihat-lihat kondisi rumah, sebelum dia memasang papan "Dijual" di depan pagar. Itu alasan resminya, alasan yang rapi terketik di pesan WhatsApp yang dikirimnya semalam. Tapi alasan yang sebenarnya, jujur saja, aku sendiri juga tidak terlalu yakin—mungkin aku hanya ingin melihatnya sekali lagi, menyusuri lorong yang sama, berdiri di halaman yang sama, sebelum rumah masa kecilku ini benar-benar jadi milik orang lain, jadi kenangan orang yang bahkan tidak pernah tahu siapa dulu yang tinggal di dalamnya.

Sudah dua tahun rumah ini kosong. Sejak Bapak—Pak Broto, begitu orang-orang di kampung memanggilnya—pergi untuk selamanya, waktu jantungnya berhenti sendiri di tengah menyapu halaman, tanpa sempat berpamitan pada siapa-siapa. Ibu yang menemukannya sore itu, sapu lidi masih tergenggam di tangan kanannya, seperti orang yang cuma berhenti sebentar untuk mengatur napas, padahal sudah tidak akan pernah bangun lagi. Sejak hari itu, Ibu tidak sanggup lagi tidur sendirian di rumah ini. Dia pindah ke rumah kakakku di kota, membawa serta radio tua dan beberapa foto, meninggalkan sisanya untuk kuurus perlahan-lahan, setiap kali aku sempat pulang.

Perjalanan dari kota memakan waktu delapan jam naik mobil, menyusuri jalan lintas yang setengahnya masih berupa tanah merah becek kalau hujan turun. Aku berangkat sendirian, sekitar jam satu siang, dua hari setelah surat cerai itu resmi turun dari pengadilan agama. Rasanya aneh menyetir sejauh itu tanpa ada yang menemani di kursi sebelah, tanpa suara yang biasanya mengomentari setiap truk yang menyalip sembarangan, tanpa tangan yang biasa terulur mengambil air mineral dari tas. Tapi mungkin memang begitu seharusnya sekarang—aku yang harus belajar dulu duduk sendiri, sebelum nanti, entah kapan, bisa duduk berdua lagi dengan siapa pun.

Sepanjang jalan aku hampir tidak menyalakan radio. Cuma sesekali berhenti di warung kecil pinggir jalan, membeli kopi sachet yang diseduh asal-asalan, lalu duduk sebentar di bangku kayu sambil menatap kebun sawit yang berbaris rapi sampai jauh ke cakrawala. Ada satu titik, sekitar jam empat sore, waktu aku melewati sebuah SD kecil dengan gerbang besi berkarat, dan tiba-tiba ingatan tentang Bapak mengantarku sekolah dengan motor bebek tuanya muncul begitu saja, tanpa kuundang. Dulu Bapak selalu berangkat lebih pagi dari jadwalnya sendiri di kebun, hanya supaya aku tidak terlambat masuk kelas satu. Dia tidak pernah bilang itu pengorbanan. Dia cuma bilang, "Biar Bapak duluan yang kena macet, bukan kamu."

Namaku Raka. Umurku tiga puluh lima. Anak satu-satunya dari Pak Broto dan Ibu, dibesarkan di rumah kayu berlantai semen ini, di pinggiran kota kecil yang sekarang sudah mulai ramai oleh ruko dan tiang listrik baru. Bapak dulu bekerja serabutan—kadang jadi buruh kebun, kadang membantu tetangga membetulkan atap, kadang menjadi tukang ojek dadakan kalau ada yang butuh diantar ke puskesmas tengah malam. Uangnya tidak pernah banyak, tapi rumah ini selalu penuh, selalu hangat, meskipun Bapak sendiri orangnya pendiam, jarang mengungkapkan apa yang dia rasakan.

Sampai di rumah sekitar jam sembilan malam, ketika langit sudah gelap sempurna dan suara jangkrik mengambil alih seluruh kampung. Perabot sudah diangkut semua ke rumah kakakku, tinggal satu kursi kayu di ruang tengah yang sengaja tidak ikut dibawa—kursi yang dulu jadi tempat Bapak duduk sehabis magrib, dengar radio berita jam delapan, atau membaca koran bekas yang selalu lecek karena kepanasan seharian di atas dasbor motornya. Aku menyalakan lampu ruang tengah, satu-satunya bohlam yang masih terpasang, dan cahayanya jatuh persis di kursi kosong itu, membuatnya terlihat seperti sedang menunggu seseorang untuk pulang dan duduk di sana lagi.

Aku berjalan berkeliling sebentar, menyusuri dapur yang temboknya masih menghitam bekas asap kayu bakar, kamar kecil di sudut yang dulu jadi kamarku, jendela kayu yang engselnya berderit sama persis seperti dulu. Pohon mangga di halaman belakang masih berdiri, meski daunnya sudah lebih jarang, dan aku ingat betapa dulu aku dan Bapak sering duduk di bawahnya sore-sore, dia mengupas mangga muda dengan pisau lipatnya, aku menunggu dengan mulut sudah berair membayangkan rasa asamnya bercampur garam.

Aku tidak sadar sudah berapa lama aku berkeliling seperti itu, sampai kulirik HP-ku dan kaget sendiri—sudah hampir jam empat dini hari, dan aku belum memejamkan mata sejak berangkat kemarin siang. Pikiranku terlalu penuh untuk tidur, tapi badanku sudah tidak mau mendengarkan kata pikiran.

Aku kembali ke ruang tengah, duduk di lantai, bersandar ke dinding, menghadap kursi kosong itu. Badanku capek sekali—campuran delapan jam menyetir dan entah berapa bulan terakhir yang rasanya jauh lebih melelahkan dari itu semua: rapat mediasi yang berujung buntu, kamar kos yang kutinggali sendirian sejak pisah rumah, telepon-telepon dari pengacara yang selalu membuat dadaku sesak. Aku cuma mau memejamkan mata sebentar, menunggu langit sedikit terang. Lima menit, pikirku. Nanti kalau sudah subuh, baru aku foto-foto rumah ini untuk dikirim ke makelar, lalu lanjut ke rumah kakakku.

Tapi mataku ternyata jauh lebih berat dari yang aku kira.

Aku tidak ingat persis kapan aku mulai sadar ada yang lain di ruangan itu. Yang aku ingat, aku membuka mata—atau merasa membuka mata, karena semuanya terasa berat dan agak melambat, seperti bergerak di dalam air—dan Bapak sudah duduk di kursi kayu itu. Persis seperti dulu. Kaus oblong putih yang mulai menguning di bagian kerah, sarung kotak-kotak yang dilipat sampai lutut, cara duduknya yang selalu agak membungkuk, seperti orang capek yang tidak mau mengaku capek pada siapa pun, termasuk pada dirinya sendiri.

Aku mencubit lenganku sendiri. Sakit. Tapi anehnya, rasa sakit itu justru bikin aku makin yakin ini bukan mimpi biasa—atau, kalaupun ini mimpi, ada sesuatu yang beda dari mimpi-mimpi lain yang selama ini aku ingat cuma samar-samar begitu bangun. Semua di sini terasa terlalu jelas: bau kayu lembap, suara jangkrik yang masih terdengar dari luar, bahkan dinginnya lantai semen di bawah pahaku.

"Pak?"

Bapak tersenyum tipis, menatap ke sekeliling ruangan kosong itu, seperti baru pertama kali melihatnya begini. "Rumahnya jadi kosong begini, ya. Aneh rasanya."

"Mau dijual, Pak. Makanya aku ke sini, lihat-lihat dulu, sebelum papannya dipasang."

Dia mengangguk pelan, tidak terkejut, tidak juga sedih, hanya menerima. Lalu, tanpa basa-basi lagi, dia berkata, "Kamu cerai."

Bukan pertanyaan. Aku menunduk, menatap lantai di antara kedua kakiku. "Iya, Pak. Tahu darimana?"

"Bapak kan di sini terus, Le. Cuma kamu aja yang nggak lihat."

Kalimat itu menusuk, tapi bukan menyakitkan yang biasa. Lebih seperti jarum yang dimasukkan pelan-pelan, oleh tangan yang tahu persis mau menusuk di bagian mana supaya nanahnya ikut keluar, bukan cuma menambah luka.

"Pak," kataku, suaraku mulai bergetar, "boleh aku tanya sesuatu?"

"Silakan. Kapan lagi kalau bukan sekarang."

"Kenapa Bapak dulu jarang ngomong? Aku besar sama Bapak seumur hidupku, tapi rasanya aku nggak pernah benar-benar kenal Bapak. Bapak orangnya kayak apa, Bapak takut apa, Bapak pernah nangis karena apa—aku nggak tahu satu pun."

Bapak diam sebentar, matanya menerawang ke jendela yang gelap. "Karena Bapak dulu juga besar sama orang yang begitu. Kakekmu—kamu nggak sempat kenal, meninggal waktu kamu masih bayi—orangnya lebih diam lagi dari Bapak. Kalau Bapak jatuh dari pohon, Kakek cuma bilang, 'sudah, jangan cengeng', terus jalan lagi. Bapak pikir, diam itu tandanya kuat. Ngomong perasaan itu tandanya lemah. Baru Bapak sadar itu salah, pas Bapak udah nggak bisa ngomong lagi sama siapa-siapa."

"Maksud Bapak?"

"Maksudnya, pas Bapak udah di sini." Dia menunjuk ke dadanya sendiri, lalu ke sekeliling ruangan, gerakan tangan yang pelan dan agak berat, seolah setiap kata butuh tenaga lebih untuk dikeluarkan. "Baru nyesel, ternyata. Nyesel yang nggak bisa diperbaiki lagi dengan cara biasa."

Aku menahan napas, dadaku terasa penuh. "Aku juga nyesel, Pak. Soal telepon terakhir itu."

Bapak menatapku, tidak menjawab, seperti menunggu aku melanjutkan sendiri, sama seperti dulu waktu aku kecil dan dia menunggu aku mengaku sendiri kesalahanku daripada langsung dimarahi.

"Waktu itu Bapak nanya soal rumah tanggaku, aku malah marah. Aku bilang Bapak kebanyakan ikut campur, bilang aku bukan anak kecil lagi yang harus dilapori semuanya. Padahal Bapak cuma khawatir, Bapak cuma dengar dari tetangga kalau aku dan istriku sering ribut. Tiga hari kemudian Bapak nggak ada, dan aku nggak pernah sempat telepon balik buat minta maaf. Aku bahkan nggak sempat bilang aku sayang Bapak, terakhir kali."

"Kenapa nggak sempat?"

Pertanyaan itu terdengar simpel, tapi aku butuh waktu lama untuk menjawabnya, seperti menggali sesuatu yang sengaja kutimbun dalam-dalam. "Karena aku gengsi, Pak. Aku malu ngaku rumah tanggaku lagi hancur, malu ngaku aku gagal jadi suami yang baik. Aku takut Bapak kecewa sama aku, jadi aku lebih milih marah duluan daripada ketahuan lemah di depan Bapak."

"Sama," kata Bapak, pelan, hampir seperti berbisik pada dirinya sendiri. "Bapak juga gitu, dulu. Ke kamu, ke ibumu, ke semua orang. Lebih milih diam atau marah, daripada ketahuan takut."

"Takut apa, Pak?"

"Takut nggak cukup baik. Sebagai bapak, sebagai suami buat ibumu, sebagai anak dari kakekmu juga yang nggak pernah sekali pun bilang bangga sama Bapak." Dia menghela napas panjang, napas yang terdengar berat meski aku tahu dia sudah tidak lagi benar-benar bernapas, hanya bentuk dari sesuatu yang dulu pernah bernapas. "Itu yang Bapak wariskan ke kamu, Le, tanpa Bapak sadar. Rasa takut yang sama, cuma beda bentuk. Punya Bapak bentuknya diam. Punya kamu bentuknya marah duluan. Tapi akarnya satu: sama-sama takut dianggap nggak becus."

Aku merasa sesuatu di dadaku runtuh, tapi bukan yang menyakitkan—lebih seperti tembok yang akhirnya boleh roboh, setelah sekian lama menahan beban yang sebenarnya bukan tempatnya.

"Bapak inget nggak," kataku lagi, mencoba mengalihkan sedikit sebelum air mataku benar-benar jatuh, "waktu aku kelas enam, nilai ujianku jelek banget, aku takut setengah mati pulang ke rumah. Tapi Bapak cuma diam, terus ngajak aku mancing di sungai belakang kebun Pak Slamet. Kita nggak ngomong soal nilai sama sekali seharian itu."

Bapak tersenyum, senyum yang jarang sekali kulihat waktu dia masih hidup. "Bapak inget. Bapak nggak tahu harus ngomong apa waktu itu, jadi Bapak ajak kamu mancing aja. Bapak pikir, biar kamu tahu, biar nilai jelek gitu, Bapak tetap mau habiskan waktu sama kamu. Cuma Bapak nggak pernah bilang itu langsung. Bapak kira kamu ngerti sendiri dari tindakan Bapak."

"Aku baru ngerti sekarang, Pak. Waktu itu aku cuma pikir Bapak lupa marahin aku."

"Itu masalahnya, Le. Bapak kira diam itu cukup. Ternyata orang butuh didengar kata-katanya juga, bukan cuma dirasakan dari tindakan yang kadang bisa disalahartikan."

"Kadang aku mikir, Pak," lanjutku, suara mulai serak, "kalau dulu aku bisa lebih terbuka sama istriku, mungkin nggak akan sampai begini. Setiap kali dia nanya kenapa aku diam, aku malah makin nutup diri, sampai akhirnya dia capek duluan nungguin aku mau ngomong."

Bapak mengangguk pelan, seperti mengenali pola itu dari jauh, dari cerminnya sendiri. "Itu bukan salah dia nyerah, Le, dan bukan sepenuhnya salah kamu juga. Cuma dua orang yang sama-sama nggak diajari cara ngomong, ketemu, terus capek sama-sama. Yang penting sekarang, kamu belajar dari itu, bukan cuma nyalahin diri sendiri terus-terusan sampai lupa jalan ke depan."

"Terus aku harus gimana, Pak? Aku takut ngulang semua ini lagi, kalau nanti aku nikah lagi, punya anak lagi. Aku takut jadi kayak Bapak, atau malah lebih buruk."

Bapak menatapku lama sekali, sampai aku hampir tidak tahan menahan tatapan itu.

"Kamu tadi bisa cerita semua ini ke Bapak," katanya akhirnya, suaranya lembut tapi mantap. "Itu udah beda, Le. Bapak dulu nggak pernah bisa cerita kayak gini, sama siapa pun, bahkan sama ibumu sendiri. Kamu nggak harus sempurna, cuma jangan diam kayak Bapak dulu. Bilang, walau susah. Bilang, walau nanti kedengarannya bego atau lemah di telinga orang. Karena diam itu bukan kuat, Le. Diam itu cuma nunda sakit yang lebih besar buat nanti—buat kamu sendiri, dan buat orang yang kamu diamkan."

"Kalau soal Ibu, Pak? Ibu sekarang lebih sering diam juga, sejak Bapak nggak ada."

Wajah Bapak sedikit berubah, ada sesuatu yang mirip sesal yang lebih dalam lagi di sana. "Itu yang paling Bapak sesalkan, Le. Ibumu perempuan yang kuat, tapi Bapak nggak pernah cukup sering bilang terima kasih sama dia, nggak pernah cukup sering pegang tangannya cuma buat bilang 'kamu hebat'. Sekarang tolong, gantiin Bapak. Peluk ibumu kalau ketemu. Bilang hal-hal yang Bapak nggak sempat bilang."

Aku mengangguk, tenggorokanku tercekat, tidak sanggup bicara sebentar.

"Bapak tenang di sana?" tanyaku akhirnya, setelah keheningan yang terasa panjang.

Dia tersenyum, senyum yang sama seperti dulu waktu melepasku merantau pertama kali ke kota—senyum yang menyimpan lebih banyak dari yang pernah diucapkan. "Insyaallah tenang, Le. Bukan karena semua yang dulu udah sempurna, tapi karena Bapak belajar ikhlas, belajar pasrah sama yang di atas soal apa yang udah lewat, yang nggak bisa Bapak perbaiki lagi dengan tangan sendiri. Dan lebih tenang lagi sekarang," katanya, "karena ini." Dia menunjuk ke arah kami berdua, ke ruangan kosong yang untuk sesaat terasa penuh lagi. "Karena akhirnya sempat. Walau caranya aneh begini."

Aku tidak sadar sejak kapan cahaya di luar jendela berubah, dari gelap pekat menjadi entah warna apa—bukan malam biasa, bukan pula terang, seperti waktu di dalam mimpi ini punya aturannya sendiri, tidak tunduk pada jam dinding mana pun. Lalu, samar-samar, aku dengar suara ayam berkokok, satu-dua kali, seperti baru mencoba-coba, belum yakin betul waktunya sudah tiba.

"Pak, kayaknya... aku harus bangun."

"Iya," katanya, "sebentar lagi fajar."

"Aku belum siap, Pak. Rasanya baru sebentar."

"Kamu udah siap," katanya, sosoknya mulai memudar di pinggirnya, seperti asap yang ditiup angin pelan-pelan, helai demi helai kaus putihnya larut ke udara. "Cuma belum rela aja. Itu beda, Le. Siap itu soal kemampuan. Rela itu soal hati. Kamu boleh nggak rela, tapi kamu tetap harus jalan."

"Pak—" Aku mencoba mengulurkan tangan, tapi tanganku menembus udara kosong.

"Satu lagi," suaranya sudah nyaris seperti bisikan, hampir tenggelam oleh suara ayam yang mulai lebih sering berkokok, "jangan tunggu dua tahun kayak Bapak buat bilang sayang ke orang yang kamu sayang. Jangan tunggu sampai mereka nggak bisa dengar lagi. Bapak nunggu kelamaan, sampai nggak sempat lagi bilang apa-apa selain lewat mimpi kayak begini."

Dan tepat saat itu, semuanya jadi terang sekaligus, seperti lampu yang dinyalakan mendadak di ruangan gelap, membuat mataku refleks memicing.

Aku terbangun dengan kaget, jantungku berdebar sangat kencang, masih bersandar di dinding yang sama, di lantai yang sama, dengan leher yang terasa kaku karena posisi tidur yang salah. Kupikir aku sudah tertidur berjam-jam, tapi begitu kucek HP, jam baru menunjukkan pukul empat lewat dua puluh menit dini hari. Baru dua puluh menit berlalu sejak aku memejamkan mata.

Dua puluh menit, untuk percakapan yang rasanya seperti bertahun-tahun yang tertunda, seperti seluruh hal yang seharusnya kami bicarakan bertahun-tahun lalu, akhirnya dipadatkan jadi satu pertemuan singkat sebelum fajar yang sebenarnya belum benar-benar tiba.

Aku duduk lama sekali di lantai itu, menatap kursi kayu yang sekarang benar-benar kosong, cahaya subuh yang kelabu kebiruan mulai merambat masuk lewat celah jendela, menerpa kayu kursi yang mulai lapuk di beberapa bagian kakinya. Tidak ada bekas apa pun di sana—tidak ada bukti, tidak ada tanda bahwa barusan ada seseorang duduk di situ. Cuma dadaku yang terasa jauh lebih ringan dari yang aku ingat sejak dua tahun terakhir, seperti sebagian beban yang selama ini kupikul sendirian, tanpa sadar, akhirnya diringankan sedikit oleh seseorang yang sudah tidak ada.

Aku berdiri, kakiku sedikit kesemutan, lalu berjalan pelan ke arah kursi itu. Kusentuh sandarannya, kayu yang dingin dan sedikit kasar di ujung jariku. Aku membungkuk, mencium punggung kursi itu sebentar, seperti mencium tangan seseorang, lalu berdiri lagi, mengambil HP-ku yang tergeletak di lantai.

Untuk pertama kalinya sejak perceraian itu, aku menelepon Ibu—bukan untuk lapor soal rumah yang mau dijual, bukan untuk membahas urusan berkas atau makelar, tapi cuma untuk mendengar suaranya, dan mengatakan sesuatu yang selama ini juga tidak pernah sempat kukatakan dengan benar, baik kepada Bapak maupun kepada Ibu sendiri.

Telepon itu terangkat setelah dering ketiga. "Halo, Raka? Ada apa, Le? Kok tumben nelepon subuh-subuh begini?"

Suara Ibu terdengar sedikit khawatir, seperti biasanya kalau aku menelepon di luar jadwal biasa. Aku menarik napas dalam-dalam, menahan getar di suaraku sebisa mungkin.

"Bu," kataku, "aku kangen."

Hening sebentar di seberang sana, lalu terdengar helaan napas Ibu, napas yang seperti menahan sesuatu juga. "Ibu juga kangen, Le. Kamu di rumah lama sekarang?"

"Iya, Bu. Baru sampai. Rumahnya udah kosong banget."

"Hati-hati di sana sendirian. Nanti kalau udah beres urusan rumahnya, langsung otw ke sini ya, biar sampai sininya belum kesorean."

"Iya, Bu." Aku diam sebentar, mengumpulkan keberanian yang selama ini entah kenapa selalu terasa lebih berat dari yang seharusnya. "Bu, makasih ya, udah jadi Ibu yang kuat buat aku, buat Bapak juga. Aku sayang Ibu."

Di seberang telepon, aku dengar suara Ibu seperti menahan tangis, lalu tertawa kecil yang basah. "Kamu ini kenapa tumben, Le? Ibu jadi mau nangis."

"Nggak apa-apa, Bu. Cuma pengen bilang aja, sebelum kelamaan kayak dulu."

Kami bicara sebentar lagi, tentang hal-hal kecil, tentang kapan aku akan sampai di rumah kakakku, tentang sarapan apa yang akan disiapkan Ibu nanti. Setelah menutup telepon, aku berdiri sejenak di ambang pintu, menatap sekali lagi ke ruang tengah yang perlahan-lahan bertambah terang, seiring cahaya subuh yang makin deras menembus jendela.

Lalu aku berjalan keluar rumah itu, menutup pintu pelan-pelan di belakangku, mengunci gemboknya seperti biasa, dan menyambut fajar yang perlahan merekah di ufuk timur—untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, terasa benar-benar baru, bukan karena apa pun di luar sana yang berubah, tapi karena ada sesuatu di dalam diriku yang akhirnya, setelah dua tahun, boleh berhenti menahan dan mulai belajar bicara.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi