Bagian 3: Yang Bertahan
(Sudut pandang: relawan pemadam kebakaran lahan)
Aku melepas masker yang sudah menghitam, duduk di bak truk pemadam, menatap titik api terakhir yang akhirnya padam setelah tiga hari tanpa tidur.
Sebelum itu, aku menyeret selang sepanjang satu kilometer melewati lahan gambut yang masih membara di bawah permukaan, karena api gambut tidak menjalar di atas tanah — ia menjalar di dalamnya, sembunyi, muncul lagi di tempat yang tak terduga.
Sebelum itu, aku dan belasan relawan lain berjalan kaki masuk ke titik api karena mobil tidak bisa lewat, membawa pompa jinjing dan tangki air seadanya, sementara asap membuat jarak pandang tinggal beberapa meter saja.
Sebelum itu, aku menerima kabar lewat radio genggam: titik api baru terpantau dari citra satelit, koordinatnya jauh di dalam, dan tidak ada yang tahu pasti berapa luas yang sudah terbakar.
Sebelum itu, aku berpamitan pada keluarga di rumah, membawa bekal seadanya, tidak tahu akan pulang kapan, hanya tahu bahwa semakin lama api dibiarkan, semakin banyak kampung yang akan diselimuti asap.
Sebelum itu, aku hanyalah warga biasa — petani, sopir, tukang bangunan — yang mendaftar jadi relawan karena tak tahan melihat kampung sendiri diselimuti kabut tahun demi tahun, dan berpikir, mungkin aku bisa membantu sedikit saja.
Dan sebelum semua itu, aku pernah bertanya-tanya sendiri: kenapa selalu kami yang turun ke titik api dengan alat seadanya, sementara lahan yang terbakar itu begitu luas, dan musim kering seperti ini datang lagi dan lagi, seolah menjadi rutinitas yang tak pernah benar-benar diselesaikan.
Keterangan:
Bagian penutup ini membawa sudut pandang manusia yang bertindak langsung di lapangan. Berbeda dari Bagian 1 (dampak) dan Bagian 2 (korban), bagian ini menyoroti sisi perjuangan dan pertanyaan yang sering tidak terjawab: mengapa krisis ini terus berulang. Trilogi ditutup bukan dengan solusi, tapi dengan pertanyaan jujur — sesuai kenyataan bahwa masalah ini memang belum selesai.