Aku sudah lima belas tahun jadi sopir. Dari sopir angkot waktu masih muda dulu, sampai akhirnya bergabung dengan jasa rental mobil di Balikpapan, tempat aku biasa menerima orderan sewa mobil plus sopir untuk berbagai keperluan — mulai dari antar-jemput bandara, perjalanan dinas kantoran, sampai perjalanan jauh ke luar kota. November 2017, kantor rental tempatku bekerja mendapat orderan khusus: mengantar tim pelayanan kesehatan keliling dari sebuah program kerja sama pemerintah daerah, rutenya dari Balikpapan menuju salah satu kabupaten di Kalimantan Utara, lalu dilanjutkan masuk ke desa-desa pedalaman di sana.
Aku yang kebetulan sedang tidak ada orderan lain, ditawari bosku untuk ambil pekerjaan itu. "Lumayan, borongan sampai seminggu. Rutenya jauh, tapi bayarannya juga besar," katanya waktu itu. Aku setuju, meski belum pernah sekalipun menyetir sampai ke pedalaman Kalimantan Utara. Selama ini rute terjauhku paling banter Balikpapan-Samarinda, atau sesekali ke Bontang.
Perjalanan dari Balikpapan sendiri memakan waktu sekitar lima belas jam, tergantung kabupaten atau kota mana yang dituju. Kami berangkat dini hari, sekitar jam tiga pagi, mulai dengan menyeberang naik feri dari Pelabuhan Kariangau ke pelabuhan Penajam, kabupaten PPU, sekitar satu jam lamanya, sebelum akhirnya merapat dan lanjut perjalanan darat menggunakan mobil double gardan yang memang sudah disiapkan khusus untuk medan pedalaman. Sepanjang jalan darat itu kami bergantian istirahat sebentar di beberapa titik peristirahatan di pinggir jalan, sebelum akhirnya sampai di kota kabupaten sekitar jam enam sore. Di sanalah aku baru bertemu dengan tim yang akan kuantar, dan mulai keliling dari satu desa ke desa lain selama beberapa hari, sebelum akhirnya sampai pada hari yang tidak akan pernah aku lupakan itu — hari kami dijadwalkan ke Desa Long Semalat.
Selama seminggu itu aku mulai terbiasa dengan medan Kalimantan Utara — dari aspal mulus di kota sampai jalan tanah merah yang licin sehabis hujan, yang cuma bisa dilewati mobil double gardan. Tapi malam menuju Desa Long Semalat, jalan yang sudah beberapa kali kulewati selama seminggu bertugas di sana, jadi malam yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidup.
Pagi itu aku sudah siap dari jam tujuh. Mobil rental yang kubawa sudah kucek — oli, air radiator, ban serep — kebiasaan yang tidak pernah kutinggalkan sejak dulu diajari almarhum bapak, yang juga dulu sopir truk kayu di pedalaman. "Jangan pernah remehkan jalan pedalaman, Nak," katanya waktu aku masih SMP, ikut-ikutan naik truknya. "Jalan itu bisa baik sama kita, bisa juga tidak. Tergantung caranya kita."
Waktu itu aku cuma menganggap itu nasihat orang tua biasa. Malam itu, aku baru benar-benar mengerti maksudnya.
Orderan hari itu mengantar dua petugas: Bu Rita, bidan senior yang sudah belasan tahun bertugas keliling desa, dan Mas Anto, petugas gizi yang baru setahun ditempatkan di kabupaten itu. Tujuannya Desa Long Semalat, salah satu desa pedalaman yang jaraknya sekitar dua jam dari kota kecamatan kalau kondisi jalan bagus.
"Bang Herman, ini bawa apa aja tadi?" tanya Mas Anto sambil menata kardus berisi vitamin dan timbangan bayi di bagasi.
"Standar aja, Mas. Obat, vitamin, sama alat timbang. Bu Rita yang lebih tahu detailnya," jawabku.
Bu Rita, yang sudah duduk di kursi depan sejak tadi, cuma tersenyum. "Rutin ini, Bang. Tiap bulan ke sana, cek tumbuh kembang balita. Desa itu jauh dari puskesmas, jadi kita yang jemput bola."
Kami berangkat jam satu siang, harusnya sampai sebelum magrib kalau tidak ada halangan. Cuaca waktu itu cerah, jalan aspal kabupaten masih mulus sampai sekitar satu jam perjalanan, sebelum akhirnya berganti jalan tanah yang mulai berbatu dan berlubang.
"Desa Long Semalat ini termasuk yang paling dalam ya, Bu?" tanya Mas Anto, matanya sibuk memotret pemandangan hutan di kanan-kiri jalan lewat kaca mobil.
"Salah satu yang paling dalam," jawab Bu Rita. "Tapi warganya ramah-ramah. Kepala desanya juga baik, sering bantu kalau ada kendala di jalan."
Kami sempat berhenti sebentar di sebuah warung kecil di pinggir jalan, satu-satunya warung yang masih buka di kawasan itu, untuk mengisi bensin jerigen cadangan dan minum kopi. Pemilik warung, seorang bapak tua berkumis putih, sempat mengingatkan kami.
"Mau ke Long Semalat, Pak?" tanyanya, sambil menyodorkan kopi.
"Iya, Pak. Kenapa memang?" tanyaku.
"Kalau bisa, jangan kemalaman di jalan. Apalagi lewat jalan lama, dekat pohon besar yang ada kain putihnya itu." Bapak itu menatapku serius. "Kalau kemalaman, langsung saja lewat jalan baru, jangan ambil jalan potong."
Aku mengangguk, meski dalam hati menganggapnya nasihat berlebihan. Toh selama seminggu ini aku sudah beberapa kali lewat rute itu bersama tim, siang atau malam, tidak pernah ada masalah.
Sayangnya, ban belakang kanan bocor sekitar setengah jam setelah kami lanjut perjalanan. Aku harus ganti ban serep sendirian di pinggir hutan, sementara Bu Rita dan Mas Anto menunggu di dalam mobil. Proses ganti ban yang biasanya cuma butuh lima belas menit, kali itu molor hampir satu jam karena dongkrak yang macet dan baut roda yang keras sekali dilepas.
Waktu aku selesai dan melihat jam di HP, sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Langit mulai gelap lebih cepat dari biasanya, tertutup awan mendung yang entah dari mana datangnya, padahal tadi siang cuaca cerah sekali.
"Bang, jalannya makin gelap ya," kata Bu Rita, sambil melihat ke luar jendela dengan wajah agak cemas.
"Iya, Bu. Sebentar lagi juga sampai kok," jawabku, meski ada yang aneh di perutku — semacam firasat yang tidak bisa kujelaskan, mirip perasaan waktu kecil dulu kalau bapak pulang membawa cerita seram dari perjalanan truknya.
Kami sampai di percabangan jalan yang kukenal betul — ke kiri jalan baru yang lebih panjang tapi mulus, ke kanan jalan lama yang lebih pendek, melewati jembatan kayu tua dan pohon besar berkain putih yang disebut bapak pemilik warung tadi.
Karena hari sudah gelap dan waktu sudah molor gara-gara ban bocor, aku memutuskan ambil jalan pintas, jalan lama itu, supaya lebih cepat sampai.
"Bang, tadi kata bapak di warung—" Mas Anto mencoba mengingatkan.
"Aman, Mas. Kemarin-kemarin juga lewat sini," potongku, terlalu percaya diri.
Kami lewat jembatan kayu yang sudah beberapa kali kulewati selama seminggu ini. Aku hafal, setelah jembatan itu, ada tikungan tajam ke kanan, lalu jalan lurus sekitar sepuluh menit sampai gapura desa.
Tapi setelah tikungan itu, jalannya tidak kunjung lurus. Malah berkelok-kelok, padahal setahuku jalan itu memang lurus sampai gapura.
"Ini jalannya bener nggak sih, Bang?" tanya Bu Rita, suaranya mulai gelisah.
"Bener, Bu. Ini jalan yang sama kok," jawabku, meski dalam hati aku sendiri mulai ragu.
Sepuluh menit berlalu. Dua puluh menit. Tiga puluh menit. Aku tidak menemukan gapura desa yang seharusnya sudah kelihatan dari kejauhan. Malah jembatan kayu yang tadi kami lewati, muncul lagi di depan, sama persis, sampai ke bentuk lubang di papan kayunya yang aku ingat betul.
Aku menginjak rem, jantungku berdebar kencang. "Ini... jembatan yang tadi kan, Bu?"
Bu Rita diam, matanya mulai berkaca-kaca. "Bang, saya dari tadi lihat pohon besar itu terus. Yang ada ikatan kain putihnya. Sudah tiga kali kita lewat situ."
Mas Anto, yang sejak tadi diam di kursi belakang, tiba-tiba bersuara. "Bang, coba lihat spidometer. Dari tadi jarak tempuhnya nambah terus, padahal kita berasa muter di tempat yang sama."
Aku melirik spidometer. Benar, angkanya sudah bertambah lebih dari lima belas kilometer, padahal jarak dari jembatan ke gapura desa seharusnya tidak sampai tiga kilometer.
Aku menoleh ke pohon yang dimaksud Bu Rita — pohon besar dengan akar menjulang tinggi, ada kain putih lusuh terikat di salah satu dahannya, persis seperti yang disebutkan bapak pemilik warung tadi.
Radio komunikasi yang biasa kupakai untuk lapor ke posko, tiba-tiba penuh suara berdesis, tidak bisa dipakai sama sekali. Sinyal HP juga tidak ada satu bar pun, padahal biasanya di rute ini masih dapat sinyal tipis-tipis, cukup untuk kirim pesan singkat.
"Kita coba jalan pelan-pelan, Bu, Mas. Sambil baca doa," kataku, mencoba menenangkan diri sendiri lebih dari menenangkan mereka berdua.
Aku mulai membaca ayat kursi pelan-pelan, sambil tetap fokus menyetir. Bu Rita ikut membaca istighfar berulang-ulang di sebelahku, suaranya bergetar. Mas Anto di belakang diam, tapi aku bisa dengar bibirnya bergerak-gerak, mungkin membaca doa dalam hati.
Jalan itu masih berkelok aneh, kadang terasa menurun padahal seingatku medannya datar, kadang terasa seperti mobil berjalan tapi pepohonan di kanan-kiri tidak bergerak sama sekali — seperti kami diam di tempat sambil mesin tetap menyala. Beberapa kali aku dengar suara seperti orang bicara pelan-pelan dari luar mobil, seperti bisikan yang terbawa angin, tapi begitu kaca mobil kubuka sedikit untuk memastikan, suara itu langsung berhenti.
Sekali, aku sempat melirik jam di HP, sekadar untuk memastikan berapa lama lagi kami harus bertahan. Tapi angka di layar seperti berkedip-kedip sesaat sebelum akhirnya diam menunjukkan waktu tertentu — aku sendiri jadi ragu, apakah angka yang kulihat itu benar-benar menunjukkan waktu yang sebenarnya, atau cuma ikut terseret jadi aneh seperti segala sesuatu di jalan itu.
Sekali, Mas Anto berteriak kaget, bilang lihat sosok berdiri di pinggir jalan, memakai baju putih, membelakangi mobil kami. Waktu aku menoleh, tidak ada apa-apa di sana, cuma bayangan pohon yang tertiup angin.
"Mungkin cuma bayangan, Mas," kataku, meski suaraku sendiri tidak seyakin itu.
Jam di HP sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, meski entah kenapa aku sendiri tidak lagi terlalu yakin jam itu bisa dipercaya. Bensin di indikator mulai masuk ke garis merah. Aku mulai putus asa, memutar otak mencari solusi selain terus maju.
"Bang, coba kita berhenti dulu," usul Bu Rita. "Jangan terus jalan. Saya pernah dengar dari orang tua dulu, kalau kesasar begini, kadang harus berhenti dan minta izin, bukan terus dipaksa jalan."
Aku menghentikan mobil di tengah jalan tanah itu, mematikan mesin sebentar. Suasana hening sekali, cuma suara jangkrik dan angin yang menerpa dedaunan. Aku turun sebentar, berdiri di samping mobil, mencoba menenangkan diri.
"Permisi," kataku pelan, entah pada siapa, "kami cuma numpang lewat. Mau ke Desa Long Semalat, ada tugas pelayanan kesehatan. Mohon izin dan mohon jalannya."
Aku tidak tahu apakah itu benar caranya, tapi entah kenapa, setelah kalimat itu, angin yang tadinya kencang, tiba-tiba mereda. Aku masuk lagi ke mobil, menyalakan mesin, dan melanjutkan perjalanan.
Menurut jam di HP, sekitar jam sebelas malam — hampir lima jam sejak kami masuk jalan itu — aku mulai benar-benar putus asa. Bensin sudah sangat menipis, dan aku sudah kehilangan hitungan berapa kali kami lewat pohon berkain putih itu. Entah kenapa, meski jam menunjukkan sudah selarut itu, aku sendiri tidak merasa waktu berjalan selurus dan senormal itu — rasanya lebih seperti kaset rusak yang diputar ulang terus, bukan lima jam yang mengalir wajar.
Tiba-tiba, dari kejauhan, terdengar suara azan Isya, samar-samar terbawa angin.
Aku dan Bu Rita saling pandang. Suara itu jelas dari arah yang berbeda dari jalan yang selama ini kami ikuti.
"Bang, coba belok ke arah suara azan itu," kata Bu Rita, suaranya penuh harap.
Aku menuruti kata hatinya. Kubelokkan mobil ke jalan kecil yang sebelumnya tidak pernah kulihat, padahal aku pikir sudah cukup hafal jalan di rute ini selama seminggu terakhir.
Tidak sampai lima menit, gapura Desa Long Semalat muncul di depan mata, lampu-lampu rumah warga terlihat jelas, dan suara azan Isya dari musala kecil desa terdengar makin nyaring, seperti menyambut kami pulang.
Begitu mobil melewati gapura, entah kenapa, seluruh badanku langsung terasa lemas, seperti baru saja menahan napas selama lima jam penuh. Tanganku gemetar memegang setir, dan aku baru sadar, baju yang kupakai sudah basah semua oleh keringat dingin.
Yang membuatku makin merinding, waktu kami berhenti di depan rumah Kepala Desa, seorang warga yang kebetulan lewat sempat menyapa, "Baru sampai, Pak? Untung belum lama, azan Isya juga baru saja selesai." Aku menatap jam di HP-ku sekali lagi — masih menunjukkan pukul sebelas lewat beberapa menit, persis seperti terakhir kulihat di jalan tadi. Tapi kalau kata warga itu benar, azan Isya baru saja selesai, harusnya belum lewat jam delapan. Aku tidak tahu lagi, jam di HP-ku atau ucapan warga itu yang benar. Yang jelas, malam itu waktu terasa tidak berjalan sama antara di dalam jalan itu dan di luar.
Kepala Desa yang menyambut kami di balai desa terdiam sesaat waktu kuceritakan kejadian itu, wajahnya berubah serius. Di sampingnya duduk seorang laki-laki tua, Pak Ubun, salah satu tetua desa yang sudah puluhan tahun tinggal di kawasan itu, wajahnya penuh keriput dan matanya masih tajam meski usianya sudah lebih dari delapan puluh tahun. Ia mendengarkan ceritaku dengan wajah serius, sesekali mengangguk-angguk pelan, lalu berbicara dalam bahasa Dayak Lundayeh, bahasa asli warga di kawasan itu, sambil menatap ke arah hutan yang gelap di luar jendela balai desa.
"Dalan nuh dat," katanya, suaranya berat dan pelan. "Ideh tudo' bang dalan nuh, malem-malem."
Aku menatap Kepala Desa, tidak mengerti sepatah kata pun.
Kepala Desa tersenyum, lalu menerjemahkan untukku. "Pak Ubun bilang, 'Jalan itu buruk. Mereka tinggal di jalan itu, kalau malam-malam.' Maksudnya, ada penunggu di jalan lama itu, Pak. Bukan cuma cerita, warga sini memang sudah turun-temurun percaya begitu, sejak dulu sebelum jalan aspal dibangun ke desa ini."
Pak Ubun melanjutkan, kali ini sambil menunjuk ke arah pintu keluar balai desa, matanya menatapku tajam seperti ingin memastikan aku benar-benar mendengarkan.
"Iko musti mala salam. Bang dalan nuh, dan bawang do'."
"Itu artinya," Kepala Desa menerjemahkan lagi, "'Kamu harus mengucap salam. Di jalan itu, baru kampung akan baik-baik saja.' Warga sini, kalau lewat jalan lama itu — apalagi malam hari — selalu kasih salam dulu sebelum masuk kawasannya. Kebiasaan turun-temurun, dari nenek moyang. Anak-anak kecil di sini juga diajari begitu sejak kecil, walaupun mereka belum tentu paham betul kenapa."
"Kenapa jalan itu bisa begitu, Pak?" tanya Mas Anto, penasaran.
Pak Ubun mengucapkan sesuatu lagi, kali ini lebih panjang, dengan nada seperti mengenang sesuatu dari masa lalu. Kepala Desa mendengarkan baik-baik sebelum menerjemahkan.
"Katanya, dulu, jauh sebelum jalan aspal dibangun, ada perkampungan lama di sekitar situ. Waktu perang dulu, banyak korban dikuburkan di kawasan itu, seadanya, tanpa upacara yang layak, karena situasi tidak memungkinkan. Sejak itu, warga percaya, arwah-arwah yang belum tenang itu masih 'menjaga' kawasan itu, terutama kalau ada orang yang lewat tanpa permisi, apalagi malam-malam."
Aku sempat menceritakan soal jam di HP-ku yang tidak cocok dengan ucapan warga tadi. Pak Ubun mendengarkan, lalu tertawa kecil, tawa yang terdengar seperti sudah sering mendengar keluhan serupa. Ia berbicara lagi dalam bahasa Lundayeh, dan Kepala Desa menerjemahkan sambil ikut manggut-manggut.
"Pak Ubun bilang, itu wajar, Pak. Di jalan itu, waktu juga suka 'ikut dimainkan', bukan cuma arahnya. Orang yang kesasar bisa merasa sudah berjam-jam, padahal di luar cuma sebentar. Ada juga yang kejadiannya kebalik, merasa cuma sebentar, padahal sudah semalaman penuh. Makanya warga sini sudah tidak heran lagi kalau ada yang cerita jamnya tidak nyambung sama kenyataan begitu Bapak keluar dari jalan itu."
"Itu jalan lama, Pak," lanjut Kepala Desa. "Dulu ada kuburan tua di situ, sebelum jalan aspal dibangun. Bapak tadi mungkin belum kasih salam waktu masuk kawasan itu. Untung Bapak sempat berhenti dan minta izin di tengah jalan tadi — itu yang biasanya menyelamatkan orang-orang yang kesasar di situ. Kalau terus dipaksa jalan tanpa permisi, biasanya lebih lama lagi baru bisa keluar, dan jamnya bisa makin jauh melenceng dari kenyataan."
Malam itu kami menginap di rumah Kepala Desa, karena sudah terlalu larut untuk kembali ke kota. Bu Rita dan Mas Anto tetap melanjutkan tugas mereka esok paginya, memeriksa tumbuh kembang balita di posyandu desa seperti rencana awal, meski wajah mereka berdua masih terlihat lelah dan sesekali saling melempar tatapan setiap kali teringat kejadian semalam.
Tapi aku tahu itu bukan mimpi. Bekas cakaran halus di pintu mobil sebelah kanan — yang tidak ada waktu kami berangkat — masih ada sampai sekarang, meski sudah kucuci berkali-kali.
Sejak malam itu, sisa hari-hari terakhir tugasku di sana — setiap kali harus lewat jalan yang sama, bahkan di siang hari sekalipun — aku selalu mengucap salam pelan-pelan sebelum melewati pohon berkain putih itu, persis seperti yang diajarkan Pak Ubun. Aku juga selalu memastikan bensin penuh sebelum masuk kawasan itu, apa pun alasannya, tidak peduli seberapa terburu-buru tugas yang harus kukejar.
Sopir-sopir lokal yang sempat kutemui selama seminggu bertugas di sana, setelah dengar ceritaku, cuma mengangguk-angguk, seperti sudah biasa dengan cerita semacam itu. "Makanya kalau ada sopir dari luar, kami selalu ingatkan dulu," kata salah satu dari mereka.
Bapak pemilik warung yang dulu sempat mengingatkan kami, waktu aku mampir lagi menjelang kepulanganku ke Balikpapan, cuma tertawa kecil mendengar ceritaku. "Untung Bapak masih bisa cerita sekarang. Ada juga dulu, sopir dari luar daerah, tidak percaya, maksa lewat malam-malam tanpa permisi. Butuh dua hari baru ditemukan, jalan kaki sendirian, linglung, padahal cuma masuk sebentar."
Aku tidak tahu pasti apakah cerita itu benar seratus persen atau sudah dibumbui, seperti cerita-cerita rakyat pada umumnya yang berkembang dari mulut ke mulut. Tapi satu hal yang aku yakini sampai sekarang: lima jam yang terasa seperti diputar di kaset rusak yang sama, jam yang tidak lagi bisa kupercaya, dan suara azan yang datang tepat waktu, seperti seseorang yang menuntun kami pulang, bukan sesuatu yang bisa kujelaskan dengan logika biasa.
Sekembalinya aku ke Balikpapan, tiap kali ada rekan sesama sopir rental yang kebetulan dapat orderan jauh ke pedalaman Kalimantan, aku selalu berpesan hal yang sama, seperti dulu bapak berpesan padaku sebelum aku benar-benar paham maksudnya.
"Jangan pernah remehkan jalan pedalaman. Jalan itu bisa baik sama kita, bisa juga tidak. Tergantung caranya kita."
Dan sekarang, aku benar-benar mengerti apa maksud nasihat itu.
Catatan: kisah ini adalah pengalaman nyata yang saya alami sendiri saat bertugas sebagai sopir pelayanan kesehatan keliling di pedalaman Kalimantan Utara. Nama saya dan nama tokoh lain dalam cerita ini sengaja diganti untuk menjaga privasi, namun kejadian, dialog, dan bahasa Dayak Lundayeh yang saya dengar langsung saat itu ditulis sesuai dengan apa yang sebenarnya saya alami dan dengar.
Note: Dalan Dat (Bahasa Dayak Lundayeh: "Jalan yang Buruk")