Flash Fiction
Disukai
2
Dilihat
72
AMIGDALA
Drama
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

1991. Aku enam tahun, dan kau sudah bekerja lebih keras dari yang seharusnya untuk anak seusiaku.

Rumah kami waktu itu berlantai semen, dengan satu bohlam kuning di ruang tengah yang selalu dikelilingi kupu-kupu malam kalau musim hujan datang. Aku ingat suara TV hitam putih yang gambarnya sering bersemut, dan aku ingat, lebih jelas dari itu, suara pintu yang dibanting jam sepuluh malam, lalu ibu yang menangis pelan-pelan di dapur sambil tetap mengaduk sayur, seolah kalau tangannya berhenti bergerak, dunia akan ikut berhenti.

Aku bersembunyi di kolong ranjang kayu, memeluk lutut, dan di situlah kau lahir — atau mungkin bukan lahir, mungkin kau memang sudah ada, hanya baru malam itu kau benar-benar bekerja. Kau membuat jantungku berdebar sekeras kentongan ronda, kau membuat telingaku tajam mendengar setiap langkah kaki di luar, kau mengajariku satu pelajaran yang tidak pernah diajarkan di sekolah: diam itu selamat, bertanya itu bahaya.

Ayah pergi dua tahun setelah itu. Tidak ada perpisahan yang dramatis seperti di sinetron — hanya satu hari ia tidak pulang, dan ibu berhenti menunggu di depan pintu setelah minggu ketiga. Aku menyimpan pertanyaan "kenapa" itu di tempat yang sama denganmu, dan kita berdua membawanya diam-diam, seperti batu kecil di sepatu yang tak pernah benar-benar dikeluarkan, hanya dibiasakan.

Sekarang aku empat puluh satu tahun. Tiga puluh lima tahun sudah berlalu sejak malam kolong ranjang itu, tapi kau masih di sini, masih setia dengan cara yang kadang membuatku ingin memelukmu dan kadang membuatku ingin membentakmu untuk diam.

Kau masih salah membaca banyak hal. Suara pintu mobil yang ditutup keras di halaman, dan kau langsung membuat dadaku sesak, padahal itu cuma tetangga yang pulang kerja. Anak sulungku memanggil "Ayah" dengan nada agak tinggi karena ia sedang kesal soal PR, dan kau langsung menyalakan lampu merah di tubuhku, membuat rahangku mengeras sebelum aku sempat mendengar apa yang sebenarnya ia katakan.

Aku pernah marah padamu. Diam-diam, tentu, karena bagaimana caranya marah pada sesuatu yang ada di dalam kepala sendiri. Aku pernah berpikir, kalau saja kau tidak seaktif ini, mungkin aku bisa jadi ayah yang lebih tenang. Mungkin istriku tidak perlu belajar membaca wajahku sebelum bicara, mengukur dulu apakah hari ini "aman" atau tidak, seperti dulu aku mengukur suara langkah kaki ayah dari balik pintu.

Kau tidak jahat. Kau cuma anak buah yang terlalu setia, yang masih menjalankan perintah dari tahun 1991.

Kau hanya belum diberi tahu bahwa perang itu sudah selesai.

Jadi aku mulai, pelan-pelan, memberitahumu. Setiap kali kau menyalakan alarm untuk hal yang bukan bahaya sungguhan, aku menarik napas satu kali, dua kali, dan aku bilang dalam hati, tidak keras-keras, seperti bicara pada anak kecil yang gampang kaget: ini bukan tahun 1991. Ini rumahku sendiri. Ini anak sulungku, bukan ayahku. Dia sedang kesal soal matematika, bukan sedang mengancam pergi.

Kau tidak langsung percaya. Kau butuh diyakinkan berkali-kali, seperti anak kecil yang masih memeriksa kolong ranjang meski sudah diberi tahu monsternya tidak ada. Tapi lambat laun, kau mulai memberiku waktu setengah detik lebih lama sebelum bereaksi. Setengah detik itu, ternyata, cukup untuk membedakan mana yang benar-benar bahaya, dan mana yang cuma mirip.

Bulan lalu, anak bungsuku terjatuh dari sepeda di depan rumah, menangis keras sekali, dan aku berlari secepat yang aku bisa — tapi kali ini kau bekerja dengan benar. Kau membuatku berlari karena memang harus berlari, bukan karena bayangan lama yang keliru kau kira nyata. Aku memeluknya di aspal yang masih hangat, dan untuk pertama kalinya aku sadar, kau dan aku, di momen itu, akhirnya bekerja sebagai satu tim, bukan sebagai anak kecil yang ketakutan melawan tubuh yang sudah dewasa.

Malam itu, setelah lukanya diobati dan ia tertidur dengan plester di lutut, aku duduk sendirian di teras. Aku pikir tentang ibu, yang sekarang sudah berumur tujuh puluh, yang masih suka mengaduk sayur pelan-pelan setiap kali ada masalah, seperti kebiasaan lama yang tak pernah benar-benar hilang darinya juga. Aku pikir, mungkin kau bukan cuma milikku. Mungkin ibu punya versimu sendiri, yang bekerja lembur sejak malam pintu itu dibanting, dan tidak ada yang pernah menepuk pundaknya, bilang bahwa ia boleh berhenti waspada.

Aku juga pikir tentang ayah, yang entah di mana sekarang, yang mungkin juga punya kau versinya sendiri — sesuatu yang membuatnya lari dari rumah bertahun-tahun lalu, bukan karena ia tidak sayang, tapi karena ia tidak pernah diajari cara duduk diam bersama ketakutannya sendiri. Aku tidak memaafkannya begitu saja malam itu. Tapi untuk pertama kalinya, aku melihatnya bukan sebagai monster dari kolong ranjang, melainkan sebagai orang lain yang mungkin juga pernah jadi anak kecil yang ketakutan, tanpa seorang pun yang menemaninya.

Aku tidak menyalahkanmu lagi. Kau adalah bagian dari diriku yang paling dulu belajar bertahan, waktu aku belum punya kata-kata untuk menjelaskan kenapa dunia terasa berbahaya. Kau bekerja terlalu keras karena tidak ada yang mengajarimu kapan harus berhenti. Dan sekarang, di usia empat puluh satu, aku yang mengajarimu itu, pelan-pelan, seperti orang tua yang menuntun anaknya belajar berjalan.

Kadang aku masih terbangun jam tiga pagi, jantung berdebar tanpa sebab yang jelas, dan aku tahu itu kau, mengunjungi kembali malam di kolong ranjang itu tanpa permisi. Aku tidak lagi mengusirmu. Aku duduk saja, menemanimu, sampai debar itu reda sendiri.

Karena aku sudah paham satu hal yang butuh tiga puluh lima tahun untuk kupelajari: aku tidak bisa membuang bagian dari diriku yang dulu menyelamatkanku. Aku cuma bisa duduk di sebelahnya, memegang tangannya seperti memegang tangan anak kecil yang masih takut gelap, dan berkata pelan, berkali-kali kalau perlu:

Kita sudah sampai di rumah. Kau boleh berhenti berjaga sebentar. Aku di sini, dan kali ini, aku yang menjaga kita berdua.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi