Wisnu berhenti menghitung malam tanpa tidur setelah angka itu menyentuh tiga ratus. Yang dia tahu pasti, mimpi itu selalu datang di jam yang sama—pukul dua lewat tujuh belas menit—dan selalu berakhir di titik yang sama pula: bunyi decit ban, lampu depan yang menyilaukan, dan wajah anak kecil yang menoleh sepersekian detik sebelum semuanya gelap.
Dia tidak pernah tahu nama anak itu. Polisi bilang itu bukan salahnya—jalan licin, jarak pandang buruk, anak itu tiba-tiba menyeberang dari balik truk parkir. Tapi pengadilan hukum dan pengadilan mimpi rupanya punya standar bukti yang berbeda. Yang satu membebaskannya. Yang satu lagi menjatuhkan vonis setiap malam, tanpa banding.
Di kantor, dia jadi pelupa, salah hitung angka di laporan sederhana, dan lebih dari sekali disemprot atasan karena tertidur lima belas detik di rapat pagi. Kolega-koleganya awalnya bercanda—"kurang piknik lu, Wis"—sebelum akhirnya berhenti bertanya sama sekali, seolah kantung mata hitam di wajahnya sudah jadi bagian dari perabotan kantor yang tidak perlu dikomentari lagi. Dia mencoba segala cara: teh chamomile, aplikasi white noise, bahkan dua kali ke psikolog yang cuma bisa menyarankan "coba tulis jurnal sebelum tidur"—seolah menuliskan kengerian yang sama setiap malam akan membuatnya lebih ringan, bukannya makin mengakar dalam.
Bulan kesebelas dari insomnia itulah, di warung kopi dekat terminal, seorang sopir travel bernama Pak De Karto berbisik seperti sedang membocorkan resep obat kuat, "Coba ke Griya Lelap. Bu Renjana bisa bantu."
"Bantu apa?"
"Nitip." Pak De Karto menyesap kopinya, matanya tidak menatap Wisnu. "Mimpi yang nggak mau pergi-pergi, dititipin aja. Biar dia yang urus."
Wisnu tertawa kecil, sinis, tapi tangannya sudah menyimpan alamat itu di saku jaketnya sebelum dia sadar sedang melakukannya.
Griya Lelap ternyata bukan tempat mencurigakan seperti bayangannya. Rumah joglo tua di ujung gang, dengan pekarangan penuh kamboja dan lampu teplok yang menyala di teras meski listrik jelas terpasang di sana. Seorang perempuan berusia enam puluhan membuka pintu sebelum Wisnu sempat mengetuk.
"Kamu bawa mimpi yang berat," katanya, bukan sebagai pertanyaan. "Aku bisa mencium dari sini."
Nyai Renjana—begitu dia disapa—memiliki mata yang terlalu jernih untuk wanita seusianya, seperti mata itu tidak pernah benar-benar lelah karena tidak pernah benar-benar tidur. Dia mempersilakan Wisnu duduk di ruang tengah yang dipenuhi rak-rak kecil berisi toples kaca. Di dalam setiap toples, tergulung kain putih tipis seperti kepompong, masing-masing diikat benang merah dengan label nama yang ditulis tangan.
"Itu apa?" tanya Wisnu.
"Titipan orang lain. Sudah lama tenang di sini." Nyai Renjana duduk berhadapan dengannya, menuang teh yang warnanya terlalu gelap untuk teh biasa. "Prosesnya sederhana. Kamu tulis mimpimu di kain ini, sedetail mungkin—apa yang kamu lihat, apa yang kamu rasa, apa yang kamu sesali. Lalu kita bakar sedikit ujungnya sambil kamu ucapkan, 'Aku titipkan.' Setelah itu, mimpi itu bukan tanggung jawabmu lagi."
"Terus mimpinya ke mana?"
Untuk pertama kalinya, senyum Nyai Renjana mengeras sedikit di sudut bibir. "Mimpi buruk itu seperti air comberan, Nak. Tidak menguap begitu saja. Dia harus mengalir ke suatu tempat. Tugasku cuma menyalurkan, biar tidak menggenang di dadamu."
Wisnu semestinya bertanya lebih jauh. Ke mana air comberan itu mengalir, misalnya. Tapi sebelas bulan tanpa tidur nyenyak punya cara sendiri untuk melumpuhkan rasa ingin tahu. Dia menulis mimpinya di kain putih itu—setiap detail, setiap decit ban, setiap wajah anak yang menoleh—sampai tangannya gemetar. Nyai Renjana membakar ujung kain itu, asapnya berbau seperti kemenyan bercampur sesuatu yang lebih tajam, mirip bau logam.
"Aku titipkan," ucap Wisnu, mengikuti instruksi.
Malam itu dia tidur delapan jam penuh, tanpa mimpi sama sekali. Untuk pertama kalinya dalam setahun, dia bangun tanpa rasa bersalah menempel di dadanya seperti batu basah.
Perubahan pada dirinya nyaris seketika. Wisnu makan lebih teratur, tertawa lebih lepas, bahkan mulai berani mengendarai motor lagi tanpa tangannya berkeringat dingin. Dua bulan berlalu seperti itu—tidur nyenyak setiap malam, hari-hari yang terasa lebih ringan—sebelum dia benar-benar menyadari ada yang berubah pada orang-orang di sekitarnya.
Timo, remaja tujuh belas tahun yang biasa mengantar galon ke rumah kosnya, mulai berhenti menyapa. Anak itu, yang dulu selalu bersiul riang sambil mendorong gerobak, kini berjalan dengan bahu melorot, matanya menghindar setiap kali bertemu pandang. Suatu sore Wisnu mendapati Timo duduk sendirian di tangga masjid, menangis tanpa suara, kedua tangan menutupi wajah seperti sedang menahan sesuatu yang jauh lebih besar dari tubuhnya.
"Kamu kenapa, Dek?"
Timo mendongak, matanya merah. "Nggak apa-apa, Bang. Cuma... akhir-akhir ini saya sering mimpi aneh. Ada anak kecil, terus mobil, terus—" dia berhenti, menggeleng keras seolah ingin mengusir gambar dari kepalanya. "Saya ngerasa kayak saya yang nabrak orang, Bang. Padahal saya bahkan belum bisa nyetir mobil."
Dada Wisnu terasa dingin. Dia ingin bertanya lebih jauh, tapi Timo keburu berlari pergi, seolah malu telah membuka sesuatu yang seharusnya tetap terkubur.
Wisnu mulai memperhatikan lebih teliti, dan begitu dia mulai mencari, pola itu muncul di mana-mana. Suatu pagi dia melihat Nadia, gadis SMA yatim piatu yang tinggal bersebelahan dengan Bu Marni si penjual gorengan, duduk terpaku di teras sambil memeluk lutut, matanya kosong menatap jalan.
"Nadia kenapa?" tanya Wisnu, meski sebenarnya dia sudah mulai menduga jawabannya.
"Nggak tahu, Bang," jawab Nadia, suaranya nyaris berbisik. "Tiap malam mimpi ada orang teriak-teriak nagih utang, kayak saya yang kalah judi gede. Padahal saya nggak pernah pegang kartu remi sekalipun. Sampai saya berhenti sekolah, Bang, takut kalau ketiduran di kelas terus mimpi itu kebawa-bawa."
Wisnu ingat, Bu Marni pernah bercerita soal suaminya yang berjudi habis-habisan sebelum akhirnya kabur meninggalkan tumpukan utang. Belakangan ini Bu Marni tampak jauh lebih tenang, tidur nyenyak setiap malam, tangannya tidak lagi gemetar saat menggoreng pisang di wajan.
Pola yang sama berulang di tempat lain. Pak Yudo, mantan tentara yang menitipkan mimpi soal medan perang bertahun-tahun lalu, kini tidur nyenyak tanpa suara ledakan yang dulu selalu membangunkannya tengah malam. Sementara itu, office boy di kantornya, seorang pemuda pendiam bernama Rusdi yang tidak pernah ke mana-mana selain kos dan kantor, mendadak mengalami serangan panik setiap kali mendengar suara keras—pintu dibanting, klakson mobil, bahkan bunyi stapler yang jatuh ke lantai bisa membuatnya gemetar dan buru-buru bersembunyi di bawah meja.
Setiap kali seseorang menitipkan mimpi di Griya Lelap, seseorang lain—selalu orang yang lebih muda, lebih sendirian, lebih tidak punya siapa-siapa untuk mengeluh—mulai memikul beban itu seolah miliknya sendiri.
Wisnu tidak bisa lagi berpura-pura tidak melihat pola itu.
Dia kembali ke Griya Lelap tengah malam, memanjat pagar rendah karena pintu gerbang terkunci. Dari celah jendela, dia melihat Nyai Renjana sedang berbicara dengan seorang pria berjas mahal—bukan tipe orang yang biasa singgah di gang sempit itu.
"Layanan premium," kata Nyai Renjana, suaranya berbeda dari nada lembut yang dia pakai pada Wisnu. Ini nada dagang. "Bapak bayar lebih, prosesnya saya buat lebih... rapi. Tidak ada yang mengambang di tengah jalan."
"Rapi itu maksudnya bagaimana, Bu?" tanya pria itu, lebih penasaran soal jaminan ketimbang konsekuensinya.
"Maksudnya, Bapak tidak perlu tahu. Justru itu yang Bapak bayar—supaya tidak perlu tahu." Nyai Renjana tersenyum, dan sekilas Wisnu melihat sesuatu yang jauh lebih tua dan lebih lapar di balik senyum itu, meski dia tidak yakin apakah itu benar ada atau cuma permainan lampu teplok di wajah keriput. "Yang penting Bapak bisa tidur nyenyak mulai malam ini. Selebihnya, itu urusan saya dengan alam semesta, bukan urusan Bapak lagi."
Wisnu merasa mual. Kosong. Itu kata yang dipakai untuk Timo, untuk Nadia, untuk Rusdi si office boy pendiam. Orang-orang yang tidak punya keluarga untuk mempertanyakan kenapa mereka berubah, tidak punya siapa pun yang akan menggeledah kepolosan mereka dan menemukan noda yang bukan milik mereka.
Dia teringat kalimat Nyai Renjana malam itu: mimpi buruk itu harus mengalir ke suatu tempat. Yang tidak dikatakannya adalah bahwa tempat itu dipilih dengan sengaja—dicari yang paling tidak akan melawan, paling tidak akan didengar jika berteriak.
Esok paginya, Wisnu mencari Timo. Dia menemukannya di pasar, mendorong gerobak galon dengan gerakan seperti robot yang kehabisan baterai.
"Timo, aku mau tanya sesuatu. Mimpimu soal anak kecil dan mobil itu—kapan mulainya?"
Timo menghitung dengan jari, ragu-ragu. "Sekitar... dua bulan lalu, Bang. Kenapa?"
Dua bulan lalu. Persis ketika Wisnu menitipkan mimpinya di Griya Lelap.
Wisnu merasa lantai di bawah kakinya seperti berubah jadi pasir hisap. Selama ini dia pikir dia hanya membuang sesuatu yang jahat ke dalam api, seperti membakar sampah. Tapi yang sebenarnya terjadi adalah dia menyerahkan bebannya kepada seorang anak yang bahkan tidak tahu apa-apa, yang kini menangis sendirian di tangga masjid karena menanggung dosa milik orang lain.
"Bang?" Timo menatapnya bingung karena Wisnu tiba-tiba diam terlalu lama. "Abang kenapa?"
"Nggak apa-apa," Wisnu berbohong, sama seperti Timo berbohong pada dirinya sendiri setiap kali menangis sendirian. "Kamu... kamu jangan percaya sama mimpi itu, ya. Itu bukan salahmu. Itu bukan kejadian yang pernah kamu lakukan."
Timo menatapnya lebih lama, seperti mencoba mencari tahu dari mana Wisnu tahu itu bukan mimpi biasa. Tapi dia hanya mengangguk pelan, tidak sepenuhnya percaya, lalu mendorong gerobaknya pergi.
Wisnu kembali ke Griya Lelap malam itu, kali ini lewat pintu depan, tanpa berpura-pura sopan. Ruangan itu terasa lebih sesak dari saat pertama kali dia datang—rak-rak toples yang dulu tampak rapi kini seperti dinding kaca yang mengurungnya dari segala sisi, setiap label nama seolah pasang mata yang diam-diam ikut menyimak.
"Kembalikan," katanya begitu Nyai Renjana membuka pintu. "Mimpi yang aku titipkan. Kembalikan ke aku."
Nyai Renjana tidak terkejut. Dia malah tampak seperti sudah menunggu percakapan ini sejak lama, seolah setiap klien yang cukup peka pada akhirnya akan kembali dengan pertanyaan yang sama.
"Kamu yakin?" Dia melangkah ke rak toples, mengambil satu yang berlabel nama Wisnu, kain putih di dalamnya masih terikat rapi dengan benang merah. "Kalau aku kembalikan, semua rasa bersalah itu balik lagi ke dadamu. Malam-malam tanpa tidur, wajah anak itu, semuanya balik utuh. Tidak berkurang sedikit pun."
"Aku tahu."
"Anak yang menanggungnya sekarang, dia tidak akan ingat pernah membawa beban itu. Baginya, semua akan terasa seperti mimpi buruk biasa yang perlahan memudar. Kamu justru yang akan menanggung dua kali lebih berat—rasa bersalah atas kecelakaan itu, ditambah rasa bersalah karena pernah membiarkan orang lain memikulnya untukmu."
Wisnu menggenggam tepi meja, buku-buku jarinya memutih. "Itu tetap lebih baik daripada membiarkan anak tujuh belas tahun menangis sendirian karena mimpi yang bukan miliknya."
Nyai Renjana menatapnya lama, lalu untuk pertama kalinya wajahnya kehilangan seluruh kepercayaan diri seorang pedagang. Dia terlihat lelah, jauh lebih tua dari penampilannya. "Kamu mau tahu kenapa aku melakukan ini?" Matanya jatuh ke nyala lampu teplok, bukan ke Wisnu. "Ada yang bilang dulu akulah yang jadi wadah, bertahun-tahun, sebelum aku menemukan cara supaya giliran itu tidak lagi jatuh padaku. Ada juga yang bilang aku cuma pedagang tua yang kebetulan tahu triknya, dan cerita soal 'dulu aku juga korban' itu kupakai supaya orang sepertimu lebih gampang percaya, lebih gampang pergi dengan hati tenang."
"Yang mana yang benar?"
"Kenapa itu penting?" Nyai Renjana akhirnya menatapnya lagi, dan untuk sesaat Wisnu tidak bisa membaca apa pun di wajah itu—bukan penyesalan, bukan kelicikan, hanya sesuatu yang sudah terlalu lama menyembunyikan dirinya sendiri sampai lupa yang mana yang asli. "Kedua cerita itu berakhir sama: ada anak yang menangis sendirian di tangga masjid malam ini, entah kau ambil kembali mimpimu atau tidak. Pertanyaannya bukan cerita mana yang benar, Nak. Pertanyaannya, kamu yakin mau jadi 'siapa' itu lagi?"
Wisnu mengambil kain itu dari tangannya. Dia membuka gulungannya sendiri, membaca kembali tulisan tangannya dua bulan lalu—setiap kata tentang decit ban, tentang lampu yang menyilaukan, tentang wajah anak kecil yang menoleh sepersekian detik sebelum semuanya gelap.
Dia menyulut ujung kain itu sendiri, tanpa bantuan Nyai Renjana. Api merambat pelan, dan asapnya kali ini berbau seperti hujan yang jatuh di atas aspal panas.
"Aku ambil kembali," ucapnya, suaranya lebih mantap dari yang dia kira mungkin.
Malam itu mimpi itu datang lagi—decit ban, lampu menyilaukan, wajah yang menoleh—persis seperti dulu, tanpa berkurang sedikit pun beratnya. Wisnu terbangun jam dua lewat tujuh belas menit, keringat dingin membasahi seluruh punggungnya, dadanya sesak seperti ditindih batu yang sama seperti sebelas bulan lalu.
Tapi ada satu perbedaan kecil yang dia rasakan sambil menatap langit-langit kamarnya yang gelap: rasa sesak itu terasa seperti miliknya sendiri. Bukan sesuatu yang dititipkan pada bahu orang lain yang tidak bersalah, bukan beban yang dipaksakan pada seorang remaja yang bahkan belum pernah menyentuh setir mobil.
Tiga hari kemudian, dia melihat Timo lagi di pasar, mendorong gerobak galonnya sambil bersiul—siulan yang sama riangnya seperti sebelum semua ini dimulai. Anak itu menyapanya dengan senyum lebar, tidak ada bekas air mata di wajahnya.
"Pagi, Bang Wisnu! Mau galon lagi?"
Wisnu tersenyum, meski matanya terasa berat karena kurang tidur. "Nanti sore aja, Dek. Kamu... kelihatan lebih ceria."
"Iya nih, Bang, entah kenapa. Kayak beban yang nggak jelas asalnya, tiba-tiba ilang aja." Timo tertawa ringan, tidak sadar betapa harfiahnya kalimat itu. Tapi tawanya berhenti sepersekian detik terlalu lama saat sebuah motor melintas dan lampunya memantul di genangan air—hanya sepersekian detik, matanya menyipit seperti menahan sesuatu yang nyaris muncul lalu tenggelam lagi. "Mungkin cuma fase aja kali, ya, Bang?"
Wisnu mengangguk, tidak berani bertanya lebih jauh soal sepersekian detik itu. Dia ingat kata-kata Nyai Renjana tentang layanan premium: tidak ada yang mengambang di tengah jalan—tapi barangkali itu cuma janji dagang, dan yang benar-benar tersisa tidak pernah benar-benar bersih, hanya cukup samar untuk tidak lagi dikenali sebagai luka.
Semenjak itu, Wisnu tidak bisa lagi memandang orang-orang di sekitarnya dengan cara yang sama. Setiap kali melihat orang asing menangis sendirian di halte, anak sekolah yang tiba-tiba murung tanpa sebab jelas, atau satpam kompleks yang matanya nanar di jam dua pagi, dia bertanya-tanya: mimpi buruk siapa yang sedang mereka tanggung diam-diam? Berapa banyak dari mereka yang bahkan tidak tahu bahwa beban di dada mereka bukan hasil dari dosa mereka sendiri, melainkan sisa comberan yang dititipkan seseorang yang tidak sanggup menanggungnya sendiri?
Minggu-minggu berikutnya, teman-teman Wisnu perlahan menjauh—bukan karena bertengkar, hanya karena dia terlalu sering menolak ajakan, terlalu sering terlihat linglung di kantor, terlalu sering menjawab "capek aja" pada pertanyaan yang sebenarnya butuh jawaban lebih jujur. Rian, teman satu kosnya dulu, sempat mengajaknya main futsal dua kali sebelum berhenti mengajak sama sekali. Ibunya menelepon lebih jarang, mungkin lelah mendengar jawaban "baik-baik aja, Bu" yang terdengar semakin datar setiap minggu. Tidak ada yang benar-benar bertanya sampai ke akar. Orang-orang, dia sadari, punya batas kesabaran yang jauh lebih pendek dari yang dia kira untuk seseorang yang kelihatannya baik-baik saja di permukaan.
Suatu malam, pulang lembur, dia lewat gang sempit itu lagi tanpa sengaja—rute memutar yang entah kenapa kakinya pilih sendiri. Lampu teplok di teras Griya Lelap masih menyala seperti biasa. Nyai Renjana berdiri di ambang pintu, seolah sudah menunggu sejak sore, memegang sebuah toples kaca kosong di tangannya. Benang merahnya sudah terikat rapi di leher toples. Labelnya masih putih polos, belum ada nama yang ditulis.
Dia tidak memanggil Wisnu. Dia hanya tersenyum—senyum yang sama seperti pertama kali mereka bertemu—dan mengangkat toples itu sedikit, seolah menunjukkan sesuatu, atau sekadar menyapa dari kejauhan.
Wisnu mempercepat langkahnya pulang, meyakinkan diri sendiri bahwa toples kosong itu bukan untuknya. Bahwa dia sudah memilih untuk menanggung sendiri. Bahwa orang yang sudah pernah menolak tidak akan pernah masuk daftar lagi.
Dia hampir berhasil percaya, sampai malam itu, jam dua lewat tujuh belas menit, dia terbangun bukan karena decit ban dan wajah anak kecil yang menoleh—melainkan karena mimpi lain, asing, tentang seseorang yang belum pernah dia temui, menangis di ruangan yang tidak dia kenali, memanggil nama yang bukan namanya sendiri.
Wisnu duduk di tepi ranjang lama sekali, menatap kegelapan kamarnya, mencoba meyakinkan diri bahwa itu cuma mimpi biasa—efek dari terlalu banyak memikirkan Timo, Nadia, dan Rusdi belakangan ini. Tapi jauh di dalam dadanya, di tempat yang sama persis di mana rasa bersalahnya sendiri dulu bersarang, dia bisa merasakan sesuatu yang baru mulai berakar, pelan-pelan, seperti benang merah yang diam-diam mengikat sesuatu yang belum sempat dia lihat namanya.