Apakah kamu akan memberikan Novel ke ?
Berikan Novel ini kepada temanmu
Masukan nama pengguna
Novel ini masih diperiksa oleh kurator
Blurb
Girimulya, kota kecil di lereng pegunungan, tampak seperti tempat sempurna untuk menghilang. Itulah alasan Rasa Adiwangsa pindah ke sana—membawa lukanya sendiri, satu tahun setelah kehilangan putri satu-satunya, Kirana, dalam kecelakaan yang tak pernah benar-benar bisa ia pahami.
Tapi Girimulya menyimpan kutukannya sendiri. Rumah-rumah lapuk dalam semalam. Warga lupa nama orang yang mereka cintai, lalu ingat kembali seolah tak terjadi apa-apa. Semua bermula—atau berpusat—di sebuah fasilitas penelitian tua yang sudah dua puluh tahun ditutup, di bawah Bukit Ler.
Ketika seorang fisikawan asing bernama Adam Nusantara datang membawa dokumen lama, Rasa dipaksa menghadapi kenyataan yang jauh lebih personal dari yang ia duga: nama suaminya—dan namanya sendiri—tercatat di sana, setahun sebelum Kirana meninggal.
Semakin dalam Rasa menggali, semakin ia sadar bahwa yang membusuk bukan hanya kota ini. Ingatannya sendiri tentang kematian putrinya mulai berubah setiap kali ia mengingatnya kembali. Rasa tidak sedang menyelidiki sebuah misteri.
Ia sedang kehilangan kendali atas kenyataannya sendiri—dan jawabannya mungkin lebih menyakitkan daripada tidak pernah tahu sama sekali.
Tapi Girimulya menyimpan kutukannya sendiri. Rumah-rumah lapuk dalam semalam. Warga lupa nama orang yang mereka cintai, lalu ingat kembali seolah tak terjadi apa-apa. Semua bermula—atau berpusat—di sebuah fasilitas penelitian tua yang sudah dua puluh tahun ditutup, di bawah Bukit Ler.
Ketika seorang fisikawan asing bernama Adam Nusantara datang membawa dokumen lama, Rasa dipaksa menghadapi kenyataan yang jauh lebih personal dari yang ia duga: nama suaminya—dan namanya sendiri—tercatat di sana, setahun sebelum Kirana meninggal.
Semakin dalam Rasa menggali, semakin ia sadar bahwa yang membusuk bukan hanya kota ini. Ingatannya sendiri tentang kematian putrinya mulai berubah setiap kali ia mengingatnya kembali. Rasa tidak sedang menyelidiki sebuah misteri.
Ia sedang kehilangan kendali atas kenyataannya sendiri—dan jawabannya mungkin lebih menyakitkan daripada tidak pernah tahu sama sekali.
Tokoh Utama
Rasa
Kirana
Adam Nusantara
Pak Wirya
Ulasan kamu
Ulasan kamu akan ditampilkan untuk publik, sedangkan bintang hanya dapat dilihat oleh penulis
Apakah kamu akan menghapus ulasanmu?
Disukai
4
Dibaca
61
Tentang Penulis
Bobby Mahmud
Driver | Penulis | Podcaster 🎙️
Founder The Silent Room — Podcast Horor 👻
BAM²⁰ Photography 📷
📍 Balikpapan, Kalimantan Timur.
Menulis cerita, mengabadikan momen, dan menikmati setiap perjalanan. 🚗✍️
Founder The Silent Room — Podcast Horor 👻
BAM²⁰ Photography 📷
📍 Balikpapan, Kalimantan Timur.
Menulis cerita, mengabadikan momen, dan menikmati setiap perjalanan. 🚗✍️
Bergabung sejak 2026-09-05
Telah diikuti oleh 17 pengguna
Sudah memublikasikan 12 karya
Menulis lebih dari 49,527 kata pada novel
Rekomendasi dari Misteri
Cerpen
Tenggelam di Ombak Kematian
adinda pratiwi
Novel
ENTROPI
Bobby Mahmud
Novel
Lembar Usang Berkisah
Dwimarta
Skrip Film
Skema Wilwatikta
Vitri Dwi Mantik
Cerpen
PENGANTIN BERSAYAP MERAH MUDA
Drs. Eriyadi Budiman (sesuai KTP)
Cerpen
Garnet
Shinta Larasati Hardjono
Cerpen
Operasi bayangan di gedung lama
Syaqueenn
Cerpen
Of Tails and Memories
Bramanditya
Cerpen
Anatomi Bayangan
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Proyek Memori: Subjek 27
Ron Nee Soo
Cerpen
Kebaikanku, Tak Perlu Kau Bayar
Ron Nee Soo
Cerpen
Hukuman Violet
PrincessSheraphine
Cerpen
LOCK IT DOWN
Rama Sudeta A
Cerpen
ketakuan akan masalah
Mochammad Ikhsan Maulana
Cerpen
Kunci yang Bernama Rindu
Rico Tsiau
Rekomendasi
Flash
AMIGDALA
Bobby Mahmud
Flash
Mind Reader
Bobby Mahmud
Novel
ENTROPI
Bobby Mahmud
Novel
Permainan Tujuh Nyawa
Bobby Mahmud
Cerpen
DALAN DAT
Bobby Mahmud
Flash
Warung Kopi Jam 3 Pagi
Bobby Mahmud
Flash
Sepenggalan Pagi
Bobby Mahmud
Flash
Yang Bertahan
Bobby Mahmud
Flash
Yang Tersisa dari Hutan
Bobby Mahmud
Flash
Asap Terakhir
Bobby Mahmud
Novel
Jogja, Aku kira Aku singgah
Bobby Mahmud
Novel
4in1: Empat Duda, Satu Perjaka
Bobby Mahmud