Disukai
0
Dilihat
609
Sebatang Lidi
Slice of Life

Bagaimana perasaanmu jikalau harus melangkah dengan kepalsuan? Jika hanya manusia yang mengabaikan kehadiran, barangkali itu tak menjadi papa, akan tetapi bumi yang dipijak menolak langkah kaki ini … rasanya aku ingin mengutuk bumi.

Aku keturunan Adam, diciptakan dengan punggung wajib menjaga Hawa di kemudian hari, bilamana ada tulang rusuk yang siap menyempurnakan hidupku, maka aku harus utuh berjuang menjadi pria sejati. Akan tetapi setahun lalu, lidi sialan membuat jempol kakiku terluka. Dokter sebut infeksi tetanus, keluar nanah bercampur darah. Rasanya serupa tersengat lebah, ada sensasi terbakar panasnya luar biasa. Gara-gara ada kotoran pasir terselip di sela-sela kuku dan kulit jempol, jari tangan usilku mencukilnya menggunakan lidi. Ada sedikit goresan—ya sedikit mendadak menjadi lebar, lalu kulit di sekitar kuku membengkak, bertambah hari keluar nanah, digunakan melangkah menjadi payah.

Kupikir itu akan baik-baik saja, rupanya takdir berkata lain. Masih terkenang dalam ingatan di akhir tahun 2022, ketika hujan turun melambai-lambai di permukaan udara dan badai menerjang alun-alun kota. Aku tak tahan merasakan sensasi sakitnya, kubawa ke dokter, karena khawatir infeksi. Masalah terberatku bukan pada luka yang kubawa. Kian waktu otakku setres sementara jempol kaki tidak ada perkembangan akan sembuh. Bakteri kompak menambah kekuasaan, menjalar sampai telapak kaki sehingga kulitnya kelihatan hitam juga menguarkan aroma busuk.

Perihal kepala setresku, tentulah karenamu yang pandang aku lain dari orang lain. Mata lebarmu mengabaikan keluh laraku. Kau olok-olok diriku, katakan bahwa aku pria ceroboh, tak pandai jaga kebersihan sehingga mengalami infeksi dan dimakan pasukan bakteri. Rumahku lembab, disekat oleh bilik-bilik bambu yang dimakan rayap. Jika hujan turun di atas genting, airnya meluncur ke permukaan lantai tanah ruang tamu, menjadi becek dan aroma petrichor tercium pekat. Bukan itu saja, rumahku dikelilingi oleh selokan pembuangan, menyatu dengan kandang kambing dan ayam. Atas dasar itulah penilaianmu dijadikan akurat, oleh daun pendengaran rakyat. Menurutmu lukaku menjijikkan! Padahal ketahuilah dirimu yang memiliki mata hati, aku tak serendah dalam nilaimu. Aku hanya sedikit ceroboh—bukan menjijikkan.

Lukaku begitu nyalang, sampai tak bisa kuajak tidur malam, sekalipun nyala lampu telah lenyap, atau bahkan fajar membuat kantuk sekarat. Sakit itu terus mengalir dahsyat tanpa pertimbangan, menggerogoti sadarku ke ujung-ujung kehidupan. Malam tiada tenang, justru aku menjerit garang. Mengaduh dalam rintih, sebut nama ibu tanpa dalih. Terus menerus sampai malam benar-benar kritis. Obat yang diberikan dokter rasanya tak bereaksi apa pun. Jeritku bertambah sangar, warga terus memandang dalam kasihan. Aku bukan hanya sakit, tetapi terpandang sebagai makhluk kotor penuh kemalangan.

Tak pernah kusangka, jika rupanya bumi akan menolak pijakanku! Saat kaki itu kuseret ke kamar mandi, sekujur tubuhku rasanya menggigil. Seperti ada sengat listrik yang membuatku sekarat. Aku kesakitan lantaran sebatang lidi kotor. Tragis kulitku mendadak busuk. Penciuman orang akan mual jika menghirup luka-lukaku. Aku sempat tanam pikiran, bumi menolakku karena aku dirimbuni dosa, ataukah karena aku tak mau menganggapnya bernyawa? Sembahyangku memang kurang-kurang. Dulu … tak pernah kumanfaatkan langkahku dalam kebaikan. Mungkinkah aku sedang kualat? Aku bahkan pernah menendang ibuku karena sarapan tidak sesuai. Kau ikut-ikutan mengusung jarak dengan memberi batas pertemanan.

Tiada lagi sosokmu yang tongkrong di teras rumah, duduk pada bangku bambu sambil menikmati keluguan bocah-bocah sebelum senja menghilang. Suaramu gugur dikubur waktu, tak lagi kita bertemu kecuali dalam bayang dan angan. Kau dipersibuk kumpulkan sumbangan supaya hidupku tak bertambah malang. Terus berobat membuat keluargaku kehilangan banyak hal—sawah dijual, perhiasan satu-satunya ibu digadaikan, sepeda motor butut saudara dijual, sementara aku berstatus pengangguran. Tiada tabungan hidup yang kupersiapkan. Lantas memang b,enar bahwa kau pandang aku dalam kemalangan.

Mendadak namaku kau sebarkan, serupa kau tabur biji sawi di atas permukaan tanah, tumbuh juga berkembang biak. Begitu hal yang kutangkap. Penggalangan dana berserak dari kampung ke kampung, bahkan sampai ke telinga kepala desa. Antara malu juga butuh menjadi kesatuan padu. Aku ingin lari, bersembunyi di balik bilik bambu, atau jika mampu bermaksud protes kepada Ilahi karena tega melahirkanku ke dunia dalam penderitaan lantaran sebatang lidi.

Pada bulan Agustus, menjelang upacara kemerdekaan negara republik, juga tatkala kampung begitu ramai dengan aneka perlombaan, tangisku bertambah panjang. Sebagian kulit kaki dan daging yang busuk dikerok, dibuang supaya tidak bertambah infeksi. Anehnya serupa mendapat kutukan, lukanya justru melebar ke urat-urat yang lain. Bukan lagi tak bisa melangkah, makan saja rasanya payah. Aku tersiksa lantaran lidi, masa depanku sebagai pria muda berakhir miris dalam pembaringan dan lolongan tangis yang tragis. Warga dari luar daerah, berbondong-bondong menjengukku, menyalami amplop berisi lembar-lembar rupiah. Kuterima tanpa mempedulikan dirimu. Abai dengan tatapmu yang bertambah menyedihkan. Barangkali lantaran aku yang tak kunjung sembuh. Kabar buruknya di bulan Maret 2023, jempol kakiku diamputasi. Aku menjadi cacat lantaran sebatang lidi. Kupikir setelah diangkat pusat permasalahannya luka lain akan kering dan sakitku berkurang. Tahukah kau bahwa sakitnya justru kian parah? Tak bisa kulukiskan lagi penderitaan ini. Aku memohon kepada pencipta matamu yang lebah, berdoa dalam keluh. Allah! Sudahilah penderitaan kakiku. Aku tak sanggup memikulnya lagi. Lantas terbayang panasnya dipanggang di neraka. Akankah aku mampu hidup normal lagi serupa pria pada umumnya. Aku menjadi iri ketika teman seusiaku beranak-pinak, atau mereka yang berkabar di status aplikasi chatting baru saja melangsungkan pernikahan. Aku menjadi pesimis, tubuhku ringkih bertambah kurus kering.

Pada Juni ketika orang-orang tua sibuk mengadakan pesta perpisahan dan berebut mencari sekolah untuk anak-anak mereka, kakiku lagi-lagi akan diamputasi sampai lutut. Aku ingin berteriak di atas tebing, mengamuk sejadi-jadinya akibat lidi brengsek! Ibu dan bapak menyetujuinya begitu saja, sebab aku tak punya pilihan. Sakitnya menjadi sangat kurang ajar! Menyeluruh sampai ke pangkal paha. Kulit-kulitnya hitam pucat sementara dagingnya membusuk.

Dokter telah berusaha maksimal untuk menyembuhkanku, warga juga mencarikan dana sampai ke penjuru kampung. Anehnya pemerintah memutus jaminan sosialku, layanan kesehatan gratis dari pemerintah tidak bisa diaktifkan, tak mau mengcover biaya operasiku. Takdir memang lucu! Operasiku ditunda sampai dana terkumpul. Barangkali karena terlalu sering digunakan, maka kartu jaminan sosial perihal kesehatan itu tak lagi aktif. Terlampau banyak anggaran yang tersedot.

Nasibku memprihatinkan. Kemalanganku membuatku malas bertemu denganmu, apalagi mendengar suaramu dari jendela kamar. Rumah kita bersebelahan, tetapi aku menjadi muak karena penderitaan ini. Alangkah baiknya kita putus persahabatan sedari kecil, melangkahlah sendiri, sebab aku tak bisa melangkah normal lagi untuk mengejarmu. Padahal kala itu kita baru berbincang perihal hidup di perantauan. Ingin berangkat bersama naik pesawat terbang menuju Malaysia, bekerja menjadi buruh di pabrik elektronik ternama. Kini … merantau menjadi impian gagal dalam benakku. Kau … harusnya tetap berangkat, tinggalkan diriku dan tak perlu merasa bersalah, sekalipun memang dirimulah yang salah.

Jujur aku sangat ingin mengumpat demikian. Akhirnya di awal September dana dari desa terkumpul, banyak warga yang menyokong operasiku, mereka iuran, ada juga yang memang tulus memberi sumbangan. Aku tak begitu peduli dengan uluran belas kasihan tersebut, sudah lelah dengan semuanya, tugasku hanya pasrah di dalam ruang operasi, membiarkan kaki kiriku diamputasi. Menangis rasanya percuma. Aku merasa bumi tak mau menerima langkahku. Aku begitu terpuruk sampai lupa diri dengan rasa syukur.

Kau tentu sempat ambil kesimpulan bahwa diriku menderita diabetes! Masyarakat pun demikian! Tetapi ketahuilah, segala jenis pemeriksaan medis sudah kulalui, dokter juga mengatakan kadar gulaku baik-baik saja. Semuanya murni akibat lidi sialan! Infeksi katanya! Infeksi yang membuatku kehilangan kesempatan untuk menikmati sensasinya lari bersamamu.

Akhir tahun 2023, ketika pemuda di kampung sedang mayoran mengadakan perpisahan tahun masehi. Kau datang dengan kepala tertunduk, sebuah kardus panjang berisi entah, kau berikan kepadaku. Bibirmu bergetar rangkai kalimat pendek. Kalimat yang membuat perasaanku hancur bertubi-tubi.

“Maafkan aku, Gar! Aku melempar lidi ke kamarmu—sumpah aku tidak sengaja!”

Kau kisahkan latar belakang lidi sialan itu bisa masuk ke kamarku. Alasannya klasik, kau baru saja membersihkan ruangan, satu lidi terselip di kolong dipan, kemudian kau lemot ke luar jendela, angin membuatnya terbang ke kamarku. Lantas tangan usilku memotong lidi itu menjadi tiga bagian, kemudian kugunakan untuk membersihkan sela-sela jempol. Niat baik yang ceroboh itu membuat langkahku tak normal.

“Ini kaki palsu, aku tidak bisa mengganti yang asli!”

Lantas kau pergi meninggalkanku yang hanya mampu menggelegak air liur. Marah pun sudah percuma. Kaki asliku tak bisa tumbuh lagi. Kau pergi meninggalkan kampung, gendong ransel di punggung. Kata ibumu merantau ke Negara Taiwan. Mimpiku menjelajahi berbagai negara tumbang karena lidi yang kau buang.

Magelang, 13 November 2024.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Rekomendasi