Disukai
0
Dilihat
486
MBG-Makan Bergizi Gratis
Slice of Life

Oleh sebab suatu hal yang tak pernah dijelaskan secara rinci di televisi, tiba-tiba seluruh negeri mencapai satu kesimpulan agung: negara ini sudah aman. Aman sekali. Terlalu aman, sampai-sampai rasa takut pun kehilangan pekerjaan dan harus mengantre bantuan sosial.

Kesimpulan itu bukan datang dari rakyat yang berjalan kaki menyusuri gang-gang becek, bukan pula dari nelayan yang perahunya semakin ringan karena ikan lebih sering ditangkap kapal asing. Kesimpulan itu datang dari layar kaca, dari spanduk-spanduk berwarna cerah, dari pidato yang diucapkan dengan senyum mengembang dan jeda dramatis.

Alasannya sederhana dan logis—logis menurut pembuat logika baru itu.

Polisi kini sibuk mengurus MBG.

Tidak ada lagi pengedar narkoba, karena polisi sibuk mengurus MBG.

Tidak ada lagi begal, karena polisi sibuk mengurus MBG.

Tidak ada lagi pencopet, rampok, pencuri, karena polisi sibuk mengurus MBG.

Logika yang begitu lurus sampai-sampai melengkung seperti lingkaran.

Di sebuah kota kecil yang namanya jarang disebut kecuali saat musim kampanye, seorang guru honorer bernama Arman membaca berita itu sambil menyeruput kopi pahit. Ia tertawa kecil, lalu batuk karena kopinya lebih jujur daripada berita.

“Negara sudah aman,” gumamnya.

Istrinya, Lila, menatap dari dapur. “Aman dari apa?”

“Aman dari kenyataan, mungkin.”

Di layar televisi, seorang pejabat berseragam menyampaikan pidato dengan suara mantap.

“Dengan seluruh aparat fokus pada MBG, kita membuktikan bahwa kejahatan sudah tidak relevan lagi. Angka kriminalitas menurun drastis.”

Arman memiringkan kepala. Ia teringat tetangganya yang kemarin kehilangan sepeda motor. Laporan sudah dibuat, tetapi petugas menyarankan untuk bersabar karena saat ini mereka sedang fokus pada program strategis nasional.

“Motor saya bagaimana, Pak?” tanya tetangganya waktu itu.

“Negara sedang aman, Pak. Jadi tenang saja.”

Tenang.

Kata itu terasa seperti permen karet yang sudah terlalu lama dikunyah.

Di sudut lain negeri, tentara juga sibuk mengurus MBG. Mereka tampil gagah dalam poster, mengangkat kotak-kotak berlogo program kebanggaan. Di media sosial, warganet memuji kedisiplinan dan ketegasan mereka saat membagikan sesuatu yang bukan senjata.

Seorang nelayan bernama Harun berdiri di tepi pantai, memandangi cakrawala. Di kejauhan, kapal asing berukuran besar bergerak pelan, seperti tahu tak ada yang akan menegur.

“Lapor saja,” kata anaknya.

“Lapor ke siapa?” tanya Harun.

“Ke tentara.”

Harun tertawa, tapi tawanya tipis seperti jaring usang. “Tentara sedang sibuk mengurus MBG. Laut kita mungkin juga sudah aman. Aman untuk dicuri.”

Beberapa bulan sebelumnya, ia pernah mendatangi pos penjagaan. Seorang prajurit muda menyambutnya dengan ramah.

“Kami mencatat laporan Bapak,” katanya sopan. “Namun saat ini prioritas kami adalah menyukseskan MBG. Soal kapal asing itu, mungkin mereka hanya lewat.”

“Lewat sambil menarik jaring?” tanya Harun.

Prajurit itu tersenyum, senyum yang dilatih untuk tidak memihak pada kenyataan.

Sementara itu, di ibu kota, para anggota Dewan tak mau ketinggalan. Mereka juga sibuk mengurus MBG. Rapat-rapat panjang diadakan, bukan untuk membahas jalan rusak, sekolah roboh, atau rumah sakit kekurangan obat, melainkan untuk memastikan MBG berjalan sesuai narasi.

Seorang anggota Dewan bernama Togar berdiri di podium.

“Kita tidak perlu lagi terlalu memikirkan pembangunan,” katanya lantang. “Negara kita sudah sangat maju. Rakyat sudah pintar semua. Pendidikan sudah merata. Tugas kita sekarang adalah memastikan MBG menjadi ikon peradaban.”

Tepuk tangan menggema.

Di bangku paling belakang, seorang staf muda bernama Siska menunduk, menyembunyikan senyum yang nyaris menjadi tawa. Ia baru saja membaca laporan tentang angka putus sekolah di daerah terpencil. Tapi laporan itu mungkin salah. Data bisa salah. Kenyataan bisa salah. Yang benar adalah pernyataan resmi.

Negara sudah aman.

Negara sudah sejahtera.

Negara sudah maju.

Arman, guru honorer itu, mencoba mengajarkan logika kepada murid-muridnya.

“Jika A menyebabkan B, dan B tidak ada, apakah A masih diperlukan?” tanyanya.

Seorang murid mengangkat tangan. “Kalau polisi sibuk mengurus MBG dan tidak ada lagi pencuri, berarti pencuri sudah sadar, Pak.”

Arman tersenyum pahit. “Atau berarti kita berhenti melihat.”

Anak-anak tertawa, belum mengerti sepenuhnya bahwa mereka sedang hidup dalam eksperimen sosial raksasa.

Di pasar tradisional, seorang ibu berteriak karena dompetnya hilang. Orang-orang berkerumun. Seseorang berbisik, “Tenang saja, Bu. Negara sudah aman.”

“Kalau aman, dompet saya ke mana?” teriaknya.

Tak ada yang menjawab. Mungkin dompet itu ikut mengurus MBG.

Sarkasme menjadi bahasa kedua rakyat. Mereka berbicara dengan nada datar, tapi mata mereka menyimpan pertanyaan.

Seorang jurnalis muda mencoba menulis laporan tentang peningkatan kasus pencurian. Redakturnya menggeleng.

“Hati-hati dengan narasi,” katanya. “Jangan sampai terkesan bertentangan dengan semangat bahwa negara sudah aman.”

“Tapi datanya—”

“Data bisa menyesuaikan.”

Jurnalis itu pulang dengan kepala penuh kalimat yang tak bisa ia terbitkan. Ia membuka media sosial dan melihat foto-foto aparat tersenyum bersama kotak-kotak MBG. Ribuan komentar memuji.

Di antara pujian, ada satu komentar pendek: Kalau semua sibuk di sini, siapa yang jaga di sana?

Komentar itu hilang beberapa menit kemudian.

Di desa Harun, kapal asing semakin berani mendekat. Suatu malam, ia dan beberapa nelayan lain memutuskan untuk mendekati kapal itu dengan perahu kecil. Bukan untuk melawan, hanya untuk memastikan mereka benar-benar melihatnya.

Lampu kapal itu terang, terlalu terang untuk sekadar lewat.

“Kita seperti tamu di laut sendiri,” bisik salah satu nelayan.

“Tidak apa-apa,” jawab Harun getir. “Negara sudah aman.”

Mereka tertawa, lalu kembali ke pantai dengan jaring kosong.

Di kota, Arman menerima kabar bahwa sekolahnya akan mendapat kunjungan pejabat. Ia diminta menyiapkan murid-murid untuk menyambut program MBG. Ruang kelas yang catnya mengelupas tiba-tiba dicat ulang bagian depannya saja—yang terlihat kamera.

Saat hari kunjungan tiba, pejabat itu berdiri di depan kelas.

“Anak-anak, kalian beruntung hidup di negara yang sudah maju,” katanya. “Kalian tidak perlu takut pada kejahatan. Polisi kita fokus pada kesejahteraan. Tentara kita fokus pada kemakmuran. Dewan kita fokus pada masa depan.”

Seorang anak kecil mengangkat tangan. “Pak, ayah saya kemarin dirampok.”

Ruangan hening.

Pejabat itu tersenyum tipis. “Itu mungkin hanya kesalahpahaman.”

Arman merasa sesuatu dalam dirinya retak. Kesalahpahaman? Sejak kapan pisau di leher disebut salah paham?

Namun acara tetap berjalan. Kamera tetap merekam. Tepuk tangan tetap terdengar.

Negara sudah aman.

Di gedung Dewan, Siska menyusun naskah pidato baru. Ia mengetik kalimat demi kalimat yang tidak ia yakini.

Karena seluruh unsur negara bersatu dalam MBG, kita telah mencapai stabilitas total.

Ia berhenti. Stabilitas total. Kata-kata itu terasa seperti lantai licin yang ditutup karpet merah.

Malam itu, listrik di beberapa wilayah kota padam. Orang-orang keluar rumah, memegang ponsel sebagai senter. Di kejauhan, terdengar teriakan—entah karena kecopetan atau karena kaget melihat gelap yang tak lagi biasa.

Seorang bapak tua bergumam, “Tenang saja. Negara sudah aman. Gelap ini pasti bagian dari kemajuan.”

Anaknya menatapnya, tak yakin apakah ayahnya sedang bercanda atau menyerah.

Hari-hari berlalu. Berita-berita terus menegaskan bahwa negara aman. Grafik-grafik ditampilkan, angka-angka diturunkan dengan elegan. Kejahatan turun, ancaman hilang, kemiskinan menyusut—setidaknya di layar.

Sementara itu, Arman memutuskan untuk mengajak murid-muridnya berdiskusi terbuka.

“Apa arti aman bagi kalian?” tanyanya.

“Aman itu kalau kita tidak takut,” jawab seorang anak.

“Aman itu kalau ayah pulang kerja tanpa luka,” kata yang lain.

“Aman itu kalau ibu tidak menangis karena uang hilang,” bisik seorang gadis kecil.

Arman menatap mereka satu per satu. Jawaban-jawaban itu sederhana, jauh dari podium dan statistik.

Di desa, Harun akhirnya menjual perahunya. “Untuk apa?” katanya. “Laut sudah aman. Aman untuk orang lain.”

Ia beralih menjadi buruh di kota. Di perjalanan, ia melihat baliho besar bertuliskan: Bersama MBG, Kita Taklukkan Segala Ancaman.

Ia tersenyum miring. Ancaman apa? Bukankah semuanya sudah tidak ada?

Siska, staf muda di gedung Dewan, suatu hari memberanikan diri bertanya pada atasannya.

“Pak, apakah kita tidak perlu membahas laporan tentang tambang ilegal di perairan timur?”

Atasannya mengangkat alis. “Fokus kita MBG. Soal tambang itu nanti saja. Lagi pula, negara sudah aman.”

“Aman bagi siapa, Pak?”

Pertanyaan itu menggantung di udara, lalu jatuh tanpa suara.

Lambat laun, rakyat belajar satu hal penting: jika sesuatu tidak dibicarakan, maka ia dianggap tidak ada. Jika aparat sibuk di satu tempat, maka tempat lain dianggap tidak membutuhkan penjagaan. Jika Dewan sibuk pada satu program, maka masalah lain otomatis selesai.

Logika baru itu begitu cemerlang sehingga tak bisa disentuh akal sehat.

Suatu malam, Arman menulis di buku catatannya:

Negara sudah aman, karena kita sepakat untuk tidak lagi menyebut bahaya dengan namanya.

Ia menutup buku itu saat mendengar suara ribut di luar. Tetangganya kembali kehilangan sesuatu—kali ini bukan motor, melainkan harapan.

Orang-orang berkumpul. Ada yang marah, ada yang pasrah.

“Laporkan saja,” kata seseorang.

“Percuma,” jawab yang lain. “Mereka sibuk.”

“Sibuk apa?”

“Mengurus agar kita merasa aman.”

Hening.

Di kejauhan, sirene terdengar. Bukan sirene patroli, melainkan iring-iringan kendaraan pejabat yang hendak menghadiri peresmian pusat MBG terbaru.

Lampu-lampu berkedip cerah, seolah mengusir gelap dengan gemerlap, bukan dengan penjagaan.

Arman memandang langit yang kelabu. Ia membayangkan negeri yang benar-benar aman—di mana polisi menjaga hukum, tentara menjaga kedaulatan, dan Dewan menjaga suara rakyat. Bukan sibuk menjaga citra.

Namun mungkin ia terlalu kuno. Mungkin di zaman modern, keamanan diukur dari seberapa sering kita mengucapkan kata “aman,” bukan dari seberapa sedikit orang yang menangis diam-diam.

Keesokan paginya, koran memuat judul besar: Negara Capai Tingkat Keamanan Tertinggi dalam Sejarah.

Di bawah judul itu, ada foto aparat, tentara, dan anggota Dewan berdiri berdampingan, tersenyum bangga dengan latar belakang spanduk MBG.

Tak ada foto pasar yang dompetnya hilang.

Tak ada foto laut yang jaringnya kosong.

Tak ada foto sekolah yang catnya hanya rapi di bagian depan.

Arman melipat koran itu perlahan.

Ia tersenyum, bukan karena percaya, melainkan karena akhirnya mengerti.

Negara memang sudah aman.

Aman dari kritik.

Aman dari kejujuran.

Aman dari tanggung jawab.

Dan mungkin, suatu hari nanti, benar-benar aman dari rakyatnya sendiri—rakyat yang terlalu lelah untuk bertanya, terlalu sering diyakinkan, terlalu lama disuruh tenang.

Di televisi, suara penyiar kembali terdengar mantap:

“Dengan keberhasilan program MBG, kita membuktikan bahwa bangsa ini tak lagi dibayangi ancaman apa pun.”

Arman mematikan televisi.

Di luar, seorang anak kecil berlari sambil tertawa, belum tahu bahwa ia hidup di negeri yang sudah sempurna—setidaknya di atas kertas.

Dan di atas kertas, memang tidak ada darah, tidak ada air mata, tidak ada laut yang dicuri, tidak ada dompet yang raib.

Di atas kertas, negara sudah aman.

Sangat aman.

Terlalu aman untuk disentuh kenyataan.

***


Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Rekomendasi