Kotoran cokelat terkontaminasi dengan adonan hijau pekat menjulur dari saluran pembuangan Anang. Bentuknya lonjong dan terputus sekitar sepuluh senti, disusul adonan yang lebih lumer berwarna kuning agak kemerah-merahan. Napas lega keluar bersama kepulan asap yang terbang bebas menuju ventilasi kamar mandi. Mata Anang menyorot bak air di depan jamban, setiap sudutnya telah berlumut. Pikirannya diambangkan pada kusamnya permukaan dinding. Keramik retak di sana sini, menampilkan kegelisahan tak berujung pada ember penuh dengan kain kotor. Lima hari lalu akta cerai resmi diterbitkan pengadilan agama.
Maka damai di dalam kamar mandi, menikmati isap demi isap rokok kretek adalah kekuasaan untuh. Tak akan ada lagi penggedor pintu yang buru-buru hendak mencuci pakaian dan memandikan anak-anak. Ia bebas, bebas sebebas-bebasnya menggunakan ruang basah tersebut. Bahkan, laba-laba di balik pintu reyot diijinkan bersarang seumur hidup.
Anang seorang buruh bangunan, pemilik hutang dua puluh juta di Bank Rakyat Miskin (BRM). Tenaga diabdikan pada gundukan pasir dan semen-semen, ia panggul batu bata, menarik ulur besi-besi, main pukul paku-paku, berguling dengan debu-debu, memanjat ketinggian pilar, meracik peluh-peluh, pemburu kedangkalan malam, penikmat lelah di penghujung fajar.
Anang, pemilik cinta pening di malam hening. Ia lupa bahwa jasa kerinduannya telah dibilas bersih setiap pagi di kamar mandi. Ia mengabaikan kebaikan kasih sayang yang terhidang di meja-meja makan. Denyut nadi Anang pikun dengan gerakan tangan lembut di bahu letihnya. Ia lebih suka berangan-angan, memiliki istri harum, bersih dan tentunya cantik serta kaya. Istri yang diceraikan dijelek-jelekkan, dekil, berbau dan tak mampu mengurus badan. Alasan dirinya cerai terlalu murahan! Ia bosan dengan istri yang begitu-begitu saja. Ia bermimpi menjadi DPR, berjas rapi, terlihat bersih dan berdedikasi. Lain waktu ia berniat menjadi pengusaha sukses, memiliki mobil mewah, tubuh beraroma wewangian berkelas, dan tentunya tak menguras tenaga pada butir-butir pasir.
“Kau sekarang seorang duda. Anakmu ikut siapa?”
“Anak pertama ikut aku, yang dua ikut mantan istri.” Katanya tanpa mengemban perasaan bersalah sedikit pun. Parman geleng-geleng kepala. Ia sesap kopi mendekati ampas. Rokok kembali diisap. Matanya menatap bangunan yang belum kelar. Pondasi baru ditanam lampau, dinding masih berbata belum diplaster, biru langit menjadi genting.
“Jujur, aku kadang jenuh di rumah karena bosan mendengar omelan istri, yang jangan main hapelah, yang jangan cuma duduk ngerokak-ngerokok, yang kebanyakan tidur, yang tidak pengertian dan apalah, tapi …,” suara Parman menggantung di tengah-tengah, ia rebahkan tubuh di atas tanah sementara tangan kanan dijadikan bantal, pandangan lurus ke langit. “Kalau aku ingat perjuangan istri melahirkan anak-anakku, kadang aku merasa bersalah karena dirikulah yang membuatnya kesakitan. Perjuangan melahirkan dan merawat anak-anakku menumbuhkan cinta tidak beralasan padanya.”
Bibir Anang terkunci rapat. Ia mengenang detik anak-anaknya lahir. Belum pernah sekalipun dirinya mendampingi istri berjuang di ruang persalinan. Pasalnya sang mantan istri tidak mau ditunggui, khawatir membuat cemas. Proses kelahiran selalu berjalan baik tanpa ada keluhan apa pun dari istri. Memang benar ia sempat mendengar jeritan-jeritan pilu namun suaranya dihamburkan bersama kepulan asap di ruang isap.
“Mantan istriku tidak pernah merasa tersakiti karena melahirkan,”
“Tolol! Akad itu mudah, tapi tanggung jawab setelahnya tak semudah menumpahkan spermamu ke rahim wanita, Nang. Kau pasti yang kurang ajar! Dirimu yang mencari-cari kesalahan,”
“Hahaha. Aku tidak kurang ajar, lagi pula istriku dengan suka rela mengatakan mau dicerai kalau aku sudah bosan.”
“Andai saja kau saudaraku, wajahmu sudah kutampar babak belur. Apa alasanmu mengakhiri pernikahan? Aku tidak yakin jika hanya karena bosan,” Parman menatap bahu Anang. Lelaki itu duduk menselonjorkan kaki. Debu-debu menempel di sepatu butut. Kakinya bergerak ke kanan dan ke kiri. Mereka bersantai menikmati waktu istirahat. Buruh lain sedang mencari makan siang di kedai-kedai emper jalan.
“Pengen tahu rasanya menduda!”
Parman menendang punggungnya reflek. “Bocah tolol! Kelak kau akan menyesal!”
Anang kurang pendidikan, ia tak memakan bangku sekolah, hidup dihabiskan untuk berfoya dan bermain di jalanan. Jangan salahkan dirinya, jika kini ia menjadi sosok yang mudah terpikat dengan kesenangan.
Ia mengenang obrolan pada setiap kepulan asap kretek. Sepi memeluknya rapat-rapat. Tangan kiri bergerak menyiram jamban tua yang penuh dengan kerak-kerak kotoran nenek moyang. Air berputar-putar di lubang selebar 10 cm. Tainya larut ke liang pembuangan bersama wajah lelaki tua Parman. Dirinya muak. Bedebah! Emosi membuatnya hanyut, ikut membaur bersama kotor-kotoran.
Tetiba pohon bambu di luar ruangan dihempas angin. Badai tak diundang mengantar hujan berliter-liter, seluruh air tumpah ke kamar mandi Anang. Ia pun kuyub, lalu terjungkal ke lubang jamban. Tubuhnya menciut menjadi lilliput. Tai-tai menyetubuhi setiap lekuk-lekuk tulang dan pikiran. Ada gelap dan pekat yang terlintas dalam pandangan Anang. Lantas sekejab, waktu menjadi tenang, damai. Damai yang aneh.
***
Rumah megah berdiri kokoh dan gagah itu, seolah hendak mencibir rumah-rumah bergenting murahan yang ada di belakang tubuhnya. Pilar-pilar menjulang tinggi sampai lantai ketiga hendak menyokong beban langit yang terus-menerus diintai mendung. Tanaman bonsai tertata apik di sekitar kolam halaman rumah. Adenium memamerkan keelokan bunganya, sementara Aglonema menari-nari mengusir embun yang rebah di permukaan daun. Seekor katak melompat dari kolam, hinggap di permukaan daun teratai. Asisten rumah tangga hilir mudik membersihkan debu-debu, tukang kebun menyiangi rumput-rumput. Sopir sedang mengelap mobil yang hendak dibawa plesir. Sementara istri sedang memasak sop kaki babi di dapur bersama juru masak kepercayaan.
Punggung tangan seseorang mengetuk pintu kamar. “Bangun Tuan, sudah pagi. Nanti terlambat!”
Gendang telinga terganggu. Perlahan bunyi itu menarik kelopak mata. Tangan menyibak selimut tebal. Ia tidak mengerjab, namun langsung bangun membuka tirai jendela, cahaya pagi menerobos masuk, menerpa wajahnya yang masih dibasuh kantuk. Ia mendelik! Pemandangan alam dipamerkan ke dalam akal. Langit memang mendung, namun di bawah sana, mobil lamborgini, tubuh gerbang menawan, taman yang anggun, membuat kedua tangannya reflek menampari pipi sementara dua matanya melotot lebar.
“Tuan, kita akan segera berangkat. Nona muda telah menyiapkan sarapan kesukaan Tuan di meja makan.”
Tuan? Sejak kapan ia menjadi tuan? Nona muda? Siapa Nona Muda? Anang tak sempat memerhatikan tubuhnya yang hanya dibungkus piyama tak berkancing sementara talinya lepas, celana dalam berwarna hitam tampak jika ada leher membungkuk.
“Berangkat ke mana?” Pintu dibuka lebar. Mata dengan mata saling tatap. Perempuan berumur senja, memakai seragam pembantu langsung menundukkan kepala sebagai tanda penghormatan.
“Berangkat ke gereja. Ini hari minggu, Tuan.” Suara lembut keluar teratur dibarengi rintik gerimis yang menyerbuk di luar rumah. “Permisi, Tuan.” Pembantu itu pergi usai membungkukkan badan. Anang menatap hampa seisi ruangan. Lukisan Yesus menengadahkan tangan ke langit terpajang di dinding ruang tamu lantai satu. Gucci di sebelah sofa-sofa terhuni bunga imitasi.
“Sayang. Ayo sarapan!”
Sayang? Anang tak mengerti. Wanita dengan betis indah, berwajah putih bersih, pamer senyum dari lantai bawah.
Riasan sederhana membuatnya terlihat anggun, gaun putih tipis menampilkan lekuk tubuh. Rambut sebahu membuatnya bertambah sexy. Lesung pipi di sebelah kanan membuat tatapannya terlihat manis. Pemandangan asing itu disusul seorang bocah kecil yang menyembul dari balik punggung. “Papa, ayo buruan! Alex sudah tak sabar mau bermain pasir putih.”
Apakah wanita cantik itu telah kutiduri? Kapan? Kapan istriku menjadi begitu mengagumkan? Lalu, rumah siapa ini?
“Sayang! Ayo jangan bengong!”
Kali ini Anang menerima kenyataan. Ia masuk ke kamar, mandi di dalam lalu tersenyum-senyum sendiri. Sungguh indah mimpinya. Ia berharap mimpinya tak diusaikan takdir, pokoknya nanti malam ia hendak menggauli wanita cantik itu.
Mereka sarapan, pergi ke gereja, menghamburkan uang di mall, makan siang di restoran mahal, lalu bersantai dengan senja di pantai. Ombak menggulung kenang-kenangan buruk. Ia lupa dengan mantan istri, memikunkan lelahnya jadi buruh bangunan, dan abai dengan piutang di kehidupan nyatanya. Sungguh nikmat menjadi orang kaya! Pohon bakau mendayu-dayu riang. Karang menjulang di hadapan bukit kapur. Alex sibuk membangun istana pasir ketika ia dan wanita cantik itu saling peluk di atas batu karang.
“Bagaimana jika malam ini kita menginap di hotel?” ungkap Anang penuh antusias, “Pulang terasa begitu jauh. Meski tidak menyetir aku lelah.”
“Apa pun yang membuatmu senang, pasti aku nyaman, Sayang. Baiklah akan aku pesankan hotel berbintang lima di dekat sini.”
“Kau istri paling pengertian dan pintar.”
“Hahaha. Rayuanmu lumayan.”
Langit ditaburi warna oren keemasan bercampur jingga dan ungu. Perahu nelayan telah bersandar di pelabuhan usai melempar jaring. Ikan-ikan diangkut pulang. Letih mereka hambur dalam dekap keringat istri-istri yang seharian berpeluh dengan tangis bayi. Mendung pagi tadi telah digugurkan senyum malam. Bintang perlahan menuntun kepergian kapal-kapal dari dermaga. Anang dan istrinya rebah di kamar hotel sementara Alex pulang dengan sopir. Mereka bergurau dengan endapan ampas kopi. Tukar tawa seumpama kekasih yang baru saja merekatkan jarak jumpa. Anang tidak peduli dengan dering ponselnya, ia malas melirik puluhan chat apalagi mengangkat panggilan. Malam itu ia fokus dengan lekuk tubuh Sella. Ia bilas seluruh nafsu dengan keringat harum wanita tersebut. Larut dalam surga palsu yang tak disadarinya.
Pukul sepuluh malam, suara pintu kamar tergedor keras. Ada kerumunan di lorong hotel. Pelayan saling berbisik. Wartawan tak sabar menulis surat kabar. Sella buru-buru menarik selimut. Ia duduk memeluk bantal dan selimut sementara Anang sibuk memakai kolor. Ia keluar bertelanjang dada.
“Ada apa?”
Cahaya kamera berkilat silih bergantian. Wartawan dengan gesit mengabadikan momen. Penghuni hotel di kamar sebelah menjerit histeris melihat sosok yang dihormati rakyat bertelanjang dada di depan oknum polisi dan para wartawan. Lelaki berjas rapi mendadak mendorong tubuhnya ke dalam, ia ikut serta masuk. Pintu cepat-cepat dikunci. Tak seorang pun di luar mampu membuka sebab tidak ada yang tahu sandi pintu tersebut.
“Maaf, Pak. Berkali-kali saya sudah menghubungi Anda tapi Anda tidak merespon!”
Anang masih bingung dengan kejadian yang tiba-tiba. Sella melempar selimut. Ia seolah tak peduli dengan keadaan genting. “Lama tak berjumpa, kau selalu datang membawa masalah.” Sella berkata sambil memakai baju. Wanita itu tak malu ada lelaki lain, dengan percaya diri tubuh telanjangnya dipamerkan mentah-mentah. “Kapan lagi mau kau coba tubuhku?” lanjutan kalimat Sella membuat jantung Anang serasa akan meledak.
Lelaki berjas rapi itu tidak peduli dengan ucapan Sella.
“Kau ceroboh, Pak. Penggunaan APBN yang membengkak telah tercium media masa, proyek-proyek pembangunan jalan yang hanya manipulasi data pun bocor di mana-mana. Serap aspirasi rakyatmu bulan ini diganti dengan penuntutan namamu di mana-mana. Kau dikabarkan menjadi DPR paling korup di kota ini.”
Anang lemas, ia tak bisa berkata-kata. Ia ingin segera bangun dari mimpi indah, bukan … lebih tepatnya mimpi buruk! Tuhan kembalikan aku ke kamar mandi! Anang lari terbirit-birit masuk ke kamar mandi. Ia ingat terakhir kali angannya diterbangkan. Ia percaya jika kembali buang hajat di kamar mandi mampu memulangkannya ke dunia nyata. Nyaris separuh jam ia merapalkan doa-doa di hadapan closet duduk. Sayang amat malam taka da kejadian yang diubah waktu. Matanya memandang permukaan pintu kamar mandi, pintu berkaca transparan, ditutup dengan tirai tebal. Shower menggantung di atas kepala. Tisu basah dan handuk tertata rapi dalam pangkuan wastafel di hadapan cermin.
“Aku harus menemukan pintu reyot agar bisa pulang.” Anang nekat membuka pintu hotel dan langsung lari menerobos kerumunan. Kaki menendang bebas siapa pun orang yang menjadi penghalang, tidak peduli kamera terus berkilat. Dua polisi jatuh tersungkur karena tinjunya. Lalu ia bergegas masuk ke dalam lift. Turun. Tak memesan mobil online, namun lari tunggang-langgang mencari kamar mandi paling buruk. Sayang, ia tak menemukan kamar mandi yang dimaksud. Ia kemudian menyetop angkutan umum, menyuruh diantar ke kecamatan paling pelosok yang nama desanya belum pernah didengar publik. Ia yakin ada jamban kuno di sana. Nas, amat bertumpuk-tumpuk kesialan. Kota-kota kecamatan telah dibangun modern, dialah yang meprakarsai pembangunan. Ada baliho yang menampilkan wajahnya sedang menandatangani sebuah kertas, entah perjanjian apa, ia tak sempat membaca. Polisi terus memburunya. Televisi mengungkap seluruh keburukannya. Ia mudah dikenali orang dan tak seorang pun mampu menolong.
Anang putus asa, mimpi buruknya dirasa menjadi nyata. Ia duduk di alun-alun kota, pasrah jika sewaktu-waktu polisi datang untuk memborgol kedua tangan. Belia lari dengan gelembung-gelembung sabun. Muda-mudi saling peluk abadikan dekap. Bunga-bunga menampilkan kecantikannya yang tak lagi asri. Tanaman itu dipaksa mekar oleh pemerintah kota, obat kimia sudah berkali-kali disemprotkan. Tetiba matanya melotot, ada sosok tua tidak asing dalam pandangan. Sosok itu melangkah terburu-buru menuju sebuah tempat, lagi-lagi tempat yang dituju serupa. Kamar mandi. Mata lelaki tua itu berkca-kaca, ada sesal yang hendak dipendam namun ia tak tahu cara menggali kubur pengkhianatan.
“Parman!”
Anang langsung memeluk. “Aku senang menemukanmu di alam mimpi ini, mengapa kau di sini?”
“Ah, Nang. Aku selalu bermimpi bisa berlibur dengan anak-anakku. Tidak pernah kubayangkan jika pada hari libur ini aku disuguhi tontonan memuakkan. Selama ini aku sibuk mencari uang, hingga lupa dengan istri dan anak-anakku. Aku baru paham alas an istriku sering ngomel,”
“Ada apa dengan istrimu? Suguhan apa yang memuakkan?”
“Istriku butuh perhatian, ia lari ke pangkuan DPR terkorup di kota ini dan menjadi wanita simpanan. Baru aku tahu ia selingkuh dengan orang lain bahkan tidur dengannya setelah berita bejat DPR kota ini diungkap. Ah, aku tak mau tahu nama DPR, sungguh jijik jika bibir ini harus menggumamkan nama busuknya!”
Anang merinding. Keringat dingin mengucur di kening. “Apakah istrimu Sella?”
“Kau tahu dari mana? Di dunia nyata ia dipanggil Siti, namun di sini ia dipanggil Sella, nama lengkapnya Siti Sellawati. Tapi lupakan, aku tak ingin mengingat Sella, aku hanya ingin pulang memeluk Siti dan meminta maaf karena sudah terlalu sibuk.”
Mulut Anang tak berkata-kata. Ia berharap polisi segera menangkapnya.
Magelang, 22 November 2020.