Sabtu malam. Waktu di mana kaum jomblo meratapi nasib atau melakukan hal bodoh demi mengubah nasib. Aku, Devi, memilih opsi kedua. Semua ini gara-gara dua sahabatku, Novi dan Arum.
"Dev, plis lah. Sekali ini aja. Ini bukan blind date biasa. Ini Premium Selection!" bujuk Novi tiga hari lalu. Matanya berbinar seperti lampu sorot stadion GBK. "Cowok-cowok ini spek dewa, Dev. Alumni luar negeri. Tajir. Ganteng. Wangi. Kalau kita dapet satu aja, hidup kita terjamin. Gak perlu lagi makan promag di tanggal tua."
Arum menambahkan bumbu penyedap, "Dan mereka bawa temen. Jadi kita butuh tiga cewek. Kita butuh lo, Dev. Lo kan lucu, pinter ngomong. Itung-itung charity buat masa depan sahabat lo sendiri."
Aku menolak keras awalnya. Trauma masa lalu (baca: Rian si Parasit) masih membekas. Tapi Novi mengeluarkan kartu as-nya: "Kalau lo ikut, utang paylater lo bulan ini gue yang bayar setengah."
"Gas"
Iman runtuh. Prinsip tergadai. Aku setuju. Dan disinilah aku sekarang. Di sebuah restoran Fine Dining di kawasan Senopati yang namanya susah dieja, "L'Arrogance de La Vie". Tempat di mana air mineral harganya setara kuota internet sebulan.
Kami bertiga duduk di meja bundar yang taplaknya lebih putih dari masa depanku. Novi memakai gaun merah menyala yang memamerkan bahunya. Arum memakai gaun biru pastel yang anggun. Aku? Aku memakai dress hitam sederhana dan high heels 15 cm. Ya, 15 sentimeter. Ini bukan sepatu, ini egrang. Tujuannya satu: Agar aku tidak terlihat seperti gantungan kunci di sebelah Novi dan Arum yang tingginya semampai (165 cm dan 168 cm, tinggiku Cuma 150 cm).
"Inget ya," bisik Novi. "Strategi kita adalah Elegant & Classy. Jangan pesen yang murah-murah, nanti dikira kita cewek murahan. Tapi jangan terlalu mahal juga, takut mereka illfeel. Biarin mereka yang treat."
"Siap," jawabku sambil membetulkan posisi heels yang mulai menyiksa kelingking, yang kubayangkan aku kesini demi keringanan paylater.
Tak lama kemudian, pintu restoran terbuka. Angin surga berhembus. Tiga makhluk Tuhan paling "Sempurna" (secara fisik) masuk. Satu cowok tinggi tegap dengan jas casual (mirip aktor Korea). Satu cowok berkacamata dengan gaya smart look (mirip CEO startup). Satu cowok dengan gaya bad boy urakan tapi mahal (mirip vokalis band rock).
Novi meremas tanganku. "Mati gue Dev... Ganteng banget woy!" Arum menahan napas. "Itu yang pake kacamata... tipe gue banget!"
Aku menatap mereka dengan skeptis. Insting Red Flag Detector di kepalaku berkedip pelan. "Ganteng sih," gumamku. "Tapi kok jalannya ngangkang banget ya? Kayak punya masalah selangkangan."
Mereka duduk. Perkenalan dimulai. Si Tinggi Tegap namanya Kevin. (Anak pejabat, katanya). Si Kacamata namanya Jason. (Crypto Anthusias, katanya). Si Bad Boy namanya Brian. (Musisi Indie, katanya).
Awalnya obrolan berjalan lancar. Tapi masuk menit ke-15, hawa neraka mulai terasa.
"Jadi kalian kerja apa?" tanya Kevin sambil memutar-mutar kunci mobil (yang logonya Kuda Jingkrak) di atas meja. Pamer.
"Aku HRD di perusahaan logistik," jawab Novi manis. "Aku Florist," jawab Arum lembut. "Gue Staff Admin" jawabku singkat.
Kevin tertawa. Tawa yang meremehkan. "Oh, Corporate Slave ya? Lucu sih. Gue sih gak pernah kerja sama orang. Gue dari lahir diajarin Papi buat jadi Leader. Tangan gue terlalu halus buat ngetik laporan."
Strike 1: Sombong.
Jason, si Crypto Bro, menatap Arum. "Florist? Jual bunga? Itu scalable gak bisnisnya? Udah pake NFT belum bunganya? Kalau cuma jual fisik mah so yesterday. Lu harus masuk ke Web3 kalau mau kaya."
Arum bingung. "Eng... NFT itu apa ya Mas?" Jason memutar bola mata.
"Duh, basic banget. Nanti gue ajarin deh, biar otak lu agak upgrade dikit."
Strike 2: Mansplaining & Merendahkan Intelektual.
Brian, si Musisi, menatapku dari atas ke bawah. Lalu dia tertawa kecil. "Lu... Devi ya? Lu unik ya."
"Unik gimana?" tanyaku waspada.
"Kecil. Compact. Kayak travel size. Hahaha. Lu kalau nonton konser pasti napasnya bau ketek orang ya? Soalnya idung lu sejajar sama ketiak rata-rata manusia."
Kevin dan Jason tertawa terbahak-bahak. "Anjir, Brian jahat lo! Jangan gitu, dia itu portable. Bisa masuk koper kalau mau liburan hemat tiket."
Aku tersenyum kaku. Tanganku meremas serbet makan. "Hahaha. Lucu banget. Masuk koper. Hahaha." (Dalam hati: Gue masukin lo ke kantong mayat baru tau rasa).
Novi menyenggol kakiku di bawah meja. Memberi kode: Sabar Dev, demi masa depan.
Pelayan datang membawa menu. Kevin langsung mengambil alih. "Oke, malam ini kita party. Mas, keluarin menu andalan kalian."
Kevin memesan:
Wagyu A5 Gold Leaf (3 porsi).
Lobster Thermidor (3 porsi).
Caviar (Entah buat apa, mungkin buat kumur-kumur).
Champagne botol tahun jebot.
Novi berbisik padaku, mukanya pucat. "Dev... itu harganya jutaan..." Aku berbisik balik. "Tenang, Nov. Biasanya cowok tajir yang bayar atau minimal split bill. Kan tadi lo bilang biarin mereka yang treat."
Makanan datang. Meja penuh dengan makanan mewah yang porsinya seuprit tapi harganya bisa buat DP Rumah Subsidi. Mereka makan dengan lahap sambil terus membual. Kevin cerita soal koleksi mobil papinya. Jason cerita soal dia rugi 2 Miliar di Crypto tapi "santai aja, duit kecil". Brian cerita soal cewek-cewek yang ngantri mau tidur sama dia.
Sementara kami bertiga cuma pesen Ice Lemon Tea dan Caesar Salad (yang isinya cuma selada layu) karena takut tagihannya meledak.
Tiba-tiba, di tengah makan, Kevin menepuk jidatnya. "Ah, Shit!"
"Kenapa, Vin?" tanya Jason.
"Dompet gue ketinggalan di mobil Ferrari gue yang satu lagi. Gue lupa mindahin."
Jason merogoh sakunya. "Tenang, gue bayar pake Crypto... eh bentar, wallet gue lagi maintenance servernya. Sial."
Brian mengangkat bahu. "Gue seniman, Bro. Gue gak pegang duit cash. Gue dibayar pake apresiasi."
Lalu, tiga pasang mata itu menatap kami bertiga. Kevin tersenyum lebar, memamerkan gigi putih hasil veneer.
"Ladies, kalian talangin dulu ya? Kan jaman sekarang Women Empowerment. Cewek mandiri harus bisa bayar bill. Masa mau jadi cewek matre yang cuma ngarep dibayarin? Gak level dong."
Jantungku berhenti berdetak. Novi tersedak Lemon Tea. Arum menjatuhkan garpu. Cih, sudah kuduga sensor red flag ku tepat.
"Ta... tapi Mas..." suara Novi bergetar. "Ini... banyak banget..."
"Yaelah, santai kali. Besok kita ganti dua kali lipat. Itung-itung investasi. Kalian bayarin kita sekarang, nanti pas kita jadian, kalian dapet akses ke kekayaan kita. Fair kan?" kata Jason dengan nada manipulatif.
Aku menatap mereka. Ini bukan blind date. Ini perampokan berencana. Tapi Novi dan Arum, yang terlalu polos dan takut kehilangan kesempatan "mendapatkan pangeran", dengan tangan gemetar mengeluarkan kartu kredit mereka.
"Oke... kita bagi tiga ya..." cicit Arum.
Aku ingin berteriak "JANGAN!", tapi Novi menatapku memohon. Please Dev, jangan bikin malu. Dengan hati hancur, aku menyerahkan kartu debitku. Tabungan setahun ludes dalam satu gesekan mesin EDC.
Setelah pembayaran sukses dan kami resmi miskin (walaupun sebelumnya memang sudah miskin), sikap mereka berubah. Bukannya berterima kasih, mereka malah makin menjadi-jadi.
Kevin menyalakan rokok di ruangan ber-AC (padahal dilarang). "Ternyata cewek karir duitnya dikit juga ya? Limit kartu kalian hampir jebol tuh tadi. Makanya cari kerjaan yang bener. Jangan cuma jadi babu korporat."
Jason menertawakan tas Novi. "Itu tas lo KW ya? Keliatan banget jahitannya kasar. Gue sih malu kalau jalan sama cewek pake barang palsu. Nanti dikira gue melihara orang susah."
Arum tercekat, matanya mendung. Wajahnya redup, dia pasti tersinggung dan sedih. "Mas kok ngomongnya gitu... Kita kan udah bayarin..."
"Dih, kok wajahnya gitu? mau nangis?" Brian tertawa sinis. "Cengeng banget. Pantesan jomblo. Cowok itu butuh cewek kuat, bukan drama queen."
Lalu Brian menoleh padaku. Matanya menatapku dengan jijik yang tidak ditutup-tutupi. "Dan lu, Si Pendek. Lu harusnya bersyukur kita ajak makan di sini. Cewek sependek lu tuh biasanya cuma cocok jadi cosplayer tuyul atau badut Ancol. Gak ada sex appeal-nya sama sekali. Lu tuh kayak... sparepart gagal produksi."
Kevin dan Jason tertawa terbahak-bahak sampai memukul meja. "Sparepart gagal! Anjir, sadis! Hahaha! Bener juga sih. Dia berdiri aja kayak orang lagi duduk."
Novi menunduk, bahunya berguncang menahan tangis. Arum sudah sesenggukan. Kami sudah boncos puluhan juta. Kami sudah dihina profesi kami. Kami sudah dihina fisik kami. Dan sekarang, harga diri kami diinjak-injak oleh tiga onggok sampah organik berbalut jas mahal ini.
"kenapa kalian diam saja? Santai lah ladies..." ucap Jason.
"Kalau kalian gitu aja tersinggung gimana saat pacaran?" kata Kevin "kalian ga maupun banyak cewek yang ngantri untuk kami"
Brian nambahin "Iya... haha, paling kasih duit dikit cewek-cewek diluar sana langsung diem"
Tangan Novi bergetar, dia ingin menangis. Arum seperti ingin berteriak tapi rasa sesak tertahan di dadanya. Mengatakan aku pendek, sudah kebal! Merendahkan teman-temanku, merendahkan perempuan, dan disaat yang sama KAMI YANG BAYARIN MAKAN MALAM INI!! GAJIAN MASIH SEMINGGU LAGI!!
Cukup. Ada batas kesabaran bagi setiap manusia. Dan batas kesabaranku baru saja dilanggar dengan kecepatan cahaya.
Aku menutup mataku sejenak. Menarik napas dalam-dalam. Mengingat semua lemburan tanpa gaji. Mengingat semua revisi bos yang tidak masuk akal. Mengingat saldo rekening yang kini tersisa Rp 15.000,-. Mengingat tagihan Paylater. Mengingat Shampoku di kos yang posisi terbalik minta dibuang dan diganti baru. Mengingat hinaan "Tuyul" dan "Sparepart Gagal".
Aku membuka mata. Dunia melambat. Suara tawa mereka terdengar distorted dan berat. Sistem di otakku berubah mode.
[ACTIVATING: BUDAK CORPORAT KILLER MODE]
[STATUS: RAGE LEVEL 9000%]
[OBJECTIVE: ANNIHILATION]
Aku berdiri. Pelan. Tenang. "Mau kemana lu, Tuyul? Mau ambil kursi tambahan biar nyampe?" ledek Kevin.
Aku tidak menjawab. Mataku melakukan scanning taktis, Grid digital imajiner muncul di pandanganku.
[TARGET ANALYSIS]
- KEVIN (The Leader): Posisi jam 12. Kelemahan: Sombong, dasi terlalu panjang, selangkangan terbuka lebar.
- JASON (The Brain): Posisi jam 10. Kelemahan: Kacamata mahal, laptop terbuka di meja (aset berharga).
- BRIAN (The Agility): Posisi jam 2. Kelemahan: Rambut gondrong (mudah ditarik), gitar yang disandarkan di kursi.
[ENVIRONMENTAL WEAPONS]
Garpu Steak (Stainless Steel, Runcing)
Botol Champagne (Kaca Tebal, Berat)
Kursi Kayu Jati (Solid)
Sepatu Heels 15cm (Lethal Weapon)
[WAKTU EKSEKUSI : 23 DETIK]
[START]
Detik pertama Tangan kananku bergerak secepat kilat menyambar Botol Champagne yang masih sisa setengah. Tanpa peringatan, aku mengayunkan botol itu. Bukan untuk memukul, tapi untuk mengocok isinya. POP! Aku menyemprotkan isi Champagne bertekanan tinggi itu tepat ke wajah Kevin, Jason, dan Brian. "MANDI LU PADA, ORANG KAYA BARU!"
"ANJIR! MATA GUE! PERIH!" Mereka bertiga gelagapan, buta sesaat karena alkohol mahal.
Detik Keempat, aku melompat. Ya, aku pendek. Tapi itu artinya pusat gravitasi aku rendah. Aku lincah. Aku naik ke atas meja makan yang penuh piring mewah itu. PRANG! Piring pecah terinjak heels 15 cm milikku.
Sekarang posisiku lebih tinggi dari mereka. "SIAPA YANG PENDEK SEKARANG, HAH?!"
Detik Ketujuh, Kevin mencoba berdiri sambil mengucek mata. "Kurang ajar lu cewek gila!" Aku melihat dasi sutra mahalnya menjuntai. Aku menendang wajahnya dengan ujung heels. TAK! (Suara tumit besi bertemu jidat). Kevin terhuyung ke belakang. Aku melompat turun dari meja, mendarat di bahu Kevin seperti monyet gila. Kakiku melilit lehernya. Tanganku menarik dasinya sekuat tenaga. "INI BUAT DUIT GUE YANG LU POROTIN!" Aku menarik dasinya ke atas, mencekiknya, lalu menggunakan berat badanku untuk membantingnya ke belakang. BRAKK! Kevin jatuh telentang dengan aku di atas dadanya. Kursi di belakangnya hancur.
Detik Ke Dua Belas, Jason panik. Dia berusaha menyelamatkan laptop MacBook Pro-nya yang ada di meja. "Laptop gue! Aset Crypto gue!" Aku bangkit dari tubuh Kevin. Aku melihat Jason. Aku melihat garpu steak di meja. Aku menyambar garpu itu. "CRYPTO LU LAGI BEARISH, BRO!"
Aku melemparkan garpu itu. Bukan ke Jason, tapi ke layar laptopnya. JLEB! Garpu menancap sempurna di layar LCD Retina Display. Layar berkedip lalu mati total. "TIDAAAAAAK! WALLET GUE!" Jason berteriak histeris.
Tapi aku belum selesai. Aku berlari (sprint jarak pendek), lalu melakukan sliding tackle ke kaki kursi Jason. Kursinya miring. Jason jatuh tersungkur, wajahnya mendarat tepat di sisa Lobster Thermidor yang penuh saus creamy. Wajah sok pintarnya kini penuh krim keju dan cangkang udang.
Detik Ke Delapan Belas, Brian, si musisi, mencoba kabur. Dia menyambar gitarnya untuk dijadikan tameng. "Jangan deket-deket! Gue pukul lu pake gitar!"
Aku tertawa. Tawa iblis wanita yang baru lepas dari pasungan. "Gitar? Lu mau ngadu musik sama gue? GUE VOKALIS KARAOKE KANTOR!"
Aku melepas sepatu hak tinggiku yang sebelah kanan. Sekarang aku memegang Palu Thor versi cewek SCBD. Aku melempar sepatu itu dengan akurasi penembak jitu. WUSH... Sepatu itu melayang berputar di udara. DUAGH!
Tumit sepatu menancap di bodi gitar akustik Brian, menjebol kayunya, dan terus melaju menghantam ulu hati Brian.
Brian terbatuk. "Uhuk..." Dia membungkuk kesakitan. Aku berlari mendekat, melompat (lagi), dan melakukan Double Knee Strike (Terbang dengan dua lutut) ke wajahnya. BUM! Brian terpental menabrak pelayan yang sedang membawa nampan berisi gelas. PRANG! KLONTANG! Brian terkapar di lantai, tertimbun pecahan gelas. Aku mencabut sepatu hak tinggiku dari gitarnya, dan memakainya.
Detik ke dua puluh tiga, Tiga tubuh pria "sempurna" itu kini terkapar di lantai. Kevin pingsan dengan dasi melilit leher. Jason menangisi laptopnya dengan wajah penuh saus lobster. Brian mengerang memegangi ulu hatinya di tumpukan beling.
Suasana restoran hening. Musik jazz lo-fi yang elegan masih berputar, kontras dengan pemandangan pembantaian di sana. Novi dan Arum masih membatu dengan mulut menganga selebar terowongan MRT.
Aku berdiri di tengah kekacauan. Napasku teratur. Adrenalin berubah menjadi fokus yang dingin. Aku belum selesai. Ada Tagihan Paylater yang harus kubayar, tak sudi kuberikan uangku untuk mengisi usus dua belas jari mereka.
Aku berjalan dengan perlahan menuju Kevin yang mulai siuman. Suara sepatu heels-ku mengetuk lantai marmer dengan irama yang mengerikan. TOK... TOK... TOK...
Kevin membuka mata, samar-samar melihat siluetku. "Ugh... cewek gila..."
Aku berjongkok di sebelahnya. Wajahku datar tanpa ekspresi. Tangan kiriku mencengkeram Rambutnya, menarik wajahnya mendekat. Kucopot sepatuku lagi, Tangan kananku mengangkat sepatu heels 15 cm yang runcing itu. Aku menempelkan ujung tumit besi itu tepat di jakun lehernya.
"Denger gue, Tuan Muda," bisikku lembut tapi mematikan. "Lu punya waktu 10 detik buat buka M-Banking lu."
"Hah? Apa? Gila lu..." Kevin mencoba memberontak.
Aku menekan tumit itu sedikit. "Satu gerakan salah, sepatu gue bakal bikin lubang estetik di leher lu. Lu mau napas lewat lubang tambahan?"
Wajah Kevin pucat pasi. Keringat dingin mengalir deras. "O-oke! Oke! Jangan! Gue bayar! Gue bayar!"
Dia merogoh saku dengan tangan gemetar. Mengeluarkan iPhone 15 Pro Max-nya. FaceID gagal karena wajahnya lebam. Dia harus ketik pin dengan jari gemetar. "Berapa? Lu mau berapa?"
"Total tagihan tadi 18 juta. Bagi tiga, berarti 6 juta per orang. Tapi karena lu Leader-nya, dan lu yang paling songong..." Aku menekan tumit sepatuku lagi. "Transfer 6. Sekarang. Lebihin dikit Ke rekening gue."
"Iya! Iya! Mana nomor rekening lu!" Kevin mentransfer uang itu secepat kilat. TING! Notifikasi masuk di HP-ku. Dana diterima.
Aku melepaskan cengkeramanku. Menepuk pipi Kevin pelan. "Anak pinter. Lain kali kalau mau gaya, pastiin dompet lu setebel bacot lu."
Kuambil dompet kevin, kuambil segepok uang dari dompetnya, ku masukan kedalam tasku.
Aku beralih ke Jason. Dia masih duduk di lantai, memangku MacBook-nya yang bolong tertancap garpu. Wajahnya penuh krim saus lobster, tapi matanya menyiratkan kemarahan. Ego lelaki "Alpha Tech"-nya mulai bangkit.
Saat aku mendekat, Jason tiba-tiba berdiri. Dia mencoba melakukan sucker punch (pukulan curang) ke arah wajahku. "JANGAN SENTUH GUE, CEWEK BARBAR!" teriaknya.
Gerakannya lambat. Terlalu lambat untuk mataku yang sudah dalam mode Budak Corporat Killer Mode.
Aku tidak menghindar. Aku menangkap kepalan tangannya dengan tangan kiriku. Aku memutar pergelangan tangannya ke arah luar. Teknik Aikido dasar: Kote Gaeshi. KREK! Bunyi sendi bergeser terdengar renyah.
"AAAAARGH! TANGAN GUE! TANGAN TRADING GUE!" Jason menjerit.
Belum selesai. Aku memanfaatkan momentum jeritannya. Aku menarik lengannya yang terpelintir, lalu membanting tubuhnya ke depan. Wajahnya menghantam meja makan marmer yang keras. DUAGH! Pipi kanannya menempel paksa di meja, tepat di sebelah piring sisa tulang iga.
Aku menahan lengannya di punggung, menekannya sampai dia tidak bisa bergerak. "Lu mau ngelawan? Hah? Lu pikir jempol lu yang biasa mijit tombol 'BUY' itu bisa ngalahin tangan gue yang biasa ngangkat galon di kosan lantai 3?!"
Aku menekan sikunya lebih keras. "AMPUUUN! PATAH! PATAH!"
"Patah? Belum. Mau gue patahin?" Aku meraih jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya (jari yang biasa dia pakai buat scrolling dan typing). Aku menekuknya ke belakang, berlawanan arah dengan sendi normal.
"Jari ini ya? Jari ini yang lu pake buat ngetik chat nipu temen-temen gue? Jari ini yang lu pake buat pamer saldo palsu?" Aku menekuknya sedikit lagi.
"SAKIIIT! DEV! IYA GUE NGAKU GUE SALAH! LEPASHIIIIN!" Jason meraung, air mata dan ingusnya bercampur dengan saus lobster di meja.
"Gue lepasin, tapi ada syaratnya." Tangan kananku yang bebas meraba-raba meja. Aku menemukan botol kaca kecil berisi cairan merah pekat. Extra Hot Tabasco Sauce. Aku membuka tutupnya dengan gigi. Puih. Tutupnya terlempar.
Aku mendekatkan mulut botol itu ke bola mata kiri Jason yang terbelalak ketakutan. Jaraknya kurang dari 2 sentimeter. Bau cabai menyengat menusuk hidungnya.
"Denger gue, Elon Musk KW," bisikku di telinganya. "Mata lu ini aset berharga kan? Lu butuh mata ini buat liat candlestick chart? Buat liat harga Bitcoin naik turun?"
Jason gemetar hebat. "I-iya... Iya butuh..."
"Gimana kalau gue bikin chart di mata lu jadi MERAH PERMANEN?" Aku memiringkan botol itu sedikit. Satu tetes saus sudah menggantung di ujung botol, siap jatuh ke kornea matanya.
"JANGAN! JANGAN BUTAIN GUE! GUE BAYAR! GUE BAYAR APAPUN!"
"Buka HP lu. Pake tangan kiri lu yang masih utuh." Aku melempar HP-nya ke depan wajahnya.
"Buka aplikasi Bank lu. Jangan Crypto, gue gak butuh koin micin lu. Gue butuh Rupiah. Transfer 6 Juta. Sekarang."
"Ta-tapi saldo cash gue tipis... Gue lagi All In di koin micin..."
"Oh, gitu?" Aku menggoyangkan botol saus itu. Tetesan saus itu bergoyang, hampir jatuh. "Mata lu siap nerima dividen pedes?"
"IYA IYA! GUE CAIRIN DANA DARURAT GUE! GUE JUAL RUMAH DI METAVERSE! SEBENTAR!"
Jason mengetik dengan panik menggunakan satu tangan (karena tangan kanannya masih aku kunci). Dia menangis sesenggukan. "Udah! Udah gue transfer! Liat! Liat!" Dia menyodorkan layar HP-nya.
TING! Notifikasi masuk di HP-ku. Dana 6 Juta diterima.
Ku ambil dompet dari saku celananya, kuambil lembaran-lembaran uang dari dompetnya, kubuang dompetnya ke lantai.
"Good boy." Aku melepaskan kuncian tanganku. Lalu aku membanting kepala Jason sekali lagi ke meja. GUBRAK.
JASON ambruk ke lantai tak berdaya.
"Satu lagi, Jason," kataku sambil berdiri dan membersihkan tanganku. "Bunga itu indah karena dia nyata. Bukan kayak NFT lu yang cuma gambar monyet gak guna. Dan rasa sakit barusan? Itu juga nyata. Camkan itu."
Aku meninggalkannya yang terkapar sambil memegangi pergelangan tangannya yang bengkak. "Tangan gue... Gimana gue mau scalping besok..." rintihnya.
Brian, si musisi indie, sedang berusaha merangkak kabur ke arah pintu dapur. "Tolong... Gue seniman... Gue aset bangsa..." rintihnya.
Aku berjalan santai, lalu menginjak ujung celana jeans robek-robeknya. Dia tertahan.
Aku menendang gitar akustiknya yang sudah bolong (karena kena lempar sepatuku tadi) ke hadapannya. "Mau kemana, Mas Vokalis?"
Aku berjongkok di depan wajahnya. "Katanya lu dibayar pake apresiasi? Sayangnya, restoran ini gak nerima pembayaran pake tepuk tangan."
Brian menatapku ngeri. "Gue gak punya duit di bank... Gue beneran indie... Duit gue abis buat beli pomade..."
Aku menghela napas. "Dasar beban."
Aku menggeledah dompet di saku belakangnya, kuambil isinya yang ada beberapa lembar uang ratusan ribu.
"Yee... Miskin banyak gaya lu, duit lu cuma segini jangan ngajak blind date, CARI KERJA!!!" kubanting dompetnya ke wajahnya. Dughh!
Aku melihat jam tangan Rolex (yang entah asli atau palsu) di pergelangan tangannya. Juga kalung rantai emas putih di lehernya.
"Oke. Gue sita aset fisik." Dengan gerakan cepat, aku melucuti jam tangannya. Lalu menarik kalungnya.
"J-jangan jam gue... Itu warisan kakek..."
"Kakek lu pasti malu punya cucu yang minta dibayarin cewek pas kencan buta." Aku menggenggam jam dan kalung itu ditanganku. "Ini jaminan. Besok ku jual, kalau sampai harganya kurang dari 6 juta, gue cari lu!"
Brian mengangguk cepat, ingusnya meler. "Paham... Paham..."
Aku berdiri tegak. Meregangkan leher. Kretek. Tiga cowok itu kini meringkuk di posisinya masing-masing, tidak berani menatap mataku.
Aku merapikan rambutku yang sedikit berantakan. Lalu berjalan menuju meja manajer yang gemetar di pojokan. Aku meletakkan segepok uang tunai (yang aku ambil dari dompet mereka tadi).
"Pak, buat ganti kursi, piring pecah,. Kalau masih kurang..." Aku menunjuk Kevin. "...Jual aja ginjal orang itu. Kayaknya masih sehat."
Aku kembali ke meja kami. Novi dan Arum masih shock. "Dev... lo... lo barusan ngapain?" tanya Novi terbata-bata.
"Gue barusan negosiasi ulang kontrak," jawabku santai sambil merapikan dress. "Ayo balik. Gue laper. Makanan tadi porsinya dikit banget."
"T-tapi mereka..." Arum menunjuk tiga cowok yang masih merintih.
"Biarin aja. Anggap aja itu workshop tentang 'Resiko Merendahkan Wanita Pendek'. Yuk."
Aku menarik tangan kedua sahabatku. Kami berjalan keluar restoran. Kali ini, aku tidak merasa pendek. Rasanya aku setinggi 2 meter. Langkahku mantap. Bunyi heels-ku di lantai marmer terdengar seperti musik kemenangan. Tak... Tak... Tak...
Saat kami melewati pintu keluar, Jason berteriak lemah dari dalam, "Gue laporin polisi lu... Cewek barbar..."
Aku berbalik badan di ambang pintu. Memberikan tatapan Stoic "Laporin aja. Gue punya rekaman suara kalian ngehina kami dan maksa kami bayar. Mau viral? Gue bikin trending topic besok pagi: 'Tiga CEO Mokondo Dihajar Tuyul Cantik'. Mau?"
Jason langsung diam seribu bahasa.
Satu jam kemudian. Kami tidak pulang. Kami mendarat di warung tenda Pecel Lele Mas Budi di pinggir jalan. Jauh dari kemewahan palsu Senopati. Di sini bau asap, bau sambal terasi, dan suara pengamen fals. Tapi bagi kami, ini surga.
Di depan kami tersaji tiga porsi lele goreng garing, nasi uduk hangat, tahu tempe, dan sambal yang pedasnya nampol. Novi makan dengan lahap, melupakan diet dan image-nya. Arum menyeruput es teh manis plastik jumbo sampai bunyi slurp.
"Gila lo Dev," kata Novi sambil mengunyah kepala lele. "Gue gak nyangka lo punya skill bela diri kayak gitu. Lo belajar dimana? Muay Thai? Silat?"
Aku mencocol tempe ke sambal. "Bukan. Itu jurus Corporate Survival. Gerakan tadi gue pelajari dari cara gue nyikut orang pas mau masuk KRL di jam berangkat kerja, ditambah emosi nahan revisi dari Si Botak (Boss di kantor)."
Arum tertawa lepas. Tawa yang benar-benar bahagia, bukan tawa palsu jaim kayak tadi. "Sumpah Dev, pas lo lempar garpu ke laptop si Crypto Bro itu... itu momen terindah dalam hidup gue. Puas banget rasanya!"
"Iya kan? Makanya," kataku sambil mengangkat gelas es teh. "Mulai sekarang, stop cari cowok-cowok spek dewa yang red flag. Kita cari yang pasti-pasti aja. Yang mau diajak makan pecel lele, yang gak ngerendahin perempuan, dan yang paling penting..."
"Yang bayar sendiri-sendiri gak masalah, asal gak morotin!" sambung Novi.
Kami mendentingkan gelas es teh plastik kami. CHEERS!
Malam itu, dompet kami memang sempat boncos (sebelum aku rampas balik uangnya). Kaki kami lecet. Hati kami sempat tergores. Tapi kami pulang dengan kemenangan mutlak. Dan aku, si wanita pendek, membuktikan satu hal: Ukuran tubuh tidak menentukan kekuatan. Yang menentukan kekuatan adalah seberapa lapar, seberapa miskin, dan seberapa muak kamu dengan kelakuan laki-laki toxic.
Aku menatap langit Jakarta. Bintang tidak terlihat. Tapi wajah ketakutan mereka tadi terbayang jelas di awan. Indah sekali.
Pesan Moral: 1. Jangan menilai buku dari sampulnya, dan jangan menilai wanita dari tinggi badannya. Di dalam tubuh yang mungil, tersimpan amarah setara reaktor nuklir. 2. Kencan buta itu investasi resiko tinggi (High Risk). Seringkali High Risk, No Return, Just Boncos. 3. Heels 15cm bukan hanya fashion statement. Itu adalah senjata pertahanan diri yang sah dan mematikan.