Namaku Aryo. Umurku : 27 Tahun. Jabatanku: Office Boy. Tugas utamaku: Memastikan suplai kafein dan hidrasi bagi para budak korporat di lantai 12 tetap terjaga. Aku adalah "Dewa Air" bagi mereka. Tanpa aku, mereka akan mati kering di depan layar Excel.
Namun, di antara ratusan wajah lelah yang kuhadapi setiap hari, ada satu wajah yang membuat jantungku berdetak lebih cepat dari mixer dapur. Namanya Devi.
Mbak Devi itu unik. Tubuhnya mungil, tingginya mungkin hanya sekitar 155 cm (kalau dia jinjit). Tapi jangan salah, di dalam tubuh sekecil itu, tersimpan aura kecantikan yang mematikan. Wajahnya putih alami (pucat karena jarang kena matahari), matanya bulat indah (walau dikelilingi lingkaran hitam panda karena kurang tidur), dan bibirnya mungil (yang sering komat-kamit memaki klien).
Mbak Devi bekerja di Divisi Manajerial. Divisi neraka. Aku setiap hari diminta membawa kertas HVS bertumpuk-tumpuk ke dekat mesin print, beban kerjanya benar-benar edan. Di sana, dia adalah satu-satunya yang belum menikah. Teman-temannya adalah ibu-ibu yang hobi membicarakan popok bayi dan bapak-bapak yang hobi membicarakan cicilan mobil. Mbak Devi adalah "Mutiara yang Terkubur di Tumpukan Berkas Lemburan".
Setiap kali aku mengantar minum ke kubikelnya, aku selalu mencuri pandang. Dia biasanya sedang tenggelam di balik tumpukan kertas yang tingginya melebihi kepalanya sendiri. "Permisi, Mbak Devi... airnya," sapaku pelan, suaraku seringkali tenggelam oleh suara keyboard yang diketiknya dengan brutal.
"Taruh situ aja, Mas Aryo. Makasih," jawabnya tanpa menoleh, matanya terpaku pada layar monitor yang menampilkan ribuan angka.
Hanya itu. Interaksi kami hanya sebatas "Taruh situ" dan "Makasih". Aku ingin sekali mengajaknya ngobrol. "Mbak, hari ini cantik deh walau belum mandi dua hari." "Mbak, mau saya bantuin itung pajaknya pake jari tangan dan kaki?" Tapi lidahku kelu. Aku ini introvert akut. Kalau ada orang menatapku lebih dari 3 detik, aku langsung keringat dingin dan mules.
Aku hanya bisa memandanginya dari jauh, dari balik pintu Pantry. Membayangkan suatu hari nanti, Mbak Devi lelah bekerja, lalu dia menatapku dan sadar bahwa pangeran berkuda putih (atau berkain pel putih) ada di depannya.
Tapi realita tak seindah FTV. Aku butuh bantuan. Bantuan yang melampaui logika manusia.
Sabtu malam, berbekal rekomendasi dari grup Facebook "Komunitas Pecinta Klenik & Jomblo Akut", aku mendatangi sebuah gubuk di pinggiran kota. Konon, di sana tinggal Mbah Slamet, dukun sakti mandraguna yang bisa memutarbalikkan hati wanita semudah membalikkan gorengan.
Tempatnya menyeramkan. Bau dupa bercampur bau jemuran yang belum kering. Mbah Slamet duduk bersila di atas tikar pandan yang sudah bolong-bolong. Dia memakai blangkon miring dan kaos partai yang gambarnya sudah pudar.
"Mau apa le?" suaranya berat, penuh wibawa (atau efek rokok kretek).
"Saya mau... anu Mbah... Pelet," jawabku gemetar.
"Pelet? Buat siapa? Janda? Kembang Desa? Atau Biduan Dangdut?"
"Buat karyawati kantor, Mbah. Namanya Devi. Dia susah dideketin, Mbah. Dia lebih cinta sama Microsoft Excel daripada sama manusia."
Mbah Slamet mengangguk-angguk. Dia memejamkan mata, komat-kamit sebentar, lalu menatapku tajam. "Berat ini le. Auranya tertutup angka-angka. Sukmanya terikat kontrak kerja. Kita butuh ilmu tingkat tinggi. Namanya: AJIAN JARAN GOYANG VERSI 4.0."
"Ampuh Mbah?"
"Dijamin! Syaratnya gampang. Kamu harus mahar 500 ribu buat beli minyak 'Nyong-Nyong' import dari Arab, sama bawa kembang tujuh rupa yang dipetik pas diskon di pasar bunga."
Demi cinta, aku rela miskin (padahal gaji OB pas-pasan). Aku serahkan uang tabunganku. Mbah Slamet memberiku sebuah botol kecil berisi cairan keruh (yang baunya kayak minyak jelantah campur parfum laundry), briket+kemenyan, dan sebuah batu akik sebesar biji salak.
"Dengerin instruksinya le," kata Mbah Slamet serius.
- Ritual Air: Teteskan minyak ini ke minuman target. Cukup satu tetes. Jangan lebih, nanti dia bukan jatuh cinta malah diare.
- Ritual Asap: Bakar kemenyan ini di dekat tempat dia duduk, supaya sukmanya mabuk kepayang.
- Ritual Tatapan (Gendam): Pegang batu akik ini di saku, lalu tatap matanya selama 10 detik sambil baca mantra: "Hong wilaheng, sifat kandel, Devi nempel, Aryo ganteng, sreeet!"
"Ingat le, keyakinan adalah kunci. Kalau gagal, berarti kamu kurang yakin, atau targetnya punya khodam Kalkulator."
Aku pulang dengan semangat membara. Devi, bersiaplah jatuh ke pelukanku.
Senin pagi. Kantor sibuk seperti biasa. Suara telepon berdering, printer menderu, dan bos berteriak. Mbak Devi sudah duduk di kubikelnya sejak jam 7 pagi. Wajahnya kusut, rambutnya dicepol asal-asalan (model messy bun yang beneran messy).
Aku di Pantry, meracik kopi pesanannya. "Coffemix," itu pesanan rutinnya.
Aku menyeduh kopi. Lalu, dengan tangan gemetar, aku mengeluarkan botol minyak dari Mbah Slamet. "Satu tetes... demi masa depan..." Tes. Minyak itu jatuh ke dalam kopi. Aneh, minyaknya tidak menyatu, malah membentuk pulau-pulau kecil yang berkilau aneh di permukaan kopi coklat. Baunya... sedikit apek.
"Ah, ketutup aroma manis Coffemix kok," hiburku.
Aku berjalan membawa nampan menuju meja Mbak Devi. Jantungku berdetak kencang. Dag dig dug. "Permisi Mbak Devi... Kopinya."
Devi tidak menoleh. Matanya terpaku pada layar. Tangannya mengetik dengan kecepatan cahaya. "Taruh situ Mas."
Aku menaruh kopi itu tepat di samping mouse-nya. Aku berdiri di sana, menunggu dia meminumnya. Satu menit berlalu. Dua menit. "Mas Aryo ngapain masih di situ?" tanya Devi tiba-tiba tanpa menoleh.
"Eh... nunggu gelas kotor Mbak. Siapa tau mau langsung abis."
Devi menghela napas. Dia meraih cangkir kopi itu tanpa melihat. Dia menyeruputnya. Slurp.
Aku menahan napas. Berkerjalah wahai Ajian Jaran Goyang!
Tiba-tiba Devi berhenti. Matanya membelalak. Dia meletakkan cangkir itu dengan keras. "MAS ARYO!"
"Y-ya Mbak?"
"Ini kopi apaan sih?! Kok rasanya kayak air cucian piring?!" Devi menjulurkan lidahnya, wajahnya jijik. "Ada rasa minyak... minyak apa ini? Minyak tawon?!"
"I-itu... anu Mbak... Coffemix baru dari oman... Emang notes-nya oily dan earthy..." ngelesku panik.
"Earthy gundulmu! Ini rasanya kayak tanah kuburan! Ganti! Bikin saya mual aja pagi-pagi!"
Gagal. Mbak Devi bukannya jatuh cinta, malah mual. Minyak Mbah Slamet ternyata tidak food grade. Aku lari kembali ke pantry dengan hati hancur. 500 ribu melayang, yang dapat cuma omelan.
Selasa siang. Kegagalan kemarin tidak menyurutkan semangatku. Masih ada Ritual Asap. Mbah Slamet bilang: "Asap ini akan menembus pori-pori dan masuk ke alam bawah sadarnya."
Masalahnya: Kantor ini Full AC dan tertutup rapat. Membakar kemenyan adalah ide paling bodoh yang bisa dilakukan manusia. Tapi namanya orang lagi bucin, logikanya seringkali offline.
Jam istirahat makan siang. Kantor agak sepi. Mbak Devi tidak ke kantin (seperti biasa, dia makan roti di meja sambil kerja). Aku menyelinap ke bawah meja kosong di sebelah kubikel Devi. Aku membawa piring kecil dan arang briket yang sudah kubakar di pantry. Aku menaburkan bubuk kemenyan dari Mbah Slamet.
Wusss... Asap putih mengepul. Baunya menyengat. Bau bunga melati busuk campur kayu bakar. Asap itu mulai merayap naik, melewati partisi kubikel, menuju hidung mancung Mbak Devi.
Aku mengintip dari kolong meja. Devi berhenti mengetik. Dia mengendus-endus. "Bau apa nih?" gumamnya.
Bagus... hirup wanginya... bayangkan wajah Aryo... batinku.
Devi berdiri. "Kok bau gosong? Bau... menyan?" Dia melihat asap mengepul dari kubikel sebelah. Wajahnya panik. "KEBAKARAAAN! ADA YANG KONSLET!" teriak Devi histeris.
Teriakannya memancing satpam dan karyawan lain yang sedang tidur siang. "Mana?! Mana apinya?!" Pak Satpam datang bawa APAR (Alat Pemadam Api Ringan).
Devi menunjuk kubikel tempat aku sembunyi. "Itu asepnya dari situ Pak! Bau banget!"
Pak Satpam langsung menyemprotkan APAR ke balik meja. CROOOOT! Bubuk putih APAR memenuhi ruangan. Dan aku... yang sedang jongkok memegang piring menyan... kini berubah menjadi manusia salju. Seluruh badanku putih tertutup bubuk kimia.
"Lho? Aryo? Kamu ngapain di situ?!" bentak Pak Satpam.
Aku batuk-batuk, mata perih. Di tanganku masih ada piring berisi sisa kemenyan. "S-saya... lagi ngusir nyamuk Pak... Banyak nyamuk..."
Devi menatapku dengan tatapan horor campur jijik. "Mas Aryo... kamu bakar menyan di kantor? Kamu mau nyantet siapa? Ya ampun... pantesan audit keuangan gak balance terus, jangan-jangan ada tuyul yang kamu panggil!"
Aku diseret ke pos satpam. Diberi Surat Peringatan (SP) 1 karena "Melakukan aktivitas perdukunan yang membahayakan sistem proteksi kebakaran". Harga diri: Minus tak terhingga. Devi: Makin ilfeel.
Rabu sore. Aku sudah di ujung tanduk. Aku sudah kena SP, uang habis, dan Devi sekarang menatapku curiga setiap kali aku lewat. Tapi aku masih punya satu senjata pamungkas: Batu Akik dan Tatapan Maut.
Mbah Slamet bilang ini yang paling ampuh. Kontak mata langsung. Penetrasi jiwa. Aku menunggu momen yang tepat. Jam 5 sore. Devi sedang hectic mengejar deadline laporan akhir bulan. Dia berjalan ke arah pantry untuk mengambil air minum (karena dia sudah tidak percaya lagi kalau aku yang ambilin).
Ini kesempatanku. Aku berdiri di depan pintu pantry, menghalangi jalannya. Tanganku meremas batu akik di saku celana sampai tanganku berkeringat. Aku mengumpulkan segenap keberanian.
Devi berhenti di depanku. Wajahnya lelah, rambutnya makin berantakan. Dia mendongak (karena dia pendek) menatapku. "Misi Mas Aryo, mau lewat," katanya ketus.
Aku tidak minggir. Aku menatap matanya. Deep eye contact. Aku melotot. Membuka mata selebar-lebarnya (biar energi gendamnya masuk maksimal). Dalam hati aku merapal mantra: "Hong wilaheng... Sifat kandel... Devi nempel... Aryo ganteng... SREEET!"
Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Devi menatapku balik. Alisnya berkerut.
Ayo... bereaksilah... jatuh cintalah...
Empat detik. Lima detik. Mataku mulai perih karena tidak berkedip. Air mata mulai menggenang di sudut mataku. Tapi aku tahan. Demi cinta.
Enam detik. Tujuh detik. Wajah Devi berubah. Bukan jadi wajah jatuh cinta. Tapi wajah... ketakutan?
Delapan detik. Devi mundur selangkah. "Mas Aryo..." suaranya pelan.
BERHASIL! Dia memanggil namaku dengan lembut!
"Kamu..." lanjut Devi.
"Ya, Devi?" jawabku dengan suara yang kubuat seberat mungkin (sok seksi).
"Kamu... kamu stroke ya?"
JEGER! Bagai disambar petir di siang bolong.
"Hah?" Aku loading.
"Mata kamu... melotot terus, terus berair. Terus mulut kamu komat-kamit gak jelas. Kamu kena Bell's Palsy atau serangan stroke ringan? Perlu aku panggilin ambulans gak?" tanya Devi dengan nada khawatir yang tulus. Tulus kasihan, bukan tulus cinta.
"E-enggak Mbak... Saya lagi... meditasi..."
"Meditasi kok di depan pintu pantry sambil melototin orang! Minggir ah, serem tau! Kayak ikan mas koki mau mati!" Devi mendorong tubuhku ke samping dengan kekuatan tenaga dalamnya. Dia masuk ke pantry, mengambil air, lalu keluar lagi setengah berlari, seolah-olah takut ketularan gila.
Aku berdiri mematung di depan pintu. Batu akik di sakuku rasanya panas, seolah mengejek kebodohanku. Mantra "Aryo Ganteng" ternyata kalah telak dengan diagnosa "Aryo Stroke".
Malam itu, aku duduk di tangga darurat kantor. Merenungi nasib. Duit habis 500 ribu. Dapet SP 1. Dikira dukun santet. Dikira stroke. Dan Devi? Tetap tidak terjangkau.
Tiba-tiba, pintu tangga darurat terbuka. Mbak Devi keluar sambil membawa HP. Dia sepertinya sedang menelepon seseorang dan mencari tempat sepi. Dia tidak melihatku yang duduk di pojokan gelap.
"Iya, Ma... Devi capek banget..." suara Devi terdengar bergetar. Dia menangis. "Kerjaan numpuk... Bos marah-marah terus... Devi capek fisik dan mental Ma..."
Aku tertegun. Selama ini aku melihat Devi sebagai "Dewi" yang sempurna. Cantik, dingin, tak tersentuh. Tapi malam ini, aku melihat Devi yang asli. Manusia biasa yang rapuh, lelah, dan kesepian. Dia duduk di anak tangga, membenamkan wajahnya di lutut. Tubuh mungilnya berguncang karena isak tangis.
Aku memandangi batu akik di tanganku. Benda bodoh ini. Aku sadar, Devi tidak butuh pelet. Tidak butuh jaran goyang. Tidak butuh minyak nyong-nyong. Dia butuh teman. Dia butuh didengar.
Aku membuang batu akik itu ke tempat sampah di pojok. Klung. Aku berdiri, merapikan seragam OB-ku. Aku berjalan menuruni tangga, mendekati Devi.
"Mbak Devi?" panggilku pelan. Bukan dengan nada sok ganteng, tapi nada biasa.
Devi kaget, buru-buru menghapus air matanya. "Eh, Mas Aryo. Ngapain di sini? "
Aku tersenyum. "Mbak... ini." Aku menyodorkan sebungkus cokelat Silverqueen yang tadi sore aku beli di minimarket (niatnya buat cemilan sendiri, 1 potekan 1 hari). "Buat nambah tenaga. Lembur butuh gula."
Devi mengambil cokelat itu. Dia membuka bungkusnya, mematahkan sepotong, dan memakannya. Perlahan, senyum tipis muncul di wajahnya. Senyum yang asli. Bukan senyum sopan santun, Manis benar-benar manis dan juga hangat. "Makasih ya, Mas. Hari ini bener-bener gila."
"Sama-sama Mbak. Kalau butuh air galon atau butuh... apapun... saya standby di pantry."
"Oke. Makasih ya mas."
"Siap Mbak."
Devi kembali ke ruangannya. Langkahnya terlihat sedikit lebih ringan. Aku kembali ke pantry. Aku tidak mendapatkan hatinya hari ini. Aku tidak jadi pacarnya. Tapi, aku berhasil membuatnya tersenyum tanpa bantuan dukun. Dan cokelat 15 ribu ternyata lebih ampuh daripada pelet 500 ribu.
Aku menatap pantulan wajahku di cermin pantry. "Aryo, Aryo... muka pas-pasan kok main dukun. Main tulus aja kenapa sih?"
Dari kejauhan, terdengar suara Devi berteriak: "MAS ARYO! GALON ABIS! BURUAN DONG, HAUS NIH!"
"SIAP!"
Yah, setidaknya sekarang komunikasinya nambah dua kata. Dari "Taruh situ" jadi "Buruan dong". Progress adalah progress
Pesan Moral: Jangan percaya dukun yang minta mahar aneh-aneh. Kalau pelet itu beneran ampuh, dukunnya pasti udah nikah sama artis Hollywood, bukan jualan menyan di pinggir kali. Dan ingat, wanita yang stress butuh Cokelat, bukan Kemenyan.