Namanya Rian. Pertama kali aku melihatnya di kantin gedung sebelah, dunia seakan melambat. Dia berjalan masuk dengan gaya slow motion. Rambutnya gondrong tanggung ala fuckboy Jakarta Selatan, kemeja flanelnya dibuka kancing atasnya memperlihatkan kaos dalam putih (yang agak kuning di leher), dan di tangannya ada kunci motor yang diputar-putar dengan arogansi tingkat dewa.
Dia memesan kopi dengan suara bariton yang berat: "Kopi item, gak pake gula. Hidup gue udah terlalu manis karena banyak yang naksir."
JLEB. Panah asmara menancap di jantungku yang kering kerontang. "Ganteng banget..." desisku.
Di sampingku, Hanif (rekan kerjaku yang mulutnya pedas) tersedak bakso urat. "Uhuk! Siapa? Rian? Dev, lu gila ya? Mata lu katarak?"
"Kenapa sih, Nif? Dia karismatik tau! Liat tuh, tatapannya tajam kayak elang."
Hanif menatapku dengan pandangan merendahkan. "Dev, dengerin gue. Rian itu bukan elang. Dia itu Burung Nazar. Dia pemakan bangkai. Dia itu definisi berjalan dari Red Flag. Mantannya ada 13 di gedung ini doang. Semuanya diporotin. Ada yang sampe gadai BPKB motor buat modalin dia trading kripto bodong."
Novi, teman divisiku, ikut nimbrung. "Iya Dev! Jangan! Rian itu 'Walking Chernobyl'. Radiasi toksiknya bisa bikin lu mandul finansial seumur hidup. Kemaren gue denger dia mutusin ceweknya cuma lewat stiker WA 'Patrick Star'."
Aku mendengar peringatan mereka. Telingaku mendengar. Tapi hatiku menyumbatnya dengan kapas cinta. "Ah, kalian lebay. Mungkin cewek-cewek itu aja yang gak bisa ngertiin jiwa seni Rian. Gue beda. Gue bisa merubah dia. I can fix him."
Hanif menepuk jidatnya. "Fix him gundulmu. Lu bukan bengkel ketok magic, Devi. Lu itu korban selanjutnya."
Tapi, nasihat Hanif bagaikan angin lalu. Aku nekat. Aku mulai melancarkan serangan PDKT. Dan bencana pun dimulai.
Setelah seminggu saling berbalas DM (di mana Rian membalas chat-ku rata-rata 8 jam sekali dengan alasan "sibuk ngurus proyek besar", padahal cuma main slot), akhirnya dia mengajakku kencan.
"Nanti malem jalan yuk. Gue jemput," tulisnya. Aku jingkrak-jingkrak di kosan. "YES! MAMAM TUH HANIF! DIA NGAJAK JALAN!"
Jam 7 malam. Rian datang. Bukan dengan mobil, bukan dengan motor sport. Dia datang dengan Motor Matic Modifikasi. Knalpotnya diganti pipa paralon atau apa entah, suaranya MBERRRRR... MBERRRRR... memekakkan telinga satu kelurahan. Jok motornya dipapas tipis banget sampai tinggal plat besi. Spionnya cuma satu, itu pun hadap ke bawah (buat ngaca muka sendiri).
"Naik, Beb," katanya sambil menyugar rambut.
Aku naik. Joknya keras banget. Pantatku langsung protes. "Kita mau kemana, Yan?" tanyaku dengan suara keras mengalahkan suara knalpot.
"Ke tempat spesial. Gue mau ngenalin lu sama dunia gue."
Aku membayangkan Rooftop Bar atau kafe Jazz. Ternyata, dia membawaku ke Parkiran Minimarket. Ya. Parkiran. Di sana sudah ada teman-temannya yang duduk ngemper sambil minum minuman sachet.
"Ini tongkrongan gue. Lu tunggu sini ya, jagain helm gue. Gue mau mabar bentar sama anak-anak. Jangan kemana-mana, nanti ilang. Lu kan kecil."
Dia meninggalkanku. Sendirian. Di atas motor yang joknya keras. Dia asyik main game sama teman-temannya selama DUA JAM. Aku cuma duduk kayak patung selamat datang. Digigitin nyamuk. Diliatin tukang parkir.
Hanif meneleponku. "Gimana kencannya? Makan steak?" Aku menahan tangis. "Makan angin, Nif. Makan ati." "Pulang goblok!" "Gak bisa... helm gue dikunci di jok motor dia."
Setelah dua jam, Rian kembali. "Sorry ya, keasyikan. Biasa, cowok punya hobi. Lu sebagai cewek harus suportif dong. Jangan cemberut gitu, jelek tau. Kayak emak-emak nagih utang."
Red Flag 1: Mengabaikan pasangan dan Gaslighting. Reaksi Devi: "Oh iya... dia butuh me time. Aku harus pengertian." (DASAR BODOH).
Masuk fase pacaran (atau lebih tepatnya: Fase Perbudakan Sukarela). Kegantengan Rian ternyata berbanding lurus dengan ketidakmodalannya.
Setiap kali kami makan, selalu ada drama saat bayar. Drama 1: Rian: "Aduh, Dev. Dompet gue ketinggalan di jaket satu lagi yang lagi di-laundry. Talangin dulu ya. Besok diganti." (Besoknya tidak pernah datang).
Drama 2: Rian: "Babe, saldo M-Banking gue lagi maintenance. Lu bayar pake QRIS lu dulu gih. Nanti gue transfer pas sinyal bagus." (Sinyal tidak pernah bagus selama 3 bulan).
Drama 3 (Paling Absurd): Kami makan di restoran All You Can Eat. Pas mau bayar, Rian berbisik. "Dev, lu bayar ya. Gue lagi nabung buat masa depan kita. Gue mau beli tanah di Metaverse. Nanti kita bangun rumah virtual di sana."
"Tapi Yan... ini 500 ribu..."
"Yaelah, sama calon imam itung-itungan. Rezeki istri itu ada di ridho suami. Kalau lu ikhlas bayarin gue makan, nanti kulit lu makin glowing. Itu hukum alam."
Aku yang termakan bujuk rayu (dan ketololan sendiri) akhirnya bayar. Hanif sampai geleng-geleng kepala saat aku cerita. "Dev, itu bukan investasi masa depan. Itu investasi bodong. Lu lagi melihara biawak air tawar."
Puncaknya adalah saat ulang tahunku. Aku berharap kado. Minimal bunga. Atau cokelat. Rian datang membawa bungkusan kecil. Aku membukanya dengan antusias. Isinya: Gantungan Kunci Gratisan dari Dealer Motor. Masih ada tulisan "Honda - Hati Hati di Jalan".
"Itu limited edition, Dev," kata Rian bangga. "Gue dapet itu hasil debat sama sales motor. Itu simbol perjuangan gue buat lu. Hargai dong."
Aku tersenyum kecut. "Makasih, Yan. Romantis banget."
Rian bukan cuma pelit. Dia juga penguasa otoriter. Dia mulai mengatur penampilanku.
"Dev, jangan pake lipstik merah deh. Keliatan kayak tante-tante girang. Pake yang nude aja, biar keliatan polos kayak anak SMA. Gue suka cewek yang innocent."
"Dev, lu gemukan ya? Paha lu kayak batang pisang. Diet napa. Malu gue kalau jalan sama lu, nanti dikira gue jalan sama bodyguard."
"Dev, jangan ketawa ngakak gitu. Cewek itu harus anggun. Ketawa lu kayak Kuntilanak kejepit pintu."
Setiap kata-katanya menusuk jantung. Harga diriku hancur perlahan. Aku mulai merasa jelek, tidak berharga, dan beruntung bisa dipacari oleh Rian yang "Sempurna". Ini adalah taktik manipulasi klasik. Dia menghancurkan kepercayaan diriku supaya aku merasa tidak ada orang lain yang mau sama aku selain dia.
Suatu hari, aku memergoki dia chatting mesra dengan cewek lain. Nama kontaknya "Janda Muda Depok". Isi chat-nya: "Sayang, transferin 500 ribu dong buat benerin motor. Nanti aku main ke sana."
Aku marah. Aku melabraknya. "Rian! Siapa Janda Muda Depok ini?!"
Rian malah balik marah dengan nada tinggi (nada gaslighting). "YA AMPUN DEVI! ITU TANTE GUE! Tante gue lagi kesusahan di Depok! Lu tuh negatif thinking mulu! Cemburuan! Posesif! Sakit jiwa lu ya? Gue kecewa sama lu. Gue kira lu beda, ternyata lu sama aja kayak mantan-mantan gue yang psycho!"
Aku yang malah merasa bersalah. "Ma... maaf Yan. Aku gak tau itu Tante kamu..." "Minta maaf yang bener! Sebagai hukuman, isiin pulsa gue 100 ribu sekarang. Biar gue maafin."
Aku mengisikan pulsa itu sambil menangis. Hanif melihatku dari kejauhan dengan tatapan iba. "Dev... lu butuh ruqyah. Atau butuh digampar bolak-balik biar sadar."
Tiga bulan berlalu. Dompetku sudah setipis tisu toilet yang kena air. Mentalku sudah serapuh kerupuk. Malam Minggu. Rian mengajakku makan malam. "Gue mau ngenalin lu ke temen-temen elit gue. Kita makan di Sky Bar. Dress code: Elegan. Jangan malu-maluin gue. Pake baju yang mahal."
Aku dandan maksimal. Pakai dress terbaik, heels 12 cm, dan make-up flawless. Aku berharap malam ini akan romantis.
Sesampainya di Sky Bar (yang harganya bikin ginjal bergetar), teman-teman Rian sudah ada di sana. Tiga cowok dan tiga cewek yang penampilannya super hedon. Rian memperkenalkanku. "Kenalin, ini Devi. Asisten pribadi gue... eh maksudnya cewek gue. Tapi dia emang hobi ngurusin gue sih, kayak babu. Hahaha."
Teman-temannya tertawa. "Hahaha, bisa aja lu Yan. Dapet aja pembantu gratisan."
Aku terdiam. Darahku mulai mendidih. Asisten? Babu?
Kami duduk. Mereka memesan makanan dan minuman mahal. Botol-botol minuman keras berdatangan. Steak Wagyu. Lobster. Rian memesan paling banyak. "Pesen aja, Bro! Hari ini gue yang traktir!" teriak Rian sombong.
Aku berbisik ke Rian. "Yan... kamu punya duit? Ini mahal banget lho." Rian berbisik balik. "Tenang, Dev. Kartu kredit gue limitnya baru naik. Santai."
Aku lega sedikit. Pesta berlangsung. Rian sibuk tebar pesona ke salah satu cewek teman tongkrongannya itu. Dia merangkul cewek itu di depanku. "Gila, Siska, lu makin cantik aja. Coba cewek gue badannya kayak lu. Pasti gue betah di rumah."
Si Siska tertawa genit. "Ah Rian bisa aja. Tuker tambah aja pacar lu." Mereka tertawa di atas penderitaanku. Aku meremas serbet makan sampai nyaris sobek. Kesabaranku sudah di ujung tanduk.
Tibalah saat pembayaran. Bill datang. Totalnya: Rp 5.500.000,-
Rian mengambil bill itu dengan gaya sok kaya. Dia mengeluarkan kartu kreditnya. Memberikannya ke pelayan. Dua menit kemudian, pelayan kembali. "Maaf Mas, kartunya Decline."
Wajah Rian pucat. Teman-temannya mulai kasak-kusuk. "Ah, mesin lu kali yang rusak! Coba lagi!" Dicoba lagi. Decline lagi.
Rian menoleh padaku. Tatapan itu. Tatapan memelas, manipulatif, dan menjijikkan yang sudah kuhafal mati. "Beb... Dev... Kartu gue bermasalah nih kayaknya kena hack. Lu ada dana talangan gak? Malu nih sama anak-anak."
"Lima juta setengah, Rian?" suaraku dingin.
"Iya, elah. Nanti gue ganti. Jangan bikin gue malu di sini. Cepetan keluarin kartu lu." Lalu dia menambahkan kalimat yang menjadi pemicu ledakan nuklir di kepalaku. "Lagian lu kan kerjaannya cuma duduk doang di kantor, gaji lu utuh kan? Itung-itung bayar jasa gue udah mau jadi pacar lu yang pas-pasan itu."
KLIK. Ada suara saklar putus di dalam otakku. Semua memori melintas cepat: Motor knalpot mber, parkiran minimarket, gantungan kunci gratisan, hinaan fisik, Janda Muda Depok, dan sekarang... aku disuruh bayar pesta dia sambil dihina.
Setan dalam diriku bangun. Bukan setan biasa. Ini adalah Iblis Kemurkaan yang telah menyerap energi negatif selama 3 bulan. Rasa benci, marah, kesal, capek, menumpuk jadi satu dalam dada, nafasku cepat teratur. Sudah cukup semua ini.
"Cepetan bayar!" bentaknya.
Dunia di sekelilingku berhenti. Hening. Suara musik EDM di Sky Bar meredup, berganti menjadi suara detak jam yang lambat dan berat. TICK... TOCK... TICK... TOCK...
Aku masuk ke dalam "The Zone". Mataku melakukan scanning.
[ANALISIS TARGET: RIAN]
Ancaman: Pria Mokondo level 99.
Kondisi Fisik: Lemah karena kebanyakan begadang main slot.
Titik Lemah 1: Jambul Pomade (Licin, mudah dijambak).
Titik Lemah 2: Ulu hati (Terbuka lebar karena kancing kemeja dibuka sok seksi).
Senjata Musuh: Mulut Berbisa & Kartu Kredit Decline.
Senjata Saya: High Heels 12cm (Runcing), Tas Tangan (Berat 3kg isi recehan), Emosi Jiwa (Tak Terhingga).
Estimasi Waktu Eksekusi: 18 Detik.
Probabilitas Menang: 1000%.
"Mulai," bisik batinku.
00:01 - Tangan kananku bergerak dengan presisi militer. Aku menyambar gelas Orange Juice dingin di meja. Dengan gerakan memutar pergelangan tangan (wrist flick), aku melontarkan cairan oranye itu. Cairan itu melayang di udara, membentuk lengkungan indah, lalu... SPLAT! Mendarat sempurna di kornea mata Rian. Asam sitrus bertemu mata telanjang. "AAAAHHH! MATA GUE! PERIH!" Rian buta sesaat.
00:03 - Sementara dia sibuk mengucek mata, aku menunduk. Tangan kiriku mencopot sepatu hak tinggi sebelah kanan. Sepatu merah marun. Ujung tumitnya runcing, terbuat dari besi beralas karet keras. Ini bukan sepatu. Ini adalah Paku Bumi. Aku menggenggamnya terbalik (gaya memegang pisau komando). "LU MINTA BAYARAN?! INI KEMBALIANNYA!"
00:06 - Aku tidak memukul wajahnya dulu (terlalu mudah). Aku melakukan tendangan rendah (low kick) ke arah tulang kering Rian. KRAK! (Bunyi tulang kering ketemu tulang kering). Rian membungkuk kesakitan. "ADUH KAKI GUE!", Posisi kepalanya sekarang sejajar dengan pinggangku. Target terkunci. Aku mengayunkan heels di tanganku seperti palu Thor. BONK! Tumit sepatu itu mendarat mulus di jidat Rian. Bunyinya nyaring seperti mengetuk pintu kayu jati. Tok!
00:09 - Rian terhuyung mundur, menabrak pelayan yang membawa nampan kosong. Dia berusaha lari. "Tolong! Cewek gila ngamuk!". "MAU KEMANA LU, PARASIT?!" Aku menyambar tas tanganku. Tas ini isinya: Powerbank 20.000 mAh (batu bata), botol minum stainless steel, dan sekantong koin receh sisa kembalian Indomaret. Total berat: 3,5 Kilogram. Ini bukan tas. Ini adalah Flail Abad Pertengahan. Aku memutar tas itu di atas kepala. WUNG... WUNG... WUNG... Aku melompat naik ke atas sofa, lalu meluncurkan serangan udara. "YAAAAA!!!"
BUAGH!!!
Tas itu menghantam punggung Rian dengan daya ledak setara tabung gas 3kg meledak. Rian terpental secara harfiah. Dia terbang melintasi meja tamu lain, menjatuhkan gelas-gelas wine mahal. PRANG! PRANG! PRANG!
00:13 - Rian merangkak di lantai, berusaha bangkit. Kemejanya sobek. Pomade-nya acak-acakan. Aku berjalan mendekatinya dengan tenang, pincang satu kaki (karena nyeker sebelah), rambutku berkibar kena angin AC sentral. Aura membunuhku begitu pekat sampai Siska (teman Rian) cegukan karena takut. Rian mengambil sebuah Sendok Garpu di lantai, mencoba membela diri. "Jangan mendekat! Gue tusuk lu!" ancamnya gemetar.
Aku tertawa. Tawa penjahat di film Batman. "Sendok? Lu lawan gue pake sendok?"
Aku melihat ke meja samping. Ada Buku Menu yang tebalnya kayak skripsi, terbuat dari kayu tebal. Aku mengambil buku menu itu. Aku menangkis tusukan sendok Rian dengan buku menu. TANG! Sendoknya mental. Lalu dengan gerakan memutar (spinning backfist), aku menampar wajah Rian menggunakan buku menu hardcover itu.
PLAKKK!
Wajah Rian tercetak tulisan "MENU PEMBUKA" secara terbalik. Dia jatuh telentang. Knockdown.
00:16 - Rian terkapar. Napasnya tersengal. "Ampun Dev... Gue ganti duit lu... Gue ganti..."
"Telat," desisku. Aku melihat ke meja di sebelah Rian. Ada sepiring besar Spaghetti Bolognese yang masih panas, lengkap dengan bola dagingnya. Ini adalah Finishing Move.
Aku mengambil piring itu. Aku berdiri tepat di atas kepala Rian. "Lu laper kan? Lu mau makan enak kan? Lu mau gratisan kan?"
"Enggak Dev... Enggak..."
"MAKAN NIH TRAKTIRAN GUE!"
Aku membalikkan piring itu. Gravitasi bekerja. Segunung mie, saus merah kental, dan bola daging jatuh menimpa wajah Rian.
SPLAT!
Saus tomat muncrat kemana-mana seperti darah di film Tarantino. Tapi ini darah tomat. Rian gelagapan, wajahnya tertutup mie. Dia terlihat seperti monster Cthulhu versi kuliner Italia.
00:18 - Aku mundur selangkah. Mengatur napas. Rian mengerang, mencoba menyingkirkan mie dari hidungnya.
Aku melihat sekeliling. Pengunjung bar hening. DJ berhenti memutar lagu. Teman-teman Rian berpelukan satu sama lain di pojokan seperti teletubbies ketakutan.
Aku menoleh ke arah mereka. Mataku menyala merah (efek maskara luntur kena keringat). "ADA YANG MAU BAYARIN DIA?!" bentakku.
Mereka menggeleng serempak. "Eng... Enggak Mbak. Kita gak kenal dia. Kita cuma diajak..."
Aku merapikan rambutku yang berantakan. Mengambil sepatu hak tinggiku yang tadi jadi senjata, lalu memukulkannya sekali lagi ke telapak tanganku untuk membersihkan debu (seperti membersihkan pistol). Lalu aku memakainya kembali.
Aku merogoh dompet. Mengeluarkan selembar uang Rp 20.000. Aku menjatuhkan uang itu ke atas tumpukan spaghetti di wajah Rian. Uang itu mendarat pelan di atas bakso daging.
"Itu buat ongkos lu balik. Dan buat beli sabun cuci muka."
Aku berbalik badan. Berjalan keluar dengan langkah catwalk yang pincang tapi angkuh. Di belakangku, Rian masih bergumam: "Spaghetti-nya masuk idung gue..."
Aku menekan tombol lift. Pintu lift terbuka. Aku masuk, menatap pantulan diriku di cermin lift. Berantakan. Gila. Hancur. Tapi aku tersenyum puas.
Aku sampai di lobi bawah. Adrenalin mulai turun. Rasa sakit di kaki mulai terasa. Aku duduk di trotoar. Penampilanku hancur. Make-up luntur. Rambut acak-acakan. Baju dress sobek sedikit di lengan. Nyeker sebelah. Orang-orang yang lewat menatapku ngeri. Mungkin dikira aku korban begal atau orang gila yang baru lepas.
Malam ini adalah kemenanganku. Kemenangan Devi atas kebodohannya sendiri. Aku melihat dompetku. Kosong. ATM-ku. Minus. Utang paylater. Menumpuk.
Tapi Rian? Hilang. Beban 60 kg daging tak berguna itu sudah enyah dari hidupku. Aku tertawa kecil. Tawa itu berubah menjadi tawa lepas. "HAHAHA! Mampus lu Rian! Mampus!" teriakku pada tiang listrik.
Perutku berbunyi. Kruyuuuuk. Aku lapar. Tadi aku belum sempat makan apa-apa selain makan hati. Aku merogoh saku tas bagian dalam. Keajaiban terjadi. Aku menemukan selembar uang 20 ribu yang kucel, terselip di antara struk belanja. Dua puluh ribu rupiah. Harta karun.
Mataku menangkap cahaya terang di ujung jalan. Bukan restoran mewah. Bukan kafe hits. Itu adalah gerobak Nasi Goreng Tek-Tek.
Aku berjalan menghampiri abang nasi goreng itu. "Bang, nasi goreng satu. Pedes. Pake telor dadar. Kerupuknya banyakin."
"Siap Neng. Dibungkus?" "Makan sini, Bang. Lesehan."
Malam itu, di pinggir jalan Sudirman, aku makan nasi goreng seharga 15 ribu rupiah. Rasanya? Jauh lebih enak daripada Steak Wagyu yang dimakan Rian tadi. Ini rasa kemerdekaan.
Seekor kucing jalanan kurus mendekatiku, mengeong minta jatah. Aku memberikan sepotong telur dadarku. "Makan, Pus. Kita sama-sama pejuang jalanan malam ini."
Kucing itu makan dengan lahap. Aku menatap langit Jakarta yang tidak berbintang karena tertutup asap. "Oke, Devi. Besok kita kerja keras lagi. Bayar utang. Lunasin paylater. Dan yang paling penting..."
Aku menyuapkan sendok terakhir nasi goreng ke mulutku ".... Jika aku melihat cowok dengan motor knalpot mber dan dompet ketinggalan... LARI sekencang-kencangnya. Atau melemparnya dengan batako."
Aku berdiri, menenteng sepatuku, dan berjalan pulang. Sendirian. Bangkrut. Tapi bebas.
Pesan Moral: Jika satu orang bilang dia Red Flag, mungkin dia salah. Jika sepuluh orang bilang dia Red Flag, dan dia sendiri minjem duit di kencan pertama... ITU BUKAN BENDERA MERAH LAGI, ITU SIRINE TANDA BAHAYA NUKLIR. LARI, BESTIE, LARI!