Disukai
0
Dilihat
12
Jangan Hina Istriku!!!
Komedi

Namaku Hanif. Pekerjaan: Karyawan swasta biasa. Hobi: Bernapas (kalau gratis). Di sebelahku duduk istriku tercinta, Feby. Florist berbakat, wanita tangguh, dan menteri keuangan rumah tangga yang kejamnya melebihi debt collector.

Siang ini, kami berada di sebuah tempat yang tidak seharusnya kami datangi. "L'Arrogance Café & Lounge". Lokasinya di kawasan elit Jakarta Selatan. Tempat di mana udara yang kamu hirup rasanya ada pajaknya. Interiornya didominasi marmer Italia, lampu kristal Austria, dan pelayan yang memandang kami dengan tatapan "Kalian pasti nyasar".

Kami di sini bukan untuk gaya-gayaan. Kami di sini demi CUAN. Feby mendapat panggilan dari calon klien besar. Katanya mau pesan bunga untuk pesta pernikahan emas. "Yang, ini kesempatan emas!" kata Feby tadi pagi. "Kalau deal, kita bisa lunasin paylater, servis mobil kamu yang bunyinya kayak mesin jahit, dan nabung buat masa depan!"

Sekarang, kami duduk di meja pojok, memegang buku menu yang beratnya seperti dosa masa lalu.

"Mas..." bisik Feby, wajahnya pucat. "Kamu liat harga Ice Tea?"

Aku melirik. Classic Ice Tea: Rp 85.000,- ++

"Gila," desisku. "Itu es teh doang, Yang? Es batunya dari serpihan gletser Himalaya apa gimana? Tehnya dipetik sama peri hutan?"

"Liat ini, Mas. Nasi Goreng Kampoeng: Rp 175.000,-," Feby menunjuk dengan jari gemetar. "Nasi goreng kampung mana yang harganya segini? Kampung halaman Raja Salman?"

Kami terjebak dalam dilema orang miskin di tempat elit. Kami harus memesan sesuatu supaya tidak diusir, tapi dompet kami menjerit histeris. Pelayan datang. Jasnya lebih rapi dari baju pengatinku dulu. "Sudah siap memesan, Pak? Kami punya menu spesial hari ini, Wagyu A5 with Truffle Oil, hanya 2,5 juta per porsi."

Aku menelan ludah. 2,5 juta. Itu gaji pokok OB di kantor lama. "Ehm... Mas," kataku dengan suara berwibawa yang dibuat-buat. "Kami lagi nunggu klien penting. Jadi... kami mau yang ringan-ringan dulu buat pembuka."

"Baik, Pak. Mau Escargot atau Caviar?"

"Bukan, bukan. Maksud saya yang bener-bener ringan. Paling ringan. Seringan kapas." Aku menatap Feby. "Kami pesan... Mineral Water dua botol. Yang Regular, bukan yang Sparkling, bukan yang Equil. Yang botol plastik biasa kalau ada. Kalau gak ada, air keran direbus juga gapapa."

Pelayan itu mengangkat alis sebelah (tanda penghinaan universal). "Baik. Dua Mineral Water Local Brand. Ada lagi?"

"Sudah. Itu dulu. Kami sedang diet karbo, diet gula, dan diet dompet," jawabku mantap.

Pelayan pergi. Feby menghela napas panjang. "Malu-maluin kamu, Mas." "Biarin Yang. Daripada kita pulang jalan kaki karena ban mobil digadaikan buat bayar es teh."

Sepuluh menit kemudian, dua botol air mineral ukuran 330ml datang. Harganya 45 ribu per botol. Aku meminumnya setetes demi setetes, meresapi rasa kemiskinan.

Tiba-tiba, pintu kaca kafe terbuka. Angin surga berhembus. Masuklah sepasang manusia yang auranya silau. Sang Pria: Gemuk, pendek, botak licin, memakai jas motif macan tutul yang mengkilap, kalung emas sebesar rantai kapal, dan jam tangan yang gedenya kayak piring makan. Namanya Pak Brutu (Kira-kira apa yang mengilhami ortunya dulu saat memberi nama ya?). Sang Wanita: Tinggi (karena heels 15cm), rambut disasak tinggi ala ibu pejabat tahun 90-an, make-up tebal seperti topeng, tas Hermes (entah asli atau Mangga Dua), dan perhiasan di setiap jari. Namanya Bu Aya Maharani.

Kalau nama mereka digabung, jadinya Brutu Ayam. Dan penampilan mereka memang seabsurd itu. Seperti OKB (Orang Kaya Baru) yang baru saja menang lotre dan membeli semua barang yang ada di etalase toko emas.

Mereka melihat kami melambaikan tangan. "Oh, ini tukang bunganya?" sapa Bu Aya dengan nada melengking yang bikin gelas kaca bergetar. Dia tidak bilang "Florist", tapi "Tukang Bunga".

"Selamat siang, Ibu Aya, Pak Brutu. Saya Feby, ini suami saya Hanif," sapa Feby ramah sambil berdiri dan menjabat tangan.

Pak Brutu menjabat tangan Feby agak lama, matanya jelalatan. "Wah, tukang bunganya cantik juga ya. Kayak bunga mawar." Aku langsung berdehem keras. "EHEM! Silakan duduk Pak."

Mereka duduk. Bau parfum mereka langsung menyebar. Campuran antara aroma melati, kemenyan, dan uang kertas baru. Menusuk hidung.

"Jadi gini," Pak Brutu membuka percakapan sambil meletakkan kunci mobil Alphard di meja (pamer). "Kita mau ngadain Anniversary ke-10 minggu depan. Kita mau dekorasi Full Fresh Flowers. Mawar merah import. Harus dari Belanda. Gak mau yang lokal, kelopaknya kecil-kecil kayak nasib orang susah."

Feby tersenyum profesional (walau matanya berkedut mendengar hinaan itu). "Bisa Pak, Bu. Kami punya channel importir langsung. Untuk venue seluas itu, butuh sekitar 5.000 tangkai."

"5.000? Dikit amat! Bikin 10.000!" potong Bu Aya sambil mengibas-ngibaskan kipas bulu angsa. "Pokoknya saya mau tamu-tamu saya tenggelam dalam lautan bunga. Bajet gak masalah. Suami saya duitnya gak berseri. Ya kan Papi?"

"Beres Mami. Berapa harganya? Sebut aja."

Feby menghitung cepat di kalkulator HP-nya. Jari-jarinya menari indah. "Untuk 10.000 mawar Holland, ditambah Baby Breath, Lily, dan jasa rangkai... Totalnya sekitar 100 Juta Rupiah, Pak."

Jantungku berhenti berdetak. 100 Juta. Komisinya Feby bisa buat beli motor baru. Bisa buat lunasin semua utang.

Pak Brutu tertawa remeh. "Cuma 100 juta? Murah! Kirain miliaran. Oke, deal. Saya bayar DP 50% sekarang. Cash. Saya males transfer-transfer, ribet kena limit."

Pak Brutu mengeluarkan tas koper kecil yang dibawanya. Dia membukanya di meja. Tumpukan uang merah. Lima puluh juta rupiah tunai.

Mata Feby berbinar. Mataku hampir keluar. Kami belum pernah melihat uang sebanyak itu secara tunai di depan mata. "Terima kasih Pak, Bu. Kami akan siapkan yang terbaik," kata Feby dengan suara bergetar bahagia.

 

Transaksi selesai. Uang sudah di tangan Feby. Seharusnya kami pamit. Tapi, pasangan Brutu Ayam ini sepertinya butuh audiens untuk memamerkan kesuksesan mereka.

"Kalian ini suami istri ya?" tanya Bu Aya sambil menyeruput Latte mahalnya.

"Iya Bu, sudah jalan 2 tahun," jawab Feby sopan.

"Udah punya anak berapa? Pasti udah dua dong? Kita aja udah tiga, lucu-lucu, sekolah di Internasional semua," pamer Bu Aya.

Senyum Feby memudar sedikit. Ini topik sensitif. Kami sudah berusaha, tapi memang belum dikasih rezeki. "Belum Bu. Masih berdua. Doakan saja ya Bu."

Bu Aya meletakkan cangkirnya dengan keras. Tatapannya berubah menjadi tatapan ibu-ibu julid tingkat dewa. "Lho? Dua tahun belum punya? Kok bisa? Wah, bahaya itu."

Pak Brutu ikut menimpali sambil tertawa menjijikkan. "Waduh, suaminya kurang jos kali nih? Atau olinya abis? Hahaha!"

Aku sih biasa saja tapi Feby...

"Bukan gitu Pak," jawab Feby pelan. "Mungkin memang belum waktunya..."

"Halah, alesan!" potong Bu Aya ketus. "Cek dokter dong! Jangan-jangan kamu yang bermasalah. Perempuan itu kalau gak bisa ngasih keturunan, fungsinya apa? Cuma jadi pajangan? Kasian tuh suamimu. Laki-laki itu butuh pewaris. Kalau kamu gak bisa ngasih, jangan salahin kalau dia cari 'lahan' lain yang lebih subur."

DEG. Kata-kata itu menusuk langsung ke ulu hati Feby. Wajah Feby pucat pasi. Matanya mulai berkaca-kaca. Feby adalah wanita kuat. Dia bisa mengangkat ember air, dia bisa menghadapi preman pasar bunga, dia bisa mengatur keuangan yang minus. Tapi soal anak... itu titik terlemahnya. Dia sering menangis diam-diam di kamar mandi kalau datang bulan.

"Bu Aya..." suaraku mulai naik satu oktaf. "Tolong bicaranya..."

"Lho, saya kan ngasih nasehat!" potong Bu Aya makin nyolot. "Saya ini konsumen! Saya ngasih kalian rezeki! Kalian harusnya dengerin nasehat orang sukses! Kamu itu, Mbak Feby, liat deh badan kamu. Kurus kering gitu. Rahimnya pasti kering juga. Makanya makan yang bergizi, jangan cuma ngarepin duit suami yang... yah, keliatannya pas-pasan ini."

Pak Brutu tertawa lagi. "Iya, Mami bener. Kalau mau, nanti saya kenalin ke dokter spesialis langganan istri simpenan... eh, maksudnya kenalan saya. Mahal sih, tapi kalian kan abis dapet duit dari saya. Pake tuh duit buat benerin 'mesin' kamu yang rusak."

Air mata Feby jatuh. Satu tetes. Dua tetes. Dia menunduk, meremas roknya. Harga dirinya sebagai wanita, sebagai istri, diinjak-injak di depan umum oleh dua manusia plastik ini.

Aku melihat istriku. Aku melihat bahunya yang berguncang menahan tangis. Aku melihat uang 50 juta di atas meja.

Tiba-tiba, suara di kepalaku hening. Suara ketakutan akan kemiskinan hilang. Suara minder hilang. Yang tersisa hanya satu: Amarah

Mereka boleh menghina mobilku. Mereka boleh menghinaku. Mereka boleh menghina apapun yang ada padaku. Tapi menghina istriku apalagi sampai menangis? Menyebut istriku "Barang Rusak"?

Hanif Mode Bego: OFF. Hanif Mode Sherlock Holmes: ACTIVATED.

 

Aku menarik napas panjang. Meneguk sisa air mineral 45 ribu rupiah itu sampai habis. Duniaku melambat. Mataku menyipit. Fokusku menajam seribu kali lipat. Aku bukan lagi Hanif si suami takut istri. Aku menatap Pak Brutu. Lalu Bu Aya. Mataku melakukan scanning visual dengan kecepatan tinggi. Detail-detail kecil yang tadi luput, kini muncul dengan jelas disertai teks imajiner di kepalaku.

[TARGET 1: PAK BRUTU]

Objek: Jam Tangan Emas Besar.

Analisis: Detik jarumnya berbunyi tik-tik-tik kasar. Rolex asli gerakannya sweeping (halus). Logo mahkota sedikit miring.

Deduksi: PALSU. KW Super Mangga Dua.

Objek: Jas Macan Tutul.

Analisis: Ada noda minyak samar di lapel kiri. Bau nyong-nyong yang kuat menutupi bau lain. Bau samar di balik parfum... bau disinfektan hotel murah.

Deduksi: Baru dari hotel melati, bukan rapat bisnis.

Objek: Leher & Kerah Kemeja.

Analisis: Ada bekas garukan merah panjang di leher belakang, tertutup kerah tapi terlihat saat dia menunduk. Bukan garukan kucing. Kuku manusia.

Deduksi: Perselingkuhan yang agresif.

Objek: Dompet & Kunci Mobil.

Analisis: Gantungan kunci mobil Alphard itu... ada stiker rental "Berkah Jaya Rent Car" yang setengah terkelupas di bagian belakang remote.

Deduksi: MOBIL SEWAAN.

[TARGET 2: BU AYA MAHARANI]

Objek: Cincin Berlian Besar.

Analisis: Tidak memantulkan cahaya pelangi di bawah lampu kristal. Hanya putih pucat. Zirkonia kubik.

Deduksi: BERLIAN PALSU.

Objek: Wajah & Make-up.

Analisis: Bedak di pipi kiri lebih tebal dari kanan. Ada sedikit lebam warna ungu samar di tulang pipi yang coba ditutupi concealer mahal.

Deduksi: KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga).

Objek: Tas Hermes.

Analisis: Dia meletakkan tas Hermes di lantai kafe yang kotor tanpa alas. Orang kaya asli tidak akan menaruh Hermes Birkin 300 juta di lantai marmer bekas injekan sepatu.

Deduksi: TAS PALSU. Atau dia tidak tahu nilainya.

Objek: Gestur Tubuh.

Analisis: Saat Pak Brutu tertawa dan menyentuh tangannya, Bu Aya refleks menarik tangan dengan jijik mikro-ekspresi (kurang dari 1 detik).

Deduksi: PERNIKAHAN TANPA CINTA. Murni transaksional atau sandiwara.

[KESIMPULAN FINAL] Mereka bukan orang kaya raya bahagia. Mereka adalah penipu, peselingkuh, penuh utang, dan hidup dalam kepalsuan yang menyedihkan. Uang 50 juta di meja ini? Kemungkinan besar uang pinjaman atau uang panas terakhir mereka untuk menjaga gengsi.

Aku tersenyum. Senyum tipis yang dingin. Senyum seorang predator yang menemukan mangsanya pincang. 

"Mas Hanif? Kenapa senyum-senyum?" tanya Pak Brutu risih. "Stress ya mikirin duit?"

Aku memajukan tubuhku. Menatap mata Pak Brutu dalam-dalam. "Pak Brutu... Bu Aya..." suaraku tenang, rendah, tapi penuh otoritas. "Terima kasih atas nasehatnya soal rumah tangga kami. Tapi, sebelum kami menerima uang ini, ada baiknya kita bicara jujur. Sesama... pemain sandiwara."

Bu Aya melotot. "Maksud kamu apa? Lancang ya!"

"Tenang, Bu Aya," potongku sambil mengangkat tangan. "Saya cuma kagum. Kagum dengan dedikasi Bapak dan Ibu menjaga image."

Aku menunjuk jam tangan Pak Brutu. "Rolex Submariner Gold. Indah sekali. Sayang sekali, jarum detiknya berbunyi tik-tik. Rolex asli menggunakan mekanisme Perpetual Movement, jarumnya bergerak halus tanpa suara. Itu jam KW Super, Pak. Beli di Senen atau Mangga Dua? Harganya sekitar 2,5 juta?"

Wajah Pak Brutu memerah. "Hah? Sombong kamu! Ini asli!"

"Dan mobil Alphard di depan..." lanjutku tanpa ampun. "Stiker rental 'Berkah Jaya'-nya lupa dicopot Pak di remote kuncinya. Sewa harian atau bulanan? Kalau harian, hati-hati Pak, dendanya mahal kalau telat balikin."

Pak Brutu refleks menutupi kunci mobilnya dengan tangan. Keringat dingin mulai mengalir di dahinya yang botak.

Aku beralih ke Bu Aya. "Dan Ibu Aya... Wanita yang malang." Bu Aya tersentak. "Apa kamu bilang?!"

"Tas Hermes Birkin di lantai? Serius Bu? Kulit buaya asli ditaruh di lantai kotor? Orang kaya lama akan menjerit melihat itu. Tapi yang lebih menyedihkan bukan tas palsu itu, Bu."

Aku menatap pipi kirinya. "Concealer Ibu merek Chanel, bagus. Tapi belum cukup menutupi lebam di tulang pipi itu. Baru dua hari ya Bu lukanya? Siapa yang pukul? Pak Brutu yang 'penyayang' ini?"

Mata Bu Aya terbelalak lebar. Tangannya gemetar menyentuh pipinya. Dia menatap suaminya dengan ketakutan.

"Kalian bicara soal kebahagiaan. Soal anak. Soal suami yang cari 'lahan lain'." Aku menatap Pak Brutu lagi, kali ini dengan tatapan membunuh. "Pak Brutu, bekas garukan di leher Bapak itu... itu bukan dari Bu Aya. Kuku Bu Aya pakai Nail Art panjang dan tumpul. Bekas di leher Bapak itu kuku pendek dan tajam. Dan bau disinfektan murah di jas Bapak... Hotel Melati mana Pak? Tadi siang? Sebelum ke sini?"

Suasana hening mencekam. Pelayan kafe yang lewat sampai berhenti berjalan. Feby menatapku dengan mulut terbuka, lupa kalau dia sedang menangis.

Pak Brutu gelagapan. "K-kamu... kamu ngarang! Mami! Jangan percaya! Dia gila!"

Bu Aya menatap suaminya. Matanya berkaca-kaca, tapi kali ini karena marah. "Papi... Papi ke hotel lagi? Sama si Rini itu?!"

"Enggak Mi! Sumpah!"

"Dan uang 50 juta ini..." Aku mengambil gepokan uang itu. Menimbangnya di tangan. "Ini uang panas kan? Uang hasil... entahlah, nipu investor? Atau pinjaman online? Karena orang yang sewa mobil dan pakai jam palsu, biasanya tidak punya cash flow sesehat ini. Kalian memesan bunga 100 juta cuma buat show off ke teman-teman sosialita kalian, menutupi fakta bahwa rumah tangga kalian hancur lebur dan keuangan kalian berdarah-darah."

Aku meletakkan uang itu kembali ke meja. "Istri saya mungkin belum hamil. Kami mungkin miskin. Kami mungkin minum air putih di kafe mahal." Aku meraih tangan Feby, menggenggamnya erat. "Tapi istri saya tidur nyenyak setiap malam tanpa takut ditagih debt collector. Istri saya tidak perlu pakai bedak tebal buat nutupin lebam. Dan saya... saya tidak perlu sewa mobil buat kelihatan berharga."

"JADI..." Aku berdiri. Menatap mereka berdua dari atas. "Siapa yang sebenarnya 'Barang Rusak' di sini?"

 

Wajah Bu Aya merah padam. Malu, marah, sedih, campur aduk. Dia tidak sanggup marah ke suaminya sekarang, jadi dia melampiaskannya padaku. "KURANG AJAR! MULUT KAMU SAMPAH!"

Bu Aya menyambar gelas Ice Latte di depannya. BYUUUUR! Cairan kopi susu dingin itu menyiram wajah dan kemeja kerjaku. Lengket. Dingin. Manis.

Aku tidak bergeming. Aku tidak mengelap wajahku. Aku hanya tersenyum tipis. "Terima kasih Bu. Kopi mahal. Sayang dibuang."

Pak Brutu berdiri, mau memukul. "Berani-beraninya kamu!"

Aku menatapnya tajam. "Pukul Pak. Ada CCTV di sana. Satu pukulan Bapak, saya visum, saya lapor polisi. Dengan catatan kriminal Bapak yang mungkin sudah ada, ditambah utang... Bapak mau masuk penjara sekarang?"

Tangan Pak Brutu berhenti di udara. Dia gemetar. Dia tidak berani. Dia pecundang.

Aku mengambil gepokan uang 50 juta itu. Feby menatapku, matanya memohon. "Mas... itu 50 juta... kita butuh..." Aku tahu Feby butuh. Aku juga butuh. Tapi uang ini... uang ini kotor. Uang ini ada harga diri istriku di dalamnya.

Aku melempar gepokan uang itu ke dada Pak Brutu. BUKK! Uang berhamburan jatuh ke lantai, bercampur dengan tumpahan kopi.

"Ambil uangmu. Pakai buat bayar sewa Alphard. Atau pakai buat visum istri Bapak." Aku membantu Feby berdiri. Feby masih shock. Aku merangkul bahu istriku.

"Ayo Yang, kita pulang. Di sini bau bangkai. Bangkai rumah tangga orang."

Kami berjalan keluar. Langkahku basah dan lengket karena kopi. Tapi kepalaku tegak. Di belakang kami, terdengar suara Bu Aya menjerit histeris memukuli suaminya. "DASAR LAKI-LAKI BAJINGAN! KAMU SELINGKUH LAGI?! BALIKIN DUIT WARISAN BAPAK SAYA!" Dan Pak Brutu sibuk memunguti uang di lantai yang basah kopi, persis seperti ayam mematuk jagung.

Sungguh, nama Brutu Ayam sangat cocok untuk mereka.

 

Kami masuk ke dalam mobil kami LCGC bekas. Suasana hening. Hanya suara mesin mobil yang brum-brum batuk.

Aku menyalakan mesin. Mengelap wajahku yang lengket dengan tisu. "Maaf ya, Yang. 50 jutanya melayang. Padahal kamu juga banyak kebutuhan."

Feby diam saja. Dia menatapku lurus-lurus. Tatapan yang aneh. Bukan marah. Bukan sedih. Tapi... kagum?

"Mas..." suara Feby pelan.

"Ya?"

"Kamu... kamu tadi kerasukan arwah siapa?"

"Hah?"

"Kamu tadi... keren banget," mata Feby berbinar. "Gimana caranya kamu tau semua itu? Jam palsu? Mobil rental? Bekas garukan? Kamu belajar jadi dukun di mana?"

Aku tertawa kecil, mulai menjalankan mobil keluar parkiran. "Aku bukan dukun, Yang. Aku cuma... pengamat. Lagian, orang kaya beneran gak akan merendahkan orang lain sejahat itu. Orang yang insecure yang biasanya gonggong paling keras."

Feby tersenyum. Senyum paling manis yang pernah kulihat hari ini. Dia menggeser duduknya mendekat padaku. Menyandarkan kepalanya di bahuku yang basah kena kopi.

"Biarin deh ilang 50 juta," kata Feby. "Aku lebih bangga punya suami yang bisa bikin orang kaya kicep cuma pake mulut, daripada punya duit 50 juta tapi harga diri diinjak."

"Beneran gak nyesel?"

"Nyesel dikit sih. Tapi tadi pas kamu lempar duitnya... itu adegan ter-seksi yang pernah aku liat seumur hidup."

Aku tersenyum bangga. Hidungku kembang kempis. "Ya dong."

"Tapi Mas..."

"Apa?"

"Kemeja kamu bau kopi basi. Lengket."

"Iya Yang. Nanti dicuci. Eh, kita makan apa nih? Duit di dompet tinggal 100 ribu."

"Pecel lele aja yuk? Yang penting makannya sama kamu."

"Siap Bos."

Mobil kami melaju membelah kemacetan Jakarta. Kami tidak punya uang 50 juta. Kami tidak punya mobil Alphard. Tapi di dalam mobil kecil ini, ada cinta yang asli, tawa yang renyah, dan kesetiaan yang tak ternilai harganya. Dan yang paling penting: Jam tanganku Casio asli, bukan Rolex palsu.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Komedi
Rekomendasi