Namaku Heru. Usia 28 tahun. Status pekerjaan: Freelance (baca: pengangguran yang punya laptop). Status hubungan: Jomblo Fosil (sudah terkubur lama dan membatu).
Semua bermula ketika kakak perempuanku, Mbak Rina, mendapat promosi jabatan yang memaksanya berangkat kerja lebih pagi. Suaminya, Mas Tono, kerja di luar kota. Akibatnya, tugas suci mengantar dan menjemput anak mereka satu-satunya, Kevin (Kelas 2 SD), jatuh ke tanganku.
Awalnya aku menolak. Bayangkan, aku harus bangun jam 6 pagi! Itu adalah jam di mana aku biasanya baru memejamkan mata setelah maraton nonton anime. Tapi, ancaman Mbak Rina sangat mematikan: "Antar Kevin, atau Wi-Fi rumah Mbak ganti password." Sebagai parasit yang menumpang hidup demi internet gratis, aku tidak punya pilihan.
Hari pertama, aku mengantar Kevin ke SD Nusantara dengan wajah kusut, mata bengkak, dan nyawa belum terkumpul. Aku menyeret Kevin sampai ke gerbang. "Sana masuk, belajar yang bener. Jangan makan krayon lagi," pesanku malas.
Saat itulah, waktu seakan berhenti. Gravitasi bumi mendadak hilang. Dari balik gerbang sekolah, muncul sesosok makhluk Tuhan yang paling indah. Seorang guru muda. Wajahnya bersinar, kulitnya putih bersih seolah tidak pernah tersentuh debu polusi Jakarta. Dia memakai seragam batik Korpri yang entah kenapa di badannya terlihat seperti gaun rancangan Ivan Gunawan. Senyumnya manis sekali, memaksa insulin bekerja keras untuk menurunkan kadar gula darah.
"Selamat pagi, Kevin," sapa guru itu dengan suara lembut. Suaranya seperti lonceng surga.
"Pagi, Bu Guru!" jawab Kevin.
Aku mematung. Mulutku terbuka sedikit. Jantungku yang biasanya berdetak dengan irama lofi hip hop, tiba-tiba berubah jadi death metal. Guru itu menatapku sekilas dan mengangguk sopan sambil tersenyum. "Pagi, Mas."
DUAR! Otakku meledak. "Pa... Pagi... Bu..." jawabku gagap, air liur hampir menetes.
Sejak detik itu, hidupku berubah. Tugas mengantar Kevin bukan lagi beban. Itu adalah ibadah. Itu adalah misi suci. Aku tahu, Tuhan menciptakan SD Nusantara bukan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, tapi untuk mempertemukan aku dengan Bu Guru Bidadari itu.
Keesokan harinya, aku melakukan make over. Biasanya aku antar Kevin pakai celana kolor bola dan kaos partai. Hari ini, aku mandi kembang tujuh rupa (bohong, cuma pakai sabun cair agak banyak). Aku pakai kemeja flanel, celana chino, dan pomade. Wangiku semerbak sampai Kevin bersin-bersin di motor.
"Om Heru mau kondangan?" tanya Kevin polos. "Diem kamu, Vin. Om mau menjemput masa depan."
Sesampainya di sekolah, aku tidak langsung pulang setelah Kevin masuk. Tidak. Aku memarkirkan motor di deretan motor emak-emak penjemput. Aku memutuskan untuk Nongkrong.
Targetku: Melihat Bu Guru Bidadari itu lagi. Masalahnya, aku tidak tahu siapa namanya. Aku juga tidak tahu dia mengajar kelas berapa. Yang aku tahu, dia ada di dalam sana.
Maka, jadilah aku "Penunggu Sekolah". Bayangkan, seorang pria dewasa, duduk di warung es teh di depan SD, dikelilingi ibu-ibu berdaster yang sedang ngerumpi soal harga cabai dan perselingkuhan artis. Aku bertahan di sana berjam-jam. Panas matahari membakar kulitku, mengubah warna kulitku dari sawo matang menjadi sawo busuk. Tapi aku tidak peduli.
Setiap ada guru wanita lewat, leherku memanjang kayak jerapah. "Bukan... itu Bu Kepsek." "Bukan... itu guru olahraga yang kumisnya lebih tebal dari aku."
Tiba-tiba, di jam istirahat, dia keluar! Dia berjalan menuju kantin. Angin menerpa rambutnya. Astaga, indah sekali. Aku bertanya pada Ibu Warung Es Teh. "Bu, itu guru yang cantik itu siapa namanya?"
Ibu Warung menatapku curiga. "Oalah, itu Bu Nisa. Guru baru. Masih single lho, Mas."
SINGLE! Informasi itu bagaikan wahyu ilahi. Bu Nisa. Namanya saja sudah terdengar syariah dan menyejukkan hati. Oke, target terkunci. Misi selanjutnya: Mendapatkan Nomor WhatsApp.
Sebagai lelaki gentleman (yang mentalnya ciut kalau tatap muka), aku memutuskan menggunakan strategi klasik: Surat Cinta. Tapi aku tidak bisa memberikannya langsung. Aku butuh kurir. Siapa lagi kalau bukan keponakanku tercinta, Kevin.
Malamnya, aku menulis surat di kertas binder warna pink (sisa jaman SMA). Aku menulis puisi yang menurutku romantis, tapi kalau dibaca ulang bikin muntah paku.
Isinya kurang lebih begini: "Wahai Bu Guru yang Indah. Wajahmu mengalihkan duniaku lebih dari notifikasi Shopee COD. Senyummu membuatku lupa kalau aku belum bayar cicilan motor. Bolehkah aku mengenalmu lebih jauh? Dari: Paman Kevin (Yang Ganteng di Depan Gerbang)."
Pagi harinya, aku menyuap Kevin dengan dua batang chocholatos dan janji top up game Free Fire. "Vin, dengerin Om. Surat ini, kamu kasih ke Bu Guru yang cantik kemaren ya. Yang senyumnya manis. Jangan sampe salah! Ini soal hidup dan mati Om!"
"Siap, Om!" Kevin hormat. Dia mengambil surat itu dan memasukkannya ke tas.
Aku menunggu di depan gerbang dengan hati berdebar. Jam pulang sekolah tiba. Kevin keluar dengan wajah ceria.
"Gimana, Vin? Udah dikasih?" tanyaku antusias. "Udah Om! Kevin taruh di meja Bu Guru!"
"Mantap! Terus gimana reaksinya?" "Bu Gurunya kaget, terus senyum-senyum."
YES! Umpan dimakan! Aku merasa jadi Casanova.
Tiba-tiba, seorang guru wanita berjalan keluar gerbang. Dia menengok ke kanan-kiri seperti mencari seseorang. Tapi... itu bukan Bu Nisa. Itu adalah Bu Darmi. Guru Matematika senior yang usianya mungkin sekitar 55 tahun. Rambutnya disasak tinggi, kacamatanya tebal, dan dia memegang penggaris kayu panjang.
Dia melihatku. Dia tersenyum genit. Dia berjalan menghampiriku.
"Mas... Mas Pamannya Kevin ya?" sapa Bu Darmi dengan suara diberat-beratkan.
"Ehh... iya Bu. Kenapa ya?" Aku mulai berkeringat dingin. Firasatku buruk.
Bu Darmi mengeluarkan kertas binder pink dari sakunya. Suratku. "Mas ini romantis banget deh. Saya jadi malu... Ahihihi." Bu Darmi menutup mulutnya dengan tangan, gaya malu-malu kucing (tapi kucingnya kucing garong).
Duniaku runtuh. Kevin... bocah laknat. Dia salah target. "Lho? Bu? Itu..."
"Puisinya bagus lho Mas. 'Wajahmu mengalihkan duniaku'. Mas bisa aja. Tapi maaf ya Mas..." Bu Darmi memegang lenganku (kencang banget cengkramannya). "Saya sudah punya suami. Cucu saya juga udah dua. Mas terlambat 30 tahun."
Ibu-ibu di warung es teh tertawa terbahak-bahak melihat adegan itu. "Ciee Mas Heru naksir Bu Darmi!" teriak salah satu ibu-ibu.
Aku ingin menghilang. Aku ingin ditelan aspal panas ini. "Maaf Bu! Salah sambung! Itu buat latihan nulis Kevin!" Aku menarik Kevin, menyalakan motor, dan kabur dengan kecepatan cahaya. "KEVIIIIIN! KENAPA DIKASIH KE IBU IBU ITU?!" teriakku di jalan. "Lha kata Om guru cantik? Bu Darmi kan cantik, kemarin Kevin dikasih nilai 100!"
Logika anak SD memang beda. Nilai bagus = Cantik. Misi pertama: GAGAL TOTAL. Kehormatan hancur lebur.
Kegagalan surat cinta tidak menyurutkan semangat juangku. Cinta butuh pengorbanan, dan sedikit kegilaan. Aku mencoba berbagai cara lain untuk mendapatkan kontak Bu Nisa tanpa harus berhadapan langsung (karena nyaliku sudah minus setelah insiden Bu Darmi).
Rencana A: Pura-pura Sakit Aku menyuruh Kevin pura-pura sakit perut di kelas. Skenarionya: Guru akan menelepon wali murid. Karena nomor HP-ku yang terdaftar di data Kevin (aku yang isi formulir pendaftaran), maka Bu Nisa akan meneleponku.
Kevin berakting. "Aduh... sakit Bu..." Tapi yang terjadi: Kevin dibawa ke UKS. Yang nanganin bukan Bu Nisa, tapi Pak Satpam yang jago mijit. Aku ditelepon Pak Satpam. "Halo, Mas Heru? Ini Kevin masuk angin. Saya kerokin ya?" Gagal. Malah Kevin punggungnya merah semua dikerok pake koin gopek. Malamnya aku kehilangan uang bensin dari mbakku.
Rencana B: Menyusup ke Grup WA Wali Murid Aku meminjam HP Mbak Rina. Aku melihat grup WA "Wali Murid Kelas 2B". Aku mencari nomor adminnya. Ternyata adminnya bukan Bu Nisa, tapi "Mama Rehan" yang super bawel dan rajin kirim stiker 'Assalamualaikum' yang ada gambar teko geraknya. Bu Nisa ada di grup itu, tapi privasi fotonya dikunci. Aku mau chat, tapi takut dikira modus (memang modus sih).
Rencana C: Menjadi Intelijen Kantin Aku mencoba menyuap Ibu Kantin. "Bu, beli bakwan 10 ribu. Boleh minta nomor WA Bu Nisa gak? Buat... konsultasi pendidikan Kevin." Ibu Kantin menatapku tajam sambil membalik gorengan. "Halah, modus lu Mas. Kemaren surat-suratan sama Bu Darmi, sekarang ngejar Bu Nisa. Buaya kok makannya bakwan." Aku diusir secara halus dengan cara dikasih bakwan yang gosong.
Hari-hariku penuh dengan penderitaan. Aku datang jemput satu jam lebih awal. Bayangkan, jam pulang jam 12.30, aku sudah standby jam 11.30. Aku duduk di bawah pohon seri, bengong, ngitungin semut, dengerin ibu-ibu ghibah soal tetangga yang pelihara tuyul. Semua demi melihat Bu Nisa lewat 5 detik. 5 detik yang berharga.
Pernah sekali aku mencoba sok akrab. Bu Nisa lewat. Aku: "Siang Bu Nisa! Panas ya!" Bu Nisa: "Iya Mas, mari." Cuma itu. "Iya Mas, mari." Kalimat itu kurekam di otakku, kudengarkan ulang sebelum tidur. Ngenes banget hidup gue.
Dua minggu berlalu. Aku mulai putus asa. Apakah aku ditakdirkan untuk mengagumi dari jauh seperti fans JKT48 yang tidak mampu beli tiket teater?
Namun, Tuhan Maha Adil. Kesempatan emas itu datang dalam bentuk gerobak Batagor.
Siang itu, Kevin ada les tambahan. Sekolah sepi. Ibu-ibu penjemput sudah pulang. Hanya ada aku dan Abang Batagor di depan gerbang. Perutku lapar. "Bang, batagor satu porsi. Pedes, bumbunya banjir."
Saat aku sedang asyik menusuk batagor, tiba-tiba... wangi parfum floral tercium. Aku menoleh. BU NISA. Dia berdiri tepat di sampingku. Jarak kami kurang dari 30 sentimeter. Dia juga mau beli batagor!
"Bang, batagornya satu ya, jangan pedes," katanya.
Jantungku berhenti berdetak. Batagor di mulutku nyangkut. Aku tersedak. Uhuk! Uhuk! Bumbu kacang muncrat sedikit ke kemeja flanelku. Sial, tidak estetik.
Bu Nisa menoleh kaget. "Eh, Mas Heru? Gapapa Mas?"
Dia tahu namaku! DIA TAHU NAMAKU! (Mungkin karena insiden Bu Darmi, namaku jadi terkenal satu sekolahan). Aku berusaha cool sambil mengelap bumbu kacang di bibir. "Ehem. Gapapa Bu. Biasa, keselek rindu. Eh, keselek tahu."
Bu Nisa terkekeh. Tawanya renyah sekali. "Mas Heru ini pamannya Kevin kan? Kevin pinter lho di kelas, walau kadang suka ngelamun."
Ini dia! Pintu masuk! "Iya Bu. Maaf ya kalau Kevin nakal. Sebenernya saya mau nanya-nanya soal perkembangan belajar Kevin, Bu. Tapi saya jarang ketemu Ibu."
"Oh gitu ya? Boleh kok Mas kalau mau konsultasi."
Otakku berputar cepat. NOW OR NEVER, HERU! "Gimana kalau saya minta nomor WA Ibu? Biar enak kalau mau nanya PR atau tugas Kevin. Soalnya Ibunya Kevin (Mbak Rina) sibuk banget, jadi saya yang tanggung jawab penuh (padahal cuma ojek)."
Bu Nisa tampak berpikir sejenak. Aku menahan napas sampai paru-paruku perih. "Oh, boleh Mas. Catet ya."
JEDER! Langit cerah. Burung berkicau. Abang Batagor berubah jadi cupid bersayap. Aku mengeluarkan HP dengan tangan gemetar hebat. Saking gemetarnya, aku hampir menjatuhkan HP ke panci bumbu kacang.
"0812... xxxx... xxxx."
"Sudah saya misscall ya Bu," kataku dengan suara bergetar.
"Oke, masuk Mas. Nanti di-chat aja ya kalau ada apa-apa soal Kevin."
Bu Nisa mengambil batagornya, tersenyum manis (mematikan), lalu pamit masuk kembali ke sekolah. "Duluan ya Mas Heru."
Aku berdiri mematung di pinggir jalan. Aku ingin sujud syukur di aspal, tapi takut disangka orang gila. Aku ingin teriak, tapi takut batagorku tumpah. Aku berhasil! Aku dapat nomor WA-nya! Legal! Tanpa perantara bocil!
"Bang Batagor! Tambah satu porsi lagi! Saya mau merayakan kemenangan!" teriakku.
Sesampainya di rumah, aku tidak bisa berhenti tersenyum. Mbak Rina sampai ngeri melihatku. "Kamu kesambet apaan Ru? Senyum-senyum sendiri kayak orang gangguan jiwa." "Mbak gak akan ngerti. Hari ini aku menang banyak."
Aku masuk kamar, mengunci pintu. Aku merebahkan diri di kasur. Membuka WhatsApp. Kontak baru: "Bu Nisa SD".
Tanganku gemetar ingin mengirim pesan pertama. Apa ya yang bagus?
"Assalamualaikum Bu Nisa, ini Heru" Terlalu kaku.
"Hai Bu, lagi apa?" Terlalu SKSD.
"P, save nomor gw"? Dikira jamet.
Akhirnya aku memutuskan untuk melihat Foto Profil-nya dulu. Tadi di sekolah, aku belum sempat lihat foto profilnya karena HP-nya dark mode. Sekarang, aku ingin memandangi wajah cantiknya sepuasnya di layar HP.
Aku klik foto profilnya. Fotonya loading...
Dan muncullah gambar itu.
Dalam foto itu, Bu Nisa terlihat sangat cantik memakai kebaya hijau muda (baju Persit). Dia tersenyum lebar sambil menggandeng lengan seorang pria. Pria itu... Pria itu berbadan tegap, rambut cepak, kulit legam terbakar matahari. Dia memakai seragam TNI Angkatan Darat. Lengkap dengan Loreng Malvinas. Lengkap dengan Baret Hijau. Lengkap dengan Pangkat Balok di pundaknya.
Di bawah foto itu, ada Info status WhatsApp yang bertuliskan: "Menunggu Mas Abdi pulang tugas. Setia selamanya ❤️👮♂️"
Hening. Sunyi. Senyap.
HP-ku terlepas dari tangan, jatuh menimpa hidungku. Plak! Sakit. Tapi lebih sakit hatiku.
Ternyata... Lawan aku bukan sesama guru. Lawan aku bukan pegawai bank. Lawan aku bukan pengusaha muda.
Lawan aku adalah ALUTSISTA NEGARA. Lawan aku adalah garda terdepan pertahanan Republik Indonesia. Lawan aku adalah pria yang sarapannya paku dan minumnya solar.
Aku, Heru. Pria yang lari dikejar anjing tetangga saja ngos-ngosan, berani-beraninya naksir istri (atau calon istri) Tentara. Ini bukan "David vs Goliath". Ini "Butiran Debu vs Tank Leopard".
Spek dia: Mempertahankan Kedaulatan NKRI. Spek aku: Mempertahankan win streak di Mobile Legends.
Jauh. Jauh banget. Bagaikan langit dan sumur bor.
Aku menatap langit-langit kamar. Air mata tak keluar, tapi jiwa melayang. Nomor WA itu kini terasa seperti bom waktu di HP-ku. Kalau aku nekat chat aneh-aneh, bisa-bisa besok pagi rumahku digerebek satu kompi batalyon. Bisa-bisa aku diculik terus disuruh push-up 1000 kali di lapangan berlumpur.
Aku membayangkan Mas Tentara itu pulang, memeriksa HP Bu Nisa, dan melihat chat dari "Heru Paman Kevin": "Bu Nisa, wajahmu mengalihkan duniaku." Habis aku. Kelar riwayatku. Bisa-bisa aku dijadikan sasaran tembak latihan mortir.
Dengan tangan gemetar dan hati yang hancur berkeping-keping menjadi debu kosmik, aku melakukan satu-satunya hal yang logis.
Aku tidak jadi chat. Aku mengganti nama kontaknya dari "Bu Nisa SD" menjadi "ZONA BERBAHAYA (JANGAN DICHAT - NYAWA TARUHANNYA)".
Aku keluar kamar dengan wajah pucat pasi. Mbak Rina melihatku. "Lho? Kok sekarang mukanya kayak mayat? Tadi senyum-senyum?"
Aku menatap Mbak Rina nanar. "Mbak... mulai besok, Mbak aja yang jemput Kevin ya." "Lho kenapa?" "Heru mau fokus memperbaiki diri. Heru mau daftar... jadi Hansip. Minimal punya seragam ijo juga."