Disukai
1
Dilihat
5
Mengejar Celana Dalam
Komedi
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Minggu siang yang terik di rooftop kosan "Putri Bahagia". Matahari Jakarta sedang lucu-lucunya, bersinar dengan intensitas yang mampu mematangkan telur di atas aspal. Aku, Devi, sedang melakukan ritual mingguan: Mengangkat jemuran.

Di antara deretan baju kerja modis dan kemeja branded (beli pas diskon 70%), terdapat satu entitas asing. Sebuah anomali. Sebuah "Artefak Kuno". Itu adalah: Celana Dalam Pink Polkadot. Ukurannya sudah agak melar. Karetnya sudah keriting seperti mie instan. Warnanya sudah pudar dari Shocking Pink menjadi Sad Pink. Ini adalah celana dalam yang kupakai sejak zaman SMA.

Kenapa masih disimpan? Karena nyaman. Kenapa berbahaya? Karena di bagian karet pinggangnya, tertulis dengan spidol permanen hitam tebal (yang ajaibnya tidak luntur selama 10 tahun): DEVI - 0812-XXXX-XXXX - JANGAN DICURI, NANTI KUALAT!

Ya. Anda tidak salah baca. Saat pertama kali merantau ke Jakarta 5 tahun lalu, aku adalah gadis lugu yang termakan hoax grup WhatsApp keluarga. Katanya, Jakarta itu kejam. Jemuran sering hilang dicuri buat guna-guna atau dijual kiloan. Saking paranoidnya, aku menamai semua barangku. Mulai dari sikat gigi, gayung, sampai celana dalam. Barang lain sudah rusak dan kubuang. Tapi CD Pink ini bertahan. Dia adalah saksi bisu perjuanganku. Dan nomor HP yang tertulis di situ... sialnya, adalah nomor utamaku yang masih aktif sampai detik ini, yang terhubung ke WhatsApp, Mobile Banking, dan LinkedIn.

Bayangkan skenarionya: Seseorang menemukan CD ini. Membaca namanya. Membaca nomornya. Lalu iseng menelepon. "Halo, apakah ini Devi? Saya menemukan celana dalam anda di perempatan Slipi." Mati aku. Reputasiku sebagai Senior Akuntan yang profesional akan hancur lebur. Aku bisa dipecat karena alasan "Pencemaran Nama Baik Perusahaan Lewat Limbah Tekstil". Terlebih saat ini nomor-nomor asing sering spam call, dengan adanya celana dalam ini akan makin parah.

Aku meraih jepitan jemuran. Tiba-tiba... WUUUSSSHHHH!!! Angin kencang berhembus. Bukan angin sepoi-sepoi, tapi angin puting beliung mini yang sepertinya dikirim khusus oleh alam semesta untuk mengujiku.

Jepitan jemuran itu licin. Jari-jariku yang berkeringat gagal mencengkeram. Celana dalam Pink itu terlepas dari jemuran. Ia melayang. Ia berputar di udara dengan anggun, seolah-olah sedang menari balet. Lalu, angin membawanya melewati pagar pembatas rooftop.

"TIDAAAAAKKK!!!" teriakku slow motion, tangan terulur ke udara ala film drama Korea.

Aku berlari ke pinggir pagar. Aku melihat ke bawah. CD itu tidak jatuh lurus ke halaman kosan. Tidak. Itu terlalu mudah. Angin membawanya terbang jauh... melintasi genteng tetangga... menuju jalan raya yang ramai.

Bahaya. Status: DARURAT 1. Jika CD itu jatuh di tempat umum, dan ada yang memungutnya, tamatlah riwayatku. Aku harus mendapatkannya kembali. Atau memusnahkannya.

Aku berdiri mematung di pinggir rooftop. Napasku memburu. Aku memejamkan mata sejenak, lalu membukanya kembali. Dunia di sekelilingku berubah. Warna-warna menjadi desaturated. Grid digital dan teks analisis bermunculan di retinaku. Waktu melambat.

[VISUALIZATION ACTIVATED]

OBJEK: Celana Dalam Pink (The Relic).

KECEPATAN ANGIN: 15 km/h, arah Tenggara.

KETINGGIAN: 12 meter dari permukaan tanah, menurun konstan.

KALKULASI LINTASAN :

Angin mendorong objek melewati atap kosan Pak Haji (Jarak 5 meter).

Objek memiliki massa ringan (katun tipis + karet melar), sehingga resistansi udara tinggi. Ia tidak akan jatuh vertikal, tapi melayang horizontal.

Hambatan potensial: Pohon Mangga di halaman rumah Bu RT, Kabel Listrik PLN, dan Gerobak Tukang Bakso yang sedang mangkal.

PREDIKSI ZONA PENDARATAN :

Skenario A (Optimis): Nyangkut di Pohon Mangga. (Probabilitas: 40%).

Skenario B (Pesimis): Jatuh di wajan Tukang Bakso. (Probabilitas: 30%).

Skenario C (Kiamat): Jatuh tepat di wajah pengendara motor yang lewat, menyebabkan kecelakaan beruntun, viral di TikTok, dan nomor HP-ku terekspos nasional. (Probabilitas: 30%).

[KESIMPULAN]

Objek sedang menuju Pohon Mangga Bu RT. Jarak tempuh lari: 50 meter. Waktu estimasi objek mendarat: 20 detik. Waktu estimasi lari turun tangga: 45 detik. Masalah: Aku kalah cepat.

Aku melihat struktur bangunan di sekitarku. Tangga putar darurat di samping gedung lebih cepat daripada tangga utama. Ada celah di pagar samping yang bisa dipanjat. Lalu ada kanopi garasi Pak Haji yang bisa dijadikan tumpuan lompat.

"Parkour," bisikku.

Aku tidak peduli lagi. Aku membuka sandal jepitku (agar lebih kesat), menjadikannya sarung tangan. Aku melompati pagar pembatas rooftop. Mendarat di dak beton penampungan air. Lalu meluncur turun lewat tiang jemuran besi (seperti pemadam kebakaran). SREEEEET! Untung sandal kutaroh tangan, jadi tanganku ga lecet.

Aku sampai di tanah dalam waktu 15 detik. Aku berlari keluar gerbang kosan. Mataku menengadah ke langit. Di sana, Si Pinky Legend masih melayang, berjuang melawan gravitasi, menuju Pohon Mangga.

Aku sampai di bawah Pohon Mangga Bu RT tepat saat CD itu mendarat. PLUK. Ia tersangkut. Bukan di dahan rendah yang mudah digapai. Tapi di ranting paling ujung, di ketinggian sekitar 4 meter. Celana dalam itu berkibar-kibar ditiup angin, memamerkan tulisan nomor HP-ku kepada dunia, seolah-olah itu adalah bendera kemenangan.

Untungnya, jalanan lagi sepi. Bu RT sedang tidur siang (semoga). Aku berdiri di bawah pohon. Mendongak.

Observasi: Ranting itu kecil dan rapuh. Diameter sekitar 2 cm. Jenis kayu mangga: Getas. Jika aku memanjat, ranting itu akan patah, aku jatuh, tulang rusuk patah, masuk UGD, dokter melihat celana dalam di tanganku. Tidak worth it.

Aku butuh alat. Aku melihat sekeliling. Ada batu bata. Ada sapu lidi. Ada sandal jepitku.

[PENGHITUNGAN FISIKA]

Target: Ranting Mangga.

Senjata: Sandal Jepit Kanan (Massa: 200 gram).

Kekuatan Yang Dibutuhkan : Cukup untuk mengguncang ranting, tapi tidak boleh membuat sandal ikut nyangkut.

Angle: 75 derajat elevasi.

Aku mengambil ancang-ancang. "Bismillah. Demi kehormatan keluarga." Aku melempar sandal itu dengan teknik pitcher baseball. WUSH! Sandal melayang berputar. PLETAK! Sandal menghantam dahan utama. Getaran merambat ke ranting ujung. Celana dalam itu bergoyang. Turun sedikit. Tapi masih nyangkut. Sandal jepitku? Jatuh kembali dengan selamat.

"Kurang keras," analisisku. Aku butuh proyektil yang lebih berat. Batu bata. Aku mengambil pecahan batako. "Maafkan aku Bu RT, manggamu mungkin jadi korban."

Aku melempar batako itu. DUAGH! Kena batang pohon. Pohon bergetar. Celana dalam itu terlepas! "YES!" Ia jatuh. Melayang turun. Aku berlari menyongsongnya seperti kiper menangkap bola. "Sini sayang... Sini ke Mama..."

Tiba-tiba... WUSSSHHH! Angin kencang berhembus lagi. Tepat sebelum CD itu menyentuh tanganku, angin mengangkatnya kembali. Ia terbang menyamping. Melewati pagar rumah Bu RT. Menuju jalan raya.

Dan... PLUK. Ia mendarat. Tepat di atas atap sebuah Mobil Pick-Up Sayur yang sedang melaju pelan.

"TIDAAAAAKKK!" teriakku histeris. Mobil itu berjalan menjauh. Membawa aibku berkeliling Jakarta.

Aku tidak punya pilihan. Aku harus mengejar mobil itu. Aku berlari. Tanpa alas kaki (sandal kubuang lagi biar enteng). Lariku kencang. Setara atlet lari yang dikejar anjing gila.

Mobil pick-up itu melaju santai sekitar 20 km/jam. Tapi di atas atap kemudinya, tersangkut celana dalam pink polkadot. Abang supirnya tidak sadar. Dia sedang asyik mendengarkan dangdut koplo dengan volume maksimal. "Joko Tingkir ngombe dawet... Jo dipikir marai mumet..."

"MAS! MAS BERHENTI MAS!" teriakku sambil lari di belakang mobil. Tapi suaraku kalah oleh sound system dangdut itu.

Orang-orang di pinggir jalan menatapku. Seorang wanita pendek, lari nyeker, rambut acak-acakan, mengejar mobil sayur sambil teriak-teriak. "Itu orang gila ya?" bisik ibu-ibu warung. "Mungkin dia mau beli kangkung tapi duitnya kurang," jawab temannya.

Aku tidak peduli. Aku mempercepat lari. Aku menggunakan teknik pernapasan Demon Slayer: Teknik Pernapasan Penagih Hutang. Oksigen membanjiri paru-paruku. Otot kakiku membesar (perasaan doang).

Jarak semakin dekat. 5 meter. 3 meter. Aku bisa melihat nomor polisi mobil itu.

Aku hampir bisa menggapai bak belakang mobil itu. Niatku: Lompat ke bak belakang, panjat ke atap depan, ambil CD, lalu lompat turun ala Mission Impossible.

Tapi, takdir berkata lain. Mobil itu tiba-tiba ngerem mendadak karena ada kucing lewat. CIIIT! Aku hampir menabrak bak mobil. Hukum inersia bekerja. Mobil berhenti, tapi benda di atasnya tetap bergerak. Celana dalam itu terlempar ke depan dari atap mobil. Ia melayang lagi di udara.

Dan mendarat di... Kepala seorang Bapak-bapak botak yang sedang naik motor NMAX tanpa helm.

HAP. Celana dalam itu menelungkup sempurna di kepala plontos bapak itu. Seperti topi kupluk yang sangat buruk rupa.

Bapak itu kaget. "ASTAGA! APA INI? GELAP! SAYA DISERANG ALIEN!" Motornya oleng. GUBRAK! Bapak itu jatuh (pelan kok, karena macet). Motornya ambruk. Bapak itu guling-guling di aspal sambil berusaha melepas "Alien Pink" dari kepalanya.

Aku berhenti lari. Napasku putus-putus. Situasi berubah dari DARURAT 1 menjadi KODE MERAH. Korban sipil telah jatuh. Aset rahasia kini berada di tangan (atau kepala) warga sipil.

Bapak Botak itu berdiri. Wajahnya merah padam. Dia memegang celana dalam pink itu dengan jijik. Dia melihat sekeliling dengan marah. "SIAPA?! SIAPA YANG LEMPAR CELANA DALAM INI?! KURANG AJAR!"

Lokasi kejadian: Tepat di depan Pos Ronda. Di Pos Ronda, ada 4 orang bapak-bapak sedang main catur. Mereka semua menoleh. "Wah, Pak Lurah dapet rejeki nomplok!" celetuk salah satu bapak di Pos Ronda. Ternyata korban adalah Seorang Lurah. Mampus aku.

Pak Lurah membaca tulisan di karet celana dalam itu dengan suara lantang (karena dia rabun dekat, jadi dia bacanya dideketin ke mata). "DEVI... 0812..." Pak Lurah mengeja namaku. "SIAPA DEVI?!" teriaknya.

Aku bersembunyi di balik tiang listrik beton. Jarakku cuma 10 meter dari mereka. Jantungku rasanya mau meledak. Kalau aku keluar dan ngaku, aku bakal disidang massa. Kalau aku diem aja, Pak Lurah bakal nelpon nomor itu. Dan HP di saku celanaku akan berbunyi. Dan aku akan ketahuan juga.

Aku harus mengambil CD itu tanpa ketahuan identitas asliku. Semua orang di lokasi rata-rata generasi boomer, okeh baiklah.

Aku melepas ikat rambutku. Mengacak-acak rambutku biar kayak orang gila. Mengotori pipiku dengan tanah disekitar situ. Aku mengubah postur tubuhku jadi bungkuk dan aneh. Aku akan menyamar menjadi: PEMBURU HANTU / ORANG PINTAR.

Aku berjalan keluar dari balik tiang listrik. Langkahku gontai, mataku melotot menatap celana dalam di tangan Pak Lurah. "HMMMMM.... AURANYA GELAP... SANGAT GELAP..." suaraku diberat-beratkan, serak-serak basah.

Pak Lurah dan bapak-bapak Pos Ronda kaget melihat kemunculanku. "Neng? Siapa Neng?"

Aku tidak menjawab. Aku menunjuk celana dalam itu dengan jari gemetar. "BENDA ITU... ITU ADALAH JIMAT TUYUL YANG TERKUTUK!"

Pak Lurah kaget, hampir melempar CD itu. "Hah? Jimat?"

"BENAR!" teriakku dramatis. "Saya adalah dukun penjaga kampung sebelah! Saya sedang mengejar Kolor Ijo yang mencuri jimat penolak bala ini! Tulisan di situ... 'Devi'... itu adalah nama Tumbal yang disiapkan oleh jin jahat!"

Pak Lurah pucat. "Waduh... pantesan kepala saya panas pas ketempelan ini!"

"JANGAN DIBACA NOMORNYA!" bentakku. "Kalau dibaca, nanti Bapak ditelepon sama Kuntilanak! Serahkan pada saya! Biar saya netralisir!"

Bapak-bapak Pos Ronda mundur ketakutan. Mereka adalah kaum boomer yang sangat percaya klenik. Logika Sherlock Holmes tidak mempan di sini, tapi Logika Klenik sangat efektif.

"Nih Neng! Ambil! Ambil cepetan! Saya gak mau urusan sama demit!" Pak Lurah menyodorkan celana dalam itu dengan tangan gemetar.

Aku mendekat dengan gaya ritual. Aku mengambil celana dalam itu dengan dua jari (biar kelihatan jijik sama aura jahatnya). "HMMMMM... PANAS... ENERGINYA JAHAT SEKALI..."

Aku memasukkan celana dalam itu ke saku celanaku secepat kilat. "Sudah saya amankan! Kalian semua selamat! Sekarang saya harus pergi ke Gunung Kawi untuk membuang benda ini!"

"Makasih Neng Dukun! Makasih!" seru Pak Lurah lega.

Aku berbalik badan. Berjalan menjauh dengan gaya misterius. Begitu sampai di tikungan dan hilang dari pandangan mereka... AKU LARI SPRINT SEKUAT TENAGA. "KABUUUURRRRR!!!"

 

Aku sampai di kamar kosku dengan napas yang hampir putus. Aku mengunci pintu. Mengunci jendela. Menutup gorden. Aku mengeluarkan "Si Pinky Legend" dari saku. Benda itu... sudah kotor, kena debu jalanan, kena keringat kepala botak Pak Lurah. Tapi ia kembali.

Aku menatapnya dengan campuran rasa benci dan lega. "Kamu sudah terlalu banyak tau," bisikku pada celana dalam itu. "Maafkan aku. Tapi perjalananmu berakhir di sini."

Aku tidak mencucinya. Aku tidak menyimpannya. Risiko terlalu besar. Bagaimana kalau angin berhembus lagi? Bagaimana kalau tikus membawanya ke luar? Hanya ada satu cara. PEMUSNAHAN.

Aku mengambil panci stainless steel bekas masak mie. Aku menaruh celana dalam itu di dalamnya. Aku menyiramnya dengan sedikit alkohol pembersih luka (biar cepet nyala). Aku menyalakan korek api.

"Atas nama harga diri, reputasi, dan masa depan karirku sebagai Akuntan..." Aku melempar api itu. WUSH. Api menyala. Kain katun tua itu terbakar dengan cepat. Karetnya meleleh. Tulisan nama dan nomor HP-ku perlahan menghitam, menjadi abu, tak terbaca lagi selamanya.

Aku menatap api itu seperti seorang psikopat yang baru saja menghilangkan jejak pembunuhan. Asap tipis mengepul. Bau karet terbakar memenuhi kamar. Alarm kebakaran di koridor kosan bunyi TET TET TET. "WADUH!"

Ibu Kost gedor-gedor pintu. "DEVI! KEBAKARAN YA?!"

Aku panik. Aku menyiram panci itu dengan air gayung. CESS. Api mati. Aku membuka pintu, tersenyum polos pada Ibu Kost yang bawa APAR. "Enggak Bu! Cuma... eksperimen masak. Masak... arang."

Ibu Kost geleng-geleng kepala. "Kamu ini makin hari makin aneh."

Malam itu, aku duduk di kasur dengan perasaan damai yang hakiki. Aib itu sudah hilang. Menjadi debu karbon. Tidak ada yang akan meneleponku. Pak Lurah tidak akan tau kalau dukun sakti itu adalah warganya sendiri yang nunggak iuran sampah.

HP-ku bergetar. Notifikasi WhatsApp. Nomor tidak dikenal.

Jantungku berhenti. Apakah... apakah nomorku sempat dicatat bapak-bapak tadi?

Aku membuka pesan itu dengan tangan gemetar.

[Unknown Number]: "Selamat malam, Mbak Devi. Ini Wahyu, ojol yang minggu lalu nganter Mbak. Cuma mau ngingetin, helm Mbak ketinggalan di motor saya. Kapan bisa diambil?"

"ALHAMDULILLAH!" teriakku lega. Cuma helm. Helm gak ada tulisan nomor HP-nya. Helm aman.

Aku berbaring menatap langit-langit kamar. Hari ini aku belajar satu hal penting: Paranoia itu mahal harganya. Dan memberi nama lengkap di celana dalam adalah ide terburuk sepanjang masa. Mulai besok, aku akan beli spidol baru. Bukan untuk nulis nama di celana dalam. Tapi untuk nulis di jidatku sendiri: "JANGAN JEMUR BAJU PAS ANGIN KENCANG, GOBLOK."

Dan untuk celana dalam baruku? Mulai sekarang, aku akan membiarkan mereka anonim. Biarlah mereka menjadi Agen rahasia jika hilang nanti. Lebih baik hilang tanpa jejak daripada pulang membawa aib.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Komedi
Rekomendasi