Minggu pagi yang cerah. Matahari bersinar terik, seolah mengejek kulitku yang sebentar lagi akan gosong. Hari ini, dua sahabatku, Novi dan Arum, mengajakku berenang di Waterpark "Atlantis KW Super" di pinggiran kota. Tujuannya: Olahraga (katanya), Cuci Mata (faktanya), dan Pamer Bodi (motif utamanya).
Kami berada di ruang ganti wanita. Aroma kaporit dan sampo murah memenuhi udara. Novi keluar dari bilik ganti. Jreng! Dia memakai one-piece swimsuit warna hitam elegan yang membalut tubuh jenjangnya. Kakinya panjang seperti jalan tol Cipali. "Gimana Dev? Oke gak?" tanyanya sambil berpose ala model majalah dewasa.
Lalu Arum keluar. Jreng! Dia memakai bikini two-pieces bermotif floral. Perutnya rata, kulitnya eksotis. Dia terlihat seperti putri pantai dari Hawaii. "Siap nyebur nih! Airnya seger banget kayaknya!" seru Arum.
Lalu, giliran aku keluar dari bilik. Treng-teng-teng-teng... (Suara musik sirkus yang sedih). Aku berdiri di depan cermin. Aku tidak memakai bikini. Aku tidak memakai swimsuit elegan. Aku memakai: Kaos Oblong Putih (yang sudah agak melar di leher) dan Celana Pendek Kolor Bola warna biru dongker dengan garis putih di samping. Persis seperti anak SD Inpres yang mau pelajaran Penjaskes (Pendidikan Jasmani dan Kesehatan).
"Dev..." Novi menahan tawa. "Lo... lo mau renang apa mau main kasti?"
Aku menatap pantulan diriku dengan nanar. "Diem lo, Nov. Lo tau kan susah nyari baju renang dewasa ukuran gue? Bagian dadanya longgar, bagian bawahnya kepanjangan. Kalau gue pake bikini anak-anak, gambarnya My Little Pony. Gue masih punya harga diri sebagai wanita karir usia 27 tahun."
"Tapi Dev," Arum menambahkan, "Itu kaosnya kalo basah nerawang lho."
"Gue udah pake tanktop rangkap dua di dalemnya. Aman. Udah ah, ayo keluar. Gue mau membakar kalori, bukan membakar semangat hidup."
Kami berjalan keluar menuju area kolam. Perbedaannya sangat mencolok. Novi dan Arum berjalan seperti bidadari Victoria's Secret. Para pria menoleh, mata mereka berbinar. Aku berjalan di belakang mereka, menyeret kaki, terlihat seperti adik kecil mereka yang dipaksa ikut karena ibunya lagi arisan. Para pria menoleh padaku, lalu tersenyum gemas. "Utututu... adeknya lucu."
Ingin rasanya aku colok mata mereka pakai kacamata renang.
Kami sampai di bibir kolam utama. Kolam Dewasa. Kedalaman 1,5 meter sampai 2 meter. Airnya biru jernih, tenang, dan menggoda. Novi dan Arum langsung melakukan pemanasan cantik, lalu byuurrr... meluncur ke dalam air dengan anggun.
Aku melakukan pemanasan. Meregangkan otot-otot kecilku. Membunyikan leher. Kretek. "Oke, Devi. Tunjukkan kemampuanmu. Lo dulu juara harapan 3 lomba renang gaya batu tingkat RT."
Aku mengambil ancang-ancang. Siap melompat. Satu... Dua... Tiba-tiba, sebuah tangan besar dan berotot mencengkeram kerah belakang kaosku. Aku terangkat ke udara seperti anak kucing yang dijewer induknya. Kakiku mengayun-ayun tidak menapak tanah.
"EITS! MAU KEMANA DEK?" suara bariton yang berat menggelegar di telingaku.
Aku menoleh. Di belakangku berdiri sesosok raksasa. Penjaga Kolam (Lifeguard). Kulitnya cokelat terbakar matahari, memakai kaos merah bertuliskan "PENJAGA NYAWA", celana pendek merah, dan peluit di leher. Sebut saja dia Mas Bambang Baywatch.
"Turunin gue! Gue mau renang!" teriakku sambil meronta.
Mas Bambang menurunkan aku, tapi tetap menghalangi jalan. Dia berkacak pinggang, menatapku dari ketinggian 180 cm-nya. Tatapan yang meremehkan. "Dek, ini kolam dewasa. Dalemnya 2 meter. Kamu tenggelam nanti gak ada yang nolongin. Sana ke kolam jamur. Yang ada perosotan gajahnya."
Darahku mendidih. "Heh, Mas! Gue bukan anak kecil! Gue dewasa! Umur gue 27 tahun! Gue bayar pajak! Gue punya cicilan motor! Minggir!"
Mas Bambang tertawa. Tawa yang renyah dan menyakitkan hati. "Hahaha! Adek ini pinter banget ngelawaknya. 27 tahun kok tingginya segitu? Udah, jangan bohong. Mana orang tuanya? Ibunya mana?"
"Ibu gue di rumah gak tau lagi ngapain! Mas, dengerin ya. Tinggi badan itu genetik! Bukan indikator usia! Gue bisa renang! Gaya bebas, gaya dada, gaya punggung, gaya cicilan macet, semua gue bisa!"
"Mana buktinya kalo kamu dewasa? Punya KTP?" Mas Bambang menengadahkan tangan.
"KTP gue di loker! Masa gue renang bawa KTP? Nanti luntur tintanya, gue gak diakuin warga negara lagi!"
"Nah, itu dia. Gak ada bukti = Anak Kecil. SOP perusahaan kami ketat, Dek. Anak di bawah tinggi 140 cm dilarang masuk kolam dewasa tanpa pendampingan orang tua. Kamu tingginya berapa? 130? 120?"
"152 cm!" dustaku (padahal aslinya 149,5 cm). "Udah ah, temen-temen gue di sana!" Aku menunjuk Novi dan Arum yang sedang tertawa melihatku dari tengah kolam. "Tuh! Itu temen-temen gue!"
Mas Bambang melihat Novi dan Arum. Lalu melihatku. Lalu menggeleng prihatin. "Oh, itu kakaknya ya? Tega bener kakaknya ninggalin adeknya. Udah sana, Dek. Jangan bandel. Nanti Om semprit lho."
Dia meniup peluitnya tepat di depan mukaku. PRITTT! Air liurnya muncrat sedikit.
Tanpa belas kasihan, Mas Bambang memutar tubuhku, lalu mendorong pelan punggungku ke arah yang berlawanan. Ke arah Kolam Anak.
Aku berdiri di pinggir Kolam Anak. Pemandangannya sungguh mengenaskan. Kedalaman air: Semata kaki (30 cm). Warna air: Biru keruh dengan hint kekuningan (indikasi tingginya kadar urea alias pipis balita). Populasi: Padat merayap. Isinya balita yang menjerit, anak TK yang saling siram, dan ibu-ibu berdaster yang makan rujak di pinggir kolam.
"Ini penghinaan," gumamku. "Devi, Sarjana Ekonomi, disuruh renang di kuah soto balita."
Aku mencoba masuk. Airnya hangat (terlalu hangat, curiga ini bukan panas matahari). Seorang balita gemuk mendekatiku, membawa pistol air. CROT! Dia menembak mataku. "Mati kamu monster!" teriak balita itu.
Aku mengusap wajahku kasar. "Heh bocil! Gue laporin Komnas HAM lu ya!"
Aku menatap Kolam Dewasa di seberang sana. Tanah Terjanji. Surga yang hilang. Aku harus ke sana. Bagaimanapun caranya. Inilah saatnya Operasi Penyusupan.
Percobaan 1: Kapal Selam Manusia Ide: Menyelam di dasar kolam anak, melewati pembatas tali, lalu muncul di kolam dewasa tanpa ketahuan Mas Bambang. Pelaksanaan: Aku mengambil napas panjang. Aku menyelam. Wajahku bertemu dasar kolam yang licin dan berlumut. Aku merayap seperti komando amfibi. Masalahnya: Kolam anak dan kolam dewasa dipisahkan oleh trotoar keramik selebar 2 meter. Jadi, aku harus keluar dari air, merayap di keramik, baru nyebur lagi. Aku mencoba merayap di keramik dengan gaya tiarap militer. Tiba-tiba... bayangan besar menutupi tubuhku. Aku mendongak. Mas Bambang sudah berdiri di atasku. "Dek, ngapain nyiumin lantai? Lantainya kotor lho. Ayo balik ke kolam jamur." Dia mengangkatku dengan satu tangan seperti mengangkat kura-kura yang terbalik, lalu meletakkanku kembali ke kolam anak. Status: GAGAL.
Percobaan 2: Tipuan Ban Pelampung Ide: Menggunakan ban pelampung raksasa berbentuk Bebek Kuning. Aku akan sembunyi di tengah lubang ban itu, seolah-olah ban itu kosong dan hanyut terbawa angin ke kolam dewasa. Pelaksanaan: Aku menyewa ban bebek raksasa. Aku masuk ke lubangnya. Aku menekuk tubuh mungilku sedemikian rupa. Aku mulai mengayuh pelan dengan tangan di bawah air. Ban itu bergerak perlahan menuju perbatasan. Sedikit lagi... sedikit lagi... Tiba-tiba, angin kencang berhembus. Ban bebek itu (karena isinya aku yang ringan) malah terbalik diterpa angin. GUBRAK! Aku jatuh terjengkang, kaki di atas kepala, tersangkut di lubang ban bebek. Aku terombang-ambing tak berdaya seperti kura-kura ninja mabuk laut. Mas Bambang datang lagi. "Waduh, Dek. Hati-hati. Makanya jangan main ban yang gedean. Pake ban lengan aja nih." Dia memakaikan ban lengan (pelampung tangan) warna pink bergambar Hello Kitty di kedua lenganku. Sekarang aku terlihat seperti atlet binaraga yang salah kostum. Status: GAGAL TOTAL & MEMALUKAN.
Percobaan 3: Penyamaran Tukang Pop Mie Ide: Menyamar sebagai penjual Pop Mie keliling. Penjaga kolam pasti lengah kalau soal makanan. Pelaksanaan: Aku membeli Pop Mie di kantin. Aku memegangnya tinggi-tinggi. Aku berjalan tegak menuju kolam dewasa. "Misi... Misi... Pesanan Pop Mie Mas Bambang..." kataku dengan suara diberat-beratkan. Mas Bambang menoleh. Matanya menyipit. "Lho? Perasaan saya pesen nasi uduk. Dan sejak kapan tukang Pop Mie pake celana kolor bola?" Dia mengambil Pop Mie itu dari tanganku. "Makasih ya Dek traktirannya. Kamu baik banget. Sana balik main air lagi." Dia memakan Pop Mie-ku. Di depan mataku. Aku kehilangan 10 ribu rupiah dan harga diri. Status: BONCOS.
Setelah tiga kali percobaan gagal dan dianggap "mengganggu ketertiban umum", Mas Bambang akhirnya hilang kesabaran.
"Oke, Dek. Kamu bandel banget ya. Ikut Om." Dia mencengkeram lengan atasku. Bukan kasar, tapi tegas. Seperti polisi menangkap maling ayam. "Kita ke ruang informasi. Om mau panggil orang tua kamu lewat pengeras suara. Biar dijemput."
"LEPASIN! GUE BUKAN ANAK KECIL! GUE MAU RENANG! GUE MAU KETEMU TEMEN GUE!" teriakku histeris. Orang-orang menatapku iba. "Kasian ya, tantrum anak jaman now parah banget."
Mas Bambang menyeret (secara halus) aku menyusuri pinggir kolam dewasa. Kami berjalan menuju menara pengawas. Aku meronta-ronta, tapi cengkeraman Mas Bambang setara gembok pagar besi.
Tiba-tiba... Di tengah rengekanku, telingaku menangkap sesuatu. Suara kecipak air yang tidak wajar. Bukan suara byur orang lompat indah. Bukan suara kecipak orang gaya bebas. Tapi suara gluk... gluk... kepak-kepak... Suara panik. Suara sunyi yang mematikan.
Instingku aktif. Meskipun aku rabun jauh (lupa pake kacamata minus), tapi mata batinku tajam. Aku menoleh ke arah Kolam Latihan Prestasi. Itu adalah bagian dari kolam dewasa yang disekat tali lintasan, biasanya sepi karena khusus atlet atau les privat. Saat itu sedang kosong karena pelatihnya lagi ngerokok di pojokan.
Di tengah lintasan 4. Ada seorang anak laki-laki, sekitar umur 10 tahun. Kepalanya timbul tenggelam. Tangannya menggapai-gapai udara, tapi tidak ada suara teriakan yang keluar. Mulutnya terbuka tapi kemasukan air. Tanda-tanda tenggelam tipe Silent Drowning. Kakinya kaku lurus ke bawah. Keram!
"MAS! ITU ADA YANG TENGGELAM!" teriakku sambil menunjuk.
Mas Bambang menoleh sekilas, tapi pandangannya terhalang oleh pilar seluncuran. "Halah, jangan ngalihin perhatian. Trik kamu udah basi, Dek. Tadi pura-pura jadi tukang Pop Mie, sekarang pura-pura liat hantu air. Jalan terus!"
"BUKAN BOHONG! ITU ANAK ORANG MATI WOY!"
"Diem! Nanti Om kasih permen."
Cukup. Kesabaran Devi habis. Adrenalin membanjiri tubuh mungilku. Sistem di otakku berubah mode. Dari Mode Bocil Tantrum menjadi Mode David Hasselhoff (Ga tau dia siapa? googling!!!).
Aku melakukan manuver yang tidak diduga Mas Bambang. Aku menggigit tangannya. KRES! "ADUH!" Mas Bambang kaget dan melepaskan cengkeramannya.
Bebas! Aku tidak lari menjauh. Aku lari menuju kolam. "JANGAN LARI DEK! LICIN!" teriak Mas Bambang mengejar. Langkah kakinya besar, tapi langkah kakiku cepat seperti putaran baling-baling kipas angin. Tek-tek-tek-tek!
Aku sampai di bibir kolam latihan. Aku melihat anak itu sudah mulai tenggelam sepenuhnya. Hanya rambutnya yang terlihat melayang di bawah permukaan. Gelembung udara terakhir keluar.
Aku tidak berpikir panjang. Aku melompat. Gaya lompatku bukan gaya indah atlet olimpiade. Gaya lompatku adalah Gaya Katak Kesetrum. BYUUUURRRRR!!!
Air dingin menusuk kulitku. Aku membuka mata di dalam air (perih kena kaporit, bodo amat). Duniaku menjadi biru dan hening. Aku melihat anak itu. Dia melayang perlahan menuju dasar kolam sedalam 2 meter. Matanya terbuka lebar, penuh teror.
Aku berenang secepat torpedo. Kakiku mengayuh flutter kick dengan kekuatan penuh. Aku menyambar ketiak anak itu. Berat. Badan anak jaman sekarang nutrisinya bagus, beda sama aku yang kurang gizi. Aku memeluk dadanya dari belakang (teknik penyelamatan agar tidak ditenggelamkan korban). Aku menjejak dasar kolam sekuat tenaga. TOING! Kami meluncur ke atas.
PUAH! Kepalaku menyembul ke permukaan. Aku menghirup oksigen rakus. "Tahan Dek! Kakak di sini!" (Akhirnya aku bisa nyebut diri sendiri Kakak). Aku menyeret anak itu ke pinggir kolam.
Mas Bambang sudah berdiri di pinggir, wajahnya pucat. "Lho? Beneran?!" Dia membantu menarik anak itu naik ke keramik.
Anak itu terbaring di pinggir kolam. Bibirnya biru. Tidak bernapas. Kerumunan mulai terbentuk. Novi dan Arum menerobos masuk. "Devi?! Lo gila ya?!"
Aku mengabaikan mereka. Aku berlutut di samping anak itu. Wajahku berubah serius. Di kepalaku, aku membayangkan diriku adalah Dr. Shaun Murphy dari serial The Good Doctor. Grafik anatomi tubuh manusia muncul melayang di sekelilingku (imajinasi doang).
"Minggir semua! Beri ruang oksigen!" teriakku dengan wibawa dokter spesialis bedah syaraf. "Mas Bambang! Siapkan AED (Defibrillator) kalau ada! Kalau gak ada, berdoa!"
Aku mengecek nadi karotis di leher. Lemah. Cek napas. Nihil. "Henti napas akibat aspirasi air. Kita lakukan RJP (Resusitasi Jantung Paru)!"
Aku meletakkan pangkal telapak tangan di tengah dadanya. Tangan satu lagi mengunci di atasnya. Lengan lurus. Stayin' Alive... Stayin' Alive... (Irama CPR 100-120 kali per menit). Satu, dua, tiga, empat...
"Ayo napas! Jangan mati! Kalau kamu mati sekarang kamu pasti masuk surga! Kamu belum merasakan kelamnya menjadi budak corporat! Enak sekali kamu tau-tau masuk surga!" teriakku pada anak itu. Aku menekan dadanya. Satu siklus. Dua siklus.
Mas Bambang cuma bengong. "Dek... kamu... kamu dokter cilik?"
"DIEM LU BAYWATCH KW! GUE LAGI NYELAMATIN NYAWA!"
Tiba-tiba, anak itu tersentak. HUEK! Dia memuntahkan air kolam (yang untungnya bukan dari kolam anak, jadi rasanya cuma kaporit, bukan pipis). Air muncrat ke wajahku. Aku tidak peduli. Itu air suci kehidupan.
Anak itu terbatuk-batuk hebat. Dia menangis kencang. "HUAAAAAA!" Suara tangis paling indah yang pernah kudengar.
"Bagus... Bagus..." Aku menepuk punggungnya, memosisikan dia miring (recovery position) agar sisa cairan keluar.
Tiba-tiba, sepasang suami istri gemuk berlari menerobos kerumunan. "KEVIN! YA AMPUN KEVIN!" Ibunya langsung memeluk anak itu histeris. "Mama ninggal beli sosis bakar sebentar kok kamu udah mau mati sih Nak?!"
Bapaknya menatapku dengan mata berkaca-kaca. Dia menyalami tanganku erat-erat, mengguncangnya sampai bahuku mau copot. "Makasih Dek! Makasih banyak! Kamu pahlawan! Kalau gak ada Adek, anak saya lewat!"
Aku tersenyum bangga, sambil mengusap sisa muntahan di pipi. "Sama-sama Pak. Untung saya sigap."
"Iya, Dek. Adek pinter banget berenangnya. Kelas berapa Dek? Nanti Om kasih hadiah jajan ya. Mau es krim?"
Senyumku luntur perlahan. Dek? Kelas berapa? Jajan? Aku baru saja melakukan prosedur medis profesional, menyelamatkan nyawa, dan masih dipanggil ADEK?!
"Pak..." suaraku bergetar menahan emosi. "Saya..."
Belum sempat aku klarifikasi, Mas Bambang memotong. Dia berkacak pinggang lagi. Wajahnya merah padam. "HEH! Kamu ini ya!" Dia menunjuk hidungku. "Emang sih kamu nyelamatin nyawa. TAPI KAN UDAH SAYA BILANG! JANGAN LARI-LARI! JANGAN NYEBUR DI KOLAM DALEM! BAHAYA TAU GAK?! Kalo tadi kamu ikut tenggelam gimana?! Siapa yang repot?! SAYA!"
Mas Bambang malah ngomel. Dia tidak berterima kasih. Dia malah memarahiku karena melanggar SOP. "Lain kali dengerin kata orang tua! Untung kamu bisa renang dikit-dikit. Kalo enggak, saya harus ngangkat dua mayat hari ini!"
Aku menatap Mas Bambang dengan tatapan illfeel maksimal. "Mas... Gue..."
Novi dan Arum maju. Mereka tidak tahan lagi. Novi merangkul pundakku (agak nunduk dikit karena aku pendek). "HEH MAS PENJAGA! Jaga mulutnya ya!" bentak Novi. "Temen gue ini bukan anak kecil! Dia bukan dokter cilik! Dia ini DEVI! USIANYA 27 TAHUN! Dia itu Senior Staff Accounting! Dia punya KTP, punya NPWP, punya BPJS Ketenagakerjaan!"
Arum menambahkan sambil menunjukkan HP-nya yang menampilkan foto KTP-ku (yang kebetulan dia simpan buat keperluan booking tiket liburan dulu). "Nih liat! Tanggal lahirnya! 1999! Dia lebih tua dari tampangnya! Dan mungkin lebih tua dari otak Mas yang kayak udang itu!"
Mas Bambang melongo. Dia melihat foto KTP di HP Arum. Lalu melihat wajahku yang basah kuyup dan penuh dendam. Lalu melihat KTP lagi. Mulutnya membentuk huruf 'O' sempurna. "Hah? 27 tahun? Sumpah?"
Orang tua si Kevin (anak yang tenggelam) juga kaget. "Lho? Jadi Mbaknya ini... Tante? Bukan Adek?" tanya si Bapak canggung. "Waduh... Maaf Mbak. Abisnya imut banget sih pake kaos partai gitu."
"INI KAOS OLAHRAGA BRANDED PAK! BUKAN KAOS PARTAI!" teriakku dalam hati.
Mas Bambang menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Wajah sangarnya berubah jadi wajah ayam sayur. "Ehh... Anu... Maaf ya Mbak Devi. Saya kira... Sumpah mirip banget sama keponakan saya yang SD. Habis Mbak pake ban lengen Hello Kitty sih tadi..."
"ITU KAN ELU YANG MAKEIN, BAMBANG!" teriakku akhirnya. Suaraku menggema di seluruh area kolam.
"Iya... iya maaf Mbak. Wah, hebat Mbak Devi. Kecil-kecil cabe rawit ya. Maafin saya ya Mbak." Mas Bambang menjulurkan tangan minta salaman.
Aku menatap tangan itu. Tangan yang tadi menyeretku. Tangan yang tadi memberiku Pop Mie. Aku menghela napas panjang. Capek marah-marah. Aku menjabat tangannya dengan lemas. "Iya Mas. Dimaafin. Tapi lain kali liat mata, jangan liat tinggi badan."
"Siap Mbak! Sebagai permintaan maaf, Mbak Devi boleh deh renang di kolam dewasa sepuasnya! Gratis sewa pelampung bebek!"
Mataku berbinar sedikit. "Beneran? Oke! Minggir! Gue mau gaya kupu-kupu!"
Aku bersiap melompat lagi ke kolam dewasa. Rasanya kemenangan sudah di depan mata. Aku akan menikmati sisa hari ini dengan berenang cantik seperti putri duyung.
Tiba-tiba... PRITTTTT!!! Suara peluit panjang berbunyi dari pengeras suara sentral.
Pengumuman terdengar: "PERHATIAN KEPADA SELURUH PENGUNJUNG. MOHON MAAF, KOLAM UTAMA (DEWASA) DAN KOLAM LATIHAN AKAN KAMI TUTUP SEMENTARA DAN DIKURAS TOTAL."
Semua orang bingung. "Lho kenapa?"
Pengumuman berlanjut: "KARENA TERJADI INSIDEN MUNTAH MASAL DI DALAM KOLAM AKIBAT KORBAN TENGGELAM TADI. DAN TERNYATA KORBAN JUGA SEMPAT BUANG AIR BESAR KARENA PANIK SAAT TENGGELAM. SESUAI PROTOKOL KEBERSIHAN, KOLAM DITUTUP SELAMA 24 JAM UNTUK STERILISASI. TERIMA KASIH."
Aku membeku di bibir kolam. Aku melihat ke air. Benar saja. Di tempat si Kevin tadi tenggelam dan aku selamatkan... ada "benda asing" berwarna kuning kecokelatan yang mengambang dengan damai. Dan air di sekitarnya keruh bekas muntahan.
Dan aku... Aku tadi berenang di situ. Aku menyelam di situ. Aku menelan air situ. Dan muntahan si Kevin tadi muncrat ke mukaku.
Perutku mual seketika. Mas Bambang menepuk pundakku. "Yah... apes Mbak. Tutup kolamnya. Besok lagi ya Mbak. Atau mau ke kolam jamur aja? Bersih lho."
Aku menatap Mas Bambang dengan tatapan kosong. Aku menatap Novi dan Arum yang menahan tawa sambil menutup hidung. Aku menatap Kevin si anak tenggelam yang sekarang lagi makan sosis bakar dengan santai seolah tidak habis mencemari lingkungan.
Hari Minggu ini berakhir. Aku tidak jadi berenang cantik. Aku diseret-seret. Aku dikira bocil. Aku minum air muntahan. Aku berlumuran kaporit dan sisa pencernaan anak orang.
"Ayo pulang," kataku lirih. "Gue mau mandi kembang tujuh rupa. Pake Dettol satu galon."
Kami berjalan keluar dari area kolam. Novi dan Arum masih cantik dan wangi. Aku berjalan gontai, basah kuyup, bau amis, dan hati yang hancur lebur. Di pintu keluar, kasir tiket menyapaku ramah: "Hati-hati di jalan ya Adik Manis! Besok main lagi sama Tante-Tantenya ya!"
Aku tidak menjawab. Aku hanya mengacungkan jempol ke bawah, lalu masuk ke mobil dengan perasaan ngenes yang hakiki.