Disukai
1
Dilihat
70
Diet Hanya Wacana
Komedi

Semua malapetaka ini bermula dari sebuah cermin di lorong mall. Cermin jahanam.

Siang itu, aku dan suamiku Hanif sedang jalan-jalan santai. Aku merasa cantik. Aku merasa langsing. Aku merasa seperti model Vogue yang sedang menyamar jadi rakyat jelata. Sampai akhirnya, aku melihat pantulan diriku di cermin full body milik sebuah toko baju.

"Mas..." panggilku horor.

Hanif yang sedang asyik menjilati es krim cone menoleh. "Ya, Yang? Kenapa? Mau beli baju?"

"Liat itu," tunjukku pada cermin dengan jari gemetar. "Siapa wanita dengan pipi offside yang menyerupai adonan donat ragi berlebih itu?"

Hanif menyipitkan mata. "Itu kamu, Yang. Cantik kok. Gemoy."

Kata "Gemoy" adalah pemicu nuklir. Bagi bayi kucing, "Gemoy" adalah pujian. Bagi istri berusia 20-an akhir, "Gemoy" adalah penghinaan verbal yang setara dengan: "Hei, lemakmu sudah mengambil alih kedaulatan wajahmu."

Aku memegang pipiku. Kenyal. Terlalu kenyal. Kalau dicubit, rasanya tidak mau balik lagi ke bentuk semula. Ini bukan pipi, ini adalah airbag alami.

"Cukup!" seruku dramatis, membuat pengunjung mall lain menoleh. "Mulai detik ini, Mas. Mulai detik ini juga, rumah kita dinyatakan sebagai ZONA BEBAS GULA DAN KARBO."

Hanif tersedak es krimnya. "Hah? Maksudnya?"

"Aku mau diet! Diet Keto Ekstrem Jalur Ninja! Tidak ada nasi putih! Tidak ada mie instan! Tidak ada martabak manis! Kita akan hidup seperti kelinci: Makan sayur, minum air putih, dan berharap umur panjang!"

Hanif menatap es krim di tangannya dengan tatapan perpisahan. "Tapi Yang... aku kan nggak gemuk..."

"Solidaritas suami istri, Mas! Kalau aku menderita makan selada air, kamu juga harus menderita! Lemakku adalah lemakmu. Penderitanku adalah penderitamu. Titik!"

Malam itu, kulkas kami mengalami pembersihan etnis. Semua yang enak-enak kusingkirkan. Cokelat, keripik, mie instan, semuanya kumasukkan ke dalam kantong kresek hitam besar dan kulakban rapat-rapat. Kubuang? Tentu tidak. Sayang duitnya. Kusembunyikan di gudang belakang, di balik tumpukan kardus bekas kipas angin, dengan label: "RACUN MEMATIKAN - JANGAN DISENTUH".

Makan malam pertama kami sangat menyedihkan. Di piring: Brokoli rebus (tanpa garam, karena garam mengikat air), dada ayam rebus (yang rasanya seperti sandal jepit karet), dan segelas air lemon hangat.

Hanif mengunyah dada ayam itu dengan wajah seperti orang yang sedang menjalani hukuman penjara seumur hidup. "Yang... ini ayamnya mati dua kali ya? Sekali disembelih, sekali lagi direbus sampe saripatinya ilang."

"Diam dan kunyah, Mas. Rasakan sehatnya. Rasakan lemak-lemakmu menangis ketakutan."

Aku makan dengan angkuh. Lihatlah aku, batinku. Wanita kuat. Wanita disiplin. Wanita yang akan menjadi Kendall Jenner versi komplek perumahan dalam waktu seminggu.

Tapi aku lupa satu hal. Motivasi diet itu seperti baterai HP bocor. Pagi hari 100%, malam hari langsung drop ke 1% dan mati total.

Pukul 01.30 Dini Hari.

Aku terbangun. Bukan karena mau pipis, bukan karena mimpi buruk. Tapi karena suara perutku sendiri. Kruuuuukk... grolll... blup blup...

Suaranya bukan lagi keroncongan. Itu suara orkestra Death Metal. Lambungku sedang melakukan demonstrasi anarkis menuntut hak asasi karbohidrat.

Aku mencoba memejamkan mata lagi. Tidur, Feby. Tidur. Lapar itu cuma ilusi. Lapar itu cuma godaan setan.

Tapi semakin aku mencoba tidur, semakin otakku memproyeksikan gambar-gambar pornografi kuliner. Aku melihat nasi padang dengan kuah gulai yang kental berenang-renang di plafon kamar. Aku melihat martabak manis keju susu menari balet di atas lemari. Aku melihat mie goreng dengan telur setengah matang melambai-lambai manja di jendela.

"Ya Tuhan..." rintihku. "Aku butuh micin..."

Aku menoleh ke samping. Hanif tidak ada. Kasur di sebelahku kosong.

Kecurigaan instan muncul. Hanif bukan tipe orang yang bangun jam segini untuk sholat Tahajud (maaf ya Mas, tapi fakta). Dia juga bukan tipe yang olahraga malam.

Hidungku kembang kempis. Indra penciumanku yang biasanya standar, malam ini bermutasi menjadi indra penciuman serigala Alpha. Aku menciumnya.

Ada aroma asing yang menyusup lewat celah pintu kamar. Aroma yang sangat spesifik. Aroma bawang goreng. Aroma bumbu minyak sintetik. Aroma surga duniawi.

INDOMIE REBUS AYAM BAWANG.

"Pengkhianat!" desisku.

Mataku terbuka lebar. Pupilku membesar. Rasa kantuk hilang seketika, digantikan oleh naluri berburu. Aku turun dari kasur. Langkahku terseok-seok tapi pasti. Aku bukan lagi Feby si Istri Cantik. Aku adalah Zombie KelaparanBraaainnnssss... no... no... noooodleeesss....

Aku mengikuti jejak aroma itu. Melewati ruang tamu. Aromanya makin kuat. Melewati dapur. Dapur kosong. Aroma itu berasal dari pintu belakang. Pintu Gudang.

"Dasar licik," gumamku. "Dia makan di bunker perlindungan."

Hanif pasti berpikir dia aman. Dia pasti berpikir aku sedang tidur nyenyak memimpikan brokoli. Dia salah besar. Dia sedang membangunkan macan tidur yang sedang PMS dan defisit kalori.

Aku berjalan mengendap-endap tanpa suara. Sampai di depan pintu gudang. Dari dalam, terdengar suara dentingan sendok beradu dengan mangkok. Ting... sruput... ting...

Darahku mendidih. Air liurku membanjir. Tanpa peringatan, tanpa ketukan sopan, aku melakukan aksi penggerebekan ala Densus 88.

BRAKK!!!

Aku menendang pintu gudang (sebenarnya cuma dorong kencang, tapi di kepalaku itu tendangan Spartan).

Di sana, di antara tumpukan kardus bekas dan sapu ijuk, duduklah suamiku, Hanif. Dia duduk di kursi plastik kecil, memangku sebuah mangkok ayam jago legendaris. Di mulutnya, masih menjuntai untaian mie keriting yang belum sempat disedot putus. Uap panas mengepul dari mangkok itu, membawa aroma MSG yang memabukkan.

Hanif membeku. Matanya melotot horor melihatku. Mie di mulutnya jatuh kembali ke mangkok. Plung.

"F-Feby?!" Hanif tergagap. Wajahnya pucat pasi seolah tertangkap basah sedang merakit bom nuklir.

Aku berdiri di ambang pintu. Rambutku acak-acakan kayak singa, dasterku kedodoran, dan mataku menatap mangkok itu dengan tatapan predator.

"Kamu..." suaraku berat dan serak, seperti suara hantu di film The Ring. "Kamu makan Indomie... tanpa aku?"

Hanif menyembunyikan mangkok itu di belakang punggungnya. Gerakan yang sia-sia. "Eng... enggak, Yang! Ini... ini eksperimen sains! Aku lagi ngecek ketahanan mie terhadap suhu ruang gudang!"

"BOHONG!" teriakku. Aku melangkah maju. "Serahkan barang bukti itu! Itu ilegal! Itu barang terlarang di rumah ini!"

"Yang, dengerin dulu! Aku laper! Aku nggak kuat makan ayam rebus tadi sore! Aku butuh tenaga buat mencintai kamu!" Hanif mencoba beralasan, mundur terpojok ke dinding.

Aku semakin dekat. Aroma bumbu itu menusuk hidungku, meruntuhkan benteng pertahanan dietku dalam hitungan detik. Logika dietku lenyap. Yang tersisa hanya nafsu purba.

"Siniin..." pintaku, nadaku berubah dari marah menjadi memelas. "Bagi."

Hanif menggeleng. "Jangan, Yang. Katanya diet. Katanya mau jadi Kendall Jenner. Nanti kamu nyesel. Ini racun, Yang. Biar aku aja yang menanggung racun ini."

"AKU GAK PEDULI KENDALL JENNER! AKU MAU MSG!" Aku menyambar mangkok itu dari tangan Hanif dengan kecepatan tangan pencopet profesional. "Bagi dikit! Dikit aja! Satu suap! Sumpah, abis itu aku tidur lagi!"

Hanif menatapku pasrah. "Janji ya? Cuma satu suap?"

"Janji!" dustaku. Sebuah kebohongan terbesar yang sering diucapkan wanita diet.

Aku memegang mangkok itu. Kehangatannya merambat ke tanganku. Aku mengambil garpu. Suapan pertama. Sluuurrrp.

Ya Tuhan. Langit-langit gudang yang penuh sarang laba-laba itu mendadak terlihat seperti lukisan Sistine Chapel. Rasa gurih, asin, manis, dan pedas meledak di lidahku. Bumbu saktinya menari-nari di reseptor otakku, melepaskan dopamin dalam jumlah masif.

"Enak banget..." desahku, air mata bahagia menetes di sudut mata.

"Udah, Yang? Katanya satu suap?" tanya Hanif, tangannya sudah menengadah minta dikembalikan.

Aku menatap Hanif. Lalu menatap mangkok. Lalu menatap Hanif lagi. Sisi gelapku mengambil alih. "Mas," kataku serius. "Mie ini... sepertinya kurang matang. Berbahaya buat pencernaan kamu. Kamu kan punya riwayat maag (ngarang). Biar aku yang netralisir racunnya."

"Hah? Enggak! Itu matengnya pas! Al dente!" protes Hanif.

"DIAM!" Aku melanjutkan suapan kedua. Ketiga. Keempat. Istilah "satu suap" dalam kamus wanita kelaparan adalah satuan ukur abstrak yang artinya: "Sampai aku merasa cukup atau sampai mienya habis, mana yang lebih dulu terjadi."

Hanif hanya bisa menonton dengan tatapan ngenes. Dia melihat mie jatah tengah malamnya, yang dia masak dengan penuh cinta dan kerahasiaan, berpindah tempat ke dalam perut istrinya yang katanya sedang diet ketat.

Dalam waktu dua menit, mangkok itu bersih. Yang tersisa hanya kuah keruh dan potongan bawang goreng yang nempel di pinggir.

"Aahhh..." Aku bersendawa. Sendawa rasa ayam bawang. Aku menyerahkan mangkok kosong itu kembali ke Hanif. "Nih, Mas. Kuahnya masih ada dikit. Bagus buat hidrasi. Diminum ya, jangan mubazir."

Hanif menatap mangkok kosong itu dengan mata berkaca-kaca. "Kamu... kamu monster, Yang..." bisiknya lirih. "Itu jatah aku... Aku masak pake telor bebek..."

"Ssttt..." Aku menempelkan telunjuk di bibirnya. "Anggap saja ini sedekah. Kamu menyelamatkan istrimu dari kelaparan. Pahalanya gede, Mas. Udah ya, aku ngantuk. Good night."

Aku berjalan keluar gudang dengan perasaan puas dan perut kenyang, meninggalkan suamiku yang sedang meratapi nasib sambil menyeruput sisa kuah di pojokan gudang yang gelap.

Pagi harinya. Rasa bersalah datang menyerang bersamaan dengan sinar matahari. "Aduh, bego banget sih Feby," gerutuku di depan cermin. "Kenapa tadi malem khilaf? Kenapa Indomie itu enak banget?"

Tapi tunggu. Mungkin satu bungkus mie tidak akan berpengaruh banyak. Aku kan sudah puasa karbo dari kemarin siang. Harusnya... harusnya berat badanku turun. Atau setidaknya tetap.

Dengan jantung berdebar, aku mengeluarkan Timbangan Digital dari bawah tempat tidur. Benda keramat penentu suasana hati.

"Ayo, Timbangan Sayang. Jadilah sahabatku hari ini," bisikku sambil mengelus permukaannya.

Aku melepas sandal dan Melepas ikat rambut (siapa tahu ikat rambut beratnya 2 kilo). Aku menahan napas, karena menurut logika absurdku, oksigen di paru-paru itu punya massa.

Aku naik ke atas timbangan dengan satu kaki dulu. Perlahan. Lalu kaki satunya. Angka digital berkedip-kedip. Menghitung... Menghitung...

Dan angka final muncul.

65,8 KG.

Mataku melotot. Kemarin pagi, beratku 65,5 KG. NAIK 3 ONS?! BAGAIMANA BISA?! AKU CUMA MAKAN INDOMIE SATU BUNGKUS?! ITUPUN HASIL RAMPOK!

"RUSAK!" teriakku. "TIMBANGAN INI PASTI RUSAK!"

Hanif masuk ke kamar sambil menguap (matanya bengkak, mungkin efek menangisi mienya semalam). "Kenapa teriak-teriak pagi buta, Yang?"

"Mas! Liat ini!" Aku menunjuk timbangan dengan jari menuduh. "Naik 3 ons! Padahal aku udah menderita seharian kemarin! Ini pasti ada yang salah!"

Hanif menggaruk kepala. "Ya kan semalem kamu makan mie rebus ayam bawang pake telor, Yang..."

"Itu cuma khilaf sesaat! Nggak mungkin langsung jadi lemak instan! Lemak butuh proses inkubasi!" bantahku dengan ilmu biologi ngawur.

Aku turun dari timbangan. Lalu membalik-balik bendanya. Mengguncang-guncangnya. "Ini pasti baterainya mau abis. Atau... lantai ini miring!"

Aku memindahkan timbangan ke sudut kamar lain. Naik lagi. 65,9 KG. "LHO KOK MAKIN NAIK?!"

Hanif mencoba menenangkan. "Yang, berat badan itu fluktuatif. Mungkin itu massa air. Atau mungkin..."

"Atau mungkin kamu!" potongku, menatap Hanif tajam.

"Kok aku lagi?!" Hanif mundur selangkah, trauma kejadian semalam.

"Iya! Kamu!" Aku mendekatinya. "Kamu pasti nularin lemak ke aku lewat udara! Osmosis lemak! Kamu tidur di sebelahku, napas kamu mengandung partikel-partikel kalori dari mie instan itu, terus kehirup sama aku pas tidur!"

"Yang, itu nggak masuk akal secara medis, fisika, maupun agama..."

"DIAM! Ini konspirasi semesta!" Aku mulai mondar-mandir panik. "Atau jangan-jangan... gravitasi di rumah ini meningkat? Iya kan? Mas, kamu ngerasa nggak langkah kaki kamu makin berat? Itu pasti karena tarikan inti bumi di blok perumahan kita lagi anomali!"

Hanif menatapku dengan tatapan iba yang mendalam. Tatapan yang berkata: Istriku sudah gila.

"Yang," kata Hanif lembut. "Sadar, Yang."

"Aku nggak mau sadar! Aku mau kurus!" Aku duduk di tepi kasur, menutup wajah dengan tangan. "Kenapa jadi kurus itu susah banget sih? Padahal jadi gemuk gampang banget. Cukup napas deket tukang gorengan aja langsung naik sekilo. Dunia ini nggak adil, Mas!"

Hanif duduk di sebelahku. Dia merangkul bahuku. "Yang, dengerin aku. Kamu tuh cantik mau berat berapapun. Pipi chubby kamu itu aset. Tanda kemakmuran dan kebahagiaan rumah tangga."

"Bohong. Itu tanda kebanyakan tepung," isakku.

"Udah, jangan siksa diri sendiri. Diet boleh, tapi jangan sampe jadi zombie kayak semalem. Aku takut, Yang. Sumpah. Semalem mata kamu nyala warna merah pas ngerebut mangkok aku."

Aku menatap Hanif. Wajahnya tulus. Dan ada sedikit sisa belek di matanya yang membuatnya terlihat lucu.

"Mas..."

"Ya?"

"Aku laper."

Hanif tertawa. "Yaudah, mau sarapan apa? Bubur ayam? Nasi uduk?"

Aku berpikir sejenak. Menimbang-nimbang dosa dan pahala. Lalu aku teringat angka 65,8 kg itu. Ah, persetan. Sudah terlanjur naik. Sekalian saja digenapin jadi 66 kg biar angkanya cantik. Besok saja diet lagi. Besok kan hari Senin. Hari yang tepat untuk memulai segala wacana.

"Nasi uduk, Mas," jawabku mantap. "Pake semur jengkol. Gorengan dua. Kerupuknya yang banyak."

"Siap, Yang! Dietnya gimana?"

"Dietnya kita revisi jadi Diet Intermittent Fasting."

"Mulai kapan?"

"Mulai nanti malem pas tidur. Selama tidur kan aku nggak makan, itu namanya puasa."

Hanif menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum. "Terserah kamu deh, Ratu Wacana. Yang penting kamu nggak makan jatah mie aku lagi."

Aku tersenyum lebar. Pipi bakpao ini mungkin akan bertahan sedikit lebih lama. Tapi setidaknya, pagi ini aku bahagia. Dan bahagia itu bikin awet muda, kan?

Diet bisa menunggu. Tapi Nasi Uduk Mpok Sum di depan komplek bisa kehabisan kalau tidak segera diserbu.

Epilog: Malam harinya, aku melihat Hanif mengendap-endap lagi ke gudang. Kali ini, aku membiarkannya. Bukan karena aku baik hati. Tapi karena di bawah bantalku, aku sudah menyembunyikan dua batang coklat Chunky Bar yang kuselamatkan dari "pembersihan" kemarin. Musuh dalam selimut sesungguhnya bukanlah suami, tapi coklat yang tidak bisa menolak untuk dimakan.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Komedi
Rekomendasi