WARNA RAMADAN

Hilal tampak dipenghujung ruwah. Mengucap syukur hamba kembali merebah. Tarawih hendak ditegakkan kembali. Terbuka gerbang limpahan pahala nan suci. Makhluk api dikurung tanpa ampun, katanya! Namun, masih tampak umat adam menjelma gantikan mereka. Ya, terlihat duduk manis dikala senja. Bersama makhluk yang disebut doi, katanya! Sambil meneguk segelas cendol dan gula aren. Si pria dikirim berlagak sok keren. Mengunyah pempek sembari wira wiri. Ada pula yang bermain asap tembakau dalam angkot jurusan Plaju-Ampera. Beliau lelaki gagah berotot. Tato pekat gambar naga menempel di pundak.

Malu? tidak, mereka tidak malu bahkan bangga. Perempuan beralasan:

"Lagi PMS jadi berhalang!"

 Lelaki beralasan:

"Aku lelah bekerja banting tulang"

Hei anak adam!

Masa bodo dengan alasan.

Tuhan beri kewajiban bukan untuk menyiksa badan bukan? Satu-satunya alasan adalah bukan karena tidak mampu,tapi tidak mau! Jangan kotori Ramadan nan putih bersih saudariku…

Mulailah, biasakanlah, dan segera bersembajh pada yang maha kuasa...

"Karena Allah tak membebani hamba, kecuali menurut kemampuannya"

Q.S. Al-baqarah 286

 

Palembang,

17 Sya'ban 1442 Hijriyah

13 disukai 1 komentar 11K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
rabiul akhir, senin mulai jumadil ula, terus jumadil akhir, rajab, syaban, sekitar empat bulan lagi menuju ramadhan. oh Allah beri kami umur sampai ke sana.
Saran Flash Fiction