Disukai
1
Dilihat
20
Tumbuh dengan caraku
Slice of Life
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

“Seumpama padi, manusia juga perlu waktu untuk tumbuh.”

Dikala mentari belum sepenuhnya naik, dentingan ujung cangkul mulai beradu, mengeruk tanah basah. Suaranya terdengar dari segala penjuru desa. Pagi ini kusiapkan segala piranti untuk bersekolah di setiap bahu jalan mataku dimanjakan oleh indahnya danau kecil, dan bukit-bukit yang menjulang di setiap sisinya. hal itulah yang membuat desaku tak kalah eksotis dengan danau five flower lake Tiongkok.

Benar memang aku hanya seorang anak desa, yang harusnya membajak ladang, dan juga membabat rumput, bukan malah bergelut dengan pena dan buku.

Apakah ini sebuah kesalahan?. Tak layakkah aku tumbuh dengan caraku sendiri?. Aku memang lahir dari tanah ini, tetapi bukan berarti aku harus berhenti bermimpi, aku ingin memberi harapan baru, bukan meninggalkan asal usulku.

Bahwasannya orang sepertiku tak hanya mampu menanamkan benih di sepetak ladang, melainkan juga mampu, menanam harapan dengan ilmu, tanah sempit itu bisa tumbuh menjadi masa depan yang luas di masa yang akan datang.

Di desaku semua orang muda, bahkan hingga anak-anak semua sudah dibiasakan untuk melakukan pekerjaan apapun itu yang berhubungan dengan cangkul dan juga dan alat pembajak, dan hal itu membuat ayahku sedikit gusar ketika melihatku berbeda dengan mereka.

Karna sejak kecil jiwaku lebih tertarik untuk memegang pena, dan membaca buku-buku. Daripada memegang semua alat itu. Ayahku pernah berkata:

“Nak semua hal itu tak berguna, mending kamu cari rumput dan buat kenyang sapi-sapimu itu.”

Tapi menurutku semua hal itu salah. Apakah tujuan kita hanyalah sekadar mengenyangkan hewan peliharaan saja?.

Aku tak mengerti yang ayah pikirkan, apa salahnya kalau aku berbeda?

***

Hari demi hari telah berlalu dengan harapan yang selalu sama, yaitu berhasil dengan cara yang berbeda, Pagi ini kuawali dengan membersihkan badanku lalu disambung dengan mengemasi barang untuk segera ke sekolah, tak lupa aku berpamitan kepada kedua orang tuaku, hal itu seperti menyambung harapan baru untukku.

“buk, yah bayu berangkat dulu ya.”

“Ya, bay yang hati-hati loh dijalan.” balas ibuku sembari mengucek baju.

pada saat itu ayahku seperti tidak terlihat dimana wujudnya, pikirku mungkin sudah berangkat ke ladang, untuk menyirami semua tanamannya, selepas berpamitan pada ibu, kakiku langsung melangkah menuju motor kesayanganku, perjalanan kunikmati dengan pemandangan desa yang mengagumkan, setiap sisi jalan dihiasi oleh hijaunya pepohonan yang rindang.

Dimeriahkan juga dengan sapaan, warga desa yang memberikan senyuman setiap kali ada orang yang berlalu lalang dibumbui dengan basa basi yang yang klise.

“Berangkat bay?.” Seruan bu darmi, dari kejauhan.

“Iya bu, monggo.”

“oalah iya le, hati-hati bawa motornya.”

Begitulah tradisi yang jarang ditemukan di kota-kota besar, keramahan yang selalu bersemi dengan indah. Setelah menyusuri setiap gang sempit dan jalan yang berlubang, sampailah aku di sekolah aku pun langsung meletakkan motorku di tempat parkir dan segera menuju kelas.

Ditengah perjalanan diriku dibuat kebingungan oleh gerombolan siswa didepan mading. mungkin kah ada berita penting yang disampaikan?.

“Ada apa ya, itu kok tumben rame banget di depan mading.”

“Coba kesana lah mungkin aja berita penting.”

aku dekatilah mading untuk melihat info yang mungkin saja penting untuk diketahui, secarik poster tertempel di mading yang bertuliskan:

“PENGUMUMAN OLIMPIADE SAINS NASIONAL, DAFTARKAN DIRIMU SEKARANG!!!.”

Sesudah aku melihat apa yang tertulis di mading hatiku seakan dihujani rasa bahagia, sepertinya inilah caraku untuk membuktikan pada ayahku bahwa jalan yang kupilih adalah jalan yang tepat.

***

Walau ku tahu setelah aku mengikuti kompetisi ini, entah menang ataupun kalah aku akan tetap kembali ke rumahku yang lama yaitu ladang ayah, dan apapun hasilnya semoga semua hal ini bisa perlahan memupuk harapan yang selalu kulayangkan kepadamu semesta.

Sedetik kemudian ditengah desir angin yang berhembus, langkah kakiku menuntunku ke ruang guru.

“Walau berat akan ku perjuangkan semuanya, restuilah langkahku tuhan.”

sesampainya di ruang guru langsunglah kutemui guru tujuanku.

“Pak Ardi mohon maaf mengganggu waktunya.”

“Loh tumben bay, ada apa loh kayaknya penting banget.” Sahut pak Ardi.

“Jadi begini pak, saya baru saja melihat info dari mading sekolah. Katanya dalam waktu dekat ini bakal ada olimpiade ya pak.”

“Oh iya bay, baguslah kalau kamu sudah tahu. Rencananya bapak ingin mengajukan kamu menjadi peserta apakah kamu mau bay?.”

“Kalau misal mau kamu langsung isi biodata diri ya bay.”

“tapi untuk lomba kali ini pastinya akan memakan banyak waktu untuk persiapan, bapak tahu kamu pasti sibuk mengurus sawah, jadi apakah kamu berkenan untuk ikut?.”

“Ya, pak saya ikut. Tentang masalah itu saya yang akan mengatur.”

“Oke bay isi biodata ini ya.”

“pesan bapak untukmu nak.”

“ingat nak tidak ada satupun manusia diciptakan oleh tuhan, tanpa memiliki tujuan, semua pasti mempunyai tujuan dan hal itu telah ditetapkan. Berjalanlah sesuai apa yang kau yakini nak.”

“Satu hal lagi bay, senantiasalah berdoa kepada-nya setidaknya kita tidak merasa sendirian ketika dunia tidak berpihak pada kita.”

“Petiklah harimu, nak.”

Pertemuan dan dialog hangat dari guruku itulah yang turut serta membentuk semangat di dalam ragaku yang terkadang redup oleh kondisi yang tidak diinginkan. Setelah semua masalah teratasi walau belum sepenuhnya, kembali kulanjutkan kisahku, aku segera bergegas ke kelas. Untuk mendapatkan pelajaran baru.

‘’KRINGG’’ menit demi menit telah berlalu, waktu pun terasa cepat sekali berputar sudah saatnya masa pengembaraan di sekolah ini terhenti sejenak, dan pulang adalah tujuan selanjutnya yang perlu dicapai. Aku segera beranjak dari kelas dan keluar untuk mengambil motorku yang terparkir rapi di belakang gedung sekolah, kendaraan tua ini pun akhirnya nyala juga.

Beberapa tikungan terlewati dengan aman tanpa adanya hambatan, sampailah aku di rumah disana aku melihat ibu yang menyiapkan makan siang, lalu ayah yang sedang sibuk mengaduk pupuk.

“Le bay, sudah pulang to?.” sambutan ibuku cemerlang

“Iyo buk, masak apa hari sampean bu?.”

“Wangi banget aromanya buk, sampai kecium dari luar loh.”

“Oalah, hari ini ibu masak makanan kesukaanmu bay tumis kangkung udah sana ganti baju habis itu ambil nasi, jangan lupa mandi dulu ya!!.”

“Siap kanjeng ratu!!.”

perintah dari sang ibu sudah dikumandangkan, dan tentunya harus segera dilaksanakan masuklah aku ke kamar mandi, kumulai dengan menghidupkan kran setelah kran mengalir deras, dan genangan terbentuk olehnya, aku pun menguyurkannya ke seluruh tubuhku, ketika air mulai mengalir di sela-sela badanku rasanya beban ikut luruh dan segalanya terasa segar.

Gemercik piring dan cawan sudah terdengar dari kejauhan pertanda ibuku segera menyiapkan hidangan yang lezat untuk dimakan dan bermakna untuk dirasakan.

“Ayo le cepat kesini!!, kita makan bareng.” Ujar ibuku sembari melukiskan senyum.

“Iya buk sebentar, biarkan lah ku rapikan rambutku dahulu.”

Sesudah aku selesai dengan urusan rambutku, kemudian lekaslah kupenuhi panggilan ibuku untuk sesegera mungkin merapat di meja makan. semerbak khas, mulai tercium setiap sejengkal langkah yang kulewati menuju dapur.

“Sini cah ganteng duduk, itu piringmu ambil sendiri ya nasinya!!.”

“Ambilkan juga untuk ayahmu!!, jangan lupa doa dulu.”

“Ingatkan, berdoa sebelum makan, adalah bentuk rasa syukur kita kepada. Tuhan dan semesta karena ia sudah menyediakan semuanya untuk kita makan.”

“Iya ibuku sayang, kapan makannya ini cacing pita yang ada di perutku sudah meminta haknya nih buk hehehe.”

“Ya sudah sana cepat makan!!, ini tambah nasinya biar cepet gede.’’

Kehangatan inilah yang menjadi alasanku untuk berhasil dengan apa yang kuyakini, aku tak ingin apabila aku hanya menjadi seorang yang berkutat pada urusan cangkul-mencangkul, memang itu tak buruk, tapi menurutku ada yang lebih dari itu. kelak ketika semua impianku telah dituliskan oleh tuhan kuharap untaian senyum ayah dan ibuku juga menjadi bagiannya.

Usai sudah, momen bersantap kami sekeluarga kegiatan selanjutnya adalah mencuci semua piring yang kotor, di sela-sela kesibukan tersebut bapakku tiba-tiba berkata, dengan nada yang sedikit tinggi

“Bay, nanti ikut bapak ke ladang bentar!!.”

“Sebentar lagi musim panen, bantu bapak memilah buah-buah yang bagus untuk dipanen”

Aku hanya bisa terdiam, tak berani menanggapi ajakan ayahku kala itu, bimbang rasanya karena sebenarnya aku ingin belajar untuk mempersiapkan perlombaan ku. Tak bisa begini aku harus jujur pada ayah tentang hal ini semoga saja ayah bisa memahami hal ini.

“Iya, yah siap.”

“Karung di belakang luweng itu jangan lupa kamu bawa!!”

“Nggeh yah, bentar tak ambil dulu ya.”

Beratapkan langit yang meremang jingga kami melangkah kaki menuju ladang, waktu itu aku melihat beragam wajah yang berlalu lalang disusul juga oleh kicauan burung kenari yang saling bersahutan di dahan-dahan pohon yang rindang.

Sampailah kami di ladang, aku ditugaskan untuk memilah buah mana yang tak layak panen, sedangkan ayahku yang memangkas rumput yang mulai lebat.

“Bayu, anakku ayah berharap padamu suatu saat kaulah yang merawat ladang peninggalan leluhurmu ini.”

“Aku tak bisa janji yah, aku mau bicara jujur pada ayah. Sebentar lagi aku akan mengikuti perlombaan sains tingkat nasional, dan apabila aku berhasil menang dalam perlombaan itu.”

“Ayah harus siap menerima takdir bahwa jalanku tidak diladang ini, jadi izinkan aku memilih jalanku yah.”

“Bayu harap, ayah bisa mengerti ini semua bayu lakukan demi ayah dan juga ibu.”

“Restuilah jalan anakmu ini yah.”

“Bayu sayang ayah.”

mengalirlah air mataku di depan ayahku sendiri, aku bingung apakah aku harus merasa malu atau bangga karena aku sudah berbicara jujur tentang perasaanku. termangulah ayahku dan sotak memelukku seraya berkata.

“Bayu sudah jangan menangis hapus air matamu, ayah paham, ayah percaya padamu ayah restui jalanmu nak. Gapailah citamu itu.”

“Terimakasih ya yah, bayu janji bayu gak akan mengecewakan ayah”

“Iya bay, seng wes yowes, maafkan ayah juga ya bay, karena selama ini ayah memaksamu untuk berjalan di jalan yang bukan kemauanmu.”

Sebulan sudah setelah peristiwa, itu berlalu ayahku kini berubah ia mulai memahami setiap langkahku, dan hari ini adalah hari dimana, penentuan menang atau tidaknya diriku di perlombaan sains nasional ayah dan ibu nampak tak sabar juga menunggu hasilnya.

Setelah setengah jam kami menunggu kedatangan pak Ardi untuk menyampaikan hasil dari perlombaan ku akhirnya ia datang juga setelah kuterima surat itu dari pak Ardi segeralah kubuka dan di dalam surat itu tertulis:

SELAMAT ATAS KEMENANGANNYA

OLIMPIADE SAINS NASIONAL

BAYU PRADANA

BIDANG: GEOGRAFI

JUARA 2

“Ayah bayu berhasil juara 2

lihat ini.”

“Selamat ya anakku, segala pengharapanmu telah tercapai semoga ini menjadi awal dari panjangnya jalan yang akan kau lewati.”

“Tradisi memang harus dirawat dan dilestarikan, namun tidak dengan cara mengubur mimpi-mimpi generasi yang akan datang, biarlah mereka melestarikan tradisi tersebut dengan cara mereka sendiri.”

-Bayu pradana

TAMAT

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Rekomendasi