Hari Minggu itu datang tanpa permisi, membawa gelombang riak yang perlahan berubah menjadi badai kecil di dalam rumah. Bagi sebagian orang, hari Minggu adalah jeda—ruang napas di antara himpitan rutinitas mingguan. Namun bagiku, hari itu menjelma menjadi panggung ujian tempat alam semesta seolah-olah sepakat untuk melimpahkan seluruh beban ke pundakku secara bersamaan. Dan bagian paling melelahkan dari semua ini bukanlah tumpukan tugasnya, melainkan kenyataan bahwa tidak ada satu pun orang di sekitarku yang benar-benar memahami apa yang sedang terjadi di dalam kepalaku.
Ketika aku mencoba mengalirkan kelelahan ini, tanggapan yang kuterima hanyalah kalimat-kalimat pembanding yang hambar. "Gitu doang, aku tuh lebih berat dibanding kamu. Hidup tuh dibawa santai aja! Emang gitu sih kalau udah dewasa, wajar..." Sebuah kalimat penyederhanaan yang alih-alih menenangkan, justru makin mengaburkan rasa lelah yang nyata. Beruntung, masih ada satu dua suara yang memilih untuk berempati tanpa meremehkan: "Semangat yaaa, kamu pasti bisa! Hari ini akan dilalui dengan cepat kok. Ga apa-apa kalau kamu marah atau kesal hari ini, manusia berhak kok." Kata-kata sederhana inilah yang menjadi satu-satunya jangkar penenang, menahanku agar tidak sepenuhnya tenggelam dalam amarah.
Sebelum cerita ini berjalan lebih jauh, perkenalkan, namaku Airo. Saat ini aku adalah seorang mahasiswa semester tiga yang sedang menempuh pendidikan di bidang keperawatan dan medis melalui jalur beasiswa pemerintah. Menjaga standar akademis di tengah tuntutan jurusan medis tentu bukan perkara main-main. Namun, hari Minggu lalu benar-benar menguras seluruh energiku hingga berada di titik drain out. Dari terbitnya surya di ufuk timur hingga munculnya dewi luna di malam hari, seolah tidak ada celah bagiku untuk sekadar bernapas lega.
Segalanya dimulai sejak pagi hari. Sebagai perwakilan dari rumah, aku keluar untuk mengikuti kegiatan kerja bakti lingkungan. Namun, saat aku melangkah ke lokasi, tidak ada satu pun batang hidung tetangga yang kelihatan. Kondisi lapangan sunyi senyap. Meskipun sempat tertegun dan tersenyum kecut, aku tetap berinisiatif memegang sapu dan memulai pekerjaan sendirian. Barulah ketika Ketua RT muncul, warga lain satu per satu mulai berdatangan. Lucunya, mayoritas dari mereka tampak hadir bukan karena dorongan kepedulian lingkungan, melainkan sekadar menunggu pembagian sarapan gratis.
Di tengah situasi itu, dinamika keluargaku mulai menambah beban emosi. Adiku yang pertama, yang sejak awal menemaniku keluar, mendadak masuk kembali ke rumah tanpa alasan yang jelas. Sementara adikku yang satunya lagi justru sibuk mengurus rencananya untuk pergi berlibur ke pantai bersama teman-temannya—padahal keesokan harinya adalah hari kerja dan hari kuliah. Pada titik ini, kejengkolanku masih berada dalam batas toleransi. Aku masih mampu mengurut dada dan memaklumi.
Namun, ambang batas kesabaranku benar-benar retak ketika sore menjelang maghrib. Teman-teman adikku yang baru pulang dari pantai tiba-tiba datang bertamu dan berkumpul di rumah. Di saat yang sama, kondisi ayahku sedang sakit-sakitan, dan lampu utama di ruang tengah mendadak padam total. Dalam situasi yang kurang nyaman itu, ayah menyuruhku mengambil lampu dari teras untuk menggantikan sementara lampu ruang tengah yang mati.
Awalnya, aku ragu dan sempat menolak. Bukannya aku tega atau tidak peduli pada kenyamanan rumah, tetapi hari Minggu adalah satu-satunya benteng pertahananku. Aku memiliki prinsip yang sangat kupegang teguh: hari Minggu adalah hari tenang, ruang di mana aku membebaskan diri dari gangguan manusia dalam bentuk apa pun untuk fokus menyelesaikan tanggung jawabku. Hari itu, jadwal kerjaku sudah sangat padat—mulai dari menulis AU (Alternate Universe), cerpen, mengurus kampanye volunteer TM, kampanye journalling, hingga mempersiapkan semua kebutuhan kuliah medis untuk esok hari.
Ketika aku memilih diam dan menolak perintah tersebut, tanggapan yang kudapatkan dari ayah sungguh menyayat hati. Beliau mengataiku dan mengejekku dengan nada merendahkan, seolah-olah aku adalah anak yang tidak berguna dan tidak bisa melakukan hal sepele. Rasanya saat itu juga aku ingin menyumpal mulutnya dengan kertas. Mereka semua tidak pernah mau tahu betapa sibuknya kepalaku, betapa banyaknya hal yang sedang kuupayakan. Mereka hanya mementingkan kenyamanan mereka sendiri. Egois—ya, for real. Ini bukan berarti aku berniat menjadi anak durhaka, tetapi aku sudah sampai pada titik muak dengan lontaran kata-kata tajam yang penuh dengan ejekan dan kebencian. Beliau selalu tampak lebih percaya dan menghargai orang luar dibandingkan anak kandungnya sendiri. Hal inilah yang membuatku lambat laun memilih menjadi pribadi yang apatis saat berada di dalam rumah.
Setelah ketegangan itu, azan maghrib pun berkumandang. Namun, teman-teman adikku masih saja nongkrong di rumah tanpa ada tanda-tanda akan pulang. "Duh, ini anak-anak apa bodoh atau emang gak paham tata waktu sih?" bisikku dalam hati, makin jengkel. Tak lama kemudian, adikku membeli bakso murah seharga sepuluh ribuan untuk dirinya dan teman-temannya. Dan tebak? Aku sama sekali tidak dibelikan. Entah mengapa, di lingkungan sekitar sering ada stigma tidak tertulis bahwa perempuan selalu dilayani dan diberi, sementara laki-laki harus selalu mengusahakan semuanya sendiri. Kadang konsep itu terasa adil, tetapi di saat-saat melelahkan seperti ini, hal itu terasa sangat menyebalkan.
Belum sempat emosiku mereda, adikku yang lain tiba-tiba meminta diantar ke sebuah kafe yang lokasinya berada di jalur lalu lintas yang sangat padat. Aku jelas menolaknya. Namun, menolak di rumah ini artinya harus siap mendengarkan omelan bergelombang tinggi bak pengeras suara berdaya 120 MHz. Demi menghindari bentrokan yang lebih panjang, dengan berat hati aku menuruti permintaannya.
Saat melepaskannya di kafe, aku sangat berharap dia sadar waktu dan pulang sebelum pukul enam sore. Namun harapanku pupus ketika dia baru memberi kabar untuk dijemput pada pukul tujuh malam. Kejengkelanku membumbung tinggi. Aku memacu sepeda motor dengan kecepatan penuh (full speed ahead), sesekali melakukan rem mendadak yang cukup membahayakan di jalanan. "Kenapa sih ga ada yang ngertiin aku?? Aku capeee... Masa cowok harus begini begitu terus?? Ga adil banget ya Allah," gerutuku di balik helm sepanjang jalan pulang.
Sesampainya di rumah, pertahananku runtuh. Seluruh kata-kata kekesalan yang kupendam seharian langsung kumuntahkan di depan mereka semua. Suasana seketika menjadi hening; mayoritas anggota keluarga hanya diam membatu melihat kemarahanku. Aku ingin sekali memaki dan melempar sumpah serapah, tetapi lidahku mendadak kelu. Dalam momen itu, aku merasakan konflik batin yang teramat sangat, seolah ada dua kepribadian yang sedang bertabrakan di dalam diriku. Sisi pertama adalah sosok yang sangat marah dan ingin menghancurkan segalanya, sementara sisi lainnya adalah sosok yang lembut dan selalu menahan diri. Pertentangan dua sisi ini membuat kepalaku pusing luar biasa, hingga akhirnya aku merasa menangis jauh lebih baik daripada harus meluapkan amarah yang merusak.
Malam itu berakhir dengan rasa lelah yang membekas mendalam. Seolah sejak pagi surya telah menghajarku dengan teriknya yang membakar, dan kini dewi luna menangis haru menyaksikan kehancuranku di sudut kamar. Pada akhirnya, manusia yang paling diam pun sebenarnya hanya ingin dimengerti. Sekali-kali, cobalah untuk mengalah dan menurunkan ego. Sebab, tidak semua orang memiliki kapasitas yang sama untuk terus-menerus memaklumi.