Disukai
1
Dilihat
1116
Empat Babak Menuju Kenyamanan
Slice of Life

Babak Satu : Bapak yang Berjanji, Bapak yang Bingung

Bapak Baik Hati Berkacamata menjeda kalimatnya, merapikan kembali posisi duduknya yang melorot.

“Saya mau Mbak yang di sini nanti, bersama kami. Bagian keuangan dan akuntansi di sini cuma dua orang, Mbak. Saya, selaku manajer keuangan dan akuntansi, kemudian asisten, ya staf di sini, yang saya harap itu Mbak.”

Kweni menghadapkan wajahnya pada Bapak Baik Hati Berkacamata. Tetapi, kedua bola matanya berkeliling memeriksa ruangan. Matanya melirik air conditioner yang terasa sangat dingin, suara anginnya ikut terdengar jelas. Ada sofa panjang dengan meja untuk menerima tamu. Ada kursi empuk dengan sandaran miring, yang menurut Kweni lebih cocok untuk lesehan. Kursi empuk itu berada di atas kaki-kaki besi yang pendek, berwarna abu-abu arang, berkotak-kotak macam roti sobek. Kweni tidak tahu bagaimana menyebutnya, bagaimana kalau suatu hari dia ingin membeli kursi itu? “Ada kursi lesehan kotak-kotak kayak roti sobek? Kok, panjang ya. Ada kursi lesehan sobek? Bukan dong.” Pikiran isengnya melarutkan omongan Bapak Baik Hati Berkacamata. Hampir saja dia lupa apa yang beliau sampaikan.

“Untuk perusahaan yang cukup besar ini, bagian keuangannya hanya berdua, Pak?” tanya Kweni setelah yakin bahwa dia tidak salah dengar.

“Benar. Dulu ada beberapa, tapi kemudian kami pangkas karena tidak efisien,” ujarnya dengan senyuman dan ketenangan.

Kweni mengangguk kecil. Lelaki itu tampak berwibawa, jujur, serta hangat. Suaranya tidak berat, intonasi tutur katanya lebih banyak menurun pun tak terlalu buru-buru diucapkan. Itulah mengapa dengan cepat pikiran Kweni menyebutnya Bapak Baik Hati, meski beliau punya nama. Penampilan beliau mencirikan akuntan sebagaimana jamak mengira, berkemeja kotak-kotak lengan panjang yang di kancing hingga ujung lengan, sedang kancing menuju leher hanya disisakan satu, celananya kain dengan ikat pinggang yang ditampakkan, rambut berubannya berbelah samping nan lurus, dan yah beliau berkacamata. Kweni memprediksi usianya menjelang lima puluh atau memasuki periode awal lima puluhan.

Bapak Baik Hati Berkacamata itu menawarkan kudapan kepada Kweni. Lagi-lagi Kweni mengangguk ringan. Tadi dia sudah makan di luar.

Di luar. Di luar ruangan ini.

Bapak Baik Hati Berkacamata berdiri, pergi ke ujung ruangan dan mengambil beberapa berkas. Kweni mulai mengerutkan kening. Rupanya Bapak itu ingin menguraikan deskripsi pekerjaan di divisi yang dia tangani. Selagi menerangkan pekerjaan, penjelasannya juga beralih pada situasi dan keadaan ruangan, mengapa sofa itu ada di sana, apa saja yang ada dalam filling cabinet, juga isi laci-laci yang ada pada meja, di mana posisi yang tepat untuk makan bakso dalam ruangan itu, juga bagaimana asal mula perusahaan itu berdiri ketika memang ada foto perusahaan bernuansa vintage di dalam ruangan.

“Nanti komputer Mbak yang ini.” Bapak Baik Hati Berkacamata menunjuk PC yang terdekat darinya.

Kweni gelisah, tetapi berhasil hanya menunjukkan senyumannya. 

“Saya harap kita jadi tim yang solid nanti,” ucap Bapak itu.

Kweni merasa ini tidak benar. Atau ini benar? Ini kan yang diinginkan para pelamar? Pikiran Kweni berputar.

“Kalau Mbak tidak bisa, tidak apa-apa, nanti saya ajari semuanya. Kalau Mbak tidak suka suasana ruangannya, kita bisa ganti.”

Itu terlalu berlebihan. Kweni ingin sekali menyanggahnya.

“Kursi yang ini khusus untuk Mbak kerja, dan foldable couch yang abu-abu di sana pakai saja kalau kelelahan, tidak masalah. Memang tujuannya dipakai buat rileks,” lanjutnya.

Oala itu bisa dilipat toh, ucap Kweni dalam hati. 

“Ya, saya maunya Mbak yang kerja di sini. Bukan pelamar satunya.”

Kalimat yang Kweni khawatirkan ternyata bisa keluar juga.

“Saya pimpinan di divisi ini. Saya punya hak menentukan siapa bawahan saya. Jadi, walau tes belum berakhir, saya menjanjikan pekerjaan dan ruangan di sini untuk Mbak,” ucap Bapak Baik Hati Berkacamata dengan amat tenang.

Kweni menghela napas. Tatapannya beralih ke jendela yang berwarna gelap. Dia bisa melihat orang-orang di luar, tetapi mereka tidak. Tidak ada yang tahu ketika Bapak Baik Hati Berkacamata memintanya untuk masuk ruangan itu. Pun tidak ada yang tahu bahwa si Bapak telah menjanjikan sesuatu yang belum dapat dipastikan orang-orang di luar.

Kweni duduk di atas rerumputan menghadap pagar. Lututnya sedikit dipeluk. Dia berusaha mencerna perasaannya. Tidak bisa disebut senang, tak jua berduka. Dua orang pelamar keluar dari ruangan, dan mulai bercakap-cakap satu sama lain. Dua orang lagi masuk untuk melakukan tes wawancara. Setelah semua selesai, barulah mereka semua bisa berkenalan dengan pimpinan dan dewan direksi perusahaan. Semula Kweni mengira panggilan Bapak Baik Hati Berkacamata adalah tes wawancara yang terpisah. Tetapi, itu bukan wawancara.

Dua bulan lalu Kweni mendapat panggilan dari perusahaan ini untuk mengikuti tes perdana. Kweni menjadi bagian dari enam puluh lima pelamar yang tersaring pada tahap awal dari sebanyak total seratus enam pencari kerja yang melayangkan lamaran di saat perusahaan ini secara resmi membuka lowongan pekerjaan. Begitulah yang tertulis di kolom surat kabar. Rupanya ada banyak kawan-kawan Kweni yang mengikuti tes awal pada hari itu. Kemudian dua minggu berlalu. Kweni mendapat panggilan lagi untuk melakukan tes kedua. Tiga puluh orang hadir pada tes kedua, termasuk kawannya Dian. Kweni tidak banyak berharap setelah itu. Namun, lagi-lagi Kweni mendapat panggilan untuk melakukan tes ketiga alias tes terakhir, tes yang menyisakan dua belas orang saling bersaing.

Dua belas manusia itu dibutuhkan untuk empat divisi. Khusus divisi keuangan hanya membutuhkan satu orang saja dari dua pelamar. Dua pelamar untuk divisi keuangan yang berhasil maju hingga tahap akhir itu adalah Kweni dan kawannya, Dian.

“Hei. Ke mana tadi? Sudah makan?” tanya Dian.

Kweni tidak bisa bilang di mana dia sebelumnya, jadi dia hanya menjawab pertanyaan kedua, tanpa mengalihkan pandangannya dari deretan pagar. Dian ikut duduk di rerumputan.

“Aku nggak nyangka bisa sampai tes terakhir ini, sama kamu lagi,” kata Dian.

Kweni mengangguk pelan. Dia juga tidak menyangka dipaksa keadaan bersaing dengan temannya sendiri.

“Masih satu minggu lagi pengumuman hasil resminya. Tapi aku harap kamu nggak apa-apa kan kalau nggak diterima di sini?” tanya Dian.

Kweni segera melirik Dian atas pertanyaan yang membuatnya ingin bertanya balik.

“Aku benar-benar butuh pekerjaan di sini. Jangan kamu. Kamu nggak punya kehidupan yang aku punya. Kamu masih bisa cari di tempat lain,” ujar Dian mengagetkan.

Kweni tidak menyangka akan mendengar kalimat semacam itu dari Dian. Kweni juga ingin bekerja di perusahaan ini, makanya dia melamar. Memang bukan perusahaan multinasional, melainkan usaha lokal yang terpandang baik di kota. Sehingga jika menyebut di mana dia bekerja, keluarganya pasti akan terkesima, walau bukan itu tujuan utamanya.

“Aku tinggal sama bapak, kakak, juga adik. Semuanya laki-laki. Bapakku sakit-sakitan, jadi aku sama kakak yang harus kerja. Masalahnya kakakku punya banyak utang yang kalau Bapak tahu jumlahnya bisa sesak napas. Jadi aku harus ikut bantu kakak lunasi utangnya. Toh, dia utang buat Bapak dan kuliahku. Kalau nggak bisa bayar, dia dipenjara. Udah berapa kali aku dimaki-maki penagihnya, sampai capek bohong terus. Adekku sering main game, tapi aku nggak tahu duitnya dari mana. Kalau ditanya, dia bilang diajak teman. Umurnya sepuluh tahun, aku takut kalau dia nggak mau sekolah, takut kalau dia dapat pengaruh negatif,” papar Dian.

Kweni menaikkan alisnya, tercengang dengan informasi yang datang tanpa diminta.

“Makanya aku sangat berharap pekerjaan ini, biar bisa ngurus adekku sendiri. Selama ini dia ikut temannya ke sekolah, pulang ke rumah teman, baru magrib bisa pulang ke rumah. Kalau aku punya uang, aku ingin bayar tuk antar jemput adek, biar dia bisa pulang ke rumah, nemenin Bapak.” Dian menutup kalimatnya dengan desahan.

Kweni menanggapi dengan pertanyaan tentang sakit yang diderita ayah Dian.

“Sudah lama, tapi nggak ada keluarga yang bantu. Sudah lama juga diabaikan keluarga. Jadi benar kan aku, kamu nggak punya kehidupan yang aku punya?”

Kweni mengembalikan tatapannya ke pagar. Tidak merasa perlu menjawab apa pun. Pukul 15.00 WITA mereka berdua belas akan kembali masuk ruangan. Kweni ingin ke toilet sebelum itu terjadi. Dia ingin merapikan jilbabnya. Namun, mendadak muncul sesuatu yang ingin dia tanyakan.

“Eh, kalau kamu kerja di sini, kamu tahu ruangan kamu di mana nantinya?”

Dian mengernyit. “Apa? Nggak. Ya, belumlah.”

Kweni mengangguk ringan. Berarti benar, Bapak Baik Hati Berkacamata hanya menjumpainya, dan Dian tidak tahu tentang foldable couch abu-abu arang itu.

Cerita Dian tentang keluarganya mencemari pikiran Kweni hingga berhari-hari. Dian juga benar, Kweni tidak memiliki kehidupan Dian. Tidak ada yang berutang di rumah. Mungkin hanya ibunya yang berutang ke warung sayur, itu pun karena lupa bawa dompet atau karena kelamaan mengobrol. Adiknya baik-baik saja, bukan pecandu gim. Bapak ibunya sehat, dan tidak ada yang menuntutnya untuk membayar apa pun.

Seandainya bisa, Kweni juga ingin menolong Dian, tetapi tentang diterima bekerja di sana bukanlah keputusannya. Hanya ada satu cara yang bisa Kweni lakukan, yakni berdoa. Setiap hari sehabis sholat, dalam kesendirian, saat merenung, Kweni berdoa semoga Dian dapat menyelesaikan masalah keluarganya. Semoga Allah memberikan bukti kebaikan bagi keluarga Dian.

Surat itu tiba siang hari. Ibu berada di dekat Kweni untuk mendengarkan.

“Nggak diterima, Bu,” ucap Kweni datar. Dia melipat kembali surat, tetapi Ibu segera mengambilnya.

“Ya Allah, sabar ya, Nak. Sudah sejauh ini, tesnya berulang-ulang. Sabar ya,” ucap Ibu.

Kweni khawatir malah Ibu yang perlu ditenangkan. Suara Ibu lebih cemas dari suaranya. Ibu tidak tahu kalau Kweni pernah diterima kerja di luar kota. Kalau saja dia iyakan itu, Ibu bisa lebih sedih dari hari ini.

“Nggak apa-apa, Bu. Sudah … yang terbaik itu.”

Maksudnya tadi, sudah tahu. Kweni sudah yakin bukan dia yang diterima kerja di perusahaan itu, melainkan Dian.

“Oh, iya. Tadi Fifi nelpon, katanya dia butuh kamu soal kerjaan. Coba nanti telepon dia balik, Nak.”

Kweni agak bingung karena sudah lama tidak bertemu Fifi. Tetapi, dia mengiyakan saja.

Telepon rumah berdering.

Suara Bapak Baik Hati Berkacamata masuk ke pendengaran Kweni.

“Selamat siang, Mbak Kweni. Saya yakin Mbak sudah menerima hasil keputusan kami. Saya harus minta maaf kepada Mbak, karena saya pun tidak tahu mengapa bisa begini. Saya benar-benar minta maaf, saya juga bingung. Saya ….”

“Tidak apa-apa, Pak. Saya sangat menerima keputusan itu,” ucap Kweni santai.

Bapak itu masih melanjutkan kalimatnya. Bahwa dia sudah berusaha, bahwa dia pun tidak mengerti, dan rasa bersalah yang diulangnya kembali. Ada sedikit gemetar dalam nadanya. Kweni hanya mendengarkan saja. Tidak ada rasa kecewa, karena telah dijanjikan sebuah pekerjaan yang dia inginkan. Obrolan ditutup dengan harapan dari lelaki itu agar Kweni mendapat pekerjaan yang lebih baik.

Kweni masuk ke kamarnya. SMS-nya menunjukkan Dian mengirimkan kabar bahagianya ke Kweni.

“Makasih banyak Kweni.”

Entah apa alasan Dian mengucapkan terima kasih padanya. Bagi Kweni seindah apapun manusia berencana, kalau Tuhan belum mengizinkan, manalah bisa terjadi.

Sepertinya Kweni merasa perlu menelepon balik Fifi.

Ketika sedang mencari nomor ponsel Fifi, Kweni teringat lagi obrolan terakhirnya dengan Bapak Baik Hati Berkacamata.

“Saya orang tua yang cukup berpengalaman dengan pekerjaan uang dan pencatatan. Ada amanah besar di sini. Saya juga merasa sudah cukup berpengalaman dengan banyak karakter manusia. Saya melihat kans besar ada di diri Mbak, ada kejujuran, ada semangat, ada keinginan untuk maju, dan ini yang penting, saya yakin bisa mengamanahkan sesuatu ke Mbak.”

Penjelasan lelaki itu terdengar begitu dalam.

“Terima kasih, Pak. Saya izin bertanya, apa Bapak tidak melihat hal yang sama dengan pelamar satunya?” tanya Kweni memberanikan diri.

“Saya tidak bilang tidak melihat. Tapi, saya sedang melihat ada masalah besar dalam diri Mbak yang satunya itu, masalah yang saya khawatir bisa menganggu pekerjaan di bidang ini,” jawab Bapak Baik Hati Berkacamata dengan sedikit bimbang.

“Dan Bapak tidak melihat masalah itu di saya?”

Bapak Baik Hati Berkacamata tersenyum dan menggeleng pelan.

“Tidak. Mbak orang yang sederhana.”

 ●

Babak Kedua : Bukan Sama Bapaknya

''Aku bilang tulisannya kayak nama mangga, Pak. Bukan kayak ratu,'' sengit Fifi.

Kweni sudah biasa bila Fifi membahas namanya. Ibunya selalu mengira dia dan Fifi adalah sahabat, pun menurut Fifi. Sementara Kweni selalu bertanya, sahabat mana yang memilih menjadi tim lawanmu ketika bermain hadang, selalu ingin mengejar dan menjambak rambutmu ketika bermain petak umpat, yang mengatakan curang karena kamu ranking, dan yang selalu senang menertawakan namamu karena namamu serupa nama buah.

Tetapi, Tuhan menganugerahkan kebaikan pada Fifi yang senang mencari kabar kawan lamanya. Sehingga Kweni melupakan deritanya oleh Fifi di masa SD.

Sore itu, Fifi mengajak Kweni ke sebuah tempat bimbel. Seorang kenalan Fifi sangat membutuhkan guru pengganti akuntansi, dan Fifi mengajukan Kweni.

''Lagian kenapa sih, namamu Kweni? Maksudnya dulu itu gimana sih ? Kamu nggak takut diejek, Ku-we?'' tanya Fifi.

Kweni tertawa, ingin sekali mengatakan 'yang ngejek tu cuma kamu, Fi! dan yang nyingkat jadi Kuwe juga cuma kamu!’

''Fi,Fi. Orang kalau niat ngejek, mau lewat nama apa aja, bisa kok. Bisa lewat fifi kanan, bisa lewat fifi kiri,'' ucap Kweni santai.

Kweni bisa saja menambahkan sentilan lain, tapi tak tertarik. Dia sedang memikirkan kesanggupannya untuk mengajar. Sebagai orang yang diajukan untuk menggantikan pihak lain, apa mungkin dia bisa melakukan hal terbaik?

Fifi hanya berdehem. Setelah itu mereka diam selama perjalanan, sampai memarkirkan motornya.

''Namanya Pak Gunadi. Dia yang mendirikan Edunadi ini. Kata Riska, gaji pengajar di sini terbaik. Paling gede dibanding Bimbel ternama mana pun di luar sana,'' jelas Fifi.

Kweni membaca tulisan Edunadi Bimbel berwarna biru, berlatar putih, pada plang berkaki tunggal yang menyambut mereka. Bangunan Bimbel itu cukup luas, berbentuk L, dikelilingi tempat sepi berumput.

Fifi mengajak Kweni ke sebuah ruangan paling mungil yang terletak di pojok. Seorang pria berusia sekitar 40 tahun, berpakaian selayaknya pengajar segera menyambut mereka. Fifi tidak mengajar di tempat itu. Dia hanya ingin menolong temannya, Riska, dengan menyorongkan kawan lamanya, Kweni.

Ada lima anak di dalam kelas itu, tiga anak SMK dan dua lagi anak SMA jurusan IPA. Dua diantaranya punya usaha kecil-kecilan, yang lain hanya ingin memperbaiki nilai. Jelas jumlahnya tidak sebanyak mereka yang ingin belajar matematika. Namun, Kweni bahagia ketika pada hari-hari pertama, hubungan mereka tidak sekaku yang dia bayangkan. Kweni menghormati mereka dan mereka pun demikian. Fifi juga benar, gaji para pengajarnya jauh lebih besar dari pengajar di Bimbel ternama sekalipun.

“Saya tidak mengambil banyak, Mbak,” jelas Pak Gunadi ketika gaji pertama tiba di tangan Kweni. Pak Gunadi juga ikut mengajar di tempat itu. Dia menceritakan seberapa besar dedikasinya untuk Bimbel. Artikulasi lelaki itu sangat baik, bicaranya cukup cepat, seakan Kweni sangat membutuhkan penjelasannya.

Kweni menyempatkan menikmati suasana menjelang senja usai mengajar. Beberapa pengajar lalu lalang saling sapa tanpa sempat mengobrol lebih lama. Tempat itu sangat asri, adem, jauh dari berisik lalu lintas kota. Kweni menyegarkan pikirannya dengan mengitari rerumputan.

Seorang anak perempuan kecil sedang bermain sendirian. Anak itu terlihat lucu dengan gelagatnya yang malu-malu. Tak ada orang lain di sekitar mereka. Mungkin itu adalah anak dari orang tua penjemput, atau dari perumahan sekitar. Kweni mendekati anak itu, sekadar mengawasinya bermain. Rupa anak itu cantik, rambut ikal, berkulit bersih, bak putri dalam dongeng. Senyumnya ceria, matanya membulat ketika menatap Kweni.

“Ini.”

Anak perempuan itu menyerahkan bunga rumput pada Kweni. Dia tertawa kecil, menunjuk tempat mengambil bunga liarnya. Kweni mengucapkan terima kasih.

“Namanya siapa?” tanya Kweni.

Gadis kecil itu menggeleng, lalu berlari menghilang.

● 

Esoknya, Kweni berjumpa lagi dengan gadis kecil itu. Dengan malu-malu, dia mendatangi Kweni.

“Bunganya mana?” tanyanya.

Sudah dibuang. Rupanya anak itu ingat dengan Kweni.

“Mau ambil bunga lagi? Yuk,” tawar Kweni ramah.

Gadis itu menggoyangkan tubuh ke kanan-kiri. Kweni tertawa. Si mungil itu menunjuk-nunjuk Kweni.

“Ah. Iya. Kita belum kenalan. Nama kakak, Kweni. Adik siapa namanya?”

“Kilana. Nama kakak kayak nama buah,” ucapnya centil. Kweni menduga namanya adalah Kirana.

“Iya. Betul sekali.” Kweni bertepuk tangan ceria. Kirana melompat-lompat senang.

“Kirana tahu nama-nama buah apa aja?”

Dengan mahir Kirana menyebutkan nama buah.

“Kilana juga bisa pelkalian,”katanya. Kirana lalu menyebutkan perkalian yang dia ketahui dengan bangganya.

“Orang tua Kirana mana?” tanya Kweni akhirnya. Kirana menunjuk berulang-ulang bangunan Bimbel di belakang mereka. Kweni mengangguk. Mungkin orang tua Kirana sedang menjemput anak mereka, atau Kirana adalah anak salah satu pengajar Bimbel.

Tidak setiap usai mengajar Kweni berbincang dengan Kirana. Hari itu, dia bertemu dengan Pak Gunadi. Biasanya mereka berbincang hanya ketika gajian tiba.

“Gimana Mbak Kweni, senang ngajar di sini?” tanyanya.

“Ya. Suasananya juga menyenangkan di sini.”

“Baru tahun ini ada yang cari kelas akuntansi. Kalau memang banyak yang antusias, saya jadi mikir, apa bisa buka kursus tersendiri aja ya. Nanti Mbak Kweni yang tangani. Gimana menurut Mbak?”

Kweni tidak langsung mengiyakan. Menurutnya ada beberapa hal yang mesti dilengkapi jika serius dengan ide tersebut. Pak Gunadi berusaha menyimpan masukan dari Kweni, sambil menggelontorkan ide-ide lain.

“Mbak Kweni udah nikah?”

Perubahan topik yang mendadak. Untunglah Kweni sudah biasa.

“Belum, Pak. Bapak mau mengenalkan dengan seseorang?”

Pak Gunadi tertawa.

“Nggak, Mbak. Nanti kalau dikenalkan Mbaknya kaget. Malah nggak siap,” sahut Pak Gunadi tertawa.

Belum juga dikenalkan, pikir Kweni.

“Oh. Kirana mau kakak pangku?” tanya Kweni ketika main bersama Kirana. Gadis kecil itu makin nyaman dengan Kweni. Mereka bisa berlari-larian di rumput, pura-pura mencari kupu-kupu atau menjadi kupu-kupu, bermain petak umpet, belajar dengan nyaring. Kweni juga tidak membatasi kelakuannya. Taman bimbel itu memang cenderung sepi.

Kirana masih bernyanyi di atas pangkuan Kweni sebelum menunjuk seseorang.

“Ayah, ayah!” Pekik Kirana.

Pak Gunadi berjalan mendekati mereka. Kweni semestinya bisa mengira kalau bocah kecil itu kemungkinan anak Pak Gunadi.

“Makasih ya sudah main sama Kirana,” ucap Pak Gunadi.

“Anaknya Bapak?” tanya Kweni, seakan masih belum percaya. Pak Gunadi mengangguk pasti.

Kok nggak mirip ya, kata Kweni dalam hati. Pasti ibunya cantik sekali, duga Kweni.

“Makasih ya Mbak Kweni. Biasanya dia nggak dekat sama orang lain. Baru sama Mbak Kweni, dia mau.”

Kweni kurang percaya dengan kesimpulan itu. Menurut Kweni, Kirana adalah anak yang mudah bersosialisasi. Kirana tidak mundur atau bersembunyi tatkala Kweni mendekatinya. Mungkin Bapaknya saja yang kurang mengamati.

Semenjak memberi tahu bahwa Kirana adalah putrinya, Pak Gunadi makin sering bertukar pikiran dengan Kweni tentang tumbuh kembang Kirana. Bukan bermaksud tidak sopan, tapi menurut Kweni, itu bukan urusannya. Ilmunya sebatas bacaan artikel. Umur Kirana empat tahun, pandai, sehat, rasanya bukan hal mendesak untuk didiskusikan bersama seseorang yang bahkan bukan gurunya.

Suatu malam Pak Gunadi menelepon, menyampaikan sudah mentransfer gajinya. Kweni agak kaget, karena seharusnya masih beberapa hari lagi baru dia menerima gaji. Lelaki itu menyampaikan bahwa kondisi keuangan bimbel sedang baik. Dia juga menyertakan cerita tentang gagasan-gagasan menambah kelas, dan mungkin ide bisnis yang berbeda.

Kweni suka bagian transfer dini ini, tapi bagian lain, ingin sekali dia skip. Karena siapalah dia ini? Asisten bukan, investor apalagi. Sisi benaknya yang lain, Kweni turut mempertimbangkan kebaikan Pak Gunadi, mungkin ada baiknya dia ikut mengelola bisnis ini.

Pada malam yang lain, Pak Gunadi kembali menelepon. Katanya ingin menyampaikan keresahannya. Kweni tidak habis pikir. Pak Gunadi seharusnya cukup menyampaikan sesuatu saat di bimbel saja. Menelepon Kweni pada malam hari semestinya hanya untuk hal mendesak. Tapi urusan mendesak apa lagi ini?

“Maaf Mbak, kali ini saya benar-benar merasa keresahan. Mbak ingat pernah nanya ‘ada yang dikenalin ke Mbak’ ya kan?”

Kweni menjawab, “Iya.”

“Ya. Saya orangnya. Kalau saya mau ngajak Mbak kenalan lebih dekat dengan saya gimana?”

Kweni tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Tapi, dia tidak ingin mendengarnya lagi. Ada apa dengan orang ini?

“Saya senang lihat Mbak suka sama anak saya. Jadi saya pikir mungkin Mbak bisa punya perasaan yang sama dengan saya.”

Kweni terdiam. Perasaannya campur aduk, namun lebih didominasi dengan kesal, kecewa, juga marah. Padahal dia senang sekali bekerja di tempat Pak Gunadi.

“Maaf Mbak Kweni. Sepertinya saya sudah keterlaluan. Saya minta maaf.”

Kweni segera menutup telepon itu. Kepalanya panas. Dia suka pada Kirana, tapi bukan berarti dia juga suka sama bapaknya.

● 

Beberapa hari berlalu dengan kegundahan. Kweni dengan terpaksa mengakhiri masa mengajarnya di bimbel. Kabarnya, Pak Gunadi dan istri pernah ingin bercerai. Kweni merasa harus punya sikap untuk menjauh dari sesuatu yang memang tidak dia dekati.

Sayang sekali, dia akan merindukan tempat itu, juga murid-muridnya.

Dering telepon memecah kerisauan Kweni.

“Saya Indrawan. Apa benar ini dengan Kweni? Saya mau menyampaikan Anda diterima bekerja di perusahan kami. Apa Anda berkenan datang ke kantor kami?” ujar suara di ujung sana.

“Ya. Saya sangat berkenan. Saya pasti datang!”

 Babak Tiga : Mari Pergi dari Sini!

Selesai makan terburu-buru di pantry, Kweni menuntaskan shalat di lorong antar partisi yang sempit. Kantor ini tidak mengizinkan karyawan makan di ruang kerja dan tidak menyediakan mushala, karena itu dia harus menyaingi waktu, sebelum karyawan lain kembali dari istirahat. Biasanya mereka berburu kuliner di luar sana. Sesekali Kweni ikut makan di luar, tapi itu benar-benar bisa menghabiskan gajinya

Bosnya bernama Pak Charlie, dan Pak Indrawan selaku manajer memiliki ruangan masing-masing. Sedangkn lima orang karyawan dikumpulkan bersama dengan terpisah partisi. Kweni dibantu Susan, staf keuangan terlama di PT. Koala. Pak Andreas, manajer teknisi yang lebih sering berada di lapangan, Agus seorang admin, dan Doni, karyawan IT yang juga sering bertugas di lokasi lain.

Pak Charlie mendirikan perusahaan itu bersama seorang WNA, dengan tujuan menyediakan kebutuhan para ekspatriat yang bermukim di kota tersebut. Mereka mengelolanya benar-benar dari nol, dari tidak dianggap menjadi gedung bertingkat. Begitu cerita yang sering Kweni dengar. Jadi, kalau Pak Charlie terlihat menyombongkan diri, bagi mereka wajar saja.

“Eh, eh. Siapa kamu? Orang baru, sini.” Panggil Pak Charlie kepada Kweni suatu hari.

Meski sudah tiga pekan bekerja, Pak Charlie memang belum mengenal Kweni. Atau memang tidak ingin mengenal Kweni. Alisnya menukik, napasnya kencang, dan belahan bajunya terbuka.

“Aku lagi sakit,” katanya.

“Ya, Pak. Apa yang bisa saya lakukan?”

“Duduk!”

Kweni menunggu titah selanjutnya. Tapi, Pak Charlie masih mencari-cari sesuatu, menyusun laci, mengambil kartu nama, menyusunnya di meja yang berlapis.

“Kamu dengar nggak sih? Aku lagi sakit!” Suara Pak Charlie mengeras.

“Ya Pak. Jadi, saya bisa bantu apa ini?” tanya Kweni.

“Ya, kamu jangan duduk aja dong. Kerjakan!”

“Tapi, Bapak belum nyuruh apa pun.”

Seharusnya Kweni boleh menajamkan ucapannya, tapi dia masih melembut.

“Oh,” sahut Pak Charlie. Hanya itu, dan dia kembali sibuk dengan printilan-printilan kertas.

“Kok susunan di sini banyak berubah, siapa yang masuk ke sini?”

Karena pertanyaan Pak Charlie ditujukan pada kertas-kertas itu, Kweni hanya diam.

“Eh, kamu tadi mau ngapain ke sini?” tanya Pak Charlie tajam.

“Bapak yang minta saya ke sini,” jawab Kweni. Padahal sudah bermenit-menit dia menunggu di depan Pak Charlie.

“Oh, iya. Begini. Aku mau kamu bikinkan aku kotak-kotak.”

Pak Charlie mengeluarkan sehelai kertas, lalu menggambar kotak-kotak, yang sebenarnya dia maksud adalah tabel.

“Ini jadwal makan obatku, buat seperti ini. Sudah sana.”

Kweni pikir tugas yang dia tunggu bermenit-menit berkaitan dengan pekerjaannya. Setelah mengiyakan, Pak Charlie memanggilnya kembali.

“Hey! Jangan pergi dulu! Aku sudah pernah cerita belum? Dulu ada maling di kantor ini, kayak kamu gini, anak akunting. Dia bawa uangku, tapi sudah kumaafkan. Aku lihat di ruangan ini ada yang berubah. Kamu jangan macam-macam ya. Jangan sampai ada yang hilang di sini.”

Kweni hanya menutup pintu. Apa-apaan itu tadi, pikirnya.

“Kweni dari ruangan bos ya? Eh, jangan sedih ya kalau bos nggak tahu namamu. Namaku aja sering diplesetin. Kalau dia bilang dulu ada yang maling uangnya, itu cuma cara dia nakut-nakutin karyawannya. Kalau dia bilang ruangannya ada yang ubah-ubah, suruh dia tanya sama istri mudanya,” jelas Susan.

Kweni tertawa kecil. Susan ini jelas tidak suka pada bosnya, dia bertahan karena Pak Indrawan yang meminta. Perempuan muda yang mudah akrab, namun kalau marah mampu meledak-ledak. Sudah sering dia berkonfrontasi dengan Pak Charlie, tapi Pak Indrawan selalu menengahi.

Setelah bercerai dengan istri, Pak Charlie menikahi perempuan yang jauh lebih muda darinya. Keduanya sering bertandang ke kantor. Dengan mantan istri, Pak Charlie menjalin bisnis. Sedangkan istri baru, senang menjadikan kantor sebagai tempat rekreasi.

“Susaan, kok pot bunganya Papah nggak dibelikan?” tanya Talia, istri muda Pak Charlie. Usianya tidak jauh dari Susan dan Kweni.

“Nggak ada duit. Pot bawa dari rumah aja, Kak. Ntar kami nggak bisa bayar gaji, lho,” balas Susan.

“Ya udah. Kasih Denis uang permen aja deh kalau gitu,” pinta Talia. Denis adalah anaknya yang berumur empat tahun.

“Kok lima ribu? Dua ratus ribu, dong,” pinta Talia lagi.

“Lima ribu cukup, Kak. Kebanyakan permen nanti giginya sakit.”

“Ih, kamu ngomongnya jelek. Kita nggak pernah beli permen murahan kali.”

Setelah Talia pergi, seperti biasa Susan akan bercerita.

“Namanya juga perusahaan keluarga. Bosnya nyuruh kasih uang ke istri, mau nggak mau kukasih. Semoga kamu tetap waras ya Kwen.”

Kweni menyerahkan tabel yang dia buat ke Pak Charlie. Lelaki berlemak di perut itu membolak-balik kertas Kweni.

“Apa ini! Emangnya aku minta apa?” tanyanya ketus.

“Bapak minta dibuatkan tabel untuk jadwal obat Bapak,” ucap Kweni.

Lelaki itu sempat membenarkan Kweni lewat raut mukanya. Tetapi, lisannya kembali berkata kasar.

“Kenapa seperti ini? Jauh dari yang aku minta ini!”

Kweni mengeluarkan coretan awal Pak Charlie, dan segera membandingkan pekerjaan yang sebenarnya tidak seberapa penting. Lagi-lagi raut wajah Pak Charlie membenarkan hasil cetakan kertas dari Kweni.

“Tapi, ini kotaknya kecil! Coba lihat nih. Mana bisa nulis dalam kotak sekecil ini. Coba, coba, lihat sini!”

Kweni berusaha menahan kesalnya. Bagaimana tulisan Bapak bisa muat, kalau tulisannya aja setara font-size 48 pt, pekik Kweni dalam hati. Pak Charlie menuliskan sesuatu di kolom sampai melewati kolom-kolom lain. Menurut Kweni itu berlebihan, karena tulisan tangan Pak Charlie sebelumnya tidak sebesar itu.

“Ukuran kolomnya cukup, Pak. Saya sudah coba. Bapak bisa nulis lebih kecil lagi, kan.”

“Kok kamu jadi nyuruh-nyuruh saya?! Pokoknya ulang!"

Kweni segera menarik kertasnya, enggan berlama-lama di ruangan itu.

“Kubilang juga apa, cuma ngabisin kertas kantor doang.” Susan berbisik ke Kweni sembari mendelik ke arah ruangan Pak Charlie.

Kweni buru-buru menyelesaikan urusan kertas obat itu. Barusan Pak Charlie mengucapkan nama hewan padanya. Meski samar, dia jelas mendengar.

Bu Yasmin tertawa ketika Kweni mengatakan tempatnya nyaman.

“Ya iyalah. Bosnya kan saya. Kalau di sana, bosnya kayak neraka,” kata Bu Yasmin.

Padahal Kweni sedang memuji desain kantor Bu Yasmin, tetapi Bu Yasmin mengingatkannya pada Pak Charlie.

Perempuan itu sebaya dengan Pak Charlie, sekitar lima puluhan. Mereka terlibat kerjasama beberapa kali. Seperti hari itu, Kweni datang untuk mengambil tagihan, dan berkas penting lain.

“Masih dia begitu?” tanya Bu Yasmin lagi.

“Begitu gimana, Bu?” balas Kweni.

“Suka ngerendahin orang. Dia itu seleranya tinggi, Kwen. Kalau sampai ada orang yang pakai baju sama dengannya, bisa dia bakar bajunya. Kalau bukan karena manajernya, malas saya kerja bareng dia. Nggak ada santunnya tu orang. Aslinya nggak ada yang suka kerja sama dia, Kwen. Giliran ditagih lambat, menghilang pula. Tapi kalau nagih, cepatnya minta ampun. Kayaknya itu bukan duniamu deh, Kwen. Tapi, jalanin ajalah. Seru juga kerja di sana. Apalagi kalau istrinya ngajak ribut. Huhu, mantap.” Bu Yasmin tertawa lagi.

Kweni bertemu dengan Bu Yasmin baru tiga kali, tapi perempuan itu sudah seperti kawan baginya.

“Istrinya kalem lho, Bu. Nggak mungkin ngajak ribut,” ucap Kweni.

“Kita ngomongin istri yang mana nih?”

“Kamu yang nggak becus! Kamu bikin malu aku. Jauh hari aku sudah meeting sama Mr. Josh, kita udah deal semuanya. Aku udah kasih semua laporannya ke kamu. Sekarang kok dia hilang?” Perempuan bertubuh besar itu berteriak kepada Pak Charlie dari arah tangga.

“Tanya Mr. Josh kenapa dia hilang, jangan tanya ke aku,” balas Pak Charlie, tidak kalah keras.

“Heh! Dia hilang habis meeting sama kamu! Baru dia bilang nggak bisa lanjutin kerjasamanya denganku. Padahal kita udah deal, you know!”

“Sst. Kita pura-pura nggak denger aja. Urusan rumah tangga paska bercerai emang berat,” bisik Susan.

“Mbak, aku butuh file gaji karyawan dua bulan lalu,” bisik Kweni pula.

Dia juga tidak tertarik menengok ke sumber pertengkaran, meski sangat dekat dengannya. Bu Alice, mantan istri Pak Charlie menaiki tangga dengan gusar. Pak Charlie mundur sedikit demi sedikit, naik hingga menuju ruangannya. Sesekali mereka memaki dalam bahasa ibu, sedikit bahasa Inggris, dan ada pula bahasa Jawa. Kweni sudah menduga bahwa mereka bukan asli orang kota ini. Mereka datang untuk membangun usaha di sini.

“Kamu nggak punya hak maki aku di kantor ini,” ucap Pak Charlie. Wajahnya tampak memerah, kakinya menabrak pot porselen di depan ruangan. Lelaki itu memucat dan kehabisan. Belum pernah sekali pun Pak Charlie terlihat kalah dari lawan bicaranya.

Bu Alice balas memaki, “Tapi, aku punya saham di perusahaan ini. Aku juga ikut bangun perusahaan ini. Bukan nona-mu itu. Kamu pikir, yang taruh pot-pot di depan ruanganmu ini siapa? Itu pot kubawakan dari rumahku! Bini muda-mu itu cuma bisa minta uang sama Susan. Nggak bisa dia mikirin kas!”

Imbas dari pertengkaran mantan suami istri itu, Kweni dan Susan diminta untuk lembur. Keduanya tidak rela, karena perusahaan itu tidak menghitung lembur. Pak Indrawan pun meminta Pak Charlie tidak menyuruh siapa pun untuk lembur. Tetapi, Pak Charlie sedang melemah. Dia memohon-mohon agar Kweni dan Susan bisa menyelesaikan beberapa berkas untuk diserahkan segera pada Bu Alice, serta berjanji akan memberikan sedikit imbalan dan makan malam.

Kweni hanya ingin lembur jika Susan lembur. Sementara Susan mengumpat kesal, tetapi tidak juga pergi pulang. Dia punya janji dengan pacarnya malam itu. Setelah urusan dengan pacarnya beres, Susan berkata pada Kweni.

“Sebenarnya aku kasihan sama Bu Alice. Pak Indrawan tahu kok, kalau Pak Charlie ambil projectnya Bu Alice. Mana dia ngangkat sendiri lagi pot-pot itu naik tangga,” kata Susan.

“Mbak kok tahan kerja di sini?” tanya Kweni mengalihkan.

“Duit lah, Kwen. Memang apa lagi. Aku pengen ke Singapur, India. Terus ke Eropa. Kalau ke Bali, Lombok, ah bosan. Emang kamu nggak pernah ke luar negeri, Kwen?” tanya Susan.

“Nggak mbak. Di Kalimantan juga banyak hal menarik kok,” balas Kweni.

“Kayak kampu ... sederhana sih kamu. Tapi nggak pa-pa. Mungkin daya tarikmu di situ. Kamu tahu nggak kalau OB Abdul naksir kamu?” Susan kemudian tertawa, merasa apa yang disampaikannya lucu.

Malam itu, Pak Charlie datang membawakan mereka nasi goreng. Menurutnya, itu adalah nasi goreng spesial terenak. Menurut Kweni dan Susan, rasanya aneh kalau bos sendiri yang pergi membelikan makan malam, dan membolehkan mereka makan di ruang kerja. Tetapi, mereka memang lapar berat.

“Kwen. Sebenarnya aku nggak suka lembur, karena kalau malam, kantor ini seram. Bisa nggak kamu shalat Isya dulu. Di sini cuma kamu yang rajin shalat. Aku udah lama nggak shalat,” ungkap Susan.

“Mbak, kita nggak bisa shalat Isya dulu, kalau azannya aja belum dimulai.”

● 

 Esoknya Susan tidak masuk kerja. Dia menelepon Kweni demi mengabarkan perutnya yang sakit. Susan curiga penyebab sakitnya karena nasi goreng semalam. Kweni memegang bibirnya yang sedikit gatal dan melepuh. Mau tidak mau, dia ikut berpikiran yang sama.

“Tu orang beli nasi goreng di mana sih? Bikin aku bolak-balik ke toilet aja,” maki Susan.

Kweni merasa harus pergi ke dokter. Bibirnya terasa gatal. Buruknya, ada yang membuat lelucon dengan kondisi alergi Kweni.

“Ciee, habis ngapain sama pacarnya?” Beberapa karyawan melontarkan lelucon yang membuat Kweni kesal. Termasuk Pak Indrawan yang tidak biasanya bercanda demikian.

“Pak, tolong! Saya alergi. Saya butuh ke dokter, dan saya nggak suka dicandain begitu,” tegas Kweni.

“Oke. Oke. Ya udah, tapi ke dokternya sore atau malam aja ya Kwen. Lagian nggak ada orang di sini. Kalau ada tagihan gimana?” ungkap Pak Indrawan.

“Emang kita punya duit buat bayar, Pak?” balas Kweni.

Benar saja. Siangnya Pak Charlie terburu-buru keluar ruangan sambil berteriak pada Kweni.

“Eh, eh, kamu. Siapa namamu, temannya Susanti. Tolong, kalau ada yang cari aku bilang aku nggak ada. Keluar kota atau ke mana. Eh, bibir kamu kenapa? Ternyata, alim-alim ngeri juga mainnya,” ucap Pak Charlie sinis.

Maksudnya apa! Kweni merasa mendidih, tetapi pria buncit itu telah menghilang dari pandangannya.

Tidak berapa lama, supplier datang berteriak-teriak mencari Pak Charlie. Untunglah, Pak Andreas yang harus menghadapi semua itu. Tetapi, berisiknya sampai ke telinga Kweni.

“Sudah kukasih harga murah, kamu juga tinggal ngambil Ndre, kok udah tiga bulan nggak dibayar-bayar. Coba sini, mana bosmu itu. Si Charlie! Panggil sini! Kau pikir pekerjaku bisa dikasih makan pakai semen!” Teriak lelaki itu dengan menghempas segenggam kertas.

“Pak Charlie lagi keluar kota,” sahut Pak Andreas.

Untung bukan aku yang harus bohong, ucap Kweni dalam hati. Sebagai karyawan baru, Kweni tidak memegang uang kas. Itu haknya Susan dan Pak Indrawan, yang keduanya sedang tidak ada di tempat.

Urusan supplier beres ketika Pak Indrawan datang. Dalam menghadapi manusia, Pak Indrawan memang terlihat lebih beretika. Sementara Pak Charlie datang sembari membentak Pak Andreas. Sumpah serapah, kata-kata bodoh dan tolol, yang tidak pernah Kweni dengar di rumahnya, kini setiap hari masuk di telinganya. Berminggu-minggu kemudian, Kweni baru tahu, Pak Charlie dan Pak Andreas adalah paman dan keponakan.

● 

“Susanti buapakmu. Enak aja nambah-nambahin nama orang. Kamu beneran nggak apa-apa makan nasi goreng itu, Kwen?”

Kweni tidak yakin apakah pemicu alergi pada bibirnya adalah nasi goreng itu, dia hanya menceritakan saja semuanya pada Susan. Menjelang akhir bulan menjadi kerja keras bagi mereka, jadi dia tidak ingin ada sesuatu yang bisa memengaruhi mood-nya.

Kweni bertanya-tanya bagaimana sistem pembukuan di perusahaan itu dibuat, mengapa bagian keuangan terasa morat-maritnya, mengapa pengeluaran pribadi dan tidak penting dimuat dalam pengeluaran perusahaan. Semua itu dia tanyakan pada Pak Indrawan, dengan bermacam-macam jawaban. ‘Yah namanya juga perusahaan keluarga’, ‘turutin aja Kwen, namanya juga pegawai’, ‘ini akibat si Ully, akuntan lama’, ‘kalau kamu mau pelajari, silakan telusuri aja, Kwen’.

Akhirnya, Doni si karyawan IT, beserta Agus, si anak admin, kembali ke kursinya. Mereka bekerja pada proyek Pak Charlie, sehingga jarang ada di kantor. Sebenarnya Kweni suka dengan perkawanan antar staf itu. Bila Pak Charlie ribut dengan mantan istrinya, atau seseorang baru dimaki, mereka akan saling menguatkan. Kalau ada yang makan mie instan, yang lain akan mengipasi agar aromanya tidak tercium Pak Bos. Di waktu senggang, mereka menyetel winamp, serta mempelajari pekerjaan yang lain, sehingga bila mendapat pekerjaan mendadak, di antara mereka bisa saling membantu. Sayangnya, itu hanya beberapa hari.

Sebenarnya gedung tempat Kweni bekerja itu menjadi bendera bagi empat perusahaan. Dua perusahaan milik Pak Charlie, dan dua perusahaan lagi milik Bu Alice. Sehingga cukup banyak karyawan di gedung itu, namun mereka tidak boleh saling mengunjungi kecuali pada jam istirahat.

Hari itu, seorang perempuan muda cantik berkunjung ke kantor Kweni. Awalnya dia bertanya urusan pekerjaan pada Susan, perlahan tubuhnya bergeser ke arah Doni. Tak lama, Kweni mendengar keduanya cekikan di belakangnya.

“Nggak ngajak Mbak Susan ama Mbak Kweni nonton beginian?” tanya si perempuan.

“Lagi sibuk. Kalau Mbak Susan ada pacarnya, tapi Mbak Kweni mana boleh nonton begini.”

Kemudian keduanya tertawa.

Tiba-tiba Pak Charlie datang, langsung menuju kamar mandi di dekat Doni. Perempuan muda di dekat Doni segera menyusup ke kolong meja, bergerak menuju Kweni, minta disembunyikan. Kweni tidak tega. Pada akhirnya, perempuan itu berhasil kembali ke kantornya.

Belakangan Kweni tahu apa yang sering ditonton Doni. Suatu kali, tatkala Kweni keluar dari toilet, layar PC Doni berubah arah menghadapnya. Doni sengaja memutar komputernya agar Kweni dapat melihat adegan film tak bersensor yang biasa dia tonton. Kweni berubah berang, menampakkan muka marah. Namun, pemuda itu hanya tertawa terbahak-bahak. Seketika itu juga, Kweni berhenti menaruh hormat pada rekan kerjanya itu.

Di kesempatan lain, Kweni mendapati Doni bermesraan dengan staf dari kantor sebelah di kursi kerjanya. Doni menggumamkan cacian saat Kweni memintanya pergi. Sedikit hinaan pun sempat terlontar pada Kweni.

Dengan antusias Pak Indrawan mengenalkan dua siswi PKL (Praktik Kerja Lapangan) pada Kweni dan Susan. Keduanya akan praktik selama tiga bulan sesuai prosedur dari sekolah. Kweni menyalami keduanya dengan teramat senang. Sementara Susan hanya mengatakan ‘he-em’ dan ‘ya’, setelah itu menyampaikan kelelahannya pada Pak Indrawan karena harus mengajari anak baru.

“Kalian duduk di dekat saya saja ya.” Dengan tersenyum Kweni mengambilkan kursi untuk kedua siswi itu. Keduanya cenderung pemalu dan tidak tahu harus berbuat apa.

Sementara Susan kerap menggerutu ketika kedua siswi itu tidak bisa mengirim faks, fotokopi, mencetak surat, atau tidak sempurna mengerjakan tugas yang dia berikan. Kweni sebaliknya, dia senang dengan kehadiran siswi itu. Mereka bisa bercanda bersama, mengobrol santai tanpa harus membahas harta kekayaan. Di waktu luang, Kweni bisa mengajarkan pengarsipan serta program komputer.

“Mbak Kweni, kalau cari darling, kasih ke siapa ya?” tanya anak PKL itu.

 “Kasih ke Mbak Susan. Itu pacarnya,” jawab Kweni. Kedua anak PKL pun manggut-manggut ketika mendengar Susan curhat dan berdarling-darling-an dengan kekasihnya via telepon. Lama kelamaan mereka pun jadi tahu sapaan, kebiasaan, serta gosip orang-orang kantor.

“Akuntan lama itu siapa, Mbak? Apa hubungannya sama Pak Indrawan?” tanya siswi itu suatu hari. Pertanyaan polos itu membuat Kweni heran. Dia tahu akuntan lama adalah seorang perempuan bernama Ully. Tetapi, dia tidak tahu gosip apa pun tentang Pak Indrawan, atau memang tidak tertarik dengan gosip. Kweni sering menyerah dengan gosip.

Menjelang istirahat dering telepon terasa menganggu sekali. Kweni mengangkatnya dan sebelum dia berkata, suara di ujung sana sudah bergema.

“Hai, Indrawannya ada?” Suara itu memantul sangat manja.

“Maaf, dengan Kweni di sini. Dengan siapa ini, dan ada yang bisa saya bantu?” balas Kweni.

“Ah, karyawan baru itu. Dengan Ully. Nggak. Nggak ada apa-apa. Oke, makasih.”

Karyawan baru? Bagaimana dia bisa tahu? pikir Kweni.

“Pokoknya kalau dia telepon lagi, langsung tutup aja. Nggak usah diladenin,” titah Pak Indrawan.

Kweni heran, kalau memang Ully adalah akuntan lama di kantor ini, bukankah baik jika banyak hal yang bisa didiskusikan dengannya. Mengingat banyaknya file berlabel namanya yang sulit dibuka Kweni. Tatkala menanyakan pada Susan, dia bercerita tidak banyak mengenal sosok Ully. Perempuan itu lebih sering bekerja bersama Pak Indrawan. Tapi, mereka berjanji, jika Ully menelepon lagi, mereka harus mengajak Ully bertandang ke kantor. Tentu saat Pak Indrawan tidak ada.

Momen itu tiba. Ully benar-benar hadir ke kantor. Perempuan berkacamata itu tampak ramah dan ceria. Beberapa yang mengenalnya menyambutnya hangat. Dia juga mengajarkan Kweni membuka beberapa file yang terkunci, menyoroti pengarsipan bukti transaksi, serta mendiskusikan apa yang sebenarnya Pak Charlie mau dalam hal pekerjaannya. Beberapa di antaranya merupakan rahasia yang tidak disangka-sangka Kweni.

“Aku nggak ngerti kenapa Pak Indrawan nerima kamu. Padahal kamu bukan seleranya, lho,” lirih Ully.

Iyalah. Memangnya aku indomie, balas Kweni dalam hati.

“Maksudnya gimana tu, Mbak?” tanya Kweni.

“Nggak sih. Tapi jangan berpikir Pak Indrawan tu sebaik yang kamu kira. Dia sama busuknya,” ucap Ully.

Karena terlalu biasa mendengar orang kantor mengatai-ngatai kawan sendiri, Kweni merasa tidak perlu penasaran dengan ucapan Ully. Segala urusan pribadi pihak lain yang tidak tidak berkaitan dengan pekerjaan, layak diabaikan.

“Terus, kalau Pak Charlie bilang semua akuntan lamanya maling, itu cuma bualannya. Kalau aku maling, mana berani aku main-main ke sini. Bener nggak, San?”

Saat itu, Pak Charlie datang menghampiri mereka.

“Loh, kamu si … siapa nama kamu?”

“Ully, Pak. Bapak apa kabar?”

“Oh, iya. Itu. Coba kamu bikinkan lagi faktur penjualan ke klien. Itu aku cek, masih ada yang kurang,” kata Pak Charlie tegas.

Ully mengernyit.

“Pak, saya sudah nggak kerja di sini lagi.”

Makin lama mempelajari keuangan perusahaan itu, Kweni makin yakin, perusahaan itu akan bangkrut dalam beberapa tahun. Makin hari, Kweni juga makin tidak berhasrat untuk bekerja.

Doni pernah bertindak kurang ajar, namun tidak ada yang menanggapi Kweni saat itu. Mereka menganggap sikap Doni biasa saja sebagai sikap pemuda pada umumnya. Susan tidak terlalu tertarik mengakrabkan diri dengan Kweni. Hubungan mereka sebatas pekerjaan saja. Susan lebih akrab dengan karyawan kantor lain atau pekerja proyek. Dengan Pak Indrawan, Kweni tidak ada masalah. Pada akhirnya Kweni tahu manajer itu memang punya hobi aneh, dan pernah memakai uang kas untuk hobi anehnya itu. Tapi sekali lagi, Kweni tidak perlu mengurusi hal itu bukan? Sama seperti Pak Andreas yang tidak pernah sekali pun menyapanya, padahal duduk setiap hari di dekatnya. Itu – aneh, tapi itu juga bukan urusannya untuk mengurusi tabiat orang.

Hanya Agus yang bisa bersikap santun pada Kweni. Selain memiliki etos kerja yang baik, pemuda dari kampung itu tidak melontarkan lelucon kasar atau pelecehan verbal pada Kweni. Dia memilih meminta bantuan pada Kweni, karena takut didamprat Susan. Sayang, sedikit saja Kweni terlihat bekerja sama dengan admin muda itu, maka akan timbul gosip di antara mereka. Agus risih, Kweni pun muak. Heran dengan isi kepala orang di gedung itu, yang tidak jauh-jauh dari naksir-naksiran.

Lalu, apa sebenarnya yang harus dia pertahankan dengan bekerja di kantor itu? Uang kah?

Setelah lebih dua bulan, akhirnya kedua anak PKL kena juga amukan Pak Charlie yang mengerikan. Untunglah, di periode itu keduanya bisa saling menguatkan dibanding periode awal mereka di kantor. Kweni kembali masuk ke ruangan Pak Charlie dengan setumpuk berkas yang harus ditandatangani. Seperti biasa, lelaki itu tampak sibuk dengan kertas-kertasnya serta telepon yang tidak berhenti. Aslinya, dia sendiri yang menelepon. Mungkin memang tidak ada yang mengangkat teleponnya.

Kweni menunggu agak lama dengan hanya berdiri tegak. Pak Charlie lebih banyak berceloteh kesal tentang betapa tidak bergunanya si anu dan si anu yang tidak semuanya dikenal Kweni. Setelah itu, barulah meminta Kweni menyerahkan berkasnya. Kweni menyimak semua penjelasan Pak Charlie sebelum berbalik ke ruangan.

Kweni hampir menyentuh pegangan pintu, tatkala Pak Charlie berbicara lagi dari kursinya. Ucapan Pak Charlie serasa ceracau, samar dan tumpang tindih. Ditambah jarak antara mereka, sontak membuat Kweni bertanya.

“Maaf, Pak. Maksudnya bagaimana?” tanya Kweni sopan.

“Heh! KAMU TULI YA! KALAU KAMU TULI ….”

Detik itu, Kweni bertekad harus keluar dari kantor itu. Bukan teriakan itu yang menyakitkan Kweni. Pak Charlie dengan pongahnya telah mengeluarkan kalimat terlarang. Itu adalah penghinaan baginya dan bagi banyak perempuan lain. Kweni berjanji harus secepatnya keluar dari tempat itu. 

Masa Tenang

Kedua siswi PKL adalah orang pertama yang Kweni beri tahu tentang niatnya keluar dari kantor itu.

“Janganlah, Mbak. Nanti kita gimana?” tanya mereka.

“Memangnya kalian kenapa? Pasti baik-baik aja, kok,” ucap Kweni tersenyum.

“Masalahnya, kalau Mbak nggak ada nanti, yang mau dekat sama kita juga nggak ada,” lanjut mereka.

Tapi, terlalu banyak pelecehan yang dia terima. Kweni tidak bodoh. Suatu kali, Kweni ke ruangan Pak Charlie dengan mengaktifkan rekaman di ponselnya. Kweni lalu meminta kenalannya mengartikan bahasa ibu yang dipakai Pak Charlie. Ternyata umpatan kasar. Belum lagi nama-nama hewan pernah terlontar untuknya. Puncaknya, pada hari itu.

Belakangan seorang kawan Kweni bercerita bahwa calon suaminya pernah bekerja di perusahaan itu, dan sering mengalami keterlambatan pembayaran gaji. Sayang sekali, padahal perusahaan itu sudah memiliki nama besar. Tapi, bisa hancur dari dalam.

Teguran Ibu juga menjadi alasan Kweni untuk menyingkir dari perusahaan itu.

''Kok, gajinya habis terus, Nak? Diapain aja?''

Gaji itu lebih besar dari gaji mana pun yang pernah dia terima. Tapi, seperti ada-ada saja pengeluaran mendadaknya. Entah mengapa bisa demikian.

Dahulu, Kweni pernah ingin mengajar di daerah terpencil. Terjun ke desa, mengenalkan aksara. Impiannya mungkin tidak istimewa bagi banyak orang. Bagi orangtuanya, impian Kweni mulia, tetapi mereka tidak mengizinkan Kweni tinggal di luar kota. Bagi sebagian orang, impian Kweni tidak akan membuat dia kaya. Sungguh merugikan.

Apa mungkin Kweni kembali mengajar ?

Tidak.

Kali ini dia ingin menyerahkan semua pada Tuhannya. Kweni ingin tempat bekerja yang nyaman, rekan kerja yang bersahabat, dan bos yang menghargainya. Bos yang benar-benar menjadi pemimpin. Gaji kecil sepertinya tidak masalah, selagi bisa menabung dan berbagi. Ya, sepertinya begitu lebih baik. Dia hanya harus berdoa lebih banyak.

Babak Empat : Pemberhentian

Bangunan SMP itu terasa mirip dengan apa yang ada dalam bayangan Kweni. Memanjang, berbentuk T. Bangunan di ujung sana tampak lebih sederhana dibanding bangunan di depannya. Hampir setiap hari Kweni membayangkan sebuah bangunan sekolah. Dia tidak mengerti mengapa bisa demikian. Makin hari dia juga makin yakin harus mendatangi sekolah ini.

Seorang perempuan setengah baya menyambut Kweni ramah. Tulisan 'Menyambut Tahun Ajaran 2005/2006' melewati pandangan Kweni. Suasananya sangat sepi karena masih liburan.

''Nanti Bu Kweni ngajar di SMA ya.''

Apa!

''Maaf. Bukannya di sini cuma ada SMP Pattimura? Memang Ada SMA-nya?''

''Ada dong,'' ucapnya tertawa.

Kweni diajak menuju bangunan terujung. Kesan teramat-biasa pada sekolah itu, hinggap jua di kepala Kweni.

''Tapi saya berkenan menjadi staf saja, Bu.''

''Langsung ngajar aja ya. Karena guru ekonominya nggak ada sama sekali. Sudah cari ke mana-mana tapi nggak ada yang bisa. Alhamdulillah, kok pas banget. Mbaknya anak ekonomi kan?''

''Benar, Bu.''

''Liburan sisa lima hari. Senin kita sudah tatap muka. Silakan dibawa bahan ajarnya.''

Perempuan itu membukakan loker untuk Kweni, mengambilkan beberapa buku. Kweni menerima buku dengan ragu. Maksud Kweni tidak begini tadi. Apa negeri ini kekurangan guru banget ya?

''Maaf, Bu. Nanti Kepala Sekolahnya bagaimana?''

''Bapak Arif masih keluar kota.''

''Tapi, dengan siapa saya bicara ini? Ibu -- guru di sekolah ini?”

''Saya Ibu Saniya. Kepala TU di SMA Pattimura.''

''Selamat datang.''

''Salam kenal.''

Semua guru menyambut Kweni ramah. Mempersilakan Kweni menuju mejanya. Membiarkan Kweni mengakrabkan diri dengan suasana yang baru.

Bangunan sekolah itu memang benar-benar teramat biasa. Ruang gurunya sederhana, menyatu dengan ruang kepala sekolah yang mungil, mushala, serta UKS. Murid-muridnya juga tidak banyak. Kebanyakan dari mereka pindahan dari sekolah lain.

Di kantor itu, Kweni bisa makan mie instan senikmat mungkin. Tidak ada rekan yang melecehkannya. Apabila murid-murid membuatnya lelah, rekan-rekan guru akan saling menguatkan, menghibur, menenangkan. Suasana kantor di sana jauh dari kata tegang. Mereka tidak tertarik menggunjingkan kawan, lebih terhibur dengan membahas para murid.

Dua minggu berlalu, Kweni pun bertemu dengan kepala sekolah. Lelaki itu memiliki suara karismatik. Selama bekerja dengannya, Kweni lebih banyak didukung serta dihargai. Bagi kepala sekolah, semua guru memiliki gaya mengajarnya masing-masing, tidak perlu gegabah untuk mengubah. Hal terpenting adalah menyamakan visi bukan menyamakan ciri.

Kweni masih terus bertahan selama lima tahun, melampaui masa kerja di mana pun dia berada. Dia tidak pernah mengingat tempat bekerjanya dahulu, kecuali ketika melewatinya. Di sekolah inilah, dia merasa nyaman.

● ● ●


Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Semoga sukses... mampir ke cerita ku ya kk.. the lost's neighborhood serenity
Rekomendasi