I
Kafe itu bernama "Entah". Bukan karena pemiliknya tidak bisa memutuskan nama, tapi karena ia percaya bahwa ketidakpastian adalah satu-satunya kepastian dalam hidup. Di dinding depan, tulisan kapur mengatakan: "Kafe Entah: Tempat Orang-Orang yang Belum Tahu Mau Kemana".
Filosofis sekali, pikirku pertama kali melihatnya. Atau mungkin hanya alibi bagi pemilik yang malas membuat papan nama yang benar.
Meja nomor tujuh bukan meja istimewa. Kayu jati yang mulai kusam, permukaannya penuh luka—bukan luka dalam arti metafora puitis, tapi benar-benar luka: ukiran sembarangan pakai kunci, pakai pulpen, pakai kuku yang panjang. Ada yang menulis "Aku + Dia = Selamanya". Ada yang mencoretnya dengan tulisan: "Ternyata cuma 3 bulan, tolol."
Begitulah meja itu. Saksi kekonyolan manusia yang suka membuat janji abadi di tempat yang sewa mejanya per jam.
Hari itu—entahlah hari apa, karena semua hari Selasa terasa sama—dua makhluk bernama Kala dan Senja duduk di meja itu. Nama mereka bukan Kala dan Senja. Tapi di cerita ini, biarlah mereka punya nama yang terdengar seperti puisi murahan yang disalin dari status Facebook.
Kala menatap kopinya. Kopinya menatap balik dengan tatapan dingin khas benda mati yang tidak peduli pada drama manusia. Busa susu di atasnya sudah susut, meninggalkan bekas seperti cincin pertunangan yang dicabut paksa.
Senja memegang ponsel dengan layar mati. Bukan karena baterainya habis, tapi karena ia butuh sesuatu untuk dipegang agar tangannya tidak gemetar. Atau agar tangannya tidak meraih tangan Kala, seperti dulu.
"Kamu sudah makan?" tanya Kala.
Pertanyaan paling aman sedunia. Pertanyaan yang bisa dijawab tanpa perlu mengakui apa pun yang sebenarnya penting.
"Sudah."
Jawaban paling aman sedunia. Jawaban yang tidak mengundang pertanyaan lanjutan.
Dulu, mereka bisa mengobrol tentang segala hal. Tentang mimpi-mimpi gila yang tidak akan pernah terwujud. Tentang teori konspirasi di balik resep KFC. Tentang kenapa burung camar di pantai selalu terlihat seperti sedang merenung tentang arti hidup.
Sekarang, mereka hanya bisa berbicara tentang cuaca.
"Dingin ya."
"Iya. Kayaknya mau hujan."
Percakapan setingkat dengan obrolan di dalam lift bersama orang asing yang bau badannya mengganggu.
II
Tiga bulan lalu, di meja yang sama, Kala menangis. Bukan tangis yang cantik seperti di film Korea—tangis yang benar-benar jelek: meler, mata bengkak, suara seperti orang tersedak bakso.
Ibunya sakit. Bukan sakit biasa, tapi sakit yang membuat dokter berbicara dengan nada pelan dan tatapan yang terlalu lama, seakan mereka sedang menyampaikan berita bahwa bumi akan segera tamat.
Senja saat itu menggenggam tangan Kala. Tidak bilang apa-apa. Karena ia tahu bahwa kata-kata seperti "semua akan baik-baik saja" adalah kebohongan paling besar yang diciptakan manusia untuk menghibur diri sendiri.
Tapi hari ini, tangan mereka sibuk dengan benda-benda tidak penting: sendok yang tidak perlu diaduk, ponsel yang tidak perlu dipegang, serbet yang dilipat-lipat sampai bentuknya seperti origami gagal.
"Aku pikir..." Kala memulai kalimat, lalu menghentikannya di tengah jalan seperti mobil yang tiba-tiba rem mendadak di lampu merah.
"Apa?" Senja mengangkat mata.
"Tidak. Lupakan."
Dan kalimat itu pun mati sebelum sempat lahir sepenuhnya. Seperti banyak hal di antara mereka akhir-akhir ini: mati suri, tergantung di udara, tidak pernah selesai.
III
Ada sebuah malam—malam yang terasa seperti seribu tahun lalu padahal baru beberapa bulan—ketika mereka berbaring di lantai kamar Senja. Kenapa di lantai? Karena kasur terlalu nyaman, dan mereka butuh sesuatu yang keras untuk mengingatkan bahwa hidup ini tidak selalu enak.
Lampu mati. Cuma cahaya lampu jalan yang nyusup dari celah gorden yang tidak pernah ditutup rapat karena Senja malas membeli gorden baru.
"Kamu takut mati jadi orang yang biasa-biasa aja nggak?" tanya Kala tiba-tiba.
"Takut. Tapi kayaknya kita semua emang biasa-biasa aja kok. Cuma ego kita aja yang nggak mau ngaku."
"Wah. Kamu mulai filsafat-filsafatan lagi."
"Namanya juga lagi gelap. Orang kalau gelap-gelapan cenderung jadi sok wise."
Mereka tertawa. Tawa yang tulus, bukan tawa buatan yang mereka lakukan sekarang di kafe.
"Aku takut sama intimacy," kata Senja pelan. "Takut kalau aku buka diri, orang bakal pergi dan ninggalin ruang kosong yang lebih besar dari sebelumnya."
"Tapi kan kita bisa ciptain rasa lain. Lara itu cuma perasaan. Kita yang pegang kendalinya."
"Kamu percaya gitu?"
"Kadang percaya. Kadang nggak. Tapi gue mau coba percaya."
Senja mengulurkan kelingkingnya di kegelapan. "Janji?"
Kala mengaitkan kelingkingnya. "Janji."
Janji seperti semua janji yang dibuat manusia: terdengar kokoh di saat dibuat, tapi rapuh ketika diuji.
IV
Pelayan datang dengan tagihan. Kala meraihnya cepat seperti orang yang berebut remote TV.
"Aku yang bayar."
"Nggak usah. Patungan aja."
"Udah. Anggap aja..." Kala berhenti. Anggap aja apa? Uang pesangon? Uang duka cita? Uang tebusan untuk rasa bersalah yang tidak jelas salahnya di mana?
Mereka berdua akhirnya merogoh dompet, meletakkan uang di atas meja. Terlalu banyak untuk dua cangkir kopi. Tapi tidak ada yang mau repot-repot minta kembalian.
Di luar kafe, hujan mulai gerimis. Hujan khas Indonesia: tidak jelas mau deras atau cuma mau basah-basahin dikit.
"Kamu bawa payung?"
"Nggak. kamu?"
"Nggak."
Mereka tertawa. Tawa yang tidak lucu, tapi cukup untuk menutup keheningan yang lebih tidak enak.
"Aku ke arah sana," Kala menunjuk ke kiri.
"Aku ke sana," Senja menunjuk ke kanan.
Tentu saja. Mereka selalu punya arah yang berbeda belakangan ini.
"Hati-hati."
"Kamu juga."
Dan mereka berjalan. Tidak ada pelukan. Tidak ada kalimat pamit yang dramatis. Tidak ada yang menoleh ke belakang, karena menoleh hanya akan membuat mereka berpikir: "Aku bener nggak sih melakukan ini?"
V
Tiga minggu kemudian, Kala kembali ke kafe sendirian. Ia duduk di meja nomor tujuh, memesan kopi hitam tanpa gula—kopi untuk orang-orang yang sudah lelah berpura-pura bahwa hidup itu manis.
Ia melihat ukiran baru di meja: "Di sini, kita pernah ada. 15.10.25"
Bukan tulisan mereka. Tapi entah kenapa, tulisan itu terasa seperti epitaph untuk hubungan yang sudah mati.
Kala mengambil kunci, mulai mengukir di sudut meja: "Mengapa kita takut?"
Lalu menambahkan: "Padahal kita bisa menciptakan ketenangan di sela gelisah."
Ia tidak tahu apakah Senja akan pernah membaca tulisan itu. Ia tidak tahu apakah Senja masih peduli.
Tapi ia meninggalkan tulisan itu di sana. Seperti pesan di dalam botol yang dilempar ke laut: mungkin sampai, mungkin tenggelam, mungkin tidak penting.
Hujan turun lebih deras. Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh. Tapi Kala tetap duduk, menonton hujan menghapus jejak-jejak kaki di trotoar.
Mungkin begitulah cara rindu bekerja. Ia tidak hilang. Ia hanya berubah bentuk, menjadi sesuatu yang lebih kecil, lebih bisa diatur, lebih tidak berbahaya.
Kala menghabiskan kopinya. Rasanya pahit. Tapi ia sudah terbiasa dengan kepahitan.
Ia berdiri, memakai jaket, berjalan keluar. Kali ini, ia membawa payung—payung biru tua yang cukup untuk satu orang.
Karena itulah yang ia pelajari: kadang kita perlu payung sendiri. Bukan karena kita tidak ingin berbagi, tapi karena kita harus belajar tidak basah kuyup hanya karena menunggu orang lain membawa payung untuk kita.
VI
Beberapa bulan kemudian, Senja melewati kafe itu. Ia berhenti sebentar, menatap jendela, melihat sepasang orang duduk di meja nomor tujuh, tertawa lepas.
Senja tersenyum. Senyum yang tipis, tapi bukan senyum palsu.
Ia tidak masuk. Ia hanya berdiri sebentar, membiarkan kenangan lewat seperti iklan di YouTube yang bisa di-skip.
Lalu ia melanjutkan langkahnya, dengan payung merah di tangannya—payung yang tidak pernah ia bawa dulu karena mereka percaya mereka bisa menantang hujan bersama.
Tapi sekarang ia tahu: hujan tidak peduli pada drama percintaan manusia. Hujan turun untuk membasahi, bukan untuk jadi simbol dalam cerita cinta.
Di atas meja nomor tujuh itu, ukiran-ukiran terus bertambah. Cerita demi cerita yang tidak pernah selesai, tapi cukup untuk diingat.
Dan mungkin, itulah yang terpenting: bukan happy ending, tapi fakta bahwa cerita itu pernah ada. Bahwa dua orang pernah duduk di situ, pernah tertawa, pernah menangis, pernah mencoba.
Karena tidak semua cerita harus berakhir dengan "dan mereka hidup bahagia selamanya."
Kadang, cukup dengan: "Mereka pernah ada. Mereka pernah mencoba. Mereka gagal. Tapi mereka belajar."
Di atas meja itu, rindu hilang dalam kata-kata.*
Tapi di suatu tempat—entah di mana—rindu itu tetap ada. Bukan sebagai luka, tapi sebagai bekas luka yang sudah mengering. Pengingat bahwa pernah ada waktu ketika sakit itu terasa seperti akhir dunia.
Tapi ternyata, dunia tidak pernah benar-benar berakhir. Ia hanya terus berputar, membawa kita ke cerita yang baru, dengan luka-luka yang baru, dengan pelajaran-pelajaran yang—mudah-mudahan—membuat kita sedikit lebih bijak.
Atau setidaknya, sedikit lebih tahu bahwa payung itu barang penting yang harus selalu dibawa.
Terutama di negara tropis seperti ini, di mana hujan bisa datang tiba-tiba, tanpa permisi, tanpa peduli apakah kita sudah siap atau belum. βα™
*cerita ini terpikir karena lagu itu, ya! Di Atas Meja, terima kasih Payung Teduh.