Disukai
0
Dilihat
5
Mbok Juminah
Drama
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Langit Juni yang panas menyengat seperti hendak membakar Kampung Kidul. Langit bergetar membentuk fatamorgana di aspal jalanan yang meleleh. Warung kopi Pak Karmin di ujung gang sudah tutup sejak siang. "Panas seperti ini siapa yang mau minum kopi?" keluhnya sebelum menggulung tikar bambu tempat biasa pelanggan duduk berjam-jam. Yang tersisa hanya aku, di teras rumah dengan singlet putih kusam, mengipasi diri dengan potongan kardus bekas.

Dari kejauhan, kulihat sosok kecil itu berjalan tertatih. Mbok Juminah, dengan kebaya lusuh dan kain batik yang melilit pinggang kurusnya. Badannya mungil, tak lebih tinggi dari pagar bambu rumahku, namun langkahnya tegap seperti tentara tua yang menolak menyerah. Rambutnya yang putih diikat sembarangan, bergoyang-goyang diterpa angin panas. Ia berjalan menuju rumahnya—bangunan kayu dengan atap seng berkarat yang terletak tiga pintu dari rumahku.

"Siang, Mbok," sapaku.

Mbok Jum biasanya orang-orang memanggilnya, seketika itu ia menoleh ke arahku. Matanya yang keruh memicing, berusaha mengenali wajahku.

"Sopo?" tanyanya dengan suara serak.

"Mamad, Mbok. Anake Pak Bari," jawabku.

Mbok Jum mengangguk pelan. "Ah, ya. Mamad. Bapakmu ijeh mulang?" Menanyakan apakah bapakku masih mengajar atau tidak karena bapakku memanglah seorang guru. Bapakku sudah meninggal lima tahun lalu, tapi aku hanya tersenyum. "Iya, Mbok."

Ia melanjutkan langkahnya, terseret-seret di tanah berdebu. Dari kantong plastik hitam yang dibawanya, terlihat beberapa batang daun singkong dan ubi. Entah dari mana ia mendapatkannya. Mungkin dari kebun kosong di belakang pos ronda, atau mungkin dari pasar yang jauhnya dua kilometer dari kampung kami.

Mbok Jum hidup sebatang kara di rumah tuanya yang hampir ambruk. Dindingnya dari papan yang sudah dimakan rayap, dan atapnya bocor di beberapa tempat. Ketika hujan, kami sering melihatnya menaruh ember-ember dan panci di lantai untuk menampung air. Suaminya sudah lama meninggal, entah kapan. Anak-anaknya—tiga orang—telah lama merantau ke Jakarta dan Surabaya. Mereka pulang setahun sekali, itu pun jika tak ada halangan.

Kampung kami dulu menyebut Mbok Jum sebagai "si cantik dari Kidul". Konon, di masa mudanya, ia adalah penari yang dipuja banyak lelaki. Foto usang di dinding rumahnya—yang sepertinya tak pernah dibersihkan—memperlihatkan seorang perempuan muda dengan senyum menawan dalam balutan kebaya hijau. Tapi waktu telah mengikis kecantikan dan kenangannya, meninggalkan kerangka tua dengan ingatan yang compang-camping.

Malam itu, sekitar pukul sembilan, teriakan Mbok Jum memecah keheningan. Suaranya melengking tinggi, mengagetkan anak-anak yang sedang bermain petak umpet di bawah lampu jalan.

"Maling! Pencuri! Kembalikan gelangku!"

Aku bergegas keluar. Ini bukan yang pertama kali. Beberapa tetangga juga mulai bermunculan dari rumah masing-masing. Mak Surti, yang rumahnya bersebelahan dengan Mbok Jum, berjalan cepat dengan daster bermotif bunga-bunga. Pak Warso, ketua RT, menyusul dari ujung gang.

Mbok Jum berdiri di pekarangan rumahnya yang sempit. Tangannya menunjuk-nunjuk ke rumah Mak Surti, matanya nyalang penuh amarah.

"Kembalikan gelang emas peninggalan suamiku!" teriaknya. "Aku lihat kamu mengambilnya tadi siang!"

Mak Surti, yang sudah terbiasa dengan tuduhan semacam ini, hanya menghela napas. "Mbok, saya tidak mengambil apa-apa. Seharian saya di rumah menjahit pesanan baju lebaran."

"Bohong! Pencuri! Semua orang di kampung ini pencuri!"

Pak Warso mendekati Mbok Juminah, berusaha menenangkannya. "Sudah, Mbok. Mari masuk ke dalam. Dingin di luar."

"Jangan sentuh aku!" Mbok Jum menepis tangan Pak Warso. "Kalian semua bersekongkol! Menunggu aku mati untuk mengambil hartaku!"

Aku hanya bisa menggelengkan kepala. Harta apa yang dimiliki perempuan tua ini? Rumahnya nyaris runtuh, perabotannya usang, dan pakaiannya penuh tambalan. Tapi di matanya, ia masih hidup dalam kemewahan masa lalu—masa yang mungkin tak pernah ada.

Perlahan, Mak Surti mendekati Mbok Jum dan berbisik sesuatu di telinganya. Nenek tua itu terdiam, kemudian mengangguk pelan. Mereka berdua masuk ke dalam rumah reyot itu, meninggalkan kami yang masih berdiri dengan wajah prihatin.

"Kasihan," gumam Pak Warso. "Sudah sebulan ini lebih parah. Anak-anaknya harus dikontak."

"Nomor teleponnya ada di Bu RT," sahutku. "Tapi terakhir kali dihubungi, mereka bilang sedang sibuk proyek."

"Ya, sibuk melupakan ibu mereka," Pak Warso mendengus.

Kerumunan mulai bubar. Ini hanya salah satu malam di antara malam-malam lainnya di Kampung Kidul. Besok, Mbok Jum mungkin akan lupa dengan kejadian ini, dan kami akan kembali ke rutinitas kami yang membosankan di bawah langit yang selalu sama.

Minggu pagi, aku sedang menyapu halaman ketika melihat Mbok Juminah berjalan dengan langkah tertatih. Kali ini, ia membawa keranjang rotan kecil berisi daun sirih dan bunga melati. Entah apa yang akan dilakukannya dengan itu. Ketika ia melewati rumahku, aku memanggilnya.

"Mbok, mau ke mana pagi-pagi?"

Nenek Juminah berhenti, matanya yang keruh berusaha fokus ke arahku.

"Mau ke makam," jawabnya singkat. "Hari ini peringatan kematian Mas Harjo."

Aku mengernyitkan dahi. Siapa Mas Harjo? Suaminya yang telah lama meninggal bernama Sutarjo, setahuku.

"Tak terke, Mbok?" tawarku untuk berusaha mengantar nenek tua itu. Makam desa kami terletak di bukit kecil, sekitar satu kilometer dari kampung. Terlalu jauh untuk kakinya yang keriput.

"Ora usah. Aku masih kuat," tolaknya. "Lagi pula, aku perlu bicara berdua saja dengan Mas Harjo."

Aku menatap punggungnya yang semakin menjauh. Ada sesuatu yang mengganjal dalam hatiku. Entah mengapa, pagi ini Mbok Jum terlihat berbeda. Lebih fokus, lebih sadar, seolah kabut di matanya telah tersibak sesaat.

Penasaran, aku mengikutinya dari jarak jauh. Sepanjang jalan, Mbok Juminah berjalan tanpa ragu, tidak seperti langkahnya yang biasa terseok-seok. Ia memetik bunga kamboja di pinggir jalan dan menambahkannya ke dalam keranjang rotannya.

Di makam, ia tidak menuju ke area di mana suaminya dikuburkan. Sebaliknya, ia berjalan ke sudut pemakaman yang jarang dikunjungi—area makam lama yang sudah ditumbuhi rumput liar setinggi lutut. Berhenti di depan sebuah nisan sederhana, ia mulai membersihkan rumput dan daun-daun kering di sekitarnya.

Dari tempatku berdiri, aku tidak bisa melihat nama yang tertulis di nisan itu. Tapi aku melihat Mbok Jum duduk bersimpuh, menaburkan bunga, dan mulai berbicara. Suaranya terlalu pelan untuk bisa kudengar.

Sore itu, ketika Mbok Jum kembali ke kampung, aku berpapasan dengannya di jalan.

"Sudah pulang dari makam, Mbok?" tanyaku, berpura-pura tidak tahu.

Mbok Jum menatapku dengan pandangan kosong, seolah tidak mengenaliku.

"Makam apa? Aku dari pasar, beli terasi," jawabnya. Tidak ada keranjang rotan di tangannya. Tidak ada bunga melati atau daun sirih.

Malam itu, aku tidak bisa tidur. Pikiran tentang Mbok Juminah dan makam misterius itu terus menggangguku. Siapa Mas Harjo? Mengapa Mbok Jum mengunjungi makamnya?

Seminggu kemudian, anak Mbok Jum yang sulung, Bambang, pulang ke kampung. Kabarnya, ia akan membawa ibunya ke Jakarta untuk tinggal bersamanya. Rumah tua Mbok Juminah akan dijual kepada pengembang yang berencana membangun ruko di lahan itu.

Mbok Jum tentu saja menolak. Ia mengamuk, melempar piring dan gelas ke arah Bambang. "Ini rumahku! Aku tidak akan pergi! Bagaimana dengan Mas Harjo?"

Bambang hanya menggeleng putus asa. "Bu, Bapak sudah meninggal. Namanya Sutarjo, bukan Harjo!"

Situasi semakin kacau ketika Mbok Jum mengunci diri di kamar. Bambang meminta bantuan Pak Warso dan beberapa warga untuk membujuk ibunya keluar.

Entah didorong oleh firasat atau rasa penasaran, aku mendekati Bambang yang sedang duduk termenung di teras.

"Mas," panggilku. "Siapa itu Mas Harjo?"

Bambang mengangkat wajahnya. "Dari mana kamu tahu nama itu?"

"Mbok Jum sering menyebutnya. Minggu lalu, dia pergi ke makam seseorang bernama Mas Harjo."

Wajah Bambang memucat. Ia menatapku dengan pandangan tak percaya.

"Ibu masih mengingat Harjo?" gumamnya. "Setelah sekian lama..."

"Siapa dia?" tanyaku lagi.

Bambang menghela napas panjang. "Harjo adalah cinta pertama ibu, sebelum menikah dengan ayahku. Mereka berdua penari di grup ketoprak yang sama. Tapi keluarga Harjo tidak menyetujui hubungan mereka. Harjo kemudian pergi merantau... dan tidak pernah kembali."

"Lalu makam yang dikunjungi Mbok Jum?"

"Entahlah. Setahuku, Harjo meninggal di perantauan. Jasadnya tidak pernah dipulangkan."

Keesokan harinya, aku kembali ke makam desa, mencari nisan yang dikunjungi Mbok Jum. Di sudut pemakaman yang sepi, aku menemukan sebuah makam sederhana dengan nisan bertuliskan: "Harjono bin Martodirjo, 1932-1956". Bunga-bunga yang ditaburkan Mbok Jum masih segar di atasnya.

Ketika kembali ke kampung, aku menemukan kerumunan di depan rumah Mbok Jum. Ambulans terparkir di jalan. Bambang berdiri dengan wajah pucat.

"Mbok Jum..." aku tak sanggup melanjutkan.

"Ibu pergi dengan tenang," jawab Bambang. "Ditemukan tersenyum dalam tidurnya."

Di kamar Mbok Jum, di bawah bantalnya, Bambang menemukan sebuah amplop usang. Di dalamnya, sepucuk surat dari Harjo, bertanggal 1956. Surat terakhir sebelum ia meninggal dalam kecelakaan kereta di Jawa Tengah.

"Aku akan kembali untukmu, Min. Tunggu aku di rumah kita," begitu bunyi kalimat terakhirnya.

Rumah tua itu, yang selama ini kami anggap sebagai sisa-sisa kemiskinan dan kesengsaraan, rupanya adalah rumah yang dijanjikan Harjo untuk Juminah. Rumah yang dijaganya seumur hidup, bahkan ketika ingatannya mulai pudar, bahkan ketika ia akhirnya menikah dengan lelaki lain.

Dua hari kemudian, Mbok Juminah dimakamkan tepat di samping makam Harjo. Bambang membatalkan rencana menjual rumah itu. "Biarkan mereka bersama," katanya, "seperti yang seharusnya."

Kampung Kidul kembali tenang. Tidak ada lagi teriakan di malam hari. Tidak ada lagi tuduhan pencurian. Tapi setiap kali aku melewati rumah tua itu, aku selalu berhenti sejenak. Bermandikan cahaya senja, rumah itu tidak lagi tampak reyot dan menyedihkan. Ia berdiri dengan kebanggaan yang aneh, seperti saksi bisu dari cinta yang bertahan melampaui ingatan dan waktu.

 

“Kenangan bisa hilang, tapi cinta, rupanya, menemukan jalannya sendiri untuk tetap diingat”. βα™

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi