Percalayah, Dik, sekalipun ada dua motor sering terparkir di dalam rumah, tak satu pun dari antaranya kunaiki bersama Bapak. Aku tidak tahu kenapa selalu ada keengganan duduk berdua di atasnya. Aku tidak tahu mengendarainya dan aku lebih sering jadi beban anggota keluarga yang lain kalau mau jalan kemana-mana. Bapak tidak pernah jadi pilihan dan dia juga tidak pernah menawarkan diri. Akhirnya, satu motor diberikan kepada abang kita yang tertua.
Kecuali suatu hari, Dik, Bapak menawarkan diri. Beliau mengajak keliling, saat kutanya mau ke mana, Beliau cuma bilang, "ikut saja, sekadar muter-muter, ya, tidak apa-apa." Sesuatu yang ganjil, tapi akhirnya aku menurut.
Bapak mengajak Abang berkeliling desa, lalu ke desa-desa tetangga bahkan sampai ke perbatasan kecamatan yang jaraknya 20 km dari rumah kita. Kami sama sekali tak singgah, kalau berpapasan dengan kenalan paling disahuti dengan klakson. Pokoknya hari itu Bapak benar-benar aneh. Cuma, Dik, Bapak sempat bilang begini, "Le, Bapak sadar, jauhnya perjalanan kita ini, tak sejauh jarak di antara kita. Juga tak akan sebanding jauhnya kalau Bapak udah nggak ada. Kamu jaga adik-adikmu, kamu jaga ibumu. Kalau bisa, kamu belajar bawa motor biar ibumu nggak uring-uringan terus kalau Bapak nggak ada di rumah."
Aku paham maksud Bapak. Abang kita yang lebih tua sudah menikah. Mereka memilih pindah rumah. Meskipun nggak jauh, tetapi tidak mungkin Ibu harus ke sana kalau butuh naik motor. Kau belum terlalu paham sedingin apa mereka.
Dik, Aku sudah kehilangan Bapak dua kali. Pertama ketika dia memilih ibumu kemudia pergi untuk selamanya. Sekalipun kita tidak berasal dari rahim yang sama, kau tetap adikku. Karenanya, Abang belajar mengendarai motor seperti pesan Bapak juga membawamu berkeliling desa. Abang tidak mau membentang jarak yang jauh denganmu seperti kepada Bapak waktu itu. Kau setuju, kan?