Kereta bawah tanah Chicago selalu memiliki ceritanya sendiri. Pagi itu, Nicholas menatap kosong ke arah jendela yang hanya memantulkan bayangan wajahnya sendiri. Di luar sana, hanya ada kegelapan terowongan yang sesekali berkedip oleh lampu-lampu pucat. Sudah tiga minggu ia bermimpi hal yang sama: neneknya berdiri di ujung gerbong kereta, membawa secangkir teh panas yang mengepul dan sepiring tempe goreng. Setiap kali ia mencoba mendekat, sosok itu lenyap bersama denting bel kereta.
"Kita semua hantu di sini," bisiknya pada diri sendiri, mengingat kata-kata neneknya dulu di Indonesia. Nenek yang percaya bahwa setiap manusia membawa kesunyiannya masing-masing. "Setiap orang yang merantau," kata neneknya waktu itu, "membawa serta hantu-hantu kenangannya."
Di kantornya, Grace, rekan kerjanya yang keturunan Vietnam, sering menggodanya karena kebiasaannya membawa termos berisi teh melati. "Kamu ini konsultan di Chicago atau kakek-kakek di warung kopi Jakarta?" ledeknya. Nicholas hanya tersenyum. Bagaimana mungkin ia menjelaskan bahwa aroma teh melati itu adalah satu-satunya yang membantunya bertahan di tengah dinginnya musim dingin Chicago dan setumpuk deadline yang mencekik?
Setiap pagi, ia akan duduk di kursi yang sama di kereta, menatap refleksi wajahnya yang semakin hari semakin mirip dengan mendiang ayahnya. Ayah yang meninggal ketika ia masih SMA, meninggalkan beban tanggungan keluarga di pundak ibunya. "Sekolah yang tinggi, Nak," pesan terakhir ayahnya. "Biar bisa angkat derajat keluarga kita."
Dan di sinilah ia sekarang, di negeri orang, mengejar gelar MBA sambil bekerja sebagai konsultan. Sebuah pencapaian yang seharusnya membuatnya bangga. Tapi kenapa yang tersisa hanya hampa?
Kereta bergerak merayap dalam perut bumi Chicago. Para penumpang duduk dengan wajah-wajah lelah, tenggelam dalam dunia mereka sendiri. Earphone menyumpal telinga, mata terpaku pada layar ponsel, atau sekadar memejam mencuri tidur. Mereka semua ada, tapi seolah tiada. Seperti bayangan yang menari-nari di dinding terowongan.
Di hadapannya, seorang wanita tua berkulit putih membaca buku dengan khusyuk. Keriput di wajahnya seperti peta kehidupan yang telah dilaluinya. Nicholas tersenyum getir, teringat neneknya lagi. Sudah tiga tahun ia meninggalkan Jakarta, meninggalkan aroma tempe goreng dan secangkir teh panas yang selalu disiapkan sang nenek setiap pagi.
Dulu, setiap malam Minggu, neneknya selalu membuatkannya wedang jahe dan mengajaknya duduk di beranda belakang. Mereka akan mengobrol sampai larut, diiringi suara jangkrik dan dengung kipas angin tua. "Hidup ini seperti kereta, Nick," kata neneknya suatu malam. "Kadang kita terlalu sibuk memikirkan stasiun tujuan, sampai lupa menikmati perjalanannya."
Surat terakhir yang ia terima dari ibunya mengabarkan bahwa nenek mulai sering mengigau, memanggil-manggil namanya dalam tidur. Setiap malam, nenek akan duduk di beranda belakang, menyeduh dua cangkir wedang jahe. Satu untuknya, satu lagi untuk kursi kosong di sebelahnya.
"Pulang sebentar saja, Mas," tulis ibunya. "Nenek sepertinya kangen."
Tapi deadline dan setumpuk pekerjaan di kantor konsultan membuatnya hanya bisa membalas dengan janji-janji kosong. "Soon, Bu. Tunggu projek ini selesai." Bahkan ketika Grace menawarkan untuk menggantikan tugasnya selama seminggu, ia menolak. "Ini kesempatan promosi, Grace. Aku tidak bisa mengacaukannya."
Dan kini, setelah neneknya pergi selamanya dua bulan lalu, janji-janji itu menghantui setiap malam-malamnya di apartemen sempit di pinggiran Chicago. Setiap malam, ia memimpikan beranda belakang rumah, dua cangkir wedang jahe yang mengepul, dan neneknya yang tersenyum sedih.
"Kamu tahu," suara Grace terngiang di telinganya, "nenekku juga meninggal sebelum aku sempat pulang ke Vietnam. Sampai sekarang, aku masih mencium aroma sup pho buatannya setiap kali hujan turun."
Kereta berhenti di salah satu stasiun. Pintu bergeser terbuka, membawa masuk udara dingin dan seorang pria berjas lusuh. Ia duduk di sebelah Nicholas, membawa aroma kopi yang tumpah dan kertas-kertas koran yang sudah menguning. Ada yang familiar dari aromanya – seperti kenangan yang tiba-tiba muncul dari sudut ingatan yang hampir terlupakan.
"Excuse me," pria itu berbisik, suaranya serak dan dalam. "Apakah Anda orang Indonesia?"
Nicholas tersentak. Sudah lama ia tidak mendengar bahasa ibunya di kota asing ini. Pria itu tersenyum, memperlihatkan gigi-gigi yang menguning. "Saya mencium aroma Indonesia dari Anda. Aroma kerinduan yang sama."
Pria itu memperkenalkan diri sebagai Pak Herman, mantan dosen sastra di sebuah universitas di Yogyakarta yang kini menjadi tukang cuci piring di restoran Cina. "Hidup memang penuh ironi," katanya sambil tertawa kecil. "Dulu saya mengajar tentang eksistensialisme dan absurditas hidup. Sekarang saya menjalaninya."
"Bapak tidak kepikiran untuk pulang?" tanya Nicholas.
Pak Herman tersenyum tipis. "Pulang itu bukan soal tempat, Nak. Pulang itu soal rasa. Dan kadang, rasa itu sudah tidak bisa kita temukan lagi di tempat yang sama."
Mereka berbagi cerita tentang nasi goreng pinggir jalan, tentang hujan yang turun di Malioboro, tentang kenangan-kenangan yang mereka tinggalkan di seberang lautan sana. Pak Herman bercerita bagaimana ia meninggalkan Indonesia demi mengikuti anak semata wayangnya yang menikah dengan orang Amerika.
"Anak saya dokter di Rush Hospital," cerita Pak Herman dengan bangga. "Tapi dia meninggal dalam kecelakaan dua tahun lalu, tepat sehari setelah ulang tahunnya yang ke-35." Ia mengeluarkan dompet lusuh dari saku jasnya, menunjukkan foto seorang pria muda dengan jas putih dokter. "Ini foto terakhirnya. Dia sangat mirip ibunya."
"Dan menantu saya menikah lagi. Sekarang saya seperti hantu di negeri orang. Tidak bisa pulang, tidak juga bisa menetap."
Cerita itu menohok Nicholas. Ia teringat lagi pada neneknya, pada janji-janji yang tak sempat ia tepati. Pada dua cangkir wedang jahe yang mendingin di beranda belakang.
"Tapi tidak apa-apa," Pak Herman tersenyum. "Saya masih bisa bertemu anak saya setiap hari."
Nicholas mengerutkan kening. "Maksud Bapak?"
"Di kereta ini. Dia selalu naik di jam yang sama, duduk di kursi yang sama." Pak Herman menunjuk ke kursi kosong di seberang mereka. "Tuh, dia di sana. Sedang membaca buku seperti biasa. Buku yang sama yang saya berikan di ulang tahunnya yang terakhir – kumpulan puisi Sapardi Djoko Damono."
Nicholas merasakan bulu kuduknya meremang. Kursi itu kosong. Tapi Pak Herman terus berbicara seolah-olah ada seseorang di sana. "Dia suka sekali puisi 'Dalam Kereta Bawah Tanah, Chicago.' Katanya, puisi itu seperti menulis tentang hidupnya."
Ketika kereta kembali berhenti, Pak Herman bangkit. "Ini pemberhentian saya," katanya. "Dan pemberhentian anak saya juga." Sebelum melangkah keluar, ia menyelipkan secarik kertas ke tangan Nicholas. Sebuah puisi, tulisan tangan yang sudah memudar:
"Kita semua penumpang kereta bawah tanah Yang mencari-cari bayangan sendiri Di antara cahaya yang berkedip-kedip Dan sunyi yang mengendap dalam hati..."
"Ini puisi favorit anak saya," kata Pak Herman. "Mungkin bisa membantu Anda menemukan jalan pulang."
Nicholas menggenggam kertas itu erat-erat. Tiba-tiba matanya tertumbuk pada headline koran yang tergeletak di kursi bekas duduk Pak Herman: "Tragic Fire at Chinese Restaurant Claims Life of Indonesian Dishwasher." Tanggal di koran itu seminggu yang lalu.
Dengan tangan gemetar, Nicholas membuka ponselnya, mencari berita tentang kebakaran restoran pekan lalu. Dan di sana, di antara daftar korban meninggal, ada nama itu: Herman Sastroamidjojo, 65 tahun, mantan dosen sastra dari Indonesia.
Tapi yang membuat jantungnya seakan berhenti adalah foto yang menyertai berita itu – foto Pak Herman berdiri di depan Rush Hospital, berpose dengan seorang dokter muda. Caption di bawah foto itu membuat dunianya seakan runtuh: "Dr. Christofel Wiryawan S. (kanan) dengan ayahnya, Herman Sastroamidjojo, dalam kunjungan terakhir mereka di Rush Hospital, 2019."
Dr. Christofel Wiryawan S. – nama yang sama dengan sepupunya yang meninggal dalam kecelakaan dua tahun lalu. Sepupu yang selama ini tak pernah ia temui karena pertengkaran lama antara ayahnya dan Pak Herman, kakak ayahnya.
Di luar, salju mulai turun perlahan, menutupi kota Chicago dengan selimut putihnya. Nicholas memejamkan mata, air mata mengalir di pipinya. Ia teringat kata-kata terakhir ayahnya: "Maafkan Bapak yang tak pernah bisa berdamai dengan Pakde Herman-mu. Mungkin suatu hari nanti, kamu bisa bertemu sepupumu dan memperbaiki yang tidak bisa kami perbaiki."
Mungkin benar kata neneknya dulu – kita semua membawa hantu-hantu kenangan kita sendiri. Dan kadang, hantu-hantu itu datang untuk mengingatkan kita tentang janji-janji yang belum sempat kita tepati, tentang ikatan keluarga yang telah lama putus, tentang kesempatan kedua yang mungkin tidak akan datang lagi.
Sore itu, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, Nicholas menelepon ibunya. "Bu," suaranya bergetar, "aku mau pulang."
Di seberang sana, ia bisa mendengar isak tertahan ibunya. Dan sayup-sayup, ia seperti mencium aroma wedang jahe yang mengepul – aroma yang sama yang selalu ia rindukan setiap kali kereta bawah tanah membawanya melintasi kegelapan Chicago.
Kereta terus melaju dalam perut bumi, membawa para penumpangnya yang seperti hantu-hantu kesepian, masing-masing dengan kerinduan dan ceritanya sendiri. Dan di suatu tempat antara dimensi nyata dan kenangan, mungkin neneknya, ayahnya, Pak Herman dan Dr. Nicholas sedang duduk bersama, menikmati secangkir teh panas sambil tersenyum melihat dirinya yang akhirnya menemukan jalan pulang.
Karena pada akhirnya, seperti kata Pak Herman, pulang memang bukan soal tempat. Pulang adalah soal menemukan kembali bagian dari diri kita yang telah lama hilang. Dan kadang, kita perlu bertemu dengan hantu-hantu masa lalu untuk bisa menemukan jalan pulang itu. βα™