~ I ~
Pukul dua belas malam. Kamar kos Raka bau kertas dan kopi yang sudah dingin. Di meja yang penuh coretan, sebuah laptop menyala — layarnya menampilkan lembar demi lembar referensi jurnal yang ia paksa baca sejak sore. Di pojok kanan bawah layar, tulisan kecil berkedip: Bab IV — Prediksi Teknologi dalam Budaya Populer: Kajian Atas Serial Animasi The Simpsons (1989–2019).
Raka Adityawarman, mahasiswa semester delapan Teknik Informatika Universitas Gadjah Mada, memijat pelipisnya. Skripsinya hampir selesai. Hampir. Ia hanya butuh satu hal lagi: sebuah pemantik yang kuat untuk bagian penutup — sesuatu yang lebih dari sekadar rangkuman data.
Ia membuka tab baru. Tangannya bergerak otomatis, mengetik nama serial kartun yang telah menemaninya sejak kecil. Dalam hitungan detik, deretan episode The Simpsons memenuhi layar. Ia memilih satu: Season 6, Episode 19, tahun 1995. Judul episode itu membuat sudut bibirnya tersenyum tipis: "Lisa's Wedding".
Di episode itu, Lisa Simpson melakukan perjalanan ke masa depan — tahun 2010. Dan di sana, Homer menggunakan sebuah perangkat untuk berbicara dengan wajah muncul di layar kecil. Percakapan jarak jauh. Wajah terlihat. Suara terdengar.
Raka berhenti. Ia mengedipkan mata.
Video call. Mereka menggambarkan video call — lima belas tahun sebelum FaceTime diluncurkan.
~ II ~
Pikiran Raka melompat jauh ke belakang — ke sebuah ruang kelas di SD Negeri Banyumanik, Semarang, dua puluh tahun yang lalu.
Waktu itu ia kelas lima. Bu Hartini, guru Bahasa Indonesia yang rambutnya selalu dikepang dua, sedang meminta murid-muridnya menceritakan impian masa depan.
"Raka, kamu mau jadi apa?" tanya Bu Hartini sambil tersenyum.
Raka berdiri. Dengan penuh keyakinan, ia berkata, "Saya mau bikin alat yang bisa telepon sambil lihat wajah orang, Bu. Kayak di kartun yang saya tonton!"
Kelas meledak. Tawa teman-temannya bergema memenuhi ruangan. Doni, teman sebangkunya, menepuk pundaknya sambil cekikikan. "Hahaha, Raka ngimpi! Emangnya ini film fiksi ilmiah?"
Bu Hartini tidak ikut tertawa. Ia menatap Raka dengan sorot yang aneh — bukan kasihan, bukan pula mengejek. Sesuatu di antaranya. "Duduk, Raka. Impian itu bagus."
Tapi Raka tetap merasa malu. Setelah pulang sekolah, ia bersumpah tidak akan pernah lagi menceritakan mimpinya di depan orang banyak.
Yang ia tidak tahu waktu itu: teman-temannya yang menertawakan dia kini menggunakan WhatsApp Video Call setiap hari.
~ III ~
Raka menutup laptop sejenak. Ia meraih cangkir kopinya — sudah benar-benar dingin. Ia meminumnya tetap. Pikirannya terus berputar.
Selama tiga bulan terakhir, ia menggali arsip demi arsip episode The Simpsons, mencocokkannya dengan perkembangan teknologi nyata. Hasilnya menakjubkan sekaligus mengguncang.
Tahun 1994, dalam episode "Bart's Dog Gets an F", muncul perangkat mirip tablet layar sentuh — sepuluh tahun sebelum iPad pertama. Tahun 1995, sebuah jam tangan yang bisa mengirim pesan muncul di pergelangan tangan karakter Sideshow Bob — dua dekade sebelum Apple Watch. Bahkan pada tahun 2000, dalam episode yang kini terkenal, Homer menggunakan alat bernama "Facebuilder" yang kerjanya tidak jauh berbeda dari teknologi pengenalan wajah modern.
Bukan kebetulan. Raka yakin itu. Para penulis serial itu — Matt Groening dan timnya — bukan peramal. Mereka hanya melakukan satu hal yang kebanyakan orang malas lakukan: membaca. Mereka menyerap jurnal sains, laporan riset, proposal teknologi yang berserakan di universitas-universitas Amerika. Lalu mereka mengubahnya menjadi cerita.
Fiksi, Raka menyadari, adalah cermin yang dihadapkan ke masa depan.
Bukan ramalan. Bukan keajaiban. Hanya seseorang yang cukup sabar membaca — dan cukup berani membayangkan.
~ IV ~
Telepon bergetar. Layarnya menyala: Ibu.
Raka menggeser tombol hijau. Wajah ibunya muncul — sekarang jelas, jernih, langsung dari layar smartphone yang ia pegang. Ibunya ada di dapur rumah Semarang, celemek masih tersampir di bahu.
"Kamu belum tidur, Ka?" suara ibunya familiar dan hangat.
"Masih ngerjain skripsi, Bu."
"Makan dulu sana. Kopi melulu." Ibunya memiringkan kamera — memperlihatkan semangkuk soto yang masih mengepul. "Ini tadi Ibu masak. Sayang kamu jauh."
Raka tersenyum. Di benaknya tiba-tiba berkelebat gambar Homer Simpson berbicara dengan layar kecil di tahun 1995. Dan kini ia sedang melakukan hal yang persis sama — berbicara dengan ibunya yang berjarak tiga ratus kilometer, melihat wajahnya, merasakan kehangatannya meski hanya lewat piksel.
"Bu," Raka berkata pelan, "Ibu masih ingat waktu Raka kelas lima bilang mau bikin alat telepon yang bisa lihat wajah orang?"
Ibunya terdiam sebentar. Lalu tertawa kecil. "Ingat. Kamu pulang nangis karena diejek teman."
"Iya." Raka mengetuk layar laptopnya dengan jari. "Ternyata orang-orang pintar sudah memikirkannya lama sebelum kita, Bu. Jauh sebelum kita lahir, ada yang sudah menulis tentang ini. Kita cuma tidak membacanya."
Ibunya mengerutkan dahi, tidak sepenuhnya mengerti. "Maksudnya?"
"Maksudnya... tidak ada mimpi yang terlalu gila, Bu. Mungkin hanya belum waktunya."
~ V ~
Keesokan harinya, Raka menemui dosen pembimbingnya, Pak Wirawan — seorang pria berkacamata tebal yang mejanya selalu penuh buku dan bertumpuk jurnal cetak. Pak Wirawan adalah satu dari sedikit dosen yang masih percaya bahwa buku fisik lebih baik untuk berpikir daripada artikel digital.
"Jadi kamu mau memasukkan ini sebagai argumen penutup?" Pak Wirawan membaca draft terakhir Raka. Ia tidak berkomentar lama. Hanya memindai halaman demi halaman sambil sesekali mengangguk.
"Ya, Pak. Saya ingin argumentasinya begini: The Simpsons bukan meramal teknologi. Tim penulisnya membaca literatur sains dan teknologi secara luas, lalu memvisualisasikannya dalam narasi populer. Yang terjadi kemudian bukan keajaiban — melainkan konsekuensi logis dari pengetahuan yang disebarkan melalui fiksi."
Pak Wirawan menutup draft itu. Ia melepas kacamatanya, mengelapnya perlahan — kebiasaan yang selalu muncul ketika ia sedang berpikir keras.
"Raka," katanya akhirnya, "kamu tahu kenapa kebanyakan orang tidak bisa membayangkan masa depan?"
Raka menunggu.
"Karena mereka tidak membaca. Dan karena mereka tidak membaca, mereka tidak punya bahan bakar untuk berimajinasi. Imajinasi bukan sesuatu yang jatuh dari langit. Ia dibangun dari akumulasi pengetahuan." Pak Wirawan mengetuk-ngetuk meja. "Matt Groening dan timnya hanya membuktikan satu hal sederhana: bahwa orang yang rajin membaca, meski dalam konteks hiburan sekalipun, akhirnya punya gambaran tentang masa depan yang jauh lebih akurat dari orang yang tidak membaca sama sekali."
Raka menuliskan kalimat itu di buku catatannya. Bukan karena ujian. Karena ia merasa kalimat itu penting.
~ VI ~
Seminggu setelah sidang skripsi yang berjalan lancar, Raka kembali ke Semarang. Ia mengunjungi SD Banyumanik — bukan karena rindu, melainkan karena ada sesuatu yang ingin ia selesaikan.
Sekolah itu tidak banyak berubah. Cat temboknya lebih pudar. Pohon mangga di halaman lebih rindang. Tapi ruang kelasnya — jendela-jendelanya — tetap sama.
Ia menemui kepala sekolah dan meminta izin berbicara sebentar di depan kelas lima. Kepala sekolah itu, seorang ibu muda yang energik, dengan senang hati mengizinkan.
Di depan dua puluh delapan murid yang menatapnya dengan mata penasaran, Raka tidak berceramah panjang. Ia hanya meletakkan sesuatu di atas meja guru: sebuah tablet dan sebuah novel fiksi ilmiah lama.
"Dua puluh tahun lalu," Raka memulai, "seorang anak kelas lima di sekolah ini bilang bahwa suatu hari nanti orang bisa telepon sambil lihat wajah orang yang dihubunginya. Anak itu ditertawakan."
Ia mengangkat tabletnya. Di layar, sebuah video call sedang berlangsung — ibunya di rumah, melambaikan tangan dengan canggung tapi bahagia.
"Anak itu adalah saya. Dan ini adalah hal yang dulu saya impikan."
Kelas hening. Beberapa murid membelalakkan mata. Seorang anak perempuan di baris depan mengangkat tangan. "Kak, kak bisa lihat masa depan?"
Raka menggeleng. "Tidak. Saya hanya pernah menonton kartun dan membaca buku yang menceritakan tentang masa depan. Dan rupanya, orang-orang yang menulis buku dan kartun itu — mereka juga pernah membaca lebih banyak lagi. Begitu seterusnya."
Ia menunjuk novel di meja. "Pengetahuan itu seperti mata rantai. Satu buku menyambung ke buku lain. Satu ide menyulut ide berikutnya. Kamu tidak perlu menjadi jenius untuk melihat masa depan. Kamu cukup membaca hari ini."
~ VII ~
Malam itu, Raka duduk di teras rumah ibunya. Angin Semarang bertiup pelan — membawa bau tanah basah setelah hujan sore. Di pangkuannya, sebuah buku baru yang baru ia beli: kumpulan esai tentang kecerdasan buatan dan masa depan pekerjaan manusia.
Ia membuka halaman pertama.
Di suatu tempat di Los Angeles, tim penulis The Simpsons mungkin sedang menulis episode baru. Mungkin di salah satu adegannya, ada teknologi yang kita belum punya namanya sekarang. Mungkin ada alat yang hari ini terdengar mustahil — seperti video call di tahun 1995, seperti tablet di tahun 1994.
Dan dua puluh tahun dari sekarang, seseorang akan menonton episode itu, menepuk keningnya, dan berkata: "Astaga. Mereka sudah tahu."
Padahal mereka tidak tahu. Mereka hanya membaca.
Raka membalik halaman. Di luar, bintang-bintang Semarang bersaing dengan cahaya kota. Ia tidak tahu mana yang akan menang. Tapi untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa tidak perlu tahu.
Yang penting: ia sedang membaca. Dan selama ia membaca, masa depan tidak pernah sepenuhnya gelap.
~ selesai ~
———
Catatan Penulis:
Cerpen ini terinspirasi dari fakta nyata bahwa serial animasi The Simpsons memang terbukti "meramalkan" berbagai teknologi modern, termasuk video call (Season 6, 1995), smartwatch (Season 7, 1995), tablet mirip iPad (Season 6, 1994), dan teknologi pengenalan wajah. Para peneliti telah mendokumentasikan lebih dari dua belas prediksi teknologi yang akurat dari serial ini. Bukan keajaiban — melainkan buah dari tim penulis yang rajin membaca literatur sains dan berani membayangkan.