Disukai
0
Dilihat
6
Diam yang Berbicara
Drama
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Pagi itu hadir dengan kebisingan yang aneh. Bukan karena klakson becak yang memekakkan telinga atau suara pedagang keliling yang menjajakan dagangannya, melainkan karena diam yang terlalu nyaring. Diam yang menggema di setiap sudut rumah kecil itu, memantul dari dinding-dinding yang sudah mulai mengelupas catnya, dan menancap dalam di hati Sari yang sedang mengaduk-aduk bubur ayam untuk sarapan.

Sudah tiga hari ini Budi tidak berbicara padanya. Tiga hari yang terasa seperti tiga tahun dalam hitungan waktu pernikahan mereka yang baru menginjak tahun ketiga. Sendok kayu di tangan Sari bergerak mekanis, mengikuti ritme jantungnya yang berdetak tidak karuan. Mata sipitnya melirik ke arah meja makan, tempat Budi biasanya duduk sambil membaca koran sambil menunggu sarapan. Tapi kali ini, kursi itu kosong. Sepi. Seperti hatinya.

Rumah mungil mereka yang dulu penuh dengan gelak tawa dan candaan kini berubah menjadi panggung sandiwara yang canggung. Setiap langkah kaki terdengar terlalu keras di lantai keramik yang mulai retak. Setiap helaan napas terasa berat, seolah udara di dalam rumah itu sudah terkontaminasi dengan amarah yang tak terucapkan.

Sari masih ingat betul penyebab keributan tiga hari yang lalu. Masalah sepele sebenarnya—soal uang belanja yang kurang, soal tagihan listrik yang membengkak, soal rencana liburan yang tak kunjung terwujud. Tapi entah mengapa, kali itu mereka berdua seperti dua ekor ayam sabung yang siap bertarung hingga mati. Kata-kata tajam berseliweran di udara, meninggalkan luka-luka kecil yang sulit disembuhkan.

Yang membuat Sari paling kesal adalah cara Budi menyelesaikan masalah. Begitu pertengkaran mencapai puncaknya, lelaki itu langsung bungkam. Tutup mulut rapat-rapat seperti kerang yang takut dimakan. Sedangkan Sari, dia perlu bicara. Dia perlu mengeluarkan semua uneg-uneg yang menggumpal di dadanya. Dia perlu meluruskan setiap kesalahpahaman, menjelaskan setiap maksud yang terselip di balik kata-katanya.

Tapi Budi? Budi memilih diam. Diam yang menyakitkan. Diam yang lebih kejam dari seribu kata makian.

Suara sepatu boot Budi di teras depan membuyarkan lamunan Sari. Lelaki itu sudah bersiap berangkat kerja, seperti biasa. Sari mendengar bunyi helm yang diambil dari gantungan, suara kunci motor yang berderak, lalu deru mesin yang menyala. Semuanya berjalan sesuai rutinitas, kecuali satu hal: tidak ada suara "Assalamualaikum" yang biasa Budi ucapkan sebelum berangkat. Tidak ada kecupan singkat di pipi Sari. Tidak ada "jangan lupa makan" yang hangat.

Hanya diam. Diam yang dingin dan menusuk.

Sari mematikan kompor dan menutup panci bubur ayam yang belum sempat dimakan siapa pun. Perutnya sudah kenyang dengan kekalutan hati. Dia berjalan ke kamar dan duduk di tepi tempat tidur yang masih berantakan. Sprei bermotif bunga-bunga kecil itu sudah tidak serapi dulu. Bantal-bantal berserakan tanpa aturan, mencerminkan kekacauan yang terjadi di antara mereka.

Di atas meja rias, berdiri sebuah foto pernikahan mereka tiga tahun lalu. Sari mengambil pigura itu dan memandangi wajah-wajah yang tersenyum bahagia. Betapa polos mereka saat itu. Betapa yakin bahwa cinta akan mampu mengatasi segala masalah. Betapa naif mereka mengira bahwa menikah adalah akhir dari semua perjuangan.

Kenyataan berkata lain. Menikah justru adalah awal dari perjuangan yang sesungguhnya. Perjuangan untuk memahami bahwa dua manusia yang berbeda tidak bisa dipaksakan untuk sama. Perjuangan untuk menerima bahwa cinta saja tidak cukup tanpa pengertian yang mendalam.

Siang itu, Sari menghabiskan waktu dengan menyapu dan mengepel rumah. Aktivitas yang biasanya dia lakukan sambil bersenandung kini dilakukan dalam keheningan total. Hanya ada suara sapu yang bergesekan dengan lantai, air pel yang diperas, dan detak jam dinding yang berdetak seakan menghitung mundur menuju kehancuran.

Sesekali, matanya melirik ke arah ponsel yang tergeletak di atas sofa. Berkali-kali dia ingin mengirim pesan ke Budi. Berkali-kali jemarinya bergerak di atas layar, mengetik kata-kata yang kemudian dihapus lagi. Apa yang harus dia katakan? Maaf? Untuk apa? Dia tidak merasa sepenuhnya salah. Dia hanya ingin didengar, dipahami, dihargai pendapatnya.

Tapi Budi tidak mengerti hal itu. Bagi lelaki itu, diam adalah solusi. Diam adalah cara untuk menghindari konflik yang lebih besar. Diam adalah perlindungan diri dari kata-kata yang bisa melukai lebih dalam.

Padahal, bagi Sari, diam justru lebih menyakitkan daripada pertengkaran itu sendiri.

Sore datang dengan langit yang mendung. Awan-awan kelabu berarak di atas atap rumah mereka, mencerminkan suasana hati Sari yang semakin suram. Dia duduk di teras belakang, memandangi tanaman-tanaman kecil yang mereka tanam bersama di pot-pot bekas. Cabai rawit, tomat ceri, dan daun kemangi yang dulu ditanam dengan penuh semangat kini tampak layu karena kurang perhatian.

Seperti pernikahan mereka.

Suara motor Budi di depan rumah membuat jantung Sari berdetak kencang. Dia bersiap untuk menyambut suaminya, berharap hari ini akan berbeda. Berharap Budi akan menyapanya, atau setidaknya tersenyum padanya.

Tapi harapan itu pupus begitu melihat wajah Budi yang masih datar. Lelaki itu masuk ke rumah tanpa menoleh ke arah Sari. Langsung menuju kamar mandi untuk mandi. Setelah itu, dia duduk di ruang tengah, menyalakan televisi, dan menonton berita dengan volume yang cukup keras—seolah ingin menutupi keheningan yang canggung di antara mereka.

Sari menyiapkan makan malam dengan perasaan berat. Dia masak sayur asem, tempe goreng, dan ikan asin—makanan kesukaan Budi. Berharap, mungkin makanan enak bisa mencairkan suasana. Tapi ketika dia meletakkan piring-piring itu di meja makan, Budi tetap tidak beranjak dari sofa.

"Makan," Sari berkata pelan. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri, serak karena jarang digunakan.

Budi tidak bergerak. Matanya masih tertuju pada layar televisi yang sedang menayangkan berita politik. Rahangnya mengeras, dan Sari tahu bahwa lelaki itu mendengarnya. Tapi dia memilih untuk tidak merespons.

Sari berdiri di samping meja makan, menunggu. Detik-detik berlalu terasa seperti jam. Akhirnya, dia mengambil piring dan makan sendiri. Setiap suap terasa pahit di lidahnya, tidak karena makanannya tidak enak, tapi karena kesedihan yang menggerogoti hatinya.

Malam itu, mereka tidur di tempat tidur yang sama tapi terasa seperti di planet yang berbeda. Sari berbaring menghadap ke dinding, merasakan kehangatan tubuh Budi di sebelahnya tapi tidak bisa menyentuhnya. Jarak beberapa sentimeter itu terasa seperti jurang yang tidak bisa diseberangi.

Dia mendengar suara napas Budi yang teratur, dan dia tahu bahwa suaminya belum tidur. Tapi tidak ada yang berani memulai percakapan. Keduanya terjebak dalam lingkaran setan mereka sendiri—Sari yang ingin bicara tapi tidak tahu harus mulai dari mana, dan Budi yang ingin mendamaikan tapi tidak tahu bagaimana caranya.

Hari keempat, kelima, keenam berlalu dengan pola yang sama. Rumah mereka menjadi seperti panggung sandiwara bisu, di mana dua aktor berakting tanpa dialog. Mereka bergerak dalam rutinitas yang sama—bangun, mandi, sarapan (sendiri-sendiri), bekerja, pulang, makan malam (sendiri-sendiri), tidur. Seperti robot yang telah diprogram untuk hidup tanpa emosi.

Sari mulai merasa gila. Dia berbicara dengan tanaman-tanaman di teras, dengan kucing tetangga yang sesekali mampir, dengan dirinya sendiri di cermin. Dia butuh mendengar suara manusia, meski itu suaranya sendiri.

Budi, di sisi lain, tampak semakin tenggelam dalam keheningannya. Dia pulang semakin larut, menghabiskan waktu lebih lama di warung kopi dekat kantornya. Seolah rumah telah menjadi penjara yang ingin dia hindari.

Pada hari ketujuh, Sari tidak tahan lagi. Dia memutuskan untuk pergi ke rumah ibunya di ujung kota. Bukan untuk mengadu atau mencari pembenaran, tapi hanya untuk merasakan kehangatan keluarga yang sudah lama tidak dia rasakan.

Ibu Sari, perempuan tua yang bijaksana, tidak banyak bertanya. Dia hanya memeluk putrinya yang datang dengan mata sembab dan senyum yang dipaksakan. Mereka duduk di dapur kecil, meminum teh hangat sambil memakan pisang goreng yang baru diangkat dari wajan.

"Pernikahan itu seperti menari, Nak," ibu Sari berkata tanpa didahului pertanyaan. "Kadang kita melangkah maju, kadang mundur. Kadang kita menginjak kaki pasangan, kadang kita diinjak. Yang penting, kita tetap menari bersama."

Sari menangis. Air mata yang sudah ditahan selama seminggu akhirnya pecah. Dia menceritakan semuanya—tentang pertengkaran, tentang keheningan yang menyiksa, tentang rindu yang tak tertahankan untuk bisa berbicara dengan suaminya.

"Budi itu seperti ayahmu," ibu Sari mengelus rambut putrinya. "Pendiam kalau sedang marah. Tapi hatinya lembut, Nak. Dia hanya tidak tahu caranya minta maaf."

Sari pulang ke rumah dengan hati yang sedikit lebih ringan. Dia membawa sebungkus rendang buatan ibunya—makanan yang selalu bisa menghangatkan suasana. Tapi ketika dia membuka pintu rumah, dia dikejutkan oleh pemandangan yang tidak pernah dia bayangkan.

Budi duduk di lantai ruang tengah, dikelilingi oleh bunga-bunga mawar merah. Tidak banyak, mungkin hanya satu ikat kecil yang dibeli di pinggir jalan. Tapi aroma harumnya memenuhi seluruh ruangan. Di tengah-tengah bunga-bunga itu, tergeletak selembar kertas yang dilipat rapi.

Sari mendekati kertas itu dengan hati berdebar. Dia membukanya dengan tangan yang sedikit gemetar. Di sana, tertulis dengan tulisan tangan Budi yang tidak terlalu rapi:

"Sayang, aku tidak pandai dengan kata-kata. Aku tidak tahu bagaimana cara minta maaf yang benar. Aku tidak tahu bagaimana cara menjelaskan bahwa aku diam bukan karena tidak peduli, tapi karena aku takut mengatakan sesuatu yang salah dan menyakitimu lebih dalam. Aku tahu kamu butuh bicara, dan aku tahu diamku menyakitkan. Maafkan aku. Aku mencintaimu, dan aku siap untuk belajar bagaimana cara bertengkar yang baik denganmu."

Sari memandangi kertas itu dengan mata yang berkaca-kaca. Dia mencari Budi dan menemukannya di kamar, duduk di tepi tempat tidur dengan kepala tertunduk. Lelaki itu tampak lebih kurus, lebih lelah, lebih rapuh dari biasanya.

"Budi..."

Lelaki itu mendongak. Matanya merah, dan Sari menyadari bahwa dia tidak sendirian dalam penderitaan ini.

"Aku minta maaf," Budi berkata dengan suara serak. "Aku tidak tahu cara lain..."

Sari mendekatinya dan duduk di sebelahnya. Untuk pertama kalinya dalam seminggu, mereka saling menatap mata.

"Aku juga minta maaf," Sari berkata pelan. "Aku tidak mengerti bahwa diammu adalah caramu melindungi perasaanku."

Mereka terdiam sejenak, tidak lagi dalam keheningan yang menyiksa, tapi dalam keheningan yang penuh dengan pengertian.

"Kita harus belajar," Budi berkata. "Aku harus belajar untuk bicara meski aku marah. Kamu harus belajar untuk memberiku waktu ketika aku butuh diam sebentar untuk menenangkan diri."

Sari mengangguk. "Kita akan belajar bersama."

Mereka berpelukan, dan Sari merasakan kehangatan yang sudah lama hilang. Pelukan itu tidak menyelesaikan semua masalah mereka, tapi setidaknya itu adalah langkah pertama untuk memahami bahwa cinta membutuhkan pelajaran seumur hidup.

Tapi ketika Sari hendak bangkit untuk menyiapkan makan malam, matanya tertuju pada sesuatu yang aneh. Di atas meja rias, di samping foto pernikahan mereka, tergeletak sebuah amplop putih yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.

"Budi, amplop apa itu?"

Budi mengikuti arah pandangannya dan wajahnya berubah. Dia bangkit dengan cepat dan mengambil amplop itu, meremasnya dengan gugup.

"Tidak ada apa-apa," dia berkata cepat. Terlalu cepat.

Sari merasa ada yang tidak beres. Insting perempuannya mengatakan bahwa ada sesuatu yang disembunyikan Budi. Tapi setelah seminggu penuh dengan keheningan dan air mata, dia tidak yakin apakah dia siap untuk mengetahui rahasia yang mungkin akan menghancurkan mereka lagi.

"Budi, apa itu?" Sari bertanya lagi, kali ini dengan nada yang lebih serius.

Budi menghela napas panjang. Dia duduk kembali di tepi tempat tidur dan menatap amplop yang sudah kusut di tangannya.

"Ini... ini surat dari pengadilan," dia berkata pelan. "Surat panggilan untuk perceraian."

Dunia Sari seolah runtuh. "Apa?"

"Seminggu yang lalu, ketika kita bertengkar hebat, aku... aku pikir kita sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Aku pikir kamu sudah muak denganku. Jadi aku... aku mengajukan gugatan cerai."

Sari tidak bisa berkata apa-apa. Dia menatap suaminya dengan tidak percaya.

"Tapi sekarang aku menyesal," Budi melanjutkan dengan suara yang hampir seperti bisikan. "Seminggu ini, aku menyadari betapa aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku menyadari bahwa masalah kita bukan karena kita tidak saling mencintai, tapi karena kita tidak tahu cara mencintai dengan benar. Aku akan menarik gugatan itu besok. Aku akan..."

Sari mengambil amplop itu dari tangan Budi. Dengan tangan yang gemetar, dia membukanya dan membaca isinya. Surat resmi dari pengadilan yang menyatakan bahwa Budi telah mengajukan gugatan perceraian dengan alasan ketidakcocokan yang tidak dapat didamaikan.

Tapi yang membuat Sari terkejut bukan isi suratnya, melainkan tanggalnya. Surat itu dibuat bukan seminggu yang lalu, tapi tiga bulan yang lalu. Jauh sebelum pertengkaran besar mereka terjadi.

Sari menatap Budi dengan mata yang berkilat marah. "Kamu bohong."

"Sayang, aku bisa jelaskan..."

"Tiga bulan yang lalu, Budi. Tiga bulan yang lalu kamu sudah mengajukan gugatan cerai. Bukan karena pertengkaran seminggu lalu."

Budi terdiam. Wajahnya pucat pasi.

"Selama ini kamu sudah merencanakan untuk meninggalkanku," Sari berkata dengan suara yang bergetar. "Selama ini kamu hanya berpura-pura bahagia. Selama ini..."

"Tidak, Sari. Dengarkan aku..."

Tapi Sari sudah bangkit. Dia berjalan menuju lemari dan mulai mengambil pakaiannya. Kali ini, dia yang memilih diam. Diam yang lebih dalam dan lebih final daripada diam yang pernah dipilih Budi.

"Sari, kumohon..."

Sari berhenti sejenak. Dia menatap Budi untuk terakhir kalinya dengan mata yang penuh dengan kekecewaan yang tak terkatakan.

"Selama ini aku berpikir masalah kita adalah cara kita berkomunikasi," dia berkata dengan suara yang datar. "Ternyata masalahnya adalah kamu tidak pernah mau berkomunikasi dengan jujur."

Sari mengemas barang-barangnya dan meninggalkan rumah itu. Meninggalkan Budi dengan keheningan yang kali ini benar-benar menjadi pilihan mereka berdua. Keheningan yang mengakhiri semuanya.

Di luar, hujan mulai turun. Tetes-tetes air dari langit mencuci jalanan, membersihkan debu dan kotoran, memberikan kesempatan baru untuk permulaan yang bersih.

Sari berjalan di bawah hujan itu, membawa tasnya dan hatinya yang hancur. Di belakangnya, rumah kecil itu menyimpan kenangan tiga tahun pernikahan yang berakhir dengan cara yang tidak pernah dia bayangkan.

Diam yang selama ini mereka perjuangkan untuk dipahami, akhirnya menjadi diam yang sesungguhnya. Diam yang abadi. Diam yang tidak akan pernah bisa dijelaskan lagi dengan kata-kata apapun.

Dan dalam diam itu, tersimpan pelajaran yang pahit: bahwa kadang-kadang, cinta memang tidak cukup untuk menyelamatkan pernikahan yang dibangun di atas pondasi kepercayaan yang rapuh.

Hujan semakin deras, dan Sari terus berjalan tanpa menoleh ke belakang. Karena dia tahu, jika dia menoleh, dia akan melihat Budi berdiri di pintu rumah mereka, menatapnya dengan mata yang penuh penyesalan.

Tapi kali ini, penyesalan itu datang terlambat. Terlambat tiga bulan, untuk menjadi tepat. βα™

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi