Disukai
0
Dilihat
1
Ruang yang Bergeser
Misteri
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Setiap kali Andi menulis, ia merasakan bagaimana jari-jemarinya menjadi sulur yang merambat ke dalam kertas. Menjelma akar yang makin dalam, makin merasuki tanah berhumus kalimat-kalimat. Awan senja merembes ke dalam kamarnya. Warna jingga yang perlahan memudar. Seperti kesadaran yang sedikit demi sedikit luruh.

Dia selalu suka menunggu senja datang, ketika bunyi-bunyi perlahan lenyap dan matahari mengucurkan cahaya terakhirnya. Itulah saat paling tepat untuk menulis. Pada saat kesunyian mulai menggerimis dengan tenang.

Hari ini, seperti biasa, ia menunggu senja di ruang kerjanya. Ruang kecil berukuran tiga kali empat meter, dengan jendela yang menghadap ke pohon flamboyan tua. Andi memindahkan meja kerjanya ke pojok ruangan sejak seminggu lalu. Entah kenapa, ia merasa lebih nyaman menulis di sana. Ada yang berbeda dengan sudut kamar itu. Ada yang mengalir dari celah dinding. Seperti bisikan yang mengalir dari kedalaman tanah.

"Sudah jam empat," gumamnya sambil melirik jam dinding usang berbentuk persegi yang dibelinya dari pasar loak tiga tahun lalu. Jam dengan jarum pendek yang berdetak seperti jantung yang ragu.

Andi mengambil cangkir kopi yang mulai dingin. Mengamati permukaan cairan hitam yang beriak kecil ketika ia menggerakkan tangannya. Dalam permukaan kopi itu, ia melihat pantulan wajahnya—atau mungkin wajah pria lain yang mirip dengannya.

"Saatnya menulis," ucapnya perlahan, seperti mengucapkan mantra.

Jari-jarinya mulai menari di atas keyboard laptop. Melahirkan deretan huruf-huruf yang akan menjadi paragraf, kemudian menjadi halaman, dan akhirnya menjadi bab. Novel keempatnya ini telah ia tulis selama delapan bulan, dan dia berniat menyelesaikannya dalam dua bulan ke depan.


Bab 26: Distorsi

Mawar tahu ada yang salah dengan rumah itu. Setiap kali melangkah masuk, ada yang berbeda dengan ruang tamu. Kadang seperti bergeser beberapa senti ke kiri. Kadang seperti menyusut. Atau kadang seperti berpindah tempat. Tapi tak ada yang mempercayainya. Semua menganggapnya gila.

"Kau hanya lelah," kata suaminya setiap kali Mawar berusaha menjelaskan. "Istirahatlah. Bekerja sebagai ilustrator membuatmu berimajinasi terlalu jauh."

Tapi Mawar yakin ada yang salah dengan rumah itu. Terutama dengan dinding di belakang lemari buku. Kadang dia mendengar bisikan dari sana. Bisikan yang mengalir seperti air dari keran yang tidak tertutup rapat.


Tiba-tiba Andi berhenti mengetik. Ia merasakan sesuatu. Seperti embusan angin dingin yang menjilati tengkuknya. Ruangan kerjanya terasa berbeda. Andi menoleh, mengamati sekeliling. Meja kerjanya, laptop yang menyala, cangkir kopi yang masih mengepul, jam dinding yang berdetak perlahan, rak buku yang dipenuhi novel dan buku referensi, gorden berwarna krem yang bergerak pelan, dan...

Tunggu. Gorden bergerak? Jendelanya tertutup.

Andi bangkit dari kursinya, mendekati jendela. Memastikan bahwa jendela itu memang tertutup. Benar. Jendela itu tertutup rapat. Lalu kenapa gorden bergerak?

"Pasti hanya perasaanku," gumamnya pada diri sendiri, berusaha menenangkan diri.

Andi kembali ke meja kerjanya. Menulis lagi.


Malam itu, untuk kesekian kalinya, Mawar terbangun karena mendengar suara dari balik dinding. Suara seperti kertas yang digores pensil. Seperti halaman buku yang dibalik. Seperti orang yang sedang menulis dengan tergesa-gesa.

Suaminya, Reza, tetap terlelap di sampingnya. Tidur seperti orang mati, begitu kata Mawar sering kali menggodanya. Kadang Mawar iri dengan kemampuan suaminya tidur di tengah badai sekalipun.

Mawar turun dari tempat tidur. Berjalan perlahan ke arah dinding yang menjadi sumber suara. Menempelkan telinganya di permukaan dinding yang dingin, seperti kulit mayat. Suara itu masih terdengar. Makin jelas.

Ini bukan imajinasi. Ini nyata.

Lalu, tanpa peringatan, Mawar merasakan dinding itu bergetar. Seperti ada yang mendorongnya dari balik dinding. Seperti ada yang berusaha menembus dinding.

"Ya Tuhan!" Mawar mundur dengan kaget.

Permukaan dinding itu bergelombang, seperti air yang dilempar batu. Seperti kain yang diterpa angin.


Sesuatu berbunyi di belakang Andi. Seperti buku yang jatuh. Ia menoleh dan melihat novel pertamanya yang berjudul "Rumah Bergeser" tergeletak di lantai.

"Aneh," gumam Andi. Novel itu ia letakkan di rak paling atas. Bagaimana bisa jatuh? Mungkin ia tidak meletakkannya dengan benar.

Andi bangkit, memungut buku itu, dan mengembalikannya ke rak. Saat ia hendak kembali ke meja, ia merasakan sesuatu yang aneh dengan ruangannya. Seperti ada yang bergeser. Seperti ada yang tidak pada tempatnya.

Rak bukunya—bukankah tadi berada merapat ke dinding? Kenapa sekarang agak menjorok ke dalam ruangan, seolah ada ruang di belakangnya?

Bulu kuduk Andi meremang. Ia mencoba mencari penjelasan logis. Mungkin ia terlalu lelah. Terlalu banyak menulis. Terlalu banyak kopi. Atau mungkin ini efek dari obat sakit kepala yang diminumnya tadi siang.

Ia kembali ke meja kerjanya. Melanjutkan menulis.


Mawar mendorong lemari bukunya. Berusaha melihat apa yang ada di balik dinding. Dinding itu tampak biasa saja sekarang. Tidak bergelombang seperti yang dilihatnya tadi.

"Mungkin aku memang gila," bisiknya pada diri sendiri.

Tapi kemudian, ia melihatnya. Sebuah retakan kecil di dinding. Retakan yang tidak pernah ada sebelumnya. Retakan yang tampak seperti garis yang ditarik sengaja. Garis lurus yang sempurna. Seperti halaman buku yang disobek.

Mawar mengeluarkan senter kecil dari laci meja. Menyorotkannya ke retakan itu. Ia mendekatkan matanya, berusaha melihat apa yang ada di balik retakan.

Ia melihat sebuah mata yang balas menatapnya.


Andi tersentak. Bunyi apa itu? Seperti ketukan di jendela.

Ia menoleh ke arah jendela. Tidak ada siapa-siapa. Hanya kegelapan malam dan bayangan pohon flamboyan yang bergoyang diterpa angin.

"Fokus, Andi," katanya pada diri sendiri.

Ia menggelengkan kepala, berusaha menjernihkan pikiran. Sudah hampir tiga hari ia hanya tidur dua jam. Mungkin ini efek kurang tidur. Halusinasi ringan.

Andi meneguk kopinya yang masih tersisa dan kembali menulis.


"Ada orang di balik dinding kita," kata Mawar pada suaminya, pagi itu.

Reza menatapnya dengan tatapan yang sudah terlalu sering ia lihat. Tatapan campuran antara kasihan dan khawatir.

"Sayang, di balik dinding kita adalah rumah tetangga, dan rumah itu kosong selama tiga bulan terakhir sejak keluarga Baskara pindah."

"Bukan tetangga," bantah Mawar. "Ada ruangan lain di sana. Ruangan yang tidak seharusnya ada. Aku melihat seseorang di balik retakan dinding. Seseorang yang juga melihatku."

Reza menghela napas panjang. "Mungkin kau perlu istirahat lebih lama. Atau kita perlu menemui Dr. Suryo lagi."

Mawar tahu apa artinya. Dr. Suryo, psikiater yang sudah merawatnya sejak serangan panik pertamanya dua tahun lalu.

"Aku tidak gila, Reza," suara Mawar bergetar. "Ada yang salah dengan rumah ini. Ruangan-ruangannya bergeser. Dindingnya terkadang bergelombang. Dan ada orang di balik dinding itu. Orang yang memperhatikan kita."


Angin bertiup kencang di luar. Andi bisa mendengar dedaunan pohon flamboyan bergesek satu sama lain. Suara itu seperti bisikan. Seperti kertas yang dirobek.

Matanya mulai berat. Sudah hampir pukul sebelas malam, dan dia belum berhenti menulis sejak sore. Tubuhnya meminta istirahat, tapi otaknya masih ingin melanjutkan cerita. Bab ini hampir selesai. Mungkin satu atau dua halaman lagi.

Andi menggeliat di kursinya, meregangkan tubuh. Saat itulah ia menyadari sesuatu yang aneh. Lantai tempatnya berpijak terasa seperti bergelombang. Seperti permukaan air yang tidak tenang.

"Apa-apaan ini?" bisiknya pada diri sendiri.

Andi mengerjapkan mata beberapa kali. Mencubit lengannya. Mencubit lagi lebih keras. Ruangan masih bergelombang. Seperti kertas yang diremasnya ketika ia tidak puas dengan kalimat yang ditulisnya.

"Ini hanya halusinasi," Andi berbisik pada dirinya sendiri. "Ini tidak nyata."

Ia berpegangan pada tepi meja, berusaha menenangkan diri. Perlahan, ruangan kembali normal. Lantai yang solid. Dinding yang tegak.

"Aku harus istirahat," putusnya.

Tapi sebelum menutup laptop, ia memutuskan untuk menyelesaikan satu paragraf lagi.


Mawar tidak bisa tidur malam itu. Selalu begitu. Malam-malam terus menyiksanya dengan suara-suara aneh dari balik dinding. Atau dari bawah lantai. Atau dari atas langit-langit. Seluruh rumah seperti hidup. Seperti bernapas.

Ia menoleh ke samping, menatap Reza yang tertidur dengan napas teratur. Selalu begitu. Reza tidak pernah mendengar suara-suara itu. Tidak pernah merasakan getaran di dinding. Tidak pernah melihat ruangan yang bergeser.

Mungkin ia memang gila. Mungkin dokter benar. Mungkin semua ini hanya imajinasi liarnya sebagai seorang ilustrator. Terlalu banyak gambar di kepalanya, hingga batas antara nyata dan rekaan menjadi kabur.

Mawar bangun dari tempat tidur. Berjalan ke arah dinding belakang lemari buku. Pertama kali ia mendengar suara itu, ia pikir itu hanya tikus atau serangga di dalam dinding. Tapi kemudian, suara itu berubah. Menjadi lebih jelas. Seperti suara seseorang yang sedang berbicara. Atau lebih tepatnya, seperti seseorang yang sedang menulis cerita dan membaca kalimat-kalimatnya dengan pelan.

Mawar mendekatkan telinganya ke dinding. Suara itu ada lagi. Lebih jelas dari biasanya.

"Mawar mendekatkan telinganya ke dinding. Suara itu ada lagi. Lebih jelas dari biasanya."

Mawar tersentak mundur. Suara itu membacakan apa yang baru saja ia lakukan!

"Mawar tersentak mundur. Suara itu membacakan apa yang baru saja ia lakukan!"

Jantungnya berdegup kencang. Keringat dingin mengalir di dahinya.

"Jantungnya berdegup kencang. Keringat dingin mengalir di dahinya."

"HENTIKAN!" Mawar berteriak, menempelkan tangannya ke dinding dengan marah. "SIAPA KAU?!"


Andi terlonjak dari kursinya ketika merasakan sesuatu menyentuh pundaknya. Tidak, bukan sesuatu. Seseorang.

Ia menoleh dengan cepat, tapi tidak ada siapapun di belakangnya. Ruang kerjanya kosong. Hanya ada dia sendiri.

"Ini sudah keterlaluan," gumam Andi. Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Kurang tidur benar-benar membuatnya berhalusinasi.

Andi memutuskan untuk mengakhiri sesi menulisnya malam ini. Ia menyimpan dokumen yang sedang dikerjakannya dan menutup laptop. Saat itulah ia mendengar ketukan di dinding di belakang rak bukunya.

Tuk. Tuk. Tuk.

Tiga ketukan pelan, tapi jelas.

Andi membeku. "Siapa di sana?" suaranya serak.

Tidak ada jawaban.

Tuk. Tuk. Tuk.

Ketukan itu terdengar lagi.

Dengan langkah ragu, Andi mendekati rak bukunya. Mendorong rak itu untuk melihat dinding di belakangnya. Dinding itu tampak biasa saja. Polos. Dicat warna putih gading.

Tuk. Tuk. Tuk.

Ketukan terdengar lagi, kali ini lebih keras. Lebih mendesak.

Andi menempelkan telinganya ke dinding. Mendengarkan dengan seksama.

"...ada yang salah dengan rumah ini. Ruangan-ruangannya bergeser. Dindingnya terkadang bergelombang..."

Andi menjauhkan telinganya dari dinding dengan kaget. Itu... itu suara wanita. Dan kata-kata itu... kata-kata itu sama persis dengan yang baru saja ia tulis untuk tokoh Mawar.

"Ini tidak mungkin," bisik Andi.

Tapi kemudian, ia melihatnya. Sebuah retakan kecil di dinding. Retakan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Retakan lurus seperti halaman buku yang disobek.

Dengan tangan gemetar, Andi menyentuh retakan itu. Retakan itu nyata. Bukan halusinasi.

Andi mendekatkan matanya, berusaha melihat apa yang ada di balik retakan.

Ia melihat sebuah mata yang balas menatapnya.

Mata itu berkedip.

Andi melompat mundur dengan kaget. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa menyakitkan. Tangannya mencengkeram kerah bajunya sendiri.

"Tidak mungkin. Tidak mungkin. Tidak mungkin," racaunya.

Ia kembali mendekati dinding itu. Retakan masih ada di sana. Tapi kali ini lebih lebar. Seperti dinding itu sedang merekah perlahan.

Andi mendekatkan matanya lagi. Di balik retakan itu, ia melihat sebuah ruangan. Ruangan yang terlihat seperti kamar tidur. Dan ada seorang wanita di sana. Wanita dengan rambut panjang sebahu, mengenakan piyama bermotif bunga-bunga.

Mawar. Tokoh dalam novelnya.

Wanita itu—Mawar—juga sedang menatap ke retakan. Menatap Andi. Mata mereka bertemu.

"Kau... kau nyata?" bisik Andi.

Wanita itu tampak terkejut. "Kau bisa melihatku?" suaranya terdengar jauh, seperti melalui terowongan panjang.

"Kau Mawar?"

"Siapa kau? Bagaimana kau tahu namaku?"

"Aku... aku yang menciptakanmu."

Hening sejenak. Kemudian suara wanita itu terdengar lagi, lebih jelas. "Apa maksudmu?"

"Aku penulisnya. Aku sedang menulis novel tentang kau. Tentang rumahmu yang bergeser."

Wanita itu—Mawar—mundur dengan wajah pucat. "Apa?"

"Kau tidak nyata, Mawar. Kau hanya tokoh dalam novelku."

Mawar menggeleng kuat-kuat. "Tidak. Kau yang tidak nyata. Kau hanya halusinasiku. Dokter bilang aku mengalami gangguan psikotik."

"Aku nyata, Mawar. Lebih nyata darimu."

"Tidak!" Mawar berteriak. "Aku nyata! Aku punya kehidupan! Aku punya Reza! Aku—"

"Reza, suamimu. Karyawan bank. Pendiam. Tidur seperti orang mati. Aku tahu semuanya tentang dia, Mawar. Karena aku yang menciptakannya."

Wajah Mawar memucat. "Tidak mungkin..."

"Maaf, Mawar. Tapi kalian berdua hanya ada dalam ceritaku."

Mawar tiba-tiba tertawa. Tawa yang dingin. "Kau pikir kau nyata? Bagaimana jika sebenarnya kau yang tidak nyata? Bagaimana jika kau hanya tokoh dalam novelku?"

Andi tersentak mendengar kata-kata Mawar. "Apa?"

"Ya, Andi. Aku adalah penulis. Dan kau adalah tokoh novelku. Tokoh penulis yang berpikir bahwa dialah yang menciptakan cerita, padahal dialah yang diciptakan."

"Tidak. Itu tidak mungkin."

"Mengapa tidak? Kau sendiri yang bilang, seminggu lalu kau memindahkan meja kerjamu ke pojok ruangan. Padahal sebelumnya kau selalu menulis menghadap jendela. Menurutmu kenapa kau melakukannya? Karena aku yang menulisnya begitu!"

Jantung Andi berdegup semakin kencang. Keringat membasahi seluruh tubuhnya. "Ini tidak masuk akal..."

"Kembalilah menulis, Andi," kata Mawar dengan senyum aneh. "Lanjutkan ceritamu. Cerita di mana kau berpikir bahwa kau adalah sang penulis. Biarkan aku melanjutkan ceritaku. Di mana kau hanyalah tokoh ciptaanku."

Retakan di dinding perlahan menutup. Mawar menghilang di baliknya. Andi terduduk lemas di lantai. Kepalanya berdenyut nyeri.

Apa yang barusan terjadi? Apakah itu nyata? Apakah itu hanya halusinasi karena kurang tidur? Atau... mungkinkah Mawar benar?

Andi bangkit perlahan. Berjalan limbung ke meja kerjanya. Membuka laptopnya kembali. Jarinya bergetar ketika ia membuka dokumen novelnya.

Layar laptop menyala. Tapi bukan novel yang terlihat di sana. Melainkan halaman kosong dengan sebaris kalimat di bagian atas.

Setiap kali Mawar menulis, ia merasakan bagaimana jari-jemarinya menjadi sulur yang merambat ke dalam kertas.

Andi membeku. Ini bukan novel yang ia tulis.

Layar laptop berkedip. Kalimat itu menghilang, digantikan oleh barisan kalimat baru yang muncul satu per satu, seperti diketik oleh tangan yang tak terlihat.

Andi bangkit perlahan. Berjalan limbung ke meja kerjanya. Membuka laptopnya kembali. Jarinya bergetar ketika ia membuka dokumen novelnya.

Layar laptop menyala. Tapi bukan novel yang terlihat di sana. Melainkan halaman kosong dengan sebaris kalimat di bagian atas.

Setiap kali Mawar menulis, ia merasakan bagaimana jari-jemarinya menjadi sulur yang merambat ke dalam kertas.

Andi membeku. Ini bukan novel yang ia tulis.

"HENTIKAN!" Andi berteriak, menutup laptopnya dengan keras.

Ia berlari ke dapur. Mengambil segelas air dan meminumnya dengan tergesa-gesa. Air tumpah membasahi bajunya. Andi tidak peduli.

Setelah menarik napas dalam-dalam beberapa kali, Andi merasa lebih tenang. "Aku hanya kelelahan," bisiknya pada diri sendiri. "Semua ini tidak nyata."

Andi kembali ke ruang kerjanya. Lantai, dinding, meja, semuanya tampak normal. Tidak ada yang bergelombang. Tidak ada retakan di dinding.

Dengan ragu, Andi membuka laptopnya lagi. Layarnya masih menyala. Novel yang ia tulis terbuka di sana. Bab 26, tentang Mawar dan rumahnya yang bergeser. Semuanya seperti yang ia tulis. Seperti yang ia ingat.

"Hanya halusinasi," gumam Andi, mengusap wajahnya.

Ia menutup dokumen novel itu dan mematikan laptop. Cukup menulis untuk hari ini. Ia butuh istirahat.

Andi berjalan ke arah kamar tidurnya. Melewati lorong pendek yang menghubungkan ruang kerjanya dengan kamar. Andi berhenti mendadak. Sesuatu terasa janggal.

Lorong ini... bukankah seharusnya lebih panjang? Bukankah seharusnya ada tiga pintu di sepanjang lorong? Kamar mandi, kamar tamu, dan kamar tidurnya? Kenapa sekarang hanya ada satu pintu?

Andi berbalik, melihat ke arah ruang kerjanya. Ruangan itu juga terlihat berbeda. Lebih kecil. Lebih sempit.

"Ada yang salah dengan rumah ini," bisik Andi. "Ruangan-ruangannya bergeser."

Kalimat itu terdengar familiar. Sangat familiar.

Andi membuka pintu kamar tidurnya dengan tergesa. Ia terkesiap.

Di sana, di atas tempat tidur, ada seorang wanita. Wanita dengan rambut sebahu. Wanita itu sedang menulis sesuatu di laptopnya.

Wanita itu mendongak, melihat Andi.

"Andi," panggil wanita itu. "Kenapa kau masih bangun? Kau baik-baik saja, sayang?"

Andi tidak bisa bersuara. Tidak bisa bergerak.

Wanita itu—Mawar—tersenyum padanya. "Kemari. Tidur di sampingku. Kau pasti lelah setelah bekerja seharian di bank."

"A-aku bukan karyawan bank..." suara Andi terdengar jauh, bahkan bagi dirinya sendiri.

"Tentu saja kau karyawan bank, sayang. Kau Reza, suamiku. Kau bekerja di bank sejak lima tahun lalu."

"Aku bukan Reza! Aku Andi! Aku seorang penulis!"

Mawar menutup laptopnya. Bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke arah Andi. "Kau hanya lelah, sayang. Istirahatlah."

"TIDAK!" Andi berteriak, mundur hingga punggungnya menabrak dinding lorong. "Kau tidak nyata! Kau hanya tokoh ciptaanku!"

Mawar tersenyum lembut. Sebuah senyum yang tidak mencapai matanya. "Justru kau yang tidak nyata, sayang. Kau hanya tokoh ciptaanku. Tokoh suami yang bekerja di bank. Yang selalu tidur pulas seperti orang mati. Yang tidak pernah percaya ketika istrinya mengatakan ada yang salah dengan rumah mereka."

Andi menggeleng kuat-kuat. "Tidak! Aku nyata! Aku punya kehidupan! Aku punya..."

Kata-katanya terputus. Andi tidak bisa mengingat. Tidak bisa mengingat siapa dirinya selain seorang penulis. Tidak bisa mengingat apakah dia punya keluarga. Tidak bisa mengingat masa kecilnya.

"Lihatlah dirimu sendiri, sayang," kata Mawar lembut, menyodorkan cermin kecil yang entah dari mana.

Andi menerima cermin itu dengan tangan gemetar. Perlahan, ia mengangkat cermin itu ke depan wajahnya.

Bukan wajahnya yang terpantul di sana.

Melainkan wajah pria lain. Pria dengan rambut pendek dan rahang tegas. Pria yang tidak pernah dilihatnya sebelumnya. Tapi entah kenapa terasa familiar.

"Reza..." gumamnya tanpa sadar.

Cermin itu jatuh dari tangannya, pecah berantakan di lantai.

"Kemarilah, sayang," Mawar mengulurkan tangannya. "Aku sedang menulis novel baru. Tentang seorang penulis bernama Andi yang berpikir bahwa tokoh ciptaannya menjadi nyata. Lucu sekali, bukan?"

Andi—atau Reza—terduduk lemas di lantai. Dunia di sekitarnya berputar. Dinding-dinding seolah mendekat, mendorong, ingin menelannya.

"Ayo tidur, sayang," suara Mawar terdengar jauh. "Besok kau harus bangun pagi untuk bekerja di bank."

Andi memejamkan mata erat-erat. Ketika ia membukanya kembali, ia berada di tempat tidur. Di sampingnya, Mawar tertidur dengan napas teratur.

Di atas meja di samping tempat tidur, ia melihat laptopnya. Laptop yang biasa ia gunakan untuk menulis.

Dengan tangan gemetar, Andi membuka laptop itu. Di layar, terpampang sebuah dokumen Word yang masih terbuka. Di bagian atas halaman tertulis: "PENULIS YANG TERTULIS oleh Mawar Kinanti."

Andi menggerakkan kursor ke bawah, membaca kata demi kata yang tertulis di sana.

Dengan tangan gemetar, Andi membuka laptop itu. Di layar, terpampang sebuah dokumen Word yang masih terbuka. Di bagian atas halaman tertulis: "PENULIS YANG TERTULIS oleh Mawar Kinanti."

Andi menggerakkan kursor ke bawah, membaca kata demi kata yang tertulis di sana.

Di luar, senja telah datang. Awan jingga merembes ke dalam kamar. Warna yang perlahan memudar. Seperti kesadaran yang sedikit demi sedikit luruh.

Dalam temaram senja, Andi terus membaca. Terus menulis. Karena hanya itu yang bisa ia lakukan sekarang. Menulis, atau ditulis.

Karena pada akhirnya, bukankah semua penulis, dalam artian tertentu, adalah tokoh dalam cerita yang lebih besar? Cerita yang ditulis oleh tangan yang lebih tinggi.

Dan ketika kita membaca, bukankah kita juga menghidupkan tokoh-tokoh itu? Membuat mereka nyata dalam pemahaman kita. Dalam kesadaran kita.

Seperti Andi, yang kini telah menjadi nyata di benak Anda.



End.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Misteri
Rekomendasi