Disukai
1
Dilihat
8
Keberhasilan Yang Tidak Diharapkan
Komedi

Senin pagi. Waktu di mana semangat hidup manusia berada di titik nadir, setara dengan sisa saldo di akhir bulan. Aku duduk di kubikelku, menatap layar komputer dengan tatapan kosong, berharap ada meteor jatuh menghantam server kantor agar semua data pekerjaan hilang.

Tiba-tiba, interkom berbunyi. Suara cempreng Pak Bos (selanjutnya kita sebut Si Botak) terdengar. "Devi, ke ruangan saya. NOW!"

Aku menyeret kakiku yang terasa seberat beton menuju ruangannya. Di dalam, Si Botak sedang duduk di kursi kebesarannya, memutar-mutar pulpen mahal yang aku yakin dia tidak tahu cara mengisinya kalau tintanya habis.

"Devi," katanya dengan nada dramatis. "Kita punya peluang emas."

Jantungku berdegup kencang. Bukan karena antusias, tapi karena ngeri. Di kamus Si Botak, "Peluang Emas" artinya "Kerjaan Tambahan Tanpa Lembur".

"Kita akan mengajukan kerjasama dengan PT Zenit Digital. Mereka startup Unicorn yang lagi naik daun. Kalau kita dapat proyek ini, valuasi perusahaan kita akan naik drastis!" seru Si Botak, kepalanya memantulkan cahaya lampu neon dengan silau.

"Terus, peran saya apa Pak?" tanyaku lemas.

"Kamu yang negosiasi! Kamu yang presentasi! Saya percaya kemampuan komunikasimu. Buat mereka terkesan. Buat mereka tanda tangan kontrak hari ini juga!"

Aku membelalak. PT Zenit Digital? Itu perusahaan yang terkenal dengan deadline super ketat, revisi tanpa batas, dan load kerja yang bisa bikin tipes stadium 4. Kalau kantor kita kerjasama sama mereka, artinya... Artinya aku, Devi, sebagai penanggung jawab proyek, akan bekerja 25 jam sehari. Artinya weekend ku akan punah. Artinya aku akan menua sebelum waktunya.

"Tapi Pak..."

"Tidak ada tapi-tapian! Berangkat jam 10 nanti. Kalau gagal, evaluasi tahunan kamu saya kasih nilai D!" ancam Si Botak.

Aku keluar ruangan dengan lutut gemetar. Aku dihadapkan pada dilema simalakama. Kalau berhasil: Kerjaan nambah gila-gilaan, hidupku hancur. Kalau gagal: Karirku hancur, bonus tahunan melayang.

Tapi, otak licikku yang sudah ditempa oleh penderitaan bertahun-tahun menemukan celah. Si Botak bilang "Kalau gagal". Dia tidak bilang "Kalau kamu sengaja menggagalkan". Tujuanku sekarang jelas: Membuat PT Zenit Digital ILFEEL dan MENOLAK kerjasama ini. Aku harus melakukan sabotase. Aku harus tampil seburuk mungkin, sebodoh mungkin, dan se-tidak profesional mungkin, sampai mereka jijik dan mengusirku.

"Misi: Gagal Total, Dimulai," gumamku sambil tersenyum miring.

Aku punya waktu satu jam untuk merusak reputasiku sendiri. Langkah pertama: Penampilan. Biasanya aku tampil rapi, wangi, dan elegan (biarpun hati menangis). Kali ini, aku harus terlihat kacau. Aku mengacak-acak rambutku agar terlihat seperti orang yang baru bangun tidur dan belum sisiran tiga hari. Aku melonggarkan kancing blazerku, mengeluarkan ujung kemeja sebelah kanan (biar asimetris norak), dan memakai sandal jepit yang kusimpan di kolong meja (cadangan kalau hujan). Ya, sandal jepit Swallow warna hijau yang sudah tipis sebelah.

Langkah kedua: Materi Presentasi. Aku membuka file PowerPoint yang sudah disiapkan tim marketing. Isinya bagus, grafiknya keren. "Terlalu bagus," komentarku. "Mereka pasti nerima kalau begini."

Aku mulai mengedit. Font Helvetica yang elegan aku ganti dengan Comic Sans dan Papyrus. Warna latar belakang aku ubah menjadi Kuning Neon yang menyakitkan mata. Warna teksnya? Merah Darah. Kontras yang bisa bikin epilepsi. Grafik kenaikan keuntungan aku putar balik jadi menurun, lalu aku kasih stiker GIF "Kucing Menangis" di pojok slide. Judul Presentasi: "KERJASAMA MASA DEPAN" aku ganti jadi "YAH... KITA COBA AJA DEH SIAPA TAU CUAN (TAPI KAYAKNYA ENGGAK)".

Langkah ketiga: Aroma Terapi. Aku tidak memakai parfum Jo Malone andalanku. Aku mengoleskan Minyak Kayu Putih di seluruh badan, dicampur sedikit balsem otot Geliga. Baunya? Seperti Panti Jompo yang baru saja mengadakan senam massal.

"Sempurna," kataku di depan cermin toilet. "Siapa yang mau kerjasama sama gembel korporat bau balsem ini? Pasti ditolak mentah-mentah."

Aku tiba di kantor PT Zenit Digital. Kantornya beda jauh sama kantorku yang kaku. Ini kantor startup kekinian. Dindingnya penuh mural abstrak. Kursinya bukan kursi kerja, tapi Bean Bag warna-warni. Tidak ada resepsionis, adanya robot yang menyapa "Selamat Datang, Manusia". Karyawannya pakai kaos oblong, celana pendek, dan ada yang bawa anjing ke kantor.

Aku, dengan setelan blazer berantakan dan sandal jepit Swallow, melangkah masuk dengan percaya diri yang palsu. Bau balsemku langsung merebak, mengalahkan aroma kopi Arabica mahal yang ada di lobi.

Seorang pria muda menghampiriku. Usianya mungkin seumuranku, tapi gayanya edgy banget. Rambutnya dicat silver, pakai kacamata tanpa lensa, dan syal (padahal Jakarta panasnya 35 derajat). Namanya River (Ya, River. Bukan Bambang atau Agus). Jabatannya: Chief Visionary Officer.

"Halo, Devi ya dari PT Suka Makmur?" sapa River ramah, meski hidungnya sedikit kembang kempis mencium aroma balsemku.

"Yoi, Bro," jawabku sok asik, tidak sopan. Aku sengaja tidak menjabat tangannya, malah melakukan gerakan fist bump ke udara yang canggung.

"Silakan masuk ke Think Tank Room kami," ajak River.

Kami masuk ke ruangan rapat yang dindingnya kaca semua. Di sana sudah menunggu dua eksekutif lain: Sky (cewek dengan rambut undercut) dan Ocean (cowok yang duduk bersila di atas meja). Nama mereka kenapa elemen alam semua? Apa syarat masuk sini harus jadi pengendali Avatar?

"Silakan, Devi. Kami dengar perusahaan kalian punya legacy yang kuat. Coba paparkan apa yang bisa kita kolaborasikan," kata Ocean.

Inilah saatnya. Panggung kehancuranku.

 

Aku menyambungkan laptopku ke layar besar. Begitu slide pertama muncul, ruangan itu hening. Warna kuning neon dan font Comic Sans merah darah terpampang nyata sebesar 80 inci.

Slide 1: "PT SUKA MAKMUR: KANTOR TUA YANG ISINYA ORANG STRESS"

Aku melihat reaksi mereka. Sky menyipitkan mata (mungkin silau atau jijik). Ocean memiringkan kepala. River mengelus dagunya.

"Oke, Guys," bukaku tanpa basa-basi. Aku duduk di kursi dengan kaki diangkat satu (posisi warteg), memamerkan sandal jepit Swallow-ku. "Jadi gini. Bos gue, Si Botak, nyuruh gue kesini buat minta duit...eh maksudnya kerjasama. Jujur aja ya, kantor gue tuh toxic banget."

Aku memencet tombol next slide. Muncul grafik menurun dengan gambar kucing menangis.

"Ini grafik kebahagiaan karyawan kami. Turun drastis. Kenapa? Karena kami kebanyakan proyek. Jadi, kalau kalian mau kerjasama sama kami, bersiaplah untuk kecewa. Kami lambat, kami sering error, dan server kami masih pake Windows 98."

Aku berharap mereka akan marah. Aku berharap River akan gebrak meja dan berteriak, "KELUAR KAMU! KAMI TERSINGGUNG!"

Tapi... hening. Hening yang lama.

Lalu, River berbisik pada Sky. "Gila... Slide-nya..."

"Iya," bisik Sky. "Berani banget."

Aku melanjutkan sabotaseku. Aku mengeluarkan bekal makan siangku. Bukan kotak makan estetik, tapi bungkusan nasi padang yang berminyak. Aku membukanya di tengah rapat. Bau rendang dan sambal ijo bercampur dengan bau balsem di badanku. Kombinasi aroma yang bisa membunuh lalat dalam radius 5 meter.

"Sori ya, gue laper. Kalian lanjut aja liatin slide jelek itu," kataku sambil mengunyah kerupuk kulit dengan berisik. KRIUK! KRIUK!

Ocean, si cowok yang duduk di meja, menatapku tajam. "Devi," panggilnya.

"Apa?" jawabku ketus, mulut penuh nasi. "Mau minta? Beli sendiri."

"Presentasi lo..." Ocean turun dari meja. Dia berjalan mendekatiku. Wajahnya serius.

"Jelek kan? Sampah kan? Unprofessional kan?" pancingku penuh harap. "Udah, tolak aja. Gue juga males ngerjainnya. Mending gue pulang tidur."

Ocean menatap River. River menatap Sky. Tiba-tiba, mereka bertiga tersenyum lebar.

 

"INI JENIUS!" teriak River tiba-tiba, membuatku tersedak sambal ijo.

"Hah?" Aku melongo. Nasi padang hampir jatuh dari mulutku.

"Gue belum pernah liat pitching se-jujur ini!" seru Sky dengan mata berbinar. "Selama ini, vendor lain selalu dateng dengan jas rapi, slide minimalis, dan janji-janji manis palsu. Semuanya bullshit korporat!"

River mengangguk antusias. "Betul! Tapi lo, Devi... Lo dateng dengan Chaos. Lo dateng dengan Raw Authenticity. Lo mendobrak standar estetika dengan Comic Sans dan warna neon yang menampar visual kami. Itu simbolisme yang kuat banget! Simbol perlawanan terhadap kemapanan!"

"Tunggu... apa?" tanyaku bingung. "Itu bukan simbolisme, itu gue ngasal..."

"Dan sandal jepit itu!" tunjuk Ocean pada kaki kotorku. "Itu statement! Lo mau bilang bahwa lo nggak butuh validasi dari sepatu mahal. Lo napak tanah! Lo grounded! Lo fokus ke substansi, bukan kemasan!"

Aku mulai panik. Ini arahnya salah. Ini salah total! "Eh, enggak gitu, Bro. Ini sandal gue pake karena sepatu gue hanyut banjir..."

"Metafora yang indah!" potong Sky. "Sepatu hanyut banjir... artinya lo siap beradaptasi dengan bencana! Lo resilient! Lo Anti-Fragile!"

River mengambil spidol dan mencoret-coret kaca dinding. "Sikap lo yang makan nasi padang saat meeting... itu Disruptive Behavior. Lo memprioritaskan kebutuhan biologis di atas protokol sosial. Itu artinya, perusahaan lo efisien! Nggak buang waktu buat basa-basi! Time is Money, tapi Rendang is Life! Filosofis banget!"

Aku berdiri, panik. Keringat dingin mulai bercucuran (membuat balsemku makin panas). "Gak! Gak! Kalian salah paham! Gue ini karyawan males! Kantor gue bobrok! Grafik kucing nangis itu beneran!"

"Kejujuran Radikal!" teriak Ocean. "Di era penuh kepalsuan AI dan filter Instagram, lo berani menunjukkan kebobrokan. Itu artinya lo transparan. Kami butuh partner yang transparan kayak gini! Kami muak sama perusahaan yang nutup-nutupin borok!"

"Baunya!" tambah Sky, mengendus udara. "Bau balsem dan rendang... Ini bau kearifan lokal! Bau perjuangan! Bau rakyat jelata yang bekerja keras! Bukan bau parfum Chanel yang elitis. Lo mewakili Market Grassroot!"

Mereka bertiga bertepuk tangan. Standing ovation. Aku berdiri di sana, memegang bungkus nasi padang yang sudah lecek, dengan mulut terbuka lebar. Dunia sudah gila. Para hipster ini sudah terlalu banyak minum Matcha Latte sampai otak mereka konslet. Kehancuran yang aku rencanakan malah mereka anggap sebagai Seni Performans Post-Modern.

Aku tidak menyerah. Aku harus mengeluarkan kartu as. Aku harus mengajukan syarat yang tidak masuk akal supaya mereka mundur.

"Oke, oke. Kalian suka gaya gue," kataku dengan nada menantang. "Tapi asal kalian tau, harga gue mahal. Kantor gue minta revenue share 80-20. 80 buat gue, 20 buat lo." (Ini angka gila. Biasanya 50-50 atau 60-40).

River tertawa renyah. "Cuma segitu? Kami kasih 85-15! Kami menghargai Boldness lo!"

Sialan. Gagal lagi. "Dan... dan..." Aku mencari ide gila lainnya. "Dan gue minta pembayaran di muka! 100% lunas sebelum proyek mulai! Dan pembayarannya nggak boleh pake Rupiah atau Dollar."

"Terus pake apa?" tanya Sky.

"Pake... Koin Dinosaurus. Token Kripto yang gue karang sendiri barusan. Pokoknya kalian harus cari tuh koin!"

Hening sejenak. Aku tersenyum dalam hati. Mampus kalian. Mana ada koin Dinosaurus.

Tiba-tiba Ocean membuka tabletnya. Mengetik cepat. "Kita bisa minting token baru di blockchain sekarang juga. Kita namain $DINO. Kita transfer valuasinya setara 5 Miliar Rupiah ke wallet lo. Deal?"

"HAH?!" teriakku histeris. "Kalian punya duit segitu buat dibakar?!"

"Kami ini Startup Unicorn, Dev," kata River santai. "Kami bakar duit buat sarapan. Ide lo buat bikin token khusus proyek ini... Visionary banget! Lo bener-bener Forward Thinking!"

Aku lemas. Kakiku gemetar sampai sandal jepitku lepas satu. Apapun yang aku katakan, apapun kegilaan yang aku lempar, mereka menyerapnya seperti spons menyerap air. Mereka sudah terlanjur jatuh cinta pada "Karakter Fiktif Devi si Pemberontak" yang aku ciptakan.

"Ada syarat lain?" tanya River, menyodorkan tablet kontrak digital.

Aku menatap mereka dengan mata berkaca-kaca. Bukan karena terharu, tapi karena putus asa. "Gue... gue..." Aku mau bilang Gue mau pulang, tapi yang keluar malah: "Gue mau libur Sabtu-Minggu."

"Setuju!" seru mereka serempak. "Keseimbangan Work-Life itu penting!"

"Dan... gue gak mau dihubungi di atas jam 5 sore!"

"Sepakat! Mental Health nomor satu!"

"Dan... gue mau proyek ini timeline-nya dipercepat jadi dua minggu!" (Ini upaya bunuh diri terakhir. Dua minggu itu mustahil).

"TANTANGAN DITERIMA!" teriak River penuh semangat. "Kami suka adrenalin! Dua minggu! Sprint! Scrum! Agile! Let's go!"

Tamatsudah. Mereka menerima semuanya. Aku, Devi, baru saja menggali kuburanku sendiri dengan cangkul emas bertahtakan berlian.

Aku keluar dari kantor PT Zenit Digital dengan langkah gontai. Di tanganku ada tablet berisi kontrak digital yang sudah ditandatangani. Nilainya fantastis. Syaratnya gila (dua minggu deadline!). Aku sukses besar. Dan itu artinya aku gagal total.

Sepanjang perjalanan pulang, aku menangis di dalam taksi. Supir taksi sampai bingung. "Mbak, kenapa nangis? Abis diputusin pacar?" "Bukan Pak... Abis dapet proyek miliaran..." "Lha? Harusnya seneng dong Mbak?" "Bapak gak ngerti... Ini awal dari perbudakan..."

Sesampainya di kantor. Si Botak sudah menunggu di lobi. Wajahnya cemas. Begitu melihatku yang berantakan, bau balsem, dan mata sembab, Si Botak langsung lemas.

"Yah... gagal ya Dev? Saya udah duga. Penampilan kamu kayak gembel gitu. Pasti mereka usir kamu kan? Yaudah gapapa, nanti kita cari prospek lain..."

Aku dengan perlahan, seperti zombie, menyodorkan tablet kontrak itu ke muka Si Botak.

"Mereka setuju, Pak," suaraku parau. "85-15. Bayar dimuka pake Koin Dino. Deadline dua minggu."

Mata Si Botak membelalak sampai hampir keluar. Dia merebut tablet itu. Membacanya. Tangannya gemetar. "YA TUHAN! DEVI! KAMU JENIUS!" Si Botak menyalamiku dengan kuat. "85 persen?! Bayar di muka?! Devi, ini prestasi terbesar perusahaan kita dalam 10 tahun terakhir! Kamu Pahlawan! Kamu Legenda!"

"Pak..." rintihku. "Saya mau resign..."

"Enak aja! Kamu saya angkat jadi Project Lead! Gaji kamu saya naikkan!"

"Berapa Pak? 100 persen?"

"5 persen! Dan voucher makan di kantin gratis sebulan!"

Aku ingin pingsan. Naik gaji 5 persen untuk kerjaan yang nambah 500 persen.

"Dan karena deadline-nya cuma dua minggu..." Si Botak melihat jam tangannya. "Kita mulai lembur malam ini ya Dev! Kumpulkan tim! Kita nggak pulang sampai dua minggu ke depan! Pesen kopi satu galon! Let's Rock and Roll!"

Si Botak berlari girang ke dalam kantor, meneriakkan namaku seperti pahlawan perang yang pulang membawa kemenangan.

Aku berdiri sendirian di lobi. Lututku lemas. Sandal jepit Swallow-ku putus talinya satu. Bau balsem di badanku mulai bercampur dengan bau keringat dingin keputusasaan.

Ternyata benar kata pepatah: Be careful what you wish for. Aku ingin mereka menolakku dengan menjadi gila. Ternyata mereka lebih gila dariku.

Aku mengeluarkan HP. Membuka aplikasi ojek online. Bukan untuk pulang, tapi untuk memesan martabak manis jumbo. Aku butuh gula. Aku butuh dopamin. Mulai hari ini, namaku bukan lagi Devi. Namaku adalah Robot Bernyawa.

"Selamat datang di neraka, Devi," bisikku pada diri sendiri sambil melangkah masuk ke dalam kantor yang dingin dan kejam.

Faakk lah...

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Komedi
Rekomendasi