Semuanya bermula dari sebuah telepon di Jumat sore. Telepon yang mengubah akhir pekanku yang damai menjadi simulasi bertahan hidup di hutan beton.
AC Sentral di rumah gedongan mertuaku di kawasan elite rusak total. Butuh waktu tiga hari untuk overhaul mesin dan perbaikan pipa. Bagi manusia biasa, solusinya adalah pasang kipas angin. Bagi Om Hendra dan Tante Siska (Papa dan Mama mertuaku), solusinya adalah mengungsi.
Dan tempat pengungsian yang terpilih adalah: Rumah kami. Rumah tipe 36 yang sudah direnovasi sedikit jadi tipe 45 (maksain), yang letaknya di cluster "minimalis" (baca: sempit).
Aku, seorang staf kantoran biasa yang gaji bulanannya habis untuk cicilan KPR dan hobi futsal, mendadak panik. Istriku, Feby, yang sedang asyik merangkai bunga pesanan wisuda di ruang tamu, justru terlihat santai.
"Tenang aja, Yang. Papi sama Mami nggak gigit kok. Paling cuma... culture shock dikit," kata Feby sambil memotong tangkai mawar dengan gunting tanaman.
"Culture shock apanya?! Ini bukan beda budaya lagi, Feb. Ini beda kasta! Rumah kita ini kalau dibandingin sama garasi mereka aja masih gedean garasinya!"
Benar saja. Pukul 19.00 WIB, sebuah Toyota Alphard hitam mengkilap berhenti di depan pagar rumahku. Mobil itu begitu besar sampai menutupi akses jalan tetangga. Supirnya turun, membukakan pintu.
Turunlah Om Hendra, dengan polo shirt Lacoste asli dan jam tangan Rolex yang kilaunya bisa bikin mata minus jadi sembuh. Diikutinya oleh Tante Siska, yang memakai kacamata hitam (padahal ini malam hari) dan menenteng tas Hermes.
Aku dan Feby menyambut di depan pagar. "Selamat malam, Pah, Mah," sapa Feby cipika-cipiki.
Aku menyalami tangan mereka dengan takzim, membungkuk sedikit ala menantu Jawa yang tahu diri. "Sugeng rawuh, Pah, Mah. Maaf rumahnya berantakan."
Om Hendra memandang rumahku. Tatapannya bukan jijik, tapi tatapan iba. Tatapan seorang filantropis melihat panti asuhan yang kekurangan dana.
"Halo, Hanif," sapa Om Hendra. Dia melangkah masuk ke teras. "Wah... compact ya rumahnya. Praktis banget. Dari ruang tamu bisa langsung nyium bau sabun dari kamar mandi ya?"
JLEB. Serangan pertama. Itu cara halus orang kaya bilang: Rumah lu kecil amat, nempel semua ruangannya.
"Iya Pah, konsepnya Open Plan. Biar akrab," jawabku ngeles.
Kami masuk ke dalam. Udara di dalam rumah agak gerah karena AC ruang tamu kami (1/2 PK bekas yang sudah berjuang seumur hidupnya) sedang ngadat. Bunyinya groook... groook...
Tante Siska mengibaskan tangannya di depan hidung. "Hanif... itu suara apa? Ada traktor lewat?"
"Itu AC, Mah," jawabku sambil nyengir kuda.
"Ya ampun... Mamah kira mesin diesel genset," komentar Tante Siska polos tapi pedas. "Ini tipe inverter tahun berapa? Atau ini AC tenaga uap zaman Belanda?"
Aku menelan ludah. "Tahun 2018 kok, Mah. Cuma belum diservis bulan ini."
Feby, istriku yang tercinta, bukannya membela suami, malah langsung ambil posisi aman. "Nah kan! Feby udah bilang, Pah! Hanif tuh pelit banget mau ganti AC. Katanya 'selama masih dingin, hajar terus'. Padahal Feby udah keringetan tiap ngerangkai bunga."
Dasar Pengkhianat.
Malam itu, mereka tidur di kamar tamu (yang sebenarnya gudang disulap jadi kamar). Aku bisa mendengar Om Hendra menelepon seseorang sebelum tidur. "Halo? Iya, tolong kirim unit darurat besok pagi. Iya. Rumah anak saya darurat oksigen."
Aku tidur dengan perasaan was-was. Firasatku mengatakan, tiga hari ke depan akan menjadi neraka mental.
Sabtu pagi. Aku terbangun dengan harapan bisa menikmati kopi sachet dan rokok elektrik (vape) dengan tenang. Tapi harapan itu musnah saat aku keluar kamar.
Ruang tamu mungilku yang ukurannya cuma 3x4 meter itu sudah berubah wujud. Di sudut kiri, sudut kanan, dan tengah ruangan, berdiri tiga benda asing berbentuk tiang oval futuristik. Warnanya putih-emas. Air Purifier DYSON. Bukan satu. Tiga. TIGA BIJI DYSON DI RUANGAN 3X4 METER!
Om Hendra sedang duduk santai baca berita di iPad, sementara Tante Siska sedang memandangi layar indikator di salah satu mesin itu dengan wajah serius.
"Pagi, Hanif," sapa Tante Siska. Dia tidak menoleh, matanya terpaku pada angka di layar Dyson. "Kamu tahu nggak, kualitas udara di rumah kamu ini levelnya 'HAZARDOUS'? Merah pekat lho ini PM 2.5-nya. Tante sampe sesek napas bangun tidur."
"Pagi, Mah," jawabku lemas. "Itu... mesinnya banyak banget?"
"Tante pesen via kurir instan tadi subuh. Biar paru-paru kita selamet selama nginep di sini," jawab Tante Siska enteng. "Harganya murah kok, lagi promo, cuma 15 juta satu."
Jantungku berhenti berdetak. 15 juta dikali 3 = 45 Juta. Itu seharga mobil bekas yang masih layak jalan. Dan sekarang benda itu cuma jadi pajangan di ruang tamuku yang sempit.
Masalahnya, rumahku jadi penuh sesak. Kabel malang melintang. Aku mau ke dapur bikin minum, kesandung kabel Dyson nomor 1. "Aduh!" "Hati-hati, Hanif! Itu kabel serat optik sensitif!" teriak Tante Siska.
Feby keluar kamar, melihat pemandangan itu, dan matanya berbinar. "Wuih! Dyson! Asik! Pantesan udaranya seger banget kayak di Swiss! Makasih ya, Mami!"
"Iya dong sayang. Kesehatan itu investasi," jawab Tante Siska. Lalu dia melirikku tajam. "Hanif, kamu dengerin. Beli itu yang bagusan. Jangan beli humidifier gambar kucing yang keluar asep dikit doang."
Aku hanya bisa mengangguk pasrah.
Siang harinya, bencana terjadi. Aku adalah pengguna vape (rokok elektrik). Biasanya, aku ngevape santai di ruang tamu sambil main HP. Tapi dengan adanya Tante Siska si "Ratu Kesehatan" dan tiga menara pengawas Dyson itu, aku tidak berani.
Aku memutuskan untuk operasi senyap. Aku masuk ke kamar mandi. Mengunci pintu. Menyalakan exhaust fan. "Aman," pikirku. "Kamar mandi adalah benteng terakhir kedaulatan pria."
Aku mengeluarkan vape-ku. Menghisap dalam-dalam. Fuuuuh... Uap tebal beraroma Strawberry Cheesecake memenuhi kamar mandi kecil itu. Nikmat.
Tiba-tiba... Dari ruang tamu terdengar suara sirine. WIIUUU... WIIUUU... WIIUUU...
Suaranya nyaring dan canggih. Bukan suara alarm kebakaran biasa, tapi suara robot wanita yang panik. "WARNING! AIR QUALITY CRITICAL! SEVERE POLLUTION DETECTED! FILTER OVERLOAD!"
Tiga mesin Dyson itu mendadak layarnya berubah jadi MERAH MENYALA. Angka PM 2.5 melonjak ke angka 999. Kipasnya berputar kencang seperti mesin jet pesawat tempur yang mau take-off, berusaha menyedot polusi yang bocor dari celah pintu kamar mandi.
"KEBAKARAAAN! HENDRA! KEBAKARAN!" Tante Siska berteriak histeris.
"FEBY! HANIF! KELUAR! ADA ASAP RACUN!" Om Hendra ikut panik.
Aku di dalam kamar mandi panik setengah mati. Aku mencoba mengibas-ngibaskan tangan untuk menghilangkan uap vape, tapi percuma. BRAKK!!
Pintu kamar mandi didobrak dari luar. Kuncinya yang rapuh kalah melawan tendangan Om Hendra yang ternyata jago Taekwondo.
"HANIF! KAMU GAK APA-A..."
Om Hendra, Tante Siska, dan Feby berdiri di depan pintu kamar mandi yang terbuka. Melihatku duduk di atas kloset (masih pakai celana lengkap), memegang vape, dikelilingi kabut asap berbau kue keju stroberi.
Hening. Sirine Dyson masih berbunyi di latar belakang. WIIUUU... WIIUUU...
Tante Siska menutup hidungnya dramatis. "Hanif... kamu... kamu meracuni kami dengan asap kimia di dalam kotak sempit ini?!"
Feby menahan tawa sampai mukanya merah. Dia bukannya membelaku, malah nambahin. "Ya ampun, Yang! Udah dibilangin Mami alergi debu, kamu malah bikin pabrik awan di WC!"
"Maaf Mah... Hanif kira... exhaust fan-nya kuat..." cicitku.
Hari pertama berakhir dengan aku diceramahi selama dua jam tentang bahaya Popcorn Lung dan radikal bebas, sementara tiga mesin Dyson itu terus menatapku dengan lampu merah yang menghakimi.
Minggu pagi. Setelah insiden vape, aku ingin memperbaiki citra. Aku tahu Om Hendra suka ngopi. Aku bangun pagi-pagi, merebus air. Aku mengambil stok kopi andalanku: Kopi Sachet Premium 3-in-1 (yang harganya 2000 perak per bungkus, mahal bagiku).
"Pah, ngopi dulu," tawarku sambil menyodorkan cangkir berisi cairan cokelat manis itu. "Ini White Coffee enak Pah, nggak bikin kembung."
Om Hendra menatap cangkir itu. Dia mengaduknya sedikit dengan sendok, melihat buih-buih instan di atasnya. Dia menyeruput sedikit. Ujung lidahnya menyentuh cairan itu. Wajahnya mengkerut. Seperti baru saja menelan air aki.
"Hanif..." Om Hendra meletakkan cangkir itu pelan-pelan (takut meledak mungkin). "Ini apa?"
"Kopi, Pah."
"Ini bukan kopi. Ini sirup gula rasa kopi yang dikasih pemutih pakaian," kata Om Hendra sadis. "Ini 'Air Gula'. Kamu minum ginian tiap hari? Pantas kamu sering lemes pas kerja."
Feby lewat sambil membawa vas bunga. "Pah, Hanif emang seleranya gitu. Lidahnya lidah minimarket. Kalau aku sih biasanya ngopi di kafe depan komplek, yang Arabica gitu."
BOHONG! Feby tiap pagi juga minta diseduhin kopi sachet yang sama!
"Nggak bisa," kata Om Hendra tegas. Dia mengeluarkan HP-nya. "Kita butuh asupan kafein yang layak. Otak nggak bisa jalan kalau dikasih glukosa doang."
Satu jam kemudian. Sebuah mobil van parkir di depan rumah. Seorang pria dengan apron kulit, tato di lengan, dan topi fedora turun sambil membawa koper besar. Namanya Mas Rian. Barista Pribadi langganan Om Hendra.
Mas Rian masuk ke dapurku yang ukurannya cuma sepetak (cukup buat satu orang berdiri). Dia mulai membongkar muatan. Mesin Espresso La Marzocco Portable (yang harganya setara DP rumah) ditaruh di atas kompor. Grinder kopi ditaruh di atas rice cooker. Timbangan digital, kettle leher angsa, dan toples-toples biji kopi menguasai seluruh meja makan.
Dapurku diinvasi. Aku mau bikin mie instan saja tidak bisa karena kompornya tertutup mesin kopi seharga ginjal.
"Pagi, Pak Hendra. Hari ini kita seduh Panama Geisha ya, manual brew V60," kata Mas Rian profesional.
"Lanjut, Yan. Ajarin mantu saya apa itu kopi," perintah Om Hendra.
Mas Rian mulai menggiling kopi. WNGGGGGG! Suaranya bising memenuhi rumah kecil itu. Aromanya wangi, harus kuakui. Wangi uang.
Setelah ritual penyeduhan yang memakan waktu 15 menit (padahal aku nyeduh sachet cuma 30 detik), jadilah secangkir cairan hitam encer.
"Cobain, Nif," perintah Om Hendra. "Jangan pake gula. Haram hukumnya."
Aku menerima cangkir kecil itu. Warnanya cokelat kemerahan, bening kayak teh. Aku menyeruputnya. RASANYA ASEM BANGET! Kecut! Pahit! Seperti minum cuka apel yang dicampur arang. Perutku yang terbiasa dengan kopi susu manis langsung bergejolak. Lambungku berteriak minta tolong.
"Gimana?" tanya Om Hendra antusias. "Kerasa kan notes-nya? Ada hint blueberry, jasmine, sama stone fruit."
Aku menahan mulas. Wajahku pias. "I... Iya Pah... Fruity banget..." jawabku berbohong demi keselamatan. "Rasanya kayak... jeruk nipis yang difermentasi sama kembang melati."
"Nah! Itu dia! Acidity-nya bright banget kan? Seger!" Om Hendra senang. "Feby, kamu juga harus minum ini. Biar kulit bagus."
Feby meminumnya seteguk. Wajahnya datar, tapi sebagai sesama partner in crime, aku melihat matanya berkedip kode SOS: 'Pait banget anjir'. Tapi mulut Feby berkata lain: "Wah iya, Pah! Enak! Berkelas banget rasanya! Beda ya sama kopi Hanif yang bau plastik."
Malam itu, aku dan Feby diam-diam makan martabak manis di kamar untuk menghilangkan rasa asam di mulut kami, sementara di dapur, Mas Rian masih sibuk membersihkan alat-alat kopinya yang memakan tempat.
Senin pagi. Karena Om Hendra bos besar, dia bisa WFH (Work From House-of-Hanif). Aku terpaksa cuti sehari untuk menemani mereka.
Om Hendra sedang berkeliling rumah, melakukan "audit aset". Dia berhenti di rak sepatu di teras belakang. Dia mengambil sepatu futsalku yang sudah agak jebol ujungnya.
"Hanif, kamu masih main futsal?"
"Masih, Pah. Seminggu sekali sama temen kantor."
Om Hendra menggeleng prihatin. "Futsal itu olahraga... barbar, Hanif. Lari-lari, tabrak-tabrakan, keringetan bau apek, risiko cedera lutut tinggi. Itu olahraga kelas pekerja."
"Ya kan Hanif emang pekerja, Pah," belaku dalam hati.
"Kamu harus upgrade. Kalau mau sukses, mainlah olahraga yang bisa buat lobi bisnis. GOLF."
Feby yang sedang menyiram tanaman menyahut, "Bener Pah! Setuju banget! Hanif tuh kalau pulang futsal baunya naudzubillah. Kakinya lecet-lecet, minta dipijitin terus. Ajarin Golf aja Pah, biar kerenan dikit kayak Opa-opa Korea."
Feby, istriku, sepertinya menikmati melihat suaminya digembleng.
"Tapi Pah, lapangan Golf jauh..." alasanku.
"Siapa bilang harus ke lapangan? Kita latihan swing dulu. Pukul bola. Latih muscle memory," kata Om Hendra. "Halaman belakang kamu ini bisa dipake."
Halaman belakang? Halaman belakangku itu ukurannya cuma 2 x 3 meter. Fungsinya adalah tempat jemuran baju, tempat naruh mesin cuci, dan arena kucing liar berantem.
"Pah, itu tempat jemuran..."
"Geser jemurannya. Kita bikin Driving Range dadakan."
Dalam sekejap, Om Hendra menyuruh supirnya mengambil set stik golf dari mobil Alphard. Jemuran baju digeser paksa ke pojok. Celana dalam dan kutang yang sedang dijemur melambai-lambai terkena angin, menjadi penonton bisu. Om Hendra menaruh karpet rumput sintetis kecil di lantai semen.
"Nih, pegang. Ini Iron 7," Om Hendra menyerahkan stik golf yang berkilau. "Harganya 25 juta satu batang ini. Jangan dipake buat nimpuk tikus."
Aku memegang stik itu dengan gemetar. Lebih mahal stik ini daripada motor Beat-ku.
"Fokus, Hanif. Kaki dibuka selebar bahu. Pinggang main. Mata liat bola. Ayunkan!"
Aku mencoba posisi kuda-kuda. Masalahnya, tempat ini sempit banget. Di belakangku ada tembok dapur. Di depanku ada tembok pembatas tetangga. Di atasku ada atap kanopi fiber.
"Ayun yang kuat! Power!" teriak Om Hendra.
Aku menarik napas. Bismillah. Aku mengayunkan stik itu sekuat tenaga. WOOSH! Kepala stik menghantam bola golf dengan sempurna. CTAK!
Bola putih keras itu melesat dengan kecepatan peluru. Tapi karena ini bukan lapangan luas, bola itu tidak melambung ke angkasa. Bola itu menghantam tembok pembatas tetangga. DUG! Memantul balik ke arah kanopi. TAK! Memantul lagi ke arah samping, melewati jemuran celana dalam. Dan akhirnya... meluncur bebas menuju jendela dapur tetangga sebelah (Pak RT).
PRANGGG!!! Suara kaca pecah terdengar nyaring dan merdu. Diikuti suara teriakan istri Pak RT. "MALIIIING! ADA YANG LEMPAR BATU!"
Aku membeku. Stik golf masih menggantung di udara. Wajahku pucat pasi. "Mati gue. Jendela Pak RT."
Feby menutup mulutnya, matanya melotot. "Hanif... kamu mecahin kaca Pak RT?!"
Om Hendra? Dia malah tepuk tangan. Plok. Plok. Plok.
"Bagus, Hanif! Power kamu luar biasa!" puji Om Hendra bangga. "Swing speed-nya kenceng banget. Bolanya sampe mantul tiga kali kayak pinball."
"Pah! Itu mecahin kaca tetangga!" teriakku frustasi.
"Ah, itu masalah kecil," Om Hendra melambaikan tangan santai. Dia mengeluarkan dompet tebalnya. "Nanti Papa suruh supir ke sana. Papa ganti kacanya. Sekalian Papa tawarin, mau diganti kaca tempered glass atau kaca anti-peluru biar aman kalau kamu latihan lagi?"
Aku merosot duduk di lantai, di sebelah mesin cuci. Harga diriku sebagai warga yang baik di lingkungan RT hancur lebur. Pak RT pasti akan mencatatku sebagai "Tetangga Perusuh yang Didukung Oligarki".
Selasa pagi. Akhirnya. Kabar gembira datang. AC di rumah Om Hendra sudah selesai diperbaiki. Teknisi AC di sana mungkin bekerja di bawah ancaman pistol air.
Mereka berkemas. Koper-koper Louis Vuitton dimasukkan kembali ke Alphard.
"Terima kasih ya Hanif, Feby. Sudah menampung Papa Mama," kata Tante Siska sambil membetulkan kacamata hitamnya. "Walaupun rumahnya kayak capsule hotel, tapi cukup memorable."
"Sama-sama, Mah," jawabku, senyumku merekah lebar. Akhirnya bebas!
Saat mau berangkat, aku melihat mesin kopi canggih dan tiga unit Dyson itu masih ada di dalam rumah. "Pah, Mah, ini barang-barangnya ketinggalan," kataku.
Om Hendra menoleh. "Oh, itu? Males angkutnya. Berat. Mobil udah penuh sama oleh-oleh. Buat kalian aja."
"Hah?" Aku dan Feby melongo. "Serius Pah? Ini kan mahal banget?" tanya Feby, mata keranjangnya mulai menyala.
"Anggap aja uang sewa tempat dan ganti rugi mental Hanif," kata Om Hendra sambil menepuk bahuku. "Lagian Papa mau beli model terbaru bulan depan. Dah ya!"
Mobil Alphard itu melaju pergi. Meninggalkan debu dan keheningan yang mahal.
Aku dan Feby masuk ke rumah. Kami menatap harta karun itu. Tiga Air Purifier Dyson (45 Juta). Satu Mesin Espresso La Marzocco + Grinder (mungkin 60 Juta). Total hibah: Ratusan Juta Rupiah.
"YANG! KITA HOKI!" teriak Feby girang. Dia memeluk mesin Dyson itu. "Rumah kita jadi mewah! Jadi estetik! Kita jadi kaum hedon!"
"Rezeki anak sholeh!" seruku. "Lumayan, bisa ngopi enak tiap hari, udara bersih!"
Kami merasa menang. Kami merasa naik kelas. Kami menikmati sisa bulan itu dengan gaya hidup sultan. AC dinyalakan, 3 Dyson menyala 24 jam non-stop biar udara steril, dan tiap pagi menyalakan mesin espresso yang butuh daya besar untuk memanaskan boiler-nya.
Namun, kebahagiaan itu semu. Sebulan kemudian. Aplikasi PLN Mobile di HP-ku berbunyi. Notifikasi tagihan listrik pasca-bayar keluar.
Aku membukanya sambil ngopi (hasil mesin mahal). Mataku melotot sampai mau keluar.
TAGIHAN LISTRIK: Rp 3.850.000,-
Biasanya tagihan kami cuma 500 ribu. Naik hampir 8 kali lipat. Watt mesin espresso itu ternyata 2000 Watt. Tiga Dyson itu kalau nyala bareng nyedot listrik kayak vampir. Token listrikku menjerit. Dompetku menangis darah. Gajiku sebulan cuma sisa remah-remah kalau bayar ginian.
"FEBYYY!!!" teriakku histeris. "TAGIHAN LISTRIK KITA TIGA JUTA LEBIH!!!"
Feby keluar dari kamar, wajahnya santai, sedang maskeran. "Ya udah sih, Yang. Jangan pelit. Kan kopinya udah enak. Udaranya bersih. Paru-paru kamu sehat."
"Tapi dompet aku kanker stadium 4, Yang!"
"Ya kamu lembur aja yang rajin. Atau minta naik gaji. Masak kalah sama mesin kopi?"
Feby kembali masuk kamar dengan cuek.
Aku duduk lemas di depan mesin kopi seharga mobil itu. Mesin itu berkilau indah, mengejekku. Aku punya barang mewah, tapi aku tidak mampu menghidupinya. Sekarang aku mengerti rasanya punya gajah putih.
Aku mematikan mesin itu. Mencabut colokannya. Lalu aku mengambil gunting, memotong bungkus kopi sachet Indocafe. Menyeduhnya dengan air panas termos.
Sruput. "Ah... emang paling bener hidup miskin tapi tenang," gumamku sambil menatap nanar ke arah Dyson yang akan menjadi gantungan handuk karena takut kunyalakan.