SHAMPOO

Dengan seikat kayu bakar yang disunggi, amatlah rempong ketika celana kolor yang dikenakannya melorot.

"Eh, Roji! Sini!"

Dengan tangan kanan memegangi kayu bakar di kepala, sedang tangan satunya lagi mencengkram celana yang melorot, Roji mendatangi Abah Ruslan di depan warungnya.

Abah Ruslan sendiri, masih amat risih saat melihat rambut gimbal Roji. Entah sudah berapa tahun saja Roji tidak keramas. Pasti itu. Kalau tidak, mana mungkin sampai segimbal itu. Oleh karenanya, Abah Ruslan sering menyinggungnya dalam setiap kesempatan.

Usut punya usut, perkara keramas dan rambut itulah yang akhirnya berujung pada tidak lakunya semua produk shampoo di warungnya. Pasti karena si Roji tersinggung, jadi mengguna-guna shampoo-shampoo dagangannya supaya tidak laku. Begitu pikir Abah Ruslan.

"Kamu apain usahaku? Kamu guna-guna ya, biar nggak laku?"

Dengan masih memegangi celana, Roji yang bingung jadi melongo.

"Liat tuh! Utuh!" Abah Ruslan menunjuk rentengan shampoo aneka merk.

Tak lama, bocah cilik muncul hendak membeli shampoo.

"Abah, mau beli shampoo "

Abah Ruslan berseri-seri. Akhirnya, shampoonya bakal laku juga.

"Beli shampoo klir, Bah."

"Kagak ada."

"Nah, itu!"

"Itu cle-ar, Bocah!"

Si bocah garuk-garuk. "Shampoo rijois kalau gitu, Bah."

"Kagak ada!"

"Nah itu, Bah! Yang itu!"

"Itu Re-jo-i-ce. Yang ini Pan-te-ne. Ini Li-fe-bo-uy. Kagak bisa baca apa!"

Si Bocah sebal. Langsung pergi.

"Bocah belum faseh baca, disuruh-suruh!" ocehnya. Lalu ke Roji lagi. "Tuh, buktinya! Pasti kamu kan pelakunya?"

Roji mengangkat kedua tangannya dan membanting kayu bakar ke tanah. Celana kolornya pun sukses melorot.

(Nama merk bukan karena sponsor. Tapi memang untuk kebutuhan konten sesuai pengalaman seorang saudara).

5 disukai 2 komentar 1.1K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Thx mbak @farida
🤣🤣🤣🤣
Saran Flash Fiction